Pernahkah anda melihat cahaya MATAHARI???
   
  Mungkin anda akan merasa bahwa saya ini adalah gila, mana ada orang tidak 
pernah melihat cahaya MATAHARI kecuali orang itu memang tuna netra, tetapi 
kalau kita teliti secara mendetail, ternyata cahaya MATAHARI yang biasa kita 
sebut putih itu adalah terdiri dari TUJUH warna yang berbeda, yaitu MERAH, 
JINGGA, KUNING, HIJAU, BIRU, NILA dan UNGU, disamping itu ada sinar INFRA MERAH 
dan ULTRA VIOLET yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang saja.
   
  Proporsi dari seluruh warna itu harus tepat seperti itu, maka hasilnya akan 
menjadi putih, kalau misalnya warna merah kita hilangkan, karena kita tidak 
suka dengan warna tersebut, maka sinar MATAHARI itu tidak akan menjadi putih, 
dan akan memusingkan mata kita sendiri.
   
  Di Indonesia selain warna Jingga dan warna Nila, semuanya telah diibaratkan 
dengan simbol simbol PARTAI POLITIK, yang mana kebetulan WARNA UNGU adalah 
Warnanya PARTAI DAMAI SEJAHTERA dan di dalam Warna Ungu itu adalah warna 
campuran dari warna MERAH dan warna BIRU.  Dalam Warna UNGU itu sendiri, kalau 
warna MERAHnya terlalu banyak, maka hasilnya tidak akan menjadi warna UNGU, 
begitu juga kalau warna BIRUnya lebih banyak daripada warna MERAH, maka 
hasilnya juga tidak akan menjadi warna UNGU. Hal inilah yang perlu kita ketahui 
secara ilmu PENGETAHUAN MANUSIA.
   
  Berdasarkan peraturan penyinaran warna inilah, maka warna UNGU ini adalah 
warna yang mengemban suatu keseimbangan dan setiap saat harus seimbang, dan 
begitulah kenyataannya, PARTAI DAMAI SEJAHTERA itu walaupun terdiri dari 
pelbagai AGAMA, PARTAI DAMAI SEJAHTERA harus bisa menyeimbangkan kekuatan dari 
seluruh AGAMA itu, agar warnanya tetap UNGU, bukan warna yang lainnya.
   
  Dalam hal perpolitikan, suatu keseimbangan dalam segala hal harus ada, kita 
tidak bisa ngotot dan mau menang sendiri dalam kehendak kita sendiri, apalagi 
dengan AGAMA yang telah kita yakini dan kita anut. Bukannya agama yang ini yang 
paling bagus tanpa ada agama yang lain, tetapi semua agama itu adalah bagus 
kalau ada keseimbangannya.     
   
  Pembakaran dan pengerusakan rumah rumah ibadah dari suatu agama tertentu 
adalah suatu usaha untuk menumpas agama itu dari keberadaannya di muka bumi 
ini, kalau agama yang kita anggap kurang tepat itu kita tumpas sampai habis 
sama sekali, maka akan timbul sesuatu yang lebih tidak menyamankan masyarakat 
secara keseluruhannya, termasuk orang yang tadinya ingin menumpas agama 
tertentu itu, hal ini mirip sekali dengan warna MATAHARI itu, oleh karena itu 
sekarang seluruh umat manusia di muka bumi ini sudah mau mengerti akan nilai 
nilai BHINNEKA TUNGGAL IKA yang sebenarnya sudah lama lahir di Indonesia 
sendiri, tetapi mungkin kurang diphamai oleh bangsa Indonesia sendiri, dan 
marilah kita kembali menggali nilai nilai yang amat luhur dari BHINNEKA TUNGGAL 
IKA itu terutama yang sudah dikemas dalam PANCASILA.
   
