From: Andre Widodo 

Firman Tuhan = kehidupan yang kekal

Shalom,

Dalam realitas hidup ke-Kristen-an, kita banyak menemukan beberapa anak-anak 
Tuhan yang menempatkan tradisi setara dengan firman Tuhan. Selain itu ada juga 
beberapa anak-anak Tuhan yang memang menempatkan firman Tuhan di atas 
segala-galanya.

Melihat dua pengajaran di atas, tentu menimbulkan pertanyaan dalam hati kita, 
manakah diantara keduanya yang memang benar di mata Tuhan? Untuk dapat menjawab 
pertanyaan ini, maka saya mengajak saudara-saudari untuk merenungkan makna 
perkataan Tuhan Yesus di Yohanes 8:51.

Yohanes 8:51
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak 
akan mengalami maut sampai selama-lamanya."

John 8:51 NASB
"51Truly, truly, I say to you, if anyone keeps My word he will never see death."

John 8:51 KJV
"51Verily, verily, I say unto you, If a man keep my saying, he shall never see 
death."

Perkataan "Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami 
maut sampai selama-lamanya" sebenarnya menunjukkan bahwa firman Tuhan adalah 
suatu hal yang paling utama. Dengan mempraktekkan firman Tuhan maka kita tidak 
akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Firman Tuhan membawa kehidupan yang 
kekal bagi mereka yang mempraktekkannya.

Mengapa? Karena Yohanes 8:31-32.
"Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu 
tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan 
mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Jika kita tetap tinggal dalam firman Tuhan, maka kita status kita adalah murid 
Yesus atau dengan kata lain adalah Kristen ( pengikut Kristus ). Sebagai 
pengikut Kristus, semua firman Tuhan dapat kita ketahui dari Alkitab. Kita 
tinggal membuka, membaca dan menjadi pelaku-pelaku firman.

Jadi, bagaimana dengan kita? Masihkah kita menjadi murid yang setengah-setengah 
mempraktekkan firman Tuhan? Masihkah kita mengatakan firman Tuhan setara dengan 
tradisi?

In Jesus' love
Andre
===============================================
From: Leonard Handjojo 

THE SOUND OF SILENCE
Baca : Yoh 16:4b-11

Sebuah tulisan di Kompas pada hari Minggu (27/05/07) kemarin ada yang menarik. 
Dikisahkan pengalaman David dan istrinya dengan mobil barunya tanpa sengaja 
menggilas seekor kucing hingga mati ketika memundurkan mobilnya. Karena panik, 
David lalu mengirimkan sms kepada rekan kerjanya untuk minta saran apa yang 
seharusnya dia lakukan karena menggilas kucing sampai mati. Ternyata temannya 
tersebut sedang bersama dengan atasannya juga sehingga jawaban sms yang 
diterima David bukan saja dari temannya tetapi juga dari atasannya. Cerita 
belum berakhir sampai disana, karena teman dan atasannya tersebut juga 
bercerita kepada rekan-rekan lain di kantornya. Hasilnya dalam waktu sebentar 
saja berdatangan berbagai saran apa yang harus dilakukan, misalnya ada yang 
bilang kucingnya harus dibungkus kain putih lalu dikubur, ada yang bilang harus 
bikin selamatan, biasa-biasa saja, atau malah cuek ajalah cuma kucing mati aja 
kok repot. Kabar menggembirakannya adalah, David dan istrinya sudah tidak risau 
lagi karena sudah melaksanakan beberapa saran dari sahabat-sahabatnya. Kucing 
itu sudah dikuburkan, tanpa kain putih dan tanpa selamatan. Mobil pun, kata 
David, "Sudah dijual".

Cerita kedua pada hari Minggu kemarin saya dapatkan dari ilustrasi khotbah di 
gereja. Seorang petani yang ketika hari itu bekerja di gudangnya, kehilangan 
arloji saku pemberian istrinya. Petani ini begitu resah, tidak ingin membuat 
istrinya sedih. Maka dengan susah payah ia segera mencari ke seluruh sudut 
gudang namun usahanya tidak berhasil. Di tengah-tengah upayanya mencari arloji 
tersebut, ia melihat sekelompok anak kecil bermain-main dekat gudangnya. Maka 
dipanggilnya anak-anak tersebut. Lalu kepada mereka dijanjikannya akan hadiah 
kepada siapa saja yang berhasil menemukan arlojinya yang hilang di dalam 
gudang. Tentu saja anak-anak kecil itu begitu bersemangat mencari sambil 
membongkar-bongkar tumpukkan jerami, alat-alat pertanian dan sebagainya. Namun 
sayang usaha mereka pun tidak membuahkan hasil apa-apa kecuali gudang yang 
malah berantakkan. Lalu salah seorang anak berkata pada petani itu, supaya 
diijinkan mencari sendirian saja tanpa ada seorang pun ikut mencari termasuk si 
petani. Meskipun heran, namun petani itu mengabulkan permintaan anak itu. 
Setelah kira-kira sepuluh menit kemudian, anak itu keluar gudang sambil 
mengangkat tangannya yang membawa arloji itu. 

