From: Denny Teguh Sutandio CHRISTIANITY&POSTMODERN CULTURE oleh : Ev. Ivan Kristiono, M.Div.
Kita akan melihat bagaimana culture dipengaruhi postmodern. Setiap orang Kristen harus menyatakan Kristus pada zaman di mana dia dipanggil. Untuk ini perlu kepekaan untuk melihat tantangan zaman. Saya akan masuk melalui doktrin Tuhan. Kemarin kita belajar tentang iman yang ditanam di dalam diri manusia. Surat Roma mengatakan bahwa manusia mengenal Tuhan tetapi tidak menyembah Dia. Lalu manusia j! uga menindas kebenaran. Kalau manusia menindas kebenaran, mereka ganti dengan apa ? Dengan kebohongan. Mereka tidak mau Tuhan tetapi mau jadi Tuhan. Manusia tidak mau menerima otoritas Tuhan dalam dirinya. Manusia tidak mau otoritas, apalagi yang bersifat pribadi. Otoritas yang bersifat non personal dapat diterima. Gaya gravitasi diterima, tetapi kedaulatan Tuhan ditolak. Mana duluan ? Keberadaan atau pikiran ? Apakah saya berpikir maka saya ada ? Ataukah saya ada, karena itu saya berpikir ? Semua ini menjadi terjawab dalam keberadaan Tuhan karena Tuhan adalah realita dasar. Van Til dalam berapologetika mengatakan pikiran orang berdosa pasti akan berkontradiksi dan irasional. Pdt. Dr. Stephen Tong mengatkaan bahwa setiap pikiran yang melawan Alkitab mengandung self defeating potentiality dan time bomb yang akan meledak. Saat manusia menolak Tuhan akan terjadi global autism. Semua bikin dunia sendiri. Di dalam Tuhan tidak ada kontradiksi, melainkan koherensi. Karena itu, dalam dunia ciptaan ini tidak ada hal-hal yang tidak bersifat koheren. Misalkan, kasih yang sejati tidak mungkin dapat lepas dari keadilan, kebenaran dan kesucian. Demikian juga keadilan tidak mungkin lepas dari kasih, kebenaran, kesucian dan seterusnya. Kalau manusia hidup tidak mau percaya kepada Tuhan sekalipun, mereka tidak dapat menolak kebutuhan akan Tuhan dalam diri manusia. Kalau begitu, tempat yang seharusnya diisi Tuhan bagaimana ? Diganti dengan spiritualitas. Tuhan tidak ada dalam film Star Wars. Tetapi kebutuhan akan Tuhannya George Lucas membuat posisi Tuhan dalam film itu diganti dengan "force". Banyak gereja tidak sadar bahwa gereja sedang mengadopsi spiritualitas. Apa sih spiritualitas ? Spiritualitas adalah agama tanpa tuntutan. Sebagai hamba kita dituntut untuk menyangkal diri, bahkan menderita dalam menyembah Tuhan. Tetapi spiritualitas tidak menuntut apa-apa dari penganutnya. Namanya pelayan tugasnya melayani tuannya. Karena itu gereja yang tidak memberi tuntutan apa-apa kepada jemaat dalam melayani Tuhan bukan keKristenan, tetapi spiritualitas. Tuhan adalah yang berdaulat dan sumber realitas. Dalam pemberontakannya, manusia membangun banyak realitas. Contohnya dunia Plato. Plato memikirkan bahwa dunia seharusnya tidak terbatas pada dunia indera saja, tetapi ada juga dunia ide. Tetapi pembagian ini menjebak orang untuk berpikir bahwa materi itu jahat dan ide itu baik. Tetapi Paulus berkata persembahkanlah tubuhmu untuk transforming mind. Di mana-mana tubuh dianggap jahat, tetapi hanya keKristenan yang menempatkan tubuh sebagai sesuatu yang indah dan mulia. Dalam tiap worldview buatan manusia pasti ada cacatnya. Di sinilah tempat kita dapat masuk dan menunjukkan kepada mereka kecacatan worldview mereka. Tempat di mana saudara menjadi terang, pelajarilah di mana dapat masuk. Inilah apologetika. Orang modern mementingkan rasio dan berkeyakinan bahwa rasio menjawab segala sesuatu. Mereka menolak hierarki dan otoritas lain di luar rasio. Modernisme percaya solusi rasional, sehingga kalau diberi pengertian rasional, manusia tidak akan jahat. Apakah benar ? Tidak. Orang modern tidak menerima kerusakan total manusia. Tetapi mereka punya konsep yang optimis dari manusia. Kebaikan pasti menang. Kejahatan pada akhirnya pasti kalah. Ini juga yang menjadi filosofi komik-komik modern. Ada batasan yang jelas mengenai mana baik mana jahat. Kebaikan pada akhirnya menang. Ciri lain yang ditonjolkan adalah freedom dan mandiri. Tetapi freedom dari modern adalah tidak ada yang mengikat saya, tetapi sayalah yang menentukan sendiri. Ini bukanlah konsep keKristenan. Konsep keKristenan adalah mandiri tetapi berelasi, sebagaimana Tuhan Tritunggal yang menjadi patron. Orang modern meninggikan kebenaran obyektif dan rasio, dan survival of the fittest. Tetapi dalam postmodern mulai meninggalkan hal-hal ini. Tidak lagi survival of the fittest, yang ada keberhasilan kelompok. Ke! benaran bersifat kelompok. Benar menurut kelompok tertentu. Wittgenstein mengatakan bahwa kebenaran hanyalah game theory bahasa dari kelompok tertentu. Mengapa dalam zaman postmodern seni rendah dapat bernilai tinggi ? Karena tidak ada nilai obyektif. Harga jadi mahal karena kelompok tertentu menambahkan nilai kepada sesuatu. Dalam komik Superman, sang Superman dimatikan oleh DC comics. Tetapi karena penggemarnya protes, maka mereka membangkitkan kembali "superman". Banyak Superman. Inilah konsep dari postmodern. Sang Superman tunggal sudah mati. Kebenaran obyektif tidak ada lagi. Yang ada sekarang supermen muncul di mana-mana. Sama-sama membela kebenaran di daerah mereka masing-masing. Lalu mereka mulai berantem satu sama lain. Kalau kebenaran dianggap berlaku universal, pasti akan berantem. Maka itu, kebenaran itu tidak ada. Apa yang dianggap benar saja. Masing-masing. Baudrillard mengatakan kons! ep simulacra, yaitu yang mana simulasi yang mana real me njadi tidak jelas. TV meniru realita sehari-hari, padahal realita sehari-hari itu meniru TV. Jadi, mana yang realita sehari-hari ? Tidak jelas. Postmodern menerima konsep gabungan dari mana-mana tanpa menuntut adanya koherensi. Kalau orang modern menyusun worldview yang rasional dan menuntut koherensi, postmodern tidak mempedulikan hal ini. Bagaimana berapologetika dengan mereka ? KeKristenan adalah yang benar. Mereka akan menjawab, "Jangan labeling... Agama yang lain juga boleh." Homoseksual itu dosa. Dijawab lagi, "Jangan labeling. Kasihan mereka. Mari bergandengtangan, mari menghargai perbedaan." Dalam komik "Kingdom Come", Superman berbicara kepada jagoan muda, "Ada orang baik, dan ada orang jahat. Tidak sulit untuk membedakan keduanya." Tetapi kemudian para jagoan muda itu ditangkap. Lalu, mereka berkata, "kami menangkap penjahat malah dipenjara. Apa itu baik ? Apa itu jahat ?" Komik ini juga memperkenalkan Batman yang ambigu. Kita tidak tahu Batman itu baik atau jahat. Postmodern juga anti formalitas. Ini pengaruh yang masuk ke gereja. Sekarang zaman kemah Daud. Dulu zaman kemah Musa. Dalam kemah Musa orang beribadah dengan teratur, tetapi dalam kemah Daud semua loncat-loncat. Daud tidak pernah bikin kemah ! Salomo yang akhirnya mendirikan Bait Tuhan, dan ketika inagurasi, tidak satu orang pun yang berani loncat-loncat. Betulkah tidak boleh ada keteraturan ? Ini spirit antiformalisme. Mari kita peka dan kita melihat. Bagaimana memberitakan Injil kepada mereka ? Kita harus memberi pesan, bukan informasi, kepada mereka. Pesan itu haruslah sesuatu yang kontekstual dengan hidup mereka. Inkarnasi, dan ikut dalam pergumulan mereka. Berikutnya adalah be a model for them. Harus punya otoritas dan menjadi contoh bagi mereka. Lalu harus melakukan relational ministry atau team ministry. Karena kita tidak memiliki seluruh kemampuan. Kita perlu orang lain. Selanjutnya adalah membentuk budaya tandingan sehingga mereka melihat adanya budaya alternatif selain dari apa yang mereka kenal. Disarikan dari : Ringkasan khotbah Ev. Ivan Kristiono di di dalam buku ringkasan khotbah National Reformed Evangelical Youth Convention (NREYC) 2006 pada sesi 10. Profil Ev. Ivan Kristiono : Ev. Ivan Kristiono, M.Div. adalah Pembina Remaja di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Pusat Jakarta dan dosen di Sekolah Theologia Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Reformed, Jakarta. ============================================= From: konseling_lk3 Peranan Roh Kudus Dalam Konseling (Workshop LK3) (Bagian pertama dari SELF HEALING & SELF COUNSELING) Perbedaan mendasar konseling pastoral dengan konseling sekuler terletak pada dua hal: Pertama, konseling pastoral bersifat 'trialog'. Menyadari dan Melibatkan Tuhan dalam konseling. Kedua, menyertakan doa dan firman Tuhan. 1. Peranan Roh Kudus Peranan Roh Kudus sangat sentarl dalam konseling. Yesus dalam awal pelayanannya berkata : "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. (Lukas 4:18-19) Bagi kita para konselor, Roh Kudus lah (sumber) yang memberikan kita kuasa, kekuatan, kemauan dan bijaksana dalam menolong, menghibur dan menguatkan mereka yang sedang tidak berdaya. Roh Kudus lah yang membantu kita beremapti dengan benar. Bagi konseli, Roh kuduslah yang mampu menyadarkan klien kita dari dosa dan kesalahannya. Rohkuduslah yang mampu mengubah hati dan karakter dari konseli kita menuju perubahan hidup yang lebih baik. Roh Kudus juga yang memmbantu kita mengingatkan, mengolah dan menerjemahkan Firman Tuhan yang dibutuhkan oleh klien kita. Menyampaikan pada waktu yang tepat, dan dengan bahasa yang dimengerti klien kita. Dalam pengalaman pribadi saya sebagai konselor selama 15 tahun ini, Roh Kudus menjadi kekuatan utama dan mendasar. Dialah yang meneguhkan saya ketika ingin mundur dari pelayanan ini. Penghiburannya yang luar biasa kepada saya pribadi, itulah juga yang saya bagikan kepada klien saya. Kalau pengalaman dengan Roh Kudus kering, apa yang bisa kita bagikan kepada mereka yang kita layani? Tentu tidak ada. Sebagai mana namanya Roh Penghibur, Dia selalu menghibur kita dalam keadaan apapun. Pengalaman dan pengetahuan konseling tidak cukup bagi seorang konselor, lebih dari itu adalah pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus dan RohNya. 2. Peranan Doa dan Firman Sebelum dan selama konseling doa pribadi merupakan hal yang utama bagi saya. Doa selalu mengkoneksikan diri saya dengan Tuhan semesta Alam. Kepekaan suara Tuhan hanya mungkin jika memiliki kehidupan doa yang baik. Tentu tidak selalu saya mengajak klien berdoa sebelum dan sesudah konseling. Tetapi secara pribadi saya mendoakan klien dan proses konseling yang saya lakukan. Umumnya klien datang dalam keadaan yang sangat berat dan kritis. Mereka membutuhkan penghiburan sejati, dan tentu saja itu berasal dari Firman Tuhan. Tentu yang kita olah dalam bahasa yang dimengerti klien kita (bukan sekedar comot comot ayat). Juga bukan mengkotbahi klien dalam konseling. Tetapi Firman menjadi dasar setiap nasehat dan solusi yang kita ambil di bagian akhir konseling. Selama konseling (di dalam hati tentunya) saya sewaktu2 berdoa, minta bijaksana dan kekuatan Tuhan. Baik untuk mendengarkan klien, menanggapi atau memberi alternatif solusi. Kalau kita bersandar kekuatan pada diri sendiri kita akan gagal sebagi konselor. Selain itu bagi sebagian klien doa sangat mereka butuhkan sebagai kekuatan. Doa memberkan konfirmasi di dalam hati klien kita, bahwa Tuhan selalu bersama mereka sekalipun masalah sedang mereka hadapi. Firman menjadi dasar yang memberikan mereka harapan untuk terus berjuang dalam masalah. Pengharapan (hope) itu bagaikan jangkar yang menguatkan jiwa klien kita saat gelombang pasang kehidupan menerpa mereka. Kiranya sharing ini berguna bagi kita. Salam konseling Julianto & Roswitha LAYANAN KONSELING KELUARGA DAN KARIR (LK3)

