From: Herlianto 

INJIL THOMAS

Pada tahun 1945-1946 di Nag Hammadi sebuah kota di Mesir bagian atas di tepi 
Barat sungai Nil dalam penggalian ditemukan perpustakaan kuno Gnostik Koptik. 
Dalam perpustakaan itu dijumpai banyak sekali manuskrip tua dan naskah-naskah 
kuno yang ditulis diatas papirus dan dijilid dengan sampul kulit. Yang terkenal 
dari penemuan itu adalah 'Injil Thomas' yang ditemukan dalam versi terjemahan 
Yunani yang berserakan, dan terjemahan Koptik yang bernafaskan Gnostik yang 
berisi kumpulan 114 logion atau 'ucapan-ucapan rahasia dan perumpamaan yang 
dianggap sebagai ucapan Yesus'. Setengah dari isi Injil Thomas ada dalam 
ke-empat Injil dan setengah lainnya baru.
Adalah Hippolytus yang pertama menyebutkan adanya Injil ini yang dipergunakan 
oleh kelompok Naasens yang mempercayai adanya 'sifat alami 'gnosis' dalam diri 
manusia'. Origen juga menyebut adanya Injil dengan nama ini, sedangkan Eusibius 
menyebutnya bersama dengan Injil Petrus sebagai palsu.

Yang menjadi masalah sekarang adalah apakah 'ucapan-ucapan' baru dalam Injil 
Thomas itu merupakan hasil gereja atau memang adalah 'ucapan asli' dari Yesus 
sendiri mengingat bahwa Injil Thomas diperkirakan lebih tua dari ke empat Injil 
oleh sebagian ahli yaitu ditulis pada abad II. Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 
karena dalam Injil Thomas ada kalimat-kalimat pendek dan kurang adanya 
pandangan gereja, maka dianggap Injil Thomas cukup tua sebelum gereja 
terbentuk, jadi lebih dekat pada sumber oralnya, jadi kemungkinannya lebih 
benar. 
Demikian juga Crossan berpendapat bahwa Ketiga Injil sudah memalsukan kata-kata 
ucapan Yesus.  Dan Yesus dalam ketiga Injil merupakan tafsiran tentang Yesus 
dari kacamata Yahudi. Yesus yang asli justru yang bersifat non-yahudi dan 
bersifat kafir. Ini sesuai dengan gerakan dunia kafir masa itu. John Dominic 
Crossan dan Jesus Seminar kemudian menyimpulkan bahwa Injil Thomas ditulis 
sekitar tahun 50 setidaknya 20 tahun sebelum  Injil Markus yang dianggap naskah 
tertua selama ini. Maka Injil Thomas adalah yang asli dan dianggap 'Injil 
ke-lima.' 

Bila selama ini Injil Markus dianggap yang paling tua dan menjadi sumber 
penulisan Injil Matius dan Lukas, maka sekarang mereka memastikan bahwa 'Injil 
Thomas' lebih dekat dengan masa hidup Yesus sendiri yang tentunya akan lebih 
asli. Itulah yang disimpulkan Jesus Seminar. Berdasarkan kesimpulan itulah maka 
Jesus Seminar mencoba untuk menyusun gambaran mengenai Yesus Sejarah, yang 
tentu saja berbeda dengan apa yang diajarkan dan disembah gereja selama ini.
Jesus Seminar menganggap bahwa Injil Thomas adalah produk yang lebih tua dari 
ke-empat Injil sehingga tentu lebih akurat karena lebih dekat dengan hidup 
Yesus. Hal lain yang dikemukakan adalah bahwa ucapan-ucapan Yesus dalam Injil 
Thomas lebih pendek dan sederhana sehingga tentunya lebih asli di banding 
ke-empat Injil lainnya yang berbentuk cerita (narasi) yang sudah dikembangkan 
oleh para penulisnya.
Disebutkan pula bahwa Injil Thomas hanya memuat kemanusiaan Yesus (low 
Christology) dan tidak memuat ketuhanan Yesus (high Christology) yang dianggap 
produk Yesus iman yang berkembang sebagai pandangan gereja dan kemudian ditulis 
dalam Injil Kanonik. Argumentasi ini kelihatannya masuk akal, tapi kita harus 
sadar bahwa sekalipun Injil Kanonik ditulis beberapa puluh tahun setelah Yesus 
hidup, surat-surat Paulus ditulis lebih pagi dan dekat dengan perkiraan tahun 
50 ditulisnya Injil Thomas, dan surat-surat Paulus sudah memuat kristologi 
tinggi! 

Argumentasi demikian memang menarik, tetapi perlu disadari bahwa tulisan pendek 
tidak selalu penunjukkan lebih tua dan asli sebab di banyak bagian lain dalam 
kitab-kitab Injil juga banyak bagian yang lebih pendek dari ungkapan dalam 
Injil Thomas. Kenyataan yang terlihat dalam isinya adalah bahwa Injil Thomas 
adalah produk Gnostik, suatu aliran sempalan yang berkembang pada abad II s/d 
III yang mengjarkan jalan keselamatan yang berlawanan dengan yang diberitakan 
Injil. Injil Thomas ditemukan dalam pustaka Gnostik lainnya di Nag Hammadi, 
Mesir. Apakah Faham Gnostik itu?

Stephan A. Hoeller, direktur studi Gnostic Society, menyebut mengenai gnostik 
sbb.:
"Gnosis dalam bahasa yunani adalah pengetahuan. ... Gnostik adalah usaha 
pencarian seseorang akan keselamatan melalui pengetahuan, pengetahuan yang 
diperoleh melalui pengalaman langsung". 

Bentley Layton, pakar Gnostik, menyebut Gnostik sebagai:
"Memimpin kepada pengetahuan ... atau ... mampu mencapai pengetahuan".
Mengenai faham Gnostik Kristen, Graham Stanton dalam tulisannya berjudul 
'Gospel Truth?' mengemukakan bahwa pandangan Gnostik Kristen mempercayai:
"dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan 
yang berbalik dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik Kristen 
menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai 
percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk 
mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. 
Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka 
dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang 
benar".

Dari terang faham gnostik jelas letak ikatan Yesus dengan sejarah abad pertama 
dan kematian dan kebangkitannya tidak mempunyai arti sama sekali. Sekalipun 
Injil Thomas tidak secara explisit mengajarkan faham Gnostik, tetapi para ahli 
umumnya sepakat bahwa Injil Thomas bernafas Gnostik. Bentley Layton, ahli karya 
Gnostik mengemukakan bahwa nafas Injil Thomas mirip dengan buku Gnostik lain 
yaitu 'Hymn of The Pearl' dari sekolah Thomas yang sama yang lebih explisit 
mengungkapkan nafas Gnostik, sehingga bagi mereka yang telah membaca buku ini, 
dengan mudah ia akan dapat mencerna nafas Gnostik dalam Injil Thomas.
Dalam awal dan akhir Kitab-Kitab Injil identitas penulis terlihat jelas, 
demikian juga dalam Injil Thomas awal dan akhir ucapan dan identitasnya 
sebenarnya menunjukkan dengan jelas faham Gnostik.

Sebagai contoh:
"Ini adalah ucapan-ucapan rahasia yang disampaikan Yesus yang hidup dan ditulis 
Didymus Judas Thomas. Dan ia berkata: 'Siapa menemukan arti ucapan-ucapan ini 
tidak akan merasakan mati'." (Logion 1)
Ucapan mengenai 'Yesus yang hidup', bagi pengikut Thomas adalah lambang 
isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut Gnostik 
sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Di 
bagian penutup, kata Thomas: 
"Simon Petrus berkata kepada mereka, "Maria harus meninggalkan kita, karena 
wanita tidak layak akan kehidupan." Yesus berkata: 'Lihat, aku akan menariknya 
menjadi pria sehingga ia bisa ikut menjadi roh hidup yang serupa kaum pria. 
Karena setiap wanita yang menjadikan dirinya pria akan masuk dalam kerajaan 
Tuhan'." (Logion 114)
Ayat demikian jelas menggambarkan nafas Gnostik, dimana memang wanita dianggap 
lebih terpenjara jiwanya dan lebih rendah dari pria dan untuk menuju 
keselamatan harus mengalami perubahan dari tubuh jasmani ke mahluk rohani yang 
lebih tinggi derajatnya. Ayat berikut memberikan gambaran perbedaan Gnostik 
Kristen dengan Kristen Alkitabiah.            
"Murid-muridnya mengatakan kepadanya: '24 nabi telah berbicara kepada Israel, 
dan semuanya berkata tentang engkau.' Ia mengatakan kepada mereka: 'Kamu telah 
mengorbankan satu yang hidup dan kamu mengatakan tentang mereka yang telah 
mati'." (Logion 52)

Kunci ayat di atas adalah angka 24. Dalam tradisi Yahudi Tenakh disebut terdiri 
24 buku. Dari terang itu ayat di atas justru terlihat bersifat menolak 
'kekristenan yang  menganggap Yesus sebagai penggenap PL.' Penolakan akan 
Alkitab Yahudi ini jelas mewarisi Marcion yang ditolak ajarannya yang dianggap 
menyesatkan pada tahun tahun 144. Sekalipun Marcion bukan pengikut Gnostik, 
tetapi seperti para pengikut Gnostik, Tuhan Yesus dianggap bukan Tuhan pencipta 
dalam Alkitab.
Sekarang bila nafas Gnostik kita hilangkan, dapatkah ditemukan 'Injil Thomas' 
yang asli? Dari ayat-ayat Injil Thomas yang parallel dengan Kitab-Kitab Injil 
diketahui bahwa banyak di antaranya yang lebih pendek, ini disimpulkan oleh 
Jesus Seminar bahwa naskah itu mestinya lebih tua dari Injil kanonik. Lebih 
pendek tidak selalu harus berarti lebih tua, sebab sekalipun Injil Markus 
dianggap tertua dan menjadi sumber Injil Matius, banyak ayat-ayat parallel 
dalam Injil Matius yang lebih pendek dari yang ada di Injil Markus. Kemungkinan 
Injil Thomas juga mengutip dari ke-4 kitab Injil dan menyingkatnya. Perumpamaan 
'Domba yang Hilang'  (logion 107) lebih pendek dibandingkan Matius 18:12-14 dan 
Lukas 15:3-7, dan dilepaskan dari semua konteksnya dan didahului kata 'Yesus 
berkata ...'. Tidak ada petunjuk dalam Injil Thomas mengenai artinya. Pada 
pandangan pertama ayat-ayat dalam Thomas itu seakan-akan tidak ada hubungannya 
dengan Matius dan Lukas dan dianggap menunjukkan kata-kata Yesus yang asli. 

Namun, keadaannya tidak sesederhana itu. Dalam Thomas, kata-kata pembuka dalam 
perumpamaan itu  menyamakan 'kerajaan' dengan gembala yang kehilangan satu dari 
seratus dombanya. Kerajaan adalah dunia para pengikut Gnostik dimana salah 
satunya hilang. Gembala mencarinya bukan karena hilang tetapi karena domba itu 
'besar'. Motivasi yang sama bisa dilihat di banyak bagian Injil Thomas seperti: 
"Nelayan yang bijak memilih ikan besar dari tangkapannya." (logion 8)
"Biji sesawi menghasilkan tanaman besar ." (logion 20)
"Wanita membuat roti yang besar dari ragi." (logion 96)
Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai umat pilihan, minoritas elit, 
bahkan ada ayat berbunyi: 
"Yesus berkata: 'Diberkatilah mereka yang tersendiri dan superior, karena kamu 
akan menemukan kerajaan; sebab kamu berasal dari situ dan kamu akan kembali ke 
situ'." (logion 49)

Dalam versi Thomas mengenai perumpamaan Domba Yang Hilang, domba yang besar 
mewakili pengikut Gnostik yang tersesat dari kerajaan dimana ia berasal. Agar 
perumpamaan ini menjadi ajaran Gnostik, kemungkinan Thomas mengutipnya dari 
Matius atau Lukas, menyingkatnya, dan melepaskannya dari konteksnya semula.
Mereka yang membela ketidak bergantungan Thomas mengemukakan bahwa dalam Thomas 
hampir tidak ada urutan ucapan Yesus seperti dalam Injil Sinoptik, jadi Thomas 
tidak memotong-motong ucapan Yesus yang ada dalam Injil sinoptik. Argumentasi 
demikian cukup kuat kalau memang tidak ada urutan dalam Injil Thomas. Bila ada 
tanda-tanda pengelompokan ucapan-ucapan sesuai kata kunci atau tema, maka 
Thomas mestinya mempunyai motivasi untuk menghilangkan urutan ucapan-ucapan 
dalam Injil kanonik. Faktanya ada juga hubungan antara ucapan-ucapan itu dalam 
Thomas. Dan dibeberapa tempat disusun berdasarkan suatu logika sesuai pola 
pikir Gnostik. Christopher Tuckett mengemukakan hal penting yaitu karena jelas 
bahwa Thomas telah merevisi banyak ucapan Yesus tentunya urutannya juga bisa 
diubah secara radikal.

Sekarang yang perlu diamati adalah apakah ada jejak usaha Thomas dalam 
membentuk dan meredaksi tulisannya itu. Bila ada, kelihatannya Thomas mengambil 
bahan-bahan dari Keempat Injil dalam bentuknya yang akhir dan bukan dari 
tradisi lisan. Ada petunjuk dalam Injil Thomas ke arah itu.
Para pendukung Injil Thomas menganggap bahwa petunjuk terakhir ini sedikit 
jumlahnya dan memperkirakan petunjuk itu adalah tambahan kemudian yang 
dimasukkan ke Injil Thomas. Mereka mengatakan bahwa versi asli dari Thomas 
dalam bahasa yunani mengutip langsung ucapan Yesus, dan baru pada proses 
penerjemahan ke bahasa Koptik maka beberapa petunjuk keempat Injil masuk. 
Kelihatannya argumentasi ini meyakinkan, tetapi kita harus sadar bahwa petunjuk 
itu cukup banyak sehingga mustahil hanya merupakan masukan kemudian tanpa 
disengaja. Sebagai contoh ada ayat yang berbunyi:
"Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dibukakan." (logion 5)
Ucapan ini terdapat dalam versi yunaninya yang diberi kode PQxy 1, yang mirip 
dengan perubahan ucapan yang dilakukan dari Markus 4:22 ke Lukas 8:17. 
Kelihatannya Thomas mengambil dari bahan Lukas sebelum diterjemahkan ke bahasa 
Koptik. Petunjuk kuat lainnya adalah bahwa ucapan-ucapan Yesus dalam Injil 
Thomas dapat ditemui pada keempat Injil, dan juga pada tradisi 'Q', 'M' dan 
'L'. Ini memberi petunjuk bahwa sekalipun mungkin Thomas mengambil dari 
beberapa tradisi oral, tetapi tradisi itu sendiri bersumber pada ke-empat Injil 
juga. Mungkin sekali bahwa Thomas mengutip dari harmoni keempat Injil yang awal 
sebelum Tatian sesudah tahun AD-150 menyusun harmoni keempat Injil. Jadi 
kemungkinan besar Injil Thomas disusun ber-dasarkan keempat Injil dan tradisi 
lisan yang tetap beredar sekalipun keempat Injil sudah tersusun.

Injil Thomas tidak membuka jalan baru kearah penyelidikan Yesus Sejarah, sebab 
yang ditemukan adalah copy dari terjemahan koptik yang berasal dari tahun 350M. 
Dan, karena ada perbedaan-perbedaan penggunaan kata-kata dan urutan dari versi 
yunani dan koptiknya, text Thomas tidak terlalu tepat. Versi awal dalam bahasa 
Yunani kelihatannya disusun sebelum akhir abad ke-II, sedang versi koptik sudah 
jelas merupakan tulisan Gnostik abad IV. Adalah mustahil menghilangkan 
ke-gnostikannya untuk memperoleh yang asli, karena itu tidaklah tepat 
menjadikan Injil Thomas sebagai dasar merekonstruksi  ajaran Yesus.
Sekitar setengah dari isi Injil Thomas tidak memiliki acuan parallel dengan 
keempat Injil, berapa di antaranya yang berasal dari masa Yesus? Memang, Jesus 
Seminar berusaha untuk menempatkannya dekat dengan hidup Yesus, tetapi faktanya 
dari yang setengah itu, hanya ada 2 logion saja yang oleh mereka bisa dianggap 
asli sebagai ucapan Yesus (warna merah), yaitu:
"Ini seperti biji sesawi, yang paling kecil dari semua biji, tetapi bila ia 
jatuh ke tanah yang baik, ia akan menghasilkan tanaman besar dan menjadi tempat 
berteduh bagi burung di udara." (logion 20)
"Berikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar, berikan kepada Tuhan apa 
yang menjadi milik Tuhan." (logion 100)

Lalu bagaimana dengan sekitar setengah lainnya yang dapat ditemukan di ke-empat 
Injil? Apakah versi Thomas lebih asli? Rekonstruksi dari salinan yunani 
non-Gnostik tidaklah mudah sekalipun kita hidup seratus tahun sesudah masa 
hidup Yesus.
Dalam usaha penyelidikan akan kebenaran sejarah, memang yang disebut Injil 
Thomas tidak boleh diabaikan, tetapi rintangannya lebih berat daripada dalam 
penyelidikan keempat Injil yang lebih banyak salinan-salinannya, karena itu 
menyebut kitab Injil Thomas sebagai 'Injil Ke Lima' (yang kanonik) adalah jelas 
menyesatkan.
Dari beberapa perbincangan sekitar Jesus Seminar dan Injil Thomas di atas kita 
dapat melihat bahwa apa yang dihasilkan oleh Jesus Seminar terutama yang 
dihubungkan dengan Injil Thomas merupakan rekaan yang belum terbukti 
kebenarannya, karena itu menjadikan kitab Thomas sebagai Injil yang setara 
dengan ke-empat Injil lainnya atau bahkan menjadikannya sebagai Injil ke-Lima 
sudah jelas tidak perlu dipercaya. Lebih lagi, menganggap Injil Thomas sebagai 
Injil yang lebih asli, dan seperti kata Crossan bahwa keempat Injil lainnya 
sebagai tidak asli, justru menunjukkan dengan jelas kemana arah misi Jesus 
Seminar. 

Lebih lagi, hasil voting Jesus Seminar sendiri menyebutkan bahwa dalam Injil 
Thomas hanya ada 2 ayat dari 114 fasal yang dianggap ucapan Yesus yang asli. 
Dan menarik mendengarkan komentar seorang fellow Jesus Seminar sendiri yang 
juga pakar dan redaktor naskah gnostik Pustaka Nag Hamadi, James M. Robinson, 
yang terus terang menyatakan bahwa semula Injil Thomas sebenarnya merupakan 
kumpulan kata-kata bijak namun dalam perumusan kanon Alkitab dikemudian hari, 
tulisan itu diberi nama Injil agar diterima dalam kanon, namun karena sifatnya 
yang gnostik para bapak gereja menolaknya sebagai Injil.

Teori-teori konspirasi beberapa Ahli Perjanjian Baru yang kecil jumlahnya tidak 
perlu membuat kita ragu, lebih-lebih jauh lebih besar jumlahnya Ahli Perjanjian 
Baru yang menganggap ke-empat Injil Kanonik sebagai yang asli dan memandang 
Injil Thomas hanya sebagai produk pengikut Gnostik abad II dan juga bukan 
ditulis oleh Thomas rasul Yesus. 

Salam kasih dari Herlianto www.yabina.org
=========================================
From: Jeffrey Lim 

Merenungkan kematian
Jeffrey Lim

"Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian 
lebih baik dari pada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada 
pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; 
hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada 
tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di 
rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." ( 
Pengkotbah 7:1-4)
 
            Biasanya kita senang kepada hal-hal yang gembira dan tidak senang 
kepada hal-hal yang menyedihkan. Kita biasanya menganggap bahwa hal-hal yang 
gembira itu menyenangkan dan baik, sedangkan hal-hal yang menyedihkan adalah 
adalah hal yang tidak enak dan tidak baik. Ini kebanyakan paradigma manusia. 
Bahkan kematian bagi orang dunia pada umumnya adalah sesuatu yang tidak 
menyenangkan. Kematian adalah akhir hidup. Kematian adalah akhir dari 
eksistensi manusia. Kematian juga begitu mengerikan bagi banyak orang karena 
hal ini adalah sesuatu asing dan mengerikan. Manusia modern yang begitu 
membanggakan dirinya yang bisa menguasai alam semesta ini namun pada akhirnya 
akan menjadi debu dan debu kembali kepada alam. Akhirnya manusia ditaklukan 
oleh alam. Kematian adalah sesuatu yang mengenaskan.
            Namun Pengkotbah mempunyai pandangan yang lain mengenai kematian. 
Pengkotbah mempunyai pandangan bahwa kematian adalah sesuatu yang positif. 
Bahkan di dalam pengajaran pasal 7 ini diajarkan pengertian-pengertian yang 
berkaitan dengan kematian. Dari sini kita bisa mengerti arti hidup lebih dalam. 
Marilah kita merenungkan ayat-ayat ini yang berkaitan dengan kematian dan arti 
hidup

Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal
Apa artinya sebuah nama ? Ini patut kita renungkan ! Ada beberapa orang yang 
berpandangan bahwa nama adalah sesuatu yang biasa aja. Nama bukan sesuatu yang 
penting. Yang penting adalah kenikmatan dunia. Yang penting adalah kekayaan. 
Namun Alkitab berbicara mengenai pentingnya sebuah nama. Bahkan nama itu lebih 
berharga daripada kekayaan dunia. Amsal mengatakan bahwa "Nama baik lebih 
berharga dari pada kekayaan besar". (Amsal 22:1).
Di dalam akhir hidup seseorang, kita dapat mengetahui siapakah seseorang itu. 
Di  akhir hidup seseorang, bila tidak ada yang mengunjungi dan semua mengutuk 
orang itu maka itu menandakan bahwa di dalam hidupnya orang itu tidak baik. 
Tetapi seorang yang banyak menabur berkat di akhir hidupnya banyak orang yang 
bersimpati. 
Ini membuat kita harus merenung ! Ingin menjadi seperti orang macam apakah kita 
? Apakah kita ingin menjadi seorang yang di dalam hidup menjadi berkat bagi 
sesama dan mempunyai nama yang harum pada akhir hidup kita ? 
Ini juga mem! buat kita harus merenung ! Bagaimana saya harus hidup supaya 
hidup saya berarti bagi Tuhan dan bagi sesama. Apa yang harus saya tabur supaya 
menuai yang baik ?
 
Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran 
Ayat ini cukup aneh bagi pandangan dunia modern dan pandangan umum di dalam 
dunia dimana kita hidup. Pada umumnya manusia menyukai kelahiran daripada 
kematian. Kelahiran itu sesuatu yang menyenangkan dan melihat bayi kecil adalah 
sesuatu yang menyukakan. Kelahiran adalah sesuatu yang baik. Namun tidak 
demikian dengan kematian. Kematian adalah sesuatu yang menandakan hidup ini 
fana. Kematian adalah sesuatu yang menandakan bahwa hidup ini sementara. 
Kematian adalah sesuatu yang menandakan hidup ini terbatas. Maka pada umumnya 
orang tidak menyukai kematian. Namun Pengkotbah mengatakan bahwa hari kematian 
lebih baik daripada hari kelahiran. Mengapa bisa begini ?
Rahasia besar ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang percaya kepada Tuhan. 
Memang kita tahu bahwa kematian adalah satu akibat dari dosa. Kematian adalah 
sesuatu yang membawa kita kepada akhir di dalam hidup di dunia. Tetapi ini 
bukan berarti kematian itu sesuatu yang mengerikan. Ini bukan berarti kematian 
ini suatu yang asing. Bagi orang percaya kematian adalah sesuatu yang indah. 
Mengapa ?
Sebab : pertama, kita akan kembali kepada Tuhan yang mengasihi kita. Kita akan 
berjumpa dengan Dia. Kita akan bersekutu dengan sumber hidup dan sumber bahagia 
untuk selama-lamanya. Kedua, kita akan mengakhiri hidup yang penuh dengan air 
mata ini. Kita akan masuk ke dalam hidup yang kekal. Kita akan hidup 
selama-lamanya dengan Tuhan Tuhan.
Karena itu kematian adalah sesuatu yang bukan negatif sebaliknya positif. 
Bahkan Paulus mengatakan bahwa mati adalah keuntungan. "Karena bagiku hidup 
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." ( Fil 1:21). Pintu maut yang 
membawa manusia kepada neraka diubah Tuhan dengan karya Kristus menjadi pintu 
kepada hidup yang kekal. Jadi mati adalah keuntungan. Dan bagi orang percaya 
kematian adalah bukan hal yang menyedihkan tanpa harapan. Tetapi ada 
pengharapan hidup yang kekal di dalam kematian.
!  
Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah 
dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. 
Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. 
Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada 
di rumah tempat bersukaria
Ayat yang kita akan bahas terakhir ini seharusnya membuat kita merenung. Kalau 
kita mengerti bahwa kitab Pengkotbah adalah termasuk kitab hikmat bangsa 
Ibrani. Kitab ini mengajarkan bagaimana petuah-petuah untuk hidup berhikmat. 
Dan kita melihat bahwa ayat ini dikatakan bahwa orang berhikmat senang berada 
di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria. 
Bukankah ini sesuatu yang aneh dan radikal ? Bagaimana orang yang berhikmat 
suka tempat rumah duka daripada menikmati hidup ? Bahkan Pengkotbah memberikan 
nasihat perbandingan bahwa lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke rumah 
pesta.
Ibaratnya kita ambil contoh. Lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke pesta 
pernikahan. Bukankah manusia pada umumnya lebih menyukai pesta pernikahan ? 
Bukankah disana lebih menyenagkan ? Mengapa lebih baik pergi ke rumah duka ?
Satu hal yaitu Pengkotbah ingin mengajak kita berpikir dan merenung bahwa 
ketika kita sedang berada di dalam keadaan suka biasanya kita tidak memikirkan 
arti hidup. Biasanya di dalam keadaan senang dan suka, kita cenderung melupakan 
makna hidup yang dalam. 
Mari kita sedikit merenungkan satu realita di dalam hidup manusia. Sudah 
menjadi satu pandangan yang benar bahwa kadang orang yang sehat, makmur, 
apalagi kaya sekali lebih sukar memahami arti rohani dan arti bergantung kepada 
Tuhan dibandingkan dengan seseorang yang berada di dalam keadaan yang sakit, 
miskin dan melarat. Karena itu Tuhan Yesus juga mengajarkan pengajaran bahwa 
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan, karena merekalah yang 
empunya Kerajaan Sorga. (Mat 5:3). Tetapi Yesus juga mengajarkan bahwa ada 
orang kaya yang sukar masuk kerajaan surga. Ini bukan mengajarkan bahwa kaya 
dan makmur adalah hal yang tidak rohani tetapi mengajarkan bahwa kekayaan 
seringkali melupakan orang dari Tuhan karena orang yang kaya itu berkuasa dan 
seringkali membuatnya tidak bergantung kepada Tuhan. Tetapi orang miskin yang 
tertindas dapat membuatnya lebih bergantung kepada Tuhan karena dia sadar bahwa 
dia bisa hidup adalah karena anugerah Tuhan.
Kembali kepada kitab Pengkotbah, disana kita diajak merenung bahwa rumah duka 
lebih baik daripada rumah pesta. Karena di dalam rumah pesta orang seringkali 
bersukaria dan melupakan Tuhan. Sebaliknya di dalam rumah duka, seseorang dapat 
menyadari beberapa hal :
1. Hidup ini sementara
2.  Segala kekayaan hidup ini akhirnya habis
3.  Yang tertinggal hanyalah nama
4.  Hidup ini fana
5.  Manusia itu lemah 
6.  Manusia itu terbatas
Semua hal ini membuat manusia menjadi merenung mengenai apa arti hidupnya ? Di 
rumah duka seseorang harusnya mulai memikirkan nilai-nilai kehidupan yang lebih 
mulia dan kekal daripada nilai-nilai yang sementara dan yang akan tersapu 
dengan waktu. 
            Marilah kita merenungkan bahwa realita kematian adalah realita yang 
membuat kita memikirkan apa arti hidup kita. Bagaimana kita hidup ? Bagaimana 
kita ingin kita mati ? 

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan

Jeffrey Lim
Jakarta , Institut Reformed
Refleksi ketika merenungkan kematian Mamah dari Ibu renata Lim
Rabu, 8 Agustus 2007

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
Blog : http://limpingen.blogspot.com

Kirim email ke