From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 31 -- Bisu Tuli Tak Menyurutkan Niatku Menjadi Perancang Busana
PENGANTAR
Sering kali apa yang kita miliki saat ini tidak bisa membuat kita
bahagia. Padahal mungkin saja kita tidak memiliki kekurangan baik
dalam hal materi, fisik, ataupun kemampuan lainnya, sesuatu yang
seharusnya cukup membahagiakan dan membuat kita bersyukur dengan apa
yang sudah kita dimiliki. Apalagi kalau seandainya saat ini kita memiliki
keterbatasan
secara fisik. Tentu ada banyak masalah yang timbul karena hal tersebut.
Berikut ini kisah yang menceritakan seorang anak Tuhan yang dengan
percaya mengandalkan firman Tuhan sebagai kekuatan dan sumber
kebahagiaan di dalam hidupnya. Kiranya dapat menginspirasi Anda agar
hidup semakin dekat dengan Tuhan melalui firman-Nya.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
BISU TULI TAK MENYURUTKAN NIATKU MENJADI PERANCANG BUSANA
=========================================================
Saat masih kanak-kanak, Catherine Jahja (28) pernah bertanya pada
ibunya, "Kenapa saya berbeda?" Ia memang bisu dan tuli. Namun,
berkat pendampingan orang tuanya, ia berhasil menjadi perancang
busana. Perjalanan hidupnya penuh liku.
Lahir Tunarungu
Catherine Jahja, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan
Budiyanto Jahja dan Henny Theresia, lahir pada tanggal 11 Juni 1977
di RS St. Carolus Jakarta. Secara fisik, ia normal. Hanya saat itu,
ia harus digips karena bahu kanannya patah. Ini disebabkan saat
proses kelahirannya, kaki Henny sempat kram.
Saat Tintin, begitu ia biasa dipanggil, berumur enam bulan, ia mulai
memerlihatkan kelainan. "Ibu saya bilang ada yang tak beres tapi
tidak tahu apanya. Saya berkali-kali memainkan benda-benda di depan
matanya, selalu ada reaksi. Pandangan Tintin mengikuti ke arah benda
itu. Matanya bagus. Tiba-tiba saya terpikir bagaimana dengan
telinganya? Kemudian saya jatuhkan benda-benda di dekatnya termasuk
panci. Ia cuek saja, tidak kaget sama sekali. Penasaran, saya
jatuhkan benda-benda yang lebih besar, bunyinya sangat keras. Tintin
tak bereaksi, ia diam saja. Ah, jangan-jangan tuli, pikir saya dalam hati,"
tutur Henny.
Henny dan Budi langsung membawa Tintin ke dokter. Hasil pemeriksaan
dokter menjawab tanda tanya besar mereka. Setelah dites ternyata
Tintin memiliki pendengaran 40-60, jauh dari angka normal 70-80. Ia tunarungu.
Kesedihan yang mendalam memenuhi hati Henny dan Budi. Mereka terus
mencari penyembuhan bagi Tintin. Demi Tintin, anak yang sangat
dikasihinya, mereka bersedia melakukan apa saja untuk masa depannya.
Akhirnya, dokter menyarankan agar Tintin menjalani pengobatan di
Belanda, tapi keuangan tidak memungkinkan untuk itu.
Merasa Berbeda
Pernah satu kali Tintin bertanya kepada ibunya, "Mami kenapa saya
berbeda dari Cici dan Adik?" Pertanyaan yang menyentuh itu sempat
membuat Henny terdiam. Dengan penuh kasih, ia menjawab "Tin, kamu
memang berbeda dari kakak dan adikmu. Tapi kelahiranmu itu seizin Tuhan."
Henny dan Budi selalu berusaha membawa Tintin ke acara rohani. Satu
kali, saat "altar call" di acara KKR, pengkhotbah mengundang yang
sakit untuk didoakan. Budi dan Henny memberi isyarat Tintin untuk
maju. "Bukankah ada kuasa di dalam nama-Nya? Ah, siapa tahu malam
itu, Tuhan berkenan menyembuhkan hingga Tintin bisa mendengar."
"Saat Tintin maju untuk didoakan, pengkhotbah tersebut mengatakan
"Bapak anak ini maju!" Budi pun maju. Dengan lantang pengkhotbah itu
bertanya, "Dosa apa yang kamu lakukan sehingga anakmu seperti ini?"
kata Henny menirukan kata-kata pengkhotbah itu. Peristiwa itu
membuat hati Budi dan Henny hancur. Budi benar-benar "shock", bahkan
sampai berminggu-minggu kesedihan itu belum juga sirna.
Tintin seolah merasakan kepedihan yang dirasakan orang tuanya akibat
kata-kata yang diucapkan pengkhotbah itu. "Satu kali dia berkata
pada kami, 'Saya sayang papi dan mami, saya cinta Yesus'," tutur
Henny. Matanya basah mengenang peristiwa itu.
Dididik untuk Mandiri
Henny dan Budi sepakat untuk mendidik Tintin agar mandiri. Umur dua
tahun, Tintin dimasukkan ke "play group" bagi para tunarungu. Di
tempat itulah, ia menemukan teman-teman bermain yang sama dengan
dirinya, tidak dapat mendengar dan bicara. Kondisi Tintin membuat
Henny dan Budi mencari informasi sebanyak mungkin mengenai
tunarungu. Mereka pun belajar bahasa isyarat yang dipakai oleh
tunarungu di seluruh dunia. Dengan cara seperti ini, mereka lebih
bisa berkomunikasi dengan Tintin. Namun dalam keseharian, Henny dan
Budi lebih sering bicara dengan bahasa lisan. Karena tak bisa
mendengar, Tintin "membaca" gerakan bibir lawan bicaranya.
Umur lima tahun, setelah beberapa kali diantar sekolah oleh Henny,
Tintin minta berangkat sendiri padahal jarak antara rumah yang
terletak di Pasar Baru, Jakarta Pusat dengan SLB Santi Rama di
Cipete, Jakarta Selatan, cukup jauh. "Dia bilang kasihan saya yang
sering pusing setelah mengantar dia sekolah. Syukurlah, kondektur
bis patas dua belas waktu itu sangat sabar dan mengerti kondisi
Tintin. Saya antar dia sampai naik bis dan menitipkannya pada
kondektur. Dia sering digendong kalau mau turun bis. Kebetulan bis
lewat di depan sekolahnya. Jadi, biar jauh, enak, nggak repot," kenang Henny.
Menjadi Perancang Busana
Di sekolah Santi Rama tingkat kejuruan, Tintin belajar menyablon dan
menjahit. Ia tergolong murid yang pandai. Nilai rapornya bagus. Ia
selalu berada di rangking 1 atau 2. Minat pada desain pakaian
mengantarnya masuk ke Bunka School of Fashion International --
sekolah fashion bergengsi di Jakarta yang telah melahirkan banyak
desainer ternama. Keterbatasan tidak menghalangi untuk belajar dan
berkarier. "Pada awalnya, pihak Bunka keberatan. Mereka menyangsikan
kemampuan Tintin dalam menerima pelajaran. Tetapi saya katakan
kepada mereka untuk memberi kesempatan. Tintin bisa mengerti dari
gerakan bibir," ungkapnya. Sejak Desember 1999, Tintin bekerja
sebagai desainer di perusahaan konfeksi Indah Jaya, Jakarta.
Aktif Pelayanan
Salah satu penghiburan bagi Henny dan Budi adalah kemauan Tintin
membaca Alkitab. Sejak kecil, kalau tak mengerti, ia bertanya.
Tintin juga gemar berdoa sendirian di kamarnya. Orang tuanya memang
selalu menekankan bahwa hidup manusia milik Tuhan yang harus
dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Firman Tuhan yang selalu
dibaca ataupun yang diketahui lewat lingkungan keluarga tertanam dan tumbuh
di hati
Tintin. Ia percaya penuh bahwa hidup itu berarti. Tuhan selalu bersamanya.
Tintin sangat rajin mengikuti ibadah, terlebih ketika di gerejanya,
GBI Sungai Yordan membuka ibadah bagi tunarungu. Ia menjadi
pengurusnya. Salah satu yang membahagiakan Henny dan Budi adalah
ketika Tintin menjadi koordinator perwakilan Indonesia dalam Konferensi Misi
Kristen
Tunarungu Asia Pasifik ke-9, "Harvest Together in Love" di Bali.
Bertemu Pasangan Hidup
Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan anak-anaknya. Ibadah
tunarungu telah mempertemukan Tintin dengan Herman Handoyo, yang
bekerja di bagian desain grafis. Keduanya saling suka dan jatuh
cinta. Beberapa bulan pacaran, Herman pun melamar Tintin. Pada 8
Oktober 2005, mereka melangsungkan pernikahan. Janji pernikahan yang
agung itu diucapkan keduanya di hadapan Tuhan. Janji setia dalam
susah dan senang, sehat dan sakit, sampai maut memisahkan.
Air mata menitik dari banyak orang yang menyaksikan pernikahan itu.
Lebih-lebih Henny dan Budi, mereka berulang kali menyeka mata
mereka yang selalu basah. Mereka melepas masa lajang anak perempuan
tunarungu yang selama ini mereka kuatkan batinnya. Selain keluarga,
banyak sahabat kedua mempelai yang kebanyakan tunarungu ikut
menghadiri pernikahan mengharukan itu.
Hidup manusia, apa pun keadaannya, tetaplah berharga. Karena tak
akan pernah ada kelahiran tanpa seizin-Nya. Kata-kata yang ditulis
Tintin di bagian depan Alkitabnya, seakan mewakili jejak-jejak
imannya. "Dalam masa penuh tekanan dan kesusahan, bahkan dalam
kesenangan, Alkitab memberi padaku kekuatan lebih dari yang
kuharapkan. Setiap kali kubaca firman Tuhan, aku tidak pernah
menemui kegagalan dalam menerima cahaya pengertian. Setiap kali
kubaca tentang Yesus, hatiku dipenuhi kegirangan. Sebab suara-Nya
yang penuh kasih sayang terus saja kedengaran berkumandang."
"Saya sangat bahagia ...," kata Tintin.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Bisu Tuli Tak Menyurutkan Niatku Menjadi Perancang Busana
Penulis : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI, Yogyakarta
Halaman : 81 -- 89
______________________________________________________________________
"Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan,
dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN." (Amsal 16:20)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Amsal+16:20 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Banyak anak Tuhan yang terlahir dengan keterbatasan fisik. Mari
berdoa bagi mereka supaya dalam keterbatasan itu mereka tetap
senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena Dia akan senantiasa
memelihara dan menjadi kekuatan mereka.
2. Masalah yang dihadapi oleh penderita cacat sering kali timbul
karena terbatasnya kemampuan fisik mereka. Oleh karena itu,
doakan mereka supaya tidak rendah diri dan terluka hatinya, yang
mengakibatkan mereka patah semangat dan tidak mau berusaha lagi.
3. Apabila hal itu terjadi, mohonkanlah penghiburan dari-Nya, agar
sukacita dan damai sejahtera tinggal di dalam hati sehingga
ucapan syukur senantiasa ada dalam hidup mereka.
4. Berdoalah bagi orang-orang di sekitar mereka -- keluarga dan
teman-teman -- agar senantiasa memberikan semangat hidup dan
penghiburan bagi setiap mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
______________________________________________________________________
DARI REDAKSI
BULETIN DOA OPEN DOORS
Rindukah Anda berdoa bagi para pengikut Kristus di seluruh dunia
yang saat ini sedang mengalami kesulitan dan tekanan karena
memberitakan Injil atau yang sedang dianiaya karena memertahankan
iman mereka pada Yesus Kristus? Buletin Doa Open Doors, yang hadir
sebagai hasil kerja sama antara Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) dan
Yayasan Obor Damai Indonesia, ingin mendorong Anda terlibat dalam
pelayanan misi melalui doa-doa yang Anda naikkan setiap hari.
Daftarkan diri Anda untuk menjadi pelanggan sehingga Buletin doa
Open Doors ini dapat hadir ke mailbox Anda secara rutin setiap awal
bulan. Untuk berlangganan sangat mudah, silakan isi formulir di
bawah ini, potong, lalu kirimkan ke alamat:
==> < doa(at)sabda.org >
------------------------- potong di sini --------------------------
FORMULIR BULETIN DOA OPEN DOORS
Nama lengkap :
Alamat e-mail:
Umur :
Gereja :
Kantor kerja :
------------------------- potong di sini --------------------------
Kirim ke: ==> < doa(at)sabda.org >
Anda juga dapat mengajak teman atau gereja Anda untuk ikut berdoa,
silakan daftarkan mereka dengan menyalin formulir di atas dan mengisikan
informasi
tentang mereka, lalu kirimkan kepada kami ke alamat yang sama.
Informasi:
Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) ==> < http://www.sabda.org/ylsa >
Yayasan Obor Damai Indonesia (Open Doors International)
==> < http://www.opendoors.org/ >
ALAMAT KONTAK YANG BARU
Sebagai tindak lanjut pembenahan sistem e-mail pada Yayasan Lembaga
SABDA (YLSA), kami menginformasikan kepada para pelanggan sekalian
bahwa alamat kontak staf Kisah telah beralih dari: < staf-kisah(at)sabda.org
>
menjadi: < kisah(at)sabda.org >
Bagi para pelanggan yang hendak berkorespondensi, mohon menggunakan
alamat yang baru sebagaimana diumumkan di atas.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2007 YLSA
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Pipin Kuntami
Staf Redaksi : Puji, Raka, Yulia
Kontak : < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan : < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti : < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH : http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL : http://kekal.sabda.org/
______________________________________________________________________