From: Eksposisi Roma Tinjauan Kritis Terhadap "Theologia" Religionum (Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.)
FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembahasan Keberadaan agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Keberadaan toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia. Namun tanpa disadari metode tolerasi (dialog lintas agama) yang dikembangkan oleh Gereja di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum telah merubah arti dan hakekat dari iman Kristen itu sendiri. Metode dialog antar umat beragama yang pada mulanya hanya sekedar wadah persekutuan dan sebagai ekspresi saling menghargai dan menghormati. Dalam perkembangannya berubah menjadi usaha dari masing-masing agama dan antar umat beragama yang lainnya untuk saling mempelajari kesamaan-kesamaan kebenaran yang mereka anut, sampai taraf dimana mereka dapat saling menerima keabsahan dan kebenaran semua agama (Pluralisme Agama). [1] Dan dalam perkembangannya gerakan ini yaitu "Pluralisme Agama" akhirnya melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai "Teologi Religionum". Jika gerakan "Pluralisme Agama" hanya sekedar menerima dan mengakui ada kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran agama-agama yang mereka percayai. Tetapi lain dengan "Teologi Religionum", gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara mereka. Dalam hal ini termasuk juga "Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat" di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah "relative". Semboyan dari gerakan "Teologi Religionum" yang sering mereka kumandangkan adalah "Deep down, all religions are the same - different paths leading to the same goal". [2] Jadi gerakan pluralisme agama [3] dan Teologi Religionum ini adalah suatu gerakan yang sangat berbahaya di dalam menghancurkan identitas iman Kristen dan juga menjadi tantangan bagi iman Kristen. Teologi Religionum ini bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, antropologis, melainkan konsep filsafat agama yang bukan bertolak dari Alkitab, melainkan dari fakta kemajemukan yang diikuti oleh tuntutan toleransi dan di dukung oleh keberadaan social-politik yang mendukung kemajemukan etnis, budaya dan agama, serta disponsori oleh semangat globalisasi, filsafat relativisme dan filsafat postmodernisme. B. Batasan Pembahasan Seminar Di dalam seminar hari ini pembahasannya hanya memfokuskan pada "Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat" yang ditolak oleh "Teologi Religionum". Karena mengingat seminar kita ini waktunya sangat pendek, & pembahasan teologi religionum" sendiri itu sangat luas isinya. Maka kita harus mempersempit pengulasan nya pada pandangan teologi religionum dalam dunia kekristenan yang menolak "Keunikan Yesus Kristus", yang menjadi inti pengajaran "Teologi Religionum" di dalam kekristenan. Walaupun kita memfokuskan pembahasannya pada "Keunikan Yesus Kristus". Hal ini bukan berarti kita tidak akan menyinggung bidang-bidang yang lain dari "Teologi Religionum", misalnya pandangan mereka tentang Alkitab, Manusia & Dosa, Hermeneutika. Besar harapan saya para peserta seminar ditempat ini dapat mengembangkan studi kritis tentang teologi religionum di depan demi kemuliaan Kristus, sehingga kita tidak membiarkan virus ajaran ini masuk gereja. BAB II : LATAR BELAKANG & SEJARAH BANGKITNYA TEOLOGI RELIGIONUM A. Pengertian Kata: Pluralitas, Pluralisme dan Teologi Religionum. Kata "Plural" berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya "jamak" dan ketika kata ini ditambah akhirannya menjadi "Pluralitas" ini berarti "kemajemukan". Dan jika akhir dari kata "plural" ini ditambah dengan kata "isme" ini berarti ada ajaran-ajaran/isme-isme di dalam kemajemukan agama. Jadi arti "Pluralisme Agama" adalah gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama agar kebenaran-kebenaran yang beragam dapat saling mengisi dan melengkapi. Jadi dengan kata lain mereka saling membuka diri untuk saling dapat menerima semua keberadaan agama-agama yang lainnya, dengan tidak membicarakan atau mempertajam keberbedaan pengajaran mereka masing-masing. Kata "Teologi" berasal dari Yunani "Theos" dan "Logos". Kata Theos artinya Tuhan, dan kata logos sendiri artinya Firman/Kebenaran yang dinyatakan. [4] Jadi "Teologi" artinya suatu peryataan atau interprestasi kebenaran tentang Tuhan. Jadi "Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God." [5] Sedangkan kata "Religionum" berasal dari bahasa Inggris "Religions" yang artinya agama-agama. Jadi pada waktu kata ini digabung menjadi teologi religionum (Theology of Religions) secara umum pengertian ini oke-oke saja. Tetapi secara khusus saya tidak setuju karena jika ke dua kata ini dilihat dari iman Kristen, ini tidak mungkin dapat digabung, mari kita ulas. Pengertian teologi secara umum dimengerti sebagai bentuk studi tentang Tuhan (Atribut-atribut-Nya dan sifat-sifat-Nya) yang telah Ia nyatakan melalui Alkitab sebagai wahyu khusus. Jika istilah kata "teologi" digabung dengan kata "religionum" menjadi "teologi religionum" ini artinya kita mengakui adanya Tuhan yang benar di dalam agama-agama yang lain, di luar kekristenan. Jika demikian arti teologi religionum adalah suatu gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama yang ada dengan spirit menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Mereka memiliki cita-cita untuk melahirkan suatu konsep agama yang baru dan agama ini saya sebut sebagai agama bersama (Together Religion). Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri. Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Tuhan tidak akan turut campur. Sebagai kesimpulan, jadi gerakan "teologi religionum" di dalam kekristenan adalah suatu gerakan yang berupaya untuk membuang dan menolak "Finalitas Karya Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya". Teologi Religionum memakai pendekatan "The Christology from Below" yaitu suatu teologi yang dibangun dari bawah ke atas. Teologi seperti ini lebih mementingkan kontekstual dari pada teks dan juga mementing teologi fungsional daripada ontological. [6] Teologi dari bawah ke atas ini sangat disenangi dikalangan mereka. Seperti juga yang ditekankan oleh Th. Sumartana, bahwa yang diperlukan bukan hanya sekedar Kritologi agama-agama, Inklusif, lebih dalam lagi kita memerlukan teologi religionum. [7] B. Sejarah Pluralisme di dalam Alkitab 1. Perjanjian Lama Ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai Bapa orang Israel untuk keluar dari Urkasdim. Panggilan Tuhan ini disertai dengan penyataan khusus (Special Revelation) dari Tuhan. Panggilan khusus inilah yang menjadi asal-muasal agama orang Israel, yaitu agama yang lahir dari atas (Tuhan) ke bawah (manusia). Sedangkan agama-agama lain di luar Israel adalah agama-agama yang lahir dari manusia sebagai ekspresi terhadap wahyu umum (General Revelation). Ketika dua sumber agama ini hadir di PL, berarti pada