From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 49 -- Kekuatan Doa dalam Penyembuhan
PENGANTAR
Di saatku tak berdaya
kuasa-Mu yang sempurna,
ketikaku berdoa
mukjizat itu nyata
Itu penggalan sebuah lagu yang mungkin juga sering Anda dengarkan.
Pesan yang disampaikan oleh lagu tersebut membuat kita teringat
betapa besar kekuatan sebuah doa. Doa memang seharusnya menjadi gaya
hidup bagi setiap orang percaya. Dalam KISAH edisi berikut ini, kita
dapat melihat bahwa kuasa dari doa dapat menghasilkan mukjizat dan
tetap berlangsung sampai saat ini. Selamat menyimak dan temukan
rahasia kuasa-Nya melalui doa.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
KEKUATAN DOA DALAM PENYEMBUHAN
==============================
Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen,
kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim
gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak
untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di
California. Suamiku, David, tergores jarinya ketika ia menutup
kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika
kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya
atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya akan
dilangsungkan segera sesudah hari Natal.
Pada Malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah
lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan
sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan
simpati bersama-sama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada
acara pemakaman. Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika
hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk.
Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak bisa
menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelepon
dokter kami di Utah. Menurut dokter, David mungkin terserang
influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa
ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman
Nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David
bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.
Acara pemakaman itu bisa menjadi sarana reuni yang hangat dengan
saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua
sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek
meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia memunyai hidup
yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah
pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga
memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh
gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.
Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang
kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk
merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia
mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat
setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang
memperingatkannya, "Anda memerlukan ambulans sekarang." Setelah
mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar
911. Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi
David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan
membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis
menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi
yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.
Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan
USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis
masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia
memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu
sisi badannya. "Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah
seseorang menendangnya?" mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka
bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka
berdiskusi selama beberapa menit lagi.
"Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin "necrotizing
fasciitis", atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging.
Apakah Anda pernah mendengarnya?"
"Tidak," jawabku.
"Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan
membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi
jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi.
Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia
pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?"
"Jarinya luka terkena retsleting ketika ia menutup kopor, hanya itu."
"Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan
perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu.
Ia memunyai kesempatan hidup 5 -- 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat
parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai
membedahnya."
Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain
untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. "Menurutku,
kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan
hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya," jawabku. Semua anak kami
masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka.
Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat
kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David
kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena
suatu penyakit yang sangat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan
setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu
kepadanya, "Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup."
Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku
mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan,
ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama.
Aku berkata, "Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa
yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana
menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka
tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang
terjadi." Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu
harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.
Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas
izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa
orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman
baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku
memohon agar mereka menelepon orang-orang yang kami kenal dan
meminta orang-orang tersebut agar berdoa untuk David: "Dua jam
setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia. Aku
percaya akan mukjizat dan kuasa doa." Hari itu, ratusan teman kami
sedang berdoa untuk David.
Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa
berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka
duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa
seakan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan
sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian. Saat itu, ada
sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka memunyai
spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri
strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan
jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci
per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka
memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi. David ditempatkan
di dalam ruang "hyperbaric" selama beberapa jam setiap hari. Ruang
ini bertekanan dan memunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang
ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam.
Tekanannya dinaikkan agar zat asam langsung masuk ke dalam
sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.
Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama
berbicara kepadaku secara jujur. "Aku memunyai perasaan tak enak
mengenai hal ini," katanya memperingatkan. "Menurutku,
bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya." Aku
pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku
harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu,
aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk
keluar dari kegelapan yang menyelimutiku. Setelah itu, aku kembali
ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada
David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika
mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi
lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.
Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia akan mendatangkan
seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan
sebagian besar kulit dan ototnya. "Tetapi, David seorang pemain
piano," aku memprotes. "Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat
bahwa David adalah seorang pemain piano." Di rumah, kami memutuskan
untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum
pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama
seminggu, para ahli bedah datang dan mereka siap untuk mengamputasi
lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena
lengan itu masih memunyai sejumlah jaringan yang sehat. Meskipun
demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun
tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.
Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya.
"Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakkannya, tetapi bermain piano
masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis," ahli
bedah mengatakan kepadanya. "Lagipula, andaikata Anda tiba di
lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua."
David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia
segera menantang ahli bedah itu untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.
David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan
hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti
kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai
tertutup oleh kulit yang baru. Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit
dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku
dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain
piano di rumah. Menurutku, bila ia dapat bermain beberapa nada, aku
akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan. Dengan kekhawatiran,
David meletakkan kedua tangannya di atas deretan tuts piano. Ia
tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja?
Apakah keterampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan napas.
David mulai bermain. Secara luar biasa, ia masih dapat memainkan
piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.
Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai
ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk
mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya. Ketika
Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi
orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka
bahwa kami dapat berlibur tanpa seorang pun yang sakit atau masuk
rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelepon ahli bedahnya
dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tennis. Si ahli
bedah senang mendengarkan tantangannya. Pada malam Natal, David dan
dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda
melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali
David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net
untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur
tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.
Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa
itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjizat
melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David
hidup, ia tetap memunyai kedua lengannya, serta ia dapat bermain
tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.
Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah
menjadi doa ucapan syukur.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : The Magic of Christmas Miracles
Judul artikel: Kekuatan Doa dalam Penyembuhan
Penulis : Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman : 104 -- 111
______________________________________________________________________
"Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan,
kamu akan menerimanya." (Matius 21:22)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+21:22 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Berdoalah untuk orang-orang Kristen yang saat ini terbaring sakit
dan menantikan kesembuhan terjadi dalam hidup mereka. Doakan
agar mereka menaruh pengharapan kepada Tuhan, sekaligus tetap
bertekun dalam doa dan berpegang pada janji Tuhan, bahwa Ia
senantiasa memberi yang terbaik. Doakan juga agar Tuhan memakai
tim medis untuk memberi perawatan terbaik.
2. Berdoalah untuk orang-orang Kristen yang saat ini sedang
mengalami masa-masa sukar, supaya mereka tetap percaya dan
berpengharapan di dalam Tuhan. Berdoalah juga agar kita pun
dimampukan untuk menghibur setiap orang yang sedang dalam masa sukar.
3. Doakan juga agar lewat momen Natal ini, "sakit-penyakit" yang
timbul akibat dosa dapat disembuhkan. Doakan agar momen Natal ini
pun menjadi ajang ucapan syukur yang tulus dari setiap orang yang
kembali diingatkan akan karya Yesus Kristus di dunia ini.
==============================================
From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>
Edisi 50 -- Betlehem: Maria Ibu Yesus
PENGANTAR
Memercayai janji Tuhan dalam kehidupan kita mungkin merupakan hal
yang sulit. Apalagi jika kita melihat keberadaan kita yang penuh
dosa. Namun, kenyataan ini berbeda dengan apa yang dialami Maria.
Walaupun pada awalnya tebersit keraguan akan janji Tuhan atas
hidupnya (Luk. 1:34), pada akhirnya ia memilih untuk memercayai dan
menerima janji itu. Dan buah dari ketaatan Maria itu menghasilkan
suatu berkat yang luar biasa, yaitu janji keselamatan yang hanya
dapat diperoleh dalam diri Yesus. Melalui kesaksian berikut, kita belajar
mengenai
upah dari sebuah ketaatan. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.
Pimpinan Redaksi KISAH,
Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN
BETLEHEM: MARIA IBU YESUS
=========================
"Ini tidak seperti yang saya bayangkan, kita memperoleh bayi kita
yang pertama," kata wanita muda itu ketika sedang kontraksi. "Apakah
kamu yakin ini cukup bersih?" dia bertanya kepada tunangannya, Yusuf.
"Aku tidak tahu, Sayang," dia berkata dengan agak kuatir. "Tapi ini
yang kita miliki. Kita tahu Tuhan akan melindungi bayi ini. Dia
pasti punya rencana mengapa Dia dilahirkan di sini."
Saat kontraksi yang menyakitkan datang lagi, tunangannya mengatakan,
"Cobalah untuk menghembuskan napas," dan dia menyeka wajah Maria
dengan lap basah. "Bertahanlah ... beberapa menit lagi."
Dia berkata dengan menggertakkan giginya, "Aku mau bayi ini lahir di
rumahku sendiri. Aku mau ibuku ada untuk menolongku."
"Aku di sini untuk menolongmu," kata Yusuf, "kita harus bisa
melakukannya sendiri. Dan kita tahu Tuhan juga ada di sini."
Kemudian dia mencoba bercanda, "Kalau kita masih perlu bantuan, di
sini ada sapi dan domba."
Kontraksi berlalu, dan Maria tersenyum ke arah tunangannya. Ketika
kontraksi datang lagi, Maria mulai mendorong. Lalu anaknya lahir di
dunia ini. Mereka menamai-Nya Yesus, seperti yang dikatakan oleh malaikat.
Kadang-kadang kita lupa kesukaran yang dihadapi Yusuf dan Maria
melahirkan Raja di atas segala raja: kandang binatang sebagai ruang
bersalin, dibuang ke Mesir, kemiskinan, dan skandal. Namun, mereka
bertahan dengan sukacita karena kasih mereka kepada Tuhan.
*****
Saat membaca Alkitab, kita mungkin berpikir bahwa akan lebih mudah
memercayai janji Tuhan jika menyediakannya dengan menyertakan tanda
yang jelas, seperti utusan malaikat. Namun, Maria yang menerima
tanda itu juga ragu. Ketika malaikat Gabriel datang membawa berita
kepada Maria bahwa dia akan melahirkan Anak Tuhan, hal ini mungkin
terdengar tidak masuk akal. Dia bertanya kepada Gabriel, "Bagaimana
mungkin .... Karena aku masih perawan?" Meskipun takut, Maria
memilih untuk memercayai janji Tuhan dan menaati-Nya. Kemauannya
telah melahirkan rencana keselamatan Tuhan ke dunia. Apakah Tuhan
menginginkan kemauanmu meskipun engkau ragu? Seperti Maria, kemauanmu untuk
taat dapat membawa dampak kekekalan dalam Kerajaan Tuhan.
*****
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel: Betlehem: Maria Ibu Yesus
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 177
______________________________________________________________________
"Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan;
jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Lalu malaikat itu meninggalkan dia." (Lukas 1:28)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Lukas+1:28 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA
1. Sering kali, memercayai janji Tuhan adalah sesuatu hal yang sulit
untuk dilakukan. Akan tetapi, berdoalah agar melalui momen Natal
tahun ini, kita belajar untuk lebih menaati dan memercayai janji
Tuhan dalam kehidupan kita.
2. Natal merupakan salah satu karya keselamatan Tuhan yang
diwujudkan dalam pribadi Yesus Kristus. Berdoalah agar setiap
orang percaya bisa lebih memahami arti dari karya keselamatan Tuhan
tersebut.
3. Doakan agar kita juga memiliki ketaatan akan perintah Tuhan,
seperti yang dilakukan Maria sehingga lewat ketaatan, kita
dapat memberi dampak bagi orang-orang di sekitar kita.