IV. KHOTBAH DAN TEKNIK BERKHOTBAH (HOMILETIKA)
Sesudah memikirkan signifikansi dan aspek khotbah, sekarang kita akan
memikirkan teknik berkhotbah. Seperti telah dijelaskan di atas, saya sudah
menjelaskan khotbah yang terpenting bukan transfer data akademis yang kita
dapatkan di sekolah/seminari theologi dan bukan juga teknik berkhotbah yang
bagus, tetapi khotbah yang terpenting adalah khotbah yang memberitakan Firman.
Konsep ini benar, tetapi ada tendensi lain di balik konsep ini yaitu tidak
mementingkan teknik khotbah. Ada beberapa pengkhotbah yang karena terlalu
mementingkan berita di dalam Firman, lalu tidak memerhatikan teknik berkhotbah.
Saya menyetujui bahwa teknik berkhotbah itu adalah hal sekunder, tetapi tidak
berarti teknik berkhotbah tidak perlu sama sekali. Teknik khotbah tetap perlu
sebagai implikasi signifikansi dan aspek khotbah yang telah kita pelajari di
atas.
Khotbah yang baik tetap memerhatikan teknik berkhotbah. Apa arti teknik
berkhotbah? Teknik berkhotbah berarti cara yang digunakan oleh si pengkhotbah
di dalam menyampaikan khotbah. Cara yang dipakai si pengkhotbah ini beraneka
ragam, ada yang terlalu akademis, di sisi lain ada yang tidak karuan. Supaya
kita tidak terjebak ke dalam kedua ekstrim ini, kita perlu memerhatikan satu
poin penting di dalam teknik khotbah yaitu dinamika khotbah (dynamics of
preaching). Dinamika khotbah ini meliputi dua hal: persiapan dan kuasa Roh
Kudus; antara naskah dan isi khotbah. Mari kita memikirkan dua hal ini.
A. Dinamika Khotbah: Antara Persiapan dan Kuasa Roh Kudus
Teknik khotbah berdinamika yang pertama yaitu antara persiapan dan kuasa Roh
Kudus. Di dalam gereja Kristen saat ini, ada dua kecenderungan ekstrim para
pengkhotbah, yaitu di satu sisi, sangat memerhatikan persiapan sebelum
berkhotbah, tetapi tidak terbuka pada kuasa Roh Kudus yang spontan. Di sisi
lain, ada pengkhotbah yang terlalu mementingkan kuasa Roh Kudus, tetapi
mengabaikan persiapan khotbah, sehingga khotbahnya pun asal-asalan, yang
penting “dari Roh Kudus.” Kedua hal ini tidak benar. Jika kita terlalu
menekankan persiapan yang matang tetapi tidak terbuka pada pimpinan spontan
dari Roh Kudus berarti kita terlalu mengandalkan kehebatan manusia di dalam
menyampaikan berita Firman. Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan pimpinan
spontan dari Roh Kudus dan tidak mempersiapkan khotbah dengan baik, itu berarti
kita tidak bertanggungjawab. Teknik khotbah yang bertanggungjawab adalah teknik
khotbah yang seimbang. Pdt. Billy Kristanto, M.C.S. mengajarkan bahwa teknik
khotbah yang seimbang ini maksudnya si pengkhotbah harus menyiapkan khotbah
semaksimal mungkin (bahkan kalau perlu sampai titik dan komanya sekalian)
sambil tetap terbuka pada pimpinan spontan dari Roh Kudus (spontaneous guidance
of the Holy Spirit). Mengapa harus seimbang? Karena di dalam keseimbangan ini,
kita dituntut untuk tetap bertanggungjawab (mempersiapkan khotbah semaksimal
mungkin) sambil tetap bergantung pada kuasa Roh Kudus yang kadang-kadang
memakai mulut si pengkhotbah untuk membicarakan hal-hal yang tidak dipersiapkan
sebelumnya. Dari sini, kita belajar bahwa dalam berkhotbah pun, kita dituntut
menggabungkan antara kedaulatan dan kuasa Allah dengan tanggung jawab manusia
yang tidak pernah berkontradiksi, namun berkaitan satu sama lain.
B. Dinamika Khotbah: Antara Naskah, Isi, dan Keluwesan Khotbah
Kedua, dinamika khotbah yang harus diperhatikan yaitu antara naskah, isi, dan
keluwesan khotbah. Untuk poin kedua ini, pendekatannya agak subjektif. Ada
empat kemungkinan yang cukup signifikan pada poin ini:
1. Tidak terpaku pada naskah khotbah, tetapi isi khotbahnya bermutu
(sesuai dengan Alkitab), dan si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Kemungkinan pertama adalah si pengkhotbah tidak terpaku pada naskah khotbah.
Tidak terpaku dalam hal ini bukan berarti tidak melihat naskah khotbah sama
sekali, tetapi artinya tidak terikat dengan membaca naskah khotbah
terus-menerus. Seorang pengkhotbah dituntut untuk tidak terlalu terpaku pada
naskah khotbah, mengapa? Karena pengkhotbah adalah seseorang yang menyampaikan
berita Firman kepada jemaat dan secara otomatis pengkhotbah harus banyak
berinteraksi dengan jemaat misalnya dengan sering menatap jemaat yang dia
layani. Pengkhotbah juga bukan hanya tidak terpaku pada naskah khotbah saja, di
bagian ini, pengkhotbah juga menyampaikan isi khotbah yang bermutu. Artinya,
ada suatu struktur yang jelas di dalam khotbahnya, bukan asal-asalan. Struktur
di sini bukan berarti struktur akademis yang kaku, tetapi struktur di sini
adalah struktur pembahasan yang saling berkait antara satu bagian dengan bagian
lain di dalam khotbahnya Meskipun ini bukan hal terpenting, tetapi hal
ini tetap perlu diperhatikan. Ketiga, bukan hanya itu saja, si pengkhotbah
juga dituntut luwes menyampaikan khotbah. Di sini, saya berbicara mengenai
intonasi suara si pengkhotbah. Keluwesan dalam menyampaikan khotbah berarti si
pengkhotbah harus memberikan intonasi suara yang lebih jelas ketika ia
menekankan sesuatu yang perlu ditekankan di dalam khotbahnya. Intonasi suara
harus jelas dimaksudkan agar jemaat berkonsentrasi pada penekanan tertentu dari
si pengkhotbah dan juga agar jemaat tidak mengantuk.
Untuk model kemungkinan pertama ini, saya tidak bisa memungkiri bahwa setahu
saya, hamba Tuhan/pengkhotbah yang bisa melakukan hal ini adalah Pdt. Dr.
Stephen Tong. Beliau adalah seorang pengkhotbah yang sangat dinamis. Beliau
hampir tidak terpaku pada naskah khotbah, meskipun tentu beliau telah
mempersiapkan khotbahnya. Beliau juga adalah seorang pengkhotbah dengan isi
khotbah yang bermutu, cukup terstruktur, dan mendalam. Selain itu, beliau tidak
kaku dalam menyampaikan khotbah, artinya ada keluwesan di dalam menyampaikan
khotbahnya. Beliau tidak monoton.
2. Terpaku pada naskah khotbah, isi khotbahnya bermutu (sesuai
dengan Alkitab), dan si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Kemungkinan kedua adalah si pengkhotbah terpaku pada naskah khotbah. Dalam
arti, si pengkhotbah hampir sering melihat naskah khotbah. Saya tidak
mengatakan ini tidak boleh, tetapi cara seperti ini kurang efektif. Banyak
pengkhotbah yang sering melihat naskah khotbah lalu memberikan contoh bahwa
Jonathan Edwards, seorang revivalis di Amerika Serikat juga membaca naskah
khotbahnya. Itu tidak salah, tetapi jangan belajar dari seorang hamba Tuhan
saja. Itu picik namanya. Mengapa saya mengatakan bahwa pengkhotbah yang terus
melihat naskah khotbah itu kurang efektif? Karena si pengkhotbah itu tidak
berinteraksi dengan jemaat. Coba Anda bayangkan jika si pengkhotbah membacakan
naskah khotbahnya, “Saudara-saudara ...”, tetapi tidak menghadap ke jemaat,
tetapi kepada naskah khotbahnya. Apa signifikansi berita mimbar seperti itu
bagi jemaat? Jemaat, bagi pengkhotbah itu, berada di dalam naskah khotbahnya,
bukan langsung dihadapi. Meskipun begitu, pengkhotbah ini tetap luwes
menyampaikannya. Artinya, si pengkhotbah tetap bisa menguraikan sendiri apa
yang dia cantumkan di dalam naskah khotbah yang dia bawa, misalnya dengan
memberikan contoh, ilustrasi, dan sedikit kesaksian/humor.
3. Tidak terpaku pada naskah khotbah, isi khotbahnya tidak bermutu
(tidak sesuai dengan Alkitab), tetapi si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Jika poin pertama dan kedua masih ada sisi positifnya yaitu khotbahnya
bermutu, maka pada kemungkinan ketiga ini, kita mendapati suatu keanehan.
Keanehan itu adalah si pengkhotbah tidak terpaku pada naskah khotbah (dalam hal
ini, saya terjemahkan: tidak menggunakan naskah khotbah), ia luwes menyampaikan
khotbahnya, tetapi sayangnya tidak bermutu. Mengapa bisa demikian? Karena
biasanya pengkhotbah seperti ini tidak mempersiapkan khotbah dengan baik. Ia
asal mencomot ayat Alkitab mungkin sehari sebelum dia berkhotbah, lalu mencari
ayat-ayat referensi dari Konkordansi Alkitab bahasa Indonesia untuk mendukung
apa yang mau dia khotbahkan. Si pengkhotbah mungkin sekali membolak-balik dan
mengutip puluhan ayat Alkitab, tetapi yang dia kutip selalu dia lepaskan dari
konteksnya. Akibatnya, isi khotbah tersebut tidak lain hanya kutipan ayat
Alkitab tanpa penguraian yang dalam. Itu yang saya katakan sebagai khotbah yang
tidak bermutu, yaitu khotbah yang tidak menjelaskan ayat
Alkitab secara mendalam beserta aplikasinya yang tepat.
4. Terpaku pada naskah khotbah, tetapi isi khotbahnya tidak bermutu
(=tidak sesuai dengan Alkitab) ditambah si pengkhotbah kaku menyampaikannya.
Kemungkinan terakhir yang saya soroti ini adalah si pengkhotbah terpaku pada
naskah khotbah, ditambah isi khotbahnya tidak bermutu, ditambah lagi si
pengkhotbah kaku menyampaikannya. Ketika si pengkhotbah sudah memiliki teknik
khotbah di tahap keempat ini, si pengkhotbah boleh dibilang gagal disebut
pemberita Firman. Mengapa? Karena meski si pengkhotbah membaca naskah khotbah
yang dia bawa, tetap saja, ia tak mampu mengembangkan apa yang dia persiapkan
itu, sehingga terkesan monoton, ditambah tidak ada penggalian Alkitab yang
komprehensif dan aplikatif.
Meskipun teknik berkhotbah di poin IV ini bukan hal terpenting, tetapi kita
tetap saja perlu memerhatikan teknik berkhotbah, bukan untuk memuaskan telinga
pendengar, tetapi agar berita yang kita sampaikan dapat diserap dengan lugas,
tegas, jelas, dan mudah dimengerti.
V. KHOTBAH DAN WAKTU KHOTBAH
Poin terakhir, kita akan bersama-sama merenungkan kaitan khotbah dengan waktu
khotbah. Waktu yang dipergunakan di dalam khotbah di berbagai gereja beraneka
ragam: ada yang 15 menit, 30, 45 menit, ada yang 1 jam, 1½ jam, dll. Penggunaan
waktu khotbah ini tentu dilatarbelakangi oleh presuposisi tertentu. Misalnya,
ada gereja Protestan arus utama yang memakai waktu khotbah hanya 30 menit
dengan presuposisi bahwa yang terpenting di dalam kebaktian bukan hanya
khotbah, tetapi juga puji-pujian, dll. Di sisi lain, ada gereja kontemporer
yang memakai waktu khotbah sampai 1 jam, tetapi sayangnya banyak pengkhotbah
tidak mempergunakan 1 jam khotbah tersebut untuk menyampaikan berita Firman
yang tegas, jelas, dan aplikatif, tetapi mereka biasanya banyak bercanda di
dalam khotbah agar waktunya pas 1 jam.
Waktu khotbah tentu tidak memengaruhi isi khotbah. Memang bukan menjadi suatu
jaminan bahwa khotbah yang berdurasi 1 jam pasti bermutu, sedangkan khotbah
yang hanya memakan waktu 30 menit pasti tidak bermutu. Tetapi meskipun demikian
kita tetap perlu memerhatikan kaitan waktu khotbah dan isi khotbah.
Saya membagikan dua prinsip kaitan waktu dan isi khotbah:
· Waktu dan isi khotbah bukan bergantung pada penentuan manusia
Di poin pertama, kita perlu mempelajari bahwa waktu dan isi khotbah yang ada
tidak bergantung pada penentuan manusia. Manusia berdosa meskipun sudah Kristen
tidak layak mengatur jadwal atau durasi khotbah. Mengapa? Karena khotbah bukan
sekadar pidato, tetapi memberitakan Firman. Inilah yang kurang disadari di
beberapa gereja Protestan arus utama dan Katolik yang kurang menghargai
berita/khotbah mimbar. Mereka menganggap khotbah hanya sekadar salah satu dari
liturgi sehingga bisa dibatasi waktunya. Bahkan saya membaca sendiri tanggapan
seorang rekan Kristen di sebuah milis Kristen mengatakan bahwa ada gereja yang
majelisnya memperingatkan si pengkhotbah jika berkhotbah melewati durasi
khotbah yang telah ditentukan. Hal ini tentu tidak pernah diajarkan baik di PL,
PB, para bapa gereja, dan para reformator. Para nabi di PL bebas menyampaikan
berita Firman Tuhan tanpa dikekang oleh waktu/durasi. Begitu juga di
sinagoge-sinagoge, saya yakin tidak ada jemaat Yahudi yang
memperingatkan imam untuk berhenti karena waktu khotbahnya sudah selesai. Di
PB, Yohanes Pembaptis memberitakan Firman tanpa dikekang oleh waktu/durasi
khotbah. Tetapi herannya, mengapa gereja sekarang membatasi waktu berkhotbah?
Ini membuktikan gereja sudah tidak lagi menghargai signifikansi berita Firman
di dalam khotbah, sehingga tidak heran semakin sedikit khotbah diberitakan,
semakin banyak jemaat Kristen yang tidak beriman Kristen sungguh-sungguh,
karena kekurangan konsumsi makanan rohani yang mereka dapatkan.
· Waktu dan isi khotbah bergantung pada kedalaman Firman dan
kuasa Roh Kudus yang memakai berita Firman di atas mimbar dan kedalaman Firman
Jika bukan bergantung pada penentuan manusia, waktu dan isi khotbah tentu
sebaliknya bergantung pada kedalaman Firman dan kuasa Roh Kudus yang memakai
berita Firman di atas mimbar. Di sini, Allah (baik melalui firman-Nya maupun
Roh Kudus) yang berotoritas di dalam khotbah, bukan manusia. Allah bebas
mempergunakan durasi khotbah yang dikehendaki-Nya ketika Ia berbicara melalui
para hamba-Nya di atas mimbar. Konsep ini mengajar kita dua hal, yaitu:
Pertama, kedalaman Firman. Di sini saya mengaitkan waktu dan isi khotbah
dengan kedalaman Firman. Khotbah yang baik dan bertanggungjawab bukan hanya
mengutip puluhan ayat Alkitab, tetapi yang menguraikan ayat Alkitab secara
eksposisional (ayat per ayat, pasal per pasal, dll di dalam kitab di Alkitab).
Misalnya, menguraikan Injil Matius secara rutin setiap hari Minggu. Jika kita
benar-benar menerapkan metode eksposisi Alkitab secara rutin setiap hari
Minggu, maka kita baru menyadari bahwa Alkitab kita bukan Alkitab yang dangkal,
tetapi dalam. Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri mencontohkan bahwa beliau
mengeksposisi Surat Roma sudah hampir lebih dari 5 tahun secara rutin, begitu
juga dengan Surat Ibrani dan Injil Yohanes. Di sini, kita mengetahui alasan
mengapa saya mengatakan waktu dan isi khotbah tidak pernah ditentukan manusia,
karena Firman Tuhan ini sangat mendalam dan tidak bisa dijelaskan dengan waktu
yang singkat.
Kedua, Roh Kudus memakai para pengkhotbah di luar khotbah yang telah
disiapkannya. Kadang-kadang, Roh Kudus memakai para pengkhotbah untuk
memberitakan Firman dengan pengertian yang berbeda di luar khotbah yang telah
disiapkan si pengkhotbah. “Berbeda” di sini bukan bertolak belakang, tetapi
berbeda dalam pengertian yang lebih tajam, luas, jelas, dan mudah dimengerti.
Oleh karena itulah, waktu khotbah bergantung pada kedaulatan Allah di dalam
khotbah yang bebas memakai hamba-Nya untuk menyampaikan berita Firman yang
urgent. Jika memang Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman secara singkat,
maka si pengkhotbah jangan sengaja memanjangkan khotbahnya supaya pas 1 jam.
Tetapi jika Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman dengan jelas dan agak
lama, maka jangan sengaja memendekkan durasi khotbah sampai menjadi 30 menit.
Ia yang menciptakan waktu, Ia berhak memakai waktu yang diciptakan-Nya untuk
memberitakan Firman-Nya. Hak apa kita berani membatasi-Nya?
Dengan kata lain, kedua poin ini menuntut suatu kepekaan khusus dari para
pengkhotbah yang diurapi Tuhan. Pengkhotbah yang baik selain studi Alkitab yang
ketat, juga terbuka pada dinamika pimpinan Roh Kudus ketika mereka berkhotbah.
Bagaimana dengan Anda sebagai pengkhotbah? Maukah Anda hari ini
sungguh-sungguh memberitakan Firman Tuhan dengan hikmat dan kuasa Roh Kudus
demi kemuliaan-Nya? Tuhan menuntut hamba-hamba-Nya memberikan Firman Tuhan
dengan bertanggungjawab, murni, teliti, tegas, jelas, dan aplikatif serta
memuliakan nama-Nya. Sudahkah Anda melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.
"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him"
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)
---------------------------------
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
br>Cepat sebelum diambil orang lain!