From: james widodo 

  
Konseling Dalam Pelayanan Gereja Masa Kini

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di 
sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan 
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka 
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku 
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20)

Injil Matius yang dimulai dengan catatan silsilah Yesus Kristus, ditutup dengan 
kalimat perintah yang agung seperti tertulis di atas. Secara umum, gereja yang 
berpegang pada doktrin Reformed mengimplementasikan AA (Amanat Agung) sebagai 
mandat penginjilan dan mandat budaya. 

Amanat Agung memerintahkan kepada kita semua untuk memuridkan-mandat 
penginjilan (menjadikan semua suku bangsa murid Kristus). Kata kerja lain 
(pergi, baptis dan mengajar) menjelaskan bagaimana memuridkan itu dilaksanakan. 
Dengan demikian pemuridan mempunyai arti membawa seluruh pribadi dengan seluruh 
aspek hidupnya temasuk aktifitas sosial, seni dan intelektual kepada kehendak 
Tuhan-mandat budaya (Holmes, hal. 46-47).

Jadi Kristus menghendaki semua anak Tuhan untuk memahami dan melaksanakan 
mandat penginjilan dan mandat budaya AA berdasarkan kuasaNya. 

Di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, terutama dalam zaman post-modern 
sekarang ini, gereja dituntut untuk memancarkan sinar kemuliaan Kristus dengan 
melaksanakan tugas mandat penginjilan dan mandat budaya secara proporsional 
secara bersama-sama. Sudah bukan waktunya lagi sebuah gereja hanya 
berkonsentrasi melaksanakan hanya salah satu mandat dalam AA. 

Bagaimana melakukan mandat penginjilan rasanya sudah umum dilakukan oleh 
berbagai gereja; bagaimana melakukan mandat budaya juga sudah mulai banyak 
digali terutama oleh gereja Reformed dan Injili. Walaupun demikian, ada sebuah 
hal yang rasanya luput dari perhatian kita yaitu kalimat terakhir Matius 28:20 
‘Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’. 
Sebuah kalimat yang sangat indah dan menguatkan hati dan rasio karena Kristus 
sendirilah yang memberikan jaminan penyertaan seumur hidup kepada anak-anakNya. 
Pdt. Julianto Simanjuntak dengan lugas menterjemahkan kalimat di atas sebagai 
‘sebuah ladang pelayanan konseling dalam AA’. Mengapa? Karena jaminan seumur 
hidup bagi kita telah diberikan sejak detik kita menerima anugerah keselamatan, 
hanya masalahnya Kristus sendiri sudah meninggalkan dunia fana dan bertahta di 
sorga. Jadi sudah menjadi tugas kita dengan kekuatan dari Roh Kudus untuk 
melaksanakan ‘mandat konseling’ bagi saudara-saudara kita. Tugas seorang 
konselor adalah seperti sebuah bengkel yang memperbaiki motor/mobil yang 
bermasalah kapanpun juga karena jaminan yang diberikan oleh Kristus kepada 
umatNya adalah jaminan seumur hidup. Jaminan ini adalah jaminan yang kekal 
bukan sekedar jaminan manusia atau institusi yang tidak bernilai kekal.

Berdasarkan tulisan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pelayanan konseling 
adalah bagian integral dari mandat budaya yang bahkan mendapatkan penekanan 
khusus dalam pelaksanaannya pada masa-masa ini. 

Konseling

“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang 
pandai tahu menimbanya” (Ams 20:5)

Bahasa asli ‘rancangan’ adalah tebuna, yang artinya sesuatu yang sangat 
rahasia, yang terkadang ada dalam alam tak sadar. 

Orang tidak menyadarinya, namun melalui percakapan konseling hal itu dapat 
muncul di alam sadar (Pdt. Yakub Susabda)

Penulis percaya Tuhan menyingkapkan maksudNya pada waktuNya dan percaya bahwa 
waktu-waktu sekarang adalah masa-masa yang penuh kesempatan bagi perkembangan 
pelayanan konseling karena sepanjang sejarah belum pernah manusia mengalami 
hidup yang sedemikian rusak dan menyedihkan seperti hari ini. 

