From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 21 -- Karena Nama-Nya
PENGANTAR
Penginjilan ke daerah di mana Injil sulit dikabarkan tentunya
membuat mereka yang terjun di dalamnya harus mempersiapkan diri
untuk menghadapi hal-hal terburuk yang mungkin saja terjadi.
Terlebih daripada itu semua, mereka yang terpanggil untuk
mengabarkan berita sukacita ini memang harus memiliki kerelaan
bahkan mengorbankan nyawa. Mari kita simak kisah berikut ini, di
mana bukan ketakutan yang dirasakan oleh para penginjil, melainkan
damai sejahtera, meski nyawa "bagai telur di ujung tanduk".
Pimred KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
KARENA NAMA-NYA
===============
Reona Peterson dan Evey Muggleton adalah dua orang gadis yang ingin
menaati Tuhan, bahkan jika hal itu menuntut mereka menyerahkan
nyawa. Reona adalah guru sekolah dari Selandia Baru dan Evey adalah
bidan dari Inggris. Mereka saling mengenal di pusat penginjilan kami
di Swiss. Di sana mereka bergabung dengan istri saya, Darlene, dan
empat orang lainnya yang amat tertarik untuk berdoa bagi negara Albania.
Anda tahu, Albania dianggap sebagai salah satu negara yang paling
sukar untuk ditembus oleh Injil. Inilah satu-satunya negara yang
telah menyatakan bahwa negara itu sungguh-sungguh ateis -- termasuk
semua rakyatnya. Pemerintah Albania mengklaim telah mengusir semua
agama dari negara itu. Penguasa menutup setiap gereja dan masjid,
dan membunuh mereka yang tidak menyangkal kepercayaannya kepada
Tuhan. Beberapa orang Kristen menemui ajalnya pada tahun 1969 dengan
disegel hidup-hidup di dalam tong-tong dan diceburkan ke Laut Adriatik.
Setelah berbulan-bulan berdoa bagi negara ini, Reona dan Evey
percaya bahwa Allah memimpin mereka untuk pergi sendiri ke sana.
Mereka bergabung dengan satu-satunya kelompok wisata yang tersedia,
yang kebanyakan berisi anak muda penganut Marxisme dari Eropa Barat.
Mereka menyembunyikan Injil Yohanes dalam bahasa Albania di bawah
pakaian mereka agar bisa dibawa masuk ke negara itu. Setelah mereka
berada di negara itu, mereka berdoa dengan hati-hati sebelum
memberikan buku itu secara rahasia kepada setiap orang, atau
menempatkan beberapa eksemplar di tempat-tempat tertentu.
Namun akhirnya, para gadis itu tertangkap dan dibawa secara terpisah
di hadapan sekelompok pemeriksa. Para pemeriksa ini sudah amat
terlatih untuk menakut-nakuti tawanan mereka, tetapi kedua gadis ini
diliputi damai dan kasih Allah ketika orang-orang komunis itu
mengancam akan memenjarakan mereka dan akhirnya, menghukum tembak.
Mereka tidak gentar di hadapan para pemeriksa itu. Sebaliknya, para
gadis itu dengan penuh keberanian bersaksi kepada penangkapnya tentang Allah.
Pihak berwenang mengatakan, mereka akan dihukum mati pada pukul
sembilan keesokan paginya karena telah melawan Negara Albania, dan
mereka pun digiring ke kamar mereka. Reona belakangan berkata bahwa
dia kagum dengan karunia Allah dalam mempersiapkan para martir --
hatinya dipenuhi damai dan sukacita saat dia berbaring pada malam
yang disangkanya malam terakhir di bumi itu.
Keesokan harinya, entah mengapa mereka dibebaskan, dibuang ke
perbatasan tanpa tiket kembali, uang, atau paspor. Melalui sederetan
peristiwa yang mengagumkan, mereka dapat kembali ke Swiss. Kisah
selengkapnya
diceritakan dalam buku Reona, "Tomorrow You Die" (Besok Kamu Mati).
Kisahnya berakhir bahagia, tetapi Reona dan Evey dipersiapkan untuk
memberikan hak mereka yang paling berharga kepada Yesus, sebagai ganti
kehormatan untuk memancarkan sinar-Nya di sebuah negara yang benar-benar gelap.
Bahan diambil dari sumber:
Judul buku : Menang dengan Cara Allah
Judul asli : Winning God's Way
Judul artikel: Karena Nama-Nya
Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 2000
Halaman : 113 -- 115
______________________________________________________________________
"Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita
dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia,
melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah."
(2Timotius 2:8)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=2Ti+2:8 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Mari kita bersyukur bagi mereka yang terpanggil untuk melayani
Tuhan melalui penginjilan.
2. Doakan juga supaya mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik, terutama
iman percaya mereka supaya jangan goyah meski nyawa menjadi taruhannya.
3. Bersyukurlah juga bagi para penginjil yang sudah Tuhan luputkan
dari maut. Berdoalah agar apa yang telah mereka alami tidak
menimbulkan trauma dan tawar hati, namun semakin meneguhkan
mereka untuk tetap bersemangat mengumandangkan Injil, meski ke
daerah yang sukar ditembus sekalipun.
==========================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 22 -- Sudah Kutemukan
PENGANTAR
Berapa kali dan berapa lama kita berdoa kepada Tuhan sampai doa kita
dikabulkan? Apakah kita yakin Tuhan berkenan dengan apa yang kita
doakan? Pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk tidak berdoa
karena kita yakin bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita perlukan?
Sering kali kita salah dalam memahami pengertian tentang doa yang
sebenarnya. Doa bukan hanya untaian kata-kata permohonan atau
sebaris kalimat permintaan. Doa merupakan saat di mana seorang anak
berjumpa dengan ayahnya dan saling mengungkapkan kasih mesra.
Berikut satu kisah yang mengggambarkan kuasa atas doa. Selamat menyimak.
Pimpinan redaksi e-KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
SUDAH KUTEMUKAN
===============
Orang yang paling kukagumi dan kucintai adalah ayahku. Beliau lahir
di daerah yang miskin dan menjadi anak yatim piatu pada usia lima
tahun. Pada usia itu, beliau harus mampu berdiri sendiri
mempertahankan hidupnya karena tidak ada sanak saudara yang
menampung dan memeliharanya.
Ayah telah berhasil, seorang anak miskin dengan pakaian
compang-camping telah menjadi seorang tuan tanah dengan ladang yang
luas karena usaha dan kegigihannya. Ayah berhasil, tetapi tidak
sombong; meskipun sangat kuat, tetapi hatinya tetap lembut. Suatu
ketika, aku melihat Ayah menangis ketika mendengar anak seorang
buruhnya meninggal dunia. Ayah juga selalu menyumbangkan hasil
panennya kepada gereja di kota kami. Ayah sangat mementingkan
kejujuran. Beliau selalu berkata, "Jangan pernah berharap memperoleh
sesuatu tanpa melalui usaha sendiri." Sungguh, Ayah adalah seorang
yang baik dan mulia. Tetapi sayangnya, Ayah bukanlah "orang yang
percaya" -- beliau tidak mau menerima Kristus sebagai Juru Selamat.
Aku selalu berdoa agar Ayah mau menerima Kristus.
Tiba saatnya aku masuk perguruan tinggi dan harus meninggalkan
rumah. Aku sangat senang menjadi mahasiswi. Rasa terima kasihku
semakin mendalam kepada Ayah karena usaha dan pengorbanannya selama
ini, aku dan adik-adikku dapat menikmati pendidikan dengan baik.
Tiap kali liburan aku selalu menyempatkan pulang dan memanjatkan
doa, "Tuhan, gerakkan hati Ayah agar mau menerima Kristus." Tetapi,
Tuhan belum mengabulkan doaku karena Ayah masih tetap menolak Kristus.
Ternyata Tuhan berencana lain. Ayah jatuh sakit dan sekarat
menghadapi maut -- aku selalu setia menungguinya dan tak
henti-hentinya berdoa agar Ayah masih bisa memperoleh keselamatan.
Keadaan Ayah semakin buruk, beliau sudah tidak sadar dan mengalami
koma yang panjang.
Aku terpaksa harus kembali ke universitas untuk menghadapi ujian dan
harus meninggalkan Ayah dalam keadaan yang tidak menentu. Tuhan
memang memiliki rencana lain. Malam harinya aku menerima telepon
bahwa Ayah sudah meninggal pada pukul 20.00. Aku sangat sedih.
Selesailah sudah apa yang aku mohonkan kepada Tuhan selama ini. Aku
merasakan sebuah kekalahan yang kekal dan aku pulang ke rumah dengan
sederet pertanyaan, "Mengapa semua ini terjadi Tuhan? Mengapa Kau
tidak mendengarkan doaku, belum cukupkah aku berdoa memohon? Dan
tidak pantaskah ayahku menerima keselamatan dari-Mu? Mengapa Tuhan ...?"
Setiba di rumah, dengan air mata yang berlinang Ibu menyambutku.
Namun, ada seulas senyum manis di bibirnya. Aku heran dengan semua
itu, tetapi aku tidak peduli karena aku masih terlalu sedih dengan
kepergian Ayah. "Duduklah sayang, Ibu mau menyampaikan sesuatu
kepadamu ...," kata Ibu dengan lembut. Ibu bercerita bahwa saat
dalam keadaan koma Ayah tersadar. Dengan susah payah beliau
menggerak-gerakkan bibirnya, tidak terdengar suara keluar, tapi
dengan mata terpejam seolah-olah beliau sedang berbicara. "Aku ...
minta ... hidup ... satu jam lagi ...," itulah yang keluar dari
mulut Ayah. Dan benar, satu jam kemudian Ayah meninggal.
Ayah meninggalkan satu pesan yang terdengar cukup jelas dan tegas,
"Katakan pada Mega ..., sudah kutemukan Dia!" Selama 25 tahun aku
ucapkan doa bagi Ayah tercinta demi keselamatannya. Akhirnya, Tuhan menjawab
semua doaku itu karena aku tahu dan yakin apa yang dimaksud Ayah dengan "Dia".
Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Untaian Mutiara
Judul artikel: Sudah Kutemukan
Penulis : Betsy T.
Penerbit : Gandum Mas Malang
Halaman : 109 -- 111
______________________________________________________________________
"Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan,
kamu akan menerimanya." (Matius 21:22)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+21:22 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Berdoalah untuk orang-orang yang kita kenal, baik keluarga,
saudara, kerabat, dan teman-teman kita yang belum mengenal Tuhan, supaya
melalui kita, mereka dapat mengenal-Nya dan mendengar berita keselamatan.
2. Bagi kita yang berada di tengah orang-orang yang belum percaya,
mintalah hikmat Tuhan supaya kita dapat memperkenalkan Juru Selamat kita,
Tuhan Yesus Kristus. Dan biarlah Tuhan sendiri yang memampukan kita untuk
menjawab setiap kebenaran yang dipertanyakan kepada kita.
3. Doakan pula supaya hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita
dapat memancarkan terang kasih Kristus lewat kesaksian yang nyata
dalam tingkah laku kita terhadap sesama.
_________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2007 YLSA
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati