From: Denny Teguh Sutandio 

Ringkasan Theologia Sistematika 4: DOKTRIN KESELAMATAN/ SOTERIOLOGI
oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.
(anggota jemaat Gereja Reformed Injili Indonesia-GRII Andhika, Surabaya dan 
mahasiswa part-time di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya-STRIS Andhika 
; gelar Sarjana Sastra dalam bidang Sastra Inggris dari Universitas Kristen 
Petra, Surabaya)

4.1  Upaya Manusia Memperoleh Keselamatan dan Problematikanya
Manusia yang sudah berdosa berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan dosa 
dengan melakukan syariat-syariat agama, seperti berbuat baik, bertarak/menyiksa 
diri (askese), puasa, dll. Mereka berpikir bahwa dengan bertindak demikian, 
mereka dapat menyelesaikan dosa, diselamatkan dan masuk "surga". Benarkah 
demikian ? TIDAK PERNAH. Fakta justru membuktikan kebalikan. Artinya, orang 
yang melakukan syariat agama, seperti puasa bukan membuat orang yang berpuasa 
ini berbuat baik, malahan lebih menggila. Bagaimana tidak menggila, orang agama 
tertentu di Indonesia yang berpuasa memakai kekuatan massa dan pemerintah untuk 
melarang para penjual dan ! orang lain membuka toko atau warung atau mall 
dengan alasan "me nghormati" orang yang sedang berpuasa. Sungguh suatu 
absurditas/ketidakmasukakalan jika mengatakan bahwa orang yang berpuasa bisa 
berbuat baik, padahal kenyataannya justru sangat amat menyusahkan orang lain 
dan membuat orang lain sangat tidak menghormati mereka. Lalu, orang lain 
mengatakan bahwa perbuatan baik itu dapat membawa orang masuk "surga". Dari 
titik awal, konsep ini sudah tidak masuk akal. Seorang filsuf atheis Yunani, 
Aristoteles mengajarkan bahwa kebajikan dilakukan demi motivasi dan tujuan 
kebajikan itu sendiri. Kalau berbuat baik dilakukan supaya masuk "surga", maka 
motivasi ini sendiri sudah tidak baik. Mengapa ? Karena mereka berbuat baik 
untuk masuk "surga" dan kalau misalnya (pasti) mereka tidak masuk "surga", 
mereka bakal tidak berbuat baik, karena ketahuan mereka tidak masuk "surga". 
Yang lebih aneh lagi, di dunia, ada agama yang mewajibkan para penganutnya 
(khusus wanita) menutupi kepalanya (kalau perlu seluruh tangan, kaki, tubuh, 
dll) supaya tid! ak kelihatan auratnya, tetapi herannya, di dalam pemahaman 
agama ini, di "surga", para lelaki akan mendapatkan para perawan yang cantik. 
Sungguh tidak masuk akal, bukan ? Bagi saya dan ajaran Alkitab, sungguh tidak 
masuk akal keselamatan bagi manusia bisa diperoleh dengan cara manusia yang 
sendirinya berdosa.

4.2 Tuhan Trinitas Sebagai Perencana (Tuhan Bapa), Penggenap (Tuhan Putra) dan 
Penyempurna Keselamatan (Tuhan Roh Kudus)
Cara manusia yang berdosa pasti juga dicemari oleh dosa, lalu mereka berharap 
bisa menyelesaikan dosa dan diselamatkan ? Mimpi ! Tidak ada jalan lain, 
manusia tak mungkin pernah bisa menyelamatkan diri dari dosa! Tuhan lah yang 
mampu menyelamatkan manusia. Mari kita akan mempelajari urutan keselamatan yang 
di dalam theologia Reformed disebut sebagai ordo salutis. Dari Rev. G. I. 
Williamson, B.D. dalam bukunya Pengakuan Iman Westminster dan pengertian saya 
sendiri akan Alkitab dari pemilihan sampai dengan penyempurnaan, saya 
membagikan 8 proses keselamatan, yakni :
Pertama, dari Surga, Tuhan Bapa telah memilih beberapa orang untuk 
diselamatkan. Pemilih! an ini tidak dilakukan seperti ajaran Arminian yaitu 
Tuhan telah melih at orang-orang yang nantinya berbuat baik, lalu Tuhan memilih 
mereka. Itu bukan pemilihan Tuhan, tetapi pemilihan atas nama "Tuhan" yang 
dikerjakan oleh manusia. Di dalam theologia Reformed, ini dikenal dengan 
pernyataan Unconditional Election (Pemilihan yang Tidak Bersyarat). Berarti, 
Tuhan memilih beberapa manusia mutlak berdasarkan kerelaaan kedaulatan-Nya. 
Ketika Tuhan memilih Yakub dan tidak memilih Esau, Ia mengajarkan satu prinsip 
melalui Paulus, "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh 
belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." 
(Roma 9:15) Ini berarti bukan urusan kita untuk meragukan keadilan Tuhan, 
karena itu sudah keputusan kehendak-Nya yang berdaulat. Kita sebagai manusia 
tidak pernah boleh complain terhadap Tuhan (berkaitan dengan siapa yang dipilih 
dan ditolak-Nya) karena sebenarnya sebelum dipilih, semua manusia adalah 
makhluk berdosa. Kita yang dipilih-Nya seharusnya bersyukur dan menaati 
panggilan-Nya, bukan complain. Selain itu, kita hanya patuh dan taat akan apa 
yang Tuhan telah nyatakan di dalam Alkitab. Apakah ketaatan ini membabibuta ? 
TIDAK. Ketaatan ini disertai iman, karena kita beriman bahwa Tuhan yang 
memiliki pengetahuan sempurna akan hal ini (sedangkan kita belum). Ketika kita 
sebagai manusia ingin mencari tahu tentang misteri ini, kita sebenarnya sedang 
melanggar wilayah kesempurnaan pengetahuan Tuhan dan tentunya, kalaupun (tidak 
pernah terjadi) Tuhan menyingkapkan misteri ini kepada kita, kita tak mungkin 
akan pernah menampung penyingkapan Tuhan ini dengan rasio kita yang terbatas. 
Mengenai misteri ini, Tuhan berfirman, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi 
TUHAN, Tuhan kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi 
anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan 
hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29) 

Kedua, setelah Tuhan memilih manusia, Ia mengaruniakan Putra Tunggal-Nya, Tuhan 
Yesus Kristus (Tuhan Putra) untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya 
tersebut dan menyelamatkan mereka dari perbudakan dosa tanpa melihat jasa baik 
mereka karena kasih-Nya (Yohanes 3:16). Di dalam 5 pokok Calvinisme, poin ini 
disebut Limited Atonement/Penebusan Terbatas). Penebusan Terbatas tidak berarti 
kualitas penebusannya yang terbatas, tetapi wilayah cakupan penebusannya yang 
terbatas, yaitu hanya bagi umat pilihan-Nya. Manusia yang telah ditetapkan-Nya 
untuk binasa (kaum reprobat/tertolak) tidak akan pernah mungkin menerima 
penebusan Kristus. Ini berarti keselamatan, di dalam kerangka pikir theologia 
Reformed berdasarkan Alkitab, terjadi hanya melalui anugerah Tuhan (sola 
gratia).

Setelah Kristus menebus dosa umat pilihan-Nya, maka proses ketiga, Tuhan Roh 
Kudus mengaktifkan penebusan Kristus ini ke dalam hati umat pilihan-Nya dengan 
melahirbar! ukan mereka. Artinya, Roh Kudus memberikan hati yang baru kepada 
umat pilihan-Nya. Mengapa hati yang baru ? Karena hati manusia yang lama sudah 
dipolusi oleh dosa, sehingga Roh Kudus harus mengganti total dengan memberikan 
hati baru kepada mereka. Yehezkiel 36:26 berkata, "Kamu akan Kuberikan hati 
yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari 
tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat." King James 
Version (KJV) menerjemahkan, "A new heart also will I give you, and a new 
spirit will I put within you: and I will take away the stony heart out of your 
flesh, and I will give you an heart of flesh." Uniknya, Roh Kudus yang 
memberikan hati yang baru sekaligus membuang atau mematikan (kata take away 
dalam KJV berasal dari bahasa Ibrani yang bisa berarti mematikan/turn off) hati 
yang lama yang mengeras. Berarti, Roh Kudus menundukkan hati manusia yang keras 
untuk bisa menerima-Nya.

Keempat, setelah melahirbarukan umat pilihan, Roh Kudus memberikan iman dan 
pertobat! an kepada mereka. Dengan kata lain, theologia Reformed mengajarkan 
dilahirbarukan oleh Roh Kudus merupakan proses yang mendahului iman (bukan iman 
yang mendahului lahir baru). Orang baru bisa beriman karena ia telah 
dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Lalu, orang yang beriman baru bisa beriman 
karena adanya anugerah Tuhan. Iman adalah anugerah Tuhan, bukan kehebatan 
manusia. Jadi, sangatlah salah jika "theologia" non-Reformed mengajarkan bahwa 
iman adalah joint venture antara Tuhan dengan manusia (ajaran Philip 
Melanchton) atau iman adalah tindakan manusia mempercayai Tuhan. Kalau benar, 
iman adalah tindakan manusia, bagaimana manusia bisa memilih iman yang benar, 
kalau di dalam hidupnya, kadang-kadang manusia bisa saja (bahkan sering) salah 
memilih. Pdt. Dr. Stephen Tong mengibaratkan bahwa manusia seringkali salah 
memilih kepiting, lalu bagaimana mungkin manusia yang sama bisa benar dalam 
memilih iman. Itu suatu keanehan. Lalu, mengapa iman adalah anugerah Tuhan ? 
Iman adalah anugerah Tuhan berarti anak-anak Tuhan dapat beriman ketika mereka 
dianugerahkan iman oleh Tuhan, sehingga ketika mereka dapat beriman di dalam 
Kristus, mereka semakin dapat memuliakan Tuhan karena tanpa-Nya, mereka tak 
mungkin bisa beriman. Ketika iman bukan anugerah Tuhan, maka manusia bisa 
membanggakan diri seolah-olah dia mampu memilih iman yang benar dan kemuliaan 
Tuhan dicuri karenanya. Selain iman, Roh Kudus pula lah yang mencerahkan hati 
dan pikiran mereka untuk bertobat dan kembali kepada Kristus baik melalui 
sarana KKR, penginjilan, mendengarkan kaset khotbah, dll. Di dalam "theologia" 
Injili selalu ditekankan bahwa bertobat dahulu baru dilahirbarukan, sedangkan 
theologia Reformed mengajarkan bahwa setelah dilahirbarukan, manusia 
pilihan-Nya bisa mengerti dosa-dosa mereka, lalu bertobat dan kembali kepada 
Kristus. Theologia Reformed selalu menempatkan kedaulatan Tuhan bahkan di dalam 
proses keselamatan ini karena memang keselamatan adalah 100% anugerah Tuhan 
(bukan sebagian). Di dalam proses mencerahkan hati dan pikiran ini, anugerah 
Roh Kudus ini murni tidak bisa ditolak oleh manusia (di dalam 5 pokok 
Calvinisme, poin ini disebut Irresistible Grace/Anugerah yang Tidak Dapat 
Ditolak) dan bukan juga berarti Roh Kudus memaksa, tetapi Roh Kudus melembutkan 
hati dan pikiran manusia pilihan-Nya yang keras dan memberontak sehingga dengan 
rendah hati dan taat mutlak mereka bertobat dan kembali kepada Kristus.

Kelima, Tuhan membenarkan kaum pilihan yang telah bertobat dan beriman dengan 
cara mengimputasikan kebenaran Kristus kepada mereka sehingga mereka dinyatakan 
benar (righteous) atau tidak salah. Paulus mengajarkan hal ini di dalam 
pengontrasannya dengan dosa Adam pertama di dalam Roma 5:18, "Sebab itu, sama 
seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula 
oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup." Ayat 
ini berarti sama seperti dosa Adam pertama mengakibatkan semua manusia memiliki 
dosa asal, maka Kebenaran yang dikerjakan Kristus sebagai Adam kedua juga 
mengakibatkan semua manusia di dalam Kristus (umat pilihan-Nya) beroleh 
pembenaran. Dengan kata lain, kita dibenarkan atau dinyatakan benar oleh Tuhan 
bukan karena tindakan baik kita tetapi karena Kristus telah mengerjakan 
kebenaran bagi kita (solus Christus). Ini pasti merupakan suatu tindakan 
anugerah Tuhan karena tak mungkin manusia berdosa dibenarkan kalau bukan 
pekerjaan Tuhan sendiri.

Keenam, Tuhan mengadopsi umat pilihan menjadi anak-anak-Nya di dalam Kristus. 
Berarti, setelah dibenarkan, mereka yang termasuk umat pilihan mendapatkan hak 
istimewa (privilege) menjadi anak-anak-Nya. Tetapi tidak berarti karena kita 
adalah anak-anak-Nya, kita bisa manja dengan Tuhan. Menjadi anak-anak Tuhan 
berarti secara status kita telah diadopsi dan juga secara kondisi kita harus 
terus-menerus memiliki keinginan untuk serupa dengan Tuhan. Sama seperti 
hubungan kita dengan orangtua, maka kita sebagai anak harus belajar untuk hidup 
dewasa/mandiri karena kita pun sebentar lagi akan menjadi orangtua bagi 
anak-anak kita. Menjadi anak berbicara dua hal, yaitu hak istimewa dan 
kedewasaan.

Ketujuh, setelah umat pilihan-Nya diadopsi, Tuhan tetap bekerja menjaga 
keselamatan tersebut supaya tidak hilang (di dalam 5 pokok Calvinisme, poin ini 
disebut Perseverance of the Saints/Ketekunan Orang-! orang Kudus) dengan cara 
memimpin mereka di dalam pengudusan terus-menerus (progressive sanctification) 
oleh Roh Kudus. Kalau "theologia" Arminian (yang mempengaruhi banyak 
"theologia" Injili, Karismatik/Pentakosta, Baptis, dll) mengajarkan bahwa 
keselamatan manusia bisa hilang, maka theologia Reformed dengan tegas menolak 
hal tersebut dan mengajarkan satu prinsip Alkitab yang konsisten bahwa 
keselamatan manusia pilihan-Nya di dalam Kristus tak mungkin bisa hilang, 
karena ada Tuhan yang menjaganya (Yohanes 6:39, "Dan Inilah kehendak Dia yang 
telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku 
jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman." dan 
Yohanes 10:27-29, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka 
dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan 
mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan 
merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih 
besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan 
Bapa."). Kedua ayat ini saja sudah mengajarkan bahwa Tuhan memelihara 
keselamatan anak-anak-Nya sehingga tak mungkin bisa hilang. Di dalam Yohanes 
3:16, Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang percaya di dalam nama-Nya tidak akan 
binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kalau keselamatan umat pilihan-Nya 
bisa hilang, maka Yohanes 3:16 akan mengajarkan bahwa orang yang percaya di 
dalam nama-Nya akan beroleh hidup yang sebagian kekal. Kesalahan fatal 
"theologia" Arminian dalam menegakkan doktrin keselamatan yang bisa hilang 
(karena orang "Kristen" tersebut "murtad" atau tidak menjaga keselamatannya) 
adalah mereka menempatkan Tuhan di bawah manusia (superioritas manusia), 
sehingga seolah-olah menurut mereka, "Tuhan" pun "kewalahan" dengan tindakan 
manusia jika mereka tidak mau diselamatkan. Hai orang Kristen, maukah Anda 
memiliki "Tuhan" seperti ini yang selalu serba "kewalahan" terhadap tindakan 
manusia ?! Kalau jawaban Anda : "mau", berarti ada yang tidak beres dengan 
pikiran Anda. Secara ringkas, mengutip pernyataan dari Prof. Dr. Louis Berkhof 
di dalam buku Teologi Sistematika : Doktrin Tuhan, saya menyatakan bahwa 
Arminianisme di dalam batas tertentu mirip dengan ajaran Deisme yang 
mengajarkan bahwa Tuhan "cuek" atau tidak memelihara apa yang telah 
dikerjakan-Nya. Ini jelas bukan iman Kristen yang Alkitabiah ! Puji Tuhan, 
Tuhan menyelamatkan kita dalam rangkaian proses yang sedemikian indah sehingga 
proses ini seharusnya membuat kita sadar dan bersyukur atas anugerah-Nya lalu 
dengan rendah hati menaati semua perintah dan kehendak-Nya di dalam proses 
pengudusan terus-menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. 
Ingatlah, anak-anak Tuhan yang telah ditebus Kristus masih bisa berbuat dosa, 
tetapi kuasa dosa itu tidak bisa menguasai mereka karena ada Roh Kudus yang 
memimpin, menuntun, menolong, mengajar, menghibur dan memelihara kehidupan kita 
sehingga kita tak mungkin bisa jatuh atau murtad atau kehilangan keselamatan 
kita. Dengan kata lain, Roh Kudus memampukan kita untuk mampu berbuat baik 
(padahal sebelumnya, manusia yang berdosa tidak mampu berbuat baik, sebaliknya 
mereka hanya mampu berbuat jahat) sesuai dengan kehendak-Nya dan untuk 
kemuliaan-Nya.

