From: Irnawan Silitonga 

PENOLONG IDEAL 

"Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya ?
Ia lebih berharga daripada permata..." [ Amsal 31:10-31 ]

Isteri yang cakap, jika diterjemahkan dari bahasa aslinya secara literal 
berarti noble character. Jadi cakap disini sama sekali tidak berkaitan dengan 
tubuh atau fisik seseorang, melainkan dengan karakter. Noble berarti mulia, 
luhur, dan baik. Sedangkan karakter adalah kualitas dari sesuatu yang telah 
melalui ujian.
Kalau seseorang berbuat baik, ia belum dapat disebut memiliki karakter baik, 
sebab boleh jadi ia hanya berbuat baik kalau sedang senang perasaannya atau 
sedang tidak ada masalah, dsb. Tetapi apabila seseorang telah diuji dengan 
bermacam-macam ujian, dan ternyata selalu berbuat baik, maka dapatlah ia 
disebut memiliki karakter baik. Jadi karakter adalah kualitas dari seseorang 
yang telah mengalami berbagai macam ujian.

Jadi, makna dari isteri yang cakap adalah isteri yang telah mengalami berbagai 
macam ujian, dan ternyata selalu berbuat hal-hal yang luhur, mulia dan baik.
Karena isteri berfungsi sebagai penolong, maka dalam tulisan ini, isteri yang 
memiliki karakter mulia, luhur dan baik, diistilahkan sebagai penolong ideal.
Penolong ideal adalah seorang isteri yang selalu atau sepanjang hidupnya, 
berbuat hal=hal yang mulia, luhur dan baik.

Sebelumnya, perlu dibedakan antara penolong ideal dan penolong yang sepadan. 
Hawa adalah penolong yang sepadan bagi Adam, tetapi ini tidak berarti Hawa 
selalu dan sepanjang hidupnya berbuat hal-hal yang luhur bagi suaminya. Pada 
kenyataannya, Hawa tergoda dan jatuh kedalam dosa. Banyak suami yang melayani 
Tuhan, saat ini, mendapatkan penolong yang sepadan baginya. Ini bukan berarti 
bahwa isterinya selalu berbuat hal-hal yang luhur seumur hidupnya, atau bukan 
berarti isterinya tidak memiliki kekurangan-kekurangan. Sepadan disini berarti 
cocok, sesuai / tepat, dalam arti, kekurangan-kekurangan dan 
kelebihan-kelebihannya sangat cocok untuk dipakai Tuhan bagi pembentukan 
karakter suami, agar sang suami ditolong dalam menyelesaikan tugasnya. Mendapat 
penolong yang sepadan, mungkin mudah. Tetapi, penolong ideal, siapakah akan 
mendapatkannya, seperti bunyi ayat kita diatas.

Pernyataan, "Siapakah akan mendapatkannya ?" 
menunjukkan bahwa tidak sembarang orang memperolehnya, dan bahwa ada 
syarat-syarat tertentu sebelum seseorang mendapatkannya. Diperlukan persyaratan 
tertentu bagi seorang pemuda, jika ia ingin mendapatkan penolong ideal. Jika 
seorang pemuda dikuasai oleh penglihatan jasmaninya, hampir dapat dipastikan 
bahwa ia tidak akan memperolehnya. Itu sebabnya ditegaskan, "Kemolekan adalah 
bohong dan kecantikan adalah sia-sia..." (ayat 30). Ini tidak berarti penolong 
ideal haruslah gadis yang berpenampilan jasmani kurang menarik. Tetapi penolong 
ideal tidak ada kaitannya dengan penampilan jasmani. 

Jika kita percaya bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan dan juga manusia, dalam 
arti pemuda sebagaimana pemuda-pemuda lainnya. Dan jika Bapa menghendaki agar 
Yesus menikah, maka kita boleh percaya bahwa Yesus akan mendapat penolong 
ideal. Bagaimana dengan pemuda-pemuda yang melayani Tuhan ? Adakah seorang yang 
memenuhi syarat mendapat penolong ideal ?

Nilai seorang penolong ideal sangat tinggi. Keindahan permata dengan harganya 
yang mahalpun tidak dapat menandinginya. Dalam Amsal 12:4 dikatakan, "Isteri 
yang cakap (noble character) adalah mahkota suaminya...". Mahkota bukan hanya 
mengacu pada otoritas atau hak memerintah sebagaimana halnya dengan raja, 
tetapi juga mengacu pada kemuliaan dan nilai seseorang. Nilai seorang suami, 
sangat ditentukan oleh bagaimana isterinya.

Bagaimana dengan para suami yang melayani Tuhan ?
Apakah isteri kita telah memberi kemuliaan dan nilai tinggi bagi diri kita ? 
Dapatkah penolong sepadan diproses sedemikian sehingga menjadi penolong ideal ?
Semoga demikian, Amin.

"...tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji..." [ Amsal 31:10-31 ].

Telah disebutkan bahwa penolong ideal memiliki karakter mulia, luhur, dan baik 
( noble character ).Darimana berasal karakter ini ? Apakah penolong ideal 
memiliki karakter ini karena keturunannya ?
Mungkin bapa atau ibunya, kakek atau neneknya memang keturunan orang yang pada 
dasarnya sopan, lemah lembut dan baik ?

Ayat diatas menegaskan bahwa penolong ideal memiliki karakter mulia, disebabkan 
karena hubungannya dengan Tuhan. Disebutkan bahwa penolong ideal adalah isteri
yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7 
).Pengetahuan yang dimaksud disini tentu bukan pengetahuan keilmuan (
scientific knowledge ), tetapi pengetahuan yang membuat hati orang terjamah 
Tuhan sehingga menjadi bijaksana, berhikmat dan memiliki karakter ilahi.
Jadi, penolong ideal adalah seorang yang mempunyai hubungan yang jelas dengan 
Tuhan, dan karenanya memiliki noble character.

Dalam Amsal 31, ada beberapa sifat dari penolong ideal yang termasuk dalam 
noble character. Pertama, yang bersangkut paut dengan lidah/perkataannya (ay 
26).
Perkataan penolong ideal merupakan perkataan hikmat dan merupakan pengajaran 
yang lemah lembut. Perkataan hikmat memiliki kuasa ilahi sehingga dapat memadam 
kan perbantahan, dan bahkan menyelesaikan masalah. Mungkin karena urusan rumah 
tangga itu banyak, sehingga para isteri kristen sering terjebak sehingga masuk 
dalam kategori "isteri cerewet". Semakin ia membuka mulutnya, semakin bertambah 
masalah. Tetapi kekuatan penolong ideal terletak pada perkataannya.

Kedua, yang bersangkut paut dengan keteguhannya.
Keteguhan penolong ideal diungkapkan dengan kata-kata, "ia mengikat pinggangnya 
dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya" ( ayat 17 ). Penolong ideal adalah 
seorang yang kuat, dalam arti tidak mudah menyerah dan tidak putus asa. Problem 
rumah tangga sering kali membuat oang menjadi lelah dan putus asa.
Tetapi penolong ideal mempunyai kekuatan didalam dirinya, sehingga ia dapat 
meneguhkan suami, serta melalui semuanya itu dengan berhasil.

Ketiga, yang bersangkut paut dengan masa depan.
Penolong ideal memiliki iman dan keyakinan, sehingga ia, "...tertawa tentang 
hari depan" ( ayat 25 ). Tidak ada kekuatiran didalam dirinya. Penolong ideal 
berjuang karena imannya, dan bukan karena kekuatirannya.

Sifat lain dari penolong ideal dalam hubungannya dengan suami dan anak-anak 
adalah, ia berbuat baik kepada suaminya sepanjang umurnya. Bila seorang isteri 
berbuat baik kepada suami dan hanya sesekali berbuat jahat, mungkin hal seperti 
ini sudah lazim kita temui. Tetapi bila seorang isteri berbuat baik pada suami 
seumur hidupnya, tanpa pernah berbuat jahat atau merencanakan yang jahat pada 
suaminya, tentu hal ini
sangat jarang terjadi. Tetapi seperti itulah penolong ideal. Karena perilakunya 
ini, sang suami percaya kepadanya (ayat 28). Juga anak-anaknya, menyebutnya 
berbahagia (diberkati-ayat 28).

Satu hal perlu ditambahkan disini perihal anak-anak dalam suatu keluarga. 
Alkitab ( khususnya PL ), seringkali mengungkapkan mengenai anak-anak yang 
dilahirkan dalam suatu keluarga, sebagai pemberian seorang isteri kepada 
suaminya. Ungkapannya kurang lebih demikian, misalnya, "Sara melahirkan Ishak 
bagi Abraham". Memang seorang isteri kristen yang tidak mempunyai anak, tidak 
langsung berarti ia bersalah atau kurang iman, dan sebagainya. Karena secara 
medis, bisa jadi persoalan nya ada pada suaminya. Tetapi bagaimanapun juga, ada 
nilai tertentu bagi isteri yang telah memberikan anak pada suaminya. Itu 
sebabnya Alkitab berkata, "...perempuan akan diselamatkan karena melahirkan 
anak, asal ia bertekun dalam iman..."( I Timotius 2:15 ). Penolong ideal, bukan 
saja memberikan anak-anak pada suaminya, tetapi memberikan anak-anak yang 
dapat, "...bangun dan menyebutnya berbahagia", dalam arti, anak-anak yang 
berpengertian dan berpikiran dewasa.

Penolong ideal melebihi banyak wanita yang telah berbuat baik ( ayat 29). 
Suaminya tidak akan kekurangan keuntungan ( ayat 11 ). Berbahagialah suami yang 
mendapatkannya.

"...Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi 
rumahnya...Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya..." ( Amsal 31:10-31 ).

Dalam bagian terakhir ini, kita akan melihat bagaimana perilaku atau sikap 
penolong ideal dalam kaitannya dengan rumah ( rumah tangganya ), pekerjaan ( 
uang ), dan orang lain ( yang tertindas dan yang miskin ).

Ayat diatas menegaskan bahwa penolong ideal terfokus pada seisi rumahnya. 
Ungkapan, "...menyediakan makanan untuk seisi rumahnya...mengawasi segala 
perbuatan rumah tangganya", membuktikan bahwa penolong ideal adalah seorang ibu 
rumah tangga yang baik. Ini tidak berarti penolong ideal tidak bekerja dengan 
tangannya dan menghasilkan uang, tetapi sekalipun ia mempunyai penghasilan 
sendiri dari pekerjaan tangannya, namun ia bukanlah tipe "wanita karier" yang 
kadangkala harus memilih antara rumah tangga atau pekerjaannya. 

Penolong ideal sangat memperhatikan segala urusan rumah tangganya, sementara 
suaminya,"...dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua 
negeri" ( ayat 23 ). Fokus penolong ideal adalah rumahnya, sementara suaminya 
adalah "pintu gerbang". Pada zaman itu, para laki-laki (tua-tua), sering 
berkumpul dipintu gerbang kota dan membicarakan banyak hal terutama nasib dan 
masa depan kota dimana mereka tinggal. Istilah "pintu gerbang" dan juga 
"tua-tua", menunjukkan bahwa suami dari penolong ideal memiliki kepemimpinan 
yang jelas, bukan saja di dalam rumah tangganya tetapi juga di tengah-tengah 
masyarakat.

Hal ini berarti bahwa penolong ideal mengizinkan dan mendukung kepemimpinan 
suaminya, baik di rumah maupun ditengah-tengah masyarakat kota. Mendukung 
kepemimpinan suami, bagi seorang isteri berarti penundukkan diri. Karakter 
penolong ideal adalah tunduk dan mendukung kepemimpinan suami. 

Suami dari penolong ideal bukan saja memiliki kepemimpinan yang jelas, tetapi 
juga keterkenalan/popularitas. Popularitas seorang suami biasanya didukung oleh 
keberhasilannya dalam bidang usaha, jabatan, dan kemampuan-kemampuan lainnya. 
Semua ini dimungkinkan karena dukungan seorang penolong ideal. Sangat sulit 
bagi seorang suami dapat berhasil dalam karier, usaha, dan pelayanan tanpa 
dukungan yang sungguh-sungguh dari seorang isteri. Disini kita lihat kualitas 
penolong ideal, yaitu dengan memperhatikan keberhasilan suaminya.

Penolong ideal, bukan saja menundukkan diri dan mendukung suami dalam karier, 
usaha dan pelayanan, tetapi ia sendiri memiliki pekerjaan yang dapat 
menghasilkan uang ( ayat 16,18,24 ). Mungkin bagi seorang wanita, bekerja dan 
menghasilkan uang tidak begitu sulit. Tetapi bagi seorang wanita yang terfokus 
pada rumahnya( tidak mengabaikan pekerjaan rumah tangganya), dan mendukung 
kepemimpinan suami, serta memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang, tentu 
tidaklah mudah. Tetapi inilah yang dilakukan penolong ideal.Itu sebabnya 
tertulis, "...biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang" (ayat 31).

Selain semua yang telah disebutkan, penolong ideal juga memiliki hati yang 
berbelas kasihan kepada yang tertindas dan yang miskin ( ayat 20 ). Nampaknya 
penolong ideal memiliki kekuatan dan reputasi dalam segala bidang. Dihadapan 
Tuhan, ia mempunyai hubungan yang jelas. Dihadapan suami dan anak-anak, ia 
dipuji.
Dalam pekerjaannya, ia menghasilkan uang. Dihadapan orang lain, khususnya yang 
tertindas dan miskin, ia mengulurkan tangannya dan berbelas-kasihan.Sungguh 
luar biasa isteri yang cakap ( noble character ) ini.
Siapakah akan mendapatkannya ?

Gema Sion Ministry.

Kirim email ke