From: "Leonardi Setiono" <[EMAIL PROTECTED]>

JODOH SESUAI FIRMAN TUHAN

Cinta ada yang romantis, ada juga cinta yang realistis. Dari paham cinta 
tersebut maka lahirlah bermacam-macam bentuk pernyataan, termasuk tentang 
keajaiban jodoh. Bagi mereka yang menyukai cinta romantis, lebih tertarik 
dengan pernyataan “jodoh dari Tuhan” seakan khusus, hanya ada satu (seperti 
pecahan giok) dan pertemuannya secara “ilahi”. Pokoknya Tuhan yang sodorkan 
secara ajaib gitu deh…

Tetapi bagi mereka yang lebih condong pada cinta yang realistis, mereka 
memandang keajaiban jodoh itu tidak ada, semua ya jodoh dari Tuhan kalau sudah 
dinikahi. Yang penting saling mencocokan, menerima satu sama lain, baru bisa 
disebut jodoh. Intinya, jangan cengeng gitu lah…

Tentang jodoh dan pernikahan yang benar, kita seharusnya memahami dari Alkitab, 
bagaimana Alkitab menjelaskan tentang pernikahan.

PERNIKAHAN DIDALAM ALKITAB

Tentang pernikahan telah ditulis sejak penciptaan. Sejak manusia pertama, Adam, 
tentang pernikahan sudah tertulis, Hawa diciptakan untuk menjadi pasangan 
(jodoh) dalam hidupnya.

Lalu TUHAN membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN mengambil 
salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari 
rusuk yang diambil TUHAN dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, 
lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, 
tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab 
ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan 
ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu 
daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka 
tidak merasa malu. [Kejadian 2:21-25]

Dari kitab Kejadian tersebut, kita mengenal istilah suami dan istri, mengenal 
tentang pernikahan. Dimana Tuhan mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan akan 
bersatu (didalam penikahan kudus). Jelas tertulis laki-laki dan perempuan, 
bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan (Roma 
1:26-27). Pernikahan homo dan lesbi tidak sesuai kehendak Tuhan. Yang disebut 
pernikahan adalah antara laki-laki dengan perempuan.

Begitu indahnya pernikahan, laki-laki dan perempuan, bagaimana dua jiwa dapat 
berpadu, berjalan bersama, saling mengasihi, ada kisah cinta dan saling 
memperhati kan. Raja Salomo dalam hikmat Tuhan menulis dalam Amsal 30:18-19 
bahwa jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suatu hal yang 
mengherankan dan tidak dimengerti, seperti sebuah misteri.

Memang benar, pernikahan, kisah penciptaan Adam dan Hawa, sebenarnya merupakan 
rahasia besar, bukan hanya tentang pernikahan manusia, tetapi tentang rencana 
Tuhan terhadap gereja dan Kristus (Efesus 5:31-32). 
Itulah sebabnya pernikahan disebut kudus dan tidak dapat diceraikan (Markus 
10:9).

LAKI-LAKI DARI PEREMPUAN

Didalam kitab Kejadian, keberadaan atau asal-usul laki-laki dan perempuan 
ditulis dengan jelas. Laki-laki selalu ditulis terlebih dahulu, bahkan dalam 
perhitungan orang Israel, hanya dihitung laki-laki saja, perempuan dan 
anak-anak tidak dihitung. Juga dalam banyak hal, yang diperhitungkan hanya 
laki-laki, yang disebut anak sulung juga hanya laki-laki, bahkan perempuanpun 
diharapkan bersikap seperti laki-laki kata I Korintus 16:13. Tentu saja yang 
dimaksud bukan secara prilaku atau penampilan, tetapi laki-laki secara rohani.

Dengan menuliskan didepan dan seakan diutamakan dalam segala hal, bukan berarti 
laki-laki lebih unggul dari perempuan, bukan berarti laki-laki lebih berarti 
dari perempuan. Penulisan dalam Perjanjian Lama merupakan penggambaran tentang 
laki-laki secara rohani, seperti halnya perintah Tuhan untuk membunuh pendosa 
tanpa tersisa (Ulangan 13:12-15), hal itu bukan dimaksud membunuh secara 
jasmani tetapi secara rohani (2 Korintus 3:14-15). Laki-laki lebih utama bukan 
secara jasmani tetapi dalam pengertian rohani.

Dalam pengertian jasmani tentang jenis kelamin, laki-laki itu sama dengan 
perempuan. Tuhan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan (Roma 2:11).

Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada 
laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, 
demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal 
dari Tuhan. [1 Korintus 11:11-12]

PEREMPUAN DARI LAKI-LAKI

Tentang perempuan, FirmanNya menulis, “Ia akan dinamai perempuan, sebab ia 
diambil dari laki-laki”. Kata tersebut menjelaskan kalau ada sesuatu yang 
diambil dari laki-laki, dan ayat 21 diatas menyebutkan bahwa yang diambil 
tersebut (tulang rusuk Adam), dan tidak diganti baru tetapi hanya ditutup oleh 
daging. Jelas ada sesuatu yang berkurang dari laki-laki.

Tuhan menjadikan perempuan dari apa yang kurang (dikurangi) dari laki-laki. 
Sehingga laki-laki dan perempuan jika bersatu akan menjadi lengkap (genap). 
Bukankah Firman Tuhan menuliskan “Sebab pada awal dunia, Tuhan menjadikan 
mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya 
dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu 
daging. Demikianlah mereka 
bukan lagi dua, melainkan satu.” [Markus 10:6-8]. Mereka menjadi satu bukan dua 
dihadapan Tuhan.

Inilah pernikahan, inilah jodoh. Bahwa laki-laki dan perempuan akan saling 
melengkapi dan menjadi genap (satu) didalam pernikahan kudus. Istri merupakan 
bagian dari suami dan suami merupakan bagian dari isteri, keduanya adalah satu 
daging, satu tulang.

Kata diambil dari laki-laki menandakan bawah perempuan diciptakan untuk 
menghormati dan tunduk kepada suaminya, demikian juga dengan suami yang mana 
ada sesuatu darinya yang diambil untuk dijadikan perempuan, maka isteri adalah 
bagian dari tubuhnya sendiri (Kolose 3:18-19, Efesus 5:13, 1 Petrus 3:5-7). 
Isteri tunduk kepada suami kelihatannya kok tidak populer, tetapi inilah Firman 
Tuhan. Jangan kita karena emansipasi wanita, modernisasi dan 
kebodohan-kebodohan lain mengubah hukum Tuhan. 
Tenang hal ini, tentang hubungan Kristus, suami dan isteri dapat anda baca 
dalam Efesus 5:22-33 dan I Korintus 11:3-15. (Merupakan pembahasan tersendiri)

SALING MELENGKAPI

Saling melengkapi merupakan inti dari pernikahan. Satu dengan yang lainnya 
saling tolong menolong didalam kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga 
menjadi genap (satu). Bukankah Pengkotbah 4:9-10, mengatakan, “Berdua lebih 
baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih 
payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, 
tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk 
mengangkatnya!” Coba juga baca I 
Korintus 7:16.

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, agar mereka dapat saling tolong 
menolong, dimana berdua lebih baik kata Firman Tuhan, berdua dapat saling 
tolong menolong, bahu membahu, saling melengkapi. Karena jika manusia 
sendirian, maka tidak ada yang akan menjadi penolong baginya, hal itu tidak 
baik dimata Tuhan.

TUHAN Tuhan berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. 
Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” [Kejadian 2:18]

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan menjadikan mereka 
sebagai penolong yang sepadan. Suami menolong isteri, isteri menolong suami. 
Demikianlah penikahan kudus menggenapi hukum Kristus (Galatia 6:2).

Sejak awal penciptaan Tuhan telah menetapkan agar suami dan isteri saling 
tolong menolong. Jika tidak demikian maka Tuhan tidak menciptakan laki-laki dan 
perempuan. Bukankah Tuhan telah menciptakan beberapa binatang didunia ini yang 
dapat berkembang biak tanpa proses persetubuhan? Binatang tersebut diciptakan 
Tuhan untuk menunjukan pada kita bahwa tujuan pernikahan bukan untuk berkembang 
biak. Tuhan sanggup membuat manusia berkembang biak, beranak cucu, tanpa proses 
persetubuhan, jika memang Tuhan menghendaki manusia hanya seorang diri. Tetapi 
Tuhan menghendaki kita saling tolong menolong suami dan isterinya sesuai hukum 
Kristus.

HANYA ADA SATU

Selanjutnya, tentang kepada siapa kita menjadi satu. Beberapa orang romantis 
menganggap jodoh itu adalah tulang rusuk yang merupakan tulang rusuk 
satu-satunya tidak ada yang lain. Beberapa lagi yang lebih rasional mengaggap 
siapa saja dapat menjadi tulang rusuk.

Yang jelas sejak awal, hanya ada satu tulang rusuk yang diambil. Hanya ada satu 
pasangan suami dan istri, bukan satu suami dengan belasan istri, atau satu 
istri dengan beberapa suami. Roma 7:3, menuliskan “Jadi selama suaminya hidup 
ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika 
suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau 
ia menjadi isteri laki-laki lain.” Anda juga dapat membaca dalam 1 Thesalonika 
4:4, 1 Korintus 7:2, 1 Timotius 3:2,12 atau simak 1 Petrus 3:7, disana istri 
ditulis tunggal bukan jamak. Banyak ayat lain lagi yang menjelaskan satu suami 
satu istri.

Kebenaran tentang satu suami dengan satu istri sudah jelas. Selanjutnya 
menemukan tulang rusuk. Siapa tulang rusuk kita? Dapat siapa saja atau hanya 
ada satu-satunya?

MENEMUKAN TULANG RUSUK

<> Tanda Pertama
Adam menikah dengan Hawa, Kain menikah dengan adiknya, demikian juga dengan Set 
dan keturunan-keturunannya mereka menikah sesama anggota keluarga, bahkan 
sampai Abraham (Kejadian 20:12), Ishak (Kejadian 24:4) dan Yakub (Kejadian 
29:12-14), mereka menikahai sanak saudara mereka sendiri. Hal ini terus terjadi 
sebab demikianlah hukum Taurat yang diturunkan oleh Tuhan (Bilangan 36:8-13, 
Hakim-hakim 14:3, dll). Mereka tidak boleh menikah dengan bangsa-bangsa lain 
(Ulangan 7:1-5, Kejadian 24:3, 28:1).

Hukum Taurat tersebut digenapkan dalam Perjanjian Baru seperti yang tertulis 
dalam II Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang 
dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara 
kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”

Kita sebagai umat Tuhan, anak-anak Abraham secara rohani (Galatia 3:7), juga 
wajib menikah dengan sesama saudara seiman. Inilah tanpa pertama. Jodoh dari 
Tuhan adalah sesama bangsa Israel rohani.

<> Tanda Kedua
Kejadian 2:24 menjelaskan laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk 
menjadi satu dengan istrinya. Bangsa Israel mempunyai kebiasaan, setiap anak 
laki-laki yang menikah ia akan keluar dari rumah orang tuanya dan membangun 
keluarganya sendiri.

Seseorang yang menikah haruslah telah dewasa dan siap memulai kehidupannya 
sendiri bersama dengan suami/istrinya, bukannya seorang anak-anak atau remaja 
yang masih sangat bergantung kepada orang tuanya. 
Dalam Perjanjian lama, laki-laki berbeda dengan anak-anak. Walaupun laki-laki 
tetapi kalau masih anak-anak tidak dihitung sebagai laki-laki.

Laki-laki dewasa didalam pengertian Taurat adalah laki-laki yang berusia dua 
puluh tahun keatas. “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum 
yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel 
yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi 
orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya 
masing-masing.” [Ulangan 1:2-3]. 
Dibawah umur tersebut, mereka masih menjadi tanggungan orang tua mereka 
masing-masing dan tidak diperhitungkan sebagai seorang laki-laki.

Dua puluh tahun bukan batas minimal umur untuk menikah menuruh Firman Tuhan, 
tetapi kita dapat menjadikan sebagai acuan untuk mulai memikirkan pernikahan, 
sebab dibawah usia tersebut sebaiknya berfikir untuk menikah ditahan dahulu.

Yang terpenting bukan umurnya, melainkan kesanggupan mereka berperang, “yang 
berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang” 
(Ulangan 1:3a). Berperang adalah kemampuan memikul beban kehidupan (Ayub 7:1).

Bahwasanya hal manusia di atas bumi ini seperti orang perang adanya dan hari 
hidupnyapun seperti hari orang upahan. [Ayub 7:1, Alkitab Terjemahan Lama]

Baik laki-laki maupun perempuan, mereka adalah sama (1 Korintus 16:13), harus 
sanggup berperang, bergumul didalam kehidupan ini. Walau sudah berusia dua 
puluh tahun tetapi kalau belum sanggup memikul beban kehidupan sebaiknya jangan 
menikah dahulu. Hanya yang telah diperhitungkan sebagai “laki-laki” yang boleh 
menikah.

Inilah tanda kedua, Jodoh dari Tuhan adalah mereka (laki-laki atau perempuan) 
yang telah dewasa dan sanggup memikul beban kehidupan ini.

<> Tanda Ketiga
Setelah kita mengetahui tanda pertama bahwa ia adalah saudara seiman, dan tanda 
kedua telah dewasa dan dapat disebut sebagai laki-laki, maka selanjutnya adalah 
tanda pengikat.

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang 
mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah 
dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan 
bersyukurlah.” 
[Kolose 3:14-15]

Kasih atau cinta adalah pengikat yang membuat dua menjadi satu. Tanpa cinta, 
dua tidak dapat menjadi satu. Pernikahan harus didasari atas cinta, bukan atas 
hawa nafsu (1 Thesalonika 4:4-5). Menyukai lawan jenis, tidak semuanya didasari 
atas cinta, beberapa walau tampak seperti cinta, tetapi sebenarnya adalah hawa 
nafsu.

Kasih suami isteri itu menyatukan dan meyempurnakan jika keduanya saling 
mencintai, bukan salah satu saja yang mencintai. Cinta terhadap suami isteri, 
cinta terhadap teman atau sahabat, cinta terhadap keluarga dan orang tua 
merupakan bentuk cinta yang berbeda-beda. Cinta suami isteri adalah cinta 
saling memiliki, seperti yang ditulis dalam 1 Korintus 7:4, “Isteri tidak 
berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak 
berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.“

Mengasihi seperti mengasihi bagian tubuh sendiri (Efesus 5:28-29), itulah cinta 
suami istreri. Tanda-tanda cinta secara umum dapat anda baca dalam 1 Korintus 
13:4-7 (kata cemburu dalam Alkitab Terjemahan Baru sebenarnya lebih tepat 
ditulis dengki, dalam terjemahan KJV, NKJV, ASV, YLT dan lain-lain menggunakan 
kata envy buka jealous). Sebab pasangan suami dan istri harus ada cemburu dan 
kesucian didalam cintanya, seperti yang dikatakan II Korintus 11:2.

Tanda ketiga adalah adanya cinta. Bukan cinta satu pihak, tetapi saling 
mencintai. Karena cinta dan kesucian maka dua dapat menjadi satu.

<> Tanda Keempat
Setelah tanda ketiga yaitu cinta yang menjadi pengikat yang membuat dua menjadi 
satu, maka berikutnya, seperti yang tertulis dalam penciptaan manusia, didalam 
Kejadian 4:25, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi 
mereka tidak merasa malu.”

Telanjang bukan secara jasmani (dosa jika diluar pernikahan). Tetapi didalam 
pengertian rohani, telanjang mempunyai arti terbuka, terlihat segala 
kekurangan, keburukan dan kelebihan kita.

Suami dan istri haruslah terbuka, mereka tidak boleh menutupi keburukan satu 
sama lain, segala kelemahan dan kekurangan hedaklah terbuka dan diketahui 
masing-masing. Untuk itulah mereka saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan 
malah sebaliknya saling menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan masing-masing. 
Jangan ingin tampil (seakan) prima didepan penolong sejodoh kita, karena 
kekurangan tersebutlah maka laki-laki dan perempuan ada, pernikahan ada. Agar 
mereka dapat saling menolong dan melengkapi sehingga keduanya menjadi genap.

Tanda keempat adalah keterbukaan. Jodoh dari Tuhan satu sama lain harus dapat 
saling mengenal, memahami dan meyempurnakan. Jika anda merasa tidak cocok 
dengan kekurangannya dan tidak yakin dapat menggenapinya maka mungkin ia memang 
bukan penolong sejodoh bagi anda.

<> Tanda Kelima
Tanda kelima merupakan peneguhan dari Tuhan atas pasangan yang akan menjadi 
suami atau isteri. Peneguhan dari Tuhan itu perlu, sebab hanya Tuhanlah yang 
tahu mana penolong sejodoh kita. Banyak laki-laki dan banyak perempuan, tetapi 
tidak semua laki-laki dan tidak semua perempuan dapat menjadi penolong yang 
cocok bagi kita. Perhatikan Kejadian 2:22, Dan dari rusuk yang diambil TUHAN 
dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada 
manusia itu. 
Tuhan yang membawa Hawa kepada Adam.

Dalam perjodohan, Tuhan ikut terlibat didalamnya. Tuhan tahu mana yang tepat 
menjadi penolong kita, Tuhan tahu mana yang terbaik untuk menjadi isteri atau 
suami kita. Karena itu pula didalam Alkitab, saat Abraham mencarikan jodoh 
untuk Ishak, yaitu seorang perempuan dari sanak saudaranya, maka hambanya yang 
ditugaskan untuk mencari jodoh tersebut berdoa memohon tanda dari Tuhan, 
manakah yang terbaik bagi Ishak.

Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada 
waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. Lalu 
berkatalah ia: “TUHAN, Tuhan tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku 
pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku 
berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang 
keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa 
aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang 
menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang 
Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa 
Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” [Kejadian 24:11-14]

Hanya Tuhan yang tahu dan mengenal kita secara keseluruh, bukan orang lain, 
bukan orang tua dan bukan pula diri kita sendiri, seperti yang dikatakan oleh 1 
Korintus 13:12. Hanya Tuhan mengenal kita dengan sempurna. Demikian juga dengan 
pasangan kita, hanya Tuhan yang tahu dengan pasti apakah ia benar-benar dapat 
menjadi penolong yang cocok dengan kita didalam segala hal.

Seperti yang dilakukan hamba Abraham, kita juga harus bertanya kepada Tuhan 
siapa yang tepat menjadi penolong hidup kita.

Bertanya dan mendapatkan jawaban Tuhan merupakan suatu permasalahan sendiri, 
beberapa orang telah dapat meminta peneguhan dan mendengar suaraNya, beberapa 
lagi tidak paham dengan tanda-tanda Tuhan, karena itu maka ditetapkan oleh 
Tuhan bahwa para pemimpin kerohanian, seperti Gembala Sidang atau pemimpin 
rohani lainnya, mereka adalah orang-orang yang bertanggungjawab kepada Tuhan 
atas hidup kita (Ibrani 13:17), kepada perantara merekalah kita dapat 
memintakan petunjuk tentang perjodohan tersebut dari Tuhan.

Selain pemimpin/pembimbing rohani anda, orang tua yang didalam Tuhan juga 
merupakan perantara tentang perjodohan dari Tuhan. Jika ada keberatan dari 
mereka, jangan abaikan hal tersebut, sebab kesaksian dua atau tiga orang yang 
bertanggung jawab atas hidup anda, suatu perkara dapat dibenarkan, kata II 
Korintus 3:1, 1 Timotius 5:19 atau Ulangan 19:15.

Jadi minta petunjuk dari Tuhan itu bukan hal yang salah, malah sebaliknya itu 
merupakan keharusan. Tanda kelima adalah peneguhan dari Tuhan (baik lewat 
tanda-tanda ilahi maupun lewat orang-orang yang bertanggung jawab atas hidup 
kita dihadapan Tuhan).

Dalam pelaksanaanya untuk petunjuk atau tanda-tanda langsung dari Tuhan, 
hendaknya disesuaikan dengan iman masing-masing, jangan kita mereka-reka 
perkara yang terlalu tinggi bagi iman kita sendiri (Roma 12:3). Terbaik adalah 
peneguhan Tuhan melalui perantara pemimpin rohani dan orang tua kita didalam 
Tuhan.

PENUTUP

Tentang jodoh dan lima tanda yang harus ada sesuai Firman Tuhan telah 
dijelaskan singkat diatas. Semoga hal ini dapat membantu kita semua anak Tuhan 
untuk dapat mengenali penolong sejodoh yang terbaik dari Tuhan untuk kita.

Jodoh bukan peristiwa gaib dimana si A harus menikah dengan si B, tetapi Tuhan 
akan membantu kita untuk mendapatkan penolong yang sepadan dengan kita yang 
cocok dengan kita sesuai dengan Firman Tuhan. Tidak semua orang cocok sebagai 
penolong hidup kita, tetapi Tuhan tahu yang mana yang dapat menjadi penolong 
yang paling sepadan. Jangan bayangkan Tuhan memberikan jodoh yang tidak sesuai 
dengan selera jasmani anda, sebab Tuhan itu kasih, pasangan yang cocok dengan 
kita adalah pasangan yang cocok baik rohani maupun jasmani, tetapi bukan 
didalam hawa nasfu dan keduniawian.

Penolong yang sejodoh bukan berarti hidup akan ideal, segala sesuatunya pas. 
Tidak demikian tentang penolong yang sejodoh. Didalam suka dan duka, didalam 
beratnya hidup ini, penolong sejodoh harus dapat saling melengkapi dan menolong 
satu sama lain. Babak baru dalam kehidupan mereka bukan lagi bagiamana 
menemukan penolong sejodoh, tetapi bagaimana hidup sebagai suami atau istri 
yang benar dan berkenan dihadapan Tuhan dan manusia.

