From: Adi Kurniawan 

Bertekunlah Membaca

Grace and peace,

Artikel berikut ini diterjemahkan dengan sedikit pengeditan dari artikel Give 
Attention to Reading, Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 22 April 2001. 
Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang. Terjemahan ini juga dapat dibaca 
di sini.

Bertekunlah Membaca
Pembaca yang teliti, yang bisa menduga isi artikel ini, mungkin mengira bahwa 
judul di atas adalah penggunaan yang salah akan 1 Timotius 4:13. Ketika Rasul 
Paulus mengajar Timotius dengan kata-kata ini: "Sampai aku datang bertekunlah 
dalam membaca, dalam membangun dan dalam mengajar," (diterjemahkan dari King 
James Version) ia mungkin berbicara tentang pembacaan Kitab Suci secara publik 
(bdk. Lukas 4:16; Kisah Rasul 13:27; 15:31; 1 Tesalonika 5:27), atau mungkin 
penyelidikan Kitab Suci setiap hari (Yohanes 5:39; Matius 12:3; Kisah Rasul 
17:11). Ayat ini akan tetapi telah digunakan oleh banyak pendeta atau pemilik 
toko buku untuk mendorong pembacaan buku-buku Kristen. Ini salah, karena ini 
punya tendensi menempatkan pembacaan buku-buku Kristen pada level kewajiban 
Alkitabiah. Saya yakin tidaklah berdosa bagi seorang percaya untuk mengabaikan 
pembacaan buku-buku Kristen. Akan tetapi, pada saat yang sama, saya percaya 
penting bagi orang-orang percaya untuk bertekun membaca buku-buku Kristen yang 
baik untuk menumbuhkan pikiran yang Alkitabiah, dan karena itulah judul di atas 
dipilih.

Rasul Paulus memberikan kepada kita teladan yang baik bahwa meskipun ia 
menghadapi kematian yang pasti di penjara Romawi (bdk. 2 Timotius 4:6-8), ia 
masih percaya dalam kegunaan membaca. Ia menulis dengan jelas kepada Timotius: 
"Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus 
dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu" (2 Timotius 4:13). Kita dapat 
mengerti keperluan akan jubah terutama karena Paulus telah meminta Timotius dua 
kali untuk berusaha menemuinya sebelum musim dingin (4:9, 21). Mungkin ia 
bertanya-tanya apakah ia dapat melalui musim dingin, kalaupun ia tidak dihukum 
mati sebelum saat itu. Tapi bagaimana dengan kitab-kitab dan perkamen? Ia 
kemungkinan sedang berbicara tentang koleksi buku-buku yang dimilikinya, yang 
tentu saja termasuk Kitab Suci. Mengapa ia memintanya? Sangat tidak mungkin ia 
ingin memberikannya kepada orang lain, daripada membacanya.

Mengapa membaca penting?
Pertama-tama, kita harus ingat bahwa kekristenan bukan hanya tentang emosi, 
tapi juga tentang akal budi. Paulus mengajar kita: "Janganlah kamu menjadi 
serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga 
kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik, yang berkenan 
kepada Tuhan dan yang sempurna" (Roma 12:2; penekanan dari saya). Membaca 
khususnya cocok untuk memberi makan akal budi. Seiring dengan bertumbuhnya akal 
budi kita, iman dan pengetahuan hati juga bertumbuh ketika kita mengaplikasikan 
apa yang kita baca. Tentu, kita harus memprioritaskan Alkitab, yang merupakan 
Firman Tuhan yang diinspirasikan. Tapi Alkitab juga mengajar kita tentang 
pentingnya berkhotbah dan mengajar. Berkhotbah adalah mengabarkan Injil, yang 
memberitakan Kristus (Kisah Rasul 13:32; Roma 10:15; Ibrani 4:2). Tapi 
bersamaan dengan pemberitaan Injil yaitu pelayanan pengajaran Alkitabiah, yang 
berupa penjabaran doktrin Alkitab secara sistematis, atau penerapan secara 
jelas doktrin tersebut ke dalam hidup para pendengarnya (Nehemia 8:8; Kisah 
Rasul 28:23; 2 Timotius 3:16-17).

Buku-buku Kristen tidak lain adalah khotbah dan pengajaran dalam bentuk 
tertulis. Kita tidak boleh pernah mengabaikan alat-alat kasih karunia publik 
yang diberikan kepada gereja. Mengabaikannya (lain halnya dengan tidak membaca) 
adalah menghina institusi Kristus. Akan tetapi, buku-buku—meskipun tidak punya 
tuntutan otoritatif seperti halnya alat-alat yang ditetapkan, maupun daya tarik 
personal dan emosional kalimat-kalimat yang dikatakan—memiliki kegunaan 
tersendiri. Misalnya, nilai buku melampaui waktu, bahasa (melalui 
penerjemahan), dan budaya. Perhatikan bahwa ketika kita membaca John Calvin, 
Martin Luther, Wilhelmus á Brakel, Jonathan Edwards, John Owen, Thomas Watson, 
atau Samuel Rutherford, kita sebenarnya dibawa ke dalam ruangan kelas mereka, 
atau kalau boleh kita katakan kita membawa mereka ke dalam ruangan belajar 
kita, meskipun mereka tidak hanya hidup di zaman yang berbeda, tapi juga negara 
yang berbeda. Ajaran-ajaran hamba-hamba Tuhan yang dipenuhi dan diiluminasi Roh 
Kudus ini dapat, lebih dari itu, dicek dengan Kitab Suci pada saat dan 
kecepatan yang kita inginkan.

Pengalaman pribadi di antara angkatan kita, dan dalam sejarah Gereja, telah 
lebih jauh menunjukkan bahwa orang-orang Kristen yang membaca umumnya lebih 
kuat dalam iman mereka dan lebih dewasa dalam pengertian mereka. Kenyataannya 
yaitu buku-buku sering mengisi celah-celah pengetahuan yang ditinggalkan oleh 
pelayanan khotbah dan pengajaran di gereja. Celah-celah ini tidak dapat 
dihindari, karena pendeta dan pengabar Injil memiliki kekuatan, kedewasaan, dan 
pengertian yang berbeda-beda, demikian juga kebutuhan anggota jemaat tidak 
pernah seragam. Beberapa sudah percaya lebih lama; beberapa belum lama. 
Beberapa lebih kritis dalam pemikiran mereka; beberapa lebih suka diberi tahu, 
dan memberikan alasan-alasan hanya menambah kebingungan mereka. Buku, ketika 
digunakan dengan hati-hati, menyediakan sarana untuk mengisi celah-celah itu.

Apa yang harus kita baca?
Sinclair Ferguson cukup benar ketika ia berseru: "Anda adalah apa yang Anda 
baca!" (Read any Good Books? [BOT, 1992], 3). Meskipun buku hanya satu cara di 
mana karakter dan kedewasaan seorang Kristen dibentuk, tentu benar bagi mereka 
yang membaca dengan tujuan belajar bahwa kita adalah apa yang kita baca, 
seperti kita adalah apa yang kita makan. Jika demikian, perlu bagi kita 
pertama-tama untuk membaca buku-buku yang benar, dan kedua, membaca buku-buku 
dengan variasi yang seimbang.

Apa yang saya maksudkan dengan membaca buku-buku yang benar? Siapapun yang 
membaca cukup luas tentang bidang apapun akan segera menyadari bahwa ada banyak 
pandangan yang berbeda tentang hampir setiap poin doktrin, dan karena itu jika 
kita tidak hati-hati kita dapat dengan mudah "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa 
angin pengajaran" (Efesus 4:14).

Karena itu, saya menyarankan jika mungkin kita membaca hanya buku-buku dari 
penulis-penulis yang telah direkomendasikan oleh seseorang yang Anda percayai 
memiliki iman yang solid dan konsisten dengan Pengakuan jemaat lokal di mana 
Anda menjadi anggota. Tentu, ada waktu-waktu di mana Anda mengambil sebuah buku 
yang, dari penampakan dan judulnya, menarik bagi Anda tapi ditulis oleh penulis 
yang tidak Anda kenal. Di sini, aman untuk selalu berkonsultasi dengan pendeta 
Anda atau seseorang yang cukup berpengetahuan tentang buku sebelum Anda 
menyediakan waktu untuk membacanya. Tapi jika ini tidak mungkin, saya 
menyarankan tiga aturan umum untuk mengurangi kemungkinan kesalahan.

Pertama, jika penulisnya tidak Anda kenal, Anda dapat mencari tahu latar 
belakangnya dengan melihat sampul belakang buku. Cek pendidikan, pandangan 
teologi, dan gerejanya. Gerejanya akan memberi tahu sesuatu tentang apakah ia 
memegang pengakuan iman tertentu, pendidikan teologinya umumnya akan mengatakan 
sesuatu tentang warna teologinya. Contohnya, anggota gereja Calvinis atau 
Reformed mungkin akan berhati-hati dengan penulis-penulis dari sekolah-sekolah 
yang bersifat Dispensasional, Arminian, atau Neo-Evangelikal, seperti Dallas 
Theological Seminary, Fuller Theological Seminary, Moody Bible Institute, Grace 
Theological Seminary, Bob Jones University, Pensacola Theological Seminary, dan 
lain-lain. Beberapa buku yang ditulis oleh penulis-penulis yang dididik di 
sekolah-sekolah ini tanpa dipungkiri sangat baik. Tapi jika Anda cukup baru 
dalam membaca atau dalam iman Kristen, mungkin baik, sebagai aturan umum, untuk 
menghindari penulis-penulis tersebut sampai Anda memiliki dasar yang lebih 
teguh dalam iman.

Kedua, penerbit-penerbit juga mengindikasikan sehatnya buku-buku. Pembaca 
Reformed akan menemukan kebanyakan buku-buku yang pantas untuk mereka baca dari 
Banner of Truth Trust (BOT), Soli Deo Gloria (SDG), Reformed Free Publishing 
Association (RFPA), Presbyterian Free Publishing, Reformation Heritage Books 
(RHB), Old Path Publishers, Crown & Covenant Publishers, dan Presbyterian and 
Reformed (P&R) Publishing. Ini tidak berarti bahwa setiap buku yang diterbitkan 
oleh penerbit-penerbit ini selalu sehat dari perspektif pengakuan iman kita. 
Perlu diingat bahwa setiap penerbit dan/atau editor memiliki aturan-aturan 
dan/atau keyakinan tentang apa yang pantas diterbitkan, yang dalam poin-poin 
yang lebih detil bisa setuju atau tidak dengan kita.

Juga, Baker Book House, Eerdmans Publishing Company, Christian Focus, 
Evangelical Press, IVP, dan NavPress telah menerbitkan banyak buku-buku yang 
baik. Tapi penerbit-penerbit ini juga menerbitkan banyak buku yang jauh dari 
Reformed, sehingga perlu sikap selektif terhadap penerbit-penerbit ini.

Ketiga, untuk lebih komplit, saya sangat menyarankan Anda membaca A Reader's 
Guide to Reformed Literature: An annotated Bibliography of Reformed Theology 
(Reformed Heritage Books, 1999) dari Joel R. Beeke untuk mendapat gambaran 
tentang apa saja buku-buku Reformed terbaik untuk setiap bidang teologi. 
Bibliografi ini juga dicantumkan dalam Selected Bibliography of Reformed 
Confessions Harmonized (Baker, 1999), yang diedit oleh Joel R. Beeke dan 
Sinclair B. Ferguson. Kita mempunyai waktu yang begitu terbatas untuk membaca 
sehingga saya pikir akan ceroboh bagi kita untuk sekedar memilih buku apa pun 
tanpa terlebih dulu mengetahui sesuatu tentang buku tersebut dan apakah buku 
itu berharga untuk dibaca. Maka, jika Anda ingin meneliti suatu subjek 
tertentu, saya kira bijaksana untuk membaca dulu bibliografi yang komprehensif 
ini.

Sekarang, yang kedua, apa yang saya maksud dengan membaca buku dengan variasi 
yang seimbang? Mengingat pentingnya memilih buku yang baik, dan setelah 
memberikan petunjuk khususnya untuk buku-buku doktrinal, saya juga menyarankan 
supaya kita membaca buku dari kategori-kategori yang lain.
Saya menyarankan, misalnya, agar kita membaca sejumlah buku-buku renungan dan 
inspirasional, seperti Pilgrim's Progress oleh John Bunyan, Christian's Daily 
Walk oleh Henry Scudder, Crook in the Lot oleh Thomas Boston, dan Remedies 
against Wondering Thoughts in Worship oleh Richard Steele.

Biografi juga sangat inspirasional, dan saya menyarankan agar kita membaca satu 
setiap tahun. Saya pribadi sangat dikuatkan oleh biografi orang-orang seperti 
John Calvin, Martin Luther, John Knox, Jonathan Edwards, A. W. Pink, John 
Gresham Machen, John Brown, dan sebagainya.

Untuk memiliki dasar yang luas akan sejarah Gereja kita bisa membaca beberapa 
introduksi singkat, seperti Sketches from Church History dari S. M. Houghton, 
Handbook on the History of Christianity dari Eerdman, dan History of Christian 
Doctrine dari Louis Berkhof. Untuk melengkapi pengertian kita akan perkembangan 
Gereja untuk memperluas wawasan kita dan juga untuk berhati-hati terhadap 
kesalahan-kesalahan yang terulang, saya menyarankan beberapa buku tentang 
situasi kekristenan zaman sekarang, seperti Evangelicalism Divided tulisan Iain 
H. Murray dan No Place for Truth tulisan David F. Wells.

Lalu, untuk mengekspos ajaran-ajaran palsu secara spesifik, saya menyarankan 
Anda sesekali membaca buku-buku polemik, seperti yang ditulis melawan Romanisme 
dan Ekumenisme oleh Loraine Boettner (Roman Catholicism), dan oleh Fred Moritz 
(Be Ye Holy); melawan Karismatisme oleh John F. MacArthur (Charismatic Chaos), 
Peter Masters dan John Whitcomb (Charismatic Phenomena), dan Chris Hand (Signs 
& Wonders: Exposed!); melawan Arminianisme oleh Christopher Ness (Antidote 
Against Arminianism), John Owen (Death of Death), R. C. Sproul (Willing to 
Believe), Paul Helm (Calvin & the Calvinist); atau bahkan Richard P. Belcher 
(Journey in Grace); dan melawan Dispensasionalisme oleh John H. Gerstner 
(Wrongly Dividing the Word of Truth), Keith A. Mathison (Dispensationalism: 
Rightly Dividing the People of God), Curtis I. Crenshaw dan Groover Gunn 
(Dispensationalism Today, Yesterday, and Tomorrow), dan O. Palmer Robertson 
(The Israel of God: Yesterday, Today, and Tomorrow).

Sebagai tambahan, saya juga menyarankan mereka yang memiliki pertanyaan tentang 
ibadah kontemporer dan Prinsip Regulatif untuk membaca The Songs of Zion dari 
Michael Bushel, The Singing of Psalms in the Worship of God dari G. I. 
Williamson, Gospel Worship dari Jeremiah Burroughs, dan Sola Scriptura and the 
Regulative Principle of Worship dari Brian M. Schwertley.

Mereka yang sedang melalui fase-fase spesifik dalam hidup mereka boleh juga 
membaca buku-buku praktis, seperti tentang pendidikan anak-anak, misalnya Hints 
on Child Training oleh H. Clay Trumbull, What the Bible Says about Child 
Training oleh J. Richard Fugate, dan Revealed To Babes: Children in the Worship 
of God oleh Richard Bacon; dan tentang pernikahan, misalnya Strengthening Your 
Marriage oleh Wayne A. Mack.

Tentunya, daftar ini tidak mewakili daftar lengkap buku-buku yang sebaiknya 
kita baca. Buku-buku ini adalah buku-buku yang saya temukan berguna dalam 
kategori-kategori di atas, dan saya percaya umumnya tidak sulit buat pemula. 
Demikian juga merekomendasikan buku-buku yang spesifik tidak berarti mendukung 
segala sesuatu yang ditulis oleh penulisnya. Seperti biasa, paling baik 
bertanya kepada seseorang yang berpengetahuan untuk memberi tahu Anda sedikit 
tentang buku yang Anda mau beli, sebelum Anda mulai menginvestasikan waktu Anda 
dalam buku tersebut.

Bagaimana sebaiknya kita membaca?
Setelah merekomendasikan secara luas apa yang sebaiknya kita baca, ijinkan saya 
secara singkat memberikan 10 tips, yang mungkin berguna bagi Anda untuk melatih 
kebiasaan membaca yang saleh.
1. Selalu prioritaskan pembacaan Alkitab. Jika Anda tidak punya waktu membaca 
buku-buku lain, pastikan Anda membaca Alkitab. 
2. Di mana buku yang Anda baca mengutip Alkitab, pastikan Anda melihat 
ayat-ayat tersebut di Alkitab kecuali itu ayat-ayat yang Anda sudah familiar. 
3. Bersikaplah selektif tehadap apa yang Anda baca. "Menjadi seorang pembaca 
yang baik tidak berarti sudah membaca banyak buku, tapi mengetahui beberapa 
buku yang baik, dan menguasai buku-buku yang terbaik dan teragung" (Ferguson, 
op. cit., 10). 
4. Untuk buku-buku tertentu, versi ringkas cukup berguna (seperti 
risalah-risalah John Owen); tapi untuk buku-buku yang lain, versi ringkas malah 
membuat frustrasi (contohnya, perkenalan saya akan Institutes Calvin adalah 
melalui versi ringkas yang saya temukan cukup kering dan sulit dipahami. 
Bayangkan kekaguman dan sukacita saya ketika saya mulai membaca terjemahan Ford 
Lewis Battles dan menemukan terjemahan ini lebih mudah dibaca dan dipahami, dan 
jauh lebih mengharukan!). 
5. Jika Anda tidak memiliki keahlian bahasa Inggris yang sangat baik, bacalah 
terjemahan modern ketimbang terjemahan kuno. Contohnya, membaca terjemahan 
modern Confessions Augustine kemungkinan akan jauh lebih berguna bagi 
kebanyakan dari kita daripada jika kita membaca terjemahan Inggris kunonya. 
6. Rencanakan waktu membaca Anda. Jika Anda bukan orang yang disiplin, akan 
membantu ketika membaca buku-buku tebal untuk membuat jadwal supaya Anda tekun 
membaca, misalnya, satu bab setiap hari. Jika Anda mengikuti jadwal, Anda akan 
terkejut betapa cepatnya Anda akan menyelesaikan buku yang tebal (misalnya 
Institutes of Christian Religion Calvin), yang mungkin tidak pernah Anda 
bayangkan Anda sanggup menyelesaikannya. 
7. Manfaatkan waktu Anda dengan semaksimal mungkin. Saya menyarankan Anda 
membawa sebuah buku ke mana pun Anda pergi. Bacalah selagi menunggu bus atau 
kereta. Bacalah di bus dan kereta jika Anda bisa. Baca di toilet. Baca ketika 
Anda makan sendirian. Buat apa menghabiskan waktu Anda dengan sia-sia? 
8. Bacalah buku-buku yang lebih mudah dicerna atau lebih ringan seperti 
biografi ketika Anda lelah, dan bacalah buku-buku yang lebih sulit ketika Anda 
dalam keadaan yang lebih prima. 
9. Buatlah catatan dan garis bawahi buku yang Anda baca jika buku tersebut 
milik Anda. Saya pribadi menggunakan stabillo kuning dan membuat catatan di 
tepian buku-buku teologi yang saya miliki. Meskipun ini memperlambat kecepatan 
membaca, saya menemukan praktek ini sangat membantu ketika saya membaca ulang 
atau mengulas buku tersebut. 
10 Anda tidak selalu harus membaca setiap halaman setiap buku yang Anda baca. 
Contohnya, jika Anda sedang membaca buku teologi sistematika, Anda mungkin 
ingin memilih bab-bab yang berkenaan dengan subjek-subjek yang Anda paling 
tidak familiar dan baru kemudian kembali ke bab-bab yang lain jika ada waktu. 
Tentu, tips ini tidak akan berarti apa-apa jika Anda adalah pembaca yang cepat, 
atau jika Anda adalah tipe pembaca yang tidak tahan membaca buku secara tidak 
lengkap. 

Kesimpulan
Bertekunlah membaca. Jika Anda menemukan kehidupan Krisen Anda agak suam-suam, 
atau Anda menemukan diri Anda tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus, 
saya menyarankan Anda mengambil sebuah buku dan mulai membaca, dan Anda akan 
melihat bedanya. Jangan menunda. Mulailah sekarang, dan bertekunlah. Jangan 
biarkan televisi membodohi Anda, dan merampas pengalaman yang paling 
menyenangkan untuk mengenal Kristus dan Firman-Nya melalui orang-orang kudus 
yang Ia berikan sebagai berkat bagi Gereja. Tidak pernah ada dalam sejarah 
Gereja begitu banyak buku Kristen yang baik tersedia secara langsung dan murah. 
Akan tidak bertanggung jawab untuk tidak menggunakan berkat providensia ini 
untuk diubahkan melalui pembaruan akal budi kita.
-- 
Grace and peace,
Adi
http://reposeinthee.blogspot.com 
===================================================
From: yunike andreas 

Securing your freedom

Until you release others, the devil and his agents are lawfully empowered to 
keep you and your blessings in their prison. Release everyone who has offended 
you today. Use that as basis for securing your freedom. Gbu

Kirim email ke