saat itu sudah ada persoalan dalam kemajemukan agama yaitu agama penyataan khusus dan agama penyataan umum. Dimana agama penyataan umum berusaha untuk membuang keunikan iman bangsa Israel, supaya dapat beribadah dengan agama mereka yang menyembah berhala-berhala. Sebagai contoh ketika raja Israel yaitu Ahab menikah dengan Izebel anak raja Tirus, maka akhirnya raja Ahab dipengaruhi istrinya untuk menyembah Baal dari Tirus, agar dijadikan sebagai resmi di Israel. Tetapi upaya Izebel ini di lawan oleh nabi Elia (1 Raja 18) dengan cara menantang para nabi-nabi palsu mereka. Dan Elia pada saat itu membuktikan bahwa Tuhan Yahweh adalah Tuhan yang sejati yang layak untuk disembah dan bukan berhala-berhala (Kel 20:2-5). Jadi di PL Tuhan sangat mengecam dan tidak kompromi dengan kegiatan-kegiatan ibadah dari ilah-ilah asing untuk masuk dalam komunitas umat-Nya (dengan sikap Eksklusif). Tuhan memang mengajarkan umat-Nya agar memiliki sikap yang eksklusif terhadap agama-agama asing yang tidak mempercayai Tuhan Yahweh atau Tuhan yang esa (Ul 6:4). Agama-agama asing yang ada pada saat itu sangatlah tidak cukup untuk mengerti wahyu umum karena sifatnya mereka hanya dapat berespon terhadap wahyu umum. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan "penerangan dari kepercayaan bangsa Israel" dan penerangan itu di dapat hanya melalui pengenalan terhadap Yahweh, sebagai agama resmi bangsa Israel pada saat itu. [8] 2. Perjanjian Baru Kemajemukan agama di dalam era Perjanjian Baru sangat nampak terjadi. Hal ini nyata dengan adanya agama-agama rakyat yang tersebar di berbagai tempat pada era pemerintahan kaisar Romawi (Pantheon Greko Romawi). [9] Mereka pada saat itu menyembah kepada "Realitas Ilahi" yang tidak berpribadi, namun ada dan diam di alam semesta dan diri manusia (Pantheisme & dualisme), misalnya kepada dewi Diana di Korintus, dewi Isis dan Osiris di Mesir, para Baal di Siria, dewa Mitras di Persia dan dewi Kybele di Asia kecil. Hal ditambah lagi dengan agama rakyat Yunani yang percaya pada Jupiter (Zeus), Juno (Hera), Neptune (Posedon), Marcury (Hermes). Selain berhadapan dengan kemajemukan agama pada saat itu. Gereja mula-mula juga berhadapan dengan kemajemukan iman yang pada saat itu ada, yaitu: penyembahan kepada Kaisar, Agama Yudaisme dan Filsafat Helenistik. [10] Penyembahan kepada kaisar pada saat itu bersifat mutlak dan tidak dapat di tawar-tawar lagi. Mereka percaya bahwa kaisar merupakan titisan dewa yang memiliki kuasa ilahi karena berasal dari dunia metafisik. Penyembahan kepada kaisar ini juga merupakan ekspresi kesetiaan rakyat kepada kaisar. Oleh karena jika para pengikut Kristus pada saat menolak untuk menyembah Kaisar dan tetap mempertahankan imannya kepada Yesus, mesti resikonya mengalami penganiayaan dan hukuman mati (band. Kol 2:18-19). Mereka tetap setia kepada Kristus dan tetap bersikap Ekslusifitas. Sikap gereja saat menghadapi kemajemukan agama pada saat itu tetap eksklusif. Pengikut Kristus pada saat itu disebut sebagai "Kristen". Kata ini saja sudah menjelaskan sikap yang eksklusif dan special (Kis 11:26, 26:28 & I Pet 4:16). Sebutan kata "Kristen" ini sering dipakai oleh mereka yang tidak percaya kepada Kristus sebagai bentuk kata pengejekan. Walaupun demikian orang-orang Kristen pada saat itu tetap bangga dengan kepercayaannya kepada Kristus dan menolak agama-agama lain di luar Kristus. Walaupun orang-orang Kristen pada saat itu bersikap eksklusif bukan berarti mereka tidak bergaul dengan mereka (Yudaisme dan Helenistik, dll). Sebagai contoh, ketika Barnabas dan Paulus berhadapan dengan agama-agama lain, yang memuja dewa Zeus dan Hermes. Mereka menghadapinya dengan sopan, arif dan menghargai. Maksudnya tidak ada sikap untuk menghakimi kepercayaan mereka itu. (KPR 14). Jemaat di Korintus juga hidup berdampingan dengan agama-agama lain (1 Kor 8-11). Contoh yang lainnya adalah tentang latar belakang dari penulis Injil Matius yang mengalamatkan Injilnya pada orang-orang Kristen Yahudi, dengan tidak mengambil pengajaran Yudaisme. Demikian juga dengan penulis Injil Lukas dan Injil Yohanes, yang mengalamatkan suratnya kepada orang Kristen Yunani. Baik Lukas dan Yohanes tidak memakai pemikiran Helenistik di dalam tulisannya, kecuali penggunaan istilah. Sikap para penulis Injil menunjukkan kepada kita bahwa sikap eksklusif sangat Alkitabiah. C. Di dalam Sejarah 1. Clement & Origenes (Universalisme) Clement (150-215) berpendapat bahwa "pengenalan akan Tuhan bagi orang Yahudi adalah melalui "Torat", sedangkan bagi orang Yunani adalah melalui filsafat inspirasi "Logos". Origenes juga berpendapat bahwa "pada akhirnya, semua mahluk akan diselamatkan, termasuk setan." [11] Pandangan mereka ini mempunyai dampak sampai abad pertengahan. 2. Renaisance (abad ke-14 akhir) & Enlightenment (abad ke-18) Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721). Ke dua tokoh ini mengajarkan mengenai konsep pemulihan akhir dari jiwa-jiwa kepada Tuhan. Pengajaran mereka ini sampai membangkitkan "Universalisme" di Amerika. 3. Friedric Schleiermacher (1768-1834) Pengaruh konsep universalisme sangat mempengaruhi pemikiran Friedric S dan tokoh ini sering disebut sebagai bapak Teologi Liberal karena konsep-konsep pemikirannya yang radikal. Ia berani mengkritik Alkitab, bahkan menghasilkan suatu konsep yang menyatakan bahwa Alkitab bukanlah Firman Tuhan, tulisan Injil-injil bukanlah laporan tentang Yesus yang histories, melainkan Yesus yang di percayai (diimani). Maksudnya para penulis Injil tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus yang histories yang sungguh-sungguh pernah ada. Jadi bagi Schleirmacher para penulis Injil hanya menulis Yesus berdasarkan apa yang mereka tangkap dengan iman dan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Bahkan ia percaya ada unsure rekaan dari para penulis Injil. Karena ada jurang pemisah antara waktu Yesus hidup dengan waktu penulisan Injil itu sendiri. Oleh karena itu bagi Schleirmacher setiap para penafsir Alkitab harus menyingkirkan mitos-mitos, khususnya yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa mujijat yang tidak rasional seperti apa yang dilakukan oleh Yesus dan karya-karya-Nya. Konsep Schleirmacher yang mendukung teologi religionum adalah: a. Ia menerima konsep universalisme dengan mutlak. Ia percaya bahwa keselamatan diberikan Tuhan bagi semua orang, termasuk agama-agama lain. [12] b. Ia menolak konsep "Predestinasi". Ia menolak konsep bahwa keselamatan melalui penebusan Kristus adalah satu-satu jalan. Ia percaya bahwa hal itu hanya salah satu jalan di dalam kekristenan dan agama lain juga mempunyai jalan keselamatan. c. Ia hanya menekan konsep "Kasih & Kemurahan Tuhan" saja. Bagi konsep Liberal, Tuhan tidak akan menyediakan dan mengirim seorang pun untuk dihukum dalam hukuman kekal, karena jika hal ini terjadi bertentangan dengan sifat kasih Tuhan. Pandangan Schleirmacher ini sangat mendukung untuk berkembangnya teologi religionum di kalangan kekristenan, khususnya yang beraliran teologi Liberal. Yang dari mulanya menolak ke Tuhanan Yesus, yang sungguh-sungguh Tuhan (100%). 4. Konsili Vatikan II (1962-1965) Melalui konsili ini sikap katholik yang tadinya eksklusif berubah menjadi inklusif. Mereka memutuskan bahwa "Kebenaran bukan hanya milik orang Kristen saja." Keputusan konsili ini menjadi pijakan baru di dalam menjawab tuntutan dalam hidup bersama dengan agama-agama lain. Konsili melahirkan konsep demikian: "Mereka (agama-agama lain) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus ikhlas mencari Tuhan dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya." [13] Konsep VatiKan II ini telah mempengaruhi para teolog-teolog modern katholik hingga pada saat ini, seperti: a. Karl Rahner Di dalam bukunya "Christianity and Non Christian Religions," [14] Ia mengatakan sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat ilahi yang adi-kodrati. Orang-orang dapat diselamatkan karena kasih karunia Kristus, sekalipun tanpa disadari oleh mereka. Ia dulu bersikap eksklusif, tetapi akhirnya berubah oleh karena pengalaman-pengalaman spritualitas dan pengamatannya terhadap perkembangan agama-agama yang ada. Sikap inklusifnya dibangun berdasarkan konsep "Anonymous Christian" yang artinya bahwa sesungguhnya orang-orang dapat memperoleh keselamatan sekalipun ia tidak memeluk agama Kristen. Mereka-mereka inilah yang disebut Kristen tanpa nama atau tanpa agama Kristen. Yang penting mereka menjalankan agamanya dan bermoral. b. Paul F. Knitter Di dalam bukunya "No Other Name" [15] ia mengatakan bahwa tidak ada klaim yang eksklusif yang menjadi milik inti ajaran Kristen. Ia menekankan sikap inklusif dari gereja katholik di dalam bersikap dengan agama-agama lain. Dengan kata lain Knitter mengatakan bahwa ada juga kebenaran tentang keselamatan di luar iman Kristen. Karena Tuhan ada juga di dalam agama-agama lain di luar kekristenan. Judul buku yang diberikan oleh Knitter ini bermaksud untuk mengejek kaum eksklusif yang percaya tidak ada nama lain yang menyelamatkan selain nama Kristus. Knitter justru melalui tulisannya memaparkan justru ada nama yang lain (the other) yang dapat menyelamat umat manusia yang ada di agama-agama lain. Konsep Knitter ini telah meracuni juga pemikir teologi religionum di Indonesia yang Emanuel G. Singgih. Singgih mengusulkan untuk membangun sebuah gambaran teologis mengenai "the other", yang dimaksud "the other" ini adalah agama-agama lain. [16] Walaupun ia menyebut teologis yang dapat dipertangung jawabkan secara Alkitabiah dan kontekstual. Tetap ia lebih mengutamakan konteks dari pada teks Alkitab itu sendiri. Jadi istilah teologis yang dimaksud oleh Kitter dan Singgih adalah teologi kompromi. c. Hans Kung Walaupun Hans Kung ... ======================================== From: "Sughyati H" <[EMAIL PROTECTED]> Dibalik sikap galak-nya..... Pak Stephen Tong punya 2 orang murid di cina daratan yang begitu terinspirasi dengan kotbah kotbahnya dan 2 orang ini akhirnya berani menentang pemerintah Cina yang Ateis.... Dari 4 orang yang diundang George Bush karena berani melawan komunisme, 2 orang diantaranya adalah murid pak Tong. Menurut laporan di negri Cina, ada 10-12 juta orang Kristen yang gigih, tiap hari sangat rindu mendengarkan kotbah kotbah pak Tong melalui kaset kaset yang diselundupkan.... Karena itulah.....pak Stephen Tong dimasukkan ke dalam daftar "the most dangerous person" orang yang TIDAK BOLEH masuk ke Cina.... Beliau orang yang paling cocok bicara dengan masyarakat Cina Daratan, karena dia SANGAT PAKAR dibidang Sejarah, Seni, Budaya dan Filsafat Cina + ditambah punya Iman Kekristenan yang SANGAT MENAKUTKAN orang orang Komunis Ateis. Pak Tong dalam kotbahnya bilang, "orang yang paling kurang ajar dari seluruh kebudayaan dan filsafat di dunia adalah komunis, Deng Xiao Ping pernah berkata bahwa suka cita terbesarnya adalah melawan LANGIT=Surga, menganiaya orang Kristen..... orang kurang ajar ini sekarang sudah jadi mayat! Menang seperti apa yang dia sebut suka cita melawan langit?" Wah....kotbah berani seperti itu....gimana nggak bikin pemerintah komunis 'marah' banget....sekaligus takut.... seperti Herodes....takut dengan kotbah kotbahnya Yohanes Pembaptis..... Waktu diundang kotbah di Rusia selama 7 hari..... sebelum kotbah Pak Stephen Tong diinterogasi oleh para patriach orthodox di Rusia, mereka mengajaknya berdebat, berdikusi, mempertanyakan Iman kekristenan pak Tong seperti apa..... Akhirnya dia diijinkan berkotbah.....dan setelah KKR, para pendeta orthodox itu berkata, "selama ini kami mendengar bahwa di Indonesia ada Billy Graham dari Timur. Tetapi hari ini kami menyaksikan dan mendengar sendiri kotbah kotbah anda...... dan sekrang kami dapat berkata...... bahwa anda bukanlah Billy Graham dari Timur....... andalah Billy Graham dari Barat" orang di Rusia, di Cina....begitu rindu bisa mendengarkan kotbah dan pengajaran dari Pak Tong.....mereka berharap pak Tong bisa datang ke sana....... bahkan diminta menjadi dosen tetap di Amerika dengan gaji tinggi, tetapi pak Tong menolak dengan alasannya bebannya di Indonesia Tapi di Indonesia....... di tempat asalnya.....orang banyak malah menuduh pak Tong sebagai "orang yang tidak dipenuhi Roh Kudus"........dan meremehkan/melecehkannya.... Seorang nabi tidak pernah dihargai di tempat asalnya..... kiranya kita bisa peka 'melihat' dan cepat 'menangkap' moment yang singkat ini. Jaman Yeremia, bangsa Israel tidak sadar kalau dia nabi, bahkan marah kesal dengan kotbah kotbah Yeremia yang MENENTANG ARUS......lalu memenjarakan Yeremia. Di mimbar pak Tong begitu lantang, tegas dan menentang arus jaman.....karena bicara kebenaran Firman Tuhan, pak Tong tidak mau kompromi dan sembarangan...... dalam kehidupan sehari hari.... orang pasti tidak ada yang menyangka kalau pak Stephen Tong - suka ngobrol dan bergaul dengan para tukang arloji bekas di batu tulis, sembari mencari jam tangan bekas. - suka ngobrol sembari mengajar para pedagang barang antik di jalan surabaya bagaimana cara mengetahui dengan jeli barang barang antik (dia memang sangat mengerti bidang seni.......luar biasa pengertiannya) - dicintai tukang becak di kota Malang - mau memijat office boy courier di kantornya Nggak percaya....silahkan Check ke lapangan.....kalau waktunya 'tepat' kamu bisa menemukan beliau disana. Buat dirinya sendiri, dia sangat berhemat....... tapi dia tidak segan segan mengeluarkan uang pribadinya sendiri untuk pekerjaan Tuhan misalnya beli 10 buah piano buat gereja...supaya anak muda belajar musik bermutu...... Dia bilang "kalau saya mati, saya tidak akan mewariskan uang pada anak-anak saya.... saya akan berikan kepada Gereja. Anak anak harus belajar how to survive dari kesulitan hidup agar mereka bergantung sepenuhnya di dalam providensi (=pemeliharaan) Tuhan yang hidup dan berdaulat, Pencipta alam semesta!" Waktu sekolah Alkitab di Malang, dia mendapat bea siswa. Setelah lulus, dia diminta mengajar menjadi Dosen di Sekolah Theology tersebut. Dia dikasih gaji, tapi tanpa membuka amplop gaji tersebut, seluruhnya 100% dia masukkan ke dalam kantong persembahan.....karena "saya berhutang pada sekolah ini. saya kembalikan uang gaji ini untuk dipakai membiayai murid lainnya" Untuk biaya hidupnya, dia dapet gaji dari gereja di Surabaya sebesar Rp15,000. tapi tahun 1964, saat inflasi mencapai 300% uang segitu sudah tidak mencukupi. Dia tidak 'berteriak' gaji kurang. Dia berhemat dengan cara belajar mencukur rambut sendiri, tidak beli baju, tidak beli buku (hanya baca buku di perpustakaan)....tetapi tetap tidak cukup ongkos buat ke Malang untuk mengajar di sekolah Theology. Malam-malam, dia cari truck pasar, dia naik truck kadang kadang di tengah tengah hewan, tukang sayur, ikan asin yang baunya luar biasa....... Tiba di Malang, cepat cepat mandi supaya TIDAK ketahuan orang....... Waktu itu tidak ada seorangpun yang tau bagaimana dia mengatasi kesulitan, dia tidak minta diberi tambahan. Setelah dia tua sekarang, barulah dia cerita....bukan untuk membanggakan diri..... tetapi agar menjadi contoh ORANG MUDA untuk tidak menangisi kesulitan karena kesulitan adalah guru yang baik dan orang muda jangan terobsesi mengejar ngejar kesuksesan kemakmuran..... yang harus dikejar adalah "mengenal Kristus" dan "menundukkan kehendak diri ke dalam kehendak Tuhan" Dia bilang, "saya tidak pernah menangisi kesulitan hidup, saya hanya menangis kalau pekerjaan Tuhan terganggu. saya menangisi domba domba yang hilang. saya tidak peduli dengan kesulitan hidup" kalau ada yang mengatakan dia sombong..... kok dia bergaul sama orang orang yang tidak dipandang masyarakat, naik truck bersama orang orang pasar, duduk ditengah hewan, ikan asin, pernah juga berdiri di pinggir jalan membagikan traktat...... kalau ada yang mengatakan bahwa dia tidak dipenuhi Roh Kudus..... Kok pikiran pikirannya begitu tajam, kotbah kotbahnya begitu penuh Hikmat..... Beliau pendeta yang bersedia hidup sangat 'berhemat', menyangkal diri, mengurangi kenikmatan pribadi demi pekerjaan Tuhan. Waktu dia memulai pekerjaan Tuhan, hanya ada uang US$10,000 yang sebenarnya tabungan untuk biaya sekolah anak-anaknya..... tapi itupun dia serahkan seluruhnya untuk Tuhan..... Silahkan menilai sendiri "mana yang dipenuhi Roh Kudus" dan "mana yang tidak" Bingung ya....kalau orang MENUDUH pak Tong 'tidak dipenuhi Roh Kudus'.....???? Bingung ya....kalau pengkotbah ngejar-ngejar kesuksesan kemakmuran disebut orang yang 'dipenuhi Roh Kudus' hanya karena dia berbahasa Roh" (hati hati...ini tipuan iblis....) Bingung ya.......KRITERIA nya apa gitu? Kriteria menurut pengertian 'dunia' memang beda menurut standard 'Tuhan'.... Apa yang disanjung sanjung dunia adalah kekejian di mata Tuhan. Theology kesuksesan dan kemakmuran..... BUKAN AJARAN KRISTEN...... ! DIBALIK Theology itu.......ada filsafat NEW AGE, ada orang orang NEW AGE yang menyamar dengan jubah 'pendeta' pak Stephen Tong sering menyisipkan pesan kalau kau tidak sungguh sungguh mengerti kekristenan...janganlah mengajar..... atau kau sendiri TIDAK SADAR bahwa kau sudah menjadi pengajar palsu yang suatu hari harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan pencipta Alam semesta ini. Orang Kristen yang tidak memiliki rasa takut dan gentar pada Tuhan....patut mempertanyakan dirinya sendiri apakah dia kristen yang sungguh sudah 'diselamatkan'......

