From: "Tessaria Surianta" [EMAIL PROTECTED] The Journey of Love
Tanggal : 8 September 2007 Tema Khotbah : The Journey of Love Pembicara : Pdt. Riko Tan (GKY Sunter) Ayat Pendukung : Kejadian 1:26-28 Forum : KP2 GKYJGV Mengapa manusia menikah? Kejadian 1:26-28: 1:26. Berfirmanlah Tuhan: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 1:27 Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Perhatikan ayat 27: ..Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia. Ini artinya adalah: a. Manusia diciptakan sebagai makhluk social. Semua manusia; baik Kristen maupun non Kristen; memiliki pertimbangan moral, manakah yang baik dan yang jahat. Itu artinya dalam diri setiap orang Tuhan menaruh gambaranNya dan ada Tuhan di dalam diri mereka. Dan karena itu pula ada kebutuhan untuk berelasi. Ini mirip dengan gambaran Tuhan Tritunggal di mana pribadi Tuhan berelasi satu dengan yang lainnya. Karena itulah Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk social. b. Manusia diciptakan memiliki daya kreasi. Karena Tuhan adalah Tuhan yang berkreasi, maka manusia pun diciptakan Tuhan memiliki daya kreasi. Tujuan menikah 1. Optimum sebagai gambar Mari kita melihat sejarah Israel. Orang Israel baru selesai dari perbudakan selama 400 tahun. Mereka telah diindoktrinasi oleh Firaun bahwa mereka adalah bangsa hapiru yang artinya kaum debu; bangsa yang tidak artinya seperti debu yang dikebaskan. Firaun membuat kasta. Yang paling rendah adalah Israel, yang paling tinggi adalah Firaun. Firaun disebut sebagai gambar Tuhan. Di setiap daerah kekuasaannya Firaun menaruh patungnya dan jika orang melewatinya, mereka harus memberi hormat pada patung itu. Untuk melawan indoktrinasi Firaun, Musa menulis Kej. 1:26-28 yakni bahwa manusia diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Tuhan. Waktu Adam dan Hawa belum jatuh dalam dosa, gambar dan rupa Tuhan memang sudah sempurna dalam diri mereka tetapi belum optimum. Gambar ini dioptimalkan ketika manusia disuruh menunjukkan kuasanya atas bumi ini (mandat budaya) à perhatikan: ayat 26: Berfirmanlah Tuhan: ".... supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Ayat 28: Tuhan berfirman kepada mereka:".... penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Mandat budaya adalah mandat pertama sebelum Amanat Agung diberikan. Sesudah manusia berdosa, gambaran ini rusak. Gambaran yang rusak ini diperbaiki di dalam pernikahan. Dengan pernikahan, pasangan suami istri dikondisikan dengan terpaksa untuk menyatakan gambar dan rupa Tuhan karena di dalam wadah pernikahan, mereka saling membentuk. Jadi pernikahan adalah alat Tuhan untuk mengembalikan gambar dan rupa Tuhan tersebut dalam diri manusia. Sebelum menikah mungkin kita akan merasa bahwa kita adalah orang yang sangat baik dan tidak egois. Tetapi waktu kita menikah, kita akan menyadari bahwa kita adalah orang yang masih banyak kekurangan serta egois. Dalam pernikahan, kita akan dibentuk menjadi manusia yang lebih baik sesuai kehendak Tuhan. Statement "jangan coba ubah-ubah saya; saya orangnya sudah seperti ini" adalah statement egois yang akan menimbulkan masalah penyesuaian dalam pernikahan. Seorang suami/istri akan sangat egois jika mengatakan hal ini pada pasangannya. Tujuan pernikahan Kristen bukanlah kebahagiaan. Kalau tujuan menikah adalah kebahagiaan, maka akan timbul banyak kesusahan. Kebahagiaan adalah anugerah umum dari Tuhan yang diberikan pada semua orang (seperti matahari, udara, dll), bukan anugerah khusus. Orang bisa bahagia tanpa dia menjadi Kristen, karena orang bisa bahagia yaitu ketika semua kebutuhannya terpenuhi. Tujuan pernikahan Kristen adalah menanggung beban yang perlu sampai kekekalan. Dalam pernikahan, kita dibentuk, dipahat, dikikis dengan konflik, masalah dll sehingga ketika masuk dalam kekekalan, kita menjadi manusia yang sempurna. Pernikahan merupakan wadah yang cocok untuk membentuk kita menjadi sempurna. Matius 11:28-30: 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Pasal 11:28 menunjukkan menunjukkan bahwa ada beban yang tidak perlu kita tanggung. Tetapi ada juga beban yang perlu ditanggung (11:29) yaitu menyangkal diri dan memikul salib. Penyangkalan diri dan memikul salib adalah beban yang diberikan untuk kebaikan kita sebagai cara Tuhan untuk memulihkan gambar dan rupaNya dalam diri kita. Tetapi ada juga beban yang tidak perlu kita tanggung. Contoh jika kita menikah dengan orang yang tidak seiman, kita tetap akan masuk surga. Tetapi seumur hidup kita di dunia, kita akan menanggung beban kesulitan hidup karena menikah dengan orang yang tidak satu prinsip iman dengan kita. Ini sebenarnya beban yang tidak perlu terjadi dan tidak perlu