From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 45 -- Menapaki Tanah-Tanah Terabaikan
PENGANTAR
Henry Petronsky, seorang pengarang, insinyur, dan pendidik pernah
berkata bahwa ternyata kita lebih banyak belajar dari kegagalan
daripada dari kesuksesan. Kegagalan membuat kita terpacu untuk
melakukan yang terbaik semampu kita untuk mencapai kesuksesan. Dan
sebagai orang percaya, tentunya kita harus memiliki pandangan yang
benar dalam memandang sebuah kegagalan. Melalui kesaksian di bawah
ini, kita dapat menyimak bagaimana sebuah kegagalan akhirnya
membuahkan akhir yang indah karena Yesuslah yang telah mengubahkan.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
MENAPAKI TANAH-TANAH TERABAIKAN
===============================
Manusia sering merasa gagal saat hidup tidak sesuai harapannya. Itu
pula yang pernah dialami Abimelek "Aby" Letedara (47). Ia pernah
mencoba bunuh diri. Namun perjumpaannya dengan Yesus Kristus, Sang
Guru Kehidupan, menjadikan semuanya berubah. Hidup menjadi teramat
berarti baginya. Kini Aby adalah salah satu pembawa kabar baik di
suku terabaikan di tanah Papua.
Keluarga "Broken Home"
Aby terlahir Kristen. Saat kelas dua SD, orang tuanya bercerai
karena papanya menikah lagi. Akibatnya, ia dan tiga saudaranya
membantu mamanya mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah mereka.
Tamat SD, Aby diasuh saudara mamanya di kota Ambon.
"Di tengah keluarga orang tua angkat, saya jadi anak paling besar.
Tanggung jawab saya pun besar. Hampir seluruh pekerjaan rumah saya
yang kerjakan," kata suami Ria Rahamis ini.
Lulus SMP, Aby melanjutkan di SMOA (Sekolah Menengah Olahraga
Atas). "Setelah lulus, saya ingin kuliah di Sekolah Tinggi Olahraga.
Ternyata mereka setuju. Padahal masa itu tidak banyak orang
melanjutkan ke perguruan tinggi," ungkap pria kelahiran Pulau Leti
Serwaru, Maluku Tenggara.
Tahun 1979, Aby kuliah di Ujung Pandang. Jauh dari orang tua membuat
sesuatu berubah. Aby bak burung lepas dari sangkar. Bebas. Ia
mengikuti banyak kegiatan tanpa ada pertimbangan dari orang tua. Ia
mati-matian melatih diri menjadi atlet beladiri dan lari jarak jauh.
Ia ingin menjadi orang terkenal.
Jalan itu terbuka. Setahun di Ujung Pandang, Aby dipilih mewakili
daerah itu menjadi komandan barisan Tri Lomba Juang. Dari
prestasinya ini, Aby mendapat beasiswa dari pemerintah. Penghargaan
dari pemerintah dan prestasi yang ia peroleh ternyata tidak cukup
membuatnya bangga. Aby merasa itu semua masih jauh dari harapan.
Padahal, waktu dan perhatiannya dicurahkan untuk olahraga.
"Saya pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya merasa gagal.
Namun, pikiran itu saya buang. Tahun 1983, saya benar-benar kacau.
Saya capai dengan semua latihan tanpa hasil yang maksimal. Saya
merasa hidup tak berharga. Saya nekad minum minyak kayu putih
setengah botol besar. Saya pingsan. Puji Tuhan, saya nggak mati
waktu itu," tutur Aby mengenang.
Aby juga aktif mengikuti paduan suara. Suatu ketika, dia diundang
menyanyi dalam acara perpisahan mahasiswa praktik dari STT Batu,
Malang. Firman Tuhan yang disampaikan diambil dari Mazmur 112:1-2
tentang keturunan orang benar akan diberkati. Dalam khotbah itu
diterangkan hasil penelitian dua keluarga besar di Amerika yang
takut Tuhan dan keluarga yang tidak takut Tuhan. Sampai generasi
yang keempat, kedua keturunan itu tampak sangat berbeda.
Khotbah itu menggelisahkan hati Aby. Dia merasa berada dalam
keluarga yang tidak takut Tuhan. "Sejak kecil, saya dididik secara
Kristen dengan baik dan rajin ke sekolah minggu. Tapi dihadapkan
pada kenyataan orang tua cerai, saya sendiri kacau! Waktu itu banyak
pacar. Jadi, saya ini Kristen macam apa? Timbul ketakutan yang
sangat mengganggu pikiran saya," ujar pria kelahiran Nuwewang 17 Agustus 1958.
Mencari Tuhan dalam Kegelisahan
Kegelisahan itu mendorongnya membaca Alkitab. Ia membaca kisah Raja
Yosafat yang ketakutan karena dikepung tentara. Yosafat mencari
Tuhan. Waktu ia mencari Tuhan, Tuhan memberi pertolongan. "Saya
membaca kisah itu seperti melihat diri saya sendiri. Saya ketakutan karena
dosa-dosa saya. Saya seperti Yosafat, saya mencari Tuhan," katanya mengenang.
Aby mulai sering berdoa sendiri. Ada kerinduan baru mencari Tuhan
dengan sungguh-sungguh. Ia aktif di persekutuan YPPII dan PERKANTAS,
serta kunjungan doa di rumah sakit. Ia mulai berani bicara mengenai
Yesus kepada teman-temannya.
Aby kerap mendengar suara yang berkata, "Itu belum cukup." Suatu
siang dalam keadaan lelah setelah pelayanan, ia berdoa di tempat
tidur dan berkata pada Tuhan: "Tuhan, apa yang Engkau maksud dengan
apa yang saya lakukan belum cukup?" "Siang itu, sesuatu terjadi,
saya mendapat penglihatan. Lembah yang sangat hijau dan melihat
iblis merantai tangan orang-orang di sana. Lalu terdengar suara,
'Bertolaklah lebih dalam dan tebarkan jala.'"
Aby bingung dengan pengalaman itu. Tapi Aby ingat pernah mendengar
kata-kata itu sebelumnya. Ya, itu ada di Alkitab! Di Lukas 1:1-4,
tentang cerita Yesus memanggil murid-murid yang pertama. Aby seperti
mendapat pengertian bahwa itu adalah panggilan misi. "Saya ambil
keputusan drastis, akan berhenti kuliah dan pergi menginjil. Tapi
semua dosen tak setuju karena memang saya dipersiapkan untuk jadi
dosen. Saya urungkan niat itu dan selesaikan kuliah," kata pria
yang mengantongi sertifikat mengajar Akta 5 ini.
Singkat cerita, Aby dan paduan suara Shalom pergi ke Batu, Malang
untuk rekaman kaset bagi penginjilan. Bersama dengan itu, YPPII
sedang mengadakan kebaktian tahunan. Khotbah Brother Andrew tentang
keselamatan dan damai yang hanya diperoleh dalam Yesus menyentuh
hati Aby. Usai pemberitaan firman, seorang bernama Jhony Sinaga
mendatanginya dan mengajaknya berbincang-bincang. Aby pun
menceritakan banyak hal yang menggelisahkan hidupnya. "Dia ajak saya
berdoa dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Rupanya
kekosongan kasih dan kenyataan yang jauh dari harapan membuat saya
hampa. Saat itu saya menangis meraung-raung," cerita Aby mengenang.
Melayani di Pedalaman
Kerinduan melayani di pedalaman tak dapat dibendung. Namun, Yayasan
Misi menolaknya karena tidak memiliki latar belakang teologia.
Akhirnya, Aby kuliah di STT III Batu, Malang. Di kampus itu, Aby
berjumpa Ria Rahamis yang dinikahinya setelah lulus kuliah.
Pasangan ini punya hati yang sama, melayani Tuhan bagi suku
terabaikan. Hatinya tertuju bagi banyak jiwa yang sama sekali belum
pernah mendengar tentang Yesus. Mereka selalu bergetar setiap kali
mendengar dan melihat peta wilayah yang jauh tertinggal dari kemajuan zaman.
Proses panjang dilalui oleh Aby dan Ria. Mereka tidak bisa begitu
saja masuk ke daerah pedalaman. Lebih dahulu mereka belajar di
Institut Pendidikan Misi dan praktik di Pulau Taliabu, Maluku Utara.
Tahun 1995, Aby mengikuti pertemuan hamba-hamba Tuhan di Sentani.
Hati Aby tersentuh ketika mendengar tentang suku Yetfa. Suku di
daerah pedalaman yang benar-benar belum tersentuh Injil. Pada tahun
itu pula, Aby melihat wilayah ke-9 dari 14 suku terabaikan itu.
Tahun 1996, bersama istrinya, Aby "membuka kampung". Tentu banyak
kenangan indah, lucu, dan mengharukan yang akan terus disimpannya.
"Waktu kami datang pertama kali, penduduk di sana terus memandangi
kami. Menyentuh tangan kami dan berlari-lari memperlihatkan
tangannya yang telah menyentuh tangan kami. Kami mengajari mandi,
menggosok gigi, dan memakai sabun. Pernah dari mereka sakit perut
ternyata ketika kami tanya, mereka makan sabun dan odol yang kami
sediakan. Setelah merasa dekat, kami memberi pengertian tentang
pentingnya kebersamaan untuk kepentingan bersama. Kami membuat
lapangan terbang dengan alat seadanya, seperti cangkul, sabit, dan
bambu yang kami runcingkan. Tidak ada alat berat. Bagaimana mau
masuk kalau tidak ada lapangan udara. Semua transportasi di sana
hanya bisa dilakukan dengan pesawat," ujar ayah Gabriel, Solagratia,
dan Talitakum ini. Lapangan udara hasil kerja bareng masyarakat suku
Yetfa yang dikerjakan tahun 1996 sudah bisa dipakai tiga tahun kemudian.
Aby masih terus setia menapaki "tanah-tanah terabaikan". Masyarakat
di sana sudah memakai pakaian. Anak kecil dan orang dewasa belajar
membaca dan menulis di kelas yang sama. Kemajuan yang luar biasa.
Kini, di tanah Papua terdengar nyanyian pujian, kesukaan bagi Tuhan ....
Aby! Hidupmu amatlah berarti.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Karena Dia
Judul artikel: Menapaki Tanah-tanah Terabaikan
Penulis : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2006
Halaman : 61 -- 69
______________________________________________________________________
"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Markus+10:45 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Berdoalah bagi setiap orang yang mengalami kegagalan dalam
hidupnya, mintakan kepada Tuhan agar mereka dapat kembali bangkit
dan tetap mengandalkan Tuhan karena Ia memiliki rencana yang
lebih indah daripada yang diharapkan manusia.
2. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk setiap orang yang dikirim untuk
menguatkan kita dalam kegagalan yang kita alami. Berdoalah juga
agar kita pun dimampukan untuk menguatkan setiap orang di sekitar
kita yang mengalami kegagalan.
3. Doakan pula agar setiap kegagalan yang kita temui dapat menjadi
cambuk bagi kita untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya dan kita
semakin peka atas rencana Tuhan bagi hidup kita, bukan malah
membuat kita menjauh dari-Nya.
______________________________________________________________________
DARI REDAKSI
SITUS IN-CHRIST.NET: EQUIPPING ONE ANOTHER
==========================================
http://www.in-christ.net
Keberagaman bidang pelayanan Kristen di Indonesia terkadang
menyulitkan siapa saja untuk menemukan sumber bahan dan informasi
yang dibutuhkan. Namun, jangan khawatir, Indonesian Christian
Networks (In-Christ.Net) telah hadir bagi Anda sekalian.
Dengan moto "Equipping one another", In-Christ.Net tidak sekadar
menjadi wadah bagi berbagai bidang pelayanan Kristen, tapi juga
ingin menghimpun berbagai gereja, yayasan/lembaga, dan individu
Kristen yang memiliki konsentrasi di bidang pelayanan tertentu dalam
persekutuan dan pelayanan elektronik yang holistik. Salah satu
"network" pelayanan yang dihimpun ialah Renungan dan Artikel.
In-Christ.Net hadir dengan penggabungan sejumlah fasilitas. Selain
Artikel dan Blog, Anda bisa menemukan Links (direktori situs
Kristen) dan Kolaborasi (memanfaatkan teknologi Wiki), plus kursus
e-Learning, yang kini masih berupa kursus dari Layanan Konseling
Keluarga dan Karir (LK3). Keberagaman ini membuat Anda tidak
sekadar mendapatkan beragam bahan dan informasi, tapi juga diajak
untuk berperan serta membangun komunitas Kristen yang saling melengkapi ini.
"Network" Renungan dan Artikel saat ini telah memberikan sejumlah
informasi yang bisa Anda lengkapi. Silakan telusuri masing-masing
menu untuk melihat "network" ini. Sejumlah "network" lainnya
meliputi Anak, Konseling, Leadership, Literatur, Misi, Musik dan
Audio, Pendidikan, Teknologi, Internet, dan Ministry, Teologi dan
Alkitab, serta Yayasan dan Gereja.
In-Christ.Net akan terus berkembang seiring partisipasi dari
berbagai pihak -- termasuk Anda -- yang terus menambah bahan dan
informasi kekristenan di dalamnya. Mari bersama-sama bergabung dalam
pelayanan elektronik yang saling memperlengkapi dan memberkati ini.
==========================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 46 -- Rusia: Nikolai Khamara
Ada kalanya kita ingin menjadi berbeda dari orang-orang di
sekeliling kita. Mungkin dari cara berpakaian, tutur kata, maupun
dari tingkah laku kita. Sebagai orang yang mengaku percaya kepada
Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita juga dituntut untuk
berbeda dari mereka yang tidak percaya, terutama dengan cara hidup
kita. Cara hidup yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan untuk
kemuliaan-Nya, itulah yang Dia inginkan. Saya ajak kita semua untuk
menyimak bagaimana seorang yang tidak percaya kepada Kristus
berbalik menjadi percaya karena melihat apa yang dilakukan orang Kristen.
Pimpinan redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
RUSIA: NIKOLAI KHAMARA
======================
Nikolai Khamara ditahan karena merampok dan dipenjarakan selama
sepuluh tahun. Khamara mengamati orang-orang Kristen dan heran,
makhluk macam apakah mereka. Mereka manusia juga, namun mereka
menunjukkan sukacita di saat mereka seharusnya bersedih dan mereka
menaikkan pujian sekalipun menghadapi kesusahan. Saat mereka
mendapat sepotong roti, mereka membagikannya dengan orang yang tidak
memperolehnya. Wajah mereka tampak bersinar saat mereka berbicara
kepada "seseorang" yang tidak dapat dilihat oleh Khamara.
Suatu hari, dua orang Kristen duduk di sebelah Khamara dan
menanyakan kisah hidupnya. Khamara menceritakan kisah sedihnya dan
mengakhiri ceritanya dengan berkata, "Aku adalah orang yang terhilang."
Salah satu dari orang Kristen itu tersenyum dan bertanya kepada
Khamara, "Jika seseorang kehilangan sebuah cincin emas, berapakah
nilai cincin emas itu ketika hilang?!"
"Pertanyaan yang bodoh sekali! Sebuah cincin emas ya sebuah cincin
emas. Kamu kehilangan cincin emas, tapi orang lain akan mendapatkannya."
"Jawaban yang bagus sekali," kata orang Kristen itu. "Sekarang
katakan, berapakah nilai seseorang yang terhilang? Orang yang
terhilang, seorang pencuri, pezinah, atau seorang pembunuh, memiliki
nilai seorang manusia. Dia begitu bernilai sehingga Tuhan
meninggalkan surga dan mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang itu."
Orang Kristen itu berkata kepada perampok itu, "Kamu mungkin
terhilang, tapi kasih Tuhan telah menemukanmu." Setelah mendengar
itu, Khamara memberikan hidupnya kepada Kristus.
*****
Bagaimana suatu nilai diukur? Biasanya berdasarkan investasi
seseorang terhadap waktu, uang, atau emosi. Itulah, bagaimana
seseorang memperlakukan harta benda, aktivitas, atau bahkan suatu
hubungan akan menyingkapkan seberapa besar hal-hal tersebut dinilai
oleh orang itu. Pikirkanlah, sebagai contoh, betapa beda kita
memperlakukan pakaian kerja yang lama dengan yang baru. Atau
perbandingan antara perawatan terhadap gelas kertas dengan gelas
kristal. Dan saat harta benda yang bernilai hilang atau seseorang
terkasih sedang terluka, oh betapa banyak air mata yang keluar.
Jadi, berapa nilai orang-orang berharga Anda? Seperti yang
diberitakan oleh orang Kristen itu kepada Khamara, sangat berharga
sehingga Yesus meninggalkan surga dan mati di kayu salib bagi
ciptaan yang terhilang dan memberontak. Tuhan sangat mengasihi
mereka. Anda dikasihi; Anda sangat berharga. Bersukacitalah dan
sebarkanlah Kabar Baik ini kepada "orang-orang terkasih" lainnya di dekat
Anda.
*****
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul Buku : Devosi Total
Judul Asli : Extreme Devotion
Judul Artikel: Rusia: Nikolai Khamara
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 263
______________________________________________________________________
"Akan tetapi Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita,
ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Roma+5:8 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Mengucap syukurlah kepada Tuhan yang telah memandang kita sebagai
ciptaan yang berharga sehingga Ia menganugerahkan Kristus kepada
kita. Berdoalah agar Tuhan pun memberi kita hati yang penuh
kasih, juga berani untuk bersaksi mewartakan Injil-Nya agar orang
lain mendengar dan berkesempatan mengenal Dia.
2. Berdoalah juga agar setiap orang tetap bertekun dalam pengajaran
yang benar sehingga memiliki pengenalan yang benar akan Kristus.
Biarlah dengan demikian, mereka dapat lebih mengenal kasih
Kristus dan membagikannya kepada setiap orang di sekitarnya.
3. Mintalah hikmat Ilahi agar kita dapat menyampaikan kasih Kristus
secara bijaksana. Berdoalah juga agar kita dapat menjawab setiap
pertanyaan yang disampaikan oleh mereka yang belum percaya.