From: yulia gunawan <[EMAIL PROTECTED]>

Weekly Devotion : Lawan setiap tantangan!

Yang terkasih, 

"Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, 
marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan 
berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang di wajibkan bagi kita. Marilah kita 
melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam 
iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan 
mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi 
Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Tuhan" (Ibrani 12:1-2)

Setiap orang percaya sedang di dalam pertandingan - perlombaan yang di wajibkan 
baginya. Oleh karena itu setiap pertandingan selalu akan ada tantangan, namun 
dalam tantangan itu kita harus memiliki sikap bahwa kita akan menang dalam 
setiap  tantangan yang kita hadapi.

Seseorang pemenang mempunyai tujuan hidup dan goal di dalam kehidupannya. Untuk 
menjadi pemenang kita semua harus FOCUS terus kepada Yesus.

Kunci kita menghadapi tantangan dan menang dalam pertandingan adalah fokus 
kepada Tuhan, Fokus terus pada mimpi dan visi yang Tuhan berikan, pikirkan dan 
perkatakan terus menerus. Jangan menyerah pada tantangan yang Anda hadapi. Kita 
harus punya mental pemenang. 

Tuhan berkata kepada Anda semua di Roma 8:37 "Tetapi dalam semuanya itu kita 
lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."

Tetapkan gol dalam hidup kita kemana kita harus melangkah, fokus  pada golnya 
Tuhan. Bagaimana caranya Anda memiliki ketetapan seperti ini? Miliki sikap 
bahwa apapun yang terjadi aku akan menyelesaikan pertandingan. Pilihan kita 
akan menentukan apakah kita masuk dan menang dalam pertandingan. Buat pilihan 
yang benar!

Oposisi terbesar dalam hidup kita adalah daging kita yang berontak melawan apa 
yang seharusnya kita lakukan. Daging kita berkata "tidak kuat", namun di tengah 
 tantangan ini kita harus maju terus; artinya kita tetap harus melakukan apa 
yang benar karena kita tahu ini yang yang benar yang harus kita lakukan.

Sikap pesimis dan pasif adalah musuh terbesar dalam kita memenangkan 
pertandingan. Sebab sikap tersebut tidak akan membawa kita pada kemenangan dan 
menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi. Waktunya bagi Anda untuk tidak 
bersantai dan menyerah! Firmannya berkata; 

"Supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. 
Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu" 
Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada 
kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, 
telah terjadi (I Tesalonika 3:3-4)

Oleh karena itu sikap seseorang yang ingin menang adalah mereka tidak akan 
bersantai-santai dengan hidup mereka. Mereka menghargai setiap nilai hidup dan 
waktu mereka. Oleh karena itu Hidup kita harus penuh semangat dan siap hadapi 
tantangan. Lawan setiap godaan apa pun yang menghalangi kita masuk destinasi 
Tuhan bagi kita!

Ruth adalah seorang wanita yang punya sikap pemenang - dia berani membuat 
keputusan yang radikal di tengah-tengah kesulitan. Ruth mengambil keputusan 
ikut Naomi karena TUHAN.

Kita harus bertumbuh pada titik di mana kita tidak lemah - sikap ini yang 
diperlukan kita. Tetapkan sebuah gol dalam hidup kita, setiap gol pasti ada 
harga yang harus di bayar. Untuk mencapai apa yang Tuhan sudah sediakan bagi 
kita, ada harga yang harus di bayar.

Di dalam kita mengalami pertumbuhan pasti ada rasa sakit menyertai kita. 
Percobaan dan kesusahan pasti datang, tetapi ini akan membawa pertumbuhan untuk 
kita. Hal terpenting pada saat tantangan semua itu datang adalah iman kita 
tidak goyah dan berdiri terus. 

Tuhan memperingatkan kita semua melalui Lukas 22:31-32 "Simon, Simon, lihat, 
Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa 
untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah 
insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu."

Jangan berfokus pada masalah Anda, jangan melihat sekeliling Anda. Lihat 
kemenangan di depan Anda! Kita harus menjadi kuat di tengah-tengah situasi yang 
sulit dan keras sekalipun. Kita bukan cacing-cacing yang tidak berdaya!

Tuhan ingin Anda seperti papan penggirik yang TAJAM dan BARU, Engkau kata Tuhan 
akan menghancurkan gunung-gunung dan meratakan bukit-bukit. Engkau akan melihat 
sendiri angin dan badai akan menyerakkan musuh-musuhmu, tetapi Anda akan 
mengucap syukur dan bermegah di dalam Yang Maha Kudus Tuhan Israel (Yesaya 
41:15-16). 

Tantangan apa pun kita harus melawannya..lihatlah diri Anda sebagai pemenang... 
Apa pun yang terjadi belajarlah mempercayai Tuhan. Jadilah fokus...jangan 
menyerah. Kesuksesan saya adalah pilihan saya yang buat bukan orang lain.

Dalam kasih-Nya
Maria Magdalena Ministries
www.mmmindo.org
Copyright 2007 
============================================
From: Lauw Eng Tjun 

Buah Tanah Perjanjian  - Rick Joyner

 
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah 
kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam 
dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh 
hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia 
seperti dirimu sendiri" (Galatia 5:13-14).



Sebelum kita mempelajari buah Roh secara detil, kita harus mengerti bahwa 
prinsip Kerajaan Tuhan adalah kemerdekaan. Ini merupakan prinsip fundamental 
yang harus dimiliki untuk menguasai Tanah Perjanjian atau berjalan dalam 
janji-janji Tuhan.



Kita belajar dari 2 Korintus 3:17, "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh 
Tuhan, di situ ada kemerdekaan." Ini juga bisa diterjemahkan "di mana ada Roh 
Tuhan di situ ada kemerdekaan."  Karena itu, memahami kemerdekaan itu sangat 
penting agar kita bisa menguasai buah-buah kerajaan, yaitu tempat di mana Dia 
adalah Tuhan. 



Kemerdekaan bukanlah sekedar ketiadaan ikatan, melainkan kebebasan untuk 
mengejar segala sesuatu yang telah ditetapkan ketika kita diciptakan. Mereka 
yang memakai kebebasan ini untuk melakukan hal yang jahat atau tidak melakukan 
apa-apa akan kembali ada dalam ikatan. Kemerdekaan yang sebenarnya tidak 
bersifat statis, tapi merupakan suatu kebebasan untuk mengejar. Kemerdekaan 
yang sebenarnya juga berhubungan dengan apa yang kita kejar.



Karena adanya ikatan kerja yang keras di Mesir, mungkin banyak orang 
membayangkan bahwa di Tanah Perjanjian tidak ada kerja sama sekali. Keadaan 
seperti ini bukanlah merupakan tempat yang baik untuk jangka panjang dan kita 
pun tidak merdeka untuk waktu lama dalam situasi seperti itu. Seperti manusia 
yang diletakkan Tuhan di taman Eden untuk memeliharanya, manusia juga 
diciptakan untuk bekerja. Bahkan ilmu psikologi juga menunjukkan bahwa orang 
bisa menjadi gila kalau kehilangan pekerjaan yang berarti. Ada suatu perbedaan 
besar antara ikatan kerja keras dan kebebasan untuk bekerja agar menjadi apa 
yang telah ditetapkan bagi kita.



Kerja keras adalah kutuk, dan kerja keras bukan bekerja dengan sungguh-sungguh 
tetapi sulit dan menyakitkan (kerja rodi). Ini menunjukkan adanya perjuangan 
dan bukan berkat. Kerja keras atau rodi menghalangi kita untuk menjadi diri 
kita yang sebenarnya sedangkan bekerja bebas membuat kita merdeka untuk menjadi 
diri kita yang sebenarnya. Kerja mengisap enersi dan hidup kita - sedangkan 
kerja bebas membantu kita untuk meregenerasi jiwa kita. 



Karena itu Tuhan berkata dalam Matius 11:28-30 "Marilah kepadaKu, semua yang 
letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk 
yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati 
dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan 
bebanKu pun ringan."



Kuk adalah suatu kerja, tetapi bila kita dikuk dengan Tuhan dan 
tujuan-tujuan-Nya yang merupakan tujuan penciptaan diri kita, maka kita akan 
menemukan suatu kesegaran dan kesejahteraan bagi jiwa kita, bukannya keletihan. 
Mungkin pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan itu lebih keras dari yang kita 
lakukan untuk Firaun dan petinggi-petingginya, tetapi itu akan lebih memuaskan 
kita.



Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang yang mempunyai tujuan dasar 
untuk melakukan bisnis sendiri daripada bekerja pada orang lain. Ini merupakan 
satu langkah menuju arah yang benar, tetapi hak itu tidak berarti sama dengan 
bekerja bagi Raja. Selain diciptakan untuk bekerja, ada tujuan yang lebih 
tinggi dari penciptaan manusia, yaitu memiliki hubungan khusus dengan Tuhan - 
yang merupakan hal fundamental dari siapa diri kita. Tanpa hubungan itu kita 
akan menjadi kosong tidak perduli seberapapun keberhasilan yang kita capai. 
Ganjaran terbesar yang bisa kita teriman lebih dari semua kekayaan yang bisa 
kita miliki di dunia ini adalah bila pada hari penghakiman kita mendengar Dia 
berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia" (Matius 
25:21). Ganjaran terbesar adalah mengetahui bahwa kita menyenangkan hati Tuhan.



Kita tidak perlu menunggu sampai hari penghakiman datang untuk menyenangkan 
hati Tuhan. Kita juga tidak perlu memasuki pelayanan tradisonal ataupun "bisnis 
Kristen" untuk bekerja bagi Raja dan Kerajaan-Nya. Engkau bisa memulainya hari 
ini, tidak peduli pekerjaan apapun yang sedang engkau lakukan.



Paulus menulis dalam Kolose 3:23-24 "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah 
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, 
bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai 
upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."



Berapa menyebalkannya pekerjaanmu sekarang ini tidaklah menjadi soal karena 
engkau bisa mengubahnya menjadi suatu penyembahan. Kalau engkau melakukan 
pekerjaanmu bagi Tuhan, bukan bagi perusahaan atau atasanmu, engkau akan mulai 
mengalami kemerdekaan dan kepuasan paling besar yang bisa engkau bayangkan. Ini 
akan terjadi walaupun pekerjaan itu sendiri tidak berubah. Lebih baik menjadi 
budak dan mempunyai hadirat Tuhan daripada raja tanpa Dia. Kalau engkau 
mengalami hal ini, engkau akan menjadi seorang yang merdeka tidak perduli 
pekerjaan atau posisi apa yang engkau miliki. Kalau engkau tidak mengerti 
kebenaran ini, engkau tidak akan menjadi orang merdeka apapun pekerjaan dan 
jabatanmu.



Kemerdekaan kerajaan itu ada di dalam hati, bukan di lingkungan. Kalau hati 
kita merdeka, kemerdekaan itu akan menguasai keadaan kita. Sekalipun hal itu 
tidak mengubah situasi kita, kita bisa berpesta di depan para musuh kita.



Saya pernah mempunyai pengalaman dengan melakukan bisnis sendiri. Ini bisa 
sangat memuaskan. Akan tetapi, dalam banyak hal, pekerjaan ini bisa menjadi 
ikatan besar misalnya tidak bisa meninggalkan pekerjaan pada jam 5 sore, atau 
pada akhir minggu, atau waktu-waktu lainnya. Saya sempat merasa iri dengan 
orang-orang yang bekerja untuk saya karena ketika mereka cuti, mereka 
benar-benar bebas. Tapi saya sendiri tidak. Mungkin saya mempunyai lebih banyak 
penghasilan tetapi waktu itu lebih berharga dari uang, dan saya kehilangan 
kemampuan untuk memiliki waktu sendiri.



Ada suatu prinsip tentang ikatan yang harus kita mengerti sehingga kita juga 
bisa memakai kemerdekaan kita dengan benar. Jim Bakker memberitahu saya bahwa 
setelah dia keluar dari penjara hampir tidak mungkin baginya untuk membuat 
keputusan yang paling sederhana. Dalam penjara, "pembuat keputusan" 
menghentikan kemampuan itu dan dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk 
melatih kembali kemampuan mengambil otoritas dan tanggungjawab tersebut. Di 
penjara, dia hanya menerima keputusan, jadi ketika keluar dari penjara membuat 
keputusan sederhanapun sudah sangat sulit. Inilah yang menjadi alasan mengapa 
banyak orang yang keluar dari penjara sebenarnya ingin kembali lagi setelah 
sebentar ada di luar. Bahkan ada orang-orang yang melakukan kriminalitas dengan 
harapan untuk bisa ditangkap. Bagi mereka, kemerdekaan paling besar adalah 
tidak memiliki kebebasan dan karena itu tidak perlu membuat keputusan.



Itulah sebabnya bangsa Israel meninggalkan Mesir dalam satu malam tetapi 
memerlukan empat puluh tahun untuk mengeluarkan Mesir dari hidup mereka. 
Setelah menghadapi beberapa kesulitan mereka, mereka bahkan ingin kembali ke 
dalam ikatan Mesir daripada melanjutkan perjalanan mereka menuju kemerdekaan. 
Ini merupakan hal yang sama bagi orang-orang Kristen yang telah dibebaskan dari 
ikatan dosa tetapi kemudian menjadi ketakutan dan sering jatuh kembali dengan 
sengaja ketika mereka dinasehati untuk tidak memilih dosa.



(Sumber: The Fruit of The Land, oleh Rick Joyner).

Kirim email ke