From: Dewi Kriswanti SETIALAH !
Bacaan : Amsal 20 : 6 Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya ? Sebagian orang berpikir bahwa memberi adalah perbuatan baik seseorang yang dinyatakan dalam bentuk perbuatan. Ia dikatakan orang yang baik hatinya ketika dilihat rajin memberi sumbangan dan pelayanan sosial, senang membantu orang dalam kesusahan atau turut memberikan perhatian bagi yang membutuhkan perhatian. Hal tersebut sangat baik! karena semuanya itu adalah ungkapan hati seseorang yang harus dipertahankan sebagai wujud dari kasih terhadap sesama. Namun, apakah kebaikan hati cukup untuk dapat memperlihatkan kasih kepada Tuhan? Apakah pemberian menunjukkan perwujudan cinta kasih kita kepada Tuhan? Pertanyaan ini muncul saat kita melupakan pokok penting dari kasih, yakni kesetiaan. Yesus menunjukkan kasihNya yang sempurna untuk menebus dosa manusia ketika ia setia menjalankan penderitaanNya hingga mati di kayu salib. Ia menyatakan mujizat bagi mereka yang membutuhkan. Itu adalah tindakan dari kebaikan hatiNya yang didasari oleh kasih, dan Ia menyempurnakan kasihNya itu dengan setia menjalankan kehendak Tuhan Bapa, yaitu kematianNya di kayu salib. Kebaikan hati yang dimiliki dalam diri orang, entah ia percaya atau belum percaya kepada Yesus Kristus, berbeda dari kebaikan hati yang didasari atas kasih setia. Kebaikan hati yang terdapat pada diri orang, senantiasa dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Sebaliknya, kebaikan hati yang didasari oleh kesetiaan, tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Ia memberi kasih sayang kepada seseorang, sekalipun menurut perasaannya ia merasa disepelekan, dan sebagainya. Saudaraku, kebaikan hati dimiliki oleh setiap orang, namun kebaikan hati yang didasari oleh kesetiaan sudah menjadi barang yang langka. Kebaikan hati yang dimiliki oleh setiap orang dapat diukur dari seberapa besar ia menerima, tetapi kebaikan hati yang didasarkan kesetiaan bersifat kekal, kebaikan hati ini dapat nampak dari seberapa kuat ia bertahan terhadap masalah atau pergumulan yang tengah dihadapinya. Ketika ia telah melewati badai pergumulan dan masalah, maka ia dapat dikatakan orang yang setia. Dengan demikian, peliharalah kesetiaan karena itu adalah kasih yang sempurna. (DK) Doa: Ya Bapa, berikanlah aku kasihMu yang sempurna, sehingga aku dapat menyatakan kebaikanMu dalam hidupku ! Amin. SEGALA PERBUATAN BAIK AKAN SIA-SIA BILA TANPA DIDASARI KASIH DAN KESETIAAN KEPADANYA =============================================== From: Dewi Kriswanti KEMENANGAN SEJATI Bacaan : 1 Samuel 17: 45-47 ..."Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Tuhan segala barisan Israel yang kautantang itu. (1Sam 17:45) Keperkasaan Daud saat melawan Goliat, bukti bahwa orang yang percaya dan menyandarkan dirinya kepada Tuhan pasti akan meraih kemenangan. Bagi logika manusia itu hal yang mustahil. Daud yang kecil mana mungkin dapat mengalahkan Goliat yang berperawakan besar dan kuat. Begitu pula kebanyakan orang saat ini, berpikir bahwa tak mungkin Tuhan mampu melakukan hal besar dalam kehidupan ini. Memang persoalan kadangkala terasa begitu berat. Bayangkan saja, mana lagi sakit payah, harus bayar hutang, uang sekolah anak-anak, belum lagi persoalan di kantor, sepertinya tak mungkin diselesaikan. Pandangan ini wajar saja muncul dalam pikiran manusia, sebab keberadaan kita masih ada di dunia ini, dalam segala keterbatasan sebagai manusia. Namun, apakah kita harus tetap terjebak dalam keterpurukan seperti itu, dan seolah-olah hidup kita sudah tak berarti lagi? Ketika Daud mampu mengalahkan Goliat, maka Tuhan yang sama pun akan pasti mampu mengeluarkan kita dari berbagai masalah hidup yang mencengkram. Belajarlah dari pengalaman Daud, paling tidak kita bisa melihat bahwa ia: 1. Mengandalkan kekuatan Tuhan. Meskipun diberkati banyak harta serta karunia talenta yang luar biasa, bukan merupakan alasan bagi kita untuk mengandalkannya. Dalam diri Daud, ia hanya percaya bahwa Tuhan yang perkasa akan selalu berpihak padanya, dan hanya kekuatan Tuhan saja yang mampu mengalahkan segala rintangan. 2. Memiliki iman yang kokoh. Hidup yang kita jalani ini tidaklah mulus selalu. Ada saja persoalan hidup yang menghalangi. Untuk itu, kita harus kokoh dalam iman. Jangan pernah goyah, apalagi sampai "menjual" iman kita hanya untuk suatu kepentingan, apakah itu jabatan, harta, atau apapun juga. Bodohlah kita jika melakukannya, karena dalam iman kepada Yesus ada keselamatan yang kekal. 3. Bertindak sesuai firman Tuhan. Hidup harus ada dalam keteraturan, tidak sembarangan atau sembrono. Jika kita mengimani bahwa Tuhan dan Juru Selamat kita adalah Tuhan Yesus, maka konsekuensinya kita harus menuruti seluruh aturan yang ditetapkanNya. FirmanNya merupakan pentunjuk untuk berkata dan bertindak, sehingga kita mampu meraih kemenangan sejati. (tlt) Doa: Terima kasih Bapa, atas kasih dan kuasaMu yang melingkupi hidup ini. Amin! HANYA OLEH KEPERKASAAN DAN KUASA TUHAN SEMATA KITA DAPAT MERAIH KEMENANGAN SEJATI ============================================== From: Mang Ucup Pemimpin terhebat di kolong langit ! Siapakah pemimpin terhebat sejagat raya maupun sepanjang masa ? Apakah George W. Bush, Bill Gates, Donald Trump, Albert Einstein ? Apakah mereka bisa dinilai sebagai pemimpim yang terhebat di kolong langit ini ? TIDAK ! Bahkan pemimpin yang mang Ucup maksudkan disini; tidak masuk nominasi sebagai wong kaya maupun wong jenius. Ia itu hanya sekedar orang biasa saja. Bahkan penampilannya lebih mirip seperti ketua Kaypang, pemimpin pengemis dan kaum gelandangan. Boro-boro punya Jaguar atau pesawat pribadi, rumah saja kagak gablek. Nulis bukupun kagak pernah. Ia tidak pernah mengicipi pendidikan sekolah tinggi, bahkan gelar pun tidak ia miliki. Masa jabatannya pun tidak lama hanya tiga tahun saja. Disamping itu boro-boro perusahaan, organisasi saja tidak ia miliki, walaupun demikian, ia telah diakui sebagai pemimpin terhebat di kolong langit yang tiada tandingannya ! Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia itu pemimpin terhebat sepanjang masa ? Dari hasilnya ! Tidak bisa dipungkiri hampir setengahnya dari umat manusia di kolong langit ini mengakui kehebatannya. Dan lebih dari dua milyar orang telah menjadi pengikutnya. Siapakah Dia ? Yesus ! Itulah hasil nyata dari seorang pemimpin yang berhasil ! Dimana letak rahasia keberhasilannya ? Ia menerapkan metoda kepimpinan yang melayani atau The Servant Leader. Hal ini bukannya berdasarkan cuap-cuap atau hanya sekedar ngomong doang, melainkan telah dipraktekan di dalam kehidupanNya sendiri. Lihat saja kata "Pemimpim" di dalam Alkitab hanya disebut "enam" kali, sedangkan kata "pelayan" disebutkan lebih dari "sembilan ratus" kali. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dimana sepatutnya kita melayani dan menyembah Dia, walaupun demikian Ia bersabda: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat 20:28) Semua Ratu maupun Raja di sepanjang sejarah manusia ini, pada umumnya mengutus rakyatnya untuk mati bagi mereka, tetapi mang Ucup hanya mengenal seorang Raja saja yang mau dan bersedia mengambil keputusan untuk mati bagi rakyatnya ialah: Yesus ! Tanya saja apakah George W. Bush bersedia mati di Irak untuk Amerika ? Beda dengan mereka yang sering menamakan dirinya sebagai "Hamba", tetapi kenyataannya: Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; .. duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi Mat 23:5-7 Tuhan Yesus melayani, bahkan Ia tidak merasa sungkan untuk melayani dengan mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:3-5). Dan ketika Ibu dari Yohanes dan Yakobus meminta tempat khusus bagi kedua puteranya di surga, dijawab dengan jelas bahwa hal ini tidak akan dikabulkan (Mat 20:20-28) alias tidak ada KKN maupun perlakuan khusus bagi para pemimpin. Sudah merupakan satu kewajiban mutlak dari seorang bawahan dimana mereka harus menghormati pimpinannya. Bayangkan saja bagaimana perasaan anda, apabila mulai besok pembantu maupun supir anda tidak memanggil anda dengan sebutan Ibu atau Bapak lagi, melainkan hanya dengan nama panggilan sehari-hari saja umpamanya Susi atau Achmad saja, apakah anda tidak akan tersinggung atau ngambek ? Beda dengan gaya kemimpinan Yesus: "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat ..(Yoh 15:15) Walaupun demikian Ia tetap tegas dan tidak pernah plin plan ataupun mau berkompromi, dimana mereka melakukan kesalahan Ia tegur dan koreksi kesalahan tersebut. Apakah kalau kita melayani, berarti kita harus melupakan "Sang AKU" secara total ? Tidak, sebab Ia telah memberikan visi dan misi yang jelas: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mrk 12:31) jadi anda tidak perlu melupakan ataupun mengorbankan sang Aku, melainkan usahakanlah agar kesejahteraan yang anda dapatkan; ini bisa dinikmati juga sebagian besar oleh bawahan maupun orang-orang disekitar anda juga. Dan sebagai akhir kata dari artikel kepemimpinan ini; cobalah anda renungkan baik-baik ayat yang tercantum dibawah ini: Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. (Yoh 13:12-17) Mang Ucup - The Drunken Priest yang ingin belajar To Lead Like Jesus Email: [EMAIL PROTECTED] Homepage: www.mangucup.org

