From: Lisa Surjadi 

Impian Untuk Menikah 
sumber : www.jawaban.com

Waktu masih remaja dulu, saya membayangkan bagaimana jadinya jika saya menikah 
kelak. Saya membayangkan akan menikah pada usia 24 tahun, saya akan mempunyai 4 
anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Saya juga membayangkan kelak suami saya 
setiap hari akan sering mengangkat dan mengayun saya (saya membayangkan dia 
mempunyai tubuh yang kuat). Lalu setiap malam kami akan berdansa setelah makan 
malam. Dulu saya sangat yakin semua itu akan terjadi, sepertinya saya sedang 
bermimpi. Hey, tidak salah bukan jika kita mempunyai mimpi? Saat saya berusia 
23 tahun, saya mempunyai pacar dan hubungan kami serius. Dia mengasihi Tuhan 
dan sangat menyukai saya. Namun setelah beberapa bulan pacaran, saya baru 
menyadari ada beberapa hal dari dirinya yang mengganggu saya. Singkatnya 
hubungan kami tidak berlanjut. Lalu saat saya berusia 24, saya masih belum 
menikah, saya juga tidak sedang pacaran dengan siapapun. Awalnya saya tidak 
panik, karena saya masih punya waktu 1 tahun penuh. Namun tiba-tiba saya 
berusia 25 tahun. Saya (sedikit) mulai panik, apalagi saat itu saya sudah 
menjadi pendamping pengantin wanita di sebanyak kurang lebih 143 pernikahan 
dari teman-teman saya di kampus. Kebanyakan dari mereka bertemu dengan 
pasangannya di 60 menit pertama saat orientasi mahasiswa baru. Saya jadi 
bertanya-tanya, apakah waktu itu saya sedang pergi ke toilet? Karena saya 
melewatkan semua kesempatan itu...

Dan ketika saya berumur 26, lalu 27 tahun, saya mulai bertanya-tanya, apakah 
Tuhan melupakan saya? Kemudian saya teringat pengalaman dari guru saya. Dia 
bercerita ketika dia bertemu dengan seorang wanita di kampus, dia menggambarkan 
wanita ini persis seperti yang dia cari. Mereka pacaran selama beberapa waktu 
dan cintanya untuk wanita ini bertumbuh. Dia mengira wanita ini adalah 
seseorang yang sempurna untuknya. Lalu wanita ini memutuskan hubungan mereka. 
Teman-temannya menghibur dia dan mengatakannya agar tidak kuatir, bahwa Tuhan 
mempunyai seseorang yang lebih baik untuk dia. Namun sayangnya dia telah 
terpukul dan tidak meyakini akan hal itu lagi.

Di sanalah saya, 27 tahun, bertanya-tanya apakah saya sudah menjadi yang 
terbaik yang saya bisa. Jadi, saya mulai berdoa, berdoa seperti yang tidak 
pernah saya lakukan sebelumnya, agar Tuhan mempersiapkan hati saya untuk 
pernikahan dan membentuk saya sesuai dengan gambaranNya. Bulan demi bulan 
berlalu, dan saya mulai mempertanyakan apa sebenarnya kehendak Tuhan untuk 
hidup saya sehubungan dengan pernikahan. Apakah Dia ingin saya menikah? Apakah 
harapan ini hanya sekedar keinginan saya ataukah memang kehendakNya untuk saya? 
Jadi saya berdoa meminta keinginan hatiNya, bukan meminta agar keinginan saya 
dipenuhi, supaya Dia meletakkan keinginanNya di hati saya. Saya berdoa bahwa 
jika keinginan saya untuk menikah bukan kehendakNya untuk saya, Dia akan 
mengambil keinginan itu.

Tapi ternyata keinginan untuk menikah tetap ada. Saya memilih untuk menjadi 
utuh di dalam Kristus sebagai seorang lajang. Saya katakan "memilih" karena ini 
sebuah keputusan. Namun pada waktu yang sama, saya juga memutuskan untuk 
mempercayai Tuhan bahwa suatu hari nanti saya akan menikah. Saya mulai merasa 
damai sejahtera dan tenang sebagai seorang lajang. Ya, saya ingin menikah, saya 
bahkan merasa sudah siap untuk menikah, tapi saya menikmati kehidupan saya saat 
itu dan percaya akan waktu yang tepat. Saya menggunakan waktu itu untuk 
mempersiapkan diri bagi pernikahan. Saya berdoa untuk calon suami saya, agar 
Tuhan juga mempersiapkan dia. Saya membaca buku-buku pernikahan, saya mencari 
pasangan suami istri yang saya kagumi dan bertanya pada mereka tentang 
pernikahan: apa yang paling mereka sukai tentang menikah? Apa kesulitan yang 
mereka temui dalam pernikahan? Apa nasehat mereka bagi saya untuk mempersiapkan 
pernikahan?
Saya tahu bahwa cara berpikir seperti ini mungkin sedikit berbeda dari yang 
biasa anda dengar, "Bersenang-senanglah. Jika kamu belum menikah, mungkin saja 
kamu tidak dimaksudkan untuk menikah... Lanjutkan hidupmu!" Namun sebagai orang 
Kristen, jika anda merasa terpanggil untuk menikah, dan jika anda percaya bahwa 
Tuhanlah yang telah menempatkan keinginan itu dalam hati anda, lalu mengapa 
anda tidak dengan aktif mempersiapkan pernikahan? Mengapa tidak mempercayai Dia 
bahwa hal itu akan terjadi? Itu terjadi pada saya. Ketika saya berusia 28 
tahun, saya bertemu dengan seorang pria dan kami saling jatuh cinta. Dia tidak 
sempurna, dan setelah berbulan-bulan kemudian dia akhirnya juga menemukan bahwa 
saya juga tidak sempurna, namun seiring waktu yang kami habiskan bersama dan 
juga dalam doa, kami menyadari bahwa kami sempurna bagi satu sama lain. Kami 
menikah tidak lama setelah saya berusia 30 tahun. Tuhan telah menjawab doa 
saya. Memang itu bukan saat yang saya i! mpikan saat saya remaja, tapi itu 
adalah waktu yang tepat.

Apakah anda menikah atau lajang, tujuannya adalah hidup untuk Kristus.
Pernikahan seharusnya tidak menjadi tujuan akhir dari kehidupan Kristen. Saya 
memang merasa diberkati dengan pernikahan saya dan mengalami cinta dengan 
seorang pria. Dan sejujurnya saya juga menghargai semua pergumulan yang telah 
menghasilkan pertumbuhan yang sehat dalam hubungan kami. Namun suatu saat nanti 
kami tidak akan berdiri sebagai suami dan istri di hadapan Kristus. 
Masing-masing dari kita akan berdiri menghadapNya sebagai seorang pribadi, 
seorang diri. Dan kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita selama di bumi 
ini kepadaNya, entah kita lajang atau menikah. 

Jika anda seorang lajang, anda tidak lebih rendah atau tidak layak sebagai 
seorang manusia. Rencana Tuhan akan membawa kita melalui jalan-jalan yang 
berbeda, dan jalan-jalan itu patut dirayakan. Kuncinya adalah menundukkan 
keinginan anda kepada Tuhan, karena hidup yang memuliakan Tuhan adalah bukan 
tentang mendapatkan apa yang anda mau. Tapi tentang menggenapi kehendakNya atas 
diri anda. Saat inilah berdoa untuk benar-benar mencari tahu kehendakNya atas 
hidup anda sehubungan dengan pernikahan menjadi sangat penting. Jika anda 
merasa terpanggil untuk menikah, bukankah sudah seharusnya anda melihat bahwa 
Tuhan cukup berkuasa untuk membuatnya terjadi? Mungkin waktunya tidak sesuai 
dengan perkiraan anda, namun jika Dia meletakkan keinginan itu dalam diri anda, 
bukankah Dia layak mendapatkan kepercayaan dan iman anda?

Tentu saja, tidak setiap orang terpanggil untuk menikah. Saya sangat mengagumi 
teman-teman lajang saya yang mampu untuk melayani banyak orang dengan maksimal 
(yang tidak akan mungkin jika mereka menikah). Saya melihat mereka sebagai 
pahlawan-pahlawan dalam tubuh Kristus. Tidak setiap orang lajang yang ingin 
menikah merasa tidak puas atau kesepian, tapi kenyataannya banyak yang 
merasakan seperti itu. 

Kepada mereka, saya ingin memberi semangat, Tuhan tidak melupakan anda. "Tuhan 
itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang 
yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:18). Berdoalah pada Tuhan yang adalah Perancang 
dari semua mimpi anda. Jika anda yakin bahwa Dia memanggil anda untuk menikah, 
peganglah mimpi itu. Gunakan waktu saat ini untuk mempersiapkan diri anda untuk 
pernikahan. Berdoalah agar Tuhan mempersiapkan baik anda maupun calon pasangan 
anda. Anda dapat mempercayai Tuhan untuk masa depan anda. "Percayalah kepada 
TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu 
sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." 
(Amsal 3:5-6). Dan ingatlah, anda dapat menemukan damai sejahtera dan sukacita 
dalam Kristus saat ini, karena anda adalah (dan akan selalu menjadi) 
pengantinNya. 
===============================================
From: rm_maryo 

"Roh jahat pun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya." (1Sam 1:9-20; Mrk 
1:21b-28)

"Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar 
pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak 
seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang 
yang kerasukan roh jahat. 
Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? 
Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari 
Tuhan." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" 
Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara 
nyaring ia keluar dari padanya. 
Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? 
Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun 
diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar 
tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea" (Mrk 1:21b-28), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. "Maling berteriak maling" (=Pencuri berteriak pencuri), demikian rumor yang 
sering terjadi di antara para penjahat untuk melindungi diri. Begitulah pada 
umumnya yang terjadi: para penjahat atau koruptor berusaha pasang kuda-kuda 
untuk melindungi diri dengan teriakan keras atau gertakan dengan mengandalkan 
kekekaran tubuh, kuasa atau kedudukannya, sebagaimana diwartakan oleh Injil 
hari ini.
"Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret", begitulah reaksi cepat dan 
keras dari roh jahat ketika melihat Yesus. 
Namun dengan sabdaNya akhirnya roh jat tersebut diusir dan pergi, sabdaNya 
sungguh kuat kuasa, penuh wibawa. Kita semua kiranya dapat meneladan Yesus, 
yaitu ketika menghadapi gertak sambal dari para penjahat atau orang jahat di 
sekitar kita hendak nya tetap tenang, sabar dan rendah hati serta kemudian 
tanggapilah dengan kata-kata yang bijak dan wibawa, tepat pada sasaran. Jika 
kita senantiasa bersatu dan bersama dengan Tuhan, kami yakin kita dapat 
mengalahkan berbagai macam rayuan dan gertakan penjahat di sekitar kita. 
Kehadiran atau kedatangan orang baik, cerdas ber iman di sana-sini pada umumnya 
menggetarkan para penjahat, orang-orang jahat dan mereka langsung berreaksi 
keras untuk melindungi diri. Marilah kita senantiasa dalam keadaan baik, cerdas 
beriman, agar kehadiran dan kedatangan kita di manapun dan kapanpun menjadi 
kabar baik di mana-mana dan kita dapat mengusir roh-roh jahat yang bercokol 
dalam diri sesama dan saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup kita. 
Hadapilah dan sikapilah aneka gertakan sambal dengan lemah-lembut, rendah hati 
dan kasih, maka ia akan diam dan taat kepada kita. Maka seperti doa dari 
St.Fransiskus Asisi, marilah kita bawa cintakasih dimana ada kebencian, 
pengampunan dimana ada penghinaan, kerukunan dimana ada perselisihan, kepastian 
dimana ada kebimbangan, kebenaran dimana ada kesesatan, harapan dimana ada 
kecemasan, kegembiraan dimana ada kesedihan dan terang dimana ada kegelapan. 
. "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara 
hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi 
memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan 
dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh 
kepalanya."(1Sam 1:11), demikian doa Hana kepada Tuhan.

Doa yang sungguh keluar dari lubuk hati terdalam dengan penuh penyerahan diri 
itupun akhirnya dikabulkan oleh Tuhan, Hana dianugerahi seorang anak laki-laki 
yang kemudian diberi nama Samuel. "Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: 
"Aku telah memintanya dari pada TUHAN.". Anak yang dianugerahkan oleh Tuhan 
itupun akhirnya dipersembahkan kembali kepada Tuhan, menjadi hamba Tuhan. Maka 
bercermin dari pengalaman Hana ini kami mengajak dan mengingatkan para 
orangtua/ suami-isteri, khususnya para ibu/isteri untuk rela sepenuh hati 
berani mempersembah kan anak-anaknya kepada Tuhan. Kita berharap anak-anak 
kelak kemudian hari tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman, 
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, syukur di antara anak-anak ada 
yang terpanggil secara khusus menjadi imam, bruder atau suster. Dan sekiranya 
anak-anak kita kelak membangun keluarga, kita berharap mereka juga akan menjadi 
suami-isteri yang 
sungguh berbakti kepada Tuhan. Marilah kita semua menyadari dan menghayati 
bahwa masing-masing kita berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan dan harus 
kembali kepada Tuhan, meninggal dunia dalam Tuhan. Agar kita dapat kembali 
kepada Tuhan dengan baik, bahagia dan selamat kiranya selama dalam perjalanan 
hidup di dunia ini kita senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, berbuat 
baik kepada 
sesama dan saudara -saudari kita. 

"TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan 
mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, 
dan meninggikan juga" (1Sam 2:6-7) 

Jakarta, 15 Januari 2008
================================================
From: Saumiman Saud 

www.saumimansaud.org update

KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS

Tidak ada yang pasti di dunia ini, semuanya dapat berubah. Tradisi, kebudayaan, 
pengetahuan, kekuasaan dan sebagainya dapat berubah. Hari ini kita kaya-raya, 
sukses , dan berpangkat besok belum tentu; namun sebaliknya hari ini kita 
miskin, gagal; maka besok juga belum tentu terus-menerus demikian. Hal inilah 
yang membuat seseorang tidak perlu bangga dan sombong atas kesuksesan dan 
keberhasilannya, sebaliknya bila mengalami kegagalanpun tidak harus membuat 
kita terbuai dengan keputusasaan

Selanjutnya klik http://www.saumimansaud.org 

Kirim email ke