Juga tidak semua orang akan menikah, Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa 
ada orang-orang yang tidak menikah, baik oleh karena kemauan sendiri, oleh 
karena keadaan maupun oleh karena orang lain (Matius 19:12). Bagi tiap-tiap 
anak Tuhan, telah direncanakan yang terbaik dalam hidupnya baik yang menikah 
maupun yang tidak menikah (1 Korintus 7:1-40).

Tentang pernikahan, bukankah pernikahan itu merupakan seluruh hidup kita? 
Bandingkan dengan tahun-tahun hidup lajang? Jangan kita menyia-nyiakan hidup 
kita didalam pernikahan dengan dasar hawa nafsu.

Salam,
Leonardi Setiono

Artikel lainnya dapat anda baca dalam http://leonardi.wordpress.com
=============================================
From: S. Sujud 

Awas jangan berani2 bersaksi TIDAK ADA TUHAN!!! Ini hasilnya!!!

Indonesia Menunggu Datangnya Gempa Dahsyat Lebih Dari 9 SR

Baru saja diberitakan oleh TV CNN pada tanggal 17 September 2007 tentang 
Datangnya Gempa Dahsyat yang lebih atau sekitar 9 SR disekitar Sumatra Barat.

CNN melakukan peninjauan khusus bersama pemburu Gempa dari California
Technology Institute. Pemburu gempa ini adalah geoloog dari CalTech yang 
meneliti semua gempa2 yang muncul di Indonesia terutama yang terakhir ini yang 
katanya mengakibatkan kerak bumi melipat sehingga menimbulkan gempa sekitar 7 
SR lebih baru2 ini.

Akibat dari kerak bumi yang melipat sehingga overlap satu dengan lainnya yang 
terjadi diwilayah sekitar SumBar, akan memaksa efek balik seperti pegas, karena 
lipatan ini akan berusaha mengembalikan atau meratakan kerak bumi yang melipat 
ini seperti ibaratnya pegas yang apabila kita tekuk akan menimbulkan kekuatan 
yang arahnya sebaliknya dari arah tenaga yang menekuknya untuk kembali ke 
bentuk semula.

Reaksi balik pegas akan terjadi terhadap kerak bumi yang melipat akibat gempa 
baru2 ini yang besarnya sekitar 7 SR itu, namun reaksi balik pegas ini akan 
berakibat gempa yang besarnya lebih dari 7 SR yang diperkirakan sebesar 9 SR 
atau lebih.

Menurut ahli geologi pemburu gempa ini, gempa yang ditunggu itu akan muncul 
dalam waktu dekat. Tidak ada yang bisa dilakukan selain mengumumkannya kepada 
masyarakat luas diwilayah SumBar untuk ber-jaga2 datangnya gempa ini yang 
kemungkinan akan disertai Tsunami. Persiapan mental dibutuhkan masyarakat agar 
dengan persiapan yang baik maka datangnya gempa tidak akan menimbulkan 
kepanikan sehingga jatuh korban yang jauh lebih besar.

Kapan tepatnya kedatangan gempa dahsyat ini, sang pemburu gempa sendiri tidak 
bisa memastikan. Namun sang pemburu gempa ini menyatakan akan tetap mengejar 
gempa dahsyat ini untuk menyaksikannya sendiri bersama masyarakat.

Kalo benar gempa dahsyat ini benar akan muncul, maka gempa ini adalah yang 
terbesar sepanjang sejarah bumi ini, karena gempa yang terjadi dalam dongeng 
Sodom dan Gomorah saja hanya berkisar kurang dari 8 SR.
Dengan pemberitahuan ini sang pemburu gempa mengharapkan agar berita ini 
disebar luaskan sementara katanya pemerintah justru menutupi berita ini untuk 
mencegah kepanikan. Padahal menurut pemburu gempa ini, berita ini justru harus 
disebar luaskan sehingga masyarakat bisa mengadakan persiapan yang tidak akan 
menimbulkan kepanikan.

Semoga rekan2 di Indonesia bisa menyebar luaskan berita ini sehingga persiapan2 
yang diperlukan bisa dilakukan sesuai dengan petunjuk2 para ahli2 gempa dunia.

Mohon maaf, nama saya Sembah Sujud, karena saya memang suka menyembah dan 
bersujud.  Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Tuhan akan mengampuni 
dosamu"
Markus 1:4

Kirim email ke