From: mangucup88 Biografi Singkat Rasul Paulus
Dengan ini pertama mang Ucup mohon maaf kepada rekan-rekan dan para pembaca yang budiman atas artikel-artikel bolanya mang Ucup yang penuh dengan perasaan fanatismus berlebihan. Hal inilah pula yang menyebabkan mang Ucup jadi hilang ingatan seperti juga orang yang sedang kerasukan setan. Dimana saya menulis artikel tersebut dengan menggunakan bahasa yang kampungan, kasar maupun vulgar. Oret-oretan mengenai bola tersebut sebenarnya tidak layak dan juga tidak pantes untuk ditayangkan di milis apalagi di milis Rohani. Maka dari itulah sekali lagi dengan ini mang Ucup mohon maaf. Sebagai gantinya mulai hari ini saya akan duduk manis dan menulis artikel-artikel yang manis lagi agar bisa saling menguatkan sesama saudara seiman. Mulai dari tgl 28 Juni 2008 kemarin ini s/d 29 Juni 2009 telah ditetapkan oleh Paus Benediktus XVI sebagai Tahun Santo Paulus. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Rasul Paulus adalah salah satu Rasul yang paling ngetop setelah Rasul Petrus. Walaupun kenyataannya ia bukanlah seorang tokoh sejarah, sebab selainnya di Alkitab nama dia tidak pernah tercantum dimanapun juga. Hampir setiap umat Nasrani mengetahui siapa dia, tetapi tanyalah sama diri sendiri seberapa jauh yang Anda ketahui tentang sejarah hidupnya dia? Masalahnya dari kelahiran Paulus sampai saat ia tampil di Yerusalem sebagai penganiaya orang Kristen, hanya sedikit sekali yang diketahui mengenai pribadi dia. Ia dilahirkan di Tarsus (Turki) pada tahun 3 SM. Mati sebagai martir dipancung kepalanya oleh Kaiser Nero pada tahun 63 SM di Roma. Berdasarkan undang-undang Rumawi pada saat itu; Paulus tidak mungkin bisa disalib seperti Tuhan Yesus ataupun Petrus sebab ia adalah warga Rumawi. Kuburan Paulus baru diketemukan di Vatikan pada tahun 2006; dimana tercantum tulisan kuno "Paulo Apostolo Mart" = Martir Rasul Paulus. Paulus mendapatkan kewargan negaraan Rumawi dari ayahnya yang kemungkinan besar adalah seorang pejabat Rumawi. Banyak sekali orang menafsirkan dan berpraduga bahwa nama Paulus itu adalah nama permandiannya setelah ia bertobat, tetapi ini tidak benar! Pertama nama Paulus dalam bahasa Latin itu diserap dari nama Yunani "Paolos" = Si Kecil. Nama ini sudah ia dapatkan sejak lahir. Ayahnya Paulus adalah keturunan dari suku Benyamin atau anak yang paling kecil (bungsu) dari Yakub. Nama Ibrani dia yang sebenarnya adalah Saul atau Saulus (bhs Latin) yang diambil dari nama raja Israel yang pertama, hingga wafatnya ia tidak pernah ganti nama. Lukas sendiri pernah mengungkapkannya, bahwa ia memiliki dua nama lihat: Kisah 13:9 Ia selalu menggunakan nama Paulus terutama dalam surat-surat yang ditulisnya. Menurut Alkitab penampilan lahiriah Paulus itu tidak meyakinkan (1Kor 2:3; 2Kor 10:10). Keterangan yang lebih rinci mengenai penampilan Paulus tercantum dalam kitab Apokrifa "Acts of Paul and Thecla": Orangnya kecil, rambutnya tipis halus, kakinya bengkok, badannya tegap, alisnya bertemu, hidungnya sedikit bungkuk. Para ahli dari kepolisian Jerman telah mencoba merekayasa wajahnya Paulus silahkan klik: http://www1.polizei-nrw.de/presseportal/stepone/data/downloads/04/0c/00/paulus.jpg Tidak bisa dipungkiri, bahwa selama hidupnya selainnya ia pernah berkali-kali dipenjara juga sering mengalami siksaan seperti dilempari batu dari orang-orang yang membencinya. Kemungkinan besar antara lain ia juga menderita penyakit mata (Gal 4:15). Disamping itu ia juga menderita penyakit rematik dan persendian (Arthrose) penderitaan inilah yang ia ungkapkannya di 2Kor 12:7 Paulus tidak pernah minta bantuan materi untuk biaya hidupnya, karena sebagai pembuat kemah ia bisa mencari uang sendiri. Satu-satunya dimana ia menerima bantuan ialah dari orang-orang di Filipi (Fil 4:14) Dari ketiga-belas surat-surat Paulus yang tercantum dalam Alkitab hanya tujuh yang bisa dipastikan adalah hasil karyanya tulen. Sisanya ia dibantu oleh sekretaris-sekretarisnya. Semua surat-suratnya ditulis dalam bahasa Koine Yunani. Surat-surat Paulus disebar luaskan oleh Onesimus pengagumnya Paulus sekitar tahun 90. Onesimus sang hamba yang kemudian menjadi uskup di Efesus. Walaupun perbedaan usianya antara Paulus dengan Tuhan Yesus hanya tiga tahun, tetapi kenyataannya Paulus belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Tuhan Yesus. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sepertiga dari Kitab Pernjanjian Baru adalah hasil karya tulisannya Paulus, walaupun demikian hanya sedikit sekali yang ditulis mengenai diri pribadinya sendiri. Paulus lahir di Tarsus (Turki), tetapi dibesarkan dan dididik di Yerusalem dibawah bimbingan Gamaliel. (Kis 22:3). Pada saat itu anak-anak orang berduit lazim dikirim ke Yerusalem untuk dididik di sana, sama seperti anak-anak jaman sekarang yang pergi studi ke luar negeri. Paulus mempelajari Hukum Agama Yahudi (Halakha) di perguruan Beith Hillel. Gamaliel guru pembimbing Paulus bukanlah orang sembarangan. Ia ini adalah dokor ilmu hukum golongan Farisi. Ia bukan hanya sekedar dosen (guru) biasa saja, bahkan sudah jadi professor. Guru biasa disebut Rabbi (Guruku) sedangkan untuk Guru Besar disebut Rabban (Guru Kami). Ia juga yang menjadi pembela para rasul ketika mereka diseret ke pengadilan (Kis 5:33-40) dan berdasarkan Kitab Misnah (Sota 9:15) mengatakan, bahwa ia pernah menjadi Kristen. Paulus mendapatkan predikat "the best" pada masa kuliahnya, bahkan jauh lebih maju daripada banyak teman yang sebaya dengan dia. (Gal 1:14) Paulus termasuk orang yang sangat fanatik terhadap agamanya. Hal inilah yang membuat Paulus pada awalnya membenci umat Yahudi yang pindah kepercayaannya menjadi Kristen. Jadi status Paulus pada saat tersebut tidak jauh bedanya seperti pemimpin FPI (Front Pembela Islam) yang melakukan sweeping terhadap umat Nasrani. Paulus tidak ragu-ragu untuk membinasakannya (Gal 1:13). Bahkan untuk melakukan ini ia telah mendapatkan surat kuasa khusus dari Imam Besar maupun Majelis-majelis Tua. Paulus juga yang mengawasi eksekusi hukuman mati melalui hukuman razam terhadap Stefanus. Tepatnya pada tgl 25 Januari 36 dalam perjalanannya melakukan sweeping ke Damsyik; Tuhan Yesus menampakan diri-Nya dalam cahaya yang menyilaukan sambil bersabda: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?" Karena cahaya inilah yang membuat Paulus menjadi buta, tetapi akhirnya disembuhkan oleh Ananias. Melalui penampakan ini pula akhirnya Paulus jadi pengikut Tuhan Yesus. Perjalanan Paulus yang pertama adalah ke Arab dari situ kembali lagi ke Damsyik (Gal 1:17). Misionaris pertama yang dilakukan oleh Paulus di Anthiokia, disitu pula ia mendapatkan tugas pertamanya dari Roh Kudus (Kis 13:1-2). Hal inilah yang membuat Paulus menjadi berani menentang pendapat daripada rasul-rasul lainnya termasuk Petrus, karena ia yakin bahwa ia dipilih dan diangkat langsung menjadi rasul bukannya oleh manusia melainkan oleh Tuhan Yesus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. (Gal 1:1) Sebab apa yang telah dilakukan oleh Paulus pada saat itu; sama seperti juga seorang pastur muda baru yang masih bau kencur, tapi kenyataannya sudah berani menentang pendapat dari seorang Paus. Kenapa demikian ? Paulus telah mendapatkan penglihatan langsung dari Tuhan Yesus, penglihatan ini dalam bahasa kerenya disebut "Ophtea" seperti juga dengan Daniel (Dan 7:1-14). Maka dari itulah hasil karya surat-surat Paulus itu bukannya hasil karya pribadi melainkan hasil karya yang ditulis dibawah bimbingan Roh Kudus. Paulus berani memberikan khotbah mengenai ajaran Kristen di Sinagoge Herodes atau Rumah Ibadat umat Yahudi terbesar di Yerusalem. Hal ini pulalah yang membuat dia akhirnya dikejar bahkan mau dibunuh oleh para penganut agama Yahudi setempat sehingga terpaksa ia harus minggat kembali ke Tarsus tempat kota kelahirannya untuk mengucilkan diri di sana selama sepuluh tahun. Masa ini disebut adalah masa sunyi dari Paulus. Ia berada di Yerusalem pada saat tersebut hanya sekitar dua minggu saja. Ajaran Paulus telah mempengaruhi banyak sekali orang termasuk para tokoh agama Kristen mulai dari Santo Agustinus, Martin Luther s/d Karl Bath. Dan bukan hanya para tokoh agama Kristen saja yang terpengaruhi, melainkan