From: rm_maryo "RumahKu adalah rumah doa" (1Mak 4:36-37.52-59; Luk 19:45-48)
"Lalu Yesus masuk ke Bait Tuhan dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Tuhan. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia" (Luk 19:45-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Dampak opsi gerakan pembangunan selama Orde Baru yang menekankan pembangunan ekonomi daripada pendidikan manusia telah membentuk mental materialistis banyak orang di Indonesia, bahkan hemat saya mental materialistis ini juga telah merasuki hidup beriman atau beragama, termasuk dalam lingkungan Gereja Katolik. Terjadi komersialisasi tempat ibadat maupun ibadat itu sendiri, misalnya: Novena atau Perayaan Ekaristi diselenggarakan dengan motivasi pengumpulan dana, gedung gereja menjadi tempat `show' atau pameran aneka seni seperti `vocal group' atau `konser', dst.. Secara pribadi pun juga terjadi antara lain berdoa atau minta ujud Misa agar semakin kaya atau naik pangkat/jabatan. "Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun", demikian tegoran keras dari Yesus kepada para pedagang yang berjualan di Bait Tuhan. Menanggapi tegoran Yesus ini marilah kita mawas diri: sejauh mana kita setia pada makna dan pemfungsian tempat ibadat, ibadat, jabatan, kedudukan maupun tugas perutusan? Apakah saya mengkomersielkan semuanya itu demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri? Aneka harta benda maupun jabatan atau kedudukan yang diperoleh atas nama Gereja marilah kita manfaatkan atau fungsikan antara lain untuk meningkatkan dan memperdalam `ibadat ilahi'. Secara umum marilah kita taati `intentio dantis' (maksud pemberi), sebagaimana diarahkan oleh Gereja. Uang atau harta benda yang diperoleh atas nama sekolah hendaknya difungsikan dan dimanfaatkan untuk memajukan dan mengembangkan sekolah, uang atau harta benda yang diperoleh atas nama rumah sakit hendaknya difungsikan dan dimanfaatkan untuk memajukan dan mengembangkan pelayanan kesehatan dst. Mereka yang memiliki jabatan atau kedudukan entah di dalam masyarakat atau Gereja hendaknya tidak mengkomersielkan jabatan dan kedudukan untuk memperkaya diri sendiri, mencari keuntungan dan keenakan sendiri, melainkan untuk pelayanan. Jauhkan aneka macam bentuk korupsi atau rekomendasi yang bersifat materialistis. . "Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Tuhan dan mentahbiskannya kembali."(1Mak 4:36), demikian kata Yudas serta saudara-saudaranya kepada umat Tuhan. "Mentahbiskan" berarti menyisihkan atau mempersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Bait Tuhan (gedung gereja, kapel, tempat ibadat) sesuai dengan namanya hendaknya difungsikan agar siapapun yang berada dalam atau memasuki `bait Tuhan' semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan; segala sesuatu yang merelativir atau mengkomersielkan `bait Tuhan' hendaknya diberantas . Jika ada aneka peralatan atau sarana-prasarana ibadat tidak mendukung untuk beribadat hendaknya `diperbaharui'. Hendaknya sikap sembah-sujud kepada Tuhan menjadi kebiasaan kita setiap kali memasuki atau berada di dalam `bait Tuhan', maka kepada anak-anak sedini mungkin hendaknya dibina dan dilatih dalam hal sembah-sujud di `bait Alah' ini. "Tempat-tempat suci ialah tempat yang dikhususkan untuk ibadat ilahi atau pemakaman kaum beriman yang dipersembahkan dan diberkati sesuai dengan buku-buku liturgi yang ditetapkan" (KHK kan 1205). "Dalam tempat suci hanya dapat diizinkan hal-hal yang berguna bagi pelaksanaan atau peningkatan ibadat, kesalehan dan keagamaan, serta dilarang segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu. Namun Ordinaris dapat sesekali memberi izin untuk penggunaan lain, asalkan tidak bertentangan dengan kesucian tempat itu" (KHK kan 1210). Mencermati dua kutipan dari Kitab Hukum Kanonik di atas ini, jika ada umat atau kelompok tertentu ingin menyelenggarakan sesuatu yang bertentangan dengan ibadat, kesalehan dan keagamaan perlu minta izin dari Ordinaris atau Uskup setempat; dengan kata lain hendaknya para pastor atau yang berwenang dalam hal tempat-tempat suci tidak seenaknya memberi izin aneka kegiatan yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu. "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.2 Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya " (1Taw 29:11-12) Jakarta, 23 November 2007 ============================================= From: DPK PDS KOREA Let us pray for this big problem!!! Dear all, on Wednesday, November 21 at 8 pm the house of Rev.Bedali Hulu in Tangerang at the province of Banten near the capital city of Jakarta, Indonesia was attacked by a mob of about 100 people . The house is completely destroyed by the mob and Rev.Bedali Hulu, who is a Pastor of the Jakarta Christian Baptist Church has to take refugee to friends with his family . I have talked with Rev.Bedali Hulu who is a native of Nias island from the Western part of Indonesia .On my phone call this evening Rev.Bedali Hulu asked me to pray for him, his family and his Church . Until now there were already 1100 churches in Indonesia burnt down or destroyed that is why somebody has called our country a World Champion in church burning . Indonesia has a population of about 240 million people and the break down according to religious affiliation are like follows : Muslims 88.2 % the country has the biggest Muslim population in the world Protetants 5.9 % Catholics : 3.1 % Hindhu : 0.8 % Buddhists : 0.2 % Others : 0.2 % I will give you his mobile phone number and house address at the bottom of this letter . Let us pray for Rev.Bedali Hulu, his family and his Church . It is now almost every week we find people attacking churches or pastors in this country. As I have reported earlier there are more than 70 churches have been ransacked or attacked by angry mobs during the last 12 months in the provinces of West Jawa, Bengkulu/Sumatera, Middle Jawa etc . We appeal to International Community to give stern advice to Indonesian government to protect our pastors and churches . Now I want to write in Indonesian language Tadi sore seorang kawan dari Surabaya mengirim SMS kepada saya dengan pertanyaan apakah saya juga melihat siaran televisi swasta Trans TV yang menyiarkan tentang serangan terhadap rumah seorang Pendeta di Tangerang . Langsung saya mengecek berita itu dari kawan-kawan dan akhirnya mendapat dari seorang kawan alamat lengkap dari rumah Pendeta yang diserang di Tangerang . dibawah ini saya akan memberikan alamat rumah Pendeta yang diserang itu . Setelah tanya sana-sini akhirnya saya memperoleh nama dan nomor HP Bapak Pdt.Bedali Hulu yang berasal dari Gereja Kristen Baptist Jakarta (GKBJ) . Bapak Pdt sendiri adalah asli dari Pulau Nias tapi sudah lama menetap di Jakarta dan Tangerang . Sekitar jam 10 malam tadi saya sempat berbicara dengan Bapak Pendeta Bedali Hulu . Beliau mengatakan bahwa rumahnya diserang massa pada hari Rabu tanggal 21 November jam 8 malam . Pada saat ini beliau terpaksa mengungsi kerumah teman bersama keluarganya . Kita semua sangat sedih atas kejadian ini dan mendesak pemerintah untuk bertindak tegas terhadap para perusuh yang selalu main hakim sendiri dan menyerang gereja atau rumah pendeta dinegara Pancasila ini . Marilah kita doakan Pendeta Bedali Hulu dan keluarganya untuk selalu tabah menerima cobaan ini . Alamat rumah Pendeta yang diserang ialah : (the house of Rev.Bedali Hulul : Kompleks Permata Jaya, Blok B 33, No. 30, RT 09/RW06, Desa Pisangan Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten HP or mobile phone Pdt.Bedali Hulu 0813 1690 6180 beliau bersedia menerima telpon anda . The mobile phone of Rev.Bedali Hulu +62 813 1690 6180 and he is please to talk with you God bless you all Tuhan memberkati Anda sekalian Thank you very much for your kind attention Teima kasih banyak untuk perhatian dankerja samanya yang baik sekali Theophilus Bela President of Jakarta christian Communication forum Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) Secretary General of Indonesian Committee on Religions for Peace Ambassador for Peace FKKJ Graha Bethel Lt. 2 Jln Ahmad Yani Kav. 65 Jakarta Pusat 10510 Telp. 021-4265723 Fax 021-4265903 HP/mobile phone 0816-180 6644 or +62 816 180 6644 The Prosperous Peaceful Party in Korea will carry this problem in the praying mountain, and we will fast till the problem is cleared. PARTAI DAMAI SEJAHTERA DI KOREA akan membawakan masalah ini di Bukit Doa dan kami akan berpuasa sampai persoalan ini diselesaikan. Ir. H.L. Njoo Ketua Dewan Pimpinan Komisariat PARTAI DAMAI SEJAHTERA Di Republik Korea Telepon + 821086973897 We can communicate in the following languages: German, English, Korean, Indonesian 1.Kitab Keluaran 18 : 21 2.Kitab Keluaran 23 : 8 3.Kitab Ulangan 16 : 19 4.Kitab Ulangan 27 : 25 5.Mazmur = Psalm = Psalms 100 : 1-5, 6.Mazmur = Psalm = Psalms 34 : 7 - 9 7.Mazmur = Psalm = Psalms 103 : 1 - 22 8.Amsal = Sprueche = Proverbs 15 : 29 1 Korintus 1:10 aku menasihatkan kamu, saudara saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. 1 Corinthians 1 : 10 Now I plead with you, brethren, by the name of our Lord Jesus Christ, that you all speak the same thing, and that there be no divisions among you, but that you be perfectly joined together in the same mind and in the same judgment Ingat SEMBOYAN ini, Kitab Keluaran 18:21, Keluaran 23:8, Ulangan 16:19, Ulangan 27:25, Mazmur 100: 1 - 5 dan 1 Korintus 1:10 =============================================== From: rm_maryo Xt Raja HR Kristus Raja 07: 2Sam 5:1-3; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43 "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.?" "Tahun lalu saya (Tony Watkins) memperoleh kesempatan untuk olah raga'arung jeram' di sungai Motu dua kali. Sungai Motu merupakan sungai yang ganas di North Land; perjalanan dari hulu ke hilir membutuhkan waktu empat hari lamanya. ..Perjalanan kedua dipimpin oleh seorang bernama "Kiwi", berpengalaman dan orangnya lembut dalam tutur kata. Kami merasa suaranya (perintahnya) tak akan dapat mengalahkan suara gaduh riam-riam sungai Motu. Apa mungkin dia memimpin kami?Kita diminta mulai mendayung, riam pertama sudah di depan mata dan ia tidak mengeluarkan suara apa-apa. Ia tidak memberi komando kepada kami maupun kepada sungai. Dengan ramah dan tenang ia nampak merasakan suasana `hati' sungai dan menikmati setiap pusaran ait. Tidak ada `drama' dan teriakan. Tidak ada pertandingan untuk dimenang kan. Ia mencintai sungai. Kita melintasi setiap riam dengan damai dan keindahan, dan setelah satu hari sungai menjadi sahabat kami, bukan `musuh yang harus dikalahkan'. Kiwi yang tenang bukan pemimpin kami, tetapi hanya seorang pribadi yang peka terhadap apa yang terjadi, dan terungkap dalam tawaria menggantikan ketegangan untuk berprestasi. Kiwi yang lembut mempercayai dan membiarkan kami semua masing-masing `berbalik' menjadi pemimpin. Satu angguknan lembut dari Kiwi cukup bagi kami untuk menghadapi apa yang ada di depan. Jika kita membuat kesalahan, ia menertawakannya.Kita mulai `menembus' sungai Motu. Sekarang, seperti Kiwi yang lembut, kami juga mendengarkan sungai dan melihat dengan hati-hati yang terjadi: semua yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada akhir perjalanan kita tidak mengatasi apa-apa, kecuali diri kita sendiri. Kita tidak meninggalkan sungai sahabat kita. Tidak ada pertandingan, tidak ada sesuatu yang harus dimenangkan. Lebih dari itu kami sungguh menjadi satu dengan sungai. Dalam perjalanan kedua, baik selama perjalanan maupun pada akhirnya, kami sungguh berada dalam damai dan keindahan; dan yang tak kalah penting kami menjadi satu dengan sungai serta mencintainya". (P.Whitaker:Managing change in schools) " Dalam masyarakat kita yang dalam kenyataannya sering terlupakan, banyak orang entah terpaksa atau tidak harus menduduĀki posisi sebagai pemimpin sebuah kelompok. Mereka yang menjadi orangtua adalah pemimpin bagi anak-anak mereka. Guru pun, adalah seorang pemimpin bagi murid-murid mereka. Tiap orang adalah seorang pemimpin ketika ia dipilih untuk mengepalai sebuah komite atau sebuah satuan tugas, ketika dipilih sebagai ketua organisasi kemasyarakatan, demikian pula bila ia seorang pembina pramuka atau pembina suatu acara perkemahan " (Dr. Thomas Gordon, Menjadi Pemimpin Efektif, PT Gramedia, Jakarta 1995, hal. 2). "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43) Dari dua contoh kutipan di atas kiranya kita dapat memahami bahwa Yesus adalah "Raja Semesta Alam". "Kiwi" sebagai pemimpin sangat mengasihi mereka yang ia pimpin maupun sungai atau alam yang harus mereka arungi atau lalui, sehingga yang dipimpin pun saling mengasihi serta mengasihi dan menikmati sungai /alam. Begitulah kiranya `Kiwi' boleh dikatakan meneladan Yesus, Raja Semesta Alam, yang dipuncak penderitaanNya, di kayu salib menunjukkan kasih pengampunanNya kepada penjahat yang bertobat, dan ketika Ia wafat di kayu salib, alampun ikut berduka alias simpati kepadaNya, "hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua" (Luk 23:44-45) Yesus , Raja Semesta Alam, tidak duduk di kursi empuk, ruang ber-AC dst..melainkan berada di ketinggian di alam terbuka, tergantung di kayu salib. Dalam ketinggian bumi tersebut Ia menyerahkan Diri sepenuhnya kepada dunia dan Bapa yang mengutusNya, dan dengan demikian Ia menjadi pengantara `dunia' dan `sorga', umat manusia dan Tuhan; Ia menyalurkan rahmat kehidupan Tuhan kepada dunia dan umat manusia serta doa, keluh kesah, harapan dan dambaan dunia dan umat manusia kepada Tuhan. Dalam rangka mengenangkan pesta "Yesus Kristus, Raja Semesta Alam" hari ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa kita yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk menjadi `penyalur': penyalur rahmat Tuhan kepada dunia dan sesama maupun dambaan, harapan sesama kepada Tuhan. Sebagai `penyalur' kita harus jujur, disiplin, setia, tidak mengeluh dan menggerutu meskipun untuk itu harus menderita. Penyalur yang baik tidak pernah korupsi atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya sedikitpun (Jawa: `ora nguntet'). Maka marilah dalam tugas perutusan, pekerjaan atau kesibukan apapun kita senantiasa siap sedia untuk menjadi penyalur rahmat dan berkat Tuhan, penyalur kebaikan dan kasih pengampunan kepada sesama kita di manapun dan kapanpun juga. "Karena seluruh kepenuhan Tuhan berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" (Kol 1:19-20) Menjadi raja atau pemimpin hendaknya menjadi pendamai atas segala sesuatu, sebagaimana dihayati oleh Sang Raja Yesus Kristus, yang "memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya dan mengadakan perdamaian oleh darahNya di kayu salib". "Serikat mau menawarkan jasanya dalam mendamaikan orang yang berselisih" (Formula Institut SJ no 1), demikian salah satu misi para pengikut St.Ignatius Loyola, pada sahabat Yesus. Menjadi sahabat Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, salah satu tugas perutusannya adalah `mendamaikan orang yang berselisih'. Kalau kita cermati rasanya dalam kehidupan bersama kita sering terjadi perselisihan, entah besar atau kecil, yang menimbulkan perpecahan atau permusuhan. Salah satu cara hidup pendamai rasanya sesuai dengan apa yang dinasehatkan oleh St.Ignatius Loyola ini : "Setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkannya. Jika tak dapat dimengerti, yang menyatakan hendaklah ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah, hendaklah dibetulkan dengan cintakasih; dan jika itu belum cukup hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya sampai pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan" (LR no 22), atau "Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan". Dengan kata lain kita dipanggil untuk lebih melihat kebaikan-kebaikan daripada kejahatan-kejahatan dalam diri sesama kita maupun ciptaan lainnya. Kami yakin bahwa jika sesama kita masih dengan bebas ke sana- kemari hemat saya mereka adalah orang-orang baik, maka lihatlah, akuilah, hayatilah dan imanilah kebaikan-kebaikannya, dan kemudian kita mensinerjikan kebaikan-kebaikan yang ada untuk menunjang dan menjiwai hidup bersama, sehingga hidup bersama senantiasa dalam damai sejahtera, rukun penuh persaudaraan atau persahabatan sejati, sebagai tanda bahwa Yesus Kristus sungguh merajai kita atau kebersamaan kita. Cara lain untuk menggalang dan memperdalam persahabatan atau persaudaraan sejati atau mendamaikan yang berselisih antara lain ramai-ramai menghayati apa yang sama di antara kita secara penuh dan mendalam, sehingga apa yang berbeda akan fungsional untuk persaudaraan, persahabatan atau perdamaian. Yang sama di antara kita antara lain: sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan hidup damai, bahagia dan sejahtera, dst.. "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." (Mzm 122:1) Jakarta, 25 November 2007

