From: "Tessaria Surianta" [EMAIL PROTECTED]

 The Journey of Love

Tanggal : 8 September 2007
Tema Khotbah : The Journey of Love
Pembicara : Pdt. Riko Tan (GKY Sunter)
Ayat Pendukung : Kejadian 1:26-28
Forum : KP2 GKYJGV

Mengapa manusia menikah?
Kejadian 1:26-28: 
1:26. Berfirmanlah Tuhan: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan 
rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di 
udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata 
yang merayap di bumi." 
1:27 Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar 
Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 
1:28 Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: 
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, 
berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala 
binatang yang merayap di bumi." 

Perhatikan ayat 27: ..Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut 
gambar Tuhan diciptakan-Nya dia. Ini artinya adalah:
a. Manusia diciptakan sebagai makhluk social. 
Semua manusia; baik Kristen maupun non Kristen; memiliki pertimbangan moral, 
manakah yang baik dan yang jahat. Itu artinya dalam diri setiap orang Tuhan 
menaruh gambaranNya dan ada Tuhan di dalam diri mereka. 
Dan karena itu pula ada kebutuhan untuk berelasi. Ini mirip dengan gambaran 
Tuhan Tritunggal di mana pribadi Tuhan berelasi satu dengan yang lainnya. 
Karena itulah Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk social. 
b. Manusia diciptakan memiliki daya kreasi. 
Karena Tuhan adalah Tuhan yang berkreasi, maka manusia pun diciptakan Tuhan 
memiliki daya kreasi. 

Tujuan menikah

1. Optimum sebagai gambar
Mari kita melihat sejarah Israel. Orang Israel baru selesai dari perbudakan 
selama 400 tahun. Mereka telah diindoktrinasi oleh Firaun bahwa mereka adalah 
bangsa hapiru yang artinya kaum debu; bangsa yang tidak artinya seperti debu 
yang dikebaskan. 
Firaun membuat kasta. Yang paling rendah adalah Israel, yang paling tinggi 
adalah Firaun. Firaun disebut sebagai gambar Tuhan. Di setiap daerah 
kekuasaannya Firaun menaruh patungnya dan jika orang melewatinya, mereka harus 
memberi hormat pada patung itu. 

Untuk melawan indoktrinasi Firaun, Musa menulis Kej. 1:26-28 yakni bahwa 
manusia diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Tuhan.
Waktu Adam dan Hawa belum jatuh dalam dosa, gambar dan rupa Tuhan memang sudah 
sempurna dalam diri mereka tetapi belum optimum. Gambar ini dioptimalkan ketika 
manusia disuruh menunjukkan kuasanya atas bumi ini (mandat budaya) à perhatikan:
ayat 26: Berfirmanlah Tuhan: ".... supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di 
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas 
segala binatang melata yang merayap di bumi." 
Ayat 28: Tuhan berfirman kepada mereka:".... penuhilah bumi dan taklukkanlah 
itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas 
segala binatang yang merayap di bumi." 
Mandat budaya adalah mandat pertama sebelum Amanat Agung diberikan. 

Sesudah manusia berdosa, gambaran ini rusak. Gambaran yang rusak ini diperbaiki 
di dalam pernikahan. Dengan pernikahan, pasangan suami istri dikondisikan 
dengan terpaksa untuk menyatakan gambar dan rupa Tuhan karena di dalam wadah 
pernikahan, mereka saling membentuk. Jadi pernikahan adalah alat Tuhan untuk 
mengembalikan gambar dan rupa Tuhan tersebut dalam diri manusia. 

Sebelum menikah mungkin kita akan merasa bahwa kita adalah orang yang sangat 
baik dan tidak egois. Tetapi waktu kita menikah, kita akan menyadari bahwa kita 
adalah orang yang masih banyak kekurangan serta egois. Dalam pernikahan, kita 
akan dibentuk menjadi manusia yang lebih baik sesuai kehendak Tuhan. 

Statement "jangan coba ubah-ubah saya; saya orangnya sudah seperti ini" adalah 
statement egois yang akan menimbulkan masalah penyesuaian dalam pernikahan. 
Seorang suami/istri akan sangat egois jika mengatakan hal ini pada pasangannya. 

Tujuan pernikahan Kristen bukanlah kebahagiaan. Kalau tujuan menikah adalah 
kebahagiaan, maka akan timbul banyak kesusahan. Kebahagiaan adalah anugerah 
umum dari Tuhan yang diberikan pada semua orang (seperti matahari, udara, dll), 
bukan anugerah khusus. Orang bisa bahagia tanpa dia menjadi Kristen, karena 
orang bisa bahagia yaitu ketika semua kebutuhannya terpenuhi. 

Tujuan pernikahan Kristen adalah menanggung beban yang perlu sampai kekekalan. 
Dalam pernikahan, kita dibentuk, dipahat, dikikis dengan konflik, masalah dll 
sehingga ketika masuk dalam kekekalan, kita menjadi manusia yang sempurna. 
Pernikahan merupakan wadah yang cocok untuk membentuk kita menjadi sempurna. 

Matius 11:28-30: 
11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan 
memberi kelegaan kepadamu. 
11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah 
lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 
11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Pasal 11:28 menunjukkan menunjukkan bahwa ada beban yang tidak perlu kita 
tanggung. Tetapi ada juga beban yang perlu ditanggung (11:29) yaitu menyangkal 
diri dan memikul salib. Penyangkalan diri dan memikul salib adalah beban yang 
diberikan untuk kebaikan kita sebagai cara Tuhan untuk memulihkan gambar dan 
rupaNya dalam diri kita. 
Tetapi ada juga beban yang tidak perlu kita tanggung. Contoh jika kita menikah 
dengan orang yang tidak seiman, kita tetap akan masuk surga. Tetapi seumur 
hidup kita di dunia, kita akan menanggung beban kesulitan hidup karena menikah 
dengan orang yang tidak satu prinsip iman dengan kita. Ini sebenarnya beban 
yang tidak perlu terjadi dan tidak perlu kita tanggung jika kita taat pada 
kehendakNya. 

Hati-hati! "Salib" dan "akibat dosa" adalah 2 hal yang berbeda. Contoh: (true 
story) ada seorang wanita cantik yang sangat taat Tuhan menjadi teladan bagi 
orang lain dalam hidupnya. Tiba-tiba terdengar kabar yang mengagetkan bahwa 
wanita itu hamil di luar nikah dengan orang non Kristen. Wanita itu 
mengatakan,"Tuhan mau saya menanggung salib seperti apa ya?"

Ini merupakan suatu statement yang salah!! Wanita itu tidak menanggung salib 
dari Tuhan tetapi ia menanggung akibat dosanya sendiri. 

Bedanya salib dengan akibat dosa adalah
Salib: penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi bukan karena kesalahan kita. 
Penderitaan itu terjadi karena manusia sudah berdosa sehingga dunia ini 
dipenuhi dengan penderitaan. 
Akibat dosa: penderitaan yang harus kita tanggung karena dosa kita. 

Tuhan memakai wadah pernikahan untuk membentuk pribadi kita. Tetapi bukan hanya 
melalui pernikahan Ia membentuk kita. Ia bisa membentuk kita melalui pelayanan, 
peristiwa dalam hidup kita, orang lain dan hal lainnya. 

Ada satu rangkaian kata mutiara yang sangat baik:
"Waktu kita memberikan pengampunan pada orang lain, belum tentu pengampunan itu 
mengubah orang tersebut. Tetapi waktu kita mengampuni, kita makin serupa dengan 
Kristus."

2. Duplikasi gambar Tuhan
Kej. 1:28 Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: 
"Beranakcuculah dan bertambah banyak..."
Dalam ayat ini, Tuhan bukan hanya sekedar memerintahkan manusia untuk beranak 
cucu. Yang Tuhan ingin perintahkan adalah penuhi bumi dengan sebanyak-banyaknya 
"gambar dan rupa Tuhan". Jadi kalau anak-anak tidak serupa dengan gambar dan 
rupa Tuhan, itu adalah salah orang tua. 

Tuhan ingin agar manusia memenuhi bumi ini bukan hanya dengan anak. Tuhan ingin 
manusia memenuhi bumi ini dengan anak-anak yang sesuai dengan gambar dan 
rupaNya. 
Jadi sebagai orang tua, ada tanggung jawab untuk "menduplikasi gambar dan rupa 
Tuhan" pada diri anak-anak. Anak-anak harus ditolong sejak dini untuk 
menyerupai gambar dan rupa Tuhan (bertumbuh dalam Tuhan) oleh orang tuanya.

Orang tua bukan berkewajiban mencetak anak-anak menjadi cerdas, tetapi orang 
tua berkewajiban membentuk anak-anak menyerupai gambarNya. 

