From: ivana indahwati 

Gunung Merapi...

Dibawah ini adalah contoh dari salah satu artikel "Santapan Rohani" yang aku 
baca hari ini. *GUNUNG MERAPI * Baca: Matius 24:36-44
------------------------------Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena 
Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. �Matius 
24:44------------------------------

Bacaan Untuk Setahun: 1 Tawarikh 28�29, Amsal 29:21-27 
Menjulang setinggi 2.900 meter di atas hutan tadah hujan di selatan pulau Jawa, 
Indonesia, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang paling 
berbahaya di dunia.Ketika Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda aktivitas baru, 
pemerintah setempat berusaha mengevakuasi penduduk. 
Lalu pada tanggal 13 Mei 2006,Merapi memuntahkan asap abu-abu berbau belerang 
yang bentuknya menyerupai kawanan domba yang berarak meninggalkan kandang. Yang 
mengherankan, para penduduk mengabaikan tanda-tanda itu dan kembali menjaga 
ternak mereka,seakan lupa bahwa pernah ada kejadian serupa di tahun 1994 ketika 
Merapi telah menewaskan 60 orang. Sudah menjadi kecenderungan manusia 
untukmengabaikan tanda-tanda.Ketika Yesus meninggalkan bait Tuhan di Yerusalem 
untuk terakhir kalinya, para pengikut-Nya menanyakan tanda-tanda apakah yang 
akan terjadi ketika Dia datang kembali (Mat. 24:3). Yesus mengatakan kepada 
mereka bahwa banyak hal yang harus diperhatikan, tetapi Dia memperingatkan 
bahwa banyak orang yangtetap tidak siap.
Rasul Petrus mengatakan kepada kita bahwa di hari-hari terakhir, para pengejek 
akan mengatakan tentang kedatangan Yesus kembali: "Di manakah janji tentang 
kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal,segala sesuatu 
tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan" (2 Ptr.3:4).Para pengejek 
ada bersama kita pada saat ini seperti yang dikatakan Petrus.Apakah Anda  salah 
satunya? Atau apakah Anda siap untuk kedatangan kembali Tuhan Yesus? 
Mengabaikan tanda ini jauh lebih berbahaya dari hidup di bawah bayang-bayang 
Gunung Merapi. 

CPH Tanda-tanda kedatangan-Nya begitu jelas, Cahaya pagi menyeruak di langit 
timur; Waspadalah, waktunya sudah makin dekat.
Bagaimana seandainya waktu itu terjadi sekarang? 
Morris Mengabaikan Alkitab berarti mengundang bencana
===============================================
From: Adi Kurniawan 

Petunjuk Alkitabiah untuk Menjalin Persahabatan

Grace and peace,

Artikel berikut ini diterjemahkan dari artikel Biblical Guidelines for 
Cultivating Friendship, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 16 Juli 2000. 
Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang. Terjemahan ini juga dapat dibaca 
di sini.

Petunjuk Alkitabiah untuk Menjalin Persahabatan
"Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih 
karib dari pada seorang saudara" (Amsal 18:24).

Hal persahabatan sejati pada umumnya jarang dibahas di zaman ini. Masyarakat 
zaman sekarang begitu cepat dan materialis sehingga sedikit orang yang memiliki 
waktu untuk persahabatan yang sejati dan awet, kecuali untuk persiapan 
pernikahan. Nampaknya banyak orang terlalu sibuk untuk memiliki sahabat-sahabat 
yang sejati. Akan tetapi, persahabatan yang superfisial begitu banyak. 
Persahabatan semacam ini dipelihara seringkali karena alasan-alasan ekonomi. 
Mereka yang kaya atau berada di posisi yang berpengaruh seringkali nampak 
memiliki banyak sahabat, sementara yang miskin dan tidak siginifikan nampak 
memiliki sedikit sahabat. Masalah ini jelas terlihat pada hari-hari raya ketika 
orang yang kaya dan berkedudukan biasanya mendapat banyak hadiah ketika mereka 
sebenarnya tidak memerlukan itu semua; sementara yang miskin biasanya tidak 
mendapatkan apa-apa. Situasi yang buruk ini kelihatannya merupakan masalah 
hanya di zaman dan masyarakat kita sekarang. Tapi sebenarnya tidak demikian; 
situasi ini adalah masalah dasar umat manusia yang sudah rusak. Salomo, menulis 
sekitar 3000 tahun yang lalu, telah mengamati masalah ini. Ia berkata, "Juga 
oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak" 
(Amsal 14:20); dan "Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin 
ditinggalkan sahabatnya" (Amsal 19:4). Ayat-ayat ini begitu singkat dan padat 
sehingga upaya menjelaskannya hanya akan mengaburkan arti dan ketajamannya. 

Manusia rata-rata egois dan punya tendensi bersahabat dengan orang-orang kaya, 
karena ia dapat memperoleh keuntungan dari mereka. Tapi masalahnya yaitu "harta 
benda tidaklah abadi" (Amsal 27:24), harta "tiba-tiba … bersayap, lalu terbang 
ke angkasa" (Amsal 23:5). Dan ketika itu terjadi, begitu pula halnya dengan 
persahabatan yang dibangun di atas dasar kekayaan. Karena alasan inilah 
sahabat-sahabat Ayub muak terhadapnya ketika mala petaka menimpanya (Ayub 
19:19). Pada akhirnya hanya empat dari sahabat-sahabatnya yang tinggal, dan 
mereka pun tidak begitu membantunya. 

Menjalin persahabatan dengan motivasi egois jelas-jelas berdosa dan tidak boleh 
ada di antara orang-orang Kristen. Tapi bagaimana seharusnya seorang anak Tuhan 
membangun dan memelihara persahabatan? Bagaimana kita menjalin persahabatan 
yang sejati dan awet? Ijinkan saya menyarankan enam petunjuk dari Alkitab: 

Mengerti Kenyataan Perbedaan Tingkatan dalam Persahabatan
Pengalaman mengajarkan kita bahwa persahabatan dapat dibagi secara kasar ke 
dalam empat tingkatan. Pertama, tingkatan perkenalan. Ini persahabatan di 
antara mereka yang mengenal satu sama lain dari wajah atau mungkin dari nama, 
dan itu saja. Kedua, tingkatan persahabatan saudara. Ini persahabatan di antara 
mereka yang tahu sedikit lebih banyak mengenai satu sama lain, kadang-kadang 
menghabiskan waktu dengan satu sama lain, dan siap membantu jika diminta. 
Sahabat Kristen pada tingkatan ini akan berdoa bagi satu sama lain ketika 
mereka tahu adanya suatu masalah. Tingkatan ketiga bisa disebut sebagai 
persahabatan membuka diri. Ini persahabatan di antara mereka yang bisa membuka 
diri satu dengan yang lain, dan akan berdoa bersama dan untuk satu sama lain 
secara teratur. Bisa dibilang, tiga sahabat Ayub—dengan segala maksud baik 
mereka yang kurang tepat—dapat dimasukkan dalam kategori ini karena mereka 
tinggal dengan Ayub bahkan ketika semua sahabatnya yang lain meninggalkannya. 
Kita berkata 'bisa dibilang' karena kesetiaan mereka kepada spekulasi teologi 
mereka mengenai mala petaka yang menimpa Ayub nampaknya mengaburkan simpati 
yang sejati yang seharusnya mereka tunjukkan kepada Ayub. Tingkatan yang 
terakhir bisa disebut sebagai persahabatan sepenuh hati. Pada tingkatan ini, 
mereka tidak terpisahkan (bahkan oleh jarak), dan bersedia menderita demi satu 
sama lain. Persahabatan antara suami dan istri harus ada dalam tingkatan ini. 
Tapi persahabatan ini dapat ditemukan juga di luar pernikahan, misalnya dalam 
kasus Daud dan Yonatan. 

Sedikit komentar dapat diberikan berdasarkan pengamatan ini. Pertama, sementara 
tidak mungkin dan tidak bijak untuk menjadi sahabat saudara dengan setiap orang 
yang kita temui, seorang Kristen harus bersedia mengenal sebanyak mungkin 
orang, termasuk orang-orang yang tidak percaya. Siapa tahu kesempatan yang 
dibawa Providensia untuk kita bersaksi bagi Tuhan Yesus Kristus—"sahabat 
pemungut cukai dan orang berdosa" (Lukas 7:34). Tapi dalam persahabatan kita 
dengan orang-orang tidak percaya dalam dunia, kita harus selalu ingat bahwa 
"persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Tuhan" (Yakobus 4:4), yaitu 
kita tidak boleh pernah menyetujui perbuatan-perbuatan jahat mereka di dalam 
dunia. Kita harus juga terus ingat peringatan Rasul Paulus: "Janganlah kamu 
sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan [moral dan karakter] yang 
baik" (1 Korintus 15:33). Menghabiskan banyak waktu dengan sahabat-sahabat 
duniawi akan selalu menghasilkan buah-buah yang tidak baik. Ada banyak 
bijaksana dalam nasehat Thomas Watson:
Jangan bersatu dengan perkumpulan orang-orang jahat, atau menjadi terlalu akrab 
dengan mereka. Orang-orang jahat adalah pembenci Tuhan, dan "Sewajarnyakah 
engkau ... bersahabat dengan mereka yang membenci Tuhan?" (2 Tawarikh 19:2). 
Seorang Kristen terikat, oleh janji kesetiaannya kepada Tuhan dalam baptisan, 
untuk tidak bergaul dekat dengan mereka yang adalah musuh-musuh Tuhan. Yang 
jahat akan segera merusakkan yang baik, ketimbang yang baik merusakkan yang 
jahat.

Kedua, setiap orang Kristen—khususnya dalam gereja lokal—harus berusaha untuk 
menjalin persahabatan saudara, jika bukan persahabatan membuka diri, dengan 
setiap anggota gereja. Jika kita hanya mengenal sesama anggota gereja, akan 
cukup sulit bagi kita untuk menanggung beban satu sama lain dan dengan demikian 
memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2); atau "berbuat baik ... terutama kepada 
kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10); atau mengasihi satu sama lain sehingga 
semua orang tahu bahwa kita adalah murid-murid Kristus (Yohanes 13:35). Saya 
katakan persahabatan sulit dikatakan sejati kecuali persahabatan itu paling 
sedikit bersifat saudara.

Ketiga, jika untuk alasan tertentu, Anda tidak dapat menjali persahabatan yang 
dekat dengan setiap anggota gereja, Anda harus tahu bahwa kebencian tidak boleh 
ada dalam gereja. "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Tuhan,' dan ia 
membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak 
mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Tuhan, yang tidak 
dilihatnya" (1 Yohanes 4:20).

Keempat, sementara Anda dapat mencoba untuk menjadi seorang sahabat membuka 
diri atau sepenuh hati dengan setiap orang di gereja, cukup tidak mungkin, dan 
karena itu Anda tidak boleh mengharapkan dengan tidak realistis setiap orang di 
gereja untuk bersahabat dengan Anda seperti itu, atau Anda akan sangat kecewa. 

