From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 27 -- Penantian Selama Tiga Belas Tahun Terjawab Sudah
PENGANTAR
Menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Pekerjaan ini bukan
satu dari sekian banyak kegiatan yang ada di dalam catatan kerja
kita. Bukan juga hal yang ingin kita laporkan di dalam jurnal
laporan bulanan kita. Meski demikian, ada ungkapan yang mengatakan,
"Lebih baik menunggu daripada kita mendapatkan sesuatu di saat yang kurang
tepat."
Sebagai orang percaya, sering kali kita harus menunggu jawaban dari
doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Melaluinya, kita belajar untuk
setia menanti. Berikut kesaksian seorang anak Tuhan dalam penantian
dan kesetiaan kepada-Nya, sampai akhirnya doanya terjawab.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
PENANTIAN SELAMA TIGA BELAS TAHUN TERJAWAB SUDAH
================================================
Perjalanan hidup pasangan suami istri, Pdm. Ungke Godfried Dirk dan
Ester Widyawati sangat unik. Mereka sama-sama mempunyai masa lalu
yang kelam. Ester, anak pendeta yang getol belajar bela diri dan
tari ular. Sementara Ungke, dari kecil sudah belajar karate, judo,
dan silat di Perguruan Kayutsi, serta mempelajari kekebalan tubuh
dan doyan berkelahi. Karena kemampuan bela dirinya, Ungke pernah
menjadi pelatih di lingkungan Akabri dan Polri Yogyakarta. "Meskipun
kami berdua dari keluarga Kristen, kami sama-sama punya masa lalu
yang kelam. Namun, Tuhan begitu sabar terhadap kami, Ia terus
menuntun kami mengenal-Nya," kata Ester yang dulu kerap mempertontonkan
kebolehannya menari ular di kampus ataupun acara di kampung.
Mereka menikah di GPIB Margamulya, Yogyakarta, 12 Mei 1989. Seminggu
setelah menikah, Ungke berangkat berlayar. Dia pulang setahun sekali
untuk menemui Ester yang bekerja di Jakarta. Merasa kurang pas
berkeluarga "jarak jauh", tahun 1992, Ungke mencari pekerjaan di
darat agar bisa terus bersama-sama Ester. Singkat cerita, Ungke yang
lahir 21 September 1961 ini diterima bekerja sebagai sopir di GBI
Bukit Kalvari yang digembalakan oleh Pdt. Ade Manuhutu, tempat ia
beribadah. Beberapa tahun kemudian, Ungke melanjutkan kuliah di STII
Jakarta. Kedua lingkungan baru itu semakin mendekatkan mereka pada Tuhan.
Menanti Buah Hati
Setelah melewati lima tahun usia pernikahan, Ester yang lahir pada
27 Oktober 1963 ini belum juga hamil. Seperti pasangan suami istri
lainnya, mereka mulai gelisah. Berbagai usaha pun dilakukan. Hasil
pemeriksaan dokter kandungan di YPK Theresia, Menteng Jakarta Pusat
menunjukkan ada penyumbatan di sisi kanan dan kiri rahim Ester.
Untuk membukanya, dokter melakukan tindakan "tiup".
Setelah sekian lama, usaha ini tak berhasil, Ester pun pindah kepada
dokter di Semarang. Namun karena tak sanggup untuk selalu
bolak-balik Jakarta-Semarang, pengobatan itu pun dihentikan. Bisa
dipahami, "bolak-balik" ke dokter bukan hal ringan -- memakan waktu,
tenaga, pikiran, dan biaya yang tak sedikit. Apa lagi tahun 1998,
krisis moneter menerpa Indonesia. Ester tidak lagi bekerja.
Tahun 1999, seorang dokter menganjurkan Ester untuk menjalani sebuah
operasi dengan perkiraan biaya sebesar Rp 5 juta. Sayangnya,
anjuran dokter itu tidak dapat mereka penuhi karena alasan biaya.
"Dari peristiwa ini, saya dan Ungke cuma bisa pasrah dan berserah
pada Tuhan. Hari-hari selanjutnya, kami berdoa agar semakin mengerti
kehendak Tuhan dalam pernikahan kami. Ketika saya berhenti bekerja,
saya mulai sibuk terlibat pelayanan bersama Ungke yang memang
melayani sepenuh waktu," kenang Ester.
Berkat di Tengah Badai
Lambat-laun mereka mulai "lupa" dengan pergumulan mereka. Dokter
kandungan pun sudah tidak lagi "ditengok". Mereka menyatukan hati
untuk memiliki pikiran bahwa apa pun yang terjadi, mereka harus
tetap bersyukur. Sedikit pun tidak tebersit niat untuk meninggalkan
Tuhan hanya karena keinginan dan harapan mereka belum terkabul.
Sebaliknya, mereka semakin giat melakukan pelayanan.
Tahun 2001, pasangan Ester dan Ungke yang tinggal di daerah
Jatibening, Bekasi ini merasakan dampak masalah "kertas uang" yang
menimpa Pdt. Ade Manuhutu. Peristiwa ini memang menjadi pemberitaan
di media massa Indonesia. Maklum saja, Ade mantan artis kondang dan
Ungke sering kali mendampingi pendetanya saat berurusan dengan pihak berwajib.
Hampir setiap malam, rumah mereka disatroni pria-pria "tidak jelas"
yang berbadan tegap dan berambut gondrong. Teror kata-kata kotor dan
kasar menghujani mereka lewat telepon rumah ataupun "handphone".
Mesin penjawab telepon mereka pun penuh dengan sumpah serapah.
"Bahkan banyak kata menghujat nama Yesus," kata Ungke.
Pernah suatu malam ketika "rombongan pria" itu kembali berkumpul di
depan rumahnya, Ungke tak tahan dengan ulah mereka. Darahnya
mendidih dan emosinya terbakar. Keberanian di masa silam kembali
menghentak, Ungke merasa ditantang. Ester ketakutan. Ia terus
merintih dalam doa. Ungke tak sabar, ia meraih pisau dan
bersiap-siap menghunjamkannya bila ada yang berani masuk. Laki-laki
asal Sangir Talaud itu pun meradang di pojok kamar mandi,
bersiap-siap menorehkan darah lewat tikaman pisau yang digenggamnya
dengan gemetar. Tiba-tiba ia mendengar suara lembut penuh cinta yang
ia yakini itu suara Tuhan, "Akulah Allah pembelamu." Ungke menangis,
mohon ampun atas cara yang hendak ia gunakan. "Kalau saja waktu itu
saya sampai melakukan kekerasan, saya ... kalah! Masak pendeta
hantam orang! Saya mungkin sudah tinggalkan pelayanan," ujar Ungke
dengan suara terbata-bata menahan tangis. Syukur pula seluruh
tetangga mengerti benar apa yang sedang dialami Ester dan Ungke.
Tidak ada yang terpancing untuk menanggapi kelompok orang yang telah
mengganggu kenyamanan di lingkungan itu.
Merasa tak nyaman karena bahaya mengancam, Ester dan Ungke
meninggalkan rumah dan "berkelana". Selain pergi ke rumah orang tua
Ester di Purwodadi, mereka mengambil waktu khusus untuk berdoa di
Bukit Doa Getsemani, Ungaran, Semarang. Mereka menemukan tempat
pelarian yang tepat. "Kami terus belajar mengerti maksud Tuhan lewat
peristiwa ini. Sempat terpikir dalam hati kami untuk meninggalkan
Jakarta dan memulai pelayanan baru di kota lain, Yogyakarta
misalnya. Ini kami sampaikan kepada Tuhan. Di bukit doa, kami banyak
merenungkan firman Tuhan yang menguatkan kami. Ada jaminan
pertolongan bagi yang berseru dan berharap kepada Tuhan," kisah
Ungke yang bersama Ester kerap doa-puasa di bukit doa itu.
Tantangan itu harus dihadapi bukan dihindari, kata Ade Manuhutu saat
bertemu mereka di Magelang. Pertemuan itu menguatkan mereka untuk
menghadapi masalah yang terjadi. Ester dan Ungke pun mengambil
keputusan: pulang ke Jakarta. Mereka kembali pada pelayanan yang
telah Tuhan percayakan. Lambat-laun, masalah menakutkan itu pun
selesai karena karya Tuhan.
Satu bulan setelah kembali ke Jakarta, Ester terkena demam hingga
badannya lemas tidak berdaya. Namun karena situasi belum juga baik,
mereka menginap di rumah saudara. "Tiba-tiba saya ingat, kok
pembalut saya utuh? Saya telat menstruasi. Lalu saya minta Ungke
beli alat tes kehamilan. Hasilnya, positif!"
Penantian Tiga Belas Tahun itu Akhirnya Terjawab
Tidak hanya pasangan Ester dan Ungke yang dengan penuh sukacita
menanti kelahiran anak mereka. Saudara, kerabat, dan tetangga mereka
ikut bahagia. Akhirnya, setelah tiga belas tahun menunggu, tanggal 7
November 2002, lewat operasi caesar, Ester di usia 39 tahun
melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Jevon Albert Dirk di RS
Mitra, Bekasi. "Uang yang kami siapkan tidak cukup untuk membayar
biaya rumah sakit. Namun, ternyata Tuhan sedang menunjukkan sesuatu:
bahwa pengharapan pada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Begitu
banyak orang yang digerakkan Tuhan untuk menolong kami. Dr. Ester
Situmeang yang menangani kelahiran Jevon membebaskan biaya jasa
dokter. Teman gereja, bahkan seseorang yang tidak seiman membantu
kami," kata Ungke. "Jevon, tambah Ester, "dalam bahasa Ibrani
berarti anugerah Allah yang paling indah."
Selagi usia Jevon belum genap setahun, Tuhan menambahkan kebahagiaan
mereka. Ester hamil lagi dan pada 25 Maret 2004, dia melahirkan bayi
perempuan, yang mereka beri nama Janet Abigail Dirk. Hampir sama
dengan Jevon, dalam bahasa Ibrani, Janet artinya pemberian Allah
yang paling indah. "Dulu kami berdoa, Tuhan beri kami satu anak saja
sudah cukup membuat kami bahagia, malah Tuhan beri lebih dari
permohonan kami. Berkat sepasang anak, lengkap sudah," kisah Ester.
Rumah itu kini tak lagi sepi. Gelak tawa Jevon dan tangis Janet
kadang terdengar bersama-sama memecah keheningan pagi, bahkan saat
malam telah larut. Boneka, bola, dan segudang mainan menghiasi
sudut-sudut ruangan. Nyanyian anak-anak dari mulut Ester dan Ungke
yang ditirukan Jevon terdengar menyentuh .... Betapa bahagia mereka ketika
Jevon
yang saat ini sedang belajar bicara bisa memanggil mereka, "Mama dan Papa."
Ya, percayalah mukjizat Allah masih berlangsung!
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Penantian Selama 13 Tahun Terjawab Sudah
Penulis : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI
Halaman : 1 -- 9
______________________________________________________________________
"Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu
yang mengerjakan semuanya dalam semua orang." (1Korintus 12:6)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Korintus+12:6 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Saat ini ada banyak anak Tuhan yang bergumul dalam banyak hal --
salah satunya pasutri yang merindukan kelahiran anak dalam
keluarga yang mereka bentuk. Berdoalah bagi masing-masing mereka
agar mensyukuri setiap jawaban Tuhan atas doa-doa yang dinaikkan,
dengan demikian mereka meninggikan Allah dan kehendak-Nya.
2. Mohonkanlah kesabaran dari-Nya dalam menantikan jawaban Tuhan,
terutama ketika Allah berkehendak untuk menjawab pergumulan kita
dalam kurun waktu yang cukup lama. Dan mintalah kepada-Nya agar
kita peka untuk setiap jawaban yang telah diberikan Tuhan, baik
itu jawabannya ya, tunggu, atau tidak.
3. Jika akhirnya pergumulan kita dijawab sesuai dengan apa yang kita
doakan, naikkanlah syukur dan bersaksilah karena melaluinya kita
dapat menguatkan anak-anak Tuhan lainnya yang saat ini sedang
dalam pergumulan. Sebaliknya, jika tidak terjawab sesuai
keinginan kita, tetaplah bersyukur karena Tuhan mengetahui yang
terbaik bagi hidup kita.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2007 YLSA
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati