From: Leonard Handjojo Hidupmu telah diatur oleh Tuhan
Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar. Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah. Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang. Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya. Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak berbicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi. Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar. Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal. Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?" "Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut." Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan... Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini. Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita. Sebab kita tahu sekarang bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28) ============================================== From: Azret Batseba Lutaporu Penjual Balon Ada seorang penjual balon menjajakan barang dagangannya di jalan-jalan. Jika penjualannya agak lesu, ia melepaskan sebuah balon. Sementara balon yang dilepas terbang di udara, sekelompok pembeli yang baru berkerumun dan penjualannya meningkat lagi selama beberapa menit. Dia mengganti-ganti warna balon yang dilepasnya, mula-mula balon putih, kemudian balon merah, dan berikutnya balon kuning. Beberapa waktu kemudian, seorang bocah negro menarik lengan mantelnya, menatap mata si penjual balon dan mengajukan pertanyaan yang mendalam, "Pak, jikalau anda melepaskan balon hitam, apakah akan naik?" Penjual balon itu lalu melihat kepada si anak kecil dan ia menjawab, "Nak, apa yang ada didalam balon itulah yang membuatnya bisa naik." Dengan mata yang baik kita melihat untuk lari, atau berjalan, bekerja atau bermain. Orang yang bisa melihat dengan hati dan dengan matanya juga bisa menjangkau dan menyentuh jiwa di dalam manusianya dan mengungkapkan kebaikan yang ada di dalam dirinya. Ya, penjual balon ini memang "benar". Apa yang ada di dalam diri andalah yang akan membuat anda naik. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Tuhan; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b) =============================================== From: Leonard Handjojo Surat Untuk Om Roy Dear om Roy yang saya hormati, Shalom. Saya menuliskan surat terbuka untuk om Roy sehubungan dengan no HP om yang sudah tidak aktif lagi dan tidak dapat dihubungi. Saya mengingat om Roy sebagai sosok yang pernah saya kagumi karena banyak sekali mendapatkan peran sebagai figur ayah. Namun demikian, perkenalan dengan om Roy di LP Cipinang dulu banyak merubah pandangan saya tentang sosok om yang sebenarnya. Saya sama sekali tidak terkejut dengan apa yang terjadi pada om Roy saat ini, ketika om kembali tertangkap untuk kasus yang sama. Saya justru jauh-jauh hari sudah merasa yakin hal ini akan terjadi. Toh selama ini apa yang om gembar-gemborkan dalam kampanye anti narkoba itu hanyalah topeng belaka. Saya tahu persis bagaimana kehidupan om Roy di dalam LP Cipinang, yang tidak pernah benar-benar melepaskan benda haram itu. Saya benar-2 sedih sebenarnya kan di dalam sana om Roy juga tahu dan melihat sendiri bagaimana akhir hidup dari banyak pemakai narkoba? Coba om Roy ingat-ingat lagi perkataan om di media massa: "orang yang pakai narkoba itu teken kontrak mati". Jadi saya tidak habis pikir, kenapa om Roy yang sudah tahu apa akibat narkoba, bahkan berani menjadi duta dan icon kampanye anti narkoba tetapi masih berani memakainya? Om Roy yang terkasih, jangan marah atau sakit hati terhadap siapapun ketika om Roy kembali ditangkap. Ini berarti Tuhan benar-benar sayang pada om Roy. Dia tidak mau om Roy sampai terlanjur rusak dan tidak dapat kembali lagi. Oleh karena itu, kali ini pakailah kesempatan kedua ini dengan sebaik-baiknya untuk benar-benar bertobat dan keluar dari dunia narkoba. Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan kedua bahkan ketiga. Saya tidak tahu bagaimana saat ini keluarga om Roy. Melalui media massa ada upaya menunjukkan bahwa keluarga om masih tetap mendukung. Itu bagus! Dukungan keluarga sangat besar artinya bagi seorang narapidana. Tetapi seandainya keluarga om tidak lagi mendukung, ingatlah bahwa Yesus dan saya tetap mendukung om untuk kembali sebagai Roy Marten yang baik dan pengasih, berwibawa dan bijak. Never give up! Keep strong! Keep faith! Stay honor! All the best forever .... Salam dari sahabatmu, alumni Cipinang NB. Kalo ada yang bisa pembaca yang bisa menghubungi om Roy, tolong email ini di print dan disampaikan. Terima kasih sebelumnya.