Bagaimana arloji itu dapat ditemukan? 

Ternyata anak itu hanya duduk diam di dalam gudang yang sunyi dan berusaha 
mendengarkan bunyi detak jarum arloji itu. Ketika sayup-sayup didengarnya bunyi 
detak jarum arloji itu di suatu tempat, segeralah ia membongkar tumpukan barang 
dan menemukan arloji itu tergeletak di sana.

Setelah membaca tulisan saya yang berjudul Pimp My Life, seorang pembaca 
bertanya kepada saya, apakah saya sering mendengar suara Roh Kudus? Apakah 
suara itu terdengar begitu jelasnya?
Pada perikop bacaan kita, menjelaskan bahwa kepergian Yesus Kristus itu harus 
terjadi dan hal itu justru menguntungkan karena berarti Yesus dapat mengutus 
Roh Kudus untuk hadir tanpa batas (ruang, waktu, individu). Roh Kudus yang 
datang ini yang dirayakan pada hari Pentakosta. Roh Kudus tidak hanya sekedar 
hadir dan menolong kita melakukan kehendak Tuhan, tetapi juga memberikan 
kesadaran akan dosa, kebenaran dan pemberitaan akan penghakiman dari Tuhan. 
(Yoh 16:8).

Melalui dua cerita tersebut sebenarnya dapat kita renungkan juga bagaimana Roh 
Kudus itu berbicara kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita 
terlalu sibuk, terlalu banyak membuka telinga untuk suara-suara yang tidak 
perlu maka kita justru sulit menemukan solusi untuk masalah kehidupan kita. 
Justru ketika kita berlaku seperti anak kecil yang menggunakan kesunyian supaya 
lebih peka mendengar, maka masalah dapat terpecahkan. Itu sebabnya, Yesus juga 
kerap kali menyendiri pagi-pagi, menghindari keramaian bahkan murid-muridNya 
sendiri. Bukan karena murid-murid itu mengganggu, namun itulah salah satu cara 
untuk mendengarkan suara Roh Kudus dengan bersaat teduh, rajin bersekutu dengan 
Tuhan dan merenungkan Firman Tuhan. 

Saya belum pernah mendengar suara Roh Kudus secara audible, seperti seakan-akan 
ada orang di sebelah saya yang bilang dengan suara nyaring tentang sesuatu hal. 
Tetapi ketika saya kerap merenungkan suatu hal, seringkali datang pencerahan 
yang ada begitu jelas melalui suara kecil di hati. Suara itu mungkin tidak akan 
terdengar kalau saja saya malah sibuk mencari jawaban kesana-kemari seperti 
cerita pertama diatas. David malah akhirnya menahan malu karena kisah menggilas 
kucing sampai mati tersebut menyebar dan semua orang di kantornya mulai 
pimpinan sampai office boy tahu. 

Mulai hari ini, mari kita lebih tenang ketika masalah tiba. Usahakan agar diri 
kita tidak panik dan mencari jalan keluar melalui kegaduhan, melainkan asah 
kepekaan agar suara Roh Kudus yang sudah diturunkan Tuhan melalui Pentakosta 
dan hadir sejak kita menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi kita itu dapat 
terdengar. Suara Roh Kudus itu tidak harus terdengar menggelegar, suara itu 
kadang-kadang hanya sayup-sayup saja.

Selamat Hari Pentakosta!
========================================
From: Wiempy 

MENGUJI IMAN KRISTIANI

Ketika kita bicara ttg bagaimana menguji iman Kristiani, pada dasarnya ada 
hubungan nya dgn iman yg kita miliki sbg org Kristiani. Yaitu iman yg dipenuhi 
oleh semua yg telah Tuhan berikan kepada kita semua untuk kita lakukan dlm 
setiap situasi dimana iman kita akan diuji. Iman yg tangguh tercermin dari 
sikap dan perbuatan moral yg kita lakukan di dunia ini. Sbg anak2 Bapa, kita 
harus selalu menjaga kekudusan, menjadi serupa dgn Kristus serta berusaha untuk 
selalu memuji dan memuliakan nama
Kristus kapanpun dan dimanapun kita berada. Mari kita buka Filipi 2 ayat 15 yg 
menulis demikian:
"supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sbg anak2 Tuhan yg tidak bercela 
di tengah2 angkatan yg bengkok hatinya dan yg sesat ini, sehingga kamu 
bercahaya di antara mereka seperti bintang2 di dunia"

Kita semua harus hidup sesuai dgn karakter Tuhan yg tercermin dlm kehidupan dan 
pribadi Yesus. Untuk menjadi serupa dgn karakter Yesus dibutuhkan tekad dan 
perjuangan keras. Dibutuhkan proses yg panjang untuk menjadi serupa dgn 
karakter Yesus, kita semua harus fokus mengarahkan iman yg kita miliki hanya 
kepada Tuhan saja. Hanya dgn iman yg sejati kita akan mendapat bagian dari 
kehidupan kekal bersama Bapa di sorga. Kitab 1 Petrus 1 ayat 7 s/d 8 menulis 
hal yg demikian:
"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu, yg jauh lebih 
tinggi nilainya dari pada emas yg fana, yg diuji kemurniannya dgn api, sehingga 
kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus 
Kristus menyatakan diri-Nya"

Di dalam menjalani kehidupan ini, janganlah iman kita luntur disebabkan adanya 
suatu permasalahan hidup yg harus kita hadapi. Janganlah kita patah semangat 
dlm menghadapi suatu permasalahan hidup yg sulit untuk kita selesaikan. 
Disinilah iman kita akan diuji dlm menghadapi permasalahan hidup yg terjadi 
atas seijin dan sepengetahuan Yesus. 
Iman yg benar harus memandang bahwa permasalahan hidup yg menimpa hidup kita 
sebagai cobaan yg bersifat sekunder. Permasalahan hidup bisa saja dlm hal 
mengalami kesulitan keuangan, berhubungan dgn karier yg kita rintis dari awal, 
sahabat yg mengkhianati kita, bahkan bisa juga terjadi perselisihan dlm 
keluarga. Hanya Yesuslah yg harus kita jadikan tumpuan dan pengharapan dlm masa 
kesusahan yg terjadi
dlm hidup ini. Hanya kepada Yesuslah iman kita tertuju dan menjadikan Yesus sbg 
yg primer (utama).

Kita harus selalu mengucap syukur atas kasih karunia serta anugerah yg telah 
Yesus limpahkan dlm kehidupan ini. Semua harta yg kita miliki, semuanya itu 
hasil dari kerja keras yg telah kita lakukan selama ini. Tidak ada yg salah dgn 
itu semua, akan tetapi janganlah kita mengutamakan (menomorsatukan) 
mengumpulkan harta sebanyak
mungkin saja. Karena itu semua tidak kekal. Ingatlah selalu pesan dari Paulus 
kepada jemaat di Efesus yg terdapat dlm Efesus 2 ayat 8 s/d 9 yg menulis 
demikian:
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil 
usahamu, tetapi pemberian Tuhan, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada org yg 
memegahkan
diri"

Gereja Katolik Roma memandang kasih karunia itu lebih merupakan suatu unsur 
pokok yg dicurahkan oleh Yesus. Kasih karunia membantu org percaya di dlm 
pertumbuhannya meraih keselamatan. Tujuan dari kasih karunia yg dicurahkan tsb 
adalah untuk mengubah org yg berdosa menjadi org suci (SAINT), mengubah org 
jahat menjadi org baik.

Dalam darah Yesus Kristus yg tercurah di kayu salib, Tuhan menunjuk Yesus 
Kristus menjadi jalan pendamaian karena iman antara umat manusia yg telah 
tercemar oleh dosa dgn Bapa di sorga. Dgn iman, Yesus Kristus rela menjadi 
penebus dosa manusia. Yg patut kita teladani adalah iman kita yg tertuju kepada 
Yesus Kristus menandakan
bahwa kita mempercayakan segala sesuatunya di dlm arahan dan bimbingan Yesus 
Kristus, dan juga kita harus selalu bergantung kepada Yesus Kristus dlm 
menyelesaikan segala macam permasalahan hidup. 
Ada waktunya iman kita diuji oleh Yesus Kristus, bisa dlm hal perkara kecil, 
bisa juga dlm hal perkara besar. Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita sbg 
anak2 Bapa ketika kita berharap dgn iman yg tertuju hanya kepada Yesus untuk 
menyelesaikan segala macam perkara hidup yg menimpa hidup kita. Percayalah 
bahwa Yesus pasti
akan segera mendengar doa minta tolong yg kita panjatkan kepada-Nya, dan pada 
waktunya Dia akan datang membantu mengatasi segala pergumulan hidup yg sedang 
kita alami.

Hanya kepada org2 yg setia mengikuti segala perintah dan ketetapan  Tuhan, 
serta org2 yg selalu mengandalkan iman kepada Yesus Kristus sajalah, Tuhan akan 
berkenan menunjukkan jalan keluar segala permasalahan hidup yg kita alami. Amin.

JBU,
Wiempy Wijaya
Buitenzorg, 03-Jun-07

Kirim email ke