kita tanggung jika kita taat pada kehendakNya. Hati-hati! "Salib" dan "akibat dosa" adalah 2 hal yang berbeda. Contoh: (true story) ada seorang wanita cantik yang sangat taat Tuhan menjadi teladan bagi orang lain dalam hidupnya. Tiba-tiba terdengar kabar yang mengagetkan bahwa wanita itu hamil di luar nikah dengan orang non Kristen. Wanita itu mengatakan,"Tuhan mau saya menanggung salib seperti apa ya?" Ini merupakan suatu statement yang salah!! Wanita itu tidak menanggung salib dari Tuhan tetapi ia menanggung akibat dosanya sendiri. Bedanya salib dengan akibat dosa adalah Salib: penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi bukan karena kesalahan kita. Penderitaan itu terjadi karena manusia sudah berdosa sehingga dunia ini dipenuhi dengan penderitaan. Akibat dosa: penderitaan yang harus kita tanggung karena dosa kita. Tuhan memakai wadah pernikahan untuk membentuk pribadi kita. Tetapi bukan hanya melalui pernikahan Ia membentuk kita. Ia bisa membentuk kita melalui pelayanan, peristiwa dalam hidup kita, orang lain dan hal lainnya. Ada satu rangkaian kata mutiara yang sangat baik: "Waktu kita memberikan pengampunan pada orang lain, belum tentu pengampunan itu mengubah orang tersebut. Tetapi waktu kita mengampuni, kita makin serupa dengan Kristus." 2. Duplikasi gambar Tuhan Kej. 1:28 Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak..." Dalam ayat ini, Tuhan bukan hanya sekedar memerintahkan manusia untuk beranak cucu. Yang Tuhan ingin perintahkan adalah penuhi bumi dengan sebanyak-banyaknya "gambar dan rupa Tuhan". Jadi kalau anak-anak tidak serupa dengan gambar dan rupa Tuhan, itu adalah salah orang tua. Tuhan ingin agar manusia memenuhi bumi ini bukan hanya dengan anak. Tuhan ingin manusia memenuhi bumi ini dengan anak-anak yang sesuai dengan gambar dan rupaNya. Jadi sebagai orang tua, ada tanggung jawab untuk "menduplikasi gambar dan rupa Tuhan" pada diri anak-anak. Anak-anak harus ditolong sejak dini untuk menyerupai gambar dan rupa Tuhan (bertumbuh dalam Tuhan) oleh orang tuanya. Orang tua bukan berkewajiban mencetak anak-anak menjadi cerdas, tetapi orang tua berkewajiban membentuk anak-anak menyerupai gambarNya. Jodoh dan kehendak Tuhan Konsep jodoh sebenarnya bukan konsep yang ada dalam kekristenan. Jodoh mengandung unsur bahwa seolah-olah Tuhan sudah menentukan (determinasi) pasangan hidup kita. Padahal Tuhan tidak menentukan pasangan hidup kita. Kalau kita mengatakan bahwa "jodoh ada di tangan Tuhan", itu membuat kita tidak bertanggung jawab atas pilihan kita. Konsep jodoh, membuat kita bisa mempersalahkan Tuhan, jika kita mendapat pasangan hidup yang tidak baik. Padahal pasangan hidup itu adalah pilihan kita pribadi. Ada hal-hal yang ditetapkan Tuhan. Ada juga yang diijinkanNya terjadi. Tetapi ada juga hal-hal yang dibiarkan Tuhan. Ada 3 macam cara Tuhan bekerja: a. Tuhan menetapkan secara "langsung tanpa kondisi yang khusus". Tuhan berfirman dan langsung jadi. Contoh penciptaan bumi, tulah pada bangsa Mesir. Dalam kedua peristiwa ini Tuhan langsung berfirman dan langsung terjadi. Untuk masalah jodoh, Tuhan hanya menetapkan 1 kali yaitu untuk Hosea dan Gomer. Jadi "pemilihan pasangan hidup" bukan termasuk dalam kategori ini. b. Tuhan menetapkan secara "langsung" tetapi diperlukan "kondisi khusus". Contoh dalam mengerjakan karya penebusanNya di salib, Tuhan memakai kondisi khusus yaitu pengkhianatan Yudas, hasrat orang Yahudi untuk membunuhnya dan ketakutan bangsa Romawi akan adanya raja yang baru. Tuhan memakai kondisi khusus ini untuk menggenapkan karya keselamatanNya. Yudas tidak ditetapkan sebagai pengkhianat oleh Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak bisa dipersalahkan seolah-olah Ia mendorong Yudas untuk berkhianat. Yudas berkhianat atas kehendaknya sendiri dan Tuhan memakainya untuk memenuhi rencananya. Hal ini menunjukkan bahwa rencana Tuhan melampaui kejahatan manusia. Ia bisa memakai kejahatan manusia untuk tetap mewujudkan rencanaNya. "Pemilihan pasangan hidup" bukan termasuk dalam kategori ini. c. Tuhan bekerja melalui penetapan "tidak langsung" dan "tanpa kondisi khusus". Dengan cara inilah Tuhan bekerja ketika kita memilih pasangan hidup kita. Kita bisa memilih pasangan hidup kita dan Tuhan hanya memberikan rambu-rambu yaitu harus seiman dan suami harus lebih dewasa rohani daripada istrinya. Lihat Efesus 5:22-33: 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Dengan siapa kita bisa menikah? 1. Menikahlah dengan orang yang kita hormati. Jadi jangan kita menjadi orang yang kasar (baik dalam kata-kata dan perbuatan) dan suka merendahkan pasangan kita. Begitu pula sebaliknya. Pasangan kita pun harus menghormati kita. Jangan menjadi seorang suami/istri yang sering berkelakar/berguyon mencela kekurangan pasangan atau bergosip dengan orang lain tentang kekurangannya. Juga jangan menjadi seorang suami/istri yang berlaku dan berkata kasar pada pasangan. 2. Menikahlah dengan orang yang kita percayai. Bukan dengan pembohong, dan penyeleweng. Kalau masih pacaran saja, sudah berbohong terus, lebih baik dipikirkan ulang hubungan itu. 3. Menikah dengan orang yang kita cintai. Cinta itu bertunas dari kekaguman atas aspek tertentu dari diri orang tersebut. Menikahlah dengan orang yang memberikan aspek mendalam pada diri kita. Kalau ada perbedaan prinsip yang tidak bisa ditolerir, jangan menikah. Kalau masih bisa ditolerir, menikahlah. Kalau calon pasangan kita tidak merasa bangga ketika berjalan bersama kita, jangan menikah dengannya. Cinta yang kuat menuntut alasan dan alasan yang kuat timbul berdasarkan kekaguman. 4. Menikahlah dengan orang yang siap meninggalkan hidup lajang. Kalau sudah menikah, kita tidak bisa hidup semaunya. Tidak bisa pulang malam/subuh lagi. Orang yang siap menikah, bersedia ditegur ketika melanggar kepercayaan kita. 5. Menikahlah dengan orang yang siap berkeluarga. Menikahlah dengan orang yang siap menjadi ayah/ibu dan siap berkorban (uang, tenaga, dirinya dll). 6. Menikahlah dengan orang yang flexible. Flexible artinya bijaksana; berhikmat waktu menghadapi perubahan-perubahan/masalah-masalah. Flexible bukan berarti plin plan. Plin plan artinya tidak punya prinsip. Flexible artinya ia mau dibentuk dan menyesuaikan diri. Orang yang tidak flexible dan sering menggunakan kata-kata "gua mah orangnya udah kayak gini, susah berubah", akan menimbulkan masalah penyesuaian diri dalam pernikahan. Kalau kita tidak menemukan orang seperti ini, jangan menikah karena menikah dengan orang yang salah akan menambah beban yang tidak perlu. Jaman sekarang, banyak masalah pernikahan yang begitu sulit dan ruwet; bahkan sepertinya tidak bisa diselesaikan. Hal ini bahkan menimpa banyak orang Kristen tidak terkecuali aktivis. Ada yang menunjukkan foto selingkuhannya pada istrinya agar istri dan selingkuhannya bisa "akur". Ada juga istri yang mengantar suaminya ke dokter untuk disterilisasi agar "anaknya" tidak tersebar di mana-mana. Karena itu hati-hatilah memilih pasangan hidup. Pakailah hikmat dari Tuhan dan perlengkapi diri dengan pengetahuan dan insight tentang pemilihan pasangan & pernikahan dari khotbah-khotbah dan buku-buku. Minta Tuhan memberikan hikmat ketika kita menentukan pilihan untuk menikah / tidak dan siapa pasangan hidup kita. Integrity, concern for others, and mutual respect make any company a people company - Dennis De Haan Saya tidak berdoa untuk beban yang lebih ringan, melainkan untuk punggung yang lebih kuat. (Phillips Brooks). ============================================== From: David H Ceritakan pada Dunia Untukku Oleh: John Powell, S.J. Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh. Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih. Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh. "Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu. " Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur. Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi." "Kamu mau membicarakan itu?" "Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?" "Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?" Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini." Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya," Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu." "Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lantut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya." Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran! saat anaknya menghampirinya. "Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali." Korannya turun perlahan 8 cm. "Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. "Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya." "Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya." Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ.Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-! Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya." "Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih." "Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?" Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali. Saya ta! k akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya. "Saya tahu, Tommy." "Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?" "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya." (Sebarkan e-mail ini untuk membantu Pater John menyebarkan cerita Tommy pada dunia).

