From: Jeffrey Lim
Trinity & Problem one and many
By Jeffrey Lim ( )
Tuhan orang Kristen adalah Tuhan Tritunggal ( Trinity ). Alkitab
mengajarkan dengan tegas bahwa Tuhan adalah satu ( Deut 6:4-5 ) namun Alkitab
mengajarkan juga bahwa Tuhan mempunyai 3 pribadi ( Mark 12:29 -30, 1 Cor 8:4,
Eph 4:6; 1 Tim 2: 5). Tuhan orang Kristen adalah satu Tuhan yang berpribadi
tiga. Bukan tiga Tuhan ( tritheism = seperti Hinduism ). Namun juga bukan satu
Tuhan dengan pribadi yang sama ( modalism ).
Tuhan Tritunggal adalah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus. Darimana
pengertian Tritunggal ini berasal ? Yaitu dari Alkitab sendiri. Perjanjian Baru
mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Dia punya hak untuk dipuji dan
disembah. Yesus berjanji akan mengirimkan seorang penolong lain yaitu Roh Kudus
yang juga bersifat ilahi. Petrus berkata bahwa berbohong kepada Roh Kudus
adalah berbohong kepada Tuhan. Dan juga perintah Tuhan Yesus supaya kita
menjadikan semua bangsa murid Kristus dan membaptis mereka di dalam nama Bapa,
Anak dan Roh Kudus ( Matt 28:18 ).
Tritunggal adalah pengertian yang diajarkan Alkitab. Tuhan orang Kristen adalah
Tuhan Tritunggal. Pengertian ini adalah salah satu pengertian sentral dari
Firman Tuhan. Pengertian Tritunggal merupakan salah satu pilar besar dalam
memahami Tuhan dan FirmanNya.
Nah sampai point ini kita bertanya yaitu apakah Tuhan Tritunggal itu sesuatu
yang masuk akal ? Apakah pengertian Tritunggal ini sesuai dengan logika manusia
? Tentunya anda ingin langsung cepat-cepat menjawab bahwa pengertian Tritunggal
ini supra rasional ( di atas rasio ) dan juga supra logika ( di atas logika ).
Memang betul bahwa pengertian Tritunggal ini adalah supra rasional dan supra
logika. Namun apakah pengertian ini bisa dipahami oleh rasio manusia ? Kalau
kita bilang ragu-ragu ( skeptis ) maka pengertian Alkitab mengenai Tritunggal
yang dinyatakan kepada kita kita juga tidak bisa yakin ? Kalau kita bilang
pengertian Tuhan Tritunggal adalah tidak bisa dimengerti sama sekali ( agnostic
) maka kita jatuh pada posisi yang sama dengan Immanuel Kant yaitu bahwa Tuhan
tidak bisa dipahami. Nah posisi yang diambil oleh para Reformator yaitu Tuhan
bisa dimengerti sebatas Dia mewahyukan diriNya kepada kita dan dengan segala
keterbatasan kita. Jadi pengertian Tritunggal bisa dimengerti namun bukan
dimengerti secara komprehensif. Sebab Tuhan adalah Tuhan yang incomprehensible
( bisa dimengerti namun bukan dimengerti secara komprehensif sebab bila kita
mengerti Tuhan secara komprehensif maka kita memiliki omniscience yang
merupakan properti dari Tuhan ).
Point yang ingin disampaikan dalam artikel ini adalah apakah Tuhan Tritunggal
ini dapat dimengerti dengan rasio kita ? Apakah pengertian ini tidak
bertentangan dengan rasio kita ? Apakah pengertian Tuhan Tritunggal tidak
bertentangan dengan logika kita ? Bila bertentangan dengan rasio dan logika
kita bukankah itu sesuatu yang serius ? Mengapa ? Sebab bukankah manusia adalah
mahluk yang berasio dan berpikir ? Dan juga kita menganalisa dan berpikir
dengan rasio kita ?
Sebelum meneruskan pembahasan ini saya ingin menjelaskan terlebih dahulu hukum
logika manusia. Ini adalah hukum logika yang ditemukan oleh Aristoteles di
dalam wahyu umum. Ini adalah hukum universal yang merupakan kebenaran. Setelah
menjelaskan hukum logika ini maka saya akan menjelaskan bahwa bagaimana hukum
logika dengan pengertian Trinity ini kelihatan seperti kontradiksi walaupun
sebenarnya tidak. Dan terakhir saya akan menunjukkan bahwa di dalam memahami
realita di dunia ini kita perlu konsep dari Trinity ini.
Law of non contradiction
Menurut Aristoteles, hukum logika adalah prinsip dari pikiran
manusia dan juga dari hukum keberadaan. Kita menggunakan hukum logika untuk
memahami struktur logika dari dunia ini. Prinsip hukum logika ( hukum non
kontradiksi ) adalah prinsip pikiran yang penting sebab itu prinsip dari
keberadaan. Apakah hukum non contradiction itu ?
Definisi yang sederhana adalah "A tidak dapat sama-sama B dan non-B
pada waktu yang sama dan pada pengertian yang sama". Pengertian ini adalah
contohnya "Object A tidak dapat bulat ( B) dan kotak ( non-B) pada saat yang
sama dan pada pengertian yang sama. Atau contoh yang lain adalah Tuhan tidak
dapat kudus ( B ) dan tidak kudus ( non B ), tidak dapat baik ( B ) dan tidak
baik ( non B ) pada saat yang sama dan pengertian yang sama.
Mungkin anda masih bingung mengenai hukum logika ini karena belum
terbiasa berpikir secara demikian. Saya kasih contoh yang sederhana dalam hidup
sehari-hari. Pada suatu hari Hans Halim sedang makan siang dengan Jimmy Liang.
Kemudian sesudah makan siang mereka pergi ke pemuda dan disana ditanya oleh
Ferry Widjaja, "Apakah Hans sudah makan ?". Hans menjawab "sudah" dan Jimmy
menjawab "belum". Ini kontradiksi bukan ? Tidak mungkin Hans sudah makan dan
belum makan pada saat yang bersamaan dan dalam pengertian yang sama. Jelas ada
sesuatu yang tidak beres. Sebab tidak mungkin kebenaran itu berkontradiksi. Itu
adalah either Hans sudah makan ( B) atau Hans belum makan ( non B). Tidak
mungkin kedua-duanya. Ini contoh dari hukum kontradiksi.
Sampai sini mungkin anda berpikir. Saya masih belum percaya bahwa
hukum non contradiction ini hukum dasar dari pola pikir manusia. Saya tidak
setuju pikiran ini dan saya mau menyangkal bahwa hukum non contradiction ini.
Setiap penyangkalan hukum non contradiction maka anda menggunakan hukum ini
untuk menyangkal. Mengapa ? Sebab hukum ini adalah self-evident dan juga tidak
dapat dihindarkan. Hukum ini harus digunakan bahkan untuk menyangkal hukum ini.
Jika anda berpikir bahwa hukum non contradiction hukum utama logika ( B )
adalah salah maka anda harus memilah bahwa seharusnya yang betul adalah yaitu
hukum non contradiction bukan hukum utama logika. ( non B ). Dan anda
menggunakan hukum ini.
Saya masih mau terus tekankan kebenaran dari hukum ini. Saya jelaskan pola
pikir Timur yang menolak hukum ini. Orang Asia ( East ) sering yang bilang
bahwa pola berpikir Barat ( West Logic ) adalah salah. Di Barat "A tidak dapat
B dan Non B pada saat yang sama dan pada pengertian yang sama" namun di Timur,
logika ini lebih lengkap. Menurut East Logic "A dapat B dan Non B pada saat
yang sama dan pada pengertian yang sama". Orang Timur ( East ) dalam
filsafatnya memahami realita bahwa hitam dan putih dapat bersama-sama (
pikirkan Yin Yang – didalam putih ada hitam – di dalam hitam ada putih – hitam
dan putih bisa sama-sama pada saat yang sama dan pada pengertian yang sama ).
Pikirkan kebenaran ini dengan lebih dalam sejenak. Apakah pola pikir non
contradiction salah ? Pola pikir Barat West Logic ( non contradiction ) adalah
either B or non- B sedang pola berpikir Asia East Logic adalah both B and non
B.
Ketika orang Asia berkata bahwa pola pikir barat salah maka dia berlogika bahwa
pola berpikir barat salah dan pola berpikir timur benar. Dan dia harus
berlogika bahwa Either West Logic ( B ) or East Logic ( non B ). Disini orang
Timur menggunakan hukum logika non contradiction untuk menyatakan bahwa pola
berpikir orang Barat ( West Logic ) salah. Atau bila orang Timur konsisten
dengan East Logicnya maka B dan Non B bisa sama-sama benar. Dan akibatnya orang
Timur tidak bisa bilang bahwa pola berpikir barat salah. Sebab pola pikir barat
( B ) yang tidak sama dengan timur ( non B ) bisa sama-sama benar.
Kesimpulannya adalah hukum non contradiction adalah tidak dapat dihindarkan dan
ini adalah logika yang universal baik di Timur maupun Barat
Law of non contradiction and Trinity
Kita tahu bahwa hukum contradiction ini benar. Dan kita juga beriman bahwa
Trinity adalah benar. Berbicara Trinity salah maka anda tidak percaya doktrin
Alkitab. Dan berbicara hukum non contradiction salah juga anda menolak hukum
logika yang merupakan hukum utama dalam berpikir. Namun bagaimana mensinkronkan
keduanya.
"A tidak bisa B dan non B pada saat yang bersamaan dan pengertian yang sama"
Bagaimana dengan Trinity dan hukum non contradiction ?
"Tuhan tidak bisa satu dan tiga ( bukan satu ) pada saat yang bersamaan dan
pengertian yang sama". Bila Tuhan satu dan bukan satu pada saat yang bersamaan
dan pengertian yang sama bukankah ini melanggar hukum logika ?
Dalam artikel yang singkat ini saya simpulkan bahwa Tuhan adalah satu dalam
pengertian tertentu dan tiga dalam pengertian tertentu. Bukan 1 dan 3 dalam
pengertian yang sama. Teolog Reformed menjelaskan bahwa Tuhan satu essence (
ousia ) dan tiga subsistensi. ( Untuk lebih jelas baca "Systematic Theology"
by Louis Berkoff hal 82-99).
Doktrin Tuhan Tritunggal tidak bertentangan dengan logika. Bukan
saja tidak bertentangan dengan logika, doktrin Tuhan Tritunggal bahkan bisa
menjelaskan rahasia reality di dalam dunia ini mengenai problema satu dan
banyak. Tanpa konsep Tuhan Tritunggal maka manusia tidak bisa mengerti natur
dari reality yang diciptakan oleh Tuhan.
Problem one and many in Reality.
Ternyata di dalam dunia kita hidup ini filsuf bergumul dengan masalah satu dan
banyak. Permasalahan satu banyak timbul karena manusia berusaha mendapatkan
kesatuan ( unity ) ditengah-tengah keanekaragaman ( diversity ).
Contoh permasalahan satu banyak adalah mengenai reality. Apa itu reality ? Kita
mengerti di dalam Kristen ( saya tidak usah berbicara Plato, Aristoteles, etc
mengenai reality tetapi langsung dari konsep Kristen ) bahwa reality adalah
Tuhan Pencipta dan Dia menciptakan dunia ini. Dunia ini adalah realita ciptaan
Tuhan. Para filsuf berpikir apakah reality ini satu atau banyak. Reality satu
atau banyak Di dalam dunia ciptaan, reality adalah manusia, mahluk hidup,
tumbuh-tumbuhan, virus, material, Hans Halim, gereja, etc. Pertanyaannya apakah
reality ini banyak ? Kelihatannya seperti banyak dan beraneka ragam ( diversity
). Dunia ini terlihat sepertinya beraneka ragam. Banyak sekali isinya dari
manusia, mahluk hidup, alam, etc.
Yang banyak harus dihubungkan satu sama lain. Bila reality semuanya adalah
banyak dan beraneka ragam namun tidak ada satu kesatuan, bagaimana
menghubungkan antara reality yang satu dan yang lain ? Bagaimana hubungan
manusia dengan alam dengan mahluk hidup lain dengan benda-benda bila semua
reality ini banyak dan terpisah ?
Saya jabarkan point ini dengan lebih ( terutama saya menjabarkan dari filsafat
computer science mengenai object oriented dimana melihat reality dari segi
objek ). Di dalam dunia setelah kita bisa berpikir maka kita belajar untuk
mengorganisir pengalaman. Kita membeda-bedakan satu objek dengan objek lainnya.
Kita mengkelompokkan objek yang satu dan objek yang lain. Dengan bertambahkan
pengalaman kita mengorganisirkan semuanya dengan lebih luas. Misalnya kita
mengkelompokkan "Hans Halim" dalam kelompok manusia. Kemudian manusia
dikelompokkan di dalam kelas yang lebih besar yaitu mamalia, makhuk hidup,
mahluk ( beings ) dan keberadaan ( being ). Proses ini disebut abstraksi. Hans
Halim mewarisi ( inheritance ) karakteristik dari manusia. Manusia mewarisi
karakterisktik dari mahluk hidup. Dsb. Proses abstraksi ini adalah usaha untuk
masuk semakin mendalam ke dalam realita hingga ke esensinya.
Di sisi lain proses abtraksi mengakibatkan kerugian kognitif. Ternyata Hans
Halim lebih dari sekedar manusia. Dia suka komputer. Dia suka berbicara dan
berdebat. Dia suka makan. Kualitas ini tidak ada hanya di dalam definisi
manusia "human" saja. Maka setiap langkah dalam proses abtraksi adalah langkah
menuju kekosongan karena kehilangan informasi. Abstraksi tertinggi yaitu
"keberadaan" ( being) mencakup segala hal namun keberadaan ini tidak mencakup
hal apapun yang spesifik.
Langkah selanjutnya dari abstraksi adalah kita menuruni tangga itu dari yang
umum kepada yang khusus. Mahluk hidup – mamalia – manusia – Hans Halim. Namun
Hans Halim bisa saja merupakan sebuah abstraksi sebab konsep tentang Hans Halim
terdiri dari banyak pengalaman. Hans Halim mempunyai hati, jantung, mulut, DNA,
karakter, kebiasaan. Hans Halim terdiri dari ( aggregation ) hati, jantung,
kepala, tangan, kaki.
Maka mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan bergerak dari yang abstrak
kepada yang konkret ingin mereduksi pengetahuan tersebut sampai para
partikularitas terkecilnya. Unsur-unsur apakah yang termasuk dari konsep Hans
Halim. Apakah programnya yang dia buat bagi gereja ? apakah warna kulitnya ?
Apakah bentuk rambutnya ? Apakah karakteristiknya yang khas ? Apakah struktur
organ tubuhnya ?
Ketika kita terus memahami esensi yang sesungguhnya dari Hans Halim dan
menggali dari pengertian umum akhirnya kita masuk kepada partikular yang
spesifik. Atau mungkin sampai terakhirnya yang paling spesifik adalah atom-atom
yang membentuk esensi Hans Halim. Atau Aristoteles mengatakan bahwa yang paling
ultimat adalah unsur prime ( utama = prime matter ).
Sewaktu kita menaiki tangga abstraksi kita kehilangan isi mengenai Hans Halim,
demikian juga sewaktu kita menuruni tangga abstraksi kita kehilangan isi
mengenai Hans Halim. Apa yang bisa diketahui dari unsure prime mengenai Hans
Halim ? Apa yang bisa diketahui dari abstraksi keberadaan mengenai Hans Halim ?
Apakah Hans Halim ? Apakah definisi mengenai Hans Halim ? Apakah realita
mengenai Hans Halim ? Reality mengenai Hans Halim itu sebenarnya yang mana yang
ultimat ? Apakah keberadaan abstrak yang merupakan realita ultimat ? ataukah
partikular yang merupakan realita yang ultimat ? Jika keberadaan abstrak
merupakan realita yang ultimat maka tidak ada partikularitas. Jika partikular
adalah realita yang ultimat maka tidak ada kesatuan di dalam dunia ini ?
Realita Hans Halim itu satu atau banyak ? Kesatuan Abstrak atau Partikular
Abstrak ? Filsuf dunia gagal untuk melihat realita dunia ini. Sebagian melihat
sebagai kesatuan abstrak dan sebagian lagi melihat sebagai partikularitas
abstrak. Atau sebagian melihat kombinasi keduanya namun tetap tidak bisa
melihat pengertian sebenarnya dari realita ini.
Mengapa ?
Sebab masalah satu banyak ini ada di dalam Tritunggal. Tuhan
Tritunggal adalah standard ultimat dan kriteria final bagi kebenaran dari
pikiran mahluk ciptaan. Tuhan Tritunggal menunjukkan kepada kita paling tidak
dalam istilah-istilah umum bagaimana kesatuan dan keragaman ultimat bisa
dipersatukan. Sebab Natur Tuhan adalah satu dan banyak.
Karena Tuhan Tritunggal maka kita mengerti konsep Unity in
Diversity.
Banyak penjelasan yang tentunya tidak memuaskan anda dalam artikel yang hanya
sedikit ini dan untuk memahami hal ini lebih dalam, saya memberikan rekomendasi
untuk membaca buku:
1. The Doctrine of the Knowledge of God by John Frame
2. Cornelius Van Till : The Analysis of His thought by John Frame
Oleh : Jeffrey Lim ( [EMAIL PROTECTED] )
Bibliography :
Systematic Theology by Louis Berkhoff ( mengenai Trinity )
Ultimate Question : Introduction to Philosophy by Ronald N Nash ( mengenai Law
non contradiction )
Can Man Live Without God by Ravi Zacharia ( mengenai Law non contradiction )
Cornelius Van Till : The Analysis of His thought by John Frame ( mengenai one
and many )
The Doctrine of the Knowledge of God by John Frame ( mengenai one and many )
Unshakable Foundations by Norman Geisler ( mengenai law non contradiction )
Concise Theology by J.I Packer ( mengenai Trinity and Bible quotation )