  Ini ada uraian dari negara lain tentang nilai BHINNEKA TUNGGAL IKA itu dalam 
uraian yang agak berbeda:
   
                                  Kamis, 14 Februari 2008 - 02:46 WIB
Berdamai Dengan Tuhan dan Sesama adalah Nilai Kehidupan.
Berusahalah Mengatasi Masalah, Bukan Saling Mengalahkan.     Berusahalah 
Mengatasi Masalah, Bukan Saling Mengalahkan
oleh Rebecca Cataldi (08 Februari 2008)

Washington, DC – Di masa-sama pasca 11/9, perang dan terorisme telah mendorong 
pembahasan tentang apakah sebuah "benturan peradaban" antara Amerika Serikat 
dan dunia Muslim sedang terjadi. Pergolakan ini telah mengilhami banyak 
kalangan untuk bekerja lebih keras mendorong dialog dan pengertian antar 
budaya. Orang Amerika "biasa" dan rakyat dunia Muslim khususnya, memiliki peran 
kritis untuk dimainkan dalam proses ini dengan merangkul satu sama lain dalam 
persahabatan. Ketika kita melakukan hal tersebut, kita akan menghargai tidak 
hanya betapa khas dan beragamnya kita semua, tetapi betapa banyaknya 
nilai-nilai terdalam kita yang serupa.     

Menjadi tuan rumah bagi mahasiswa pertukaran dari Afghanistan, menjadi relawan 
di Indonesia, belajar di Mesir, dan bekerja dalam penyelesaian-penyelesaian 
konflik di Palestina dan Pakistan, saya mengalami secara langsung kekuatan 
pertukaran pribadi dan kebudayaan. Pengertian sejati dan persahabatan kekal 
antarmanusia dapat terwujud dari kegiatan-kegiatan seperti ini. Di Pakistan, 
misalnya, dialog dengan para pemimpin madrasah tidak hanya memungkinkan kami 
untuk lebih menghargai perbedaan-perbedaan, tetapi juga untuk melihat betapa 
banyak kesamaan di antara kami. Dengan berbagi perasaan tentang perang di Irak 
dan kebijakan AS di Palestina yang telah menyakiti Muslim, dan betapa serangan 
teroris seperti 11/9 yang menyakiti bangsa Amerika, kami menyadari keinginan 
bersama untuk melindungi rakyat dari kekerasan dan membebaskan dunia dari 
kebencian dan rasa takut.

Sesungguhnya, tidak ada alasan bagi sebuah benturan antara Amerika dan dunia 
Muslim. Nilai-nilai yang menjadi landasan Amerika — ketaatan kepada Tuhan, rasa 
hormat, dan kesetaraan bagi semua orang, perlindungan hak-hak asasi manusia, 
pelayanan kepada orang lain, serta bagi kepentingan yang lebih besar dan 
perdamaian — juga merupakan nilai-nilai fundamental dari Islam. Berbagai 
problem dalam hubungan Amerika-Muslim telah terjadi bukan karena bangsa Amerika 
dan Muslim mempertahankan nilai-nilai yang berlawanan atau bermasalah, tetapi 
karena sebagian orang Amerika dan Muslim telah gagal menjalankan nilai-nilai 
mereka sendiri.

Bangsa Amerika yang mencintai Amerika dan Muslim yang mencintai Islam akan 
memberi sangat bermanfaat jika melayani masyarakat, membantu mereka 
mempertahankan nilai-nilai perdamaian dan cinta yang menjadi landasan hidup 
mereka. Center for Understanding Islam (www.cuii.org), sebuah organisasi Muslim 
Amerika, menjawab pertanyaan, apakah ada pertentangan antara Islam dan Amerika 
dengan sebuah sikap yang tepat:

    "Negara kami adalah Amerika dan agama kami adalah Islam… tidak perlu 
memilih salah satunya. Alasannya, prinsip-prinsip yang mengatur dan mendorong 
para pendiri Amerika serupa dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para 
cendikiawan klasik Islam berabad-abad lalu …. Keduanya menolak eksklusifitas 
kesetiaan berdasarkan agama, suku bangsa, dan kelas, dalam rangka melahirkan 
peradaban-peradaban baru berdasarkan martabat dan hak-hak asasi manusia, serta 
tanggung jawab yang dimiliki setiap orang …." 

Sebagai seorang Amerika Katolik yang telah bepergian ke negara-negara Muslim di 
berbagai belahan dunia, salah satu kesalahpahaman antara budaya terbesar dan 
paling tragis yang saya amati adalah keyakinan bahwa yang lain membenci kita 
atau mengharap sesuatu yang buruk menimpa kita. Kenyataannya, pandangan ini 
tidak mewakili pendapat umum di kedua dunia tersebut. 

Sementara para ekstremis yang melakukan tindak-tindak kekerasan perang atau 
terorisme sering mendominasi perhatian media, mayoritas orang di setiap bangsa 
dan setiap agama ingin hidup dalam perdamaian dan keamanan, dan menginginkan 
hal yang sama bagi yang lain. 

Kebanyakan orang Amerika dan Muslim berbagi keinginan akan hubungan yang lebih 
baik satu sama lain dan membangun sebuah dunia yang lebih baik. Dalam semangat 
ini, saya telah memulai sebuah proyek yang disebut Proyek Persahabatan 
Amerika-Islam. Saya mengumpulkan pesan-pesan perdamaian dan persahabatan dari 
rakyat Amerika kepada rakyat dunia Muslim, dan sebaliknya. Pesan-pesan ini 
dikumpulkan dalam sebuah buku, yang saya harap dapat disebarkan secara luas.

Serangan-serangan teroris terhadap bangsa Amerika dan seluruh dunia sejak 11/9, 
demikian juga konflik-konflik di Irak, Afghanistan, dan Israel/Palestina, 
menyentuh tepat di jantung rakyat Amerika dan Muslim sebagai ancaman yang 
sangat nyata terhadap identitas kita, cara hidup, dan keberadaan kita. Namun, 
daripada memandang konflik-konflik ini sebagai perwujudan dari sebuah "benturan 
peradaban", mereka seharusnya dilihat sebagai permasalahan yang perlu 
diselesaikan — sebagai peluang-peluang untuk bersama-sama menghadapi sebuah 
masalah, bukan melawan satu sama lain.     

###

* Rebecca Cataldi adalah asisten program International Center for Religion & 
Diplomacy dan kandidat master Institute for Conflict Analysis and Resolution, 
George Mason University. Untuk mengirimkan pesan kepada Proyek Persahabatan 
Amerika-Islam, hubungi [EMAIL PROTECTED] Artikel ini ditulis untuk Kantor 
Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 5 Pebruari 2008, 
commongroundnews.org 


-- 
1.출애굽기 Kitab Keluaran 18 : 21
2.출애굽기 Kitab Keluaran 23 : 8
3.신명기     Kitab Ulangan 16 : 19
4.신명기     Kitab Ulangan 27 : 25
5.시편 =     Mazmur = Psalm = Psalms 100 : 1 – 5, 
6.시편 =     Mazmur = Psalm = Psalms 34 : 7 – 9
7.시편 =     Mazmur = Psalm = Psalms 103 : 1 – 22
8.잠원 =     Amsal = Sprueche = Proverbs 15 : 29

1 Korintus 1:10
aku menasihatkan kamu, saudara saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, 
supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi 
sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.

1 Corinthians 1 : 10
Now I plead with you, brethren, by the name of our Lord Jesus Christ, that you 
all speak the same thing, and that there be no divisions among you, but that 
you be perfectly joined together in the same mind and in the same judgment 
    


                      Ingat SEMBOYAN ini, Kitab Keluaran 18:21, Keluaran 23:8, 
Ulangan 16:19, Ulangan 27:25, Mazmur 100: 1 - 5 dan 1 Korintus 1:10
      
           











       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke