From: Leonard Handjojo Sepuluh Anjuran
(Bacalah pelan-pelan. . renungkanlah. .) 1. Bencilah dosamu, tapi jangan pernah membenci dirimu. 2. Cepatlah untuk menyesali kesalahan. 3. Apabila Tuhan memberimu terang, berjalanlah di dalam terang-Nya itu. 4. Berhentilah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirimu sendiri. Tuhan mencintaimu dan tidaklah benar jika kamu membenci sesuatu yang Dia cintai. Dia mempunyai rancangan-rancangan yang indah bagimu, jadi kamu melawan-Nya jika kamu berbicara secara negatif mengenai masa depanmu sendiri. 5. Janganlah takut untuk mengaku bahwa kamu telah berbuat kesalahan, tapi janganlah selalu berprasangka bahwa kamulah yang salah setiap saat ada yang tidak benar. 6. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kamu lakukan, baik yang benar maupun yang salah; itu sama dengan memikirkan terus diri sendiri! Pusatkanlah pikiranmu kepadaNya! 7. Jagalah dirimu sendiri secara fisik. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya apa yang Tuhan telah berikan padamu demi tugasmu, tapi janganlah menjadi terobsesi dengan penampilanmu. 8. Janganlah berhenti untuk belajar tapi jangan sampai ilmu itu membuat kamu sombong. Tuhan memakai kamu bukan karena apa yang ada di dalam kepalamu melainkan karena apa yang ada di dalam hatimu. 9. Sadarilah bahwa setiap talentamu adalah anugerah, bukanlah sesuatu yang kamu ciptakan sendiri; jangan pernah merendahkan orang lain yang tidak sanggup melakukan apa yang kamu dapat lakukan. 10. Janganlah meremehkan kelemahan-kelemahan dirimu... merekalah yang membuat kamu tetap tergantung pada Tuhan. ============================================= From: Leonard Handjojo SPIDERMAN Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:23) Lagi-lagi film Spiderman (1) diputar di salah satu televisi swasta. Sebenarnya saya agak bosan melihatnya karena sudah menonton beberapa kali sebelumnya, namun apa boleh buat, toh tidak ada pilihan lagi karena di saluran televisi yang lain siarannya hanyalah sinetron dan sinetron. Kalau pun ada yang berbeda, itu siaran hiburan musik dangdut yang bukan selera saya. Maka jadilah malam kemarin saya menonton ulang film Spiderman. Biasanya, jika saya menonton sebuah film yang sama untuk kedua atau kesekian kalinya, maka saya mulai kurang memperhatikan jalan ceritanya karena sudah tahu endingnya. Oleh karena itu saya mulai memperhatikan hal-hal lain seputaran film yang saya tonton, misalnya latar belakang ceritanya, kostum pemainnya, animasi dan efeknya, dan lain-lain. Untuk kali ini saya coba memperhatikan dialognya sambil berharap akan ada sesuatu yang menarik. Ternyata saya beruntung, karena hari ini ada sepenggal dialog dari film Spiderman (1) yang menarik perhatian saya. Itu adalah ketika sang paman (Uncle Ben) memberi nasehat kepada Peter Parker sang tokoh Spiderman, bahwa seiring kekuatan yang besar datang pula tanggung jawab yang besar. Lho, ini kan seperti perkataan Yesus ketika memberikan perumpamaan tentang talenta. Yesus mengajar bahwa ketika kita bersedia dan setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka barulah kita diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar. Secara fantasi, seringkali kita berangan-angan menjadi seorang tokoh superhero. Enak kan? Bisa terbang seperti Superman. Bisa main melompat antar gedung seperti Batman. Merayap di dinding seperti Spiderman. Atau barangkali seperti film serial HEROES yang sesion pertamanya baru saja tamat (kapan ya session keduanya mulai diputar?). Dalam dunia keseharian pun kita juga berangan-angan, ingin jadi juara kelas, ingin jadi tokoh penyanyi band yang diidolakan masyarakat, artis sinetron terkenal, tokoh masyarakat, pemimpin perusahaan yang sukses, dan lain sebagainya. Pernahkah Anda membayangkan, kalau tiba-tiba Anda diberikan profesi tersebut? Apa? Anda benar-benar ingin mendapatkan jabatan dan profesi impian Anda sekarang juga? Saya sarankan agar Anda pikirkan baik-baik dahulu, apakah Anda sudah siap menjadi tokoh seperti itu? Memang sih, sepertinya asyik menjadi juara kelas yang dikagumi teman-teman lain, atau artis yang disanjung-sanjung, atau tokoh masyarakat yang dikagumi, pemimpin perusahaan yang dihormati. Tetapi jangan lupa pada tanggung jawab yang mengikuti jabatan tersebut. Segala tingkah laku Anda akan menjadi sorotan orang lain, artinya kalau sekali saja Anda melakukan perbuatan kurang baik, maka paling tidak Anda akan dipermalukan. Belum lagi sebagai pemimpin misalnya, jika ada anak buah yang melakukan kesalahan dan merugikan orang lain di luar perusahaan maka Anda sebagai pemimpin wajib memikul tanggung jawab mewakili perusahaan lho. Atau barangkali juga nasib puluhan karyawan, ratusan anggota keluarga karyawan juga termasuk yang harus Anda perhatikan ketika perusahaan yang Anda kelola ternyata bermasalah. Hei saya tidak bilang Anda tidak boleh atau melarang Anda mencapai cita-cita, tetapi pikirkan apakah Anda siap memikul tanggung jawab tersebut. Tentu saja akan ada hadiah, penghargaan dan hak untuk menikmati hal-hal yang baik jika Anda sudah dapat memenuhi tanggung jawab yang lebih besar. Beberapa tokoh dalam alkitab pernah jatuh ketika menerima tanggung jawab yang besar. Samson, menyalah-gunakan kekuatannya dan jatuh ke dalam pelukan pelacur bernama Delilah. Saul menyalah-gunakan kekuasaannya dan tidak mematuhi perintah Tuhan melalui nabinya. Yakub menipu bapaknya. Bahkan beberapa tokoh kecil seperti dalam perumpamaan 5 gadis bijak dan 5 gadis bodoh serta hamba dengan satu talenta. Mereka gagal menjalankan tanggung jawab baik yang kecil sampai yang besar. Oleh karena itu, lakukanlah tugas yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik meskipun hal itu kelihatan sepele. Menjadi pelajar tidak semuanya wajib menjadi juara kelas, tetapi belajar dengan sungguh-sungguh dan melewati ujian tanpa mencontek adalah bentuk tanggung jawab yang baik. Menjadi karyawan yang menyelesaikan tugas dari atasan, tidak terlambat datang ke kantor juga merupakan bentuk melaksanakan tanggung jawab yang baik. Apapun juga profesi Anda saat ini, lakukan saja dengan baik. Seiring dengan tanggung jawab yang dapat Anda lakukan dengan baik, akan datang tanggung jawab yang lebih besar dan percayalah ketika saat itu datang, maka Anda akan lebih siap menerima dan melaksanakannya. Oktober 27, 2007 Leonard Han ============================================== From: "Leonard Handjojo" <[EMAIL PROTECTED]> ANTRI by Pdt. Em. Andar Ismail Pernah ayah mengajak saya ke tempat kerjanya. Hari itu Sabtu, jadi kantor tutup setengah hari. Sebagai bocah tujuh tahun saya senang bermain di kompleks kantor itu. Gedung-gedungnya kuno. Diantara gedung yang satu dengan yang lain terdapat lapangan rumput yang luas dan pohon-pohon yang rindang. Ada beberapa menara besi tinggi yang disebut antena. Menara itu kokoh, batang-batang besinya jauh lebih tebal dari lengan saya. Karyawannya ratusan dan semuanya lelaki. Ketika itu Bandung masih berada di bawah pemerintahan Belanda. Pada papan nama kompleks itu tertera: Nederlands Indie Radio Omroep Maatschappij. Meskipun asyik bergelantungan pada batang-batang besi menara itu, lama-lama saya jemu juga. Untunglah akhirnya bel berbunyi di tiap gedung. Itu tanda saya akan pulang. Tetapi ternyata ayah dan para karyawan lain antri di depan sebuah loket. Ini hari gajian. Antrian itu panjang dan mulai melingkar seperti ular. Uh, lama sekali menunggunya. Ketika saya mendekati, ayah menghalau, "Owe jangan kesini. Main di lapangan sana!!" Tetapi saya sudah bosan. Saya ingin pulang. Saya lapar. Lalu saay duduk di bawah pohon menonton antrian itu. Ternyata ayah termasuk yang paling jangkung. Bahkan ayah lebih tingi daripada orang yang berkopiah. Ayah bisa melihat ke depan melewati kepala orang-orang yang berderet di depannya. Enak juga jadi orang jangkung. Lalu saya bertekad, "Nanti kalau sudah besar, saya juga jangkung. Lebih jangkung dari ayah, supaya bisa melihat ke depan kalau antri gaji!" Ketika menonton antrian itu saya heran. Mengapa ayah dan teman-temannya berdiri dengan tenang? Sungguh berbeda dengan kami di sekolah. Di sekolah kami antri sambil saling desak, saling dorong dan saling iseng. Pokoknya gaduh. Satu-satunya antrian dimana kami tidak gaduh adalah ketika di sekolah diadakan penyuntikan atau vaksinasi cacar. Nah, kami semua antri sambil berkeringat dingin ketakutan. Antri adalah bagian dari hidup kita. Di supermarket kita harus antri menunggu giliran untuk membayar. Di perempatan jalan kita menunggu giliran lampu hijau. Hidup adalah sebuah antrian panjang. Di mana-mana kita harus berderet. Untuk masuk harus antri, untuk keluar juga harus antri. Kadang-kadang antrian terasa menyiksa. Pernah saya antri untuk masuk ke gedung perpustakaan dalam suhu udara beku minus 15 derajat Celcius dan terpaan angin kencang yang disebut The Siberian Blow. Berbalut empat lapis baju tebal pun masih kedinginan. Apa yang kita rasakan dalam deretan panjang menunggu giliran? Jengkel. Kesal. Kok, lama betul? Kita jadi tidak sabaran. Nah, inilah faedah antri. Kita belajar menunggu giliran. Kita belajar sabar. Kesabaran tampak sepele. Tetapi sampai hari ini dunia luput dari malapetaka nuklir berkat kesabaran, yaitu kesabaran dua kepala negara adidaya yang sabar berunding ketika terjadi krisis perang dingin. Dalam skala kecil pun kesabaran diperlukan. Rumah tangga, perusahaan dan organisasi bisa selamat dari perpecahan jika ada kesabaran. Yang menang dalam tiap pertikaian bukanlah keperkasaan atau kekerasan, melainkan kesabaran. Tulis seorang pujangga, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan" (Ams. 16:32) Kesabaran juga turut menentukan ego atau warna kepribadian kita yang lengkap. Psiko-analisa membedaka nego yang lemah dan ego yang kuat. Ego yang lemah bersifat impulsif, kurang sabar dan kurang toleran terhadap frustasi. Ali dan Budi sedang antri di loket bioskop. Antrian itu panjang. Ali gelisah dan sebentar-sebentar melihat jam. Keluhnya, "Kok, lama sekali antrinya?!" Sebaliknya, Budi berdiri dengan tenang. Jawabnya, "Bukan cuma kita, semua orang juga antri." Ali berego lemah, sedangkan Budi berego kuat dan mempunyai kematangan emosional sehingga ia mampu bersabar dan mampu menanggung rasa frustasi. Darimanakah kita memperoleh kesabaran? Sumber kesabaran adalah Tuhan sendiri. Dia adalah "Tuhan penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia" (Mzm 86:15). Oleh sebab itu Tuhan mengaruniakan kesabaran. Kesabaran adalah karunia Roh Kudus (lih. Gal 5:22). Tetapi kesabaran bukan turun dari langit. Secara aktif kita harus berusaha dan belajar untuk menjadi sabar. Kesabaran perlu pula kita "kejar" (lih I Tim 6:11). Sejak masa kecil seorang anak perlu belajar mampu menahan frustasi. Jika sejak kecil semua keinginan anak dikabulkan maka ia tidak bisa menjadi orang dewasa yang matang dan sabar. Ketika sudah dewasa ia akan meneruskan kebiasaan memaksakan keinginan, termasuk keinginan dalam doa kepada Tuhan. Ia menjadi orang yang berpola hidup "aku mau apa yang aku mau kapan aku mau!" Belajar menjadi sabar tidak bisa terjadi dalam sehari. Seumur hidup kita masih terus belajar sabar. Mau antri dan bisa antri adalah sala hsatu cara belajar sabar. Mungkin oleh sebab itu saya masih ingat melihat ayah antri gaji. Ia berdereet di bawah terik matahari sambil menaungi kepala dengan kertas koran. Ayah jangkung sehingga bisa melihat ke loket. Pada saat itu saya bertekad mau lebih jangkung dari ayah supaya saya bisa antri gaji sambil melihat ke loket. Apakah tekad tersebut terlaksana? Tidak! Sama sekali tidak terlaksana. Pertama, ternayta tinggi saya cuma 168cm, berarti kalah 7cm dari ayah. Kedua, ternyata selama 40 tahun menjadi pendeta, saya tidak pernah antri gaji. Itulah enaknya jadi pendeta. Gaji diantar ke rumah oleh penatua. Padahal saya mau juga mengalami apa rasanya antri gaji.

