From: Awam k Kehidupan Yesus menurut keempat Injil.
Dear all,
Sabtu 27-10-2007 di Bandung aku membeli buku "Kehidupan Yesus Dalam
Ilustrasi" yang merupakan terjemahan dari buku karya David John Meyers dengan
judul: "The Illustrated Life of Jesus" . Buku ini menurut saya sangat bagus
terutama untuk kaum awam, rugi lho kalo tidak memilikinya. Hanya sayang .. buku
ini tidak memiliki keterangan mengenai penulisnya (David John Meyers), sehingga
mungkin membuat kita ragu-ragu untuk membelinya, karena dikebanyakkan toko,
buku ini dibungkus plastik sehingga kita tidak bisa melihat isinya, apakah
alkitabiah atau hanya buku semacam karangan James Tabor.
Tetapi setelah aku melihat isi buku ini, aku jamin ini bukan buku liberal,
tetapi buku yang sangat baik yang menggambarkan kehidupan dan ajaran Tuhan kita
Yesus Kristus yang diracik dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sebuah
buku dokumenter yang mempresentasikan kehidupan Yesus secara ilustratif
bersumberkan empat Injil.
Dalam buku ini karya penyelamatan manusia oleh Yesus Kristus disusun secara
kronologis, harmonis dan utuh, serta dilengkapi dengan karya seni renaissance
dan lukisan-lukisan dari abad ke sembilanbelas.
Kombinasi dari lukisan-lukisan berwarna, patung pahatan yang artistik, dan
kata-kata dari Yesus beserta murid-muridNya, mengha silkan suatu buku
dokumenter yang unik, agung, dan inspiratif dari kehidupan Yesus.
Berbagai episode dominan dicakup di sini, yang menuturkan cerita-cerita utuh
sehingga memungkinkan pembandingan berbagai versi berlainan pada setiap
halaman! buku, seperti: penuturan Matius dan Lukas tentang silsilah, pengisahan
Yohanes dan Matius tentang kematianNya di kayu salib, penceritaan Lukas serta
Matius tentang kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga.
Selain itu di setiap episode, mulai dari kelahiranNya, kehidupanNya,
ajaranNya, sampai ke pengkhianatan Yudas Iskariot terhadapNya, direkam secara
rinci kata per kata, kalimat per kalimat sesuai dengan kemunculannya di dalam
Perjanjian Baru dari Alkitab.
Oh ya buku ini dijual dengan harga Rp. 450 ribu. Bahasa: Indonesia,
Softcover, 303 halaman, ukuran 22 x 28 cm, berat 1,68 kg. Harga disesuaikan
dengan kertas halamannya yang lux untuk menampung foto-foto karya seni tinggi
renaissance dan lukisan-lukisan dari abad ke sembilanbelas.
Kalo anda member di sebuah toko buku kristen, tanyakanlah apakah buku ini ada
program discountnya. Aku sendiri mendapatkan buku ini dengan harga discount
sebesar 10%. Lumayankan sisanya dapat beli seri buku Yabina-nya pak Herlianto
(da! pat 3 atau 4 buku)
Informasi pengarang buku ini:
David John Meyers adalah pastor/gembala di The Trinity Evangelical Lutheran
Church and School, Bogota, New Jersey.
Salam hangat,
Awam.
=========================================
From: abdi christ
Dunia Kerja, Dunia tanpa Tuhan?
Dunia kerja menurut saya adalah 'Dunia Tanpa Tuhan'. Karena sangat sulit bila
kita dibesarkan dalam sekolah minggu sejak kecil, kemudian terjun dalam dunia
kerja yang keras. Namun dalam iman yang diterangi semangat Reformasi, Luther
mengatakan bahwa Dunia ini adalah biara kita.
Saya bekerja di sebuah perusahaan, dengan deskripsi pekerjaan yang mewajibkan
saya mencapai target setiap hari. Saya bekerja di lapangan, bertemu dengan
berbagai macam orang, berbagai macam sifat. Yang saya temui seringkali adalah
situasi yang sama seperti yang pernah diajarkan di bangku kuliah dulu, dalam
mata kuliah 'Etika Kristen' (karena saya berkuliah di univ. Kristen).
Terlalu banyak hal yang sulit dijembatani antara teori dan dunia nyata.
Kehidupan gereja, seringkali bagi saya seperti kehidupan yang dualistis. Sacred
dan Secular. Lucunya, sekalipun saya berada di tempat yang berpengajaran
reformed pun, saya jarang melihat pribadi yang utuh dalam memandang kenyataan
hidup.
Maka dari itu, terus terang saya marah dalam hati. Marah karena, secara tidak
langsung budaya dalam kehidupan 'gereja' mengajar jemaat untuk memakai topeng.
Sementara, pengajaran yang saya rindukan adalah pengajaran yang dengan jelas
mampu memberikan penyelesaian atas pertanyaan: "Mengapa di dalam dunia tempat
kita hidup, seperti segala sistem yang ada seolah2 dirancang untuk mencobai
kita tanpa ampun." Dan menurut saya, satu2nya teolog yang paling jujur
memaparkan dahsyatnya kuasa dosa dan pencobaan yang beringas, adalah Martin
Luther.
"We Are Justified, and at the same time still a Sinners"
Dimana kuasa salib dalam kehidupan nyata? Kalau tempat ibadah hanya menjadi
suatu simbol hari Sabat, yang dirayakan hanya satu kali seminggu. Apakah Kuasa
Salib hanya berlaku di hari Minggu? Apakah orang Kristen dipasung untuk hanya
menjadi Kristen di hari Minggu?
Yang saya alami dalam dunia kerja, adalah saya orang berdosa. Yang setiap hari
dihadapkan pada keputusan yang bersifat etika. Konflik psikologis
approach-avoidance terjadi, dan saya harus mengambil keputusan setiap waktu.
Kadang2 saya benci diri saya: mengapa saya harus terus-menerus hidup dalam
daging yang sangat saya benci ini, tetapi seperti berada dibawah kuasanya.
Dunia kerja, seperti sebuah dunia yang sudah di-setting untuk me-reinforce
manusia untuk mengulangi dosa2 yang sama seperti yang dilakukan semua orang,
tidak terkecuali orang Kristen. Membuat sebuah komunitas untuk menghindari
hingar-bingar dosa yang ganas adalah pekerjaan kaum pietis yang beranggapan
bahwa biara adalah tempat tersuci.
Saya tidak menyerukan agar orang tidak beribadah khusus atau berkumpul, saya
hanya mempertanyakan di mana Martin Luther hari ini?
The true reformed is reformed from the heart. Anugrah dan dosa adalah dua hal
yang kontra, tetapi dosa seperti merajalela dan iman kita dibiarkan digempur
setiap saat. Tetapi pekerjaan Tuhan benar2 aneh, karena di dalam pencobaanlah
iman kita diajar untuk memahami Anugerah.
Ketika saya menyadari bahwa saya sebenarnya berhadapan dengan dosa yang
mengungkung, saya mengerti bahwa Anugrah Tuhan yang telah menyelamatkan saya,
pastilah Anugrah yang luar biasa berkuasa di atas dosa!
Selamat bergumul!
==================================================
From: Antonius Steven Un
Sinar Harapan, Selasa, 30 Oktober 2007
KUYPER DAN SAKRALISASI PEMERINTAHAN
Antonius Steven Un
Hari Senin, 29 Oktober ini, merupakan peringatan 170 tahun lahirnya politikus,
jurnalis, pendidik, teolog, filsuf Belanda, Abraham Kuyper (1837-1920). Nama
ini mungkin terasa asing di kuping pembaca tetapi jika menyebut Vrije
Universiteit Amsterdam, maka publik Indonesia tentu lebih familiar. Universitas
yang memberi gelar Doctor Honoris Causa kepada tokoh hukum dan HAM almarhum Yap
Thiam Hien (1980) dan gelar Doctor of Philosophy kepada Ekonom Hendrawan
Supratikno (1998), didirikan oleh Kuyper.
Signifikansi eksistensi dan peran Kuyper di negeri kincir
angin, tidak terbatas hanya dalam politik dan pendidikan melainkan amat
kompleks dan komprehensif. Selain mendirikan Vrije Universiteit, Kuyper juga
pernah menjadi Perdana Menteri Belanda periode 1901-1905. Ia juga pernah
menjadi editor kepala koran harian De Standaard dan editor koran mingguan De
Heraut selama lebih dari 45 tahun. Peran nyatanya telah menjadi berkah bagi
masyarakat di tempat ia berada. Mengenang Kuyper, penulis memperkenalkan
pemikiran politiknya, khususnya dalam memandang eksistensi dan peran
pemerintahan.
Kuyper memandang eksistensi pemerintahan sebagai order of
preservation, bentuk pemeliharaan Tuhan akibat manusia sudah jatuh dalam dosa.
Baginya, tanpa negara, hukum dan pemerintahan serta otoritas yang berkuasa maka
akan terjadi neraka di bumi. Hal ini diakibatkan, realitas kejahatan dalam
natur berdosa manusia, menjadikan manusia berbuat apa yang benar menurut
pandangannya sendiri sehingga menghasilkan kondisi amat mengerikan, sebagaimana
digambarkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), Homo Homini Lupus (Manusia adalah
serigala bagi sesamanya).
Realitas kejahatan dalam kehidupan manusia, mengakibatkan, filsuf Niccolo
Machiavelli (1469-1527) misalnya, mengambil jalan ekstrim dengan menempatkan
penguasa tirani bagai binatang buas yang menghalalkan segala cara melawan
anarkisme. Meskipun tidak seekstrim Machiavelli, Kuyper juga memandang
institusi pemerintahan sebagai mutlak dibutuhkan dan bahkan kita harus
bersyukur untuk kehadirannya. Ia memandang pemerintahan sebagai "an instrument
of 'common grace' to thwart all license and outrage and to shield the good
against the evil" (1898).
Sakralisasi
Kuyper menyebut institusi pemerintahan sebagai "hamba-Nya" untuk melindungi
manusia dari kehancuran total. Itu sebabnya, warga negara harus mentaati
pemerintahan bukan karena ketakutan kepada hukuman tetapi karena kesadaran
nurani. Hal ini tidak berarti Kuyper menyetujui system pemerintahan tirani
seperti Machiavelli, tetapi ia sendiri mendorong warga negara untuk menjalankan
fungsi pengawasan justru karena menyadari bahwa pejabat pemerintahan juga
adalah manusia berdosa yang tidak luput dari ambisi despotisme.
Pemahaman ini setidaknya menghasilkan dua implikasi. Pertama, dengan menyebut
pemerintah sebagai "hamba-Nya" berarti Kuyper melakukan sakralisasi.
Sakralisasi ini tidak boleh dibaca sebagai dasar legitimasi pemerintah
melakukan eksploitasi terhadap rakyat. Sebaliknya, sakralisasi harus didorong
berperan positif dalam dua sisi. Pada satu sisi mengingatkan pejabat pemerintah
agar tidak mempelacurkan jabatan itu secara reduktif, semata-mata untuk profit
finansial. Pejabat pemerintah perlu senantiasa menyadari bahwa jabatan tersebut
adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan saja kepada konstituen
tetapi kepada Tuhan, sumber segala berkah. Pemerintah adalah hamba Tuhan bagi
kebaikan masyarakat bukan menjadikan masyarakat hamba bagi kebaikan dan
keuntungan sendiri. Karena pemerintah adalah hamba maka ia harus mendedikasikan
hidupnya bagi kemaslahatan rakyat dengan mementingkan tanggung jawab bukan
fasilitas dan tunjangan. Sementara pada sisi lain, sakralisasi juga harus
dibaca sebagai what ought yang menjadi kriteria bagi masyarakat untuk mengawasi
dan mendorong pemerintah menjalankan karakter kudusnya.
Kedua, realitas permasalahan kekinian, pasca reformasi 1998, pemerintah seperti
kehilangan kekuatan untuk mengendalikan gejala-gejala kepentingan dan kekuasaan
lokal yang tidak bisa dipungkiri, kerap menggunakan kekerasan secara tidak
terukur. Contoh kasus cukup banyak: Ambon, Poso, Alas Tlogo dan sebagainya.
Kuyper jelas menolak pemerintahan tirani, tetapi tidak berarti ia setuju dengan
masyarakat anarkis. Artinya, pemerintah harus dikerangka dan dibingkai oleh
publik agar menggunakan kekuasaannya secara terukur tetapi sebaliknya,
pemerintah juga harus berperan efektif-efisien dalam membingkai penggunaan
kekuasaan dan kekerasan di masyarakat secara terukur sehingga menghasilkan
masyarakat yang equilibrium.
Menyandang Tiga Pedang
Dalam menggambarkan peran pemerintahan sebagai hamba Tuhan, Kuyper menggunakan
analogi "penguasa menyandang pedang". Pemerintah dituntut menjalankan tiga
"pedang" yakni sword of justice, sword of war dan sword of order (Lectures on
Calvinism, 1931, h. 93). Pedang pertama berfungsi untuk menjatuhkan hukuman
terhadap pelaku kejahatan/ kriminalisme. Pedang kedua berfungsi untuk membela
kehormatan dan hak serta kepentingan Negara terhadap musuh-musuhnya. Pedang
ketiga untuk menghalau pemberontakan. Ketiga pedang ini dibingkai dalam
kewajiban-kewajiban tertinggi pemerintah yakni untuk mengusahakan keadilan dan
integrasi bangsa.
Hal ini membawa kepada sejumlah langkah praktis. Pertama, perlunya kembali
kepada prinsip ruled by law sehingga law enforcement harus terus menerus
diupayakan guna mencapai keadilan secara substantif, bukan keadilan prosedural
administratif semata. Kasus tertangkapnya Irawady Joenoes amat menyayat hati
karena setidaknya menjadi indikasi bahwa law enforcement di negara kita
bernilai rapor merah. Jika anggota komisi yang mengawasi lembaga peradilan saja
melakukan tindak pidana suap bagaimana dengan lembaga yang diawasinya. Apa
perlu mendirikan lagi komisi untuk mengawasi komisi yang mengawasi lembaga
peradilan.
Kedua, keadilan dan integrasi sebagai visi menuntut pemerintah untuk melakukan
perlindungan maksimum terhadap minoritas. Eksistensi minoritas tidak boleh
diparadigma sebagai beban dan penyakit yang harus disingkirkan melainkan
sebagai batu ujian bagi pemerintah dalam menjalankan hukum dan keadilan. Jika
pemerintah sanggup melindungi minoritas maka otomatis mayoritas akan dilindungi
karena pada dasarnya pemerintah lebih mudah mengakomodir mayoritas ketimbang
minoritas. Minoritas yang mengalami keadilan substantif akan membangun kekuatan
legitimasi pemerintah dalam mengupayakan integrasi bangsa.
Ketiga, keadilan dan integrasi harus diparadigma sebagai satu kesatuan. Tanpa
keadilan tidak mungkin integrasi berjalan mulus. Integrasi adalah buah dari
keadilan substantif yang dialami. Jika kebijakan pemerintah dirasakan tidak
adil maka keinginan untuk disintegrasi akan semakin besar. Hal ini berarti
promosi terbaik dari integrasi adalah keadilan yang bukan berhenti pada level
wacana dan perundangan strategis pada konstitusi tetapi benar-benar terekspresi
dalam perundangan teknis. Sebagai contoh, konstitusi mengamanatkan anggaran
pendidikan dua puluh persen tetapi ternyata belum dapat diwujudkan hingga ke
tataran praktis.
Antonius Steven Un, Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society. <<image/jpeg>>

