From: Eksposisi Roma 

Tinjauan Kritis Terhadap "Theologia" Religionum 
(Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.)

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembahasan
Keberadaan agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan 
keunikan agama, sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya 
toleransi. Keberadaan toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh 
subur di Indonesia.
Namun tanpa disadari metode tolerasi (dialog lintas agama) yang dikembangkan 
oleh Gereja di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum telah merubah arti 
dan hakekat dari iman Kristen itu sendiri. 
Metode dialog antar umat beragama yang pada mulanya hanya sekedar wadah 
persekutuan dan sebagai ekspresi saling menghargai dan menghormati. Dalam 
perkembangannya berubah menjadi usaha dari masing-masing agama dan antar umat 
beragama yang lainnya untuk saling mempelajari kesamaan-kesamaan kebenaran yang 
mereka anut, sampai taraf dimana mereka dapat saling menerima keabsahan dan 
kebenaran semua agama (Pluralisme Agama).

[1] Dan dalam perkembangannya gerakan ini yaitu "Pluralisme Agama" akhirnya 
melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai "Teologi Religionum". 
Jika gerakan "Pluralisme Agama" hanya sekedar menerima dan mengakui ada 
kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran 
agama-agama yang mereka percayai. Tetapi lain dengan "Teologi Religionum", 
gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua 
kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan 
yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara 
mereka. Dalam hal ini termasuk juga "Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai 
Tuhan 
dan Juru Selamat" di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua 
klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi 
mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah "relative". 
Semboyan dari gerakan "Teologi Religionum" yang sering mereka kumandangkan 
adalah "Deep down, all religions are the same - different paths leading to the 
same goal".

[2] Jadi gerakan pluralisme agama
[3] dan Teologi Religionum ini adalah suatu gerakan yang sangat berbahaya di 
dalam menghancurkan identitas iman Kristen dan juga menjadi tantangan bagi iman 
Kristen. Teologi Religionum ini bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, 
antropologis, melainkan konsep filsafat agama yang bukan bertolak dari Alkitab, 
melainkan dari fakta kemajemukan yang diikuti oleh tuntutan toleransi dan di 
dukung oleh keberadaan social-politik yang mendukung kemajemukan etnis, budaya 
dan agama, serta disponsori oleh semangat globalisasi, filsafat relativisme dan 
filsafat postmodernisme.

B. Batasan Pembahasan Seminar
Di dalam seminar hari ini pembahasannya hanya memfokuskan pada "Finalitas Karya 
Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat" yang ditolak oleh "Teologi 
Religionum". Karena mengingat seminar kita ini waktunya sangat pendek, & 
pembahasan teologi religionum" sendiri itu sangat luas isinya. Maka kita harus 
mempersempit pengulasan nya pada pandangan teologi religionum dalam dunia 
kekristenan yang menolak "Keunikan Yesus Kristus", yang menjadi inti pengajaran 
"Teologi Religionum" di dalam kekristenan.
Walaupun kita memfokuskan pembahasannya pada "Keunikan Yesus Kristus". Hal ini 
bukan berarti kita tidak akan menyinggung bidang-bidang yang lain dari "Teologi 
Religionum", misalnya pandangan mereka tentang Alkitab, Manusia & Dosa, 
Hermeneutika. 
Besar harapan saya para peserta seminar ditempat ini dapat mengembangkan studi 
kritis tentang teologi religionum di depan demi kemuliaan Kristus, sehingga 
kita tidak membiarkan virus ajaran ini masuk gereja. 

BAB II : LATAR BELAKANG & SEJARAH BANGKITNYA TEOLOGI RELIGIONUM

A. Pengertian Kata: Pluralitas, Pluralisme dan Teologi Religionum.

Kata "Plural" berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya "jamak" dan ketika 
kata ini ditambah akhirannya menjadi "Pluralitas" ini berarti "kemajemukan". 
Dan jika akhir dari kata "plural" ini ditambah dengan kata "isme" ini berarti 
ada ajaran-ajaran/isme-isme 
di dalam kemajemukan agama. Jadi arti "Pluralisme Agama" adalah gerakan yang 
berupaya untuk mempersatukan agama-agama agar kebenaran-kebenaran yang beragam 
dapat saling mengisi dan melengkapi. Jadi dengan kata lain mereka saling 
membuka diri untuk saling dapat menerima semua keberadaan agama-agama yang 
lainnya, dengan tidak membicarakan atau mempertajam keberbedaan pengajaran 
mereka masing-masing.
Kata "Teologi" berasal dari Yunani "Theos" dan "Logos". 
Kata Theos artinya Tuhan, dan kata logos sendiri artinya Firman/Kebenaran yang 
dinyatakan.

[4] Jadi "Teologi" artinya suatu peryataan atau interprestasi kebenaran tentang 
Tuhan. Jadi "Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God."

[5] Sedangkan kata "Religionum" berasal dari bahasa Inggris "Religions" yang 
artinya agama-agama. Jadi pada waktu kata ini digabung menjadi teologi 
religionum (Theology of Religions) secara umum pengertian ini oke-oke saja. 
Tetapi secara khusus saya tidak setuju karena jika ke dua kata ini dilihat dari 
iman Kristen, ini tidak mungkin dapat digabung, mari kita ulas. Pengertian 
teologi secara umum dimengerti sebagai bentuk studi tentang Tuhan 
(Atribut-atribut-Nya dan sifat-sifat-Nya) yang telah Ia nyatakan melalui 
Alkitab sebagai wahyu khusus. Jika istilah kata "teologi" digabung dengan kata 
"religionum" menjadi "teologi religionum" ini artinya kita mengakui adanya 
Tuhan yang benar di dalam agama-agama yang lain, di luar kekristenan. Jika 
demikian arti teologi religionum adalah suatu gerakan yang berupaya untuk 
mempersatukan agama-agama yang ada dengan spirit menolak semua klaim agama yang 
bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Mereka memiliki cita-cita untuk 
melahirkan suatu konsep agama yang baru dan agama ini saya sebut sebagai agama 
bersama (Together Religion). 
Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah 
filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi 
pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri. Gerakan 
ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti 
Tuhan tidak akan 
turut campur.
Sebagai kesimpulan, jadi gerakan "teologi religionum" di dalam kekristenan 
adalah suatu gerakan yang berupaya untuk membuang dan menolak "Finalitas Karya 
Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya". Teologi Religionum 
memakai pendekatan "The Christology from Below" yaitu suatu teologi yang 
dibangun dari bawah ke atas. 
Teologi seperti ini lebih mementingkan kontekstual dari pada teks dan juga 
mementing teologi fungsional daripada ontological. 

[6] Teologi dari bawah ke atas ini sangat disenangi dikalangan mereka. 
Seperti juga yang ditekankan oleh Th. Sumartana, bahwa yang  diperlukan bukan 
hanya sekedar Kritologi agama-agama, Inklusif, 
lebih dalam lagi kita memerlukan teologi religionum.

[7]
B. Sejarah Pluralisme di dalam Alkitab
1. Perjanjian Lama
Ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai Bapa orang Israel untuk keluar dari 
Urkasdim. Panggilan Tuhan ini disertai dengan penyataan khusus (Special 
Revelation) dari Tuhan. Panggilan khusus inilah yang menjadi asal-muasal agama 
orang Israel, yaitu agama yang lahir dari atas (Tuhan) ke bawah (manusia). 
Sedangkan agama-agama lain di luar Israel adalah agama-agama yang lahir dari 
manusia sebagai ekspresi terhadap wahyu umum (General Revelation).
Ketika dua sumber agama ini hadir di PL, berarti pada saat itu sudah ada 
persoalan dalam kemajemukan agama yaitu agama penyataan khusus dan agama 
penyataan umum. Dimana agama penyataan umum berusaha untuk membuang keunikan 
iman bangsa Israel, supaya dapat beribadah dengan agama mereka yang menyembah 
berhala-berhala. Sebagai contoh ketika raja Israel yaitu Ahab menikah dengan 
Izebel anak raja Tirus, maka akhirnya raja Ahab dipengaruhi istrinya untuk 
menyembah Baal dari Tirus, agar dijadikan sebagai resmi di Israel. Tetapi upaya 
Izebel ini di lawan oleh nabi Elia (1 Raja 18) dengan cara menantang para 
nabi-nabi palsu mereka. Dan Elia pada saat itu membuktikan bahwa Tuhan Yahweh 
adalah Tuhan yang sejati yang layak untuk disembah dan bukan berhala-berhala 
(Kel 20:2-5). Jadi di PL Tuhan sangat mengecam dan tidak kompromi dengan 
kegiatan-kegiatan ibadah dari ilah-ilah asing untuk masuk dalam komunitas 
umat-Nya (dengan sikap Eksklusif).
Tuhan memang mengajarkan umat-Nya agar memiliki sikap yang eksklusif terhadap 
agama-agama asing yang tidak mempercayai Tuhan Yahweh atau Tuhan yang esa (Ul 
6:4). Agama-agama asing yang ada pada saat itu sangatlah tidak cukup untuk 
mengerti wahyu umum karena sifatnya mereka hanya dapat berespon terhadap wahyu 
umum. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan "penerangan dari kepercayaan 
bangsa Israel" dan penerangan itu di dapat hanya melalui pengenalan terhadap 
Yahweh, sebagai agama resmi bangsa Israel pada saat itu.

[8]
2. Perjanjian Baru
Kemajemukan agama di dalam era Perjanjian Baru sangat nampak terjadi. Hal ini 
nyata dengan adanya agama-agama rakyat yang tersebar di berbagai tempat pada 
era pemerintahan kaisar Romawi (Pantheon Greko Romawi).
[9] Mereka pada saat itu menyembah kepada "Realitas Ilahi" yang tidak 
berpribadi, namun ada dan diam di alam semesta dan diri manusia (Pantheisme & 
dualisme), misalnya kepada dewi Diana di Korintus, dewi Isis dan Osiris di 
Mesir, para Baal di Siria, dewa Mitras di Persia dan dewi Kybele di Asia kecil. 
Hal ditambah lagi dengan agama rakyat Yunani yang percaya pada Jupiter (Zeus), 
Juno (Hera), Neptune (Posedon), Marcury (Hermes). 
Selain berhadapan dengan kemajemukan agama pada saat itu. Gereja mula-mula juga 
berhadapan dengan kemajemukan iman yang pada saat itu ada, yaitu: penyembahan 
kepada Kaisar, Agama Yudaisme dan Filsafat Helenistik.
[10] Penyembahan kepada kaisar pada saat itu bersifat mutlak dan tidak dapat di 
tawar-tawar lagi. Mereka percaya bahwa kaisar merupakan titisan dewa yang 
memiliki kuasa ilahi karena berasal dari dunia metafisik. Penyembahan kepada 
kaisar ini juga 
merupakan ekspresi kesetiaan rakyat kepada kaisar. Oleh karena jika para 
pengikut Kristus pada saat menolak untuk menyembah Kaisar dan tetap 
mempertahankan imannya kepada Yesus, mesti resikonya mengalami penganiayaan dan 
hukuman mati (band. Kol 2:18-19). Mereka tetap setia kepada Kristus dan tetap 
bersikap Ekslusifitas.
Sikap gereja saat menghadapi kemajemukan agama pada saat itu tetap eksklusif. 
Pengikut Kristus pada saat itu disebut sebagai "Kristen". 
Kata ini saja sudah menjelaskan sikap yang eksklusif dan special (Kis 11:26, 
26:28 & I Pet 4:16). Sebutan kata "Kristen" ini sering dipakai oleh mereka yang 
tidak percaya kepada Kristus sebagai bentuk kata pengejekan. Walaupun demikian 
orang-orang Kristen pada saat itu tetap bangga dengan kepercayaannya kepada 
Kristus dan menolak agama-agama lain di luar Kristus. Walaupun orang-orang 
Kristen pada saat itu bersikap eksklusif bukan berarti mereka tidak bergaul 
dengan mereka (Yudaisme dan Helenistik, dll). Sebagai contoh, ketika Barnabas 
dan Paulus berhadapan dengan agama-agama lain, yang memuja dewa Zeus dan 
Hermes. Mereka menghadapinya dengan sopan, arif dan menghargai. Maksudnya tidak 
ada sikap untuk menghakimi kepercayaan mereka itu. (KPR 14). Jemaat di Korintus 
juga hidup berdampingan dengan agama-agama lain (1 Kor 8-11).
Contoh yang lainnya adalah tentang latar belakang dari penulis Injil Matius 
yang mengalamatkan Injilnya pada orang-orang Kristen Yahudi, dengan tidak 
mengambil pengajaran Yudaisme. Demikian juga dengan penulis Injil Lukas dan 
Injil Yohanes, yang mengalamatkan suratnya kepada orang Kristen Yunani. Baik 
Lukas dan Yohanes tidak memakai pemikiran Helenistik di dalam tulisannya, 
kecuali penggunaan istilah. Sikap para penulis Injil menunjukkan kepada kita 
bahwa sikap eksklusif sangat Alkitabiah.

C. Di dalam Sejarah
1. Clement & Origenes (Universalisme)
Clement (150-215) berpendapat bahwa "pengenalan akan Tuhan bagi orang Yahudi 
adalah melalui "Torat", sedangkan bagi orang Yunani adalah melalui filsafat 
inspirasi "Logos". 
Origenes juga berpendapat bahwa "pada akhirnya, semua mahluk akan 
diselamatkan, termasuk setan."
[11] Pandangan mereka ini mempunyai dampak sampai abad pertengahan.

2. Renaisance (abad ke-14 akhir) & Enlightenment (abad ke-18) Johann Wilhelm 
Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721). Ke dua tokoh ini 
mengajarkan mengenai konsep pemulihan akhir dari jiwa-jiwa kepada Tuhan. 
Pengajaran mereka ini sampai membangkitkan "Universalisme" di Amerika. 

3. Friedric Schleiermacher (1768-1834)
Pengaruh konsep universalisme sangat mempengaruhi pemikiran Friedric S dan 
tokoh ini sering disebut sebagai bapak Teologi Liberal karena konsep-konsep 
pemikirannya yang radikal. Ia berani mengkritik Alkitab, bahkan menghasilkan 
suatu konsep yang menyatakan bahwa Alkitab bukanlah Firman Tuhan, tulisan 
Injil-injil bukanlah laporan 
tentang Yesus yang histories, melainkan Yesus yang di percayai (diimani). 
Maksudnya para penulis Injil tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus 
yang histories yang sungguh-sungguh pernah ada. Jadi bagi Schleirmacher para 
penulis Injil hanya menulis Yesus berdasarkan apa yang mereka tangkap dengan 
iman dan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Bahkan ia percaya ada unsure 
rekaan dari para penulis Injil. Karena ada jurang pemisah antara waktu Yesus 
hidup dengan waktu penulisan Injil itu sendiri. Oleh karena itu bagi 
Schleirmacher setiap para penafsir Alkitab harus menyingkirkan mitos-mitos, 
khususnya yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa mujijat yang tidak rasional 
seperti apa yang dilakukan oleh Yesus dan karya-karya-Nya. 
Konsep Schleirmacher yang mendukung teologi religionum adalah: 
a. Ia menerima konsep universalisme dengan mutlak. Ia percaya bahwa keselamatan 
diberikan Tuhan bagi semua orang, termasuk agama-agama lain.

[12]
b. Ia menolak konsep "Predestinasi". Ia menolak konsep bahwa keselamatan 
melalui penebusan Kristus adalah satu-satu jalan. Ia percaya bahwa hal itu 
hanya salah satu jalan di dalam kekristenan dan agama lain juga mempunyai jalan 
keselamatan.
c. Ia hanya menekan konsep "Kasih & Kemurahan Tuhan" saja. 
Bagi konsep Liberal, Tuhan tidak akan menyediakan dan mengirim seorang pun 
untuk dihukum dalam hukuman kekal, karena jika hal ini terjadi bertentangan 
dengan sifat kasih Tuhan.

Pandangan Schleirmacher ini sangat mendukung untuk berkembangnya teologi 
religionum di kalangan kekristenan, khususnya yang beraliran teologi Liberal. 
Yang dari mulanya menolak ke Tuhanan Yesus, yang sungguh-sungguh Tuhan (100%).

4. Konsili Vatikan II (1962-1965)
Melalui konsili ini sikap katholik yang tadinya eksklusif berubah menjadi 
inklusif. Mereka memutuskan bahwa "Kebenaran bukan hanya milik orang Kristen 
saja." Keputusan konsili ini menjadi pijakan baru di dalam menjawab tuntutan 
dalam hidup bersama dengan agama-agama lain. Konsili melahirkan konsep demikian:
"Mereka (agama-agama lain) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang 
bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, 
namun toh dengan tulus ikhlas mencari Tuhan dan tergerak oleh anugerah, 
berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana 
diketahui melalui hati nuraninya."

[13]
Konsep VatiKan II ini telah mempengaruhi para teolog-teolog modern katholik 
hingga pada saat ini, seperti:
a. Karl Rahner
Di dalam bukunya "Christianity and Non Christian Religions,"

[14] Ia mengatakan sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat 
ilahi yang adi-kodrati. Orang-orang dapat diselamatkan karena kasih karunia 
Kristus, sekalipun tanpa disadari oleh mereka. Ia dulu bersikap eksklusif, 
tetapi akhirnya berubah oleh karena pengalaman-pengalaman spritualitas dan 
pengamatannya terhadap perkembangan agama-agama yang ada. Sikap inklusifnya 
dibangun berdasarkan konsep "Anonymous Christian" yang artinya bahwa 
sesungguhnya orang-orang dapat memperoleh keselamatan sekalipun ia tidak 
memeluk agama Kristen. Mereka-mereka inilah yang disebut Kristen tanpa nama 
atau tanpa agama Kristen. Yang penting mereka menjalankan agamanya dan 
bermoral. 

b. Paul F. Knitter
Di dalam bukunya "No Other Name"

[15] ia mengatakan bahwa tidak ada klaim yang eksklusif yang menjadi milik inti 
ajaran Kristen. Ia menekankan sikap inklusif dari gereja katholik di dalam 
bersikap dengan agama-agama lain. Dengan kata lain Knitter mengatakan bahwa ada 
juga kebenaran tentang keselamatan di luar iman Kristen. Karena Tuhan ada juga 
di dalam agama-agama lain di luar kekristenan. Judul buku yang diberikan oleh 
Knitter ini bermaksud untuk mengejek kaum eksklusif yang percaya tidak ada nama 
lain yang menyelamatkan selain
nama Kristus. Knitter justru melalui tulisannya memaparkan justru ada nama yang 
lain (the other) yang dapat menyelamat umat manusia yang ada di agama-agama 
lain. Konsep Knitter ini telah meracuni juga pemikir teologi religionum di 
Indonesia yang Emanuel G. Singgih. 
Singgih mengusulkan untuk membangun sebuah gambaran teologis mengenai "the 
other", yang dimaksud "the other" ini adalah agama-agama lain.
[16] Walaupun ia menyebut teologis yang dapat dipertangung jawabkan secara 
Alkitabiah dan kontekstual. Tetap ia lebih mengutamakan konteks dari pada teks 
Alkitab itu sendiri. Jadi istilah teologis yang dimaksud oleh Kitter dan 
Singgih adalah teologi kompromi.

c. Hans Kung
Walaupun Hans Kung ... 
========================================
From: "Sughyati H" <[EMAIL PROTECTED]>

Dibalik sikap galak-nya.....

Pak Stephen Tong punya 2 orang murid di cina daratan yang begitu terinspirasi 
dengan kotbah kotbahnya dan 2 orang ini akhirnya berani menentang pemerintah 
Cina yang Ateis....  Dari 4 orang yang diundang George Bush karena berani 
melawan komunisme,  2 orang diantaranya adalah murid pak Tong.
Menurut laporan di negri Cina, ada 10-12 juta orang Kristen yang gigih, tiap 
hari sangat rindu mendengarkan kotbah kotbah pak Tong melalui kaset kaset yang 
diselundupkan....
Karena itulah.....pak Stephen Tong dimasukkan ke dalam daftar "the most
dangerous person" orang yang TIDAK BOLEH masuk ke Cina.... Beliau orang
yang paling cocok bicara dengan masyarakat Cina Daratan, karena dia SANGAT
PAKAR dibidang Sejarah, Seni, Budaya dan Filsafat Cina + ditambah punya
Iman Kekristenan yang SANGAT MENAKUTKAN orang orang Komunis Ateis.

Pak Tong dalam kotbahnya bilang, "orang yang paling kurang ajar dari
seluruh kebudayaan dan filsafat di dunia adalah komunis, Deng Xiao Ping
pernah berkata bahwa suka cita terbesarnya adalah melawan LANGIT=Surga,
menganiaya orang Kristen..... orang kurang ajar ini sekarang sudah jadi
mayat! Menang seperti apa yang dia sebut suka cita melawan langit?"
Wah....kotbah berani seperti itu....gimana nggak bikin pemerintah komunis
'marah' banget....sekaligus takut.... seperti Herodes....takut dengan
kotbah kotbahnya Yohanes Pembaptis.....

Waktu diundang kotbah di Rusia selama 7 hari.....
sebelum kotbah Pak Stephen Tong diinterogasi oleh para patriach orthodox di
Rusia, mereka mengajaknya berdebat, berdikusi, mempertanyakan Iman
kekristenan pak Tong seperti apa.....
Akhirnya dia diijinkan berkotbah.....dan setelah KKR, para pendeta orthodox
itu berkata,
"selama ini kami mendengar bahwa di Indonesia ada Billy Graham dari Timur.
Tetapi hari ini kami menyaksikan dan mendengar sendiri kotbah kotbah
anda...... dan sekrang kami dapat berkata...... bahwa anda bukanlah Billy
Graham dari Timur....... andalah Billy Graham dari Barat"

orang di Rusia, di Cina....begitu rindu bisa mendengarkan kotbah dan
pengajaran dari Pak Tong.....mereka berharap pak Tong bisa datang ke
sana....... bahkan diminta menjadi dosen tetap di Amerika dengan gaji
tinggi, tetapi pak Tong menolak dengan alasannya bebannya di Indonesia
Tapi di Indonesia....... di tempat asalnya.....orang banyak malah menuduh
pak Tong sebagai "orang yang tidak dipenuhi Roh Kudus"........dan
meremehkan/melecehkannya.... Seorang nabi tidak pernah dihargai di tempat
asalnya..... kiranya kita bisa peka 'melihat' dan cepat 'menangkap' moment
yang singkat ini.
Jaman Yeremia, bangsa Israel tidak sadar kalau dia nabi, bahkan marah kesal 
dengan kotbah kotbah Yeremia yang MENENTANG ARUS......lalu memenjarakan Yeremia.

Di mimbar pak Tong begitu lantang, tegas dan menentang arus jaman.....karena 
bicara kebenaran Firman Tuhan, pak Tong tidak mau kompromi dan sembarangan......
dalam kehidupan sehari hari.... orang pasti tidak ada yang menyangka kalau
pak Stephen Tong
- suka ngobrol dan bergaul dengan para tukang arloji bekas di batu tulis, 
sembari mencari jam tangan bekas.
- suka ngobrol sembari mengajar para pedagang barang antik di jalan surabaya 
bagaimana cara mengetahui dengan jeli barang barang antik (dia memang sangat 
mengerti  bidang seni.......luar biasa pengertiannya)
- dicintai tukang becak di kota Malang
- mau memijat office boy courier di kantornya
Nggak percaya....silahkan Check ke lapangan.....kalau waktunya 'tepat' kamu
bisa menemukan beliau disana.

Buat dirinya sendiri, dia sangat berhemat....... tapi dia tidak segan segan
mengeluarkan uang pribadinya sendiri untuk pekerjaan Tuhan misalnya beli 10
buah piano buat gereja...supaya anak muda belajar musik bermutu......
Dia bilang "kalau saya mati, saya tidak akan mewariskan uang pada anak-anak
saya.... saya akan berikan kepada Gereja.  Anak anak harus belajar how to
survive dari kesulitan hidup agar mereka bergantung sepenuhnya di dalam 
providensi (=pemeliharaan) Tuhan yang hidup dan berdaulat, Pencipta alam 
semesta!"

Waktu sekolah Alkitab di Malang, dia mendapat bea siswa.  Setelah lulus,
dia diminta mengajar menjadi Dosen di Sekolah Theology tersebut.  Dia
dikasih gaji, tapi tanpa membuka amplop gaji tersebut, seluruhnya 100% dia
masukkan ke dalam kantong persembahan.....karena "saya berhutang pada
sekolah ini.  saya kembalikan uang gaji ini untuk dipakai membiayai murid 
lainnya"

Untuk biaya hidupnya, dia dapet gaji dari gereja di Surabaya sebesar
Rp15,000.  tapi tahun 1964, saat inflasi mencapai 300% uang segitu sudah
tidak mencukupi.  Dia tidak 'berteriak' gaji kurang.  Dia berhemat dengan
cara belajar mencukur rambut sendiri, tidak beli baju, tidak beli buku
(hanya baca buku di perpustakaan)....tetapi tetap tidak cukup ongkos buat
ke Malang untuk mengajar di sekolah Theology.   Malam-malam, dia cari truck
pasar, dia naik truck kadang kadang di tengah tengah hewan, tukang sayur,
ikan asin yang baunya luar biasa....... Tiba di Malang, cepat cepat mandi
supaya TIDAK ketahuan orang.......
Waktu itu tidak ada seorangpun yang tau bagaimana dia mengatasi kesulitan,
dia tidak minta diberi tambahan.
Setelah dia tua sekarang, barulah dia cerita....bukan untuk membanggakan
diri..... tetapi agar menjadi contoh ORANG MUDA untuk tidak menangisi
kesulitan karena kesulitan adalah guru yang baik dan orang muda jangan
terobsesi mengejar ngejar kesuksesan kemakmuran..... yang harus dikejar adalah 
"mengenal Kristus" dan "menundukkan kehendak diri ke dalam kehendak Tuhan"

Dia bilang, "saya tidak pernah menangisi kesulitan hidup, saya hanya
menangis kalau pekerjaan Tuhan terganggu.  saya menangisi domba domba yang
hilang.  saya tidak peduli dengan kesulitan hidup"

kalau ada yang mengatakan dia sombong..... kok dia bergaul sama orang orang
yang tidak dipandang masyarakat, naik truck bersama orang orang pasar, duduk 
ditengah hewan, ikan asin, pernah juga berdiri di pinggir jalan membagikan 
traktat......

kalau ada yang mengatakan bahwa dia tidak dipenuhi Roh Kudus.....  Kok
pikiran pikirannya begitu tajam, kotbah kotbahnya begitu penuh Hikmat.....
Beliau pendeta yang bersedia hidup sangat 'berhemat', menyangkal diri,
mengurangi kenikmatan pribadi demi pekerjaan Tuhan.

Waktu dia memulai pekerjaan Tuhan, hanya ada uang US$10,000 yang sebenarnya
tabungan untuk biaya sekolah anak-anaknya..... tapi itupun dia serahkan
seluruhnya untuk Tuhan.....

Silahkan menilai sendiri "mana yang dipenuhi Roh Kudus" dan "mana yang tidak"

Bingung ya....kalau orang MENUDUH pak Tong 'tidak dipenuhi Roh Kudus'.....????

Bingung ya....kalau pengkotbah ngejar-ngejar kesuksesan kemakmuran disebut 
orang yang 'dipenuhi Roh Kudus' hanya karena dia berbahasa Roh" (hati 
hati...ini tipuan iblis....)

Bingung ya.......KRITERIA nya apa gitu?  Kriteria menurut pengertian 'dunia' 
memang beda menurut standard 'Tuhan'....
Apa yang disanjung sanjung dunia adalah kekejian di mata Tuhan.

Theology kesuksesan dan kemakmuran..... BUKAN AJARAN KRISTEN...... !
DIBALIK Theology itu.......ada filsafat NEW AGE, ada orang orang NEW AGE
yang menyamar dengan jubah 'pendeta'

pak Stephen Tong sering menyisipkan pesan
kalau kau tidak sungguh sungguh mengerti kekristenan...janganlah mengajar..... 
atau kau sendiri TIDAK SADAR bahwa kau sudah menjadi pengajar palsu yang suatu 
hari harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan pencipta Alam semesta ini.  Orang 
Kristen yang tidak memiliki rasa takut dan gentar pada Tuhan....patut 
mempertanyakan dirinya sendiri apakah dia kristen yang sungguh sudah 
'diselamatkan'......

Kirim email ke