From: [EMAIL PROTECTED]
KALEIDOSCOPE 2007
Hari-hari sudah bisa dihitung dengan jari dimana lembaran tahun 2007 akan
ditutup dan diganti lembaran baru tahun 2008. Memasuki akhir tahun 2007
biasanya kita mendengar di TV/Radio maupun membaca Koran tentang Kaleidoscope
2007 sebagai kilas balik sepanjang tahun yang segera akan berlalu. Ada apa
dengan Kaleidoscope sekitar pribadi Yesus Kristus?
Pada 26 Februari 2007, di New York diadakan konperensi pers yang mempopulerkan
penemuan makam Talpiot dimana dianggap tempat Yesus dikuburkan. Konperensi pers
ini langsung mendapat sorotan mass-media di seluruh dunia, soalnya disitu
dipamerkan osuari tulang-tulang yang dianggap milik Yesus, Maria Magdalena,
Maria, Yudah dan Matius yang dianggap sebagai bukti ditemukan kuburan keluarga
Yesus. Lebih meluas lagi ketika Discovery Channel memutar film The Lost Tomb of
Jesus pada tanggal 4 Maret 2007, sehingga menjadi tayangan yang mengglobal,
apalagi film itu disutradarai James Cameron dan Simcha Jacobovici yang telah
menerima berbagai piagam perfilman. Simcha Jacobovici yang Yahudi yang dalam
film itu berambisi untuk membela praduga-tak-bersalahnya Mahkamah Yahudi dengan
membuktikan bahwa benar mayat Yesus dicuri para murid dan dipindahkan . ke
makam Talpiot!
Bagai gayung bersambut, sehari sebelum Jumat Agung pra-Paskah, pada tanggal 5
April 2007, Ioanes Rakhmat, doktor yang dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta,
menulis di harian Kompas artikel yang isinya mengaminkan dan mempromosikan film
yang kontroversial itu. Namun tokoh Jesus Seminar di Indonesia yang
bertahun-tahun dengan gigih mempromosikan kematian Yesus yang sempat
dianalogikan oleh GKI Sinwil Jabar sebagai Galileo Galilee itu, ternyata hanya
dalam empat bulan saja, pada bulan Agustus 2007, menarik kesimpulannya tentang
kebangkitan Yesus yang dianggapnya sebelumnya sebagai metaforis itu, dan pada
bulan yang sama Sinode GKI memperingatkan pendetanya itu secara terbuka pula.
Ternyata film yang mempopulerkan Yesus tidak bangkit dan ditemukan kuburnya di
Talpiot itu, mendekati akhir tahun 2007 sudah dilupakan kebanyakan orang.
Bahkan, ketika mengunjungi kota Toronto di bulan September 2007, penulis
menjumpai kenyataan bahwa di Toronto sendiri, dimana penelitian statistik untuk
mendukung kebenaran kuburan Yesus dilakukan, banyak orang yang ditanya malah
tidak tahu menahu soal kuburan Yesus yang dianggap ditemukan di Talpiot itu.
Ini menunjukkan bahwa promosi mass-media belum tentu mewakili pengetahuan
masyarakat umum.
Sekalipun film 'Talpiot' sudah sirna gemanya, semangat menggugat Yesus terus
terjadi di tahun 2007, dan pada bulan Desember 2007, di Amerika Serikat kembali
ditayangkan film 'The Golden Compass' yang merupakan buah agenda atheisme.
Biasanya buku dan film-film yang menggugat agama Kristen
diterbitkan/ditayangkan sekitar hari Paskah (April) dan Natal (Desember).
Membaca ratusan buku yang berkisar gugatan terhadap Yesus Kristus, kita dapat
melihat bahwa gugatan itu bukan saja dilontarkan dalam setahun terakhir, tetapi
sudah dua ratus tahun lebih gugatan itu bertubi-tubi ditujukan kepada Yesus dan
selama itu gugatan-gugatan itu digantikan oleh gugatan-gugatan baru dan sejauh
ini belum ada yang mampu meruntuhkan kebenaran isi berita Alkitab. Ini dengan
tepat diucapkan oleh Hans Kung bahwa: "Debat Kristologi yang timbul sejak
munculnya zaman modern belum juga terpecahkan."
Deretan gugatan-gugatan itu bisa kita amati dalam 20 tahun terakhir, dimana
mulai banyak buku-buku dan film dilontarkan langsung ke publik dan tidak hanya
beredar di kalangan ahli-ahli teologi seperti yang terjadi sebelumnya. Pada
awal tahun 1980-an terbit buku 'The Holy Blood Holy Grail' dengan serialnya
'The Messianic Legacy' namun kritik dari banyak ahli teologi terhadap dasar
yang digunakan penulis buku itu menyebabkan buku-buku itu kemudian dilupakan
orang.
Pada tahun 1985 lahir Jesus Seminar yang begitu menggebu-gebu ingin menjadikan
Kitab-kitab Injil sebagai dongeng tetapi menjadikan Injil (gnostik) Thomas
sebagai Injil yang benar. Menarik menyaksikan gugatan John Dominic Crossan
salah satu pendiri Jesus Seminar yang semula dalam bukunya yang tebal-tebal
berteori mengenai kemungkinan Yesus tidak dikubur tetapi mayatnya dimakan
anjing-anjing, ternyata di tahun 2007 begitu saja mendukung hipotesa makam
Talpiot dimana dianggap 'Yesus mati tenang-tenang dan dikuburkan dengan damai
di makam Talpiot dan tulang-tulangnya dengan aman bisa disimpan dalam salah
satu osuari yang ditemukan di makam itu.'
Pada tahun 1988 dibuat film 'The Last Temptation of Christ' yang menggambarkan
pergumulan nafsu dan iman Yesus dimana sebelum mati di kayu salib ia
membayangkan kawin dengan Maria Magdalena si pelacur, menikahi Maria saudara
Marta setelah Magdalena meninggal, dan berselingkuh dengan Marta saudara Maria.
Lalu digambarkan Yesus memiliki beberapa anak.
Dasawarsa tahun 1990-an kelihatannya sepi film dan buku yang menggugat Yesus,
namun memasuki milenium ke-3, di tahun 2003 ditulis buku yang kemudian
difilmkan berjudul 'The Da Vinci Code' yang mengangkat kembali Injil-Injil
Gnostik dimana disebutkan Maria Magdalena dikawini Yesus dan keturunannya
tinggal di Inggeris. Buku itu meledak luar biasa bahkan diterjemahkan ke dalam
banyak bahasa termasuk Indonesia. Buku itu segera menjadi isu terpopuler yang
ikut mengangkat kembali buku bertema sama yang ditulis dua puluh tahun
sebelumnya yaitu 'Holy Blood Holy Grail.'
Pada bulan April tahun 2006 'Injil Gnostik Yudas' meramaikan pentas dunia buku
dimana berita tradisional yang menganggap Yudas menghianati Yesus gurunya
sekarang diputar-balik menjadi 'Yesuslah yang menyuruh Yudas menyerahkan
dirinya agar Yesus selamat lepas dari ragawinya!' dan pada tahun itupula terbit
buku 'The Jesus Dinastiy' yang meneruskan fitnah Celsus bahwa Yesus itu anak
tentara Romawi bernama Panthera! Setahun kemudian isu 'Talpiot' mencuat, namun
baik buku maupun film itu kemudian dilupakan orang dan tidak mengganggu
sukacita umat Kristen dalam menyambut perayaan Natal di penghujung tahun 2007.
Apa yang bisa kita pelajari dari Kaleidoscope 2007 dengan kasus 'Talpiot'nya
itu?
Pertama, banyaknya buku-buku dan film yang menggugat Yesus perlu mendorong umat
Kristen untuk banyak membaca terutama karya-karya penulis-penulis Kristen
Konservatif, agar imannya diteguhkan dengan bacaan-bacaan pengimbang yang
konstruktif;
Kedua, umat Kristen jangan cepat panik dan reaktif bila ada buku/film baru yang
menggugat Yesus secara destruktif, sejarah sudah membuktikan bahwa dalam 200
tahun terakhir belum ada gugatan serius yang seragam dan selalu tumbuh gugatan
baru dengan teori mereka yang baru;
Ketiga, kesabaran tidak harus membuat umat Kristen acuh-tak-acuh terhadap
gugatan-gugatan yang timbul, tetapi kesabaran perlu ditunjukkan sambil menunggu
bila memang ada buku-buku yang mencuat populer secara luar biasa seperti 'The
Da Vinci Code' maupun 'The Lost Tomb of Jesus,' barulah diperlukan buku-buku
tanggapan yang meneguhkan iman umat percaya dan menunjukkan kelemahan gugatan
tersebut.
Penulis di awal Desember 2007 diminta untuk membahas dalam seminar tentang film
'The Golden Compass' yang dirilis ke layar lebar tanggal 7 Desember 2007 di USA
itu. Sekalipun sudah puluhan halaman berita pro-kontra tentang karya Philip
Pullman itu di print-out dari internet dan dipelajari dan DVD film itu sudah
dimiliki, penulis menjawab agar tidak perlu menanggapi film itu secara
tergesa-gesa, karena jangan-jangan maksud hati ingin menolak film itu, tetapi
bila dilakukan dengan gegabah, bisa-bisa malah ikut mempopulerkan film itu bak
membangunkan ular tidur. Karena itu penulis menunggu untuk ikut serta
membahasnya bila film itu ternyata mencuat secara luas di kalangan masyarakat
umum seperti yang sudah terjadi dengan buku/film 'The Da Vinci Code,' dan film
'The Lost Tomb of Jesus' yang dipopulerkan melalui Discovery Channel yang
dikenal umum secara global.
Fakta sudah menunjukkan bahwa film-film yang menggugat Yesus Kristus lebih
merupakan sensasi sesaat demi popularitas, uang dan semangat anti-Kristus,
karena itu marilah di akhir tahun 2007 ini kita merayakan hari Natal dengan
sukacaita bahwa dua milenium yang lalu di Betlehem lahir Yesus yang menjadi
juruselamat (Kristus) bagi umat manusia, dan kasih Yesus Kristus perlu kita
beritakan kepada mereka-mereka yang selama ini belum merasakan sejahtera Tuhan
dalam hati mereka dan terobsesi untuk terus-menerus menyalibkan Yesus, namun
karena Yesus sudah bangkit, maka penyaliban yang berulang-ulang sampai
menghabiskan paku itu tidak ada gunanya karena 'Ia sudah Bangkit dan akan
datang kembali.'
Kiranya damai sejahtera Yesus Kristus menyertai kita di harian Natal 2007 ini.
Amin !
Salam kasih dari Herlianto
=============================================
From: Antonius Steven Un
Kompas Jawa Timur, 26 Desember 2007
NATAL YANG MEMANUSIAKAN
Antonius Steven Un
Telah menjadi paradigma dalam Teologi Kristen bahwa Natal merupakan momen
rehumanisasi. Hal ini setidaknya terbukti dari beberapa hal, khususnya dalam
cara pemaparan Injil Matius. Ketika menuliskan Injilnya, Matius memulai dengan
menuliskan silsilah (Matius 1:1-17), sesuatu yang merupakan tradisi kuat Yahudi
dalam penulisan
biografi. Silsilah berfungsi untuk membuktikan kemurnian keyahudian seorang
tokoh.
Hal ini menyebabkan silsilah harus imun dari tiga unsure yakni nama wanita,
orang asing dan orang berdosa. Eksistensi wanita dianggap cela sehingga setiap
pagi seorang pria Yahudi bersyukur karena ia dilahirkan pria dan bukan wanita.
Namun, ketika Matius menuliskan silsilah, ia sengaja memasukan nama
wanita yakni Tamar (ayat 3), Rahab dan Rut (ayat 5) dan istri Uria (ayat 6).
Matius juga memasukan nama orang asing seperi Rut yang berasal dari Moab dan
perempuan berdosa yakni Rahab yang adalah pelacur.
Mengapa Matius sengaja memasukan ketiga unsur 'haram' ke dalam silsilah suci
sang Mesias? Karena Matius ingin menegaskan bahwa Yesus Kristus yang adalah
Tuhan dan Juruselamat itu merupakan sahabat yang mengasihi kaum tertindas yakni
wanita, orang berdosa dan orang asing.
Apa yang dilakukan Yesus Kristus dalam pandangan Injil Matius bertolak belakang
dengan apa yang terjadi kini yakni dehumanisasi melalui komersialisasi air mata
rakyat bagi kepentingan profit financial sekelompok orang. Setidaknya, terdapat
dua model komersialisasi terkait dengan air mata derita rakyat.
Model pertama yang lazim berlaku adalah komersialisasi bencana. Kita
memanfaatkan data dan gambar bencana alam untuk menggalang dana padahal
pemanfaatannya tanpa control dan audit yang jelas. Terdapat adagium di antara
para pelaku komersialisasi bencana, "bencana hanya beberapa detik tetapi berkah
datang bertahun-tahun".
Model kedua adalah komersialisasi kemiskinan. Negara kita yang sarat penduduk
miskin dimanfaatkan oleh oknum-oknum berhati jahat untuk mencari keuntungan
sebanyak-banyaknya dari pribadi dan lembaga donor, baik domestic maupun asing.
Memanfaatkan kondisi ini, banyak organisasi termasuk lembaga swadaya masyarakat
dengan kreatif nan cerdik menciptakan data, yang bahkan banyak di antaranya
fiktif, untuk menggerakan derwaman menyumbangkan jutaan hingga miliaran rupiah.
Rehumanisasi
Inkarnasi Yesus Kristus di Betlehem merupakan peristiwa kehadiran Tuhan dalam
rupa manusia. Itu sebabnya, Yesus Kristus yang lahir dianggap sebagai imago Dei
(citra Tuhan) yang sempurna. Hal ini nyata dalam Kolose 1:15 dan Ibrani 1:3.
Karena itu perlakuan kejam raja Herodes Agung yang amat tidak agung dalam upaya
membunuh Yesus dan memusnahkan bayi-bayi berus! ia di bawah Dua tahun di
Betlehem (Matius 2:13-18) merupakan suatu dehumanisasi, penghinaan kepada Yesus
sebagai imago Dei yang sempurna.
Tuntutan apresiasi demikian bukan hanya pada bayi Yesus yang lahir di
Betlehem tetapi terhadap semua manusia. Basis apresiasi itu adalah sakralisasi
manusia sebagai individu yang menerima lekatan nilai intrinsic pada waktu
dicipta oleh Sang Khalik. Nilai intrinsic tersebut didasarkan atas konsepsi
Imago Dei, manusia dicipta sebagai citra Tuhan.
Menurut teolog Anthony A. Hoekema, sebagai imago Dei, manusia memiliki dua
fungsi yakni fungsi refleksi dan fungsi representasi (Created in God's Image,
1986). Fungsi refleksi menandakan bahwa manusia mirip Tuhan di dalam sense of
spirituality, sense of creativity, sense of rationality, sense of community
dan seterusnya. Sedangkan fungsi representasi menandakan bahwa manusia,
bagaikan duta besar, bersifat mewakili Tuhan di dalam pengelolaan terhadap alam
semesta.
Fungsi ini tidak boleh dibaca sebagai legitimasi terhadap eksploitasi alam,
sebagaimana tudingan Lynn White terhadap Antroposentrisme (1967), karena
sebagai imago Dei, manusia tidak didorong untuk mengeksploitasi tetapi
melakukan "cultivate" (culture, budi daya) terhadap alam semesta. Berarti,
seharusnya di tangan manusia sebagai imago Dei, alam semesta bukan saja
bertahan tetapi berkembang.
Kompleks superioritas
Sebagai konsekuensi terhadap konsepsi imago Dei, manusia harus ditempatkan
secara order, tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Apresiasi terlalu
tinggi menyebabkan kompleks superioritas, suatu bentuk penyimpangan terhadap
manusia yang sama parahnya dengan apresiasi terlalu rendah.
Selain itu, konsepsi ini juga mengindikasikan bahwa status ini bersifat melekat
sehingga, sebagaimana ditegaskan filsuf-teolog John Calvin (1509-1564),
sekalipun seluruh aspek hidup manusia sudah terinfeksi oleh dosa dan ciri khas
sebagai imago Dei telah kabur, tetapi karena status yang disandangnya sebagai
citra Tuhan, manusia harus dihargai sepatutnya (1559).
Implikasi lain adalah, apresiasi terhadap manusia juga harus bersifat utuh baik
terhadap personalitasnya, kualitas struktur dan fungsi intrinsiknya, serta
status dan posisinya.
Dengan menkonfesi eksistensi manusia sebagai imago Dei maka langkah
sakralisasi ini merupakan basis rehumanisasi yang signifikan. Sekarang tinggal
implikasi praktisnya.
Pertama, sebagai imago Dei, realitas penderitaan, bencana, penyakit dan
kemiskinan dalam diri manusia bukanlah membuka peluang terhadap komersialisasi
sebaliknya memancing reaksi untuk mengasihi mereka yang penuh air mata. Cinta
kasih inilah yang akan menjadi motor penggerak kreatifitas guna menggali
praksis konkritnya. Dengan demikian, sejatinya, semakin banyak realitas
penderitaan, seharusnya semakin banyak model kasih yang dipertontonkan.
Kedua, sejalan dengan implikasi di atas, maka perlu dilakukan reevaluasi
terhadap sikap pemerintah yang reaktif dan bukan proaktif dalam penderitaan
rakyat. Pemerintah tidak boleh reaktif terhadap tindakan asing tetapi proaktif
mendahului upaya institusi bisnis asing.
Dalam kasus rakyat miskin dan menderita, yang perlu dilakukan oleh pejabat dan
pemimpin partai politik bukanlah aksi-aksi teatrikal seperti membuka kantor di
lokasi bencana dan menerima korban bencana dengan air mata, tetapi dengan
inisiatif-proaktif
melakukan langkah strategis, komprehensif dan kontinyu. Jikalau hal ini yang
dilakukan maka bukan lagi tebar pesona tetapi memang benar-benar mempesona.
Ketiga, pebisnis dan pemodal tidak boleh bersikap pragmatis dalam mereaksi
penderitaan rakyat, semata-mata demi keuntungan finansial. Sikap pragmatis
merupakan roh Machiavellis yang harus dibuang jauh-jauh karena mengabaikan
konsiderasi moral dan kemanusiaan dalam keputusan bisnis.
Semoga melalui Natal tahun ini, kita belajar semakin menghargai manusia.
Selamat Natal!
Antonius Steven Un, Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society
==========================================
From: Antonius Steven Un
Surya, 24 Desember 2007
LILIN NATAL DAN TERANG DUNIA
Antonius Steven Un
Lilin adalah simbol Natal. Penyalaan lilin kebaktian Natal di
berbagai gereja di seluruh dunia. Sejatinya, narasi Natal dalam teks sakral
Injil tidak menyebutkan eksitensi dan makna lilin sebagai simbol Natal. Jika
kartu dan pohon Natal yang ditambahkan pada tradisi Natal benar-benar suatu
suplemen yang sekedar memeriahkan maka lilin Natal, sekalipun tidak eksplisit
dalam Narasi Injil Matius dan Injil Lukas, sesungguhnya merupakan esensi dari
kelahiran Yesus Kristus.
Epistemologi Natal menyatakan dengan jelas bahwa memancarkan terang
di tengah kegelapan itu merupakan esensi dari kelahiran Yesus Kristus. Pertama,
Yohanes 1:5 dan 9, "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu
tidak menguasainya...Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang
sedang datang ke dalam dunia". Metafora terang digunakan Yohanes untuk menunjuk
kepada Yesus Kristus (bandingkan Yohanes 1:1,14). Kedua, kehadiran malaikat
membawa kabar gembira bagi para gembala di padang di mana kemuliaan Tuhan
bersinar terang di tengah malam (Lukas 2:8-12) merupakan analogi terhadap peran
Yesus sebagai terang.
Kemunafikan Agama
Eksistensi Yesus dinilai tepat pada waktunya karena dunia sedang
gelap. Kegelapan tersebut disebabkan, secara khusus dalam konteks
religiusitas, agama telah terjebak kepada kemunafikan. Di bawah pentafsiran
aliran Farisi, salah satu mazhab utama dalam agama Yahudi, Perjanjian Lama
telah diselewengkan demikian jauh sehingga menjadi agama legalis tanpa relasi
personal dan sangat mementingkan format luar.
Menurut pakar biblika John Drane, mazhab Farisi adalah kelompok
yang memiliki pengikut sekitar 6000 orang di mana pokok teologi mereka adalah
mengupayakan penerapan praksis dari peraturan-peraturan dalam Hukum Taurat
(1986). Konsep dasarnya adalah suatu kepercayaan bahwa "pembuangan ke Babel
adalah akibat dari kegagalan Israel melakukan Taurat dan bahwa pelaksanaan
Taurat termasuk tugas perseorangan maupun tugas nasional" (H. L Ellison, 1988).
Dengan semangat nomianisme ini, Pemimpin Farisi memaksa umat
"abangan" untuk menjalankan 613 peraturan yang telah dirangkumkan oleh
ahli-ahli Taurat, tidak perduli mengerti atau tidak dan rela atau tidak.
Sekalipun dalam catatan sejarawan Yahudi Flavius Josephus (AD 37-101),
orang-orang kota sangat menghormati mazhab Farisi karena mereka berkhotbah
tentang gagasan moral yang sangat luhur (Antiquities 18.1.3), Yesus justru
mengkritik mereka habis-habisan karena kemunafikan mereka.
Yesus kerap menggunakan istilah "hypokrites" yang berarti
"pelakon". Mereka berpura-pura menjalankan hukum Taurat tetapi sesungguhnya
tidak. Dan bukan saja demikian, bahkan mereka mengajarkan hukum moral yang
begitu agung tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Di sinilah pengertian
kemunafikan, terdapat jurang antara luar dan dalam, antara perkataan dan
perbuatan, antara hati dan hidup.
Mengenai kemunafikan, Yesus mengatakan "sama seperti kubur yang dilabur putih,
yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya tetapi yang sebelah dalamnya penuh
tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran" (Matius 23:27). Mengenai mazhab
Farisi yang penuh kemunafikan, Yesus mengatakan kepada orang banyak dan
murid-muridNya, "sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka
ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka
karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat
beban-beban berat [peraturan agama] dan meletakkannya di atas bahu orang,
tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya" (Matius 23:3-4).
Agama sudah rusak dan penuh kemunafikan sehingga kebusukan dan kegelapan bukan
saja terjadi di dalam dunia tetapi justru terjadi di rumah-rumah ibadah.
"Lampu" di rumah-rumah ibadah sudah padam. Agama mengalami malfungsi dan
disfungsi dalam berperan menerangi dunia karena agama penuh skandal moral dan
kemunafikan. Di dalam konteks puncak kerusakan moral agama inilah Yesus lahir,
besar dan melayani. Ia menjadi terang, pertama-tama di dunia religius barulah
dalam lingkup sosial-politik.
Metafora Lilin Natal
Kehadiran Yesus Kristus yang lahir di palungan Betlehem
membangkitkan identitas manusia untuk berperan sebagai lilin terang di tengah
kegelapan. Terdapat sejumlah karakteristik lilin terang.
Pertama, terdapat perbedaan fundamental antara terang dan gelap. Di sinilah
karakteristik utama dan pertama dari terang dunia. Mengusahakan dan menjaga
perbedaan moralitas di tengah masyarakat busuk merupakan panggilan dan tanggung
jawab kita yang memang tidak mudah. John Stott mengatakan diperlukan masyarakat
yang berstatus dan bersifat sebagai "counter culture" untuk mengimbangi lajunya
kebusukan dan kegelapan (1988).
Kedua, terang selalu menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh
kegelapan, betapapun kecilnya terang itu. Menyalakan anak korek api di tengah
malam pekat, sekalipun tidak bisa menerangi kegelapan tersebut tetapi api anak
korek itu tetap terlihat dan tidak tertelan. Di tengah konteks krisis moral di
negara kita, baik dalam hal korupsi, perilaku buruk pejabat publik maupun
masyarakat kekerasan, Natal melagukan kidung pengharapan bahwa orang-orang
benar yang berjuang sebagai terang tidak mungkin ditenggelamkan oleh kegelapan
sekalipun mereka minoritas.
Ketiga, lilin itu membakar dirinya sehingga ia dapat menjadi
terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi terang. Seorang pejabat publik yang
ingin mempertahankan dirinya bersih, tidak bisa tidak harus menyangkal diri,
misalnya untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan mengeruk uang
rakyat bagi kepentingan diri, mengatur fasilitas yang wah dan kunjungan kerja
dan studi banding luar negeri yang tidak tepat guna. Menyangkal diri dan rela
hidup sederhana seperti Yesus yang lahir di palungan adalah ciri khas dan
tanggung jawab terang itu.
Keempat, terang itu memiliki sifat berani menyatakan kebenaran.
Yesus Kristus mengatakan "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu
meletakkannya di bawah gantang melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi
semua orang di dalam rumah itu" (Matius 5:15). Terang itu menyadari dirinya
dibutuhkan sehingga ia tidak memilih untuk bersembunyi.
Bagai menara mercusuar yang berdiri tegak di pelabuhan/ pantai, menjadi terang
berarti berani menyatakan kebenaran. Di sinilah kita melihat antitesis tajam
antara sistem pemerintahan totaliter-otoritarian-diktatorial dan demokrasi.
Sistem pemerintahan yang pertama adalah sistem yang mematikan lilin dan
menghambat orang menjadi terang sedangkan sistem kedua membuka ruang agar
terang itu dapat dinyatakan. Teolog penentang Adolf Hitler, Dietrich Bonhoeffer
(1906-1945) menyatakan "Melarikan diri ke dalam persembunyian, berarti
mengingkari panggilan Yesus" (dikutip oleh Stott, 1988).
Lilin Natal sejati adalah Yesus yang menjadi terang di tengah
kegelapan. Lebih penting diri menjadi terang ketimbang sekedar menyalakan lilin
terang secara simbolis di malam Natal. Selamat Natal!
Antonius Steven Un, Rohaniawan, Pengajar Teologi-Filsafat dan Peneliti.