From: Denny Teguh Sutandio 

Eksposisi Matius 15:1-11: CHRIST REDEEM CULTURE (Pdt. Sutjipto Subeno)

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, 
Surabaya tanggal 12 Agustus 2007

CHRIST REDEEM CULTURE
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats : Matius 15:1-11
  
Setiap tempat pastilah mempunyai budaya dan budaya masing-masing tempat atau 
daerah pastilah berbeda. Sebagai contoh, di Jepang ada budaya minum teh tetapi 
di Indonesia kita menganggap biasa bahkan suatu benda bisa bernilai sangat 
mahal karena didalamnya ditambahkan makna tertentu. Manusia mencoba merelasikan 
antara hal yang duniawi dengan hal spiritual akibatnya hal yang sepele yang 
tidak bermakna bisa menjadi bermasalah besar. Alkitab mencatat beberapa orang 
Farisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem hanya untuk menegur Tuhan Yesus 
tentang hal membasuh tangan yang tidak dilakukan oleh para murid sebelum makan, 
mereka dianggap telah melanggar adat istiadat. Bagi orang Yahudi, membasuh 
tangan itu menyatakan suatu penghormatan kepada Tuhan sebelum kita menikmati 
makanan. Budaya cuci tangan merupakan sesuatu yang sifatnya fisik tetapi telah 
diberi makna dan direlasikan dengan dunia metafisika, dihubungkan dengan Tuhan. 
Atas kejadian ini, Tuhan Yesus balik menegur mereka yang telah melanggar 
perintah Tuhan yang berbunyi: "Hormatilah ayahmu dan ibumu" karena dengan 
alasan persembahan pada Tuhan, orang mengabai kan orang tuanya. Tuhan Yesus 
menegur sangat keras akan hal ini karena dalam hal ini, perintah Tuhan telah 
dikalahkan oleh adat istiadat. Timbul perdebatan yang sangat rumit bahkan 
timbul perpecahan dalam perpecahan dalam Kekristenan, yakni manakah yang lebih 
penting adat istiadat ataukah firman Tuhan. 

Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengungkapkan lima pendekatan 
antara kebudayaan dan Kristus namun perhatikan, kelima pendekatan ini tidak 
dapat dikatakan benar secara keseluruhan, yakni:

1. Christ against culture
Kristus menghancurkan seluruh kebudayaan yang ada di dunia karena semua 
kebudayaan dipandang salah dan jahat. Hal ini tidaklah tepat sebab dalam banyak 
aspek, Kristus tetap berada dalam budaya, Kristus tetap menjalankan budaya 
Yahudi. Kritus melawan budaya ini seolah-olah menjadikan Kristus tinggi dan 
Kekristenan agung. Pandangan-pandangan radikal seperti ini akhirnya membuat 
Kekristenan tidak bisa lagi hidup di tengah dunia. Orang yang memegang prinsip 
ini, biasanya akan tersingkir dan Kristus menjadi kalah. Mereka membentuk 
kebudayaan sendiri, kelompok tersendiri dan hidup tersendiri. Mereka menganggap 
kebudayaan itu sebagai kebudayaan Kristus tetapi sesungguhnya, kebudayaan itu 
tidak ubahnya dengan budaya dunia yang membedakan kebudayaan mereka tidak cocok 
dengan kebudayaan dunia. Perhatikan, Alkitab tidak pernah mengajarkan kita 
untuk melawan dan menjadi anti budaya.   

2. Christ of Culture
Budaya harus diisi dengan hal-hal yang berbau Kekristenan dengan demikian 
kebudayaan itu menjadi milik Kristus sekarang. Konsep inilah yang hari ini 
banyak dipakai. Orang menganggap cara ini merupakan suatu kerjasama dimana kita 
tidak menghancurkan budaya tetapi kita menggunakan semua budaya yang ada dengan 
demikian budaya yang tadinya budaya setan kini menjadi budaya Kristus. Adalah 
kesalahan fatal, banyak orang yang menganggap budaya itu sifatnya netral maka 
tergantung dari siapa yang memakainya. Budaya itu akan menjadi milik setan 
kalau setan yang memakainya maka budaya itu menjadi the culture of satan, atau 
kalau manusia yang menggunakannya akan menjadi the culture of human being, dan 
kalau Kristus yang memakai budaya akan menjadi the culture of Christ. Sebagai 
contoh, banyak musik duniawi yang diberi tambahan ayat alkitab langsung 
dikatakan sebagai budaya Kristus. Demikian pula halnya dengan cara berpakaian, 
orang menganggap sudah menjadi budaya Kristus kalau sudah memberinya dengan 
aksesori atau atribut "rohani." Orang Yahudi juga melakukan hal yang sama, 
budaya duniawi yang mereka pandang baik lalu dilabel dengan agama maka mereka 
sudah menganggapnya sebagai agama. Hari inipun masih banyak orang yang tidak 
mengerti apa itu agama, mereka hanya memakai adat istiadat yang diberi label 
agama tertentu dan menganggapnya sebagai budaya. Dalam hal ini budaya itu lebih 
besar sedang Kristus hanya mengikut di dalamnya. 

3. Christ above Culture
Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu 
aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu kultur tertentu yang mengatasi 
semua kultur. Islam menjadikan 
kultur Timur Tengah sebagai suatu kultur agama sehingga cara berpakaian, cara 
makan, dan lain-lain harus mengikuti satu kultur tersebut. Dalam kondisi budaya 
seperti demikian maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah budaya ini 
merupakan budaya yang boleh diberi label tertentu lalu dibawa ke semua tempat? 
Seberapa jauhkah relatifitas suatu daerah dalam budaya? Demikian halnya dengan 
kultur barat yang membawa Kekristenan masuk ke Indonesia membawa dampak besar. 
Kultur Eropa itu dianggap sebagai kultur Kristen. Dampak itu tidak hanya pada 
cara hidup saja tetapi juga jiwa kolonialisme itu mempengaruhi pemikiran 
orang-orang di Asia. Ketika orang-orang Eropa datang ke Asia. Dalam bagian ini, 
Kristus membangun suatu kultur yang sifatnya kaku dan spesifik yang dan semua 
kultur yang ada harus mengikut pada satu kultur ini. Tidak!

4. Christ and Culture in Paradox
Budaya hidup berada dalam dua dunia - Kristus punya kultur tersendiri dan dunia 
juga punya kultur tersendiri, kedua kultur ini berjalan secara bersamaan dimana 
keduanya tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan. Pandangan inilah 
yang diajarkan oleh kaum posmodern. Konsep ini menjadikan orang Kristen hidup 
dalam dua dunia. Ketika orang berada di dalam gereja maka ia harus langsung 
menyesuaikan diri dengan kultur yang dianggap sebagai kultur Kristen, orang 
harus berlaku sopan, jujur namun ketika berada di luar lingkungan gereja maka 
orang boleh liar dan berbuat sesuka hati layaknya dunia. Konsep ini dianggap 
relevan di abad 20 ini namun Kekristenan tidak setuju akan pandangan ini. 

5. Christ Transform Culture
Dari kelima konsep yang diungkapkan oleh Niebuhr maka konsep kelima ini yang 
paling banyak diingat oleh orang. Kristus mentransform kultur artinya bahwa 
kultur itu tidak salah cuma kultur itu perlu ditransformasi. Pertanyaannya 
benarkah kultur bisa dirubah? Atau lebih tepatnya, Christ redeem the culture - 
Kristus menebus budaya berarti ada nilai yang harus dibayar. Hal ini yang lebih 
tepat dalam mandat budaya. Theologi Reformed umumnya, secara posisi mengikut 
konsep ini, yakni Christ transforming culture, Kristus mengisi kembali budaya 
yang sudah ada untuk dikembalikan pada apa yang seharusnya. Ada beberapa 
prinsip penting yang harus diperhatikan ketika mentransform, yakni: kita harus 
tahu mana yang harus dan mana yang tidak, mana yang mutlak dan mana yang 
relatif. Sesuatu yang harus dirubah maka harus dirubah - perubahan ini sifatnya 
esensial tetapi ada bagian-bagian tertentu yang relatif harus berproses seiring 
dengan berjalannya waktu. Kita harus peka ketika kita masuk dalam suatu budaya, 
kita tidak perlu merubah budaya yang ada sepanjang budaya itu baik dan agung. 
Budaya pasti punya unsur baik sebagai anugerah umum namun sayang, budaya tidak 
mengerti apa yang disebut dengan anugerah umum. Sangatlah disayangkan, konsep 
anugerah umum inipun tidak dimengerti, orang tidak mengerti bahwa pencemaran 
dosa menyebabkan budaya menjadi liar dan untuk dapat memilah ini dibutuhkan 
anugerah khusus, yakni anugerah keselamatan. Adalah tugas Kekristenan 
membukakan tentang kebenaran kepada mereka. 

Christ Redeem Culture
Kristus tidak merombak seluruh budaya yang ada. Kristus hanya mengubah dan 
membongkar budaya yang salah yang sifatnya esensial dan mutlak yang menyangkut 
standar dan prinsip. Tuhan Yesus menegur ! keras budaya orang Yahudi yang 
begitu sombong, mereka tidak mau dekat bahkan berbicara dengan orang Samaria. 
Kebudayaan seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Tuhan Yesus lalu 
ditransformasi dan untuk hal ini ada harga yang harus dibayar dan harganya 
sangat mahal. Kristus harus menebus budaya yang salah. Kekristenan percaya 
bahwa Tuhan sejati hanya satu sedangkan budaya percaya bahwa "Tuhan" itu banyak 
dimana kita boleh menyembah pada Tuhan yang mana saja. Budaya ini tidak dapat 
dibenarkan dan budaya ini haruslah dilawan dan dihancurkan sebab budaya itu 
salah karena sifatnya esensi dan absolut. Berbeda halnya kalau budaya yang 
salah itu bersifat relatifis hanya menyangkut unsur luar yang sekunder maka 
seiring berjalannya waktu, budaya itu harus kita ubah dan hal itu tidaklah 
mudah dibutuhkan perjuangan dan usaha. Namun kalau budaya itu sudah menyangkut 
hakekat ibadah, prinsip theologi maka budaya itu mutlak harus diubah. Tuhan 
menuntut kita untuk menyembah hanya pada satu Tuhan saja, Tuhan tidak ingin 
kita berzinah secara rohani maka budaya yang mengkompromikan akan hal ini tidak 
dapat dibenarkan. 

Kalau kita tidak mengerti hal ini maka kita akan menjadi bingung dimana harus 
berposisi, kita tidak tahu bagaimana memilah antara prinsip kebenaran dan 
budaya. Moralitas Kristen lebih tinggi dari moralitas dunia maka moralitas 
dunia haruslah tunduk pada  moralitas Kristen. Dalam bagian ini, orang masih 
bisa jatuh bangun dan Kekristenan masih memberikan toleransi untuk orang 
belajar, dididik dan diajar berproses menuju pada moralitas yang agung dan 
perhatikan, hal ini tidaklah mempengaruhi keselamatan seseorang. Demikian juga 
halnya dengan hal cuci tangan, apakah hal cuci tangan dipandang sebagai hal 
serius yang menjadi adat istiadat pengunci yang mempengaruhi keselamatan 
seseorang? Tidak! Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegur dengan keras dan 
membalikkan konsep berpikir orang Yahudi yang salah. 

Van Til melihat iman manusia didasarkan pada dua aspek, yaitu: 1) iman yang 
menggunakan pendekatan antroposentric religion, yakni segala sesuatu 
berpusatkan pada manusia, 2) segala sesuatu haruslah dilihat dari kedaulatan 
Tuhan dan theologi Reformed adalah satu-satunya theologi yang menuntut 
kedaulatan Tuhan haruslah berada di atas semua unsur manusia. Taurat diberikan 
supaya manusia mengerti isi hati Tuhan tetapi orang memakai taurat sebagai alat 
manusia untuk  kepentingan humanitas. Orang yang melihat dari sudut pandang 
manusia pastilah beranggapan bahwa Tuhan tidak konsisten sebab di salah satu 
hukumnya, dilarang membunuh tetapi di sisi lain, Tuhan memerintahkan manusia 
untuk membunuh. Inilah natur manusia berdosa. Alkitab menyatakan Tuhan yang 
kasih itu menyediakan neraka, Tuhan menyediakan hukuman mati bagi orang 
berdosa. Dalam hal ini, kita harus melihat dari sisi Tuhan.

 Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan, yakni: 
1) kalau membunuh itu didasarkan atas kepentingan pribadi manusia maka ia 
berdosa, 2) membunuh didasarkan atas kebencian, unsur interpersonal - Alkitab 
menegaskan bahwa membenci seseorang saja berarti sudah membunuh, hal ini 
menjadi hakekat atau esensi di balik tindakan, 
3) membunuh merupakan pelanggaran keadilan maka hukuman yang diterapkan adalah 
hukuman keadilan. Alkitab sangat setuju dengan capital punishment, kalau kita 
melihat dari sudut manusia, kita akan merasa Tuhan itu tidak adil, Tuhan tidak 
berbelas kasih. Tidak! Alkitab dengan tegas menyatakan kalau Tuhan telah 
menetapkan hukuman mati maka itu tidak didasarkan atas kepentingan pribadi 
tetapi hal itu mutlak dan harus dilakukan karena sifatnya absolut, dan hukuman 
diberikan untuk menjadikan dunia lebih aman; seorang pembunuh kejam haruslah 
dihukum sebelum ia melakukan tindakan pembunuhan lain yang lebih kejam dan 
menjadikan dunia lebih hancur. Betapa bodohnya manusia kalau karena alasan 
mengasihi, dunia menjadi kacau dan hancur. Kebenaran dan keadilan Tuhan harus 
ditegakkan di tengah dunia berdosa. 

Budaya harus balik pada Tuhan. Beberapa ahli budaya dan para teolog melihat 
kelemahan konsep Niebuhr yang melihat Kristus dan budaya secara dualisme. Yang 
menjadi titik permasalahan adalah agama, iman atau filsafat yang membentuk 
budaya ataukah sebaliknya, budaya yang membentuk agama? Apakah agama itu 
menjadi bagian dari sebuah budaya? Merupakan suatu kesalahan fatal, hari ini 
orang mengajarkan bahwa agama membentuk suatu pemikiran filsafat dan pemikiran 
filsafat membentuk budaya dan budaya membentuk semua implikasi budaya, seperti 
bahasa, agama, bangunan, cara berpakaian dan semua tatanan keadilan dan hukum, 
dan lain-lain. Alkitab menegaskan iman adalah mutlak, titik tertinggi; iman 
membentuk pola berpikir atau filosofi agama dan dari filosofi agaman ini 
barulah membentuk budaya dan budaya  membentuk perilaku. Kalau iman kita tidak 
beres maka budaya pastilah akan liar. Maka dapatlah disimpulkan, iman 
menentukan budaya; budaya dan Kristus bukanlah dualisme. Pertanyaannya adalah 
seberapa jauhkah kita mengutamakan Kristus? Ketika kita men-Tuhankan Kristus 
dalam seluruh aspek hidup kita maka pada saat itu budaya akan terbentuk secara 
sendirinya dimanapun kita berada. Budaya adalah produk iman, puncak dari iman 
kepercayaan kita dan terkadang, budaya ini menjadikan kita berbeda dengan 
budaya yang ada di sekeliling kita. Hal ini akan mempengaruhi hubungan relasi 
kita, etos kerja, etika hidup, hubungan suami-istri, dan lain-lain. Orang yang 
beriman humanis maka seluruh perilakunya akan menjadi humanis. Janganlah kita 
terjebak dengan konsep yang dipaparkan oleh Niebuhr bahkan beberapa tokoh 
reformed seperti Abraham Kuyper dan Dooyewerd terpengaruh konsep Niebuhr, yakni 
konsep Christ transforming culture.

