From: [EMAIL PROTECTED] 

KALEIDOSCOPE 2007

Hari-hari sudah bisa dihitung dengan jari dimana lembaran tahun 2007 akan 
ditutup dan diganti lembaran baru tahun 2008. Memasuki akhir tahun 2007 
biasanya kita mendengar di TV/Radio maupun membaca Koran tentang Kaleidoscope 
2007 sebagai kilas balik sepanjang tahun yang segera akan berlalu. Ada apa 
dengan Kaleidoscope sekitar pribadi Yesus Kristus?

Pada 26 Februari 2007, di New York diadakan konperensi pers yang mempopulerkan 
penemuan makam Talpiot dimana dianggap tempat Yesus dikuburkan. Konperensi pers 
ini langsung mendapat sorotan mass-media di seluruh dunia, soalnya disitu 
dipamerkan osuari tulang-tulang yang dianggap milik Yesus, Maria Magdalena, 
Maria, Yudah dan Matius yang dianggap sebagai bukti ditemukan kuburan keluarga 
Yesus. Lebih meluas lagi ketika Discovery Channel memutar film The Lost Tomb of 
Jesus pada tanggal 4 Maret 2007, sehingga menjadi tayangan yang mengglobal, 
apalagi film itu disutradarai James Cameron dan Simcha Jacobovici yang telah 
menerima berbagai piagam perfilman. Simcha Jacobovici yang Yahudi yang dalam 
film itu berambisi untuk membela praduga-tak-bersalahnya Mahkamah Yahudi dengan 
membuktikan bahwa benar mayat Yesus dicuri para murid dan dipindahkan . ke 
makam Talpiot!
Bagai gayung bersambut, sehari sebelum Jumat Agung pra-Paskah, pada tanggal 5 
April 2007, Ioanes Rakhmat, doktor yang dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, 
menulis di harian Kompas artikel yang isinya mengaminkan dan mempromosikan film 
yang kontroversial itu. Namun tokoh  Jesus Seminar di Indonesia yang 
bertahun-tahun dengan gigih mempromosikan kematian Yesus yang sempat 
dianalogikan oleh GKI Sinwil Jabar sebagai Galileo Galilee itu, ternyata hanya 
dalam empat bulan saja, pada bulan Agustus 2007, menarik kesimpulannya tentang 
kebangkitan Yesus yang dianggapnya sebelumnya sebagai metaforis itu, dan pada 
bulan yang sama Sinode GKI memperingatkan pendetanya itu secara terbuka pula.
Ternyata film yang mempopulerkan Yesus tidak bangkit dan ditemukan kuburnya di 
Talpiot itu, mendekati akhir tahun 2007 sudah dilupakan kebanyakan orang. 
Bahkan, ketika mengunjungi kota Toronto di bulan September 2007, penulis 
menjumpai kenyataan bahwa di Toronto sendiri, dimana penelitian statistik untuk 
mendukung kebenaran kuburan Yesus dilakukan, banyak orang yang ditanya malah 
tidak tahu menahu soal kuburan Yesus yang dianggap ditemukan di Talpiot itu. 
Ini menunjukkan bahwa promosi mass-media belum tentu mewakili pengetahuan 
masyarakat umum.
Sekalipun film 'Talpiot' sudah sirna gemanya, semangat menggugat Yesus terus 
terjadi di tahun 2007, dan pada bulan Desember 2007, di Amerika Serikat kembali 
ditayangkan film 'The Golden Compass' yang merupakan buah agenda atheisme. 
Biasanya buku dan film-film yang menggugat agama Kristen 
diterbitkan/ditayangkan sekitar hari Paskah (April) dan Natal (Desember).

Membaca ratusan buku yang berkisar gugatan terhadap Yesus Kristus, kita dapat 
melihat bahwa gugatan itu bukan saja dilontarkan dalam setahun terakhir, tetapi 
sudah dua ratus tahun lebih gugatan itu bertubi-tubi ditujukan kepada Yesus dan 
selama itu gugatan-gugatan itu digantikan oleh gugatan-gugatan baru dan sejauh 
ini belum ada yang mampu meruntuhkan kebenaran isi berita Alkitab. Ini dengan 
tepat diucapkan oleh Hans Kung bahwa: "Debat Kristologi yang timbul sejak 
munculnya zaman modern belum juga terpecahkan."
Deretan gugatan-gugatan itu bisa kita amati dalam 20 tahun terakhir, dimana 
mulai banyak buku-buku dan film dilontarkan langsung ke publik dan tidak hanya 
beredar di kalangan ahli-ahli teologi seperti yang terjadi sebelumnya. Pada 
awal tahun 1980-an terbit buku 'The Holy Blood Holy Grail' dengan serialnya 
'The Messianic Legacy' namun kritik dari banyak ahli teologi terhadap dasar 
yang digunakan penulis buku itu menyebabkan buku-buku itu kemudian dilupakan 
orang.

Pada tahun 1985 lahir Jesus Seminar yang begitu menggebu-gebu ingin menjadikan 
Kitab-kitab Injil sebagai dongeng tetapi menjadikan Injil (gnostik) Thomas 
sebagai Injil yang benar. Menarik menyaksikan gugatan John Dominic Crossan 
salah satu pendiri Jesus Seminar yang semula dalam bukunya yang tebal-tebal 
berteori mengenai kemungkinan Yesus tidak dikubur tetapi mayatnya dimakan 
anjing-anjing, ternyata di tahun 2007 begitu saja mendukung hipotesa makam 
Talpiot dimana dianggap 'Yesus mati tenang-tenang dan dikuburkan dengan damai 
di makam Talpiot dan tulang-tulangnya dengan aman bisa disimpan dalam salah 
satu osuari yang ditemukan di makam itu.'

Pada tahun 1988 dibuat film 'The Last Temptation of Christ' yang menggambarkan 
pergumulan nafsu dan iman Yesus dimana sebelum mati di kayu salib ia 
membayangkan kawin dengan Maria Magdalena si pelacur, menikahi Maria saudara 
Marta setelah Magdalena meninggal, dan berselingkuh dengan Marta saudara Maria. 
Lalu digambarkan Yesus memiliki beberapa anak.

Dasawarsa tahun 1990-an kelihatannya sepi film dan buku yang menggugat Yesus, 
namun memasuki milenium ke-3, di tahun 2003 ditulis buku yang kemudian 
difilmkan berjudul 'The Da Vinci Code' yang mengangkat kembali Injil-Injil 
Gnostik dimana disebutkan Maria Magdalena dikawini Yesus dan keturunannya 
tinggal di Inggeris. Buku itu meledak luar biasa bahkan diterjemahkan ke dalam 
banyak bahasa termasuk Indonesia. Buku itu segera menjadi isu terpopuler yang 
ikut mengangkat kembali buku bertema sama yang ditulis dua puluh tahun 
sebelumnya yaitu 'Holy Blood Holy Grail.' 
Pada bulan April tahun 2006 'Injil Gnostik Yudas' meramaikan pentas dunia buku 
dimana berita tradisional yang menganggap Yudas menghianati Yesus gurunya 
sekarang diputar-balik menjadi 'Yesuslah yang menyuruh Yudas menyerahkan 
dirinya agar Yesus selamat lepas dari ragawinya!' dan pada tahun itupula terbit 
buku 'The Jesus Dinastiy' yang meneruskan fitnah Celsus bahwa Yesus itu anak 
tentara Romawi bernama Panthera! Setahun kemudian isu 'Talpiot' mencuat, namun 
baik buku maupun film itu kemudian dilupakan orang dan tidak mengganggu 
sukacita umat Kristen dalam menyambut perayaan Natal di penghujung tahun 2007.

Apa yang bisa kita pelajari dari Kaleidoscope 2007 dengan kasus 'Talpiot'nya 
itu? 

Pertama, banyaknya buku-buku dan film yang menggugat Yesus perlu mendorong umat 
Kristen untuk banyak membaca terutama karya-karya penulis-penulis Kristen 
Konservatif, agar imannya diteguhkan dengan bacaan-bacaan pengimbang yang 
konstruktif;

Kedua, umat Kristen jangan cepat panik dan reaktif bila ada buku/film baru yang 
menggugat Yesus secara destruktif, sejarah sudah membuktikan bahwa dalam 200 
tahun terakhir belum ada gugatan serius yang seragam dan selalu tumbuh gugatan 
baru dengan teori mereka yang baru;

Ketiga, kesabaran tidak harus membuat umat Kristen acuh-tak-acuh terhadap 
gugatan-gugatan yang timbul, tetapi kesabaran perlu ditunjukkan sambil menunggu 
bila memang ada buku-buku yang mencuat populer secara luar biasa seperti 'The 
Da Vinci Code' maupun 'The Lost Tomb of Jesus,' barulah diperlukan buku-buku 
tanggapan yang meneguhkan iman umat percaya dan menunjukkan kelemahan gugatan 
tersebut. 

Penulis di awal Desember 2007 diminta untuk membahas dalam seminar tentang film 
'The Golden Compass' yang dirilis ke layar lebar tanggal 7 Desember 2007 di USA 
itu. Sekalipun sudah puluhan halaman berita pro-kontra tentang karya Philip 
Pullman itu di print-out dari internet dan dipelajari dan DVD film itu sudah 
dimiliki, penulis menjawab agar tidak perlu menanggapi film itu secara 
tergesa-gesa, karena jangan-jangan maksud hati ingin menolak film itu, tetapi 
bila dilakukan dengan gegabah, bisa-bisa malah ikut mempopulerkan film itu bak 
membangunkan ular tidur. Karena itu penulis menunggu untuk ikut serta 
membahasnya bila film itu ternyata mencuat secara luas di kalangan masyarakat 
umum seperti yang sudah terjadi dengan buku/film 'The Da Vinci Code,' dan film 
'The Lost Tomb of Jesus' yang dipopulerkan melalui Discovery Channel yang 
dikenal umum secara global.

Fakta sudah menunjukkan bahwa film-film yang menggugat Yesus Kristus lebih 
merupakan sensasi sesaat demi popularitas, uang dan semangat anti-Kristus, 
karena itu marilah di akhir tahun 2007 ini kita merayakan hari Natal dengan 
sukacaita bahwa dua milenium yang lalu di Betlehem lahir Yesus yang menjadi 
juruselamat (Kristus) bagi umat manusia, dan kasih Yesus Kristus perlu kita 
beritakan kepada mereka-mereka yang selama ini belum merasakan sejahtera Tuhan 
dalam hati mereka dan terobsesi untuk terus-menerus menyalibkan Yesus, namun 
karena Yesus sudah bangkit, maka penyaliban yang berulang-ulang sampai 
menghabiskan paku itu tidak ada gunanya karena 'Ia sudah Bangkit dan akan 
datang kembali.' 
Kiranya damai sejahtera Yesus Kristus menyertai kita di harian Natal 2007 ini. 
Amin !

Salam kasih dari Herlianto 
=============================================
From: Antonius Steven Un 

Kompas Jawa Timur, 26 Desember 2007
NATAL YANG MEMANUSIAKAN 
Antonius  Steven Un 

Telah menjadi paradigma dalam Teologi Kristen bahwa Natal merupakan momen 
rehumanisasi. Hal ini setidaknya terbukti dari beberapa hal, khususnya dalam 
cara pemaparan Injil Matius. Ketika menuliskan Injilnya, Matius memulai dengan 
menuliskan silsilah (Matius 1:1-17), sesuatu yang merupakan tradisi kuat Yahudi 
dalam penulisan
biografi.  Silsilah berfungsi untuk membuktikan kemurnian keyahudian seorang 
tokoh. 
Hal ini menyebabkan silsilah harus imun dari tiga unsure yakni nama wanita, 
orang asing dan orang berdosa. Eksistensi wanita dianggap cela sehingga setiap 
pagi seorang pria Yahudi bersyukur karena ia dilahirkan pria dan bukan wanita.

            Namun, ketika Matius menuliskan silsilah, ia sengaja memasukan nama 
wanita yakni Tamar (ayat 3), Rahab dan Rut (ayat 5) dan istri Uria (ayat 6). 
Matius juga memasukan nama orang asing seperi Rut yang berasal dari Moab dan 
perempuan berdosa yakni Rahab yang adalah pelacur. 

Mengapa Matius sengaja memasukan ketiga unsur 'haram' ke dalam silsilah suci 
sang Mesias? Karena Matius ingin menegaskan bahwa Yesus Kristus yang adalah 
Tuhan dan Juruselamat itu merupakan sahabat yang mengasihi kaum tertindas yakni 
wanita, orang berdosa dan orang asing. 

Apa yang dilakukan Yesus Kristus dalam pandangan Injil Matius bertolak belakang 
dengan apa yang terjadi kini yakni dehumanisasi melalui komersialisasi air mata 
rakyat bagi kepentingan profit financial sekelompok orang. Setidaknya, terdapat 
dua model komersialisasi terkait dengan air mata derita rakyat. 

Model pertama yang lazim berlaku adalah komersialisasi bencana. Kita 
memanfaatkan data dan gambar bencana alam untuk menggalang dana padahal 
pemanfaatannya tanpa control dan audit yang jelas. Terdapat adagium di antara 
para pelaku komersialisasi bencana, "bencana hanya beberapa detik tetapi berkah 
datang bertahun-tahun". 

Model kedua adalah komersialisasi kemiskinan. Negara kita yang sarat penduduk 
miskin dimanfaatkan oleh oknum-oknum berhati jahat untuk mencari keuntungan 
sebanyak-banyaknya dari pribadi dan lembaga donor, baik domestic maupun asing. 
Memanfaatkan kondisi ini, banyak organisasi termasuk lembaga swadaya masyarakat 
dengan kreatif nan cerdik menciptakan data, yang bahkan banyak di antaranya 
fiktif, untuk menggerakan derwaman menyumbangkan jutaan hingga miliaran rupiah.

Rehumanisasi
Inkarnasi Yesus Kristus di Betlehem merupakan peristiwa kehadiran Tuhan dalam 
rupa manusia. Itu sebabnya, Yesus Kristus yang lahir dianggap sebagai imago Dei 
(citra Tuhan) yang sempurna. Hal ini nyata dalam Kolose 1:15 dan Ibrani 1:3. 
Karena itu perlakuan kejam raja Herodes Agung yang amat tidak agung dalam upaya 
membunuh Yesus dan memusnahkan bayi-bayi berus! ia di bawah Dua tahun di 
Betlehem (Matius 2:13-18) merupakan suatu dehumanisasi, penghinaan kepada Yesus 
sebagai imago Dei yang sempurna. 

Tuntutan apresiasi demikian bukan hanya pada bayi Yesus yang lahir di
Betlehem tetapi terhadap semua manusia. Basis apresiasi itu  adalah sakralisasi 
manusia sebagai individu yang menerima lekatan nilai intrinsic pada waktu 
dicipta oleh Sang Khalik. Nilai intrinsic tersebut didasarkan atas konsepsi 
Imago Dei, manusia dicipta sebagai citra Tuhan. 
Menurut teolog Anthony A. Hoekema, sebagai imago Dei,  manusia memiliki dua 
fungsi yakni fungsi refleksi dan fungsi representasi (Created in God's Image, 
1986). Fungsi refleksi menandakan bahwa manusia mirip Tuhan di dalam sense of 
spirituality, sense of creativity, sense of rationality, sense of community  
dan seterusnya. Sedangkan fungsi representasi menandakan bahwa manusia, 
bagaikan duta besar, bersifat mewakili Tuhan di dalam pengelolaan terhadap alam 
semesta. 

Fungsi ini tidak boleh dibaca sebagai legitimasi terhadap eksploitasi alam, 
sebagaimana tudingan Lynn White terhadap Antroposentrisme (1967), karena 
sebagai imago Dei, manusia tidak didorong untuk mengeksploitasi tetapi 
melakukan "cultivate" (culture, budi daya) terhadap alam semesta. Berarti, 
seharusnya di tangan manusia sebagai imago Dei,  alam semesta bukan saja 
bertahan tetapi berkembang. 
 
Kompleks superioritas 
Sebagai konsekuensi terhadap konsepsi imago Dei, manusia harus ditempatkan 
secara order, tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Apresiasi terlalu 
tinggi menyebabkan kompleks superioritas, suatu bentuk penyimpangan  terhadap 
manusia yang sama parahnya dengan apresiasi terlalu rendah.   
Selain itu, konsepsi ini juga mengindikasikan bahwa status ini bersifat melekat 
sehingga, sebagaimana ditegaskan filsuf-teolog John Calvin (1509-1564), 
sekalipun seluruh aspek hidup manusia sudah terinfeksi oleh dosa dan ciri khas 
sebagai imago Dei telah kabur, tetapi karena status yang disandangnya sebagai 
citra Tuhan, manusia harus dihargai sepatutnya (1559). 

Implikasi lain adalah, apresiasi terhadap manusia juga harus bersifat utuh baik 
terhadap personalitasnya,  kualitas struktur dan fungsi intrinsiknya, serta 
status dan posisinya. 
Dengan menkonfesi eksistensi manusia sebagai imago Dei  maka langkah
sakralisasi ini merupakan basis rehumanisasi yang signifikan. Sekarang tinggal 
implikasi praktisnya. 

Pertama, sebagai imago Dei,  realitas penderitaan, bencana, penyakit dan 
kemiskinan dalam diri manusia bukanlah membuka peluang terhadap komersialisasi 
sebaliknya memancing reaksi untuk mengasihi mereka yang penuh air mata. Cinta 
kasih inilah yang akan menjadi motor penggerak kreatifitas guna menggali 
praksis konkritnya. Dengan demikian, sejatinya, semakin banyak realitas 
penderitaan, seharusnya semakin banyak model kasih yang dipertontonkan. 

Kedua, sejalan dengan implikasi di atas, maka perlu dilakukan reevaluasi 
terhadap sikap pemerintah yang reaktif dan bukan proaktif dalam penderitaan 
rakyat. Pemerintah tidak boleh reaktif terhadap tindakan asing tetapi proaktif 
mendahului upaya institusi bisnis asing. 

Dalam kasus rakyat miskin dan menderita, yang perlu dilakukan oleh pejabat dan 
pemimpin partai politik bukanlah aksi-aksi teatrikal seperti membuka kantor di 
lokasi bencana dan menerima korban bencana dengan air mata, tetapi dengan 
inisiatif-proaktif
melakukan langkah strategis, komprehensif dan kontinyu. Jikalau hal ini yang 
dilakukan maka bukan lagi tebar pesona tetapi memang benar-benar mempesona. 
Ketiga, pebisnis dan pemodal tidak boleh bersikap pragmatis dalam mereaksi 
penderitaan rakyat, semata-mata demi keuntungan finansial. Sikap pragmatis 
merupakan roh Machiavellis yang harus dibuang jauh-jauh karena mengabaikan 
konsiderasi moral dan kemanusiaan dalam keputusan bisnis. 
Semoga melalui Natal tahun ini, kita belajar semakin menghargai manusia. 
Selamat Natal!

Antonius Steven Un, Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society 
==========================================
From: Antonius Steven Un 

Surya, 24 Desember 2007
LILIN NATAL DAN TERANG DUNIA 
Antonius Steven Un  
 
            Lilin adalah simbol Natal. Penyalaan lilin kebaktian Natal di 
berbagai gereja di seluruh dunia. Sejatinya, narasi Natal dalam teks sakral 
Injil tidak menyebutkan eksitensi dan makna lilin sebagai simbol Natal. Jika 
kartu dan pohon Natal yang ditambahkan pada tradisi Natal benar-benar suatu 
suplemen yang sekedar memeriahkan maka lilin Natal, sekalipun tidak eksplisit 
dalam Narasi Injil Matius dan Injil Lukas, sesungguhnya merupakan esensi dari 
kelahiran Yesus Kristus. 

            Epistemologi Natal menyatakan dengan jelas bahwa memancarkan terang 
di tengah kegelapan itu merupakan esensi dari kelahiran Yesus Kristus. Pertama, 
Yohanes 1:5 dan 9, "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu 
tidak menguasainya...Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang 
sedang datang ke dalam dunia". Metafora terang digunakan Yohanes untuk menunjuk 
kepada Yesus Kristus (bandingkan Yohanes 1:1,14). Kedua, kehadiran malaikat 
membawa kabar gembira bagi para gembala di padang di mana kemuliaan Tuhan 
bersinar terang di tengah malam (Lukas 2:8-12) merupakan analogi terhadap peran 
Yesus sebagai terang.  
 
Kemunafikan Agama 
            Eksistensi Yesus dinilai tepat pada waktunya karena dunia sedang 
gelap.  Kegelapan tersebut disebabkan, secara khusus dalam konteks 
religiusitas, agama telah terjebak kepada kemunafikan. Di bawah pentafsiran 
aliran Farisi, salah satu mazhab utama dalam agama Yahudi, Perjanjian Lama 
telah diselewengkan demikian jauh sehingga menjadi agama legalis tanpa relasi 
personal dan sangat mementingkan format luar. 

            Menurut pakar biblika John Drane, mazhab Farisi adalah kelompok 
yang memiliki pengikut sekitar 6000 orang di mana pokok teologi mereka adalah 
mengupayakan penerapan praksis dari peraturan-peraturan dalam Hukum Taurat 
(1986).  Konsep dasarnya adalah suatu kepercayaan bahwa "pembuangan ke Babel 
adalah akibat dari kegagalan Israel melakukan Taurat dan bahwa pelaksanaan 
Taurat termasuk tugas perseorangan maupun tugas nasional" (H. L Ellison, 1988). 

            Dengan semangat nomianisme ini, Pemimpin Farisi memaksa umat 
"abangan" untuk menjalankan 613 peraturan yang telah dirangkumkan oleh 
ahli-ahli Taurat, tidak perduli mengerti atau tidak dan rela atau tidak. 
Sekalipun dalam catatan sejarawan Yahudi Flavius Josephus (AD 37-101), 
orang-orang kota sangat menghormati mazhab Farisi karena mereka berkhotbah 
tentang gagasan moral yang sangat luhur (Antiquities 18.1.3), Yesus justru 
mengkritik mereka habis-habisan karena kemunafikan mereka. 

            Yesus kerap menggunakan istilah "hypokrites" yang berarti 
"pelakon". Mereka berpura-pura menjalankan hukum Taurat tetapi sesungguhnya 
tidak. Dan bukan saja demikian, bahkan mereka mengajarkan hukum moral yang 
begitu agung tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Di sinilah pengertian 
kemunafikan, terdapat jurang antara luar dan dalam, antara perkataan dan 
perbuatan, antara hati dan hidup. 

Mengenai kemunafikan, Yesus mengatakan "sama seperti kubur yang dilabur putih, 
yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya tetapi yang sebelah dalamnya penuh 
tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Matius 23:27). Mengenai mazhab 
Farisi yang penuh kemunafikan, Yesus mengatakan kepada orang banyak dan 
murid-muridNya, "sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka 
ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka 
karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat 
beban-beban berat [peraturan agama] dan meletakkannya di atas bahu orang, 
tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya" (Matius 23:3-4).   

Agama sudah rusak dan penuh kemunafikan sehingga kebusukan dan kegelapan bukan 
saja terjadi di dalam dunia tetapi justru terjadi di rumah-rumah ibadah. 
"Lampu" di rumah-rumah ibadah sudah padam. Agama mengalami malfungsi dan 
disfungsi dalam berperan menerangi dunia karena agama penuh skandal moral dan 
kemunafikan. Di dalam konteks puncak kerusakan moral agama inilah Yesus lahir, 
besar dan melayani. Ia menjadi terang, pertama-tama di dunia religius barulah 
dalam lingkup sosial-politik. 
 
Metafora Lilin Natal 
            Kehadiran Yesus Kristus yang lahir di palungan Betlehem 
membangkitkan identitas manusia untuk berperan sebagai lilin terang di tengah 
kegelapan. Terdapat sejumlah karakteristik lilin terang. 

Pertama, terdapat perbedaan fundamental antara terang dan gelap. Di sinilah 
karakteristik utama dan pertama dari terang dunia. Mengusahakan dan menjaga 
perbedaan moralitas di tengah masyarakat busuk merupakan panggilan dan tanggung 
jawab kita yang memang tidak mudah. John Stott mengatakan diperlukan masyarakat 
yang berstatus dan bersifat sebagai "counter culture" untuk mengimbangi lajunya 
kebusukan dan kegelapan (1988).  

Kedua, terang selalu menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh 
kegelapan, betapapun kecilnya terang itu. Menyalakan anak korek api di tengah 
malam pekat, sekalipun tidak bisa menerangi kegelapan tersebut tetapi api anak 
korek itu tetap terlihat dan tidak tertelan. Di tengah konteks krisis moral di 
negara kita, baik dalam hal korupsi, perilaku buruk pejabat publik maupun 
masyarakat kekerasan, Natal melagukan kidung pengharapan bahwa orang-orang 
benar yang berjuang sebagai terang tidak mungkin ditenggelamkan oleh kegelapan 
sekalipun mereka minoritas. 

            Ketiga, lilin itu membakar dirinya sehingga ia dapat menjadi 
terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi terang. Seorang pejabat publik yang 
ingin mempertahankan dirinya bersih, tidak bisa tidak harus menyangkal diri, 
misalnya untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan mengeruk uang 
rakyat bagi kepentingan diri, mengatur fasilitas yang wah dan kunjungan kerja 
dan studi banding luar negeri yang tidak tepat guna. Menyangkal diri dan rela 
hidup sederhana seperti Yesus yang lahir di palungan adalah ciri khas dan 
tanggung jawab terang itu. 

            Keempat, terang itu memiliki sifat berani menyatakan kebenaran. 
Yesus Kristus mengatakan "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu 
meletakkannya di bawah gantang melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi 
semua orang di dalam rumah itu" (Matius 5:15). Terang itu menyadari dirinya 
dibutuhkan sehingga ia tidak memilih untuk bersembunyi. 

Bagai menara mercusuar yang berdiri tegak di pelabuhan/ pantai, menjadi terang 
berarti berani menyatakan kebenaran. Di sinilah kita melihat antitesis tajam 
antara sistem pemerintahan totaliter-otoritarian-diktatorial dan demokrasi. 
Sistem pemerintahan yang pertama adalah sistem yang mematikan lilin dan 
menghambat orang menjadi terang sedangkan sistem kedua membuka ruang agar 
terang itu dapat dinyatakan. Teolog penentang Adolf Hitler, Dietrich Bonhoeffer 
(1906-1945) menyatakan "Melarikan diri ke dalam persembunyian, berarti 
mengingkari panggilan Yesus" (dikutip oleh Stott, 1988). 

            Lilin Natal sejati adalah Yesus yang menjadi terang di tengah 
kegelapan. Lebih penting diri menjadi terang ketimbang sekedar menyalakan lilin 
terang secara simbolis di malam Natal. Selamat Natal! 
 
Antonius Steven Un, Rohaniawan, Pengajar Teologi-Filsafat dan Peneliti.  

Kirim email ke