From: raymond dan Pelayanan Jalan Sunyi, 1 jiwa hanya Rp 858.000
Pontianak, Borneo Senin, 13 November 2006, Waktu menunjukan pukul 2.30 pagi. Ibu saya sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan penerbangan dari Jakarta ke Pontianak. Saya pun harus segera bersiap siap walau mata saya masih sedikit ngantuk. Kali ini saya dan Ibu akan berangkat bersama, setelah sekian belas tahun saya tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Saya mengambil waktu sejenak untuk mulai berkomunikasi dengan Tuhan. Saya hanya berdoa, biar kuasa Roh Kudus yang bekerja menyertai saya dan Ibu. Maklum, saya tidak begitu menyukai suasana di Pontianak. ! Dan jikalau saya boleh diberi kesempatan pergi ke kalimantan, saya yakin itu semua Tuhan punya rencana. Kakek saya sakit keras, dan sudah bertahun tahun beliau sakit. Tapi dalam 3 hari belakangan ini, keadaannya makin menunjukan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Itu sebabnya, saudara kami yang disana menelpon seluruh saudara yang ada di Jakarta. Herannya, mereka tidak bisa pergi dengan kami dengan alasan yang macam-macam. Lalu saya mengambil inisiatif untuk berdoa dan bertanya pada Tuhan, apa maksud Tuhan melalui hal ini. Tiba tiba saya ingat perkataan dari Ibu saya dan saudara lainnya, mereka berkata bahwa kakek saya tidak punya agama sama sekali. Sembahyang leluhur tidak, apalagi ke gereja . itu berarti ada tugas dari Tuhan untuk menginjili kakek saya. Masalahnya, siapa yang Dia utus ? Dasar saya orang bodoh, saya tidak menangkap arti dari perkataan itu. Malah saya minta tanda dari Tuhan, jika memang Dia mau saya pergi, tolong beri saya mimpi tentang beliau. Saya minta 2 x, dan tidak dijawab Tuhan. Lalu saya menelpon sahabat saya, seorang pendoa syafaat untuk meminta pendapat-nya. Ketika sedang berbicara di telepon, Roh Kudus tiba tiba memberitahukan kepada sahabat saya tentang keadaan yang sebenarnya. Padahal saya belum cerita panjang lebar mengenai kakek saya. Dan sahabat saya berkata, bahwa saya harus pergi sendiri kesana untuk menginjili kakek saya. Padahal tadinya rencana saya adalah biar Ibu saya yang kesana sendirian, dan setibanya disana, biar Ibu saya yang mencari tahu disana tentang hamba Tuhan yang bisa diundang menginjili kakek saya. Ternyata jawaban saya sudah jelas, saya harus pergi kesana ! mau tidak mau, saya harus pergi. Setelah waktu menunjukan pukul 3 pagi, seseorang yang bertugas mengantar kami ke bandara menelpon ke rumah untuk memastikan apakah kami sudah siap atau belum. Setengah jam kemudian, kami dijemput dan menuju langsung ke bandara, setelah dengan mobil yang sama, sopir tersebut menjemput beberapa orang lagi di tempat lain. Kami tiba di bandara dan langsung menunggu didalam. Akhirnya pukul 5.30 pagi, kami memasuki pesawat yang kami tumpangi. Ada rasa was was juga bagi saya untuk naik pesawat. He he .. mohon dimaklumi saja, terakhir kali saya naik pesawat sekitar 20an tahun yang lalu. Tapi saya percaya, Tuhan menyertai kami. Pesawat kami mulai tinggal landas pukul 6 pagi. Beberapa menit kemudian, saya mulai melihat awan awan putih yang cerah di sebelah kanan kiri jendela pesawat. Yang membuat saya heran adalah, Tuhan itu begitu luar biasaNya menciptakan cakrawala yang saya lihat. Fenomena awan yang indah membuat saya mengagumi akan Dia. Saya berusaha memusatkan perhatian kepada apa yang saya harus kerjakan nanti setibanya disana. Ada kesulitan kecil yang pasti saya hadapi nanti. Yaitu bahasa. Kakek saya seorang keturunan yang fasih berbicara chinesse khe' dan tiaucu. Tentunya bahasa Indonesia pun beliau bisa. Masalahnya adalah, seringkali beliau menggunakan bahasa chinesse untuk berkomunikasi dengan anak dan cucunya. Padahal kemampuan saya untuk berbicara bahasa tersebut hanya sedikit. Ya, saya hanya minta hikmat dari Tuhan bagaimana saya harus menginjilinya nanti. Apalagi kepergian saya kali ini, didukung oleh beberapa sahabat pendoa dan hamba hamba Tuhan. Semua demi menyelamatkan 1 jiwa saja. Sejam perjalanan, akhirnya kami tiba di bandara Supadio, pontianak. Dan langsung meneruskan perjalanan ke rumah kakek dengan 2 buah sepeda motor, dimana saudara kami sudah menunggu kedatangan kami di bandara. Dua puluh menit perjalanan, kami tiba rumah kakek. Saya dan Ibu langsung menemui kakek dikamar nya. Ibu saya langsung menangis terharu melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan. Beliau lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi. Hanya terbaring lemah. Bahkan jikalau beliau buang air, tidak lagi dirasakannya. Seperti sudah mati rasa. Matanya sudah tidak bisa lagi melihat, tertutup rapat kedua kelopaknya. Daging di hidungpun sedikit "hilang" karena pilek yang tidak kunjung sembuh dan menjadi infeksi. Tapi dalam hal komunikasi, beliau masih baik. Saya mulai memanggil kakek saya, dan beliau masih mengenali saya. Ibu saya lalu memberitahukan kepada beliau, bahwa kedatangan saya hanya untuk mendoakan kakek dan menginjilinya. Lalu saya bertanya kepada kakek, apakah kakek mau didoakan ? beliau menjawab mau. Kemudian saya bertanya lagi, apakah mau menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi ? beliau dengan antusias menjawab mau. Tanpa buang waktu lagi, saya mulai mendoakan beliau. Bahkan sebelum itu, saya bertanya kembali lepada beliau, apakah kakek juga mau mengampuni orang yang pernah menyakiti kakek ? dengan jelas pula beliau menjawab mau. Jujur saja, saya tidak percaya dengan apa yang diucapkan kakek tadi. Dengan mudahnya beliau mau menerima Yesus . tapi saya yakin semua karena Roh Kudus ! Sejarah kakek saya adalah, dulu beliau bekerja sebagai calo membuatkan surat surat kepengurusan kewarganegaraan yang mau masuk WNI. Bertahun tahun lamanya, beliau mendapat uang "panas" dan karena sifat dan karakternya yang keras, emosi dan cenderung arogan, tidak heran banyak dari saudara, bahkan anaknya sendiri dan orang orang lain, tidak menyukai beliau. Ya, intinya adalah, beliau adalah orang yang tidak disukai banyak orang. Tidak heran, anak-anaknya yang di Jakarta, hanya berpesan kepada kami berdua ( saya dan Ibu ) jika keadaannya makin parah mungkin mereka ( anak anak kakek ) akan benar-benar pulang ke pontinak. Padahal sebelumnya sudah diberitahu, tapi entah kenapa mereka seperti itu mengulur waktu untuk datang. Singkat cerita, saya mulai membimbing kakek untuk berdoa dan mengakui dosanya dalam bahasa Indonesia. Beliau mau mengampuni orang yang pernah menyakitinya, dan mengaku Yesus sebagai Tuhan nya yang sekarang. Setelah itu saya mengoleskan minyak urapan dan berdoa untuk memateraikan Roh, Tubuh, Jiwanya untuk diserahkan didalam nama Yesus Kristus. Dan saat itu juga saya yakin, pekik sorak sorai malaikat di surga membuat surga bergetar !!! Puji Tuhan ! Lalu saya berusaha menguatkan beliau dengan berkata, Tuhan Yesus sayang dengan kakek. Apakah kakek senang mendengarnya ? beliau menjawab senang . dan saya ucapkan pernyataan ini berkali kali. Dan sesekali saya memegang tangannya. Saya yakin, disinilah titik awal jiwa jiwa dalam keluarga Ibu saya akan dimenangkan. Saya mulai juga mengucapkan janji Tuhan, 1 orang bertobat, seisi rumah akan diselamatkan. Dan saya ucapkan perkataan profetik, bahwa keselamatan 1 jiwa ini, akan menjadi terobosan . Puji Tuhan ! Siang harinya, saya meminta saudara saya untuk mengatarkan saya membeli tiket pesawat untuk pulang ke jakarta pada hari selasa besok. Saya tidak bisa terlalu lama karena harus kembali bekerja. Lagipula, saya hanya ingin mendoakan kakek doang. Dan rencananya, Ibu saya akan kembali ke Jakarta pada seminggu kemudian. Sekembalinya membeli tiket, sesekali saya berkomunikasi dengan kakek saya. Dalam 3 hari belakangan ini, beliau tidak bisa makan banyak. Hanya beberapa sendok saja. Bahkan sewaktu saya menyuapkan makanan, beliau cenderung ingin minum daripada makan. Waktu tak terasa menunjukan pukul 5 sore. Dan tiba tiba listrik padam. Terpaksa kami menggunakan lilin. Disini sangat biasa jika terjadi pemadaman listrik yang secara bergilir setiap harinya. Lalu Kami dan saudara yang lain menikmati makan malam kami. Entah kenapa, ada perasaan aneh, kenapa kakek saya tidak bersuara sepertinya ? padahal, tadi sewaktu listrik belum padam, kakek selalu mengeluh panas. Sekalipun sudah diberikan kipas angin . tapi kenapa kali ini tidak ada suara ? Akh saya berpikir, mungkin beliau sedang tidur. Tapi kecurigaan itu makin bertambah takala menantunya memberitahukan saya ada yang aneh pada kakek. Dengan sorot senter yang menyala kami berdua menyoroti kakek. Dan kakek dalam keadaan diam .. Saya tidak berani untuk menyentuhnya, kemudian saya memanggil saudara yang lain agar dia bisa menyentuh dan memanggil kakek. Ternyata kakek sudah berpulang .. Bersyukur ! itulah yang rasakan. Ternyata tidak terlambat bagi saya untuk datang jauh jauh untuk mendoakan beliau. Dan 1 jiwa ini akhirnya bisa diselamatkan ! Puji Tuhan ! .. Lalu saya memberitahukan kepada teman teman pendoa dan hamba hamba Tuhan yang sebelumnya mendukung saya dalam doa, mereka berkata bersyukurlah ! bahkan beberapa diantara mereka sudah mengetahui hal ini sebelum saya memberitahukan mereka. Saya yakin, Roh Kudus-lah yang memberitahukan mereka. Puji Tuhan !!! Mungkin inilah yang dinamakan pelayanan jalan sunyi. Dalam Alkitab ada tertulis tentang Filipus yang diutus ke sebuah tempat yang sunyi. Disana Roh Kudus memberitahukannya agar mendekati kereta yang ditumpangi oleh sida sida dari Etiopia dari Sri Kandake. Dan segera Filipus mendekati kereta itu dan menginjilinya bahkan membaptisnya. Puji Tuhan orang ini diselamatkan ! begitu juga kakek saya. Banyak diantara kita tidak menyadari akan pelayanan ini, termasuk saya yang "keukeuh" ( berketetapan ) meminta tanda mimpi dari Tuhan. Dan lagipula pelayanan jalan sunyi, tidak semua orang menyukai pelayanan ini. Karena terlalu sunyi . padahal dibalik itu, ada suatu rencana Surga yang indah lho !!! Padahal ada beberapa anak dari kakek saya, dan cucunya yang terlibat pelayanan di gereja yang bahkan tinggal serumah dengan kakek, tapi mereka entah kenapa tidak pernah mendoakan kakek apalagi membimbingnya menerima Yesus. Itu saya bisa maklumi, karena saya pada awalnya juga canggung berdoa bagi saudara bahkan papa saya sendiri ( yang akhirnya menerima Yesus juga sebelum berpulang ). Demi menyelamatkan satu jiwa ini, yang saya harus bayar hanya tiket pergi, Rp 420.000 dan tiket pulang jakarta ( diundur menjadi Sabtu ini, dengan konsekwensi membayar denda karena memundurkan jadwal dari sebelumnya, yaitu Selasa kemarin ) sebesar Rp 438.000 = total Rp 858.000,- murah bukan ? Jika kita bandingkan iklan master card yang mengusung slogan PRICELESS, saya rasa slogan tersebut hanya pantas dipasang pada 1 jiwa ini. Karena tidak ada satu ukuranpun yang sanggup menggambarkan betapa berharganya 1 jiwa di mata Tuhan. Firman Tuhan dengan jelas berkata, 1 jiwa jauh lebih berharga dari seisi dunia ini. Saya bersyukur kepada Bapa, Yesus dan Roh Kudus serta dukungan doa dari sahabat sahabat dan hamba Tuhan yang mendukung saya. Juga kalian yang berkesempatan membaca tulisan saya ini. Biar kita makin mengerti, bahwa akhir jaman ini, kedatangan Tuhan Yesus sudah semakin singkat. Sudahkah kita mau berkorban dan rela membayar harga menyelamatkan jiwa jiwa yang belum mengenal Tuhan dalam keluarga kita sendiri ? bukankah Yesus mengutus kita ke ujung bumi dimulai dari Yerusalem terlebih dahulu ? Yerusalem yang adalam arti kata rohani adalah keluarga kita sendiri. Maukah kita bayar harganya demi jiwa jiwa dalam keluarga kita ? =============================================== From: raymond dan Call Service 24 Jam lho...... Jam 10 malam tepatnya, saya di telepon oleh saudara sepupu saya. Ternyata komputernya bermasalah, dan ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyelesaikan masalahnya. Dengan insting yang bergerak cepat, ia menelpon saya dan menceritakan segala problem yang menimpa komputernya. Lalu apa yang bisa saya perbuat ? Tidak ada !! Kenapa saya tidak bisa berbuat apa apa ? karena saya bukan teknisi. Saya ini bekerja sebagai tenaga pemasaran. Yang bisa saya lakukan adalah mendengarkan segala keluhan-nya. Beberapa tahun kemudian, di jam yang sama, jam 10 malam, telepon rumah saya pun berdering. Kali ini telepon datang dari saudara jauh. Ternyata dia juga menghadapi masalah pada komputernya. Yang ujung ujung-nya saya juga yang dicari. Yang pasti ini terjadi bukan sekali dua kali, tetapi sudah sering. Bukan hanya dari saudara, tapi juga dari teman teman. Itu sebabnya saya mulai membatasi diri untuk tidak mau menjual computer kepada orang orang dekat. Dan saya dengan halus menolak untuk tidak menjual kepada mereka. Bukan karena saya sombong, masalahnya saya berada dalam posisi yang sulit. Saya pun manusia normal yang mempunyai kehidupan lain. Tapi seringkali mereka tidak berpikir seperti itu. Bagi mereka yang penting adalah komputernya tidak ada lagi masalah. Hal ini membuat saya merenungkan kejadian tersebut akan Bapa di surga. Saya sempat berpikir, bagaimana ya kehidupan di surga ? yang pasti, 24 jam di bumi, belum tentu 24 jam di surga. Dan Bapa kita adalah Bapa yang baik. Tangan-Nya selalu terbuka kepada kita senantiasa. Dia memberikan jaminan garansi 24 jam non stop, 7 hari seminggu, 365 hari pertahun, tanpa libur. Kapan saja kita membutuhkan kasih-Nya dan pertolongan-Nya, tidak usah kita buang pulsa dengan mengirim sms, atau mencari wartel dikala pulsa habis untuk menelpon Dia, tapi cukup dengan mata terpejam dan memanggil namaNya yang ajaib. Maka Ia akan menjawab kita. Luar biasa Bapa kita itu .. Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya. Mazmur 4:3 Kita adalah orang orang pilihan. Dan bukan kita yang memilih Dia, tapi Dia yang memilih kita. Kita mempunyai akses yang mudah, semudah kita membalikan telapak tangan dan cepat, secepat akses via satelit untuk bertemu, bercakap cakap, berkeluh kesah, meminta bahkan bersenda gurau dengan-Nya. Beritahukanlah hal ini kepada yang lain, bahwa garansi abadi dari Bapa adalah garansi yang terbaik. Dan asuransi-Nya adalah asuransi hidup kekal. Itu sebab-Nya pelayanan yang disediakanpun tidak tanggung tanggung. Yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari pertahun. Dijamin tidak bakal dijawab dengan voice mail apalagi telkom memo.

