Kerja Buat Tuhan

>From : Lienda. S 

Sebuah kesaksian dari seorang teman,mengenai pergumulan kehidupan dan 
pekerjaannya. 
Semoga bisa menjadi perenungan untuk teman-teman, untuk berterima Kasih atas 
setiap berkat yang kita peroleh.GBU 
      
      "I hate this job. I hate this job ? " 
      
      Nggak tahu deh, udah berapa kali kalimat ini terus menerus aku 
ulang-ulang 
      dalam hati. Rasanya kekesalan demi kekesalan semakin bertumpuk dalam 
      hati.Dan yang lebih ngeselin lagi. Semakin aku kesal, semakin semua 
pekerjaan 
       ini terasa berat. 
      
      Benciiii!!!! ! Benciiii!!!! 
      
      Apalagi yang harus dikatakan supaya bisa lebih lega. Ternyata apapun 
      yang aku katakan bukannya bikin lega, tapi malah bikin sumpek. 
      Gimana nggak ??? Hari pertama masuk kantor, nggak ada yang tersenyum, 
      nggak ada yang menyapa apalagi ngajak ngobrol (dan ternyata setelah 
beberapa 
      hari! kerja, aku baru tahu kalau katanya ada juklak yang mengatur bahwa 
      karyawan dilarang ngobrol waktu jam kerja, ajaib!!), semua berwajah 
serius.
      Satu-satunya yang melegakan hati hanya seorang teman baru yang sama-sama 
      baru diterima di kantor. 
      
      Oke deh, lupakan hari pertama. Dimana-mana juga biasanya orang kalo hari 
      pertama kerja memang unforgettable. Waktu itu aku cuma berharap semoga 
      esoknya nggak akan seburuk itu. 
      
      But ? ternyata tidak! 
      
      "Christy, buat laporan ini ? laporan itu. Semua harus selesai dalam 1 x 
      24 jam! Ingat ya, setiap tugas dari saya, apapun itu harus selesai dalam 
      1 x 24 jam !!" "Christy! Kalau telponnya bunyi, jangan sampai kring lebih 
      dari dua kali! Harus sudah kamu angkat!" 
      
      Fiuhh ? galak amat. Memang sih ngomongnya sambil senyum (hambar), tapi 
      dalem boo? 
      
      "Wah, saya nggak tahu data itu ada dimana. Tanya aja sama yang lain". 
      "Lho, itu kan yang tahu orang cabang Balikpapan atau Banjarmasin . Kejar 
      aja kesana". 
      
      Gile benerrr. Untuk minta data aja susahnya minta ampun. Gimana bisa 
      bikin laporan. Aku bener-bener nggak ngerti kenapa suasana kantor bisa 
seperti 
      ini. Orang-orangnya susah diajak kerja sama, self defense tinggi, gampang 
      saling menyalahkan, wah bener-bener lingkungan kerja yang tidak nyaman. 
      Iniyang salah apanya ya ? SDM-nya kah? Management-nya kah? Lingkungannya? 
      Jenis pekerjaannya & bsp; kah ? Atau apanya? 
      Kayaknya semakin hari bukannya semakin baik, tapi malah semakin buruk. 
      Tiap hari ada saja hal-hal 'mengagumkan' yang kutemukan. Pulang jam 
setengah 
      enam merupakan hal 'aneh' (padahal jam kerja hanya sampai jam 5), katanya 
      ada perhitungan lembur, tapi kalau hanya sampai jam setengah delapan 
      istilahnya itu kan masih sore, masak mau ngurus surat lembur. Sabtu 
      Minggu katanya libur, tapi kebanyakan dipakai untuk lembur. Uang lembur 
nggak 
      jelas kapan keluarnya, katanya sih sekitar 3-4 bulan kemudian. Satu hal 
      yang paling nggak 'sreg' di hatiku, setiap kali meeting pasti memakan 
      waktu lama. Dan lamanya itu bukan untuk mencari solusi dari permasalahan 
yang 
      ada, tapi selalu mencari 'siapa yang salah'. Pokoknya, pada saat meeting, 
      jangan sampai kita salah menyebut nama orang lain. Siapapun itu pasti 
      langsung dipanggil menghadap saat itu juga. Jadi, sering kali waktu 
      terbuang percuma hanya untuk mendengarkan pembelaan diri dan 
      ucapan-ucapan yang saling menyalahkan, dan ujung-ujungnya ? tidak ada 
solusi. 
      Jadi kebayang, seandainya waktu itu ada yang minta aku untuk buat list 
      'Ten things you hate about your company' mungkin aku bisa bikin sampai 
100. 
      Pokoknya the point is : I hate this job! 
      
      Wake up girl ? ! You pray for this job, remember!! 
      
      Iya sih. Memang betul. Tapi keadaan ini bener-bener bikin aku tertekan. 
      Aku ingat komitmen-ku pada Tuhan. Apapun itu Tuhan, bagaimanapun 
kehidupan 
      yang harus kujalani, selama itu membuat aku semakin dekat denganMu, aku 
akan 
      menjalaninya dengan sukacita.  Tapi kalau seperti ini? 
      
      Setiap pulang, sampai rumah aku sudah 'terlalu capek' untuk berdoa dan 
      membaca firman. Saat teduhku jadi super bolong bolong. Kalau di rumah, 
      bawaannya marah melulu. Kenapa rasanya nggak ada yang ngerti. 
      "There's gotta be something more than this". 
      
      Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telingaku. 
      Masak sih, aku harus hidup kayak gini terus. Tuhan, kenapa sih Engkau 
      menempatkan aku di tempat seperti ini? Pekerjaan yang tidak sesuai 
      dengan bidang pendidikanku, suasana kerja yang nggak enak, tempat kerja 
yang 
      jauh, waktu kerja yang nggak jelas. Aduhhh ? kenapa Tuhan ? Rasanya 
      setiap hari yang ada hanya keluhan. 
      
      Di tengah-tengah kejenuhan yang sudah memuncak, satu hari Tuhan 
      menegurku dengan suatu nyanyian yang sudah 'terlalu sering' dinyanyikan 
sehingga kadang-kadang kita lupa 'mendengarkan' dengan sungguh-sungguh. 
      
      Hitung berkat satu per satu 
      Kau kan kagum oleh kasihNya 
      Berkat Tuhan mari hitunglah 
      Kau niscaya kagum oleh kasihNya 
      
      Aku tersentak. 
      
      Memang benar, there's gotta be something more than this. Hidup nggak 
      boleh begini terus. Tapi hidup nggak akan berubah kalau aku sendiri nggak 
      merubah cara pandangku. 
      
      So, aku mulai menghitung berkatku. 
      Hari pertama kerja. 
      
      Seorang satpam menyapa ramah, "Hari ini udah mulai masuk ya mbak". 
      Seorang office boy tersenyum, "Wah, mbak iki ayu rek .." 
      Aku mendapatkan seorang sahabat baru, bisa berbagi suka duka dan saling 
      menguatkan. 
      Di antara Operational Director dan Deputy Director yang menjadi atasan 
      langsungku, walaupun yang satu galak dan tidak pernah puas, tapi yang 
      satu ramah dan baik dan selalu memberikan penghargaan untuk setiap 
pekerjaan 
      yang berhasil aku selesaikan dengan baik. 
      
      Dan aku terus menghitung, setiap senyuman adalah berkat, setiap pujian 
      adalah sukacita, setiap tugas dan pekerjaan adalah kepercayaan. 
      
      I have to change. 
      
      Setiap pagi aku tersenyum pada setiap orang yang kutemui. Kuucapkan 
      selamat pagi dengan senyuman (walaupun sering kali tidak ada balasan), 
      setidaknya seorang sahabat pasti selalu membalas. 
      
