Manusia: Peta Teladan Allah-5
   
   
  Penggunaan kreativitas yang tidak benar adalah dosa
   
   
  Socrates menekankan manusia perlu mengerti dirinya sendiri, baru ia bisa 
hidup dengan baik. Apa gunanya manusia mengerti segala sesuatu di luar dirinya 
tetapi tidak mengenal dirinya sendiri? Manusia ingin mengetahui banyak hal, 
tetapi gagal mengetahui dirinya sendiri. Sembilan ratus tahun kemudian, 
Agustinus mengatakan, “Aku hanya ingin mengetahui dua hal dalam hidupku: 
mengenal Allah dan mengenal jiwa (diri).” Perkataan-perkataan ini telah 
menggugah para pemikir untuk memikirkan Doktrin Allah dan Doktrin Manusia. 
   
  Namun manusia hanya bisa mengenal Allah jika Allah mewahyukan diri-Nya. Tidak 
mungkin manusia mengenal Allah dari usahanya sendiri. Juga tidak mungkin 
manusia mengerti apa arti dan natur manusia itu sendiri. Kita bersyukur hanya 
di dalam Alkitab kita menemukan pengertian Imago Dei. Allah dalam 
kedaulatan-Nya yang bebas mencipta manusia menurut peta dan teladan-Nya. Maka 
manusia dicipta juga dengan sifat kebebasan. Kedaulatan Allah yang mutlak tidak 
menjadi kedaulatan yang sewenang-wenang. Kunci kemenangan di dalam kebebasan 
adalah “penguasaan diri.” Manusia selalu gagal menggunakan kebebasannya secara 
bertanggung jawab, kecuali jika dikontrol dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketika 
seseorang dipenuhi Roh Kudus, ia akan menghasilkan buah Roh Kudus, yaitu 
penguasaan diri. Allah tidak berdosa, tetapi manusia berdosa, karena manusia 
menggunakan kebebasan yang Allah berikan untuk bebas dari Allah. Inilah 
kerusakan manusia. Manusia harus meletakkan kebebasan yang dicipta
 kembali kepada Allah Pencipta. Inilah teladan Yesus di Getsemani: “Bukan 
kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu terjadilah.” Di situlah manusia mencapai nilai 
hidup yang sungguh berharga dan terhormat, karena dia belajar dari Yesus 
Kristus. 
   
  Allah Pencipta dan manusia dicipta menurut peta teladan Allah, sehingga 
manusia menjadi satu-satunya makhluk yang berdaya cipta. Manusia menjadi begitu 
penting dan berharga melebihi semua ciptaan lain, karena tidak ada makhluk lain 
yang berdaya cipta seperti manusia. Allah tidak mencipta musik, tetapi 
memberikan daya cipta pada manusia untuk mencipta musik. Allah tidak mencipta 
lukisan, tetapi memberikan daya cipta kepada manusia untuk melukis. Allah tidak 
menciptakan bahasa, tetapi manusia diberi kemungkinan berbahasa. Begitu banyak 
hal yang memerlukan daya cipta yang luar biasa. Ini yang menghasilkan 
kebudayaan manusia. Tidak ada binatang membuat pakaian. Tidak ada binatang 
menulis karya-karya literatur yang indah. Tidak ada tikus yang mencipta dan 
memainkan alat musik. Mencipta adalah membuat ide menjadi realita. Kita 
memikirkan sesuatu, lalu menjadikannya. Ini merupakan imitasi dari penciptaan 
Tuhan Allah. 
   
  Kebudayaan terbentuk dan disempurnakan oleh orang-orang yang mempunyai daya 
cipta yang kuat. Bangsa yang memiliki orang-orang dengan daya cipta yang kuat 
akan menjadi bangsa yang maju. Orang-orang ini akan mengubah lingkungan 
sekitarnya. Setiap orang memiliki daya kreativitas, karena ia dicipta menurut 
peta teladan Allah. Ketika Picasso melukis, ia mau melawan dalil alam. Di situ 
ia sedang memainkan peran sebagai Allah dan ia sedang menciptakan dunianya 
sendiri di atas kanvasnya. Semua pencipta sedang berperan seperti Allah, dengan 
menjadi allah kecil untuk mencipta dunia ciptaannya menurut daya cipta yang 
diberikan oleh Allah Pencipta. Hal ini dimungkinkan karena manusia dicipta 
menurut peta teladan Allah. 
   
  Filsuf Denmark, Kierkegaard, menulis kritik begitu keras, akhirnya dia 
diserang dan terpaksa menggunakan nama samaran. Tchaikovsky, profesor musik 
dari Moskow, menulis piano concerto, yang ketika diberikan ke rektornya, Anton 
Rubinstein, dikritik luar biasa. Tetapi ketika kemudian dipentaskan oleh 
Chicago Symphony, sukses luar biasa. Kreativitas yang baik seringkali ditolak 
atau tidak mudah diterima oleh orang lain. Ketika engkau memiliki kreativitas 
dan memperkembangkan kreativitasmu, belum tentu engkau akan diterima oleh orang 
lain. 
   
  Kita semua dicipta secara unik dan individu oleh Tuhan. Engkau berbeda dari 
orang lain dan orang lain berbeda dari engkau. Dengan demikian engkau tidak 
perlu merasa rendah diri. Kita harus mengembangkan individu dan kreativitas 
kita sendiri. Sebaliknya, dalam Roma 12:3 ditulis bahwa jangan ada orang yang 
melihat diri lebih dari yang seharusnya. Kita harus bisa mengukur diri kita, 
tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah, mengekspresikan kreativitas yang Allah 
berikan kepada kita. Jangan membuang kesempatan yang diberikan Tuhan kepadamu, 
jangan menginjak-injak masa mudamu, dan jangan menghamburkan kesempatan yang 
ada. 
   
  Penggunaan kreativitas memang suatu hal, tetapi penggunaan kreativitas yang 
tidak benar adalah dosa. Siapa yang lebih kreatif dari Yudas, yang bisa menjual 
bukan baju, tetapi gurunya. Kita harus tahu bagaimana mempergunakan kreativitas 
yang Allah berikan kepada kita dengan baik sesuai kehendak Allah. 
   
  Ketika Sang Pencipta mencipta yang dicipta menurut peta teladan-Nya sendiri, 
yang di dalamnya mengandung unsur penciptaan sebagai daya kreativitas, maka dia 
menjadi makhluk yang memiliki daya cipta seperti Sang Pencipta. Ketika ia 
menggunakan daya cipta tersebut, ia berperan seperti Allah. Ini disebut sebagai 
imitasi. Seorang anak mirip dengan orang tuanya, karena ada kode-kode rahasia 
di dalam tubuhnya yang menjadikan dia mirip orang tuanya. Manusia kini 
mengimitasi Tuhan Allah dengan memakai daya ciptanya. 
   
  Ketika manusia memakai daya ciptanya, sampai berapa jauh ia mungkin bisa 
berbuat salah? Manusia bisa menjadi begitu jauh memakai daya cipta. Manusia 
bisa menggunakan daya cipta yang diberikan oleh Pencipta untuk mencipta 
pencipta yang dicipta. Inilah penciptaan allah palsu. Ketika saya mencipta 
allah palsu, maka allah palsu itu adalah pencipta yang dicipta. Allah asli 
adalah Pencipta yang mencipta. 
   
  Sekitar tahun 1970 saya berjalan-jalan di tengah kota Taipei, di tempat 
pembuatan patung yang akan dimasukkan ke dalam kuil. Lalu saya melihat seorang 
anak kecil sedang kencing ke arah muka salah satu muka dewa yang sedang dibuat 
di situ. Ketika saya melihat, terkesan ironis sekali. Wajah dewa yang begitu 
galak ternyata tidak bisa berbuat apa-apa kepada anak kecil itu. Patung itu 
menjadi bau, tetapi dewa itu tidak bisa berespon karena patung itu benda mati. 
Saya mulai berpikir bahwa yang mencipta patung tidak tahu kalau patung itu 
barang ciptaan. Kita menggunakan barang ciptaan untuk mencipta pencipta yang 
dicipta, untuk mencipta allah ciptaan. Karena dia allah ciptaan, maka ia pasti 
bukan Pencipta, karena Pencipta pasti sendirinya tidak dicipta. 
   
  Ketika saya mencipta “pencipta” lalu saya berlutut di depannya dan mengaku 
bahwa ia adalah Sang Pencipta, itu merupakan suatu kemelaratan kreativitas yang 
paling besar. Maka Tuhan melarang manusia untuk membentuk segala macam patung 
lalu menyembahnya. Selain Diri-Nya, tidak ada pencipta lain. Dosa terbesar yang 
dilakukan Israel saat Musa berada di gunung Horeb, mereka mengumpulkan semua 
emas dan dicairkan untuk dibuat patung seekor anak lembu, lalu mereka 
menyembahnya. Mereka senang karena patung itu kelihatan, dan dianggap lebih 
baik dari Yahweh yang tidak kelihatan. Orang Israel yang tadinya percaya kepada 
Allah di sorga yang memimpin mereka, kini mereka percaya pada seekor lembu dari 
emas yang dibuat tangan manusia. Inilah kerusakan kreativitas. Inilah kerusakan 
manusia. 
   
  Siapakah Tuhan? Siapakah Sang Pencipta? Apakah Sang Penciptamu adalah karya 
ciptaanmu sendiri? Apakah Engkau sedang menciptakan pencipta yang dicipta untuk 
mengganti Sang Pencipta yang mencipta kamu menurut peta teladan-Nya? Mao Zedong 
memerintahkan agar orang tidak percaya kepada Allah, karena dia sendiri mau 
menggantikan peranan Allah. Pada waktu Anda melihat orang seperti Picasso atau 
pencipta musik yang luar biasa yang melawan segala sesuatu, Engkau mengerti 
bahwa mereka sedang memakai daya cipta yang diberikan oleh Tuhan untuk mencipta 
sesuatu ciptaan yang melawan sang Pencipta yang asli. Dari sini Engkau 
mengetahui sampai di mana kelemahan kebudayaan, di mana kesalahan agama, dan 
sampai di mana penyalahgunaan daya cipta manusia yang membuat dunia makin lama 
makin melarat. Kita harus kembali kepada Tuhan yang asli. Dan kita harus 
menyerahkan daya cipta kita kembali kepada Allah untuk dipakai menjadi berkat 
bagi orang lain. 
   
  Pada waktu saya masih muda, saya menyerahkan seluruh yang ada di dalam diri 
saya untuk Tuhan. Semua yang mungkin dihasilkan melalui karya saya, adalah 
milik Tuhan. Sang Pencipta hanya satu, kita hanya memakai potensi-potensi 
sebagai peta teladan Allah untuk memuliakan Tuhan dan membawa manusia kembali 
kepada Sang Pencipta yang asli. Kiranya Tuhan memakai kita dan mulai menggali 
diri kita mempergunakan daya cipta yang ada pada kita dengan sesungguhnya demi 
memuliakan Tuhan. Amin.


…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every good, and 
purity of righteousness rest in the Lord alone. 

  Dr. John Calvin




       
---------------------------------
  Nama baru untuk Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke