From: Billy Kristanto 

Spiritual Maturity 

Dear Bu Artine,

Saya belum sanggup untuk menulis tentang Contemplative Spirituality, perhaps 
next time. Sebagai gantinya, saya coba tulis tentang "Spiritual Maturity", 
harap bisa tetap menjadi berkat. 

Kedewasaan Rohani

Setiap orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus bukan hanya mengalami 
perubahan status dari orang-orang yang tadinya berada di bawah murka Tuhan, 
menjadi anak-anak Tuhan yang hidup dalam kasih karuniaNya, melainkan, dalam 
kehendak dan rencana Tuhan, ia mengalami proses pertumbuhan menjadi seorang 
percaya yang semakin hari semakin dewasa. Ketika kita menerima Yesus Kristus 
sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita tidak dalam satu malam menjadi 
orang yang sempurna, melainkan sejak saat itu arah hati kita diubahkan oleh 
Tuhan, kita mulai mengasihi hal-hal yang juga Tuhan kasihi, dan membenci apa 
yang dibenci oleh Tuhan. Hidup kita yang tadinya berpusat kepada diri kita 
sendiri (self-centered) lambat laun mulai diajar untuk memikirkan kehadiran 
Tuhan dan kehadiran sesama kita. Kita bertumbuh menjadi seseorang yang semakin 
dewasa ketika kita tidak terus membicarakan diri kita sendiri, namun juga 
tertarik untuk berbagian dalam kehidupan orang lain, baik sukacita maupun 
dukacita mereka. Seseorang yang bertumbuh berarti dia bergerak menuju kehidupan 
yang semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesamanya, dari kehidupan yang 
self-centered menjadi kehidupan yang self-denial, self-sacrifice, self-giving. 

Pertumbuhan menuju kedewasaan ini di satu sisi, merupakan suatu proses yang 
alamiah (asal kita tetap tinggal dalam Yesus [Yoh 15:4-5]), di sisi yang lain 
pertumbuhan ini bukan sesuatu yang otomatis begitu saja terjadi, melainkan akan 
banyak hambatan-hambatan yang harus kita lalui, sehingga kedewasaan yang akan 
kita capai itu bukanlah suatu kedewasaan artificial karena diperoleh dari jalan 
yang mudah, tanpa ujian dan pencobaan. Hambatan yang pertama yang ingin kita 
renungkan bersama-sama hari ini adalah konsep yang keliru tentang kedewasaan 
itu sendiri. Mengapa konsep yang keliru merupakan suatu hambatan? Karena kita 
tidak mungkin bertumbuh tanpa mengetahui arah yang benar ke mana kita harus 
bertumbuh. Konsep yang keliru tentang kedewasaan rohani bisa mengelabui kita 
(entah kita sadar atau tidak) untuk mengenal diri kita dengan benar. Pengenalan 
diri yang tepat sebagaimana Tuhan mengenal kita adalah dasar yang pertama untuk 
menggumulkan pertumbuhan rohani yang sejati. 

Berikut ini beberapa konsep kedewasaan yang seringkali taken for granted 
sebagai standard penilaian yang benar, yang sebenarnya menurut konsep Alkitab 
bukan merupakan tanda kedewasaan rohani yang sesungguhnya: 

  1.. Seseorang/saya adalah seorang percaya yang dewasa karena ia/saya telah 
lama menjadi orang percaya. Saya adalah orang senior dalam kekristenan, saya 
bukan anak kemarin atau kemarin dulu! Saya sudah mendengar 
pengkhotbah-pengkhotbah besar sejak kecil (waktu itu mereka semua besar karena 
saya memang masih kecil). Durasi (baca: kuantitas waktu) sesungguhnya tidak 
menjanjikan apa-apa   tentang kedewasaan rohani seseorang. Ada orang yang sudah 
lama mengikut Tuhan dan hanya ada satu kemiripan dia dengan Yesus, yaitu "dia 
tidak pernah berubah". Mengapa ada orang yang begitu sering mendengar 
khotbah-khotbah yang baik tetap tinggal dalam keadaan yang sama, sementara ada 
orang-orang ,kemarin', anak-anak ingusan yang baru datang namun menyatakan 
pertumbuhan kerohanian yang pesat?  
  2.. Seseorang/saya sudah dewasa karena ia/saya memiliki banyak ,pengetahuan' 
Alkitab dan teologis. Pengetahuan tanda kutip selalu membahayakan, 
,pengetahuan-pengetahuan' sedemikian seringkali hanya menjadi aksesori rohani, 
dandanan rohani, untuk menutupi ketelanjangan kita yang sesungguhnya! Kecuali 
pengetahuan itu menjadi bagian hidup kita, pengetahuan itu hanya akan 
menjadikan kita dihakimi lebih berat oleh Tuhan. Lalu, apakah jika demikian 
halnya, lebih tidak banyak mengetahui, karena "ignorance is bliss"? (kutipan 
dari film Matrix) Tidak juga, sebab, jika orang yang banyak ,mengetahui' saja 
tidak menjamin seseorang berada dalam kedewasaan, apalagi mereka yang tidak 
mengetahui apa-apa! 
  3.. Saya dewasa karena saya banyak terlibat dalam pelayanan, saya ini orang 
sibuk lho! Kalau sibuk = dewasa, maka berarti setan pasti memiliki kedewasaan 
rohani yang tinggi sekali (sebab dia adalah salah satu yang paling sibuk di 
dunia ini)! Dan jangan salah, kesibukan dia bukan hanya di tempat-tempat 
pelacuran dan tempat-tempat perjudian, dia juga sibuk di gereja, sibuk menyanyi 
di koor dan memainkan musik (untuk menunjukkan kepada jemaat bagaimana 
'mengekspresikan' nyanyian dengan benar), sibuk menjalankan kantong kolekte 
(untuk melanjutkan kejayaan dinasti keluarga), dan bahkan sibuk berdiri di atas 
mimbar (mengajarkan Matius 29, Mazmur 152 dan terutama Wahyu 23 dst).           
             Jika Tuhan masih mau memakai kita, itu tidak menjamin bahwa ia 
pasti sudah berkenan atas seluruh hidup kita. Ia memakai kita hanya menyatakan 
kekayaan kasih karuniaNya yang besar atas orang-orang berdosa yang tidak layak 
seperti Saudara dan saya. Kebesaran kasih karuniaNya seharusnya mendorong kita 
untuk hidup semakin takut dan gentar karena Ia adalah Tuhan yang memberi 
pengampunan (Mzm 130:4).
  4.. Saya sudah dewasa karena saya memiliki karunia-karunia tertentu. Ini 
mirip dengan yang di atas. Menurut Paulus, ada kemungkinan jemaat bisa memiliki 
banyak karunia namun tetap berada dalam keadaan rohani yang kanak-kanak 
(seperti jemaat di Korintus). Bagi Paulus, karunia-karunia itu tidak menyatakan 
kedewasaan rohani seseorang. Yang menyatakan kedewasaan adalah bagaimana ia 
menggunakan karunia tersebut, untuk membangun dirinya sendiri, atau untuk 
membangun orang lain dan jemaat. 
  5.. Saya sudah dewasa karena saya mengenal dan memiliki akses kepada 
orang-orang yang rohaninya sangat baik. Saya pernah foto bareng dengan si itu, 
pernah dilukis selama 5 jam bersama misionaris anu, saya pernah ditumpang 
tangan oleh . Kalau kedekatan kita dengan orang-orang rohaninya baik menjadikan 
kita lebih kudus, maka duduk di sebelah tukang copet akan menjadikan kita 
pencopet. 
  6.. Seseorang/saya pasti sudah dewasa karena ia/saya menduduki posisi penting 
dalam gereja. Kita sudah pernah membahas bahwa posisi yang dilihat oleh Tuhan 
dalam Kerajaan Tuhan seringkali berbeda dengan posisi yang diciptakan oleh 
manusia dalam dunia yang sementara ini. Orang-orang Farisi adalah orang-orang 
yang berposisi, sementara nelayan-nelayan Galilea itu tidak memiliki posisi 
dalam institusi manusia. Seseorang yang tidak mengenal posisinya dengan benar 
dalam Kerajaan Tuhan akan cepat dibutakan dengan posisi yang kelihatan.  
  7.. Seseorang/saya sudah dewasa karena ia/saya banyak menasihati orang lain. 
Menasihati memang merupakan suatu karunia yang penting dalam jemaat Tuhan, 
namun ada juga semacam 'karunia' yang mungkin juga tidak kalah penting yaitu 
'karunia' berdiam diri dan mendoakan. Komunitas-komunitas kristen yang 
berlomba-lomba untuk menjadi kaum penasihat bagi sesamanya, akan menciptakan 
kedewasaan rohani yang artificial sifatnya. Ciri-ciri orang sedemikian adalah: 
ia lebih suka untuk memberikan nasihat daripada menerima nasihat. Kelemahannya 
yang terbesar adalah - seperti pemusik yang tidak bisa berhenti bermain dalam 
cerita Asterix - ia harus memainkan musik (baca: menasihati orang lain). 
Celakanya, orang justru merasa sangat tenteram dan terhibur justru ketika dia 
berhenti memainkan musik. Ya, inilah yang disebut terapi musik via negativa. 
  Kedewasaan rohani sama sekali tidak ditandai dengan kesanggupan kita bisa 
menjaga image rohani di hadapan sesama kita. Kehidupan sedemikian tidak akan 
menjadi berkat bagi orang lain, malah akan menakutkan orang lain karena yang 
dinasihati akan merasa dirinya begitu kecil dan keciiil dan keciiiiiiil sekali. 
Seolah-olah cerita kehidupan kristen adalah bagaimana menjadi Mr. and Mrs. 
Perfect. Pengejaran kedewasaan rohani yang seperti ini pasti akan sangat 
melelahkan dan menakutkan. Orang akan takut untuk menyatakan kelemahan dan 
kekurangannya (karena itu berarti dia bukan lagi Mr/Mrs Perfect). Orang yang 
membangun kedewasaan rohani dalam konsep seperti ini sesungguhnya sedang 
mengelabui orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. 

Alkitab sebaliknya ...   

Rev. Billy Kristanto

Reformed Evangelical Church of Indonesia 
= http://www.grii.de =         

For me to live is Christ, and to die is gain. If I am to live in the flesh, 
that means fruitful labor for me (Phil 1:21-22)
 
.
 ============================================
From: Billy Kristanto 
 
  
Spiritual Maturity (2)

Alkitab sebaliknya mengajarkan konsep yang berbeda dengan penilaian yang 
seringkali kita lakukan tanpa mengujinya kembali dengan kritis. Berikut ini 
beberapa karakteristik dari orang yang bertumbuh menuju kedewasaan rohani di 
dalam Kristus:
  1.. Semakin seseorang bertumbuh, semakin ia memiliki pengenalan diri yang 
semakin rendah. Dan ini bukan dalam pengertian basa-basi supaya orang 
menganggap dia rendah hati, melainkan dalam pengakuan diri yang setulusnya dan 
sejujurnya. Seorang yang bertumbuh mendekati kekudusan Tuhan akan semakin sadar 
bahwa di dalam dirinya begitu banyak kebobrokan dan kenajisan yang perlu 
diampuni oleh Tuhan. Seorang yang saleh, paradoxically akan menganggap dirinya 
sangat berdosa di hadapan Tuhan. Dan bukan hanya di hadapan Tuhan saja, 
pemahaman relasi vertikal ini menjadikan dia menempatkan diri sebagai yang 
terakhir dalam hubungannya dengan orang lain. Perhatikan teladan Paulus yang 
menyebut dirinya sebagai yang paling hina dari semua rasul. Dan dalam salah 
satu suratnya ia menyatakan bahwa di antara orang berdosa dialah yang paling 
berdosa (I Tim 1:15-16). Sebaliknya ciri khas ketidakdewasaan adalah selalu 
merasa diri lebih baik dan lebih benar daripada orang lain. 
  2.. Seorang yang bertumbuh menuju kedewasaan akan menjadi seseorang yang 
semakin rindu untuk diajar (makin teachable). Alangkah sulitnya prinsip ini 
kita hayati, khususnya dalam kebudayaan Timur yang sangat menekankan gengsi 
'senioritas'. Mungkin hampir semua kita pernah mengalami pengalaman yang tidak 
terlalu menyenangkan ketika kita di bangku sekolah mengajukan suatu pertanyaan 
yang tidak bisa dijawab oleh guru, dan instead of si guru mengatakan tidak 
tahu, yang terjadi adalah jawaban berputar2 yang membuat kita semakin bingung. 
Mengapa guru harus mengetahui segala sesuatu? Mengapa yang tua selalu tidak 
mungkin salah? Ini semua merupakan hasil kebudayaan manusia yang berdosa. 
Berapa banyak orang percaya yang pada mulanya memiliki kerinduan yang besar 
untuk diajar dan dididik oleh orang lain, setelah perjalanan hidupnya lambat 
laun, merasa sekaranglah saatnya dia berhenti belajar dan mulai mengajar (baca: 
menggurui) orang lain. 'Senioritas syndrom' ini adalah salah satu penghancur 
paling ampuh untuk seseorang bisa terus bertumbuh dan mencapai kedewasaan yang 
sesungguhnya. Petrus mengajarkan agar kita menjadi sama seperti bayi yang baru 
lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya 
olehnya kita bertumbuh dan beroleh keselamatan (I Pet 2:2). Semakin seseorang 
dewasa dia tidak berubah dari seorang murid menjadi seorang guru besar, 
melainkan semakin menjadi murid yang terus mau dididik dan dikoreksi oleh 
kebenaran Firman Tuhan. 
  3.. Seorang yang menjadi dewasa akan lebih mencari perkenanan serta pujian 
dan penilaian Tuhan daripada manusia. Salah satu ciri kekanak-kanakan adalah 
diombang-ambingkan oleh perkataan/penilaian manusia. Jika seseorang memuji 
kita, kita senang luar biasa, jika orang lain memberi kritik dan teguran pada 
kita, kita sakit hati dan sangat tersinggung. Inilah sifat kanak-kanak yang 
harus kita tinggalkan. Seorang yang dewasa, ketika mendapat pujian dari orang 
lain tidak akan menjadi lupa diri, melainkan menerimanya dengan sikap hati 
introspeksi di hadapan Tuhan, apa pujian itu tepat dan tidak terlalu tinggi 
dibanding kenyataan yang sesungguhnya, dan kalaupun tepat diberikan pada 
waktunya, ia akan menerima pujian itu sebagai dorongan untuk semakin berbuah 
dalam Tuhan. Sebaliknya setiap kritik yang dia terima akan membawa dia untuk 
menguji diri sekali lagi di hadapan Tuhan, sebab jangan-jangan itu adalah 
teguran yang dari Tuhan melalui orang lain bagi dirinya. Seorang yang bertumbuh 
semakin dewasa akan semakin mencari wajah Tuhan. Ia tidak takut dan 
dikendalikan oleh penilaian manusia yang hari ini memuji dan besok 
mencaci-maki. Ia melampaui penilaian serta penghakiman manusia, bukan karena ia 
lebih baik daripada orang lain/ sesamanya, melainkan karena ia mengerti bahwa 
hanya Tuhanlah yang Mahatahu dan bahwa kemahatahuan Tuhan itu cukup baginya. 
  4.. Seseorang yang bertumbuh dewasa akan menjadi seseorang yang diubahkan 
karakternya menjadi semakin serupa Kristus. Ia akan menjadi seorang yang 
semakin rendah hati seperti Kristus, semakin lemah lembut seperti Kristus, 
semakin sabar seperti Kristus, semakin berani menegur dosa dan tidak berusaha 
menyenangkan manusia seperti Kristus, memiliki ketekunan yang seperti Kristus 
etc. Perubahan karakter ini tidak mungkin bisa dipalsukan oleh iblis. 
Ukuran-ukuran yang lain seperti semakin sibuk dalam pelayanan, memiliki 
pengalaman-pengalaman rohani yang spektakuler, memiliki pengetahuan teologis 
yang semakin membengkak, memberi amal dan sedekah semakin banyak, semuanya bisa 
dipalsukan, karena pada dasarnya semua hal di atas adalah fenomena-fenomena 
yang dapat diciptakan oleh manusia yang berdosa. Akan tetapi karakter yang 
semakin menyerupai Kristus tidak dapat dihasilkan oleh kebudayaan manusia yang 
paling tinggi sekalipun, kecuali Roh Kudus mengubahkan orang tersebut menjadi 
manusia kristen yang semakin dikuduskan dalam Firman Tuhan. 
  5.. Seseoran g yang dewasa rohani akan lebih peka terhadap kesalahan dan 
kekurangannya sendiri, lebih daripada kesalahan orang lain. Terhadap kelemahan 
diri ia berlaku keras dan tegas, terhadap kekurangan orang lain ia menutupi dan 
panjang sabar. Bandingkan dengan apa yang terjadi dalam kejatuhan manusia dalam 
dosa yang dicatat dalam Kej 3. Di situ terjadi manusia mempersalahkan manusia 
yang lain. Instead of sadar akan tanggungjawab dan pelanggarannya sendiri, ia 
melempar tanggungjawab dan kesalahan pada sesamanya, bahkan orang yang tadinya 
paling dekat dengan dia. Orang-orang yang tidak dewasa selalu cuci tangan dan 
mau tampil bersih ketika kekacauan terjadi, ia adalah tipe play safe, tidak mau 
memikul tanggungjawab khususnya ketika kesalahan dan kegagalan terjadi. Orang 
seperti ini tidak mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik karena ia lebih 
suka untuk menyelamatkan mukanya sendiri daripada mengejar kebenaran dan 
kekudusan. Sebaliknya ketika ia bertumbuh, ia menjadi seorang yang sangat peka 
terhadap kekurangannya sendiri, dan dalam anugerah Tuhan ia akan menjadi orang 
yang penuh dengan belas kasihan terhadap orang lain, karena ia tahu bahwa orang 
lain, sama seperti dia, juga sedang bergumul untuk meninggalkan kehidupan yang 
berdosa. 
  6.. Seseorang yang dewasa tidak dinilai dari berapa panjang waktu (kuantitas) 
dia sudah menjadi kristen, melainkan apakah dia menangkap momen-momen di mana 
Tuhan berbicara secara pribadi dalam hidupnya (kualitas). Berapa banyak orang 
yang sudah lama menjadi kristen namun tetap tidak menyatakan perubahan karakter 
di dalam dirinya? Apakah karena tidak berkesempatan mendengar khotbah yang 
baik? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Persoalannya memang bukan di situ, 
melainkan pada sikap hatinya ketika mendengar dan membaca Firman Tuhan. Ada 
orang-orang yang pertumbuhannya begitu pesat, bukan karena mereka lebih pandai 
daripada banyak rekan-rekannya, melainkan sekali lagi, karena mereka menyerap 
dengan cepat apa yang Tuhan nyatakan dan ajarkan dalam hidup mereka. Meminjam 
metafor yang sering digunakan oleh seorang pengkhotbah, mereka laksana spons 
yang selalu siap untuk menyedot semua yang bisa dipelajari yang dianugerahkan 
Tuhan dalam hidup mereka. 
  7.. Seorang yang dewasa dalam Kristus akan semakin melihat keunikan serta 
keindahan yang Tuhan berikan dalam setiap anggota tubuh Kristus, dengan 
demikian menciptakan atmosfer pelayanan yang saling melengkapi (komplementer) 
instead of kompetitif. Mereka yang masih dalam spirit persaingan, mau 
membuktikan diri lebih baik dan lebih unik, lebih penting dan lebih berguna 
daripada orang lain sesungguhnya masih kekanak-kanakan. Bahkan mereka yang suka 
menilai si anu lebih hebat dari si itu, sikap yang mengkompetisikan orang lain 
juga merupakan sifat yang tidak dewasa. Kedewasaan dalam Kristus melihat tidak 
ada anggota tubuh yang begitu penting sehingga kalau dia tidak ada seluruh 
pekerjaan Tuhan akan hancur. Sebaliknya juga tidak ada anggota tubuh yang sama 
sekali tidak penting sehingga dia boleh ada boleh tidak. Setiap anggota tubuh 
memiliki keindahan dan keunikan fungsi dan porsinya masing-masing dalam 
kedaulatan Tuhan. Kedaulatan Tuhan inilah yang mengajar setiap orang percaya 
untuk tidak melihat pada kebesaran atau kelemahan manusia dan 
membanding-bandingkan dengan yang lainnya atau dengan dirinya sendiri, 
melainkan pada kemuliaan serta kebesaran Kristus sebagaimana dinyatakan dalam 
relasi anggota tubuh yang bersifat organis. Dengan demikian setiap orang 
percaya adalah anggota yang signifikan, bukan karena ia menduduki tempat 
sentral atau mendapat porsi yang lebih besar dibanding yang lain, melainkan 
karena ia telah mengisi posisi yang benar dalam puzzle Kerajaan Tuhan.      
Kiranya Tuhan sumber segala pertumbuhan yang sejati, menolong kita untuk 
meninggalkan sifat kanak-kanak kita dan bertumbuh menjadi seorang yang semakin 
dewasa di dalam Dia. Sola Gratia, Soli Deo Gloria. 
  
Rev. Billy Kristanto


Reformed Evangelical Church of Indonesia 
= http://www.grii.de =         

For me to live is Christ, and to die is gain. If I am to live in the flesh, 
that means fruitful labor for me (Phil 1:21-22).
 

 

Attachment: nc3=3848570
Description: Binary data

Attachment: nc3=3848570.dat
Description: Binary data

Kirim email ke