Jodoh dan kehendak Tuhan
Konsep jodoh sebenarnya bukan konsep yang ada dalam kekristenan. Jodoh 
mengandung unsur bahwa seolah-olah Tuhan sudah menentukan (determinasi) 
pasangan hidup kita. Padahal Tuhan tidak menentukan pasangan hidup kita. Kalau 
kita mengatakan bahwa "jodoh ada di tangan Tuhan", itu membuat kita tidak 
bertanggung jawab atas pilihan kita. Konsep jodoh, membuat kita bisa 
mempersalahkan Tuhan, jika kita mendapat pasangan hidup yang tidak baik. 
Padahal pasangan hidup itu adalah pilihan kita pribadi. 

Ada hal-hal yang ditetapkan Tuhan. Ada juga yang diijinkanNya terjadi. Tetapi 
ada juga hal-hal yang dibiarkan Tuhan. 

Ada 3 macam cara Tuhan bekerja:
a. Tuhan menetapkan secara "langsung tanpa kondisi yang khusus". Tuhan 
berfirman dan langsung jadi. Contoh penciptaan bumi, tulah pada bangsa Mesir. 
Dalam kedua peristiwa ini Tuhan langsung berfirman dan langsung terjadi. Untuk 
masalah jodoh, Tuhan hanya menetapkan 1 kali yaitu untuk Hosea dan Gomer. 
Jadi "pemilihan pasangan hidup" bukan termasuk dalam kategori ini. 
b. Tuhan menetapkan secara "langsung" tetapi diperlukan "kondisi khusus". 
Contoh dalam mengerjakan karya penebusanNya di salib, Tuhan memakai kondisi 
khusus yaitu pengkhianatan Yudas, hasrat orang Yahudi untuk membunuhnya dan 
ketakutan bangsa Romawi akan adanya raja yang baru. Tuhan memakai kondisi 
khusus ini untuk menggenapkan karya keselamatanNya. 
Yudas tidak ditetapkan sebagai pengkhianat oleh Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak 
bisa dipersalahkan seolah-olah Ia mendorong Yudas untuk berkhianat. Yudas 
berkhianat atas kehendaknya sendiri dan Tuhan memakainya untuk memenuhi 
rencananya. Hal ini menunjukkan bahwa rencana Tuhan melampaui kejahatan 
manusia. Ia bisa memakai kejahatan manusia untuk tetap mewujudkan rencanaNya. 

"Pemilihan pasangan hidup" bukan termasuk dalam kategori ini. 

c. Tuhan bekerja melalui penetapan "tidak langsung" dan "tanpa kondisi khusus". 
Dengan cara inilah Tuhan bekerja ketika kita memilih pasangan hidup kita. Kita 
bisa memilih pasangan hidup kita dan Tuhan hanya memberikan rambu-rambu yaitu 
harus seiman dan suami harus lebih dewasa rohani daripada istrinya. Lihat 
Efesus 5:22-33:
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala 
jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah 
isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat 
dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan 
air dan firman, 
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan 
cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat 
kudus dan tidak bercela. 
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya 
sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan 
merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu 
dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan 
jemaat. 
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu 
seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Dengan siapa kita bisa menikah?
1. Menikahlah dengan orang yang kita hormati. Jadi jangan kita menjadi orang 
yang kasar (baik dalam kata-kata dan perbuatan) dan suka merendahkan pasangan 
kita. Begitu pula sebaliknya. Pasangan kita pun harus menghormati kita. 
Jangan menjadi seorang suami/istri yang sering berkelakar/berguyon mencela 
kekurangan pasangan atau bergosip dengan orang lain tentang kekurangannya. Juga 
jangan menjadi seorang suami/istri yang berlaku dan berkata kasar pada 
pasangan. 
2. Menikahlah dengan orang yang kita percayai. Bukan dengan pembohong, dan 
penyeleweng. Kalau masih pacaran saja, sudah berbohong terus, lebih baik 
dipikirkan ulang hubungan itu. 
3. Menikah dengan orang yang kita cintai. Cinta itu bertunas dari kekaguman 
atas aspek tertentu dari diri orang tersebut. Menikahlah dengan orang yang 
memberikan aspek mendalam pada diri kita. 

Kalau ada perbedaan prinsip yang tidak bisa ditolerir, jangan menikah. Kalau 
masih bisa ditolerir, menikahlah. 

Kalau calon pasangan kita tidak merasa bangga ketika berjalan bersama kita, 
jangan menikah dengannya. Cinta yang kuat menuntut alasan dan alasan yang kuat 
timbul berdasarkan kekaguman. 
4. Menikahlah dengan orang yang siap meninggalkan hidup lajang. Kalau sudah 
menikah, kita tidak bisa hidup semaunya. Tidak bisa pulang malam/subuh lagi. 
Orang yang siap menikah, bersedia ditegur ketika melanggar kepercayaan kita. 
5. Menikahlah dengan orang yang siap berkeluarga. Menikahlah dengan orang yang 
siap menjadi ayah/ibu dan siap berkorban (uang, tenaga, dirinya dll). 
6. Menikahlah dengan orang yang flexible. Flexible artinya bijaksana; berhikmat 
waktu menghadapi perubahan-perubahan/masalah-masalah. Flexible bukan berarti 
plin plan. Plin plan artinya tidak punya prinsip. 
Flexible artinya ia mau dibentuk dan menyesuaikan diri. 
Orang yang tidak flexible dan sering menggunakan kata-kata "gua mah orangnya 
udah kayak gini, susah berubah", akan menimbulkan masalah penyesuaian diri 
dalam pernikahan. 

Kalau kita tidak menemukan orang seperti ini, jangan menikah karena menikah 
dengan orang yang salah akan menambah beban yang tidak perlu. 

Jaman sekarang, banyak masalah pernikahan yang begitu sulit dan ruwet; bahkan 
sepertinya tidak bisa diselesaikan. Hal ini bahkan menimpa banyak orang Kristen 
tidak terkecuali aktivis. 
Ada yang menunjukkan foto selingkuhannya pada istrinya agar istri dan 
selingkuhannya bisa "akur". Ada juga istri yang mengantar suaminya ke dokter 
untuk disterilisasi agar "anaknya" tidak tersebar di mana-mana. 

Karena itu hati-hatilah memilih pasangan hidup. Pakailah hikmat dari Tuhan dan 
perlengkapi diri dengan pengetahuan dan insight tentang pemilihan pasangan & 
pernikahan dari khotbah-khotbah dan buku-buku. Minta Tuhan memberikan hikmat 
ketika kita menentukan pilihan untuk menikah / tidak dan siapa pasangan hidup 
kita. 

Integrity, concern for others, and mutual respect make any company a people 
company - Dennis De Haan

Saya tidak berdoa untuk beban yang lebih ringan, melainkan untuk punggung yang 
lebih kuat. (Phillips Brooks).
==============================================
From: David H 

Ceritakan pada Dunia Untukku
Oleh: John Powell, S.J.

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris 
memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. 
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir 
rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian 
singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh. Tommy ternyata menjadi 
tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga 
melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih. 

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan 
agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?"
"Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh. 
"Oh," sahutnya. 
"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." 
Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. 
Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan 
menemukanmu. " 
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa 
menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya 
bersyukur. 

Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah 
parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. 
Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya 
yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya 
tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy! 
Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. 
"Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya 
tinggal beberapa minggu lagi." 
"Kamu mau membicarakan itu?" 
"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?" "Bagaimana rasanya baru berumur 24 
tahun, tapi kematian sudah menjelang?" 
Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira 
bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal 
yang 'utama' dalam hidup ini." 
Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor pernah katakan 
pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. 

Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor 
mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor 
mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan 
kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu 
tidaklah sungguh-sungguh.
"Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya," 
Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai 
serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ 
vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun.

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras 
mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan 
untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau 
hal-hal sejenis itu." "Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa 
melakukan hal-hal penting," lantut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan 
kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup 
tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa 
mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya 
memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya."

Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran! saat anaknya menghampirinya. 
"Pa, aku ingin bicara." 
"Bicara saja." 
"Pa, ini penting sekali." 
Korannya turun perlahan 8 cm. 
"Ada apa?" 
"Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu."
 Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. 
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku 
belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol 
semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."
"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy.
"Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami 
rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu 
sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai 
terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya."

Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ.Ia tidak datang saat saya 
memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-! 
Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya 
berhenti mencari-Nya."
"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang 
kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah 
bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat 
membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih." 
"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke 
kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru 
kamu ceritakan?" Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. 
Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia 
menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata 
kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol 
terakhir kali. Saya ta! k akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya. 
"Saya tahu, Tommy." 
"Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada 
dunia untuk saya?" 
"Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."

(Sebarkan e-mail ini untuk membantu Pater John menyebarkan cerita Tommy pada 
dunia).

Kirim email ke