From: hesti biaktika 

MANUNGGAL KAWULA GUSTI

Ajaran “Manunggal Kawula Gusti” menurut saya adalah ajaran yang berbahaya. 
Sebab setinggi-tingginya level seseorang di dalam Tuhan, pribadinya tetaplah 
pribadinya, dan pribadi Tuhan tetaplah pribadi Tuhan. Jadi tetap ada dua 
pribadi yang berbeda. Jadi tidak pernah ada satu manusiapun yang pernah bisa 
‘manunggal kawula gusti’, atau menyatu dengan Tuhan. Sebab itu dalam 
Kekristenan terus diajarkan tentang ‘ketaatan’, ‘menyangkal diri’, karena 
menyadari adanya pribadi yang berbeda antara kita dengan Tuhan.

Kita ambil contoh Paulus. Paulus sudah mencapai level yang tinggi di dalam 
Tuhan, yaitu dia sudah dapat berkata : “Hidupku bukan aku lagi, melainkan 
Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2;20)  Ini artinya kedagingannya sudah 
mati. Ini artinya Paulus sudah tidak punya ambisi, keangkuhan, keakuan, 
keinginan daging, hawa nafsu, keinginan mata, kelemahan, dll. Dan kematian 
daging tidak pernah bisa diperoleh dengan mudah, itu didapat dari penyangkalan 
diri, setahap demi setahap. Kematian daging tidak pernah dapat dihasilkan dari 
hidup yang tenang-tenang saja, tetapi hidup yang penuh dengan penderitaan dan 
aniaya, dan Paulus sudah mengalaminya. Tetapi apakah bisa dikatakan bahwa apa 
yang dikatakan Paulus adalah apa yang dikatakan Tuhan ? 

Perhatikan 1 Kor 7 ; 10-12
Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, BUKAN AKU, TETAPI TUHAN – 
perintahkan supaya seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya.

Kepada orang-orang lain AKU, BUKAN TUHAN, katakan: kalau ada seorang saudara 
beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup 
bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.

Disini terlihat, bahwa di dalam diri Paulus ada dua suara yang berbeda. Yang 
satu adalah suara Tuhan, yang lain adalah suara dia sendiri, dan Paulus tahu 
bedanya, dan dengan jujur dikatakannya, itu bukan Tuhan, tetapi aku. Memang ada 
teman yang mengatakan bahwa dia tidak dapat membedakan suara hatinya sendiri 
dengan suara Tuhan. Saya katakan, suara hati kita sendiri dengan suara Tuhan, 
itu berbeda. Mungkin Tuhan bicara dengan suara yang audible, mungkin juga hanya 
mengeluarkan satu ayat Firman Tuhan di dalam hati kita. Itulah pentingnya 
membaca Alkitab, karena suatu waktu mungkin satu ayat tertentu, Tuhan munculkan 
dalam hati kita. Dan setelah kita mendengar suara Tuhan secara audible, atau 
suatu ayat Firman Tuhan, yang dituntut dari kita adalah ketaatan. 

Saya punya contoh yang jelas, apa bedanya suara hati saya sendiri dengan suara 
Tuhan. Pada 8 Desember 2001, saya begitu shock dengan perlakuan teman-teman 
kuliah saya. Dulunya kami sudah seperti keluarga, tetapi oleh karena 
fitnah-fitnah itu, keharmonisan itu dihancurkan. Saya menceritakan hal itu 
kepada seorang teman lain yaitu teman SMA saya. Dia berkata : “They treat you 
like shit. Kami teman-teman hesti tidak senang hesti diperlakukan begitu. 
Tetapi apa yang bisa kami buat ? Mereka berpikir ; BOSS CAN DO NO WRONG.”

Sesudah menutup telpon saya menangis dan masuk kamar. Saya teriak (di alam roh) 
; “Bapa, Engkau tahu aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup.”

Lalu terdengarlah suara, audible ;
“Aku ada di dalam kamu, kamu ada di dalam Aku. Aku sedang memberi pelajaran 
kepada mereka.”

Badai di hati saya, langsung reda seketika itu juga. Persis ketika Jesus 
menghardik badai di danau “Diam, tenanglah.”, dan danau itu langsung tenang. 
Dan saya bisa menjawab :
“Kalau begitu mari kita bersama-sama mengampuni mereka, Bapa.” Karena saya 
berpikir kalau Tuhan berada di dalam diri saya, berarti menganiaya saya adalah 
menganiaya Tuhan juga. Makanya kita perlu bersama-sama mengampuni mereka.

Lalu keluarlah dari mulut saya sebuah nyanyian yang belum pernah saya dengar 
sebelumnya :
            Sebab Kau besar, perbuatanMu ajaib
            Tiada seperti Engkau, tiada seperti Engkau
            Sebab Kau besar, perbuatanMu ajaib
            Tiada seperti Engkau, tiada seperti Engkau….
Saya bernyanyi berulang-ulang lalu keluarlah bahasa roh, dan saya berbahasa roh 
terus sampai berhenti sendiri.

Beda, kan ? Hati saya sedang badai, dan Tuhan menenangkannya. Begitupun 
kehendak kita, beda dengan kehendak Tuhan. Saya punya contoh lagi.

2 Kor 12 ; 7 – 9b
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar 
biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan 
iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu 
aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari 
padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku : “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab 
justru dalam kelemahanlah kuasa Ku menjadi sempurna.”

Kehendak Paulus adalah supaya Tuhan menyuruh utusan iblis itu mundur 
daripadanya, tetapi kehendak Tuhan adalah utusan iblis itu tetap menggocoh 
Paulus. Beda kan ? Dan Paulus taat pada kehendak Tuhan.

Bahkan Tuhan Jesus punya kehendak yang berbeda dari BapaNya, tetapi Dia taat.
Maka ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya : “Ya BapaKu, jikalau 
sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti 
yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26; 39). Jesus 
mau, sekiranya mungkin, cawan itu lalu daripadaNya, tetapi Dia menyerah pada 
kehendak BapaNya.

Ini juga sering kita alami, kehendak kita berbeda dengan kehendak Tuhan. Yang 
disebut ‘berserah kepada Tuhan’ adalah membiarkan kehendak Tuhan yang terjadi 
di dalam hidup kita, dengan percaya bahwa kehendak Tuhan bagi kita, itulah yang 
terbaik bagi kita.

Saya pernah berdoa begini :
“Tuhan, pakailah hambaMu si A atau si B, untuk bersaksi bahwa saya adalah orang 
benar”.
Tuhan menjawab secara audible, dengan satu pertanyaan yang mengerikan :
            “Apakah itu penting bagimu ?”
Saya langsung terdiam tidak bisa menjawab. Karena kalau saya menjawab 
‘penting’, maka saya adalah orang yang mencari hormat dari manusia. Setelah 
saya renungkan saya menjawab :
            “Tidak, Tuhan. Aku berharga dimataMu, itu cukup bagiku.” (karena 
memang minggu lalunya baru saja Tuhan bicara pada saya :” Engkaupun berharga 
dimataKu.”. Ketika itu saya sedang mengenang perjalanan saya bersama Jesus 
menghadapi masa-masa sulit, dan saya berkata “Jesus, Engkau sungguh berharga 
bagiku.” Dan Jesus menjawab : “Engkaupun berharga dimataKu.”)

Sejak itu saya tidak berani berdoa seperti itu lagi. Saya mau belajar untuk 
selalu mencari hormat bagi Dia saja, tidak perduli apa yang dikatakan orang 
tentang saya, yang penting Tuanku dimuliakan. 

Jadi ajaran ‘manunggal kawula gusti” ini sangat berbahaya. Orang-orang yang 
menganut ajaran ini berpikir ‘kehendakku adalah kehendak Tuhan juga’, 
‘pikiranku adalah pikiran Tuhan juga’, ‘suara hatiku adalah suara hati Tuhan 
juga.’ Akibatnya orang-orang penganut ajaran ini berbuat apa saja, sesuka 
hatinya, menurut apa yang dipandangnya baik dan benar. Mereka tidak pernah 
merasa perlu belajar Kebenaran Tuhan, apalagi tunduk pada Kebenaran Tuhan. 
Mereka tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka buat dapat menimbulkan 
penderitaan bagi orang lain.  Padahal menurut Tuhan : “Kebenaranmu adalah kain 
kotor dihadapanKu”. Penganut ajaran ini baru kaget ketika di akhir hidup 
mereka, mereka harus masuk ke alam maut Karena Tuhan Jesus berkata tegas : 
“Bukan semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan, melainkan yang melakukan Kehendak 
BapaKu.”

GBU
Hesti
====================================================
From: hesti biaktika 

BERDAMAI DENGAN TUHAN 

Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru 
kepadaMu : “Penindasan!” tetapi tidak Kau tolong? Mengapa Engkau memperlihatkan 
kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman ? Ya, aniaya dan kekerasan 
ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum 
kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik 
mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
Habakuk, 1 ; 2-4

Dulunya sewaktu saya belum mengerti, saya juga pernah berkata seperti Habakuk. 
“Keadilan muncul terbalik”, menurut saya. Saya begitu direndahkan, dan 
pemfitnah saya begitu ditinggikan. Saya yang kuliah arsitektur, dan pemfitnah 
saya yang jadi arsitek. Saya yang mau dibunuh, saya yang diperlakukan sebagai 
pembunuh. Bukankah keadilan sepertinya muncul terbalik ?

Dalam keadaan seperti itu, saya belajar percaya pada Firman Tuhan, dan belajar 
melakukannya, yaitu Mazmur 37 ; 1-40

Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan irihati kepada orang yang 
berbuat curang, sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti 
tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, 
diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan, maka Ia 
akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada 
Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan 
kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Berdiam dirilah di hadapan 
Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam 
hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan 
tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. 
Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang 
menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri. Karena sedikit waktu lagi, maka 
lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak 
ada lagi. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan 
bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Dan seterusnya.

Juga Amsal 29 ; 25
Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada Tuhan, 
dilindungi.

Lagu rohani favorit saya pada saat itu adalah :

BE STRONG AND TAKE COURAGE

Be strong and take courage
Do not fear or be dismayed
For The Lord will go before you
And His Light will show the way

Be strong and take courage
Do not fear or be dismayed
For The One who lives within you
Will be strong in you today

Why don’t you give Him all of your fears
Why don’t you let Him wipe all of your tears
He knows, He’s been through pain before,
And He knows all that you’ve been looking for.

Nothing can take you out of His hand
Nothing can face you that you can’t command
I know that you will always be,
In His Love, in His Power you will be free…..

Saya tidak berbuat apa-apa selain mengimani Firman Tuhan itu dan terus 
bernyanyi lagu rohani tersebut untuk menguatkan diri saya. Dalam keadaan 
seperti itu, saya tetap belajar mendoakan pemfitnah saya. Memang sulit, karena 
ini urusannya dengan menyangkal daging. Saya perlu berdoa supaya Tuhan kuatkan 
saya, dan saya perlu berlatih untuk mendoakan dia. Setelah ber malam-malam 
berlatih mendoakan pemfitnah saya, akhirnya saya mampu berdoa begini : “Tuhan, 
Engkau sanggup mengubah Saulus menjadi Paulus, Engkau juga sanggup mengubah 
orang itu menjadi Hamba Tuhan.”

Apa yang terjadi ? Suatu malam, kalau tidak salah itu tahun 2002, jam 2 malam 
saya dibangunkan seseorang, dan orang itu adalah pemfitnah saya. Saya kaget 
kenapa orang ini bisa masuk kamar saya, karena orang ini seumur hidupnya terus 
menerus memfitnah saya bahkan sering mencoba membunuh saya. Tentunya saya malas 
untuk berkelahi malam-malam begini, masih ngantuk pula.

Dia duduk di kursi kerja saya, memandang saya sambil tersenyum, dan berkata 
begini :
            “Mbak Hesti yang benar.”
Saya membenarkan posisi bantal maksudnya supaya posisi saya jangan berbaring, 
tapi saya mau setengah duduk, dan saya mau tanya, apa maksudnya. Tetapi dia 
keburu hilang, dan tiba-tiba selimut saya seperti membelit leher saya, sampai 
saya susah bernafas, tapi saya berteriak “Dalam Nama Jesus!”. Tiba-tiba itu 
semua hilang. Lalu saya berdoa, dan tidur lagi.

Paginya saya baru tahu apa yang terjadi. Seorang teman menelpon dan langsung 
berkata       “Congratulation.” 
Saya tanya “Congratulation apa ? “.
“Ada yang meninggal.”
“Lho, ada yang meninggal kok congratulation ?”
“Musuh kamu meninggal.”

Jadi saya mengerti, yang tadi malam datang itu arwahnya. Lalu saya bertanya 
pada Tuhan, kok mati Tuhan ? Sebenarnya yang saya inginkan adalah orang itu 
tetap hidup, tapi bertobat dan mengakui bahwa apa yang dikatakannya tentang 
saya itu cuma fitnah. Kalau dia sudah mengakuinya, kami bisa jabat tangan, lalu 
selesai, happy ending kan ? Itu happy ending versi saya, bukan versi Tuhan. 
Rupanya Tuhan punya rencana lain.

RancanganKu bukan RancanganMu, jalanKu bukan jalanMu. Setinggi langit dari 
bumi, demikianlah rancanganKu dari rancanganMu, jalanKu dari jalanMu. 

Dan benar saja perhitungan saya. Orangnya sudah mati, tapi fitnahnya tetap 
hidup, dan satu persatu saya kumpulkan. Ternyata fitnahnya lebih banyak dari 
yang saya kira. Saya mengerti keputusan Tuhan kenapa Tuhan membuat dia mati. 
Mungkin kalau dibiarkan hidup, ia akan terus berusaha membunuh saya, dengan 
cara apapun. Jadi mungkin ada rencana Tuhan yang lain di depan saya, sehingga 
Tuhan menjaga saya untuk terus hidup, sekalipun saya pernah berdoa begini :
            “Tuhan, kita ngalah saja. Engkau buat aku mati, nanti kan mereka 
senang.”
Tetapi saya cuma bisa berdoa, Tuhan yang menentukan. Jangankan mati, sakitpun 
tidak. Tuhan terus paksa saya untuk tetap hidup, sampai sekarang. Dan saya 
melihat, berkat “paksaan” Tuhan, saya diperbaharui hari lepas hari, semakin 
tangguh dan semakin tangguh, semakin mengerti kehendak Tuhan. Jadi keputusan 
Tuhan, itulah yang terbaik bagi kita.

Sampai suatu hari, memasuki tahun 2006, saya bisa berdoa begini :
            “Tuhan, aku tidak perduli lagi hal baik atau hal buruk yang akan 
terjadi padaku. Satu hal yang aku mau, buat aku terus melekat pada Pokok Anggur 
Yang Benar. Karena diluar Engkau, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Tuhan menjawab dengan suara yang ‘audible’ di hati saya :
            “Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.”

Dulu waktu saya muslim, saya sudah mendengar suara Tuhan secara audible, tapi 
itu di telinga saya. Waktu itu saya sedang marah-marah dengan Tuhan. Saya 
berbaring sambil menangis di tempat tidur saya, sambil memukul-mukul tembok, 
maksudnya mau memukul Tuhan.
            “Tuhan gak boleh gitu. Tuhan gak boleh menciptakan manusia, lalu 
manusia ditinggal di dunia, lalu Tuhan pergi ke sorga, duduk-duduk di sorga 
menghitung pahala dan dosa. Tuhan pikir hidup di dunia itu gampang ? Tuhan tau 
nggak, di dunia itu banyak orang jahat. Tuhan enak di sorga, di sorga gak ada 
orang jahat. Lagipula kenapa Tuhan menciptakan ada orang baik ada orang jahat, 
coba kalau Tuhan menciptakan orang baik saja, kan enak, masuk sorga gak perlu 
screening…..”
Tiba-tiba saya dengar suara di telinga saya :
            “Hesti, ini Aku Bapamu”. 
Sekarang, kalau saya mendengar suara Tuhan, suara itu audible di hati saya. 
Rupanya Tuhan sudah berpindah dari luar ke dalam diri saya. Benarlah apa yang 
dikatakan Jesus dalam Wahyu 3 ; 20
            Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang 
yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan 
Aku makan bersama-sama dengan dia, dan dia bersama-sama dengan Aku. 

Dikemudian hari, setelah saya dibaptis dan mengerti baca Alkitab, semua 
pertanyaan saya itu dijawab Tuhan. Tuhan tidak duduk-duduk saja di sorga 
menghitung pahala dan dosa, tapi Tuhan terus bekerja sampai sekarang membantu 
manusia hidup di dunia yang penuh dengan orang jahat ini. Dan Tuhan tidak 
menciptakan orang jahat, Tuhan menjawabnya dengan perumpamaan tentang ilalang 
dan gandum di Mat 13 ; 24-30, 36-43.

Jadi, apakah Tuhan tidak adil ?
Sebagai arsitek, saya biasa menggambar banyak perspektif dengan banyak sudut 
pandang, dari sebuah rumah yang sama. Dari satu sudut pandang, mungkin rumah 
itu kelihatan monoton, tidak menarik. Tetapi dari sudut pandang lain, rumah itu 
bisa terlihat sangat indah.

Dalam hiduppun, mungkin kita perlu untuk berlatih untuk “menggambar” banyak 
perspektif, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Ketika kita sudah menemukan 
sudut pandang yang tepat, maka hidup itu terlihat indah, kita dapat berkata : 
Tuhan itu baik, Tuhan itu setia, Tuhan itu adil dan benar. Dititik itulah, kita 
bisa BERDAMAI DENGAN TUHAN.

Jadi mungkin bukan Tuhan yang tidak adil, tetapi perspektif kitalah yang salah.

GBU
Hesti.

Kirim email ke