juga para filsuf kondang seperti Sóren Kierkegaard maupun Karl Jaspers. Bahkan Friedrich Nietzsche sendiri menilai, bahwa ajaran Kristen itu sebenarnya berasal dari Rasul Paulus ! Apakah sih yang menjadi kelebihan maupun bedanya dari ajaran Paulus dibandingkan dengan ajaran dari rasul-rasul lainnya ? Apakah mungkin karena ajarannya sudah dibumbui dan dicampur aduk dengan silsafah Yunani ? Dan apakah Anda tahu tanpa adanya dogma ajaran dari Rasul Paulus mang Ucup mungkin juga Anda, tidak mungkin bisa jadi Kristen ! Kenapa ? Bacalah oret-oretan berikutnya mengenai ajarannya dari Rasul Paulus. Oret-oretan ini mungkin hasilnya singkat dan ngawur, tetapi percayalah bahwa oret-oretan ini diserap dari banyak sumber buku-buku antara lain: Chritianity according to Saint Paul ( C.A.A. Scott) Christ in the Theology of St Paul ( L Cerfaux) The Holy Spirit and Eschatology in Paul (N.Q. Hamilton) Pauline Baptism and the Pagan Mysteries (G Wahner) Das Apostel Paulus (P Feine) Studia Paulina Fetschrift (J de Zwaan) The Mysticism of Paul the Apostle (A. Schweitzer) Mang Ucup Email: [EMAIL PROTECTED] Homepage: www.mangucup.org ============================================================= From: Dwi Setyani THE PASSION OF JIM CAVIEZEL Kisah dari aktor film "The Passion of the Christ" Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film "The Passion of the Christ". Inilah kesaksiannya. . . JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA SEBELUM "THE PASSION" ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL "THE THIN RED LINE". ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU. Dalam "The Thin Red Line", Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuh pun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorban nya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya. "Saya terkejut pada suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda." Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo, ini Mel". Kata suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?" tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek Aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah risiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman. Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?" Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red Line". "Baiklah, Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung risikonya, mari kita buat film ini!" Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, "Dapatkah saya melakukannya?" Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda. Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seseorang yang dalam hubungan intim dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting. Dan kini saya telah berada di puncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkan ku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu. Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting dan membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh- sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis. Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya berkata pada Mel, "Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini." Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya. Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, disamping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, "Dia sadar! Dia sadar!". "Apa yang telah terjadi?" tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mukjizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?" Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat kepada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian. Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh. itu sangat luar biasa.mengagumkan. tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini. Saya harap mereka yang menonton "The Passion Of Jesus Christ", tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya kepada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul dalam doa selama pembuatan film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin. (Sumber: kiriman sdri. Debbie)