Perdebatan antara budaya dan Kristus seringkali terjadi sampai hari ini namun 
ingat, jangan perdebatkan Kristus dengan budaya sebab Kristus adalah Tuhan 
sejati, Ia tidak sebanding kalau diperdebatkan dengan budaya yang sifatnya 
tatanan praktis. Percaya kepada Kristus merupakan pusat iman sedang budaya 
hanyalah implikasi iman maka sangatlah tidak pas kalau kita menaruh budaya di 
posisi atas sebab budaya tidak punya dasar yang kuat. Celakanya pendidikan hari 
ini didasarkan pada humanitas atau evolusi dimana Tuhan tidak ada didalamnya 
akibatnya cara pandang kita akan sangat duniawi dan humanis. Hendaklah kita 
kembali pada natur dan atribut Kristus, yakni adil, suci, benar, mulia, manis 
dan sedap didengar maka budaya akan terintegrasi dengan baik dan menghasilkan 
budaya yang agung. Hal inilah yang disebut sebagai mandat budaya. Mandat budaya 
bukanlah percampuran atau sinkretisme antara Kristus dan budaya. Mandat budaya 
adalah setiap budaya yang harus disorot dari iman Kristen menjadikan apa yang 
benar dan salah menjadi terbuka di hadapan Kristus. Dunia semakin hari semakin 
menuju kehancuran, dunia tidak menjadi semakin baik, moralitas menjadi rusak, 
budaya semakin hancur - kita harus semakin kokoh dalam iman dan kebenaran, 
berdiri teguh di atas Firman dan tugas setiap anak Tuhan menjadi terang dan 
garam di tengah dunia dan berani dengan tegas menyatakan kebenaran dan menegur 
budaya yang salah. Amin. 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : 
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070812
============================================
From: Herlianto 

BUAH PELAYANAN

Bulan lalu ketika melayani di Kanada, ada pengalaman menarik dimana banyak 
jemaat yang ditemui mengaku telah mengenal dan mengakses situs YABINA dan 
mendapat berkat darinya, dan minggu kemarin ketika melayani di Aula UK Duta 
Wacana, Yogyakarta, seorang staf LPPM-UKDW menunjukkan sebuah bindel buku yang 
isinya puluhan artikel dari situs YABINA yang di download dan dicetak olehnya 
dan kemudian dijilid rapi dengan hardcover. Kedua contoh itu merupakan sebagian 
kecil dari begitu banyak kesaksian yang diterima yang menunjukkan bahwa situs 
www.yabina.org telah berbuah lebat dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Tanggal 1 Oktober 2007, YABINA ministry telah melayani selama 25 tahun sejak 
berdiri tahun 1982, dan dalam masa 8 tahun sejak dimulai pelayanan internet 
sejak tahun 1999, situs www.yabina.org telah dibuka sebanyak 74.500 kali, dan 
dalam setahun terakhir rata-rata dibuka 30 kali sehari, ini menunjukkan bahwa 
buah-buah pelayanan YABINA ministry telah menjadi berkat bagi banyak orang 
termasuk kepada saudara/i. Ini hanya dimungkinkan dengan pimpinan Tuhan melalui 
para anggota Yayasan dan Sahabat Awam.

Sejalan dengan ultah ini, bulan ini dilakukan upgrading perangkat keras 
komputer dan juga perangkat lunaknya (Windows Vista), sehubungan dengan itu, 
mulai pelayanan tahun ke-26, milis [EMAIL PROTECTED] akan dikhususnya hanya 
memuat renungan mingguan saja, sedangkan bahan-bahan artikel, diskusi, makalah, 
dan bahan-bahan pembinaan teologia akan dikirimkan melalui milis [EMAIL 
PROTECTED] 
Mereka yang berminat mengikuti pendidikan seumur hidup melalui milis 
Teologimaya dapat menulis surat ke [EMAIL PROTECTED] 

Saudara/i, doakanlah pelayanan kami (1 Tesalonika 5:25).
Salam kasih dari Herlianto

Kirim email ke