Spiritual Resolution
   
  oleh: Ev. Kezia Jonathan, S.Th.
  (istri Pdt. Effendi Susanto, S.Th. yang adalah gembala sidang Gereja Reformed 
Injili Indonesia—GRII Sydney, Australia)
   
   
   
  Ada satu istilah yang disebut sebagai the new millennium buzzword, yaitu 
istilah “sea change fever.” Satu kerinduan dari orang-orang yang sudah lelah 
dengan hidupnya sehari-hari untuk pindah kepada situasi yang baru. Orang yang 
sudah cape dengan pekerjaan, sudah bosan dengan kerutinan, mereka mimpi untuk 
pergi mencari tempat dimana mereka bisa mendapatkan satu hidup yang baru. Di 
dalam kerutinan, dari hari ke sehari, mulai bangun pagi, pergi bekerja, pulang, 
nonton TV dan tidur, itu semua membuat orang sampai kepada satu pertanyaan ‘mau 
apa saya sebenarnya? Apa yang saya kerjakan selama ini? Apa yang saya cari? Apa 
yang saya kejar dalam hidup saya, kalau hidup hari-hari itu hanya 
berputar-putar sampai di sini saja? Maka tidak heran kita melihat reality tv 
seperti “Extreme Make Over” menjadi satu fenomena. Kenapa ada orang sampai 
sukarela untuk menderita sakit untuk supaya penampilan fisiknya berubah? Show 
itu menarik karena memperlihatkan bagaimana seseorang
 yang tadinya berwajah dan bertubuh buruk akhirnya bisa menjadi begitu berubah 
menjadi amat baik. Orang ikut senang melihat hasil akhirnya, padahal jangan 
lupa di tengah-tengahnya ada proses sakit dan penderitaan yang mereka alami. 
Demikian juga di tahun yang baru orang punya New Year’s resolution. Umumnya 
orang mulai dengan resolusi penampilannya, sampai kepada hal-hal yang 
spiritual. Itu sebab banyak sekali iklan-iklan program diet, makanan sehat, 
alat-alat kesehatan, obat untuk membuat orang berhenti merokok, dsb gencar 
sekali ditayangkan. Biasanya di awal tahun orang giat dengan resolusinya, tapi 
survey membuktikan semangat itu cuma bertahan sampai 3 bulan saja. Sehabis itu 
orang kembali lagi kepada kebiasaan lamanya. Demikian juga dengan resolusi 
spiritual. Orang giat datang ke gereja di awal tahun tetapi makin waktu 
berlalu, semangat itu menjadi kendor juga. Apa resep yang bisa membuat 
spiritual resolution kita terus dinamis?
   
  Paulus membawa kita kepada satu perenungan apa yang kita cari dalam kita 
mengikut Tuhan, apa yang kita kejar dalam hidup kita, apa yang menjadi goal 
yang mengarahkan hidup spiritual kita sekarang ini. Jangan lupa pada waktu 
Paulus menulis surat Filipi ini dia ada dalam kondisi dipenjarakan karena 
imannya, karena Injil Tuhan yang ia sebarkan. Karena imannya kepada Tuhan dia 
dibelenggu. Surat ini menjadi satu surat yang terus bergema menjadi kekuatan 
dan pengharapan bagi orang yang mengalami pergumulan berat, yang mengalami 
tekanan dan aniaya, karena isi surat ini menjadi gema pernyataan iman Paulus 
yang boleh menguatkan hati anak-anak Tuhan. Paulus tidak terseret oleh situasi 
hidupnya, Paulus tidak self pity terhadap kondisi dirinya. Tetapi Paulus 
melihat ke depan, melihat kepada satu fokus, dan di situlah kita melihat 
keindahan iman seorang anak Tuhan yang boleh kita pelajari. Ada tiga hal yang 
dikatakan oleh Paulus menjadi kerinduannya untuk memperoleh spiritual
 fulfillment dalam hidupnya. Pertama, untuk mengenal Kristus. Kedua, untuk 
mengenal kuasa kebangkitan Kristus. Dan ketiga, untuk berada di dalam 
persekutuan dengan penderitaan Kristus. Sampai kepada suratnya yang terakhir 
yaitu surat kepada Timotius yang kedua, Paulus mengatakan aku telah mencapai 
garis akhir dan aku telah memelihara imanku. Fokus ini terus menjadi kerinduan 
dan pengharapannya hari lewat sehari dia jalani di dalam relasinya dengan Tuhan.
   
  Apa yang dimaksud dengan mengenal Kristus? Kita tahu Kristus itu Tuhan. Kita 
tahu Dia adalah juruselamat. Tetapi sampai dimana kita baru sampai di dalam 
tahap mengenal Dia? Ini adalah satu hal yang sangat unik karena pada waktu 
Paulus memakai kata ‘mengenal’ Paulus memakai satu istilah yang sama dengan 
istilah yang dipakai PL pada waktu Adam mengenal Hawa. Satu relasi yang intim 
di antara sepasang suami istri yang mempunyai pengenalan mendalam. Kita bukan 
hanya kenal dan tahu siapa Yesus Kristus secara doktrinal dan teologis, tetapi 
jelas di sini Paulus mengatakan pengenalan yang dia inginkan bukan mengenal 
tentang Kristus, tetapi mengenal Kristus sebagai Allah di dalam spiritual 
experience hidupnya. Ini adalah suatu tahap yang lebih dalam daripada sekedar 
tahu Yesus itu siapa, apa yang Dia ajarkan, apa yang Dia minta dari kita. 
Tetapi pengenalan secara pribadi antara aku dengan Dia, itu yang menjadi 
kerinduan Paulus. Banyak orang Kristen tahu tentang siapa Yesus,
 pandai berdebat tentang doktrin Kristologi, tetapi kalau pengenalan itu hanya 
sampai kepada pengenalan secara teologis, maka mereka akan sampai kepada satu 
kekosongan. Knowledge itu penting, tetapi yang lebih penting daripada itu 
adalah experience yang membawa kita kepada satu kesadaran siapa Tuhan itu 
secara pribadi di dalam hidup kita. Kita bisa banyak bicara tentang doktrin dan 
teori mengenai siapakah Yesus itu. Kita bisa membaca banyak buku tentang Dia. 
Tetapi pada waktu kita tidak mempunyai keinginan untuk mengenal Tuhan secara 
pribadi dan pengalaman iman kita, maka yang kita tahu tentang Dia menjadi 
sia-sia. Banyak orang yang setelah justru mengalami pergumulan pribadi dan 
mengalami pencobaan yang begitu besar dan penderitaan yang hebat baru di sana 
mulai mempertanyakan secara dalam hubungan dia dengan Tuhan. Adakah kerinduan 
Paulus ini juga menggugah hati kita untuk tahun ini mengenal Tuhan bukan dari 
orang lain, bukan dari pengalaman dan kesaksian orang, tetapi
 mengenal Tuhan di dalam hidupku secara pribadi, mengalami kehadiran Kristus 
secara nyata dalam hidupku. Mungkin untuk mencapai hal itu kita harus melewati 
saat-saat yang sulit tetapi kita mau mengenal Tuhan. Kita tidak tahu di 
tahun-tahun ke depan apa yang akan kita alami, tetapi iman kita tidak hanya 
akan menjadi satu agama secara ekstrinsik tetapi menjadi iman yang begitu nyata 
dalam hidup kita pada waktu kita menjalaninya di dalam pengenalan yang sejati 
akan Tuhan kita. Biarlah pengenalan akan Kristus ini menjadi kerinduan kita 
yang terutama dalam hidup.
   
  Kita bukan mengenal Kristus seperti orang yang sering menceritakan 
pengalamannya dimana pagi-pagi Tuhan datang menyapanya, menghibur, 
menyentuhnya. Itu pengalaman mistis yang tidak pernah direkomendasikan oleh 
Alkitab kita. Tetapi jelas pengenalan pribadi akan Tuhan, mengenal Dia dalam 
experience hidup kita selalu harus didasari dengan apa yang firman Tuhan 
katakan kepada kita. Itu sebab tidak ada orang akan bisa mengenal Tuhan dengan 
instant. Dia akan dikenal di dalam daily life kita, kita membaca firman, kita 
merenungkan apa yang dikatakan di sana karena semua isi hati Tuhan dinyatakan 
di dalam firmanNya dengan lengkap. Semua ini akan memimpin kita di dalam 
pengenalan secara pribadi. Kita yakin dan tahu firman-Nya bisa memimpin dan 
mengarahkan kita untuk mengenal siapa Tuhan itu. Kalau kita berjanji sejak di 
awal tahun ini akan membaca firman Tuhan dengan setia, mau makin mengerti apa 
yang menjadi isi hati-Nya, mau mengutamakan apa yang menjadi concern Tuhan 
dalam hidup
 kita, saya percaya kita akan mengalami pengenalan akan Tuhan yang sejati. Biar 
di tengah segala kesibukan kita, kita mau committed mulai berdoa, mulai membaca 
firman karena hal-hal ini akan membawa pertumbuhan, karena tidak ada 
pertumbuhan yang sejati tanpa adanya proses kita mulai berkomitmen dalam hidup 
kita. Tidak ada orang yang imannya bisa langsung dewasa kalau dia tidak belajar 
meluangkan waktunya bersama dengan Tuhan. Kalau kita mau mulai tahun ini 
belajar mendedikasikan hidup dan waktu kita bagi Tuhan. 
   
  Kedua, yang Paulus kehendaki adalah mengenal kuasa kebangkitan Kristus. Apa 
yang dimaksudkan dengan kuasa kebangkitan Kristus? Kebangkitan Tuhan kita 
adalah satu keunikan yang tidak pernah terjadi di dalam agama-agama lain. Tuhan 
kita adalah Tuhan yang tidak tinggal di dalam kuburNya tetapi Tuhan yang 
bangkit, Tuhan yang hidup dan Tuhan yang bekerja hingga hari ini. Kuasa 
kebangkitan Kristus adalah kuasa dinamis yang mampu membawa manusia berdosa 
kepada hidup yang kudus. Segala dosa dan pencobaan dan segala kelemahan di 
dalam kedagingan kita bisa dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Banyak 
orang Kristen ingin menjadi orang yang menang, mau mengatasi segala dosa dan 
kelemahan, tetapi akhirnya jatuh kembali ke dalam kegagalan karena bukan usaha 
kita yang bisa membuat kita mengatasi semua itu. Kita seringkali sangat 
tergantung oleