From: "henny" <[EMAIL PROTECTED]>

Gereja Dibela oleh Tukang Ojek dan  Becak
Oleh  Saumiman Saud


Tengah malam itu, saya terbangun.  Rupanya telepon berdering di kesunyian 
malam. "Halo, selamat . Ada yang bisa  dibantu?" sapaku. 
"Pak Valen, ini dari Theo," suaranya bergetar. Saya mengenali itu suara 
Teophilus, rohaniwan gereja cabang di perumahan Bukit  Asri. 
"Ada apa, pak?" "Gawat, Pak. Barusan Gereja Bukit Asri dikepung  massa. Mereka
mempertanyakan apa gereja ini sudah ada izin atau IMB.
Pak RT menyerahkan surat pernyataan penghentian ibadah dan penutupan gereja. 
Saya diminta tanda tangan, tapi saya tolak."
"Lalu bagaimana kondisi sekarang?"
"Aman, Pak. Mereka sudah dibubarkan oleh polisi. Tapi besok saya diundang rapat 
di kecamatan."
"Syukurlah, Pak. Kami doakan agar Tuhan  memberi hikmat dan perlindungan."

***
Esoknya saya, Theopilus, dan  beberapa penatua hadir dalam pertemuan di kantor 
Camat. Di sana sudah ada Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Camat, Kapolsek, dan para
pemuka agama. Pak RT  dipersilakan berbicara tentang masalah yang terjadi.

"Bapak Pendeta, kami  mendapat banyak laporan keberatan dari warga RT 03 
tentang keberadaan gereja di perumahan warga Bukit Asri. Mereka merasa 
terganggu dengan ibadah tiap  hari Minggu dan suara musik band tiap Sabtu 
malam. Apakah gereja ini ada  izinnya atau IMB ?" tanya pak RT.

"Pak, gereja kami memang tidak ada IMB.  Sudah 15 tahun sejak berdirinya 
gereja, kami sudah mencoba mengurus izin,  tapi tidak pernah dikabulkan. Kalau 
soal keberatan, warga mana yang  keberatan? Soalnya kami punya daftar tanda 
tangan warga yang setuju dengan pendirian gereja pada tahun 1988," saya 
menjelaskan.

Pak RT menyerahkan  selembar kertas penuh tanda tangan warga yang keberatan. 
Setelah dibaca, ternyata itu beberapa warga yang baru pindah ke RT 03. 
Selebihnya adalah  bukan warga sekitar gereja, tapi dari kelurahan lain.

"Maaf, pak. Ini kan tidak signifikan. Yang benar-benar warga RT03 cuma 2 orang, 
itu pun mereka pindah kemari belum ada setahun," Tanya Theopilus.
"Meski cuma 2 orang, kalau  merasa terganggu dengan gereja, kami patut dengar 
aspirasinya," suara pak RT mulai meninggi.

"Pak, gereja di sini bukan baru setahun dua tahun.
Kami sudah lama di sini, sejak berdirinya perumahan ini 15 tahun lalu. Kami 
tidak melakukan sesuatu yang merusak, malahan kami membantu membina dan
meningkatkan moral spiritual masyarakat."

"Kami ini mayoritas! Minoritas  harus tunduk pada mayoritas!"
"Bapak sebagai Ketua RT kok bisa bilang  mayoritas.
Seharusnya Bapak mengayomi semua golongan masyarakat, tanpa  memandang 
mayoritas atau minoritas."
"Pokoknya gereja harus ditutup.  Kalau tidak, akan kami ratakan dengan tanah. 
Massa siap bergerak."

Terjadilah adu argumentasi dan suasana menjadi panas.
Akhirnya Pak Lurah dan Pak Camat menengahi. Mereka meminta masing-masing pihak 
tetap berkepala dingin dan menghindarkan tindak kekerasan. Pihak gereja diberi 
waktu 1 bulan untuk merundingkan hal ini dan disarankan untuk pindah ke  tempat 
lain.

***
Hari Minggu para penatua mengadakan rapat.  Diputuskan untuk mengantisipasi 
keadaan, gedung gereja diberi lapisan  peredam suara.
Alat musik band sementara waktu tidak dipakai. Ini supaya suara dari dalam 
gereja tidak mengganggu warga sekitar.

Diumumkan kepada  warga gereja untuk mendoakan masalah ini. Setiap hari Sabtu 
diadakan doa  puasa. Para penatua dan aktivis berdoa di gereja sejak jam 05.00
sampai 07.00  pagi. Lalu dilanjut dengan doa di rumah atau di kantor bagi yang 
bekerja.  Sore jam 18.00 diadakan doa dan makan bersama di gereja.

Sementara itu, sudah tampak usaha-usaha menutup jalan masuk menuju gereja oleh 
orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan gereja. Jalan utama menuju gereja
diportal dan ditutup setiap hari Minggu. Warga gereja yang hendak menuju gereja 
terpaksa berjalan kaki sekitar 2 km memakai jalan alternatif. Meski dipersulit, 
ibadah minggu tetap berjalan seperti biasa.

Tanpa diduga oleh warga gereja, ternyata peristiwa ini meresahkan para tukang 
becak dan tukang ojek di perumahan Bukit Asri. Mereka yang biasa mendapat 
penumpang dan mengantar ke gereja, mulai berkurang pendapatannya, apalagi 
sekarang jalan  utama ditutup sehingga harus memutar lebih jauh.

"Payah, Mas. Sekarang  penghasilan saya jadi kurang.
Biasanya hari Minggu bisa dapat 100.000,  sekarang cuma 20.000," keluh Parto, 
tukang ojek langganan saya. 
"Yah, kami  juga lagi prihatin kok, Mas," jawab saya.
"Yang nggak setuju dengan gereja kan cuma 2 orang saja. Mending dia yang pindah 
dari sini. Betul nggak, Mas?"  ujar Parto.

***.
Keesokan harinya saya terkejut membaca berita koran pagi. Isinya tertulis:
"Sejumlah tukang ojek dan tukang becak mengusir warga yang keberatan terhadap 
gereja." 
Ketika saya telepon Theopilus, dia membenarkan berita tersebut. 
"Pak Valen, kemarin 2 warga RT 03 yang  sentiment terhadap gereja didemo oleh 
tukang ojek dan tukang becak.
Mereka dianggap sebagai biang kerok menurunnya penghasilan para tukang ojek dan 
 tukang becak."
"Lalu gimana sekarang?"
"Dua orang itu diminta pindah secepatnya dari perumahan. Kalau tidak,  rumah 
mereka akan diacak-acak."

Oleh imbauan penatua gereja, para tukang ojek dan tukang becak tidak sampai 
melakukan tindak kekerasan. Disepakati, dua warga itu membuat surat pernyataan
tidak keberatan terhadap keberadaan gereja.

Tanpa diduga  keberadaan gereja dibela oleh para tukang ojek dan tukang becak. 
Memang selama ini, gereja ada perhatian kepada mereka. Setiap Lebaran dan
Natal,  gereja memberikan bingkisan sembako buat mereka. Rupanya kehadiran 
gereja  dirasakan manfaatnya oleh mereka sehingga ketika ada yang 
mempermasalahkan 
keberadaan gereja, justru merekalah yang membela dan mempertahankan gereja.

Tuhan dapat memakai apa dan siapa saja untuk melindungi umat-Nya. Sampai 
sekarang, warga jemaat Bukit Asri dapat beribadah dengan  tenang tanpa gangguan.

Soli Deo Gloria.

Penulis adalah  rohaniwan, tinggal di Bogor.
===============================================
From: "henny" <[EMAIL PROTECTED]>

Mahalnya sebuah karir untuk wanita
Author : unknown

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan
multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang
berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka
saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap 
apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru
saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih
terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan
karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang
masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat 
terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah
pembantu kami.

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu
hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut 
bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia 
meninggal.
Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya
berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di
rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama
sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.
Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua 
karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami 
saya.

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan
perusahaan dari pada keadaan mereka.
Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih.

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan 
mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya
itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami 
sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja 
sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara 
berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih 
membesarkan kami 6 orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik.
Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau 
mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup
bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah 
tinggi-tinggi?.

Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan dalam karirnya dan
penghasilan.
Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni
dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal
urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh
teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan
anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu
cepat sebelum saya sempat tersadar.
Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.
Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini
selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan
kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia
ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka
akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran 
Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi, setelah tiba-tiba 
jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah
ketika bik Inah di Rumah Sakit.
Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore
untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk
stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini 
tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya!
menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja
ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi 
kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah.
Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai
kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren.

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling 
susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum 
bersama.

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya
itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat
merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.
Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan
urusan kantor.
Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya,
siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang
sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau
lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa 
tidur..........Ya Tuhan ,
Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai
ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat
tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela 
berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran
utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar
pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup
dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan
hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu 
tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi nilah 
faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada
saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan
menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar
saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di
sisiMu".

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

Kirim email ke