Memulai dan Memelihara Persahabatan
"Seseorang yang memiliki sahabat harus menunjukkan dirinya bersahabat" (Amsal 
18:24a). Instruksi sederhana ini (diterjemahkan dari Authorised Version) 
mengingatkan kita dua fakta tentang memulai dan memelihara persahabatan. 
Pertama, instruksi ini mengingatkan kita bahwa persahabatan melibatkan lebih 
dari satu pihak. Anda tidak dapat mengharapkan banyak sahabat jika Anda 
sendiri, dengan tindakan dan kata-kata Anda, menolak untuk bersahabat atau 
memelihara persahabatan yang sudah dibangun. Contohnya, tidak seorangpun suka 
orang yang gampang marah. Kita bahkan dinasehati oleh Firman Tuhan untuk tidak 
bersahabat dengan orang seperti itu: "Jangan berteman dengan orang yang lekas 
gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah" (Amsal 22:24). Karena itu, jika 
Anda ingin menjadi seorang sahabat sejati buat seseorang, kita harus belajar 
mengontrol kemarahan kita. Kedua, instruksi ini menyarankan kita bahwa setiap 
orang punya tanggung jawab untuk membangun dan menjalin persahabatan. Ini 
bagian dari menunjukkan diri kita bersahabat. Kita harus ingat bahwa setiap 
kali Alkitab memerintahkan kita, perintah itu harus dilakukan seperti kepada 
Tuhan, dan bukan saja untuk manusia. Hal yang sama berlaku untuk persahabatan. 
Meskipun beberapa dari kita mungkin secara natur sangat pendiam dan kesulitan 
memulai persahabatan, kita harus mencoba atau menempatkan diri kita di situasi 
di mana kita dapat didekati oleh orang lain. 

Bagaimana kita melakukannya? Pertama-tama, saya menyarankan supaya kita 
menghadiri sebanyak mungkin pertemuan gereja. Jika Anda merasa canggung di 
kebaktian pagi hari Sabat karena terlalu banyak orang, tidakkah Anda mau datang 
ke kebaktian sore dan pertemuan doa? Kebanyakan orang yang menghadiri 
pertemuan-pertemuan ini menemukan lebih banyak kesempatan untuk bersahabat. 
Jelas, kita seharusnya tidak datang ke alat-alat kasih karunia yang ditetapkan 
ini dengan tujuan utama bersekutu. Sebaliknya kita harus datang untuk 
beribadah, berdoa, dan belajar. Tapi saya ingin mengingatkan Anda bahwa Anda 
berada di posisi untuk membantu diri Anda sendiri jika Anda kesulitan memulai 
persahabatan di gereja. Kedua, saya menyarankan supaya kapan pun kita memiliki 
kesempatan untuk bersekutu, kita memakai kesempatan-kesempatan itu dengan 
menghampiri orang lain untuk berbicara kepada mereka. Suami istri, pasangan, 
dan mereka yang sudah memiliki kelompok harus berhati-hati untuk tidak 
memberikan kesan bahwa mereka tertutup bagi siapa pun untuk bergabung dengan 
mereka dalam percakapan mereka. Malah, mereka harus berusaha untuk melibatkan 
siapapun yang berdiri di dekat mereka ke dalam percakapan. Lebih dari itu, jika 
mungkin, mereka yang sudah punya sahabat-sahabat dekat seharusnya tidak 
menghabiskan seluruh waktu mereka berbicara dengan mereka, tapi harus 
menjangkau siapapun yang berdiri atau duduk sendiri dan bersahabat dengannya. 

Betapa saya ingin melihat dalam persekutuan, tidak seorangpun yang tertinggal. 
Ini menjadi tanda bahwa jemaat semakin dewasa. 

Setia, Tidak Egois, dan Jujur
Salah satu sifat paling penting yang kita harus tumbuhkan untuk menjadi seorang 
sahabat sejati yaitu menjadi setia, tidak egois, dan jujur dalam persahabatan 
kita. Praktisnya, ini berarti bahwa Anda harus tetap menjadi seorang sahabat 
sekalipun persahabatan tersebut telah kehilangan nilai-nilai sementara yang 
pernah ada. Yonatan adalah seorang sahabat yang setia bagi Daud karena ia tetap 
menjadi sahabatnya meskipun ia tahu bahwa Daud akan suatu hari mengambil takhta 
sebagai ganti dirinya. Aturan pertama dan paling penting untuk menjalin 
persahabatan yang sejati bukanlah melihat persahabatan tersebut untuk diri Anda 
sendiri, tapi untuk kebaikan sahabat Anda. Maka Amsal memberi tahu kita bahwa 
seseorang yang memiliki keinginan egois dalam persahabatan akan menyendiri: 
"Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap 
pertimbangan" (Amsal 18:1). Menjadi seorang sahabat yang jujur dan setia juga 
berarti menjadi seorang sahabat setiap waktu, dan dengan demikian memperlakukan 
sahabat Anda seperti seorang saudara: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap 
waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran" (Amsal 17:17); dan "ada 
juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara" (Amsal 18:24b). Kita 
harus selalu berusaha menjalin persahabatan seperti ini di gereja. 

Tuhan Yesus adalah teladan kita yang paling sempurna. Meskipun Ia Tuhan kita, 
Ia memanggil kita sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 15:15), dan Ia memberikan 
nyawa-Nya bagi kita: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang 
yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13). Anda yang 
adalah milik Kristus harus belajar dari teladan-Nya, untuk setia dan jujur 
kepada saudara Anda dalam Kristus. Meskipun kita mungkin tidak dapat membuka 
diri kepada setiap orang di gereja, kita harus berusaha untuk mengasihi setiap 
orang seperti Kristus mengasihi kita: "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, 
yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib 
menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita" (1 Yohanes 3:16).

Belajar Membagi Berkat & Beban dan Berempati atau Bersimpati
"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang 
yang menangis" (Roma 12:15). Ayat yang sering dikutip ini tidak hanya 
memerintahkan sebuah tugas Kristen yang penting dalam persekutuan orang-orang 
kudus, tapi juga memberikan kita suatu prinsip penting untuk membangun 
persahabatan. Persahabatan dibangun melalui perhatian timbal balik. Akan 
tetapi, persahabatan yang dalam dibangun berdasarkan saling membagi suka dan 
duka. Pepatah tua, "Berkat yang dibagi digandakan dan beban yang dibagi 
dijadikan setengah," mencerminkan apa yang ditunjukkan pengalaman kepada kita 
mengenai keuntungan menaati instruksi rohani ini. Ketika kita merasakan 
sukacita seseorang yang bersukacita, kita menambah sukacitanya dalam keyakinan 
bahwa ia tidak bahagia secara egois sementara orang lain disakiti atau 
disedihkan dengan apa yang terjadi atau tercapai (bdk. Pengkhotbah 4:9). Ketika 
kita ikut menanggung beban seseorang, kita menghibur ia yang sedang bersedih, 
dalam pengetahuan bahwa ada orang-orang lain yang peduli dan bersimpati dan 
akan berdoa dengannya (bdk. Pengkhotbah 4:10). 

Anda mungkin tidak selalu dapat berempati dengan sahabat-sahabat yang bersedih 
karena Anda mungkin tidak pernah mengalami masalah yang sama, tapi Anda dapat 
belajar bersimpati dengan mereka melalui kata-kata dan tindakan Anda. "Siapa 
menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa" 
(Ayub 6:14). Belajarlah untuk mengatakan kalimat-kalimat yang menguatkan: 
"Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di 
pinggan perak" (Amsal 25:11). Belajarlah mengerjakan atau memberikan sesuatu 
yang dapat membangun. Memberikan sebuah kartu kepada seseorang yang sedang 
depresi mungkin tidak memerlukan banyak usaha tapi dapat berarti banyak kepada 
orang tersebut dan akan berdampak jangka panjang dalam membangun persahabatan 
Anda. Di lain pihak, adalah hal yang bisa jadi sangat jahat untuk bercanda 
tentang situasi yang sedang dilalui sahabat Anda, meskipun ia mungkin kelihatan 
sangat tegar. Hargai sahabat Anda. Berhati-hatilah dengan perlakuan Anda 
kepadanya. Sadarilah bahwa meskipun maksud Anda mungkin baik, tindakan Anda 
pada saat yang kurang tepat tidak akan dihargai. Lagi, Amsal mengatakan dengan 
jelas: "Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu 
akan dianggap sebagai kutuk baginya" (Amsal 27:14); dan "Janganlah kerap kali 
datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu" (Amsal 
25:17).

Ingatlah juga bahwa berbagi beban dan sukacita di antara sahabat haruslah 
timbal balik. Biasanya tidak seorangpun akan membagi bebannya dengan kita 
sampai kita terlebih dulu membagi beban kita dengannya. 

Bersedia untuk Menegur jika Perlu
Menjadi seorang sahabat, tentu saja, tidak berarti Anda harus menghindari 
segala konfrontasi. Malah, apa yang membedakan seorang sahabat yang sejati dan 
setia dari sahabat yang palsu yaitu apakah ia bersedia mengkoreksi 
kesalahan-kesalahan Anda: "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi 
seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah" (Amsal 27:6). 

Kita harus selalu jujur ketika berbicara kepada satu sama lain. Jika saudara 
Anda melanggar, kita harus mengkoreksi. Kita tidak boleh memuji, atau kita 
tidak hanya akan mendatangkan kerugian kepada sahabat kita, tapi kita akan 
berdosa kepada Tuhan (Yehezkiel 3:18-19). Tentu, bersikap jujur dengan satu 
sama lain tidak berarti kita harus kasar terhadap satu sama lain. Jika kita 
tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat dikeraskan oleh dosa, 
belajarlah untuk berbicara dengan menasehati daripada memarahi: "Minyak dan 
wangi-wangian menyukakan hati, begitu pula keharuman seorang sahabat dengan 
nasehat yang sepenuh hati" (Amsal 27:9, diterjemahkan dari Authorised Version). 

Selalu Bersedia Mengampuni
"Besi menajamkan besi" (Amsal 27:17) merupakan metafora yang sangat tepat untuk 
menggambarkan perkembangan persahabatan di antara dua pihak. Sahabat tidak 
hanya menajamkan satu sama lain; tapi proses penajaman juga kadang-kadang 
menghasilkan bunga api karena kita tidak sempurna, makhluk berdosa. Tapi dengan 
alasan yang sama, konflik yang timbul dalam persahabatan dapat memisahkan 
bahkan sahabat-sahabat yang paling dekat jika tidak ditangani dengan 
semestinya. Kita telah mendiskusikan masalah kemarahan. Tapi ijinkan saya 
menekankan satu poin yang krusial bagi pemeliharaan persahabatan, yaitu 
perlunya kesediaan untuk mengampuni. Salomo sekedar menekankan fakta kehidupan 
ketika ia berkata di bawah inspirasi: "Siapa menutupi pelanggaran, mengejar 
kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib" 
(Amsal 17:9). 

Ini merupakan Amsal yang begitu indah. Anda harus mengasihi sahabat-sahabat 
Anda, dan jika Anda mengasihi sahabat-sahabat Anda, maka Anda harus bersedia 
untuk menutupi dan mengampuni setiap pelanggaran yang mereka buat terhadap 
Anda. Hal yang tidak boleh pernah Anda lakukan jika Anda menghargai 
persahabatan yaitu mengatakan kesalahan sahabat Anda kepada orang lain. Jika 
Anda melakukannya, Anda dapat yakin itu akan menjadi akhir persahabatan Anda 
apakah sahabat Anda mengetahuinya atau tidak.

Kesimpulan
Apa yang kita bahas di artikel ini mungkin tidak baru bagi kebanyakan dari 
kita. Tapi kita perlu terus diingatkan karena kita sering menjadi begitu nyaman 
dengan diri kita sendiri dan sahabat-sahabat kita sekarang sehingga kita 
mengabaikan orang-orang lain yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita; atau kita 
tidak menghargai sahabat-sahabat yang kita sudah miliki. Mari kita belajar 
untuk memulai dan memelihara persahabatan kita. 

Tapi mari kita juga mengingat bahwa jika karena alasan-alasan tertentu kita 
ditinggalkan oleh sahabat-sahabat kita, Tuhan tidak meninggalkan kita dan kita 
dapat selalu berpaling kepada-Nya yang sungguh-sungguh adalah seorang sahabat, 
dan sahabat yang tidak pernah berubah. Belajarlah hal ini dari Ayub: "Sekalipun 
aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Tuhan mataku menengadah 
sambil menangis" (Ayub 16:20). Amen.
-- 
Grace and peace,
Adi
http://reposeinthee.blogspot.com 

Kirim email ke