From: rm_maryo 

Pesta Keluarga Kudus 07: 
1Sam 1:20-22.24-28; 1Yoh 3:1-2.21-24; Luk 2:41-52
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin 
dikasihi oleh Tuhan dan manusia"

"Karena seturut Rencana Tuhan keluarga telah ditetapkan sebagai `persekutuan 
mesra kehidupan dan cintakasih', maka keluarga mengemban misi untuk makin 
mencapai jatidirinya; yakni: suatu persekutuan kehidupan dan cintakasih, 
melalui usaha - seperti segala sesuatu yang diciptakan dan ditebus - akan 
mencapai pemenuhannya dalam Kerajaan Tuhan. Sambil merefleksikan itu hingga 
pada urat-akarnya, kita harus mengatakan, bahwa hakekat dan peranan keluarga 
pada intinya dikonkretkan oleh cinta kasih. Oleh karena itu keluarga mengemban 
misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih. Dan cintakasih 
itu merupakan pantulan hidup serta 
partisipasi nyata dalam cintakasih Tuhan terhadap umat manusia, begitu pula 
cintakasih Kristus Tuhan terhadap Gereja MempelaiNya.
Setiap tugas khusus keluarga menjadi ungkapan dan realisasi konkret perutusan 
yang mendasar itu. Maka kita wajib menggali kekayaan istimewa misi keluarga 
serta mendalami isinya, yang beraneka- ragam dan sekaligus terpadu.

Begitulah bertolak pada cintakasih dan dengan selalu merujuk kepadanya, Sinode 
terakhir menekankan empat tugas umum bagi keluarga:
1) membentuk persekutuan pribadi-pribadi
2) mengabdi kepada kehidupan
3) ikut serta dalam pengembangan masyarakat
4) berperanserta dalam kehidupan dan misi Gereja"
(Paus Yohanes Paulus II:Anjuran Apostolik "Familiaris Consortio"/Keluarga, 22 
November 1981 no 17) 

"Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan 
mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus 
makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin 
dikasihi oleh Tuhan dan manusia" (Luk 2:51-52)

Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. 
Kiranya semua orangtua mendambakan agar anak-anak tumbuh berkembang seperti 
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin 
dikasihi oleh Tuhan dan manusia". Jika menghendaki dambaan itu menjadi 
kenyataan hendaknya orang tua sungguh mengasuh dan mendidik anak-anaknya. 
Karena orngtua atau keluarga mendasari pendidikan dan perkembangan serta 
pertumbuhan anak, maka hemat saya tiga hal/bidang ini penting diperhatikan di 
dalam keluarga, yaitu: gizi, pendidikan dan iman atau keyakinan:
1. Gizi. Makanan utama bagi bayi yang baru lahir adalah `air susu ibu' alias 
ASI. ASI begitu unggul dan bermanfaat bagi bayi. "Keunggulan dan manfaat 
menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, 
aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan 
kehamilan". 
Hendaknya bayi atau anak disusui oleh ibunya paling tidak selama satu tahun 
Ketika anak/bayi mulai diperkenalkan dan diperkenankan untuk menyantap dan 
menikmati jenis makanan lainnya hendaknya diikuti dan dihayati motto `empat 
sehat lima sempurna': nasi/tepung/ jagung dll, sayuran, daging, susu dan buah, 
dengan keragaman sebanyak mungkin sesuai dengan jenis makanan yang ada di 
lingkungan 
atau masyarakat. Jauhkan anak kemudian hanya makan dan minum sesuai dengan 
selera sendiri, melainkan harus sesuai dengan tuntutan kesehatan tubuh. Dalam 
tubuh yang sehat diharapkan jiwa yang sehat pula.

2 Pendidikan. Salah satu cirikhas pendidikan adalah pembiasaan, hendaknya 
kepada anak dibiasakan hidup dan bertindak dengan baik atau berbudi pekerti 
luhur. Nilai-nilai seperti " kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri 
dan potensi, disiplin diri 
dan tahu batas, kemurnian dan kesucian, setia dan dapat dipercaya, hormat, 
kasih sayang, peka dan tidak egois, baik hati dan ramah, adil dan murah hati" 
(Linda & Richard Eyre: Mengajarkan nilai-nilai kepada Anak, Gramedia Pustaka 
Utama, Jakarta 1997), hendaknya dilatihkan dan dibiasakan sedini mungkin bagi 
anak-anak di dalam 
keluarga. 

3 Iman atau keyakinan. 
Hal ini kiranya secara konkret terkait dengan kehidupan beragama, maka entah 
pengetahuan maupun penghayatan hidup beragama sedini mungkin diperkenalkan dan 
dilatihkan kepada anak-anak, misalnya berdoa, kebiasaan hidup beragama, 
pengetahuan-pengetahuan dasar tentang agama dst.. Tentu saja orangtua sendiri 
sungguh beragama dan beriman, meneladan Bunda Maria yang 
senantiasa "mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan di dalam hatinya".
Ketiga hal atau bidang di atas butuh keteladanan dan kesaksian orangtua, tanpa 
teladan dari orangtua aneka bentuk nasehat atau informasi yang disampaikan atau 
dididikkan kepada anak tidak berdampak apapun alias mubazir. 

"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka 
kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Tuhan, dan apa saja yang kita 
minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala 
perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya 
itu: supaya kita 
percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi 
sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita" (1Yoh 3:21-23) 

Peringatan Yohanes ini rasanya baik kita renungkan: kita diingatkan untuk tidak 
menuduh diri kita sendiri agar mempunyai keberanian untuk mendekati Tuhan serta 
menuruti segala perintahNya dan saling mengasihi. Tidak menuduh diri kita 
berarti tidak menjadi minder atau takut, melainkan tetap tegar dan berani. 
Ingat masing-masing dari 
kita telah menang dalam perlombaan, mengalahkan jutaan sperma untuk merebut 
satu telor (dua puluh juta sperma hanya satu sperma yang bersatu dengan telor, 
dan jadilah kita saat ini). Baiklah kita berani berkata seperti Bapak Andrie 
Wongso, promotor Indonesia, yang berkata "Success is my life", "Jati diri kita 
adalah sama-sama 
manusia! Tidak ada alas an untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan 
orang lain. Jika orang lain bisa sukses, kita pun bisa sukses" Tentu saja 
ketika kita sukses tidak menjadi sombong, melainkan tetap rendah hati. 

Kusuksesan yang diharapkan di sini adalah dalam mendekati Tuhan alias semakin 
dekat dan bersahabat dengan Tuhan, menuruti segala perintahNya dan saling 
mengasihi dalam hidup bersama. Itulah kesuksesan yang terjadi dalam Keluarga 
Kudus Nasaret: Yosef, Maria dan Yesus, sehingga kanak-kanak Yesus "makin 
bertambah besar dan 
bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Tuhan dan manusia" 
Maka kami berharap para suami-isteri, yang telah berjanji dihadapan Tuhan dan 
sesamanya untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang sampai mati serta 
mendidik anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka, setia dalam saling 
mengasihi serta mendidik anak-anaknya. Kesuksesan suami-isteri dalam saling 
mengasihi dan mendidik anak-anaknya akan menjadi warta gembira dan kekuatan 
atau modal untuk membangun dan memperdalam hidup bersama: hidup menggereja, 
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga Keluarga Kudus Nasaret, dimana 
Tuhan, Penyelamat Dunia senantiasa ada bersama Yosep dan Maria menjadi teladan 
hidup berkeluarga, hidup para suami-isteri. Marilah kita percaya bahwa kita 
dapat setia 
menghayati panggilan dan janji sampai mati, meskipun untuk itu kita tidak akan 
terlepas dari tantangan dan hambatan. Penyelamat Dunia telah hadiir di 
tengah-tengah kita, Emanuel, Tuhan beserta kita.

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur 
karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai 
kepada Tuhan yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang 
terus-menerus memuji-muji Engkau. 
Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat 
mengadakan ziarah" (Mzm 84:2-3.5-6) 

Jakarta, 30 Desember 2007
=============================================
From: rm_maryo 

"Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya"
(1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18)

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf 
dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah 
ke Mesir dan tinggTuhan di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes 
akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya 
Anak itu serta 
ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga 
Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 
"Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah 
diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh 
membunuh semua anak di 
Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, 
sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan 
demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah 
suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya 
dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."(Mat 2:13-18), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Kanak-kanak 
Suci, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
. Salah satu kelemahan atau kekurangan orang yang cukup memprihatinkan adalah 
`takut'. Anak-anak, orang kecil atau rakyat yang takut pada umumnya lalu 
bersembunyi atau mengurung diri, sedangkan jika yang menjadi penakut adalah 
petinggi/ pejabat/ pemimpin atau atasan rasanya dampaknya lebih memprihatinkan. 
Cukup banyak 
petinggi/pejabat/pemimpin atau atasan takut jika tergeser dari kedudukan atau 
jabatan nya, maka ketika mereka sedang berkuasa membuat kebijakan-kebijakan 
untuk melindungi jabatan atau kedudukannya, meskipun untuk itu harus 
mengorbankan rakyat atau anak-anak. Begitulah yang terjadi dengan Herodes, yang 
gila harta, 
kuasa/kedudukan/jabatan dan hormat, membabi buta dengan membunuh `semua anak di 
Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun kebawah', 
karena mendengar akan muncul seorang pimimpin baru yang sedang lahir. Anak-anak 
yang tidak tahu apa-apa menjadi korban kekerasan dan keserakahan pemimpin yang 
gila 
harta, jabatan/kedudukan dan hormat. Anak-anak adalah masa depan kita, masa 
depan bangsa dan Gereja, maka baiklah pada pesta Kanak-kanak Suci, martir, hari 
ini saya mengajak anda sekalian untuk lebih memperhatikan anak-anak: gizi, 
pendidikan dan keimanan atau keyakinannya. Salah satu tanda keberhasilan 
orangtua, pemimpin atau 
atasan antara lain anak-anak atau rakyat/bawahan akan menjadi lebih baik, suci, 
cerdas dan terampil dari orangtua, pemimpin atau atasan. 
Tidak memperhatikan anak-anak atau generasi muda berarti bunuh diri bersama 
perlahan-lahan. Kepada para pejabat atau petinggi pemerintahan maupun orang 
kaya/pengusaha saya mengajak untuk memberi perhatian terhadap gizi, pendidikan 
dan keimanan anak-anak atau generasi muda, mengalokasikan dana dan tenaga yang 
memadai untuk bidang pendidikan anak-anak dan generasi muda. 
. "Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, 
tetapi juga untuk dosa seluruh dunia" (1Yoh 2:2) . Kita semua adalah 
orang-orang berdosa, tambah usia dan pengalaman berarti tambah dosa, maka 
Yohanes juga berani 
berkata :"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri 
kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.Jika kita mengaku dosa kita, 
maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan 
menyucikan kita dari segala kejahatan"(1Yoh 1:8-9). Marilah kita akui dan 
hayati kedosaan dan 
kelemahan serta kerapuhan kita masing-masing serta membuka diri terhadap 
penyelenggaraan Ilahi, terhadap mereka yang lebih suci. 
Anak-anak atau generasi muda kiranya lebih suci dari pada orangtua atau orang 
dewasa, maka sebagai orangtua atau orang dewasa kita harus terbuka kepada 
anak-anak dan generasi muda. Keterbukaan ini antara lain kita wujudkan dengan 
memberi kemungkinan dan kesempatan seluas dan sebaik mungkin kepada anak-anak 
dan generasi muda demi pertumbuhan dan perkembangan mereka untuk menjadi 
pribadi yang cerdas beriman. Biarlah anak-anak atau generasi muda di kemudian 
hari berpartisipasi dalam karya Yesus, `pendamaian untuk segala dosa kita, dan 
bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia'. Kita didik, 
bina dan dampingi anak-anak dan generasi muda untuk tumbuh berkembang menjadi 
`man or woman for/ with others', pribadi-pribadi yang fungsional untuk 
keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan lingkungan hidupnya. "Biarkan 
anak-anak itu 
datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang 
seperti itulah yang empunya Kerajaan Tuhan."(Mrk 10:14)

"Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan 
kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka 
menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai 
telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita 
air yang meluap-luap itu" 
(Mzm 124:2-5)

Jakarta, 28 Desember 2007

Kirim email ke