From: hendry raharjo 

Christian Web in Chinese

http://samling.ccim.org/
(one of C.van Til's & John Frame's students)
http://www.stemi.org/
http://www.stemi.org.sg/2005/publication.asp
(our indonesian reformed Father)
http://www.solarbeauty.com/chinesebible/

=====================================
From: Denny Teguh Sutandio 

THEOLOGIA REFORMED & MANDAT BUDAYA :
HARUSKAH ORANG KRISTEN MENGERJAKANNYA ?

oleh :
Denny Teguh Sutandio

“TUHAN Tuhan mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk 
mengusahakan dan memelihara taman itu.”
(Kejadian 2:15)

Di dalam Kejadian 2:15 ini, Tuhan menciptakan dan menempatkan manusia di Taman 
Eden untuk dua hal yaitu mengusahakan dan memelihara taman itu. Kata 
“mengusahakan” dalam bahasa Ibrani ‛âbad (abad) bisa berarti melayani (serve) 
dan kata “memelihara” dalam bahasa Ibrani shâmar (shamar) yang bisa berarti 
melindungi (protect), meneliti (observe), memelihara (preserve), dll. Di dalam 
Taman Eden ini, Tuhan tidak membiarkan manusia tidak bekerja, tetapi manusia 
diperintahkan Tuhan untuk melayani dan melindungi/memelihara. Ini berarti ada 
campur tangan manusia di dalam dunia ciptaan Tuhan. Di dalam dunia ciptaan 
Tuhan, Tuhan menginginkan manusia bertindak pertama, yaitu melayani. Menjadi 
pelayan berarti menjadi budak (Yunani : doulos) yang tidak memiliki hak apa 
kecuali taat mutlak kepada perintah tuannya. Begitu juga setiap kita, selain 
disebut anak-anak Tuhan, kita juga disebut hamba Tuhan yang berarti 
pelayan-pelayan Tuhan yang tidak bertanya apapun kecuali taat mutlak kepada 
perintah Tuhan. Selain sebagai hamba, kita juga diperintahkan oleh Tuhan untuk 
memelihara atau melindungi atau mengawasi. Hamba memang taat mutlak, tetapi 
bukan berarti taat dalam fanatisme sempit. Taat yang Tuhan maksudkan adalah 
taat yang bertanggungjawab. Kita diperintahkan untuk taat sambil melihat, 
melindungi dan memelihara dunia ciptaan Tuhan. Ketaatan kita dalam melihat, 
melindungi dan memelihara dunia ini harus dilakukan dari kacamata kedaulatan 
Tuhan sebagai Pencipta alam semesta ini. Inilah yang disebut mandat budaya di 
dalam theologia Reformed.

Theologia Reformed membagi dua macam mandat orang Kristen yaitu mandat budaya, 
dalam arti orang-orang Kristen yang mengembalikan fungsi sebagai raja, imam dan 
nabi (di dalam perspektif theologia Reformed) harus mengintegrasikan iman 
Kristen di dalam setiap aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, hukum, 
pendidikan, dll sebagai reaksi untuk memuliakan Tuhan, dan mandat Injil, 
artinya orang-orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil Kristus di 
tengah dunia berdosa. Banyak orang Kristen sibuk menggarap penginjilan dan 
melupakan mandat budaya. Oleh karena itu kita perlu mengerti apakah mandat 
budaya itu.

Mandat budaya dapat dibagi menjadi dua kata yaitu mandat yang berarti suatu 
perintah dan tuntutan yang harus dipatuhi dengan sikap ketaatan mutlak dan kata 
budaya yang berarti peradaban manusia. Di dalam theologia Reformed, Tuhan 
mewahyukan diri-Nya melalui dua sarana, yaitu wahyu umum yaitu penyataan diri 
Tuhan kepada semua manusia melalui alam semesta (e ksternal) dan hati nurani 
(internal) dan wahyu kedua, yaitu, wahyu khusus yaitu penyataan diri Tuhan 
hanya kepada umat pilihan-Nya melalui Pribadi Tuhan Yesus Kristus (yang tidak 
tertulis/nyata) dan Alkitab (yang tertulis). Di dalam wahyu umum Tuhan, manusia 
meresponinya dengan dua hasil, yaitu munculnya sains dan kebudayaan sebagai 
respon terhadap wahyu umum Tuhan di dalam bentuk alam semesta dan munculnya 
agama sebagai respon terhadap wahyu umum Tuhan dalam bentuk hati nurani. Tetapi 
akibat dosa, semua bentuk reaksi manusia terhadap wahyu umum Tuhan pun pasti 
terpolusi oleh dosa, sehingga manusia tidak dapat mengenal apa yang Tuhan telah 
nyatakan dengan benar. Sehingga tidak heran, manusia bukan menyembah Tuhan, 
tetapi ilah-ilah buatan mereka yang mereka anggap sebagai “Tuhan”. Misalnya, di 
dalam agama dan kebudayaan, orang-orang Jepang menyembah matahari sebagai ilah 
mereka, padahal matahari adalah ciptaan Tuhan. Di dalam kebudayaan Tionghoa, 
hal serupa dapat dijumpai, ketika menguburkan orang yang sudah meninggal, 
banyak orang-orang Tionghoa (baik yang “Kristen” maupun non-Kristen) masih 
dipengaruhi oleh tradisi memberikan sesajen dalam bentuk rumah-rumahan dan 
uang-uangan lalu dibakar dengan maksud agar orang yang sudah meninggal dapat 
menikmati barang-barang yang dibakar tersebut. Mereka mengenal “Tuhan” dalam 
kondisi berdosa, sehingga yang mereka sembah sebenarnya bukan Tuhan, tetapi 
ilah-ilah yang mereka anggap sendiri sebagai “Tuhan”. Apalagi di zaman 
postmodern, Tuhan bukan lagi dimengerti sebagai Pencipta, tetapi sudah dianggap 
setara dan berada di dalam ciptaan, sehingga semua manusia adalah “Tuhan” (man 
is “god ”). Tidak heran, munculnya filsafat Gerakan Zaman Baru dan humanisme 
mendapat angin segar bagi orang-orang postmodern untuk semakin membanggakan 
diri sebagai manusia hebat, pandai, bahkan “Tuhan” itu sendiri. Dan herannya, 
filsafat sesat ini telah meracuni keKristenan khususnya banyak dari kalangan 
Karismatik/Pentakosta dengan munculnya ajaran yang mengatakan bahwa “mintalah 
apa saja maka pasti diberikan” atau “katakan apa yang kau inginkan dan 
percayalah pasti kau menerimanya”. Filsafat ini sering disebut “Sebut dan 
Tuntutlah !” (name it and claim it !).

Sebagai respon manusia terhadap wahyu umum Tuhan di dalam bentuk alam semesta, 
ak ibat dosa, manusia bukan lagi menyelidiki alam semesta lalu mengembalikan 
pujian bagi Tuhan, tetapi justru sebaliknya, mereka semakin membudidayakan alam 
semesta tanpa memeliharannya dan yang lebih parah lagi, semakin menyelidiki 
alam semesta, mereka semakin membanggakan diri. Tidak heran, jatuhnya 
modernisme yang mengilahkan rasio melalui meletusnya Perang Dunia 1 dan 2 
membukakan mata banyak orang. Tetapi herannya manusia bukan kembali kepada 
Tuhan, melainkan kepada iblis dengan tipu dayanya melalui filsafat Pantheistik 
di abad postmodern ini.

Semua wahyu umum Tuhan tidak diresponi dengan tepat oleh manusia. Mereka pikir 
tanpa Tuhan mereka bisa mela kukan apa saja dan itu pasti berhasil, tetapi 
kenyataannya tidak bisa, karena manusia tetaplah terbatas. Ketika manusia 
berlomba-lomba ingin menjadi “Tuhan” sesuai ajaran Buddhisme, manusia semakin 
gila, perang terus berkecamuk, dll. Itukah bukti bahwa manusia adalah “Tuhan” 
?! Kalau semua manusia adalah “Tuhan”, bagaimana mungkin ada perang yang 
merupakan pertengkaran/perselisihan antara pribadi “Tuhan” yang satu dengan 
pribadi “Tuhan” yang lain ??!! Aneh, bukan ? Begitu pula halnya dengan alam 
semesta yang dipergunakan manusia secara tidak bertanggungjawab mengakibatkan 
diciptakannya bom atom yang merugikan dan membunuh banyak manusia yang tidak 
bersalah. Inikah namanya superioritas manusia ? Ini menjadi pertanyaan bagi 
kita dan seharusnya menjadi keinginan kita selanjutnya untuk mau kembali kepada 
Kebenaran Tuhan.

Tidak ada jalan keluar bagi persoalan manusia, kecuali kembali kepada Tuhan. 
Tetapi benarkah semua manusia mau kembali kepada Tuhan ? Jawabannya, tidak 
selalu. Mengapa ? Karena adanya dosa manusia. Oleh karena itu, sangatlah tepat, 
ketika theologia Reformed mengajarkan bahwa hanya orang-orang yang telah Tuhan 
pilih sebelum dunia dijadikan sajalah yang sanggup meresponi anugerah Tuhan. 
Ketika Tuhan sejati memilih beberapa dari antara umat manusia untuk menjadi 
anak-anak-Nya, itu adalah mutlak kedaulatan-Nya yang tidak bisa diganggu gugat 
oleh siapapun karena tidak ada yang lebih besar, berdaulat dan agung daripada 
Tuhan ! Oleh karena itu, sudah seharusnya orang-orang Kristen mengembalikan apa 
yang telah dirusak oleh orang-orang dunia ini kepada Tuhan dengan iman yang 
bertanggungjawab memimpin pengertian yang bertanggungjawab sesuai dengan wahyu 
khusus Tuhan di dalam Kristus dan Alkitab.

Tetapi bagaimana dengan sikap orang-orang Kristen di abad postmodern ? Maukah 
mereka melakukan perintah Tuhan dengan taat dan setia sampai akhir ? Saya akan 
membagi dua macam respon manusia yang menamakan dirinya Kristen terhadap 
perintah/mandat budaya dari Tuhan ini, yaitu :

Sikap pertama, MENOLAK. Ini adalah sikap orang “Kristen” yang “wajar” 
(sebenarnya dari kacamata Tuhan, sangat tidak wajar). Banyak orang yang mengaku 
diri “Kristen” bahkan yang lebih celaka “melayani ‘tuhan’” tetapi menolak 
mentah-mentah kalau harus mengintegrasikan iman Kristen di dalam kehidupan 
mereka. Mengapa ? Apakah mereka tidak mampu ? BUKAN ! Masalah paling serius 
adalah mereka TIDAK MAU. Mengapa tidak mau ? Karena mereka telah teracun oleh 
filsafat dari Plato bahwa yang jasmani tidak ada hubungan dengan yang rohani, 
sehingga muncullah pernyataan, “religion dengan science tidak ada 
hubungannya.”. Apakah ini yang Alkitab ajarkan ? TIDAK. Ini yang dunia ajarkan. 
Layakkah mereka disebut orang Kristen ? Sangat tidak layak. Tetapi herannya, 
orang-orang “Kristen” palsu inilah yang sangat dipuja dan dihormati oleh 
orang-orang dunia, mengapa ? Karena setan (kejahatan) berpelukan dengan setan 
(kejahatan) ! “Wajar”, kalau orang-orang dunia menghormati orang-orang 
“Kristen” palsu ini, karena orang-orang “Kristen” palsu sebenarnya bukan orang 
Kristen tetapi (mengutip perkataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong) hanya anak-anak 
setan yang masih indekos di dalam gereja dan memakai plang “Kristen”. Mengapa 
saya mengatakan bahwa respon ini tidak wajar ? Karena sikap ini jelas-jelas 
menolak Tuhan sebagai Pencipta di titik pertama karena dia percaya bahwa alam 
semesta ini terjadi dengan sendiirnya (teori evolusi). Lalu, dia juga menolak 
adanya campur tangan Tuhan di dalam dunia ciptaan karena baginya, Tuhan hanya 
mengurusi masalah-masalah rohani dan bukan jasmani (pengaruh dari Deisme dan 
atheisme). Kemudian, dia juga menolak Tuhan mengunjungi manusia berdosa di 
dalam inkarnasi Kristus karena baginya tidak mungkin Tuhan yang Mahakudus 
mengunjungi manusia berdosa (pengaruh dari Deisme dan monotheisme ala 
Jusufroni/Islam). Di samping itu, dia juga menolak atribut manusia di dalam 
Pribadi Kristus karena baginya “tidak masuk akal” Tuhan beratribut manusia 
sekaligus Tuhan. Dan terakhir, dia juga menolak bahwa segala sesuatu di dunia 
ini harus memuliakan Tuhan karena baginya yang penting adalah kehebatan dan 
kemuliaan dirinya sendiri. Inilah kelima alasan mengapa sikap ini saya sebut 
sebagai sikap TIDAK WAJAR.

Sikap kedua, MENERIMA. Inilah sikap orang Kristen sejati di dalam meresponi 
mandat dari Tuhan. Perintah dari Sang Pencipta harus ditaati oleh ciptaan. Itu 
sangat wajar dan logis ! Kalau kita menciptakan robot dan robot itu tidak 
menaati perintah kita, maka kita pasti marah. Begitu halnya dengan Tuhan yang 
lebih besar dan agung dari ilustrasi saya tadi. Sikap menerima perintah Tuhan 
ini harus disertai dengan komitmen total dengan kesungguhan hati melakukan apa 
yang Tuhan perintahkan. Sikap ini juga menuntut harga yang harus dibayar, 
karena kita harus berperang dengan dunia yang berdosa ini yang telah dikuasai 
oleh iblis dan kroni-kroninya (mungkin di dalamnya termasuk banyak orang 
“Kristen” palsu).

Bagaimana kita dapat mengerti mandat budaya yang se jati ?
Mandat budaya yang harus ditaati ini kadang kala disalahmengerti. Mereka 
menganggap mandat budaya identik dengan bagaimana keKristenan mensinkronkan 
dengan budaya setempat (peleburan keKristenan ke dalam kebudayaan). Di dalam 
Katolik Roma, mandat budaya dibangun di dalam semangat humanisme. Hal ini 
selanjutnya dijiplak dan “diteladani” oleh banyak gereja Protestan mainline 
dengan ide social “gospel” atau “theologia” religionum pujaan mereka (yang 
mensinkretiskan iman Kristen dengan iman dari agama-agama lain). Selain itu, 
banyak orang Katolik juga ikut-ikutan sembahyang di depan arwah orang mati 
dengan alasan bahwa itu hanya tradisi/kebudayaan yang tidak berhubungan dengan 
agama. Di samping itu, di dalam Karismatik/Pentakosta, mandat budaya hampir 
sama dengan Katolik yaitu peleburan keKristenan supaya cocok dengan budaya. 
Tidak heran, musik-musik untuk kaum muda/i di dalam gereja mereka dibuat sama 
dengan musik di dalam diskotek. Itu sama sekali BUKAN mandat budaya ! Itu 
“pelacuran” iman atas nama budaya ! Tidak ada jalan lain, kecuali kita sebagai 
orang Kristen kembali kepada theologia Reformed yang paling sesuai dengan 
Alkitab. Ini jelas bukan mandat budaya. Di dalam theologia Reformed, mandat 
budaya dibangun dengan prinsip bahwa wahyu khusus menerangi dan menyempurnakan 
wahyu umum Tuhan dan kesalahan reaksi manusia terhadap wahyu umum Tuhan. Ini 
berarti ada otoritas Kristus dan Alkitab sendiri mentransformasi dunia ini. 
Misalnya, ketika di dalam Perjanjian Lama, Abraham, dll memiliki istri lebih 
dari satu, itu tidak “dipermasalahkan” oleh Tuhan, tetapi ketika di dalam 
Perjanjian Baru, orang harus memiliki istri hanya satu, karena itu merupakan 
gambaran antara Kristus dan jemaat (Efesus 5:23-33). Ini yang dinamakan wahyu 
khusus menerangi wahyu umum Tuhan dan kesalahan reinterpretasi manusia berdosa 
terhadap wahyu umum Tuhan. Oleh karena itu, di dalam theologia Reformed, 
kebudayaan yang sejati harus dikembalikan kepada Tuhan sebagai Sumber, dan 
Alkitab sebagai Firman-Nya yang mutlak, final dan berotoritas. Menolak mandat 
budaya dalam pengertian theologia Reformed berarti dua hal, pertama, 
mempercayai deisme yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak memelihara ciptaan-Nya 
setelah Ia menciptakan dunia ini, dan kedua, mempercayai bahwa budaya itu 
sempurna dan keKristenan (dan Tuhan) itu tidak sempurna sehingga keKristenan 
(dan Tuhan) harus tunduk kepada kebudayaan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya orang-orang Kristen sejati tidak lagi 
tergila-gila dengan dualisme ala Plato, tetapi hanya kembali kepada Alkitab. 
Orang Kristen yang tidak kembali kepada Alkitab sama sekali tidak layak disebut 
Kristen apalagi beriman Kristen. Maukah kita kembali kepada Alkitab ? Amin.

Kirim email ke