From: Cakkavati Kusuma The LOST TOMB of JESUS Teologi - TeoFilosofis
Film dokumenter The Lost Tomb of Jesus yang directed by Canadian journalist Simcha Jacobovici dan produced by Hollywood director James Cameron mengklaim mempunyai bukti-bukti arkeologis-statistik-genetis terhadap the family of Jesus might have been interred in the burial cave (http://nationalgeographic.com, 28 Februari 2007). Mereka telah melakukan tes DNA terhadap tulang-tulang yang sudah ditemukan. Jika memang benar bahwa itu adalah tulang-tulang Yesus beserta Maria Magdalena istrinya dan Judah anaknya, ini membawa konsekuensi yang besar. Dasar agama Kristen hancur dan agama Kristen hanyalah kebohongan belaka. Mengapa hancur? Karena, jika memang ada tulang-tulang Yesus, maka itu berarti Yesus tidak bangkit. Dan sebagaimana Paulus katakan, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka … sia-sialah kepercayaan kamu” (I Korintus 15:14). The Lost Tomb of Jesus: Yesus Sejarah dan Kristus Kepercayaan, Antara Wilayah Rasional dan SupraRasional Oleh: Rudy Bingtjoro Phan Saya belum pernah menonton film dokumenter The Lost Tomb of Jesus yang kontroversial ini. Tetapi, berita-berita yang kita dengar begitu santer, sampai-sampai menarik perhatian saya. Film dokumenter The Lost Tomb of Jesus yang directed by Canadian journalist Simcha Jacobovici dan produced by Hollywood director James Cameron mengklaim mempunyai bukti-bukti arkeologis-statistik-genetis terhadap the family of Jesus might have been interred in the burial cave (http://nationalgeographic.com, 28 Februari 2007). Mereka telah melakukan tes DNA terhadap tulang-tulang yang sudah ditemukan. Jika memang benar bahwa itu adalah tulang-tulang Yesus beserta Maria Magdalena istrinya dan Judah anaknya, ini membawa konsekuensi yang besar. Dasar agama Kristen hancur dan agama Kristen hanyalah kebohongan belaka. Mengapa hancur? Karena, jika memang ada tulang-tulang Yesus, maka itu berarti Yesus tidak bangkit. Dan sebagaimana Paulus katakan, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka … sia-sialah kepercayaan kamu” (I Korintus 15:14). Kita tidak perlu terlalu emosional atas penemuan arkeologis itu dan film The Lost Tomb of Jesus yang memanfaatkan penemuan tersebut. Penemuan arkeologis ini adalah salah satu sumber dalam kajian atau penelitian Yesus sejarah. Saya bukanlah seorang arkeologis, oleh karena itu, saya tidak berwenang menggugat penemuan-penemuan itu. Tetapi, kita dapat menanggapinya secara teologis [karena kebetulan saya pernah belajar teologi]. Bagaimana kita menyikapi penemuan arkeologis ini? Marilah kita tempatkan pembicaraan kita dalam alur kajian Yesus sejarah. Kita mengawali pembicaraan ini dari pemaparan Ioanes Rakhmat, dalam artikelnya yang berjudul “KAJIAN YESUS SEJARAH DAN SUMBANGANNYA BAGI KEHIDUPAN KRISTEN MASA KINI” (sumber: http://sttjakarta.ac.id) Kajian-kajian tentang “Yesus sejarah” memusatkan penelitian-penelitiannya jelas pada Yesus sebagai seorang manusia Yahudi yang giat mengajar dan berkarya di antara rakyat Yahudi di Palestina pada akhir tahun 20-an dan awal tahun 30-an di abad pertama. Usaha penelitian Yesus sejarah adalah juga usaha berteologi untuk menemukan potret-potret alternatif tentang Yesus yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kini, yang tidak bisa diberikan oleh konstruksi-konstruksi kristologis yang dihasilkan pada zaman dulu. Usaha-usaha penelitian untuk menemukan gambar-gambar alternatif ini memusatkan perhatian pada tradisi-tradisi atau bahan-bahan yang memuat ajaran-ajaran Yesus dan laporan-laporan tentang tindakan-tindakannya; segala sesuatu yang dikatakan dan diperbuatnya dalam masa hidupnya di dunia ini. Kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus dalam hidupnya sebagai manusia yang riil dan kongkret di dunia inilah yang sangat kurang diperhatikan oleh rasul Paulus dan yang sama sekali telah diabaikan dalam perumusan dogma-dogma kristologis pada abad-abad keempat dan kelima (dogma-dogma Nisea Konstantinopel dan Khalsedon). Saya rasa rasul Paulus memiliki alasan sendiri mengapa “sangat kurang” memperhatikan kata-kata dan tindakan Yesus sebagai manusia Yahudi. Tambah lagi, konteks Paulus bukanlah dunia akademis yang bisa santai duduk di perpustakaan dan sambil merokok membaca begitu banyak buku dan menulis buku yang tebal-tebal. Bagi saya, yang ditulis rasul Paulus adalah inti-akar-dasar (dan lumayan banyak tentang batang-daun-buah) dari iman Kristen. Bukankah semua kitab, seperti Matius-Markus-Lukas-Yohanes dll., juga tidak menulis dengan lengkap kata-kata dan tindakan Yesus sebagai manusia Yahudi? Jadi, tidak ada yang aneh dan tidak salah juga jika rasul Paulus dan penulis Alkitab lainnya hanya memberikan inti-akar-dasar (dan lumayan banyak tentang batang-daun-buah) dari iman Kristen. Bagi saya sendiri, apa yang tertulis di Alkitab sudah sangat berharga bahkan untuk saya bawa sampai mati. Kalau mau ada tambahan, ya sifatnya cuma tambahan saja, bukan potret alternatif yang asing dari cerita-cerita Alkitab. Rakhmat memberi dasar teologis bagi kajian Yesus sejarah dari Injil Yohanes dan kitab 1-2 Yohanes. Karena “sang Firman itu telah menjadi manusia/daging dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14), dan karena kriterion iman yang benar itu ditumpukan pada suatu pengakuan mutlak bahwa “Sang Firman” yang adikodrati itu telah tampil dalam tubuh yang dapat “dilihat dan disaksikan dengan mata” dan dapat “didengar” dan dapat “diraba dengan tangan” (1 Yohanes 1:1-4) dan penolakan atas pengakuan ini menjadikan seseorang itu “anti-Kristus” dan “penyesat” (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7), maka penelitian atas Yesus sejarah itu memiliki dasar teologis skriptural yang kokoh. Apa yang dikatakan Rakhmat itu benar. Tetapi, menurut saya, tetap saja bahwa Yohanes itu mulai dari ayat pertama, bahwa: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Dan ayat pertama ini adalah dasar dari dasar teologis kajian Yesus sejarah. Menolak ayat pertama, berarti menjadikan ayat ke-14 sebagai dongeng tentang manusia yang pernah hidup pada abad pertama. Lebih lanjut, Rakhmat mengatakan bahwa dalam metode untuk merekonstruksi Yesus sejarah ini, tercakup unsur-unsur berikut: penentuan awal bahan-bahan tulisan apa saja yang dapat digunakan; kriteria (atau tolok-tolok ukur) untuk menentukan keaslian atau otentisitas bahan-bahan tulisan tentang Yesus (the Jesus material); pemakaian disiplin-disiplin ilmu yang saling mengisi (antara lain: kritik teks, sejarah, antropologi dan arkeologi) untuk menghasilkan suatu potret tentang Yesus yang tajam fokusnya; dan penentuan epistemologi yang digunakan. Dalam hal metodologi dan termasuk epistemologi di dalamnya, Rakhmat setuju dengan John Dominic Crossan. John Dominic Crossan adalah seorang pakar yang telah meneliti Yesus sejarah selama lebih dari tigapuluh tahun, dan yang paling serius menekankan perlunya dibangun sebuah metodologi yang dapat diandalkan, yang bersifat lintas ilmu, dalam penelitian Yesus sejarah. Crossan menolak baik epistemologi obyektivis positivis (bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu dapat dicapai seratus persen obyektif, tanpa keterlibatan subyektif si peneliti), maupun epistemologi subyektivis narcissis (bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu tidak akan pernah bersifat obyektif, sebab pengetahuan ini tidak lain adalah proyeksi kepentingan-kepentingan subyektif dari si peneliti). Sebagai gantinya, ia mengajukan epistemologi interaktif atau dialektis historis, bahwa pengetahuan tentang kenyataan itu senantiasa dibentuk dari interaksi atau dialektika berimbang dari obyektivitas faktual sebuah fakta (misalnya, fakta bahwa Yesus itu ada sebagai manusia dalam sejarah) dan subyektivitas si peneliti (sudut pandang, prapaham-prapaham, ideologi atau teologi, lokasi sosial dan kepentingan-kepentingan si peneliti dan komunitasnya). Penelitian Yesus sejarah tidak pernah menghasilkan kebenaran 100% mutlak selama-lamanya. Siapa yang memahami filsafat pascamodernisme tentu mengetahui bahwa pemikiran Crossan ini berada dalam paradigma filsafat tersebut. Sekurang-kurangnya, epistemologi interaktif atau dialektis historis ini sejalan dengan pemikiran Hans G. Gadamer (dan dilengkapi oleh teori kritis Jurgen Habermas terutama kesadaran akan ideologi). Hal ini nampak dalam kutipan kata-kata Crossan sebagai berikut: “Tidak ada seorang pun yang memulai penelitian terhadap Yesus sejarah tanpa memiliki ide-ide apa pun tentang Yesus sebelumnya... Sesungguhnya ada dan akan selalu ada sebuah hipotesis awal yang orang uji dengan memperhadapkannya pada data yang tersedia.” Penelitian Yesus sejarah tidak pernah mulai dari “nol”. Jadi, secara epistemologis dapat dikatakan bahwa penelitian Yesus sejarah itu “tidak pernah mulai dari nol dan juga tidak pernah mencapai titik final-mutlak-universal”. Penelitian Yesus sejarah yang benar mestilah berada dalam konteks pembicaraan tentang Kristus Kepercayaan. Tanpa berada dalam konteks ini, yang terjadi adalah kontradiksi-kontradiksi yang tidak menyuburkan pertumbuhan iman. Berikut adalah gambar bagaimana kita melihat kajian Yesus sejarah dalam konteks Kristus Kepercayaan. Gambar di atas sesungguhnya sudah menunjukkan banyak hal. Tetapi, untuk lebih jelasnya, saya jabarkan apa yang dimaksud. Penelitian tentang “Yesus Sejarah” bertitik tolak dari asumsi bahwa Yesus itu benar-benar manusia historis-nyata yang pernah hidup di Palestina pada abad pertama. Tanpa asumsi itu, penelitian sejarah tentang Yesus ini menjadi tidak masuk akal. Tetapi, jika kita tengok lebih dalam, maka asumsi di atas, secara teologis juga didasari oleh keyakinan bahwa Allah telah menyatakan DiriNya di dalam manusia Yesus. Jadi, penelitan sejarah yang rasional sifatnya itu berdiri di atas keyakinan adanya penyataan Allah yang suprarasional. Tanpa keyakinan itu, penelitian atas seluk-beluk kehidupan Yesus sampai habis-habisan dan menguras seluruh daya dan dana, tampak tidak masuk akal. Penelitian besar-besaran akan menjadi terasa konyol jika yang diteliti hanyalah seorang manusia biasa, layaknya si Suparmi yang tinggal di desa Pekayon, pinggiran Bekasi. Jadi, apa yang rasional di dasari oleh yang suprarasional. Yang suprarasional itu tetap menjadi misteri atau rahasia Allah dan tidak diketahui sampai manusia bisa berjumpa “muka dengan muka” dengan Allah di penghabisan akhir jaman nanti. Yang suprarasional jauh… jauh lebih besar dari apa yang dapat diketahui secara rasional. Yang suprarasional tidak bisa kita dikorek-korek oleh rasio sehingga dapat diketahui. Siapa yang memahami filsafat modern dan pascamodern akan memahami apa yang saya maksud. Filsafat modern membawa kita pada sikap agnostikisme tertutup, sedangkan filsafat pascamodern membawa kita pada sikap agnostikisme terbuka. Entah tertutup atau terbuka, semua filsafat olahan imajinasi-intelek-rasio manusia tidak bisa membuka rahasia penyataan Allah dalam Yesus Kristus yang memang berada di wilayah suprarasional. Siapa yang terlalu yakin akan kekuatan rasionya, mungkin nasibnya tidak jauh dari Nietzsche, menjadi gila. “Otak”nya jadi dol… (seperti mobil yang tidak punya rem sehingga kebablasan dan akhirnya mengalami kecelakaan dan tewas dalam tragedi yang memilukan). Yang rasional bekerja hanya sejauh sudah dinyatakan oleh Allah. Selebihnya, rasio tidak bisa berbuat apa-apa. Memahami keterbatasan rasio adalah tanda-tanda manusia dewasa… manusia yang cerah pikirannya. Sekarang ini, hasil penelitian Yesus sejarah yang bersifat rasional itu belumlah mencapai kepenuhan tuntas… tas… tas. Dan menurut pemikiran Hans G. Gadamer, memang penelitian sejarah itu tidak akan pernah sampai tuntas karena demikianlah karakter dasar “lingkaran hermeneutik” rasio manusia. Apa yang diketahui, sekalipun sudah banyak, secara keseluruhan tetap masih relatif sedikit juga. Masih banyak yang belum diketahui. Misalnya, untuk mengetahui seluk beluk kehidupan Yesus, dibutuhkan pengetahuan yang jumlahnya satu juta. Nah, dari beberapa abad lalu, pengetahuan itu sudah dicicil sedikit demi sedikit. Dan semakin bertambah banyak yang kita ketahui tentang kehidupan Yesus tatkala sebagai manusia di Palestina pada abad pertama. Bertambah banyak ini, mungkin saja baru mencapai 100 ribu pengetahuan. Masih ada 900 ribu pengetahuan lagi yang mesti dicari. Kita persilahkan para ilmuwan sejarah dan juga arkeologi atau yang sejenisnya untuk meneliti kehidupan Yesus semaksimal mungkin. Memang, yang menjadi masalah adalah jika penelitian sejarah Yesus itu bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Lalu bagaimana? Yang mana yang mesti kita percayai? Nah, dalam artikel penulis yang berjudul “INJIL” BARU DAN “TULANG YESUS”: APAKAH MENGGOYAHKAN IMAN?”, penulis menegaskan bahwa bukan rasio dasar iman, atau bukan penelitian sejarah yang menjadi dasar iman tetapi imanlah yang menjadi dasar rasio dan penelitian sejarah hasil olahannya. Siapa yang membalik urutannya akan menjadi anti Kristus. “Anti Kristus” berarti anti anugerah. Jadi, setiap penelitian sejarah-arkeologis yang tidak didasari oleh iman akan menentang anugerah Allah. Efesus 2:8-9 menyatakan bahwa “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu…” Mengapa Yesus lahir bukan karena hasil hubungan suami istri (Yusuf dan Maria)? Karena, kelahiran Yesus menunjukkan anugerah Allah. Yesus lahir karena karya Allah semata-mata. Kalau mesti melalui rahim Maria, ya itu memang menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia. Itu tidak usah dipusingkan. Nanti, kalau Allah menyatakan Dirinya dalam Yesus melalui buah pohon yang berisi manusia, kita tambah pusing lagi. Mungkin kita jadi takut, karena Yesus lahir dari sebuah pohon. Karya Allah dalam kelahiran Yesus tampak bahwa sekalipun Yesus dilahirkan oleh Maria manusia biasa yang berdosa, Yesus tetap bayi kudus yang tidak berdosa. Itu mukjizat yang hanya bisa dipahami di dalam iman. Bukan hanya pada saat kelahiran, pada saat pelayananNya, begitu banyak mukjizat terjadi. Mukjizat menunjukkan bahwa apa yang terjadi itu bukanlah karya manusia, tetapi karya Allah semata-mata. Orang lumpuh bisa berjalan, itu bukan kehebatan orang lumpuh tersebut, tetapi kehebatan Allah. Orang mati bisa bangkit, itu juga bukan kehebatan orang mati tersebut, tetapi kehebatan Allah. [Apa yang bisa dilakukan oleh orang mati? Jangankan membangkitkan dirinya, membuka matanya saja tidak bisa. Benar bukan?] Salib Yesus. Itu juga adalah mukjizat Allah. Di dalam penderitaan yang begitu dalam, penderitaan yang menggilas secara menyeluruh-habis keberadaan Yesus, Yesus tetap mengampuni orang-orang yang membunuhNya. Di dalam tarikan nafas yang hampir mau habis, Yesus tetap mengasihi manusia sedalam-dalamnya. Kasih yang lebih luas dari semesta ini, lebih tinggi dari langit… Dengan kata-kata yang seperti apakah kita bisa menggambarkan dengan tepat akan kasih Yesus yang tidak lain adalah kasih Allah sendiri? Adalah lebih tepat, jika yang keluar dari mulut kita adalah puji-pujian bagi Allah… ucapan syukur yang tak henti-hentinya… Ini jauh lebih bermakna dibanding laporan penelitian sejarah yang rasional kaku dan kebenarannya bersifat sementara. Kebangkitan Yesus juga menyatakan anugerah Allah. Mukjizat yang tidak akan bisa ditafsirkan oleh rasio manusia. Entah kita mau berpikir bagaimana, kita tidak akan dapat mengupas tuntas mukjizat kebangkitan Yesus ini [jangankan mengupas tuntas, mengupas sedikit saja sudah hebat!]. Kecuali, kita sendiri pernah mati dan dikuburkan selama tiga hari dan kemudian bangkit dengan kemuliaan. Nah, barulah kita bisa berkomentar tentang kebangkitan Yesus ini. Komentar yang sah hanyalah dilandaskan oleh iman dan berdasar Alkitab. Siapa yang menyangkal kebangkitan Yesus, dia adalah orang yang lupa diri. Apakah dia lebih suci dan lebih mulia dari Yesus sehingga bisa menilai Yesus itu tidak begini dan tidak begitu? Semua penelitian sejarah-arkeologis yang anti Kristus (anti anugerah Allah), tentu kita tolak. Menyangkal kebangkitan Yesus, sama saja menolak semua mukjizat yang pernah terjadi dalam seluruh kehidupan Yesus, dan itu berarti menolak Yesus sendiri. Bagaimana menghadapi orang yang menolak Yesus? Kita doakan, semoga orang-orang seperti itu mengalami anugerah Allah; dan dengan demikian pengertian-pengertiannya akan lebih cocok dengan anugerah Allah sebagaimana dinyatakan oleh Yesus Kristus. Sekalipun sepertinya benar 100%, penelitian sejarah-arkeologis tetaplah konstruksi pikiran manusia yang terbatas (ingat! Penelitian arkeologi dibangun dengan metode dan asumsi-asumsi yang bersifat “konsensus”, disetujui bersama karena disepakati). Saya yakin, bahwa di masa depan akan ada penelitan yang baru, baru… dan baru lagi. [Karena, memang demikianlah sifat ilmu hasil olah rasio manusia]. Semua masih dalam proses… Iman kita memang dalam proses juga… tapi, dasar dan tujuan iman kita tidaklah berada dalam proses…. Allah Tritunggal begitu AdaNya, dari dulu hingga masa depan nanti. Allah Tritungal tetap begitu AdaNya, entah kita kaji-teliti atau tidak. Yang terpenting adalah iman dan puji-pujian kepada Yesus Kristus, kepada Bapa dan Roh Kudus. Puji-pujian yang sangat disukai oleh mereka yang menderita, karena Allah Tritunggal adalah Allah yang solider kepada mereka dan penderitaan mereka. Buktinya? Salib Yesus. Jika iman kita ingin tumbuh, maka tempatnya tentu bukan dibioskop dan nonton film dokumenter The Lost Tomb of Jesus. Tentu Anda semua sudah tahu, dimana Cakkavati Kusuma 62 813 8007 0763 Jakarta, Indonesia [EMAIL PROTECTED] Yahoo Messenger id : cakkavati_kusuma . ========================================== From: <[EMAIL PROTECTED]> Website berisi pengajaran psikologis, motivator coba www.pondokrenungan.com =============================================== From: "Maslinati Hendargo" <[EMAIL PROTECTED]> Alkitab Ibrani - Inggris (or Ibrani - Indonesia) Kalau mau gratis, lihatnya bisa online di: www.blueletterbible.org Di situ ada hebrews bible, dan teman saya bilang bisa di baca side-by-side dengan versi inggrisnya. ------------------------------------------------------------------------------------------- From: "Bob Jokiman" <[EMAIL PROTECTED]> Klo yang Ib-In, coba ke www.SABDA.org.