Terakhir (kedelapan), Tuhan yang telah menguduskan umat pilihan, Dia juga lah 
yang akan membawa mereka kepada kemuliaan (glorification). Kemuliaan merupakan 
akhir dari segala-galanya. Bagi mereka yang telah ditetapkan untuk binasa, maka 
neraka lah tempat akhir mereka, sedangkan bagi mereka yang telah ditetapkan-Nya 
untuk diselamatkan, maka kemuliaan, mahkota dan Surga lah tempat akhir mereka. 
Dan lagi, di dalam kemuliaan, kita benar-benar mendapatkan keselamatan kekal 
dan sempurna serta kita menjadi suci 100% (kondisi non-posse peccare atau tidak 
bisa berdosa). Mengapa ? Karena kita telah dikaruniai-Nya tubuh dan jiwa yang 
baru di dalam langit dan bumi yang baru kelak, sehingga kita tak mungkin bisa 
berdosa lagi. Pengharapan ini merupakan suatu pengharapan yang sangat besar dan 
berharga bagi kita.
(Williamson, 2006, pp. 135-136)

4.3      Iman dan Perbuatan Baik Di Dalam Kerangka Keselamatan Manusia dari 
Tuhan
Setelah Tuhan memilih dan menyelamatkan kita, lalu apakah kita boleh bertindak 
seenaknya sendiri dengan alasan keselamatan kita tidak bisa hilang ? Ini yang 
serin! g diserang oleh banyak "theologia" non-Reformed terhadap theologia 
Reformed, karena mereka menyangka bahwa doktrin sekali selamat selamanya 
selamat membuat orang Kristen malas berbuat baik. Benarkah demikian ? Mari kita 
memperhatikan perjalanan sejarah gereja. Gereja Katolik Roma (zaman Abad 
Pertengahan) sangat menekankan perbuatan baik, sehingga mereka hanya menekankan 
aspek tersebut berkaitan dengan keadilan Tuhan. Dengan kata lain, para pemimpin 
mereka berani mengancam jemaat-jemaatnya dan para pelayan Tuhan supaya hidup 
kudus karena Tuhan itu Hakim yang akan menghukum manusia yang tidak taat. 
Kemudian, Reformasi muncul pada tahun 1517 dengan munculnya Dr. Martin Luther 
yang mendobrak bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, tetapi iman. Lalu, 
ajaran ini diteladani oleh banyak orang yang sudah tidak menghargai Katolik 
Roma. Tetapi kenyataannya, mereka yang mengikuti Luther menjadi terlalu 
ekstrim. Artinya mereka hanya mementingkan diselamatkan melalui iman lalu tidak 
lagi mementingkan perbuatan, bahkan mereka berani mabuk-mabukan, hidup tidak 
beres, dll, sehingga mereka menjadi bahan olok-olokan dari pihak Katolik Roma. 
Lalu, ditambah ajaran Calvin yang mengajarkan bahwa keselamatan tidak bisa 
hilang, banyak orang Kristen salah mengartikannya lalu enggan berbuat baik, 
karena yang penting sudah menjadi Kristen berarti sudah ada jaminan masuk 
Surga. Benarkah demikian ? TIDAK. Tuhan melalui Rasul Yohanes mengajarkan, 
"Setiap orang yang lahir dari Tuhan, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi 
tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari 
Tuhan." (1 Yohanes 3:9) Kata "lagi" di dalam ayat ini berarti setiap orang yang 
lahir dari Tuhan atau disebut anak-anak Tuhan tidak mungkin terus-menerus 
berbuat dosa. Berarti, anak-anak Tuhan sejati harus mengerjakan perbuatan baik 
dan menindas dosa dengan kebenaran Tuhan (padahal sebelumnya, kecenderungan 
hati manusia berdosa menindas kebenaran Tuhan dengan dosa). Dengan kata lain, 
perbuatan baik merupakan perwujudnyataan iman dan ketaatan sejati anak-anak 
Tuhan. Adalah suatu ketidakbenaran jika ada sekelompok "Kristen" mengatakan 
bahwa kalau tanpa perbuatan, keselamatan menjadi hilang atau orang percaya 
tidak dapat masuk Surga. Hal ini tidak dapat dibenarkan, karena penjahat yang 
di samping Kristus ketika disalib ternyata atas anugerah-Nya diselamatkan, dan 
ia belum pernah berbuat baik, tetapi Kristus pada waktu itu berkata bahwa pada 
saat itu ia dan Kristus bersama-sama di Firdaus. Barangsiapa yang 
menitikberatkan perbuatan lebih daripada iman atau menjadikan perbuatan menjadi 
standar penguji kebenaran iman, orang itu di titik pertama sudah menyatakan 
superioritas manusia di atas Tuhan sekaligus melawan Alkitab ! Jadi, perbuatan 
baik kita diperlukan bukan sebagai syarat untuk diselamatkan, tetapi sebagai 
respon ucapan syukur kita karena telah diselamatkan dan juga sekaligus untuk 
menyaksikan Injil Kristus kepada semua orang sehingga mereka yang telah 
dipilih-Nya kembali kepada Kristus (Roma 11:36 ; Filipi 2:12-16 ; Yakobus 
2:14-26).

Kirim email ke