Pentingnya pelayanan konseling dicetuskan oleh seorang pendeta yang bernama 
Anton Boisen. Kisah hidup Boisen yang selama belasan tahun mengidap skizofrenia 
menjadi pencetus kesadaran gereja akan pentingnya pelayanan konseling. Setelah 
sembuh, Boisen mengkritisi gereja dengan mengatakan: Jika orang kristen patah 
kaki, semua rumah sakit dapat mengobatinya, bahkan dengan biaya gereja. Lain 
halnya bila orang kristen mengalami ‘patah/sakit hati’, maka dia akan dikirim 
ke rumah sakit jiwa dan dilupakan untuk selamanya. 

Dalam realita kehidupan, bukankah seperti yang pernah dikatakan John Calvin 
bahwa gereja adalah sekumpulan orang lemah, yang dipimpin oleh orang yang lemah 
pula. Bukankah perkataan ini mencerminkan kebenaran doktrin yang paling 
fundamental dari kekristenan?. Di hadapan Tuhan, kita semua adalah manusia 
berdosa yang hanya karena anugerah-Nya mendapatkan keselamatan dan setelah 
natur dosa kita dipulihkan, kita masih dapat (dan pasti) berbuat dosa sehingga 
proses penyucian harus kita jalani bersama Roh Kudus seumur hidup kita. 
Bukankah bertolak dari kebenaran doktrin ini kita dapat melihat signifikansi 
pelayanan konseling?. Begitu banyak orang kristen yang bergumul dengan dosa dan 
problem kehidupan di tengah gencetan dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. 
Bagi orang-orang kristen yang kita sebut sebagai saudara seiman, yang mengalami 
badai kehidupan, siapkah kita ber-empati dan menyingsingkan lengan baju? 

Agar mendapatkan pandangan yang lebih jelas, pertama kita harus memahami 
perbedaan antara psikologi, psikiatri dan konseling. Menurut Pdt. Dr. Dwijo 
Saputro, psikologi adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang menyangkut 
perilaku dan otak. Ilmu psikologi yang berhubungan dengan konseling adalah yang 
berhubungan dengan kesehatan mental, di mana dipelajari dasar-dasar bagaimana 
seseorang berperilaku, berpikir, memiliki emosi, mampu berelasi, berkembang dan 
memecahkan masalah yang ia hadapi sehari-hari.

Ilmu psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan 
pengobatan, penyembuhan, gangguan masalah, penyakit yang berkaitan dengan 
perilaku yang berkaitan dengan otak. 

Hal ini perlu dipahami karena banyak orang mencampur-adukkan istilah-istilah di 
atas sehingga menimbulkan kerancuan. Jadi memang ilmu konseling tidak dapat 
terlepas dari ilmu psikologi. Dalam melakukan pelayanan konseling di gereja, 
seorang konselor haruslah mengintegrasikan semua ilmu psikologi dan 
konselingnya dengan teologi. Hal ini bukan berarti menjadi teologi plus karena 
teologi dengan Alkitab sebagai kebenaran yang sejatilah yang menjadi filter 
dari ilmu psikologi.

Ada banyak sekali kisah-kisah nyata yang sangat memalukan dan memilukan yang 
dialami dan dilakukan oleh orang kristen, bahkan para hamba Tuhan. Selain 
pengalaman pribadi ber-relasi dengan hamba Tuhan, melalui milis konseling, 
penulis mendapat informasi bahwa banyak sekali hamba Tuhan yang hidupnya rusak, 
yang bergelut dengan dosa-dosa, ingin lepas tapi gagal terus dll. Sering kita 
lupa bahwa para pemimpin, hamba Tuhan juga adalah manusia berdosa seperti diri 
kita di mana merekapun hidup dalam dunia yang up-side-down, sehingga setiap 
manusia pasti mempunyai luka-luka jiwa yang harus disembuhkan terlebih dahulu 
sehingga mereka dapat melayani jemaat dengan jauh lebih baik.

Siapakah yang membutuhkan konselor?

Terus terang, selama beberapa bulan terakhir ini penulis bergumul dengan 
beberapa  pertanyaan: Sejauh mana kehendak bebas orang percaya dikaitkan dengan 
pandangan doktrin Calvinis, mengapa antar orang percaya, yang mempunyai Roh 
yang sama pada prakteknya sering terjadi pertengkaran?, apakah segala sesuatu 
yang kita lakukan baik dan buruk sudah ditentukan oleh Tuhan berdasar Rom 
8:28?. Puji Tuhan setelah beberapa kali ‘konseling’ dengan beberapa teman yang 
hamba Tuhan dan aktivis, penulis akhirnya mendapatkan pencerahan. Contoh ini 
adalah sebuah masalah yang berakhir happy ending. Pertanyaan berikutnya: bila 
seorang jemaat menghadapi masalah kehidupan praktis yang lebih berat, ke mana 
mereka akan bertanya? Beranikah mereka bertanya ke hamba Tuhan, apakah hamba 
Tuhannya siap, mau dan mampu memberikan pembimbingan atau hanya memberikan ayat 
dan mendoakannya tanpa involve ke dalam? 

Persoalan akan menjadi lebih pelik bila ternyata sang hamba Tuhan-lah yang 
mempunyai banyak luka jiwa yang belum dibereskan sehingga alih-alih berkarakter 
seperti gembala, ia malah lebih berperan sebagai serigalanya. Hal ini akan 
menjadi kontra produktif dalam pelayanan bukan?.

Apakah semua masalah dapat diselesaikan dengan memberikan Firman Tuhan saja 
tanpa ada ‘prolog dan epilognya?’. Penulis berpendapat bahwa dalam ke-beragaman 
karakter manusia dan faktor kebebasan manusia, ada orang-orang tertentu yang 
cukup mendengar Firman Tuhan secara langsung dapat langsung merubah rasio dan 
hatinya sehingga mampu menyelesaikan masalah kehidupannya karena memang Firman 
itu mampu menembus dan membelah roh kita. Di pihak lain, ada kelompok manusia 
lain yang dengan keunikan pribadinya membutuhkan pendampingan dan pembimbingan 
secara pribadi atau kelompok. Bukankah anggota keluarga kandung saja dapat 
mempunyai karakter dan kebutuhan emosi yang berbeda, yang membutuhkan 
pendekatan yang berbeda pula?. Mereka-mereka inilah yang membutuhkan 
pendampingan ‘prolog dan epilog’, di mana pelayanan konseling mampu untuk 
mengisi celah ini. 

Oleh karena itu marilah kita semua jangan buru-buru menghakimi karena pada 
dasarnya semua manusia mempunyai belief system yang mempengaruhi word view kita 
terhadap suatu masalah. 

Sebuah contoh menarik:

Martin Luther pernah mengalami depresi. Keadaan ini dibahas bertahun-tahun oleh 
para ahli untuk mencari jawaban mengapa Luther bisa depresi. Ada beberapa 
jawaban yang berbeda-beda:

  1.. Kondisi emosi Luther sangat berat dan mencekam. 
  2.. Sejarah hidup Luther penuh dengan trauma. 
  3.. Luther bekerja terlalu keras, kurang istirahat dan tanggung jawab yang 
besar. 
  4.. Karena serangan iblis.
Perbedaan jawaban ini karena memang manusia mempunyai word view yang berbeda 
karena berbagai sebab misal pendidikan, culture, pengalaman dll. 

Ada orang yang punya pengalaman kenal dengan seorang hamba Tuhan yang emosional 
dan meminta dihormati agak berlebihan (dari world viewnya), ternyata hal ini 
dikarenakan perbedaan culture. Si hamba Tuhan berasal dari daerah yang 
menganggap seorang hamba Tuhan seperti ‘1/2 dewa’ sehingga di daerah asalnya 
dia sangat dihormati secara tidak pada porsinya. Secara tidak sadar hal ini 
sudah mendarah daging dalam dirinya sehingga ketika dia berada dalam lingkungan 
culture yang berbeda terjadi benturan.

Pro Kontra Pelayanan Konseling        

Dalam realita, bidang psikologi dan konseling mendapat banyak hambatan dan 
tantangan dari berbagai pihak termasuk dari kalangan gereja sendiri. Ada yang 
curiga psikologi hendak mengambil-alih peran Firman Tuhan dll.

Bagi penulis ada beberapa hal yang harus dimengerti dalam menyikapi pro dan 
kontra pelayanan konseling, yaitu:

  a.. Kitab Yesaya sendiri menyebut Kristus sebagai Great Counsellor. 
  b.. Pdt. Yakub Susabda dalam National Conference and Healing Conference 1 
berkata bahwa konseling adalah talenta (bagi kristen dan non-kristen) dan 
spiritual gift khusus bagi iman kristen. Karunia untuk memberikan nasehat ada 
dalam 1 Kor 12:7-11; Roma 12 dan Efesus 4 memuat daftar karunia rohani, walau 
tidak lengkap, yang mencantumkan karunia konseling. Bukankah tujuan hidup orang 
percaya adalah menjadi serupa dengan Kristus?. Dalam konteks pembangunan tubuh 
Kristus, maka semua kegiatan gerejawi seperti kotbah, PD, PA, pembesukan dll 
adalah sarana dalam pembangunan tubuh Kristus. Jika demikian, mengapa kita 
mencurigai pastoral konseling hendak memainkan role ‘playing God?’. 
  c.. Harus di akui memang ada perbedaan mendasar antara psikologi dan 
konseling duniawi dengan psikologi dan konseling kristen. Ilmu duniawi 
berangkat dari satu asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya baik; sedangkan 
ke-kristenan berangkat dari suatu kepastian bahwa semua manusia dilahirkan 
dalam natur berdosa. Karena perbedaan ini maka tidak semua cara dan metode 
duniawi diterima oleh konselor kristen. Konselor kristen mempunyai sebuah tolok 
ukur yang sangat jelas, yaitu Alkitab (Wahyu Khusus, hanya dianugerahkan pada 
orang kristen). Filsuf kristen, Arthur Holmes dalam bukunya “Semua Kebenaran 
Adalah Kebenaran Tuhan” menjelaskan bahwa Tuhan memberikan wahyu umum kepada 
semua orang, kristen dan non-kristen. Dari wahyu umum, manusiapun dapat 
menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak bersifat fundamental dan tidak dapat 
menyelamatkan diri, misalnya ilmu Aljabar yang ditemukan oleh non-kristen. 
Dari argumen di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa ilmu psikologi dan 
konseling, juga semua ilmu-ilmu lain serta kebenaran-kebenaran dunia harus 
ditundukkan dan diperiksa oleh satu-satunya sumber otoritas, yaitu Alkitab. 
Penulis sangat percaya Alkitab tidak menulis semua kebenaran tetapi semua 
prinsip-prinsip kebenaran ada di dalam Alkitab. Psikologi yang ditundukkan 
dalam kebenaran prinsip-prinsip Firman Tuhan dapat menjadi helping tools yang 
sangat berguna bagi pelayanan gereja secara umum dan secara khusus bagi jemaat 
yang membutuhkan.

Pandangan yang keliru dalam pelayanan konseling

    Beberapa pandangan yang salah dalam pelayanan konseling:

  a.. Semua hamba Tuhan pasti mempunyai talenta dan karunia konseling. Kadang 
kita lupa bahwa sebenarnya skill dasar dari hamba Tuhan dan konselor 
bertentangan dalam arti hamba Tuhan berbicara dan konselor mendengarkan, 
menganalisa dan membantu konseli menyadari kesalahannya sendiri dan kemudian 
mengambil keputusan yang benar. 
  b.. Konselor hanya memberi nasihat dan mendoakan konseli. Hal ini sering 
dilakukan oleh beberapa hamba Tuhan yang sebenarnya belum pernah belajar 
konseling tanpa mau mengerti akar dari masalahnya. 
  c.. Konselor hanyalah mencoba ‘mengobati’ masalah yang hanya bersifat 
kesementaraan. Konselor kristen haruslah selalu mengkaitkan pelayanannya dengan 
tujuan kekekalan. 
  d.. Konselor mengajarkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh konseli. 
Konselor berperan sebagai tutor dan konseli sebagai muridnya. Konseling bukan 
‘menggiring domba agar MAU masuk ke kandang, melainkan menuntun domba 
sedemikian rupa sehingga MASUK  ke kandang dengan kesadarannya sendiri’. 
  e.. Dari pengalaman pribadi saya mendapati bahwa masyarakat mengangap 
konseling hanya untuk manusia yang ‘agak gila’. Mungkin konseling adalah hal 
terakhir yang dipikirkan manusia ketika menghadapi suatu masalah pribadi. 
Ketika istri penulis berpikir untuk membawa anak kami ke seorang psikolog 
karena kami menganggap anak ini terlalu introvert, teman-teman dan gurunya kok 
memandang dengan pandangan yang agak aneh. Hal ini diperberat dengan lingkungan 
gereja yang juga ‘kurang celik arti penting konseling’. Rasanya kultur kita 
harus mengalami transformasi terlebih dahulu.
Keunikan pastoral konseling

Ada beberapa keunikan konseling pastoral dibanding sekuler sbb:

    a.. Konseling pastoral menempatkan orang dalam relasinya dengan Tuhan. 
    b.. Menjadikan Tuhan sebagai realita. Dengan menyadari bahwa Tuhan adalah 
real, suatu kesadaran yang baru telah muncul dan siap dilanjutkan dalam tahap 
berikutnya. 
    c.. Wilayah kerja dan kompetensi konselor pastoral adalah pertumbuhan 
spiritual. Membantu konseli menemukan keutuhan spiritual sebagai pusat 
pertumbuhan manusia secara utuh dengan bahasa yang eksplist dan tidak formal. 
    d.. Menggunakan sumber-sumber agamis dalam konseling. Dalam hal ini 
pengetahuan akan teologi dan pengalaman hidup yang diubahkan dapat menjadi 
tools yang sangat berguna bila digunakan tepat guna dan tepat sasaran. 
    e.. Membantu orang dalam belajar untuk hidup. Kata-kata yang sangat indah 
bagi saya. Memang manusia tidak ada yang ahli dalam semua bidang dan mempunyai 
kelemahan dibanyak bidang sehingga ini adalah proses seumur hidup. Hal ini 
selaras dengan proses penyucian diri bersama Roh Kudus. 
    f.. Membantu orang dalam pengembangan kompetensi hubungan antar-pribadi. 
Inilah salah satu implementasi dari mandat budaya. Komunikasi adalah hal 
penting yang sering menentukan hubungan antar sesama. 
Fungsi konseling pastoral

Sedangkan  fungsi konseling pastoral adalah:

    a.. Penyembuhan.
Untuk mengatasi kerusakan dengan menuntun dan mengembalikan fungsi dan kondisi 
sebelumnya.

    a.. Penopangan.
Menolong konseli untuk bertahan dan melewati kesulitannya/problemnya.

    a.. Pembimbingan.
Membantu konseli untuk menentukan pilihan di antara berbagai alternatif.

    a.. Pendamaian.
Me-rekonstruksi ulang relasi manusia dengan sesama dan Tuhannya. Hal ini di 
mulai dari pengakuan, pengampunan dan disiplin.

Kesimpulan

  a.. Diperlukan suatu integrasi ilmu psikologi, konseling dan teologi dengan 
teologi sebagai ‘ratunya’ yang menjadi dasar acuannya. 
  b.. Integrasi adalah sinergi antara beberapa disiplin ilmu yang berlainan 
tanpa menghilangkan ciri ilmu masing-masing. Beberapa disiplin ilmu yang 
berlainan tersebut bersifat saling melengkapi untuk memberikan suatu world view 
yang lebih luas sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dalam 
melihat suatu fenomena. 
  c.. Menurut penulis, Teologi adalah dasar atau jangkar yang paling esensial 
dalam memahami diri sendiri, orang lain dan Tuhan. Sedangkan psikiatri adalah 
cabang dari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan pengobatan, penyembuhan 
penyakit yang berkaitan dengan perilaku. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari 
perilaku dan hubungan antara otak dan perilaku manusia sehari-hari, sedangkan 
konseling adalah ilmu yang berkaitan dengan kesehatan mental. Penulis percaya, 
Teologi memberikan ‘rambu-rambu’ dan batasan-batasan dalam penggalian dan 
penerapan ilmu psikologi dan psikiatri misalnya dalam hal etika. Tanpa dasar 
Teologi yang benar dan kokoh, seseorang yang belajar psikologi dan psikiatri 
dapat tergelincir dalam pemikiran yang antroposentris dan menomor-duakan Tuhan. 
  d.. Integrasi diperlukan dengan Teologi sebagai dasarnya. Memang psikologi 
dan psikiatri dapat memberikan pencerahan tentang perilaku manusia, tetapi kita 
harus ingat bahwa inilah bagian dari wahyu umum yang diberikan Tuhan kepada 
semua umat manusia tanpa terkecuali. Kita harus akan ingat prinsip  bahwa wahyu 
umum haruslah diperiksa dalam terang wahyu khusus (Alkitab). Jadi bagian-bagian 
ilmu yang bertentangan dengan Firman Tuhan harus kita copot berdasarkan 
iluminasi dari Roh Kudus. Saya rasa hal ini bisa menjadi relatif karena 
perbedaan dasar pemahaman doktrin (Teologi) seorang dengan lainnya. Jadi 
Teologi menentukan dasar, alasan bahkan batasan integrasi-nya dengan ilmu-ilmu 
pengetahuan lainnya termasuk psikologi dan integrasi yang sehat didasarkan atas 
pandangan teologi yang sehat pula. 
  e.. Sudah sepantasnya sebuah gereja mempunyai paling tidak seorang konselor, 
idealnya seorang konselor yang belajar di seminari (misal M.K.). Pada nyatanya, 
sedikit sekali kesadaran akan hal ini di kalangan gereja.
*) Ditulis oleh Hendra, sebagai refleksi seorang awam pembelajar Alkitab dan 
pembelajar konseling, sekaligus sebagai tugas akhir semester 1 program KKJJ di 
IKPT. Tulisan ini jauh dari sempurna bahkan mungkin ada kesalahan-kesalahan 
yang semoga tidak fatal, karenanya masukan dari saudara dinantikan.

**) Tulisan ini sebenarnya satu bagian integral dari satu topik Pelayanan 
Gereja Masa Kini. Bagian lain adalah refleksi penulis terhadap peran 
Kepemimpinan dalam Gereja (belum selesai).

Bibliografi

  1.. Dasar-dasar Teori dan Praktek Konseling, sebuah diktat pembelajaran 
konseling jarak jauh oleh IKPT (Institute konseling & parenting terapan) oleh 
Pdt. Julianto Simanjuntak dkk. 
  2.. Pastoral Konseling jilid 1 & 2 oleh Pdt. Yakub Susabda 
  3.. Perlengkapan Seorang Konselor, Pdt. Julianto Simanjuntak 
  4.. Kotbah Chinese Philosophy, Pdt. Stephen Tong 
  5.. Psikologi Yang Sebenarnya, W. Stanley Heath 
  6.. Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Tuhan, Arthur F. Holmes 
  7.. Masa Penuh Kesempatan, Paul David Tripp 
  8.. Konseling Krisis & Terapi Singkat, Pdt. Hadi P. Saharjo 
  9.. Konseling Yang Efektif & Alkitabiah, Larry Crabb 
  10.. Pengantar Konseling Alkitabiah, John Mac Arthur JR & Wayne A. Mack
.
 

Kirim email ke