From: "Kisah" <[EMAIL PROTECTED]>

Edisi 76 -- Damai Bersama Tuhan

 
PENGANTAR

   Saat ini manusia hidup dalam suasana yang jauh dari kedamaian. Di
   mana-mana terjadi perang, penindasan hak azasi manusia, kelaparan, bencana, 
dan lain 
   sebagainya yang seolah-olah dapat merampas kedamaian itu sewaktu-waktu.

   Ya, sekarang kedamaian menjadi barang langka bagi banyak orang.
   Mereka hidup dengan susah payah mencari kedamaian, bahkan tidak
   sedikit yang membayar harga untuk mendapatkannya. Apakah hal
   tersebut berlaku pula bagi anak-anak Tuhan? Orang yang percaya telah
   memiliki kedamaian itu. Di tengah gelombang hidup berupa apa pun,
   kita punya kedamaian sejati yang tidak akan pernah terampas dari
   hidup kita. Karena di dalam Kristus, kita dapat memilikinya.
   Sudahkah Anda memberi diri untuk-Nya?

   Pimpinan Redaksi KISAH,
   Pipin Kuntami
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                          DAMAI BERSAMA TUHAN 
   Pendeta, istri, dan enam anaknya yang masih kecil baru saja selesai
   membaca Mazmur 23 sambil makan pagi. Tiba-tiba polisi menerobos
   masuk rumah dan menangkapnya.

   Polisi menanyainya, "Adakah yang hendak kamu katakan? Apakah kamu
   tidak menyesal atau sedih?" Pendeta itu menjawab hati-hati, "Kalian
   adalah jawaban dari doa kami hari ini. Kami baru saja membaca Mazmur
   23 yang mengatakan bahwa Tuhan menyediakan hidangan bagi kami di
   hadapan lawan-lawan kami. Kami memiliki hidangan, tapi kami tidak
   memiliki lawan. Sekarang kalian datang. Kalau kalian mau sesuatu,
   saya akan membaginya dengan kalian. Tuhan telah mengirim kalian.

   "Bagaimana engkau dapat mengatakan kata-kata yang bodoh itu? Kami
   akan membawamu ke penjara dan kamu akan mati di sana. Kamu tidak
   akan dapat melihat anak-anakmu lagi." Dengan penuh ketenangan,
   pendeta itu melanjutkan, "Hari ini kami juga telah membaca:
   'Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut.'"

   Petugas itu berteriak, "Setiap orang takut mati. Aku tahu itu karena
   aku telah melihatnya di wajah mereka."

   "Bayangan seekor anjing tidak dapat menggigitmu, dan bayangan
   kematian tidak dapat membunuhmu. Engkau dapat membunuh kami dan
   memenjarakan kami, tapi sesuatu yang buruk tidak dapat menyentuh
   kami. Kami ada di dalam Kristus, dan jika kami mati, Dia akan
   membawa kami ke dunia-Nya."
                                  *****
   Damai. Kedamaian telah menjadi barang langka yang sangat berharga
   seperti stok saham dalam situasi ekonomi saat ini yang penuh gejolak
   dan kekerasan. Semua orang percaya adalah pemegang saham dari
   karunia Tuhan dalam Yesus Kristus. Banyak orang tidak memiliki
   damai. Ada yang minum obat dan selalu kuatir, mencoba untuk
   memeroleh damai tanpa Tuhan. Ketenangan yang mereka rasakan
   semuanya itu hanya sementara. Mereka akan merasa kuatir dan resah
   lagi. Sebaliknya, kedamaian Tuhan memampukan kita untuk hidup dalam
   damai, meskipun kita menderita. Tidak ada satu pencobaan pun yang
   dapat menggoyahkan iman Anda. Seperti pendeta yang lembut dalam kisah di 
atas, 
   meskipun bencana datang secara tiba-tiba, Anda siap dengan damai Tuhan.
                                  *****

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul buku: Devosi Total
   Judul asli: Extreme Devotion
   Judul asli artikel: Rumania
   Penulis: The Voice of The Martyrs
   Penerbit: KDP, Surabaya 2005
   Halaman: 173
______________________________________________________________________

   "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia 
   percaya." (Yesaya 26:3)< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yesaya+26:3 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Kehidupan para hamba Tuhan di daerah-daerah yang masih tertutup
      bagi Injil kerap kali berada dalam ketidaktenangan. Setiap waktu
      menjadi begitu berharga karena ancaman akan kematian seolah
      membayangi langkah kaki mereka. Mari kita berdoa, kiranya Tuhan
      memberikan kekuatan dan keteguhan iman percaya kepada mereka
      sehingga mereka tetap setiap dalam memikul salib Tuhan.

   2. Bersyukur atas keteguhan para hamba Tuhan yang tetap mewartakan
      Damai Sejati itu kepada setiap orang. Berdoalah untuk mereka agar
      di tengah kecaman yang dapat berujung pada kematian, pelayanan
      mereka justru dapat semakin memberi dampak. Kiranya mereka
      semakin giat dalam mengabarkan berita keselamatan dan terus
      menjaring jiwa baru bagi kemuliaan-Nya.

   3. Masih banyak orang rindu mengalami kedamaian yang sejati saat
      ini. Kiranya di tengah pencarian tersebut, mereka dapat menemukan
      Yesus, Sang Sumber Damai. Mari berdoa agar setiap orang percaya
      dapat menjadi teladan yang hidup bagi mereka yang rindu akan damai.
=======================================================
Edisi 77 -- Hari Penting dalam Hidupku

 

PENGANTAR 
 
   Jawaban apa yang akan Anda berikan jika seseorang menanyakan 
   pertanyaan seperti ini, "Jika Anda dilahirkan kembali, Anda ingin 
   seperti apa? Apakah akan menjadi pribadi yang sama? Ataukah pribadi 
   yang berbeda?" Apakah Anda kebingungan menjawab pertanyaan tersebut? 
 
   Apa pun jawaban Anda, yang pasti sebagai anak Tuhan kita tetap ingin 
   menjadi orang yang percaya kepada Sang Juru Selamat dan menerima 
   anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan kita Yesus Kristus, bukan? 
   Simaklah kesaksian berikut ini, yang akan mengajak kita turut 
   bersukacita karena selamatnya satu jiwa lagi dari hukuman kekal. 
   Selamat membaca! 
 
   Pimpinan Redaksi KISAH, 
   Pipin Kuntami 
______________________________________________________________________ 
KESAKSIAN 
 
                      HARI PENTING DALAM HIDUPKU  
   Malam itu, 9 Maret 1992, ruang tamu rumah kami penuh sesak. 
   Kira-kira pukul 19.00 WIB, bapak pendeta sedang menyampaikan 
   pesan-pesan Tuhan di hadapan jemaat. Malam itu adalah malam yang 
   sangat penting bagi saya. Malam di mana banyak jemaat yang datang 
   memenuhi undangan ayah di kebaktian ucapan syukur ulang tahun saya. 
   Malam itu benar-benar malam khusus buat saya. Seorang remaja 
   berjerawat yang genap berumur enam belas tahun. 
 
   Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi taman di halaman depan. 
   Semakin lama hujan semakin deras seolah-olah dicurahkan dari langit. 
   Suara menggelegar karena petir dan angin kencang membuat pendeta 
   sedikit kewalahan dalam mengatur volume khotbahnya. Saya sangat 
   berharap hujan cepat berhenti dan malam menjadi tenang. Namun hingga 
   khotbah gembala berakhir, hujan masih tetap deras. Bahkan bunyi 
   guntur semakin menggelegar membelah malam. Percikan cahaya terang 
   sambung-menyambung menyusul suara yang memekakkan telinga. Angin 
   berhembus sangat kencang sehingga beberapa pohon jambu di taman 
   halaman depan meliuk-liuk menahan terpaannya. 
 
   Malam semakin dingin ketika semua tamu memersilakan saya untuk 
   menyampaikan beberapa kata. Saya adalah anak pendiam dan kurang 
   pandai bergaul dan berkata-kata. Tidak seperti remaja yang lain, 
   saya cenderung introvert. Namun, saya tidak ingin mengecewakan ayah 
   dan ibu serta para tamu. Saya kemudian berdiri dan mencoba mengeluarkan 
beberapa 
   kata dengan gagap. Tetapi karena bunyi desau air hujan di genteng dan guntur 
yang 
   masih sahut-menyahut, suara saya seolah-olah tertelan bumi. 
 
   Saya masih ingat, beberapa bulan sebelum pesta ulang tahun malam 
   itu. Saya mengalami satu perubahan yang sangat penting dalam hidup 
   saya. Saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat 
   secara pribadi. Dalam bimbingan seorang hamba Tuhan, saya kemudian 
   mengalami proses kelahiran kembali di sebuah kebaktian malam. 
   Bulan-bulan pertama saya mengenal Kristus, saya masih terus mencari 
   dan bertanya. Satu hal yang masih tidak dapat saya mengerti adalah 
   untuk apa saya hidup. Kadang-kadang timbul dalam hati saya sebuah 
   pengertian yang egois, saya hidup dan menjadi Kristen supaya kelak 
   masuk surga. Sebuah pengertian yang sangat dangkal dan tendensius. 
   Kalau hanya untuk masuk surga saja, saya merasa hidup saya tidak 
   lebih dari orang-orang beragama yang lain. 
 
   Diambil dan disunting seperlunya dari: 
   Nama situs: Terang Dunia 
   Judul asli artikel: Dua Hari yang Terpenting 
   Penulis: Joshua M. S. 
   Alamat URL: http://terangdunia.com/viewer_materi.php?id=1654 
______________________________________________________________________ 
 
   "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, 
   tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Tuhan, yang hidup dan 
   yang kekal." (1Petrus 1:23) 
   < http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Petrus+1:23 > 
______________________________________________________________________ 
POKOK DOA 
 
   1. Mohon dukungan doa bagi Saudara Joshua, kiranya anugerah dan 
      berkat Tuhan senantiasa melingkupi kehidupannya sampai kedatangan 
      Tuhan yang kedua kalinya. 
 
   2. Doakan juga untuk para petobat baru, kiranya imannya semakin 
      dikuatkan dan wajah Tuhan semakin terpancar dalam kehidupan mereka. 
 
   3. Seperti yang Saudara Joshua lakukan, kiranya para petobat baru 
      juga memiliki keberanian untuk terus bersaksi, menyaksikan kasih 
      Tuhan di dalam hidup mereka sehingga menjadi berkat dan kekuatan, 
      baik bagi mereka yang sudah percaya maupun yang belum percaya. 
______________________________________________________________________ 
 
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA 
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN 
Copyright(c) 2008 YLSA 
YLSA -- http://www.ylsa.org/ 
http://katalog.sabda.org/ 
Rekening: BCA Pasar Legi Solo 
No2. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati 
______________________________________________________________________ 
Pimpinan Redaksi: Pipin Kuntami 
Staf Redaksi: Novita Yuniarti 
Kontak: < kisah(at)sabda.org > 
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > 
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > 
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/ 
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/ 

Kirim email ke