      Dan, hei ? rasanya banyak yang berubah. 
      Memang benar bahwa hidup ini merupakan suatu chain reaction. Dan di 
      tengah-tengah suasana kerja yang kurang nyaman itu mulai tumbuh 
      bunga-bunga persahabatan. Memang kita tak dapat merubah seluruh 
      dunia hanya  dalam sekejap. Tapi setiap perubahan ke arah yang 
      lebih baik adalah berkat. 
      
      Rekan-rekan kerja mulai lebih terbuka dan saling membantu dalam 
      pekerjaan.Syukur atas talenta yang diberikan Tuhan, aku memang punya 
sedikit 
      kemampuan lebih di bidang komputer sehingga banyak rekan-rekan yang 
      sering bertanya. Dari saling membantu itulah akhirnya suasana kerja yang 
kaku 
      mulai cair. 
      
      Dan betapa bahagianya ketika suatu hari kemudian Tuhan menyapaku 
      lembut,"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya 
      mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di 
      sorga"(Matius 5 : 16 ) 
      
      Namun tak bisa dipungkiri, sistem perusahaan yang begitu menekan tetap 
      mendorongku untuk berusaha mencari pekerjaan lain. 
      
      Hanya dalam waktu 3 bulan, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari 
      perusahaan lain, dan hanya dengan satu kali test, mereka memutuskan untuk 
  
      menerima aku. Sungguh-sungguh suatu berkat yang tak terduga. 
      Apalagi di kantor baru tersebut aku ditempatkan di bagian IT Support & 
      Multimedia, yang memang lebih sesuai dengan bidang pendidikanku. 
      
      Ketika aku mengajukan pengunduran diri, salah satu bosku yang sudah 
      merasa cocok denganku berusaha mempertahanku. Namun dengan tekad yang   
     sudah bulat aku memutuskan untuk tetap memilih perusahaan baru walaupun 
     perusahaan tersebut jauh lebih kecil daripada perusahaan tempat aku 
bekerja saat 
     itu.Dan untuk menunjukkan niat baikku, selama dua minggu terakhir, aku 
     berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang menjadi tanggung 
     jawabku.Lembur tanpa mengurus surat lembur. Aku ingin melakukan yang 
terbaik. 
     Yang terbaik yang dapat aku berikan. 
      
      Sampai tibalah hari terakhir aku bekerja, aku mendapat informasi bahwa 
      Berita Acara Serah Terima pekerjaanku belum ditandatangani oleh sang 
      Direktur dan beberapa teman menjelaskan bahwa biasanya berkas tersebut 
      baru ditandatangani 2/4 minggu kemudian, dan setelah itu baru aku bisa 
      menerima ijazah dan gajiku. Ada perasaan marah ketika menyadari bahwa 
ternyata semua kerja kerasku tidak berarti apa-apa. 
      
      Tapi Tuhan memang baik sekali. 
      
      Dia tidak memperbolehkan kemarahanku merusak pekerjaan terbaik yang 
      telah kupersembahkan. Aku telah melakukan yang terbaik karena Tuhan 
sendiri 
      yang telah memampukanku, jadi kalaupun ternyata ada beberapa orang yang 
tak 
      dapat menghargainya, kenapa aku harus berkecil hati? Aku melakukannya 
      karena Tuhan, bersama Tuhan dan untuk Tuhan. 
      
      Dan untuk itu Ia telah menyediakan hadiah yang jauh lebih indah. 
      Berkat-berkat yang menyirami hati. Di hari terakhir itu; 
      Seorang sahabat memelukku. 
      Seorang rekan kerja memutar lagu kesayanganku sepanjang hari. 
      Seorang lagi membuat sketsa wajahku. 
      Aku menerima banyak ucapan terima kasih dari rekan-rekan kerja bahkan 
      dari departemen lain. 
      Dan seorang office boy menangis menyalamiku sambil berkata,"Mbak, terima 
      kasih ya karena selalu tersenyum kalau ketemu saya ?" 
      Dan ketika seorang ibu deputy director dari departemen lain (yang 
      sehari-harinya terkenal judes, but somehow aku yakin hatinya penuh 
      kasih) memeluk dan menciumku sambil mengucapkan doa dan berkat buatku, 
     dalam hatiku aku memperbaharui kembali janjiku pada Yesus. 
      
      Bapa, dimanapun aku Kau tempatkan, apapun pekerjaanku, selama itu 
      membuatku lebih dekat denganMu dan menyenangkan hatiMu, aku akan 
      melakukannya dengan segenap hatiku dan dengan segenap kemampuanku, 
sebagai persembahanku untukMu. 
      
      Memang kita tidak dapat merubah segalanya. Tapi jika kita menyadari 
      bahwa setiap tanggung jawab yang diletakkan di tangan kita adalah suatu 
      pekerjaan buat Tuhan, maka sudah sepantasnyalah kita melakukan yang 
terbaik. 
      
      So guys, kalau saat! ini kamu merasa 
      Pekerjaanmu tidak terlalu berarti? 
      Lingkungan kerjamu benar-benar tidak nyaman? 
      Perusahaan berlaku tidak adil padamu? 
      Rekan-rekan kerjamu saling menjatuhkan? 
      Kerja kerasmu sia-sia ? 
      Jangan pernah berkecil hati. 
      Selama engkau sungguh-sungguh menyadari bahwa engkau telah memberikan 
      yang terbaik, engkau telah berlaku jujur dan setia dalam pekerjaanmu, 
      ingatlah, Bapamu di surga selalu memperhatikan engkau. 
      Dan Ia tersenyum padamu.Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan 
       dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.(I Korintus 15:58 ). 
      
      Karena itu, marilah kita mulai pekerjaan kita hari ini dengan senyuman 
      dan sukacita di hati, sehingga di akhir hari kita dapat menjawab 
pertanyaan 
      seperti yang tertuang dalam sebuah kidung, 
      
      "Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku ?" 
      
      Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti 
      untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.(Kolose 3 : 23 ).   
========================================
From: Tisco Indianto [EMAIL PROTECTED]
 
PINJAMAN
 
Setiap hari saya dikelilingi oleh barang -barang yang bukan milik saya, tetapi 
saya akui sebagi milik saya.
Misalnya komputer yang saya pakai untuk kerja saya sebut "komputer saya". 
Saya juga mengatakan Danamon "kantor saya"  meja saya, telepon saya. 
Namun sebenarnya tak satupun dari peralatan itu milik saya. 
Semua itu dapat saya gunakan, tetapi bukan milik saya. 
Danamon memberikan kepada saya, saya tahu apa yang dimaksud : semua itu adalah 
titipan atau pinjaman.
Ini tidaklah mengherankan dalam hubungan antara tuan dan pegawai. 
Hampir mirip dengan itu, demikian pula semua barang yang kita sebut sebagai 
milik kita. 
Ketika kita berbicara tentang keluarga kita, atau mobil kita, kita berbicara 
tentang orang-orang dan barang-barang yang telah Tuhan ijinkan untuk kita 
nikmati selama hidup di bumi. 
Namun sesungguhnya semua itu adalah milikNya. Perhatikan pujian sang pemazmur 
kepada Tuhan "PunyaMu lah langit, punyaMu lah juga bumi ( Mazmur 89 : 12 ).
Dengan memahami siapa yang sesungguhnya memegang semua jabatan yang kita 
miliki, seharusnya mengubah cara pikir kita. 
Seperti saya menyadari bahwa Danamon, mengijinkan saya untuk menggunakan 
peralatannya untuk membantu saya melakukan pekerjaan dengan efisien. Demikian 
juga seharusnya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada kita 
sudah sejarusnya dipakai untuk melayani Tuhan.
Waktu, talenta, bakat, dan segala harta milik kita adalah titipan dan pinjaman 
dari Tuhan agar kita dapat mengerjakan pekerjaanNya dengan lebih baik. 
 
Peringatkanlah kepada orang-orang kaya. agar mereka berharap ..pada Tuhan yang 
dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati ( I 
Timotius 6 : 17) 
 
GBU ALL  
tisco.indianto 

Kirim email ke