From: "David Thimothius" <[EMAIL PROTECTED]>

Matematika Surga dan Neraka

Saya teringat akan cerita Alkitab tentang seorang yang menghadap raja karena 
dia tidak mampu membayar hutangnya, lalu sang raja kasihan kepadanya dan 
menghapuskan hutangnya. Lalu orang itu bertemu dengan seseorang yang berhutang 
dengannya, yang jumplah hutangnya lebih sedikit disbanding hutangnya dengan 
raja itu, dan orang yang berhutang kepadanya tidak mampu membayar hutang. Orang 
itu pun marah dan tidak mengampuni orang yang berhutang kepadanya itu, lalu 
kabar itu terdengar oleh sang raja. Dan raja itu pun marah dan memenjarakan 
orang itu.

Apabila kita menerima Kristus sebagai penebus dosa kita, maka sama saja dengan 
mengatakan hutang kita kepada Tuhan sudah dihapus oleh Kristus. Akan tetapi 
apabila kita menghitung-hitung, dan ternyata dosa kita lebih sedikit dibanding 
dengan kesalahan orang-orang lain terhadap kita, (apabila dosa bisa di hitung 
dengan tambah-tambahan dan kurang-kurangan) kepada siapakah kita harus menuntut 
sisanya tersebut?

Jawabannya: bisa kepada orang yang melakukan kesalahan itu, atau bisa juga 
kepada Kristus, Kristus mati bukan saja untuk mengampuni dosa kita secara 
pribadi tetapi Dia juga mati untuk menebus dosa orang-orang lain yang 
menerima-Nya, termasuk dosa orang yang bersalah kepada kita. Pertanyaannya, 
maukah kita menerima bahwa Kristus mati untuk menebus dosa kita? Apabila iya, 
pertanyaan kedua adalah: maukah kita menerima bahwa Kristus juga mati untuk 
dosa orang-orang lain, termasuk orang yang bersalah kepada kita? Saya merasa 
diperlakukan dengan tidak adil ketika pertanyaan kedua itu muncul dan susah 
menerimanya. Karena saya merasa dosa orang kepada saya lebih besar dari pada 
dosa saya kepada orang lain, saya sering kali ditipu tetapi jarang menipu. Jadi 
harus bagaimanakah menerima ini?

Di cerita Alkitab di atas, hutang orang itu kepada raja lebih besar dari pada 
orang lain yang berhutang kepadanya. Tetapi apa jadinya bila hutangnya kepada 
sang raja lebih kecil?

Misalkan, hutang kepada sang raja = 1,000,000 dan orang berhutang kepada kita = 
100

Tentu saja gampang kalau hutang kita telah dihapus oleh sang raja, lalu kita 
menghapus hutang orang, yang berhutang kepada kita itu.

Tetapi misalkan, hutang kepada sang raja = 1,000 dan orang berhutang kepada 
kita = 1,000,000

Apakah kita harus membebaskan hutang orang lain itu karena hutang kita kepada 
raja sudah dihapus? Lalu siapa yang akan menutupi perbedaan 999,000 itu? Kalau 
itu dalam jumlah uang kita bisa ke pengadilan. Tetapi kalau itu adalah jumlah 
dosa, Kristuslah yang membayarkannya untuk orang itu kalau dia menerima 
Kristus, kalau tidak, ngeri akibatnya kepada orang itu apabila penghakiman 
Tuhan datang.

Permasalahannya disini adalah maukah kita memaafkan orang lain?

Bila hitung-hitungannya adalah dosa kita dan dosa orang lain, tentu saja 
susah. Tetapi didalam Alkitab kita mendapatkan, ternyata ada sesuatu yang 
lain di dalam hitung-hitungan itu. Dan itu adalah kekekalan.

Di dalam matematika, kita menggunakan simbol ? untuk kekekalan (infinity). 
Dan dengan kemampuan manusia yang terbatas ini, kita hanya mengerahui konsep 
kekekalan dan tidak mengetahui, apa itu kekekalan, sampai di mana itu 
kekekalan. Kekekalan tidak dapat dihitung karena terlalu besar. 
Membayangkannya saja kita tidak bisa.

Apabila kita memasukan symbol ini kedalam hitung-hitungan dosa kita yang tadi,

misalkan, hutang kepada sang raja = 1,000 dan orang berhutang kepada kita = 
1,000,000

Hutang kita tidak sama dengan hutang orang kepada kita, bahkan hutang orang 
lain itu lebih besar dari pada hutang kita.

Tetapi apabila kita menerima Kristus, janji Tuhan kepada kita adalah kekekalan 
(yoh 3:16).

Jadi yang kita dapatkan bukan saja penghapusan dosa yang 1000 itu tetapi juga 
kekekalan ?, Kalau kita melakukan perbandingan lagi, apakah artinya dosa orang 
lain kepada kita itu dibandingkan kekekalan? Tidak bisa dibandingkan, karena 
terlalu jauh bedanya.

Setelah berpikir demikian saya mulai bisa menerima konsep untuk menerima bahwa 
Kristus juga mati untuk dosa orang-orang lain, termasuk orang yang bersalah 
kepada kita. Jadi untuk apa kita menuntut lagi, serahkanlah semuanya tu kepada 
Tuhan kita Yesus Kristus.

Terlebih-lebih lagi, sebenarnya kita mendapatkan lebih dari kekekalan yang 
tidak dapat dihitung itu. Karena dosa kita telah ditebus-Nya, jadi yang kita 
dapatkan adalah : kekekalan ? + 1,000 (hutang kita). Luar biasa bukan, Tuhan 
kita memberikan kita, lebih dari pada sesuatu yang tidak dapat dihitung. Jadi 
apa salahnya memaafkan kesalahan orang-orang lain.

Puji Tuhan sebab besar anugrah-Nya.

Semoga bisa menjadi penghiburan untuk hati yang terluka dan kecewa.
============================================
From: Denny Teguh Sutandio 

JANGAN SEPERTI ORANG BEBAL
oleh : Pdt. Bigman Sirait, S.Th.
Nats : Efesus 5:15-16

Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah 
seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang 
ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5: 15-16)

SURAT dari Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus mengingatkan supaya orang-orang 
di Efesus bijaksana menggunakan waktu, karena waktu adalah jahat. Pengertian 
waktu adalah jahat, merupakan proses yang terjadi secara alamiah pagi, siang, 
sore, dan malam. Di dalam waktu itu, iblis berusaha menjebak dan menjatuhkan 
setiap orang percaya. Di dalam waktu itu, iblis berusaha menghancurkan 
kehidupan orang-orang percaya. Itulah sebabnya maka dikatakan bahwa waktu itu 
adalah jahat.

Tetapi, jangan karena waktu itu disebut ja! hat maka kita punya pemikiran tidak 
boleh menggunakan waktu, tidak boleh meng-atur waktu, tidak perlu memakai jam, 
dan sebagainya. Yang perlu kita sadari adalah bahwa dalam perjalanan waktu itu 
pun iblis berkarya terus-menerus untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Kalau kita 
tidak bijaksana, tidak berpegangan erat pada Tuhan, pada saat itulah disebut 
waktu menjadi jahat, sebab kita meniti hari-hari yang berbahaya.

Dalam Khotbah Populer edisi lalu, telah dipaparkan tentang sisi tambah dan sisi 
kurang daripada waktu. Di sana kita dituntut untuk mampu bijaksana supaya kita 
juga melihat, bahwa dalam hidup, bukan hanya sisi tambah: tambah uang, tambah 
rumah yang harus dinikmati, tetapi sisi kurang juga harus kita nikmati. 
Artinya, kalau kita hanya bersyukur karena sehat, orang dunia juga bisa 
melakukan hal yang sama. Sebagai orang percaya, bersyukur jugalah pada waktu 
sakit, karena bisa jadi Tuhan sedang menegur. Kalau sakit karena salah/ulah 
sendiri, per-baikilah diri, jangan diulangi lagi kesalahan itu. Sebab jika 
kesalahan yang sama masih diulangi, itu bebal namanya.

Jadi, karena itulah - sebagai-mana dikatakan Rasul Paulus - kita perlu 
memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup. Janganlah seperti orang 
bebal tetapi seperti orang arif. Orang bebal adalah orang yang sudah tahu 
salah, dikasih tahu bahwa itu salah, tetapi masih bikin salah. Sebaliknya, 
kalau orang berbuat salah karena tidak tahu, dikasih tahu (kesalahannya) lalu 
minta maaf dan tidak melakukan ke-salahan lagi, itu namanya normal, karena 
manusia punya kelemahan. Tetapi, sudah tahu bahwa itu salah, namun selalu bikin 
salah, itu namanya bebal. 

Rasanya, tidak ada seorang pun yang mau disebut bebal. Ketika kita membaca 
Alkitab tentang orang Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan, perilaku 
mereka kita katakan sebagai bebal. Kenapa? Karena mereka selalu memper-salahkan 
Tuhan, padahal mereka diselamatkan oleh Tuhan dari per-budakan. Melihat 
perilaku mereka yang bebal itu, Tuhan pun murka dan menghukum orang-orang 
Israel. Bumi terbelah, ada yang mati dipagut ular, kelaparan, kena tulah, dan 
hukuman lainnya. Mengenas-kan dan menyakitkan, tetapi mereka tidak kapok-kapok, 
tidak mau belajar dari peristiwa-demi peristiwa yang menimpa. Inilah yang 
disebut bebal.

Kita pun mestinya sadar, bahwa pada dasarnya kebanyakan dari kita punya 
perilaku atau konsep hidup yang bebal. Buktinya, kita selalu mengaku takut akan 
Tuhan, tetapi perilaku hidup kita memperlihatkan bahwa kita tidak takut Tuhan. 
Artinya, takut Tuhan itu hanya sebatas mulut. Jika kita benar-benar takut 
Tuhan, mana mungkin gereja ribut, jemaat saling men-jatuhkan dan saling 
menghan-curkan? Kalau takut Tuhan, mana mungkin pengurus gereja menilap uang, 
dan sebagainya. 

Kalau takut Tuhan, orang pasti tidak akan hitung-hitungan dalam pelayanan. 
Kalau takut Tuhan, semua orang pasti suka men-dengar khotbah yang 'keras' dalam 
pengertian khotbah yang benar, lurus. Tetapi yang terjadi, keba-nyakan orang 
justru lebih senang mendengar khotbah yang berbau humor. Bahkan tidak sedikit 
anggota jemaat mengatakan bahwa khotbah yang kental unsur humornya itu sebagai 
khotbah yang indah, menarik. Gambaran sederhana: Seorang jemaat yang baru 
pulang dari gereja meng-ungkapkan bahwa khotbah yang disampaikan sangat 
berkesan di hatinya. Ketika ditanyakan alasannya, sang jemaat menjawab, "Karena 
lucu!" Ironis sekali! Memang, khotbah yang benar itu seringkali tidak enak di 
kuping, karena menyindir-nyindir, dan nyakitin hati banyak orang. Contoh sikap 
bebal yang lain adalah banyak orang tidak menyukai kebenaran, lalu lari dari 
kebenaran, tetapi merasa dirinya benar, karena mengaku (merasa) takut akan 
Tuhan. Jadi, kebebalan itu justru dimulai dari dalam hidup kita. Kita tidak 
suka kebenaran, tetapi fenomena-fenomena kebe-naran, bukan kebenaran yang 
hakiki. Kita hanya giat dalam melakukan aktivitas religius. Kita hebat dalam 
beribadah, hebat melantunkan doa-doa, tetapi sejatinya, perilaku kita jauh dari 
tuntutan Tuhan. 

Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai terjebak yang pada akhirnya 
menjadikan agama itu hanya seperti ekstasi bagi kita. Tuhan menjadi sedih 
karena agama hanya menjadi pelarian. Gereja itu cuma menjadi tempat mencari 
ketenangan sesaat, setelah itu kembali menggeluti kehidupan dunia: berdagang 
tidak jujur, menipu di sana-sini, semen-tara ucapan: "haleluya" terus meluncur 
dari mulut. 
Janganlah bebal, tetapi jadilah seperti orang arif: mau belajar, tahu, dan 
semakin bijak. Jadilah seperti orang arif, yang semakin bertambah 
pengetahuannya, makin rendah pula hatinya. Pepatah mengatakan: jadilah seperti 
ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Begitulah peri-laku orang arif yang 
mestinya menjadi ciri khas orang-orang percaya. Kalau pepatah dunia saja begitu 
manis dan indah, masak orang Kristen tidak bisa berperilaku indah dan manis? 

Jadi, di dalam pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kita, dari bebal menuju 
arif, ada perjalanan, yaitu perjalanan waktu, hari lepas hari. Oleh karena itu 
kita harus menggunakan waktu de-ngan bijak. Coba renungkan perjalanan hidup 
dari hari ke hari supaya tidak terperangkap pada jebakan si jahat itu. Jika 
waktu tidak membuat kita menjadi semakin arif, malah semakin tidak karu-karuan, 
artinya kita terjebak, sebab sang waktu tidak membawa kita ke dalam 
kesempurnaan pengenalan akan Tuhan.* 

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Sumber : Tabloid REFORMATA Online 23/II/Feb 2005.

Profil Pdt. Bigman Sirait :
Pdt. Bigman Sirait, S.Th. adalah Pemimpin Umum Tabloid Reformata. Beliau 
memulai pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu sejak tahun 1981 di GKI Gunung 
Sahari, kemudian pelayanan Remaja, Pemuda dan pelayanan Kampus sejak tahun 
1984. Beliau menikah dengan Sdri. Greta Mulyati pada tanggal 3 Oktober 1987. 
Keluarga ini diberkati Tuhan dengan 3 orang anak : Kezhia Bianta (13-08-88), 
Keithy Dorothy (23-04-90) dan Kennan Yonathan (04-07-94).

 Pada tahun 1989, beliau bersama Bpk. Paul Hidayat, M.Th. dan rekan sepelayanan 
mendirikan Yayasan Channel of Blessing/COB (Scholarship bagi mahasiswa STT). 
Beliau yang bekas usahawan ini menyelesaikan studi Sarjana Theologia (S.Th.) di 
Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesnia (STTRII) Jakarta pada tahun 
1995-1999. Pada tahun 1999, beliau bersama Sdr. Anton Budianto dan Sdr. Yuke 
Sugihono serta rekan-rekan mendirikan Yayasan Misi Kalimantan / MIKA 
(Pendidikan dan pemberdayaan SDM di Kalimantan B! arat). Juga pada tahun 1999, 
beliau bersama ibu Artin Utomo dan rekan-rekan mendirikan Lembaga Aktualisasi 
Iman Kristen / LAIK (pengadaan kurikulum persekutuan dan pembinaan karyawan). 
Pada tahun 1998, beliau bergabung dan melayani di Gereja Kristen Setia 
Indonesia (GKSI) dan mempelopori GKSI Antiokhia, Jakarta. Saat ini, GKSI 
Antiokhia berganti nama menjadi Gereja Presbyterian Indonesia (GPI) Antiokhia, 
Jakarta. Secara pribadi telah menyusun kurikulum tiga tahun pelayanan taruna 
(SMP kelas 1 - 3) dan dalam proses penyelesaian kurikulum tiga tahun pelayanan 
remaja (SMU kelas 1 - 3).
Dalam pelayanan radio telah merekam dan mengkasetkan 25 volume khotbah seri.
Oleh kemurahan Tuhan telah berkhotbah lebih dari 2000 kali dan melayani di 
berbagai kota di pulau Jawa dan luar Jawa (Medan, Kupang, Alor, Bali dan 
Kalimantan). Pelayanan luar negeri di Jerman pada bulan Maret 1999 dan April 
2000 (Aachen, Mainz, Köln, Berlin, Mardorf, Danstard, Cottingen).
Ditahbiskan menjadi Pendeta pada tanggal 20 Januari 2000. Saat ini, beliau 
sedang menempuh studi Master of Divinity (M.Div.) di STTRII Jakarta.

Kirim email ke