From: "Romo maryo" <[EMAIL PROTECTED]> "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." (2Sam 5:1-7.10; Mrk 3:22-30) "Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat" (Mrk 3:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Thomas Aquino, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Orang-orang pandai, tokoh masyarakat atau Negara, ketika tiba-tiba muncul tokoh baru yang mulai popular dan dicintai oleh rakyat atau masyarakat pada umumnya, sering merasa dirinya berada dalam ancaman untuk tersingkir. Untuk melemahkan pengaruh tokoh baru tersebut mereka sering memunculkan issue-issue negatif tentang sang tokoh baru yang bersangkutan. Begitulah yang terjadi dengan para ahli-ahli Taurat yang menuduh Yesus kerasukan Beelzebul, penghulu atau pemimpin setan/roh jahat. Issue negatif yang lahir dari irihati pada umumnya tidak benar, maka dengan mudah dan cerdas Yesus menanggapinya: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya".
Dalam hidup sehari-hari, dalam tugas pekerjaan kita, mungkin kita juga menghadapi irihati-irihati macam itu serta diissuekan secara negatif. Jika kita menghadapi yang demikian itu marilah kita tetap setia pada jalan yang benar dan baik, sadarilah dan hayatilah justru issue-issue atau tantangan-tantangan macam itu merupakan jalan atau wahana yang membuat kita semakin cerdas beriman, seperti St.Thomas Aquino. Kebenaran dan kebaikan pasti akan mengalahkan aneka macam kejahatan, irihati dan dengki. Segala macam provokasi untuk menimbulkan pertentangan dan kerusuhan pasti dapat dikalahkan atau dibungkam dengan kebenaran dan kebaikan. Bertindak benar dan baik antara lain kita tetap setia pada panggilan dan tugas perutusan atau pekerjaan kita masing-masing, sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan. · "Makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab TUHAN, Tuhan semesta alam, menyertainya" (2Sam 5:10) Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan kita semua yang merasa berkuasa atau memiliki kuasa tertentu, dengan kata lain kiranya masing-masing dari diri kita memiliki kuasa tertentu, paling tidak berkuasa atas apa yang kita miliki atau berada 'di tangan' kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa sebesar atau sekecil apapun kuasa yang kita miliki merupakan anugerah Tuhan, yang kita terima melalui sesama dan saudara-saudari kita. Maka marilah kuasa yang kita miliki difungsikan sesuai dengan kehendak Tuhan, "sebab Tuhan Tuhan semesta alam menyertai kita". Salah satu bentuk konkret bahwa kuasa kita fungsikan sesuai dengan kehendak Tuhan antara lain kita fungsikan demi kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan siapapun yang kena dampak pemfungsian kuasa tersebut. Dengan kata lain sebagai pemimpin atau penguasa senantiasa berpedoman pada 'bonum commune', kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan umum. Percayalah jika kita berpedoman pada bonum commune maka nama kita akan semakin besar dalam arti yang sesungguhnya, bukan karena harta benda, gelar dan pengalaman kerja, melainkan karena kita adalah orang yang baik dan benar. Segala cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa semakin mendekatkan diri saya sendiri pada Tuhan maupun sesama, serta membuat orang lain juga semakin dekat dan bersahabat dengan Tuhan dan sesamanya. Hendaknya tidak takut dan gentar untuk senantiasa berbuat baik dan benar; ingat bahwa masing-masing dari kita pernah menjadi juara atau pemenang besar, yaitu dapat mengalahkan jutaan sperma untuk merebut satu telor dalam rahim ibu kita masing-masing. Bukankah ada jutaan (lebih dari duapuluh juta) sperma berebut untuk bergabung dengan sel telor, dan hanya satu pemenang yaitu saya sendiri? Tetaplah tegar dan bergairah berbuat baik dan benar meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. "Tuhan disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya. Ya TUHAN, Tuhan semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya TUHAN, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu. Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya "(Mzm 89:8-10) Jakarta, 28 Januari 2008 ============================================= From: "Romo maryo" <[EMAIL PROTECTED]> "Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?" (2Sam 6:12b-15.17-19; Mrk 3:31-35) "Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Tuhan, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku" (Mrk 3:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. . Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · KKN, Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, yang menjadi virus penyakit pada masa Orde Baru kiranya masih marak di era Reformasi saat ini. Yang cukup memprihatinkan hemat saya adalah 'korupsi'. Kolusi dan nepotisme dalam arti positif rasanya baik-baik saja asal tidak korupsi, karena dengan demikian kerjasama akan lebih mudah dan lancar. Persaudaraan atau kerjasama di antara orang yang sudah saling kenal serta ada ikatan darah atau teman seangkatan dst.. kiranya akan lebih mudah diusahakan dan ditingkatkan, tentu saja semuanya berada di dalam Tuhan alias senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan di dalam hidup, kerja serta kesibukan pelayanan setiap hari. Tanggapan Yesus atas kata banyak orang yang mengelilingi Dia: 'Siapa ibuKu dan saudara-saudaraKu' kiranya tidak mengingkari relasi/ikatan darah dengan ibu dan saudara-saudaraNya melainkan lebih menegaskan, lebih-lebih pada diri Bunda Maria, teladan umat beriman. Maka marilah dalam ikatan persaudaraan atau kerja sama, entah yang diikat oleh 'darah' maupun 'pengalaman' atau cita-cita, kita tetap setia melaksanakan kehendak Tuhan antara lain tidak korupsi. Korupsi berasal dari kata bahasa Latin 'corruptio' yang antara lain berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, kemerosotan. Bukankah tindakan korupsi sungguh mengerikan dampak nya, yaitu rusak, busuk dan merosot? Jika kita sungguh menjadi orang beriman, sahabat-sahabat Tuhan maka kita dipanggil untuk tidak korupsi serta memberantas aneka macam bentuk korupsi yang terjadi. Salah satu kegiatan yang bersifat preventif dalam pemberantasan korupsi adalah 'dilarang menyontek' dalam ulangan umum atau ujian di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Membiarkan atau memberikan kemungkinan untuk menyontek berarti menumbuh-kembangkan budaya korupsi; menyontek merupakan akar tindakan korupsi. Hal yang senada hendaknya juga terjadi di dalam keluarga, dimana orangtua menjadi teladan kejujuran dan keterbukaan serta mendidik anak-anak sedini mungkin untuk jujur dan terbuka. Korupsi sekecil apapun atau dalam bahasa Jawa 'ngunthet' hemat saya akan merusak hidup bersama serta memerosotkan pribadi yang bersangkutan, yang melakukan korupsi. · "Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam. Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya" (2Sam 6:18-19). Sekali lagi kutipan ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang sedang berkuasa atau menjadi pemimpin. Menghayati atau memfungsikan kekuasaan dan kepemimpinan berarti senantiasa mensejahterakan dan membahagia kan mereka yang dikuasai atau dipimpin; seluruh kebijakan dan kegiatan untuk mensejahterakan 'seluruh bangsa/anggota' sehingga masing-masing orang kembali ke rumahnya dalam damai sejahtera. Secara khusus sekali lagi saya mengingatkan dan mengajak para pengusaha untuk senantiasa memberi imbal jasa atau gaji yang memadai kepada para buruh atau pegawainya, para pejabat atau petinggi pemerintah atau masyarakat senantiasa berjuang demi kesejahteraan seluruh rakyatnya, bukan untuk memperkaya diri sendiri atau mencari enak sendiri. Tanda keberhasilan atau kesuksesan seorang pemimpin, direktur atau atasan adalah seluruh anggota, pegawai atau bawahan hidup damai sejahtera lahir batin, cerdas beriman. Untuk itu selain memperhatikan kebutuhan jasmani: makanan, pakaian dan papan/rumah, kiranya perlu diperhatikan juga pendidikan atau pembinaan. Maka alokasi anggaran belanja hendak nya juga memperhatikan bidang pendidikan dan pembinaan rakyat, bawahan atau anggota. Hidup dan kerja bersama ini rasanya seperti permainan sepak bola, dimana para pemain bermain dengan cerdas dan cantik, yang didukung wasit yang adil dan bijak, sehingga nikmat dan menggembirakan untuk ditonton. Para pemain bermain dengan jujur dan bersih sedangkan wasit memberi kemungkinan dan kemudahan bagi para pemain untuk beriman dengan cerdas dan cantik. "Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" (Mzm 24:7-8) Jakarta, 29 Januari 2008 =========================================== From: "Romo maryo" <[EMAIL PROTECTED]> Mg Biasa IIIa: Yes 8:23b-9:3; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23 "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia". Dalam sebuah lokakarya pendidikan yayasan-yayasan pengelola sekolah katolik antara lain dihadirkan seorang pembicara yang cukup kritis dan berani berbicara, yaitu Romo JB.Mangunwijaya Pr alm. Dengan gayanya yang ceplas-ceplos, blak-blakan/terbuka dan tajam serta keras ia menyampaikan masukan yang kritis kepada para peserta lokakarya. Ketika ada acara tanya-jawab, seorang peserta lokakarya menyampaikan pertanyaan sebagai berikut: "Bagaimana kesan romo terhadap sekolah-sekolah katolik yang dikelola oleh para suster atau bruder, yang dikenal cukup favorit di masyarakat?". Dengan gaya bicara yang enak Romo Mangun (begitu sebutannya) menjawab: "Oh sekolah-sekolah yang dikelola suster atau bruder itu bagus, gedung megah dan bagus, dipuji banyak orang, dikagumi masyarakat, namun apakah dicintai oleh masyarakat pada umumnya saya kurang tahu". Dicintai oleh masyarakat pada umumnya maksudnya ialah siapapun, termasuk rakyat kecil atau orang miskin mendatangi sekolah tersebut alias boleh menikmati proses pembelajaran di sekolah tersebut, bukan hanya orang-orang tertentu yang berduit atau kaya saja. Sekolah merupakan karya pastoral/kerasulan, yang menjadi 'stake holder' adalah manusia, dengan kata lain yang diutamakan dalam kegiatan persekolahan adalah manusia, bukan gedung, uang atau harta benda. Namun secara tidak sadar, karena desakan kebutuhan konkret, sering para penyelenggara sekolah kurang memperhatikan manusianya, melainkan lebih memperhatikan gedung, sarana-prasarana serta keuntungan uang/ harta benda, sehingga hanya orang-orang kaya dan berduit yang lebih mungkin menikmati proses pembelajaran atau belajar di sekolah tersebut. Tanpa sadar atau disadari kegiatan atau karya pastoral pendidikan menjadi kegiatan bisnis. Maka baiklah kami mengajak kita semua yang berkarya pastoral dengan mendunia, entah karya sosial, pendidikan/ sekolah atau kesehatan/rumah sakit, marilah kita mawas diri dengan sabda Yesus di bawah ini. "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Mat 4:19) Simon/Petrus dan Andreas, penjala ikan dipanggil oleh Yesus untuk dijadikan 'penjala manusia' Panggilan ini merupakan rahmat atau anugerah Tuhan, suatu perubahan atau pembaharuan cara hidup dari kegiatan untuk mengumpulkan harta benda menjadi kegiatan penyelamatan jiwa manusia. Hemat saya dengan dan melalui sakramen-sakramen yang telah kita terima (baptis, krisma, imamat, perkawinan, kaul dst..) kita juga dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan jiwa manusia di dalam hidup, tugas pekerjaan, jabatan atau aneka kegiatan kita sehari-hari. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana 'keselamatan jiwa manusia' menjadi opsi hidup, karya atau pekerjaan dan kesibukan kita. "The man behind the gun", manusia yang ada di balik senjata, itulah kiranya motto yang harus menjadi acuan hidup dan tugas pekerjaan kita. Aneka macam sarana-prasarana, tujuan atau sasaran kegiatan/ kerja akan berfungsi dan menjadi kenyataan/ tercapai tergantung dari manusianya. Maju atau mundurnya usaha atau perusahaan tergantung dari manusianya. Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, pelayanan kesehatan di rumah sakit, kegiatan sosial dst.. tergantung dari manusianya. Maka baiklah dalam kegiatan, karya atau usaha tersebut kita senantiasa mengutamakan keselamatan jiwa dan kesejahteraan hidup semua manusia yang terlibat atau berpartisipasi di dalamnya, antara lain kepada para pegawai, pekerja atau buruh diberi imbalan jasa atau kesejahteraan yang memadai, sehingga mereka bekerja dengan gembira dan ceria. Kegembiraan dan keceriaan dalam kerja karena keselamatan atau kesejahteraan hidupnya sebagai pegawai, pekerja atau buruh pada gilirannya akan meningkatkan keberhasilan usaha yang bersangkutan. Ingatlah bahwa para pegawai, pekerja atau buruh adalah orang-orang yang menjadi ujung tombak usaha atau kegiatan pelayanan kita: para petinggi atau atasan hanya bicara dan merencana dalam tulisan atau kata-kata, dan para pegawai, pekerja atau buruh yang melaksanakannya. Bukankah pelaksanaan atau penghayatan merupakan kekuatan kegiatan atau usaha sebagaimana dikatakan oleh Paulus di bawah ini? "Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia" (1Kor 1:17) "Harmoko", hari-hari omong kosong, begitulah rumor yang berkembang di masa Orde Baru ketika Bp.Harmoko menjadi Menteri Penerangan, corong pemerintah. Berbagai program kegiatan untuk pembangunan atau mensejahterakan rakyat dikumandangkan; memang ada kegiatan pembangunan yang menelan dana atau beaya tinggi, tetapi kiranya sebagian besar dana dikorupsi, proyek-preyek pembangunan menjadi sarana atau wahana untuk memperkaya diri para pejabat dst.. Dengan kata lain mensejahtera kan diri sendiri yang diutamakan bukan rakyat, warta gembira hanya dalam kata-kata atau perkataan bukan dalam tindakan konkret. "Kristus mengutus aku untuk memberitakan Injil, dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia", demikian kesaksian Paulus, rasul agung. Marilah kita dalam berbagai kegiatan atau pekerjaan lebih banyak bekerja daripada omong-omong atau bicara. Cintakasih pertama-tama untuk dihayati bukan untuk diomongkan atau dibicarakan. Pada awal tahun kerja atau anggaran pada umum dibuat rencana atau program kerja, dan pada akhir tahun kerja diselenggarakan evaluasi. Semoga pada acara evaluasi yang terjadi adalah evaluasi kerja bukan evaluasi program atau rencana, artinya yang dievaluasi adalah apa yang telah dikerjakan bukan rumusan rencana atau program yang berupa rumusan kata-kata indah. Jika menyelenggarakan evaluasi rencana atau program hendaknya pada catur wulan atau semester pertama tahun kegiatan untuk melihat dan menilai apakah yang direncanakan atau diprogramkan sesuai dengan kebutuhan, menanggapi kebutuhan untuk penyelamatan dunia yang konkret serta jiwa manusia. Jika ditemukan ketidak-sesuaian marilah kita rubah atau perbaharui, sehingga rencana atau program dapat operasional. Mengacu pada kesaksian Paulus di atas kiranya masing-masing dari kita yang sedang bekerja atau belajar, dipanggil untuk sungguh bekerja dan belajar. Kepada yang sedang belajar: hendaknya jangan hanya belajar berhitung tetapi berhitunglah, bukan hanya belajar filsafat atau teologi, tetapi berfilsafat atau berteologi, bukan hanya belajar tentang sepak bola tetapi bermain sepak bola, bukan hanya belajar fisika tetapi ber-fisika, bukan hanya belajar tentang menyanyi, tetapi menyanyilah dst.. Sedang para pekerja hendaknya bukan hanya belajar tentang bekerja, tetapi bekerjalah. Sebagai orang beragama yang harus berdoa, jangan hanya belajar tentang doa tetapi berdoalah, sebagai orang beriman jangan hanya belajar tentang iman tetapi berimanlah dst.. Kita semua berharap menjadi terampil bekerja, berdoa, belajar, bermain, bernyanyi, beriman dan dengan demikian kita semakin tangguh dan handal sebagai pribadi manusia yang cerdas beriman serta dapat hidup selamat dan sejahtera maupun dapat menyelamat kan dan menggembirakan yang lain atau sesama kita. Biarlah mereka yang melihat kita sebagai orang-orang yang terampil dalam penghayatan atau pelaksanaan juga ikut bergembira dan terbuka untuk bergabung dengan cara hidup dan cara bertindak kita. Biarlah : "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar." (Yes 9:1) "Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN" (Mzm 27:13-14) Jakarta, 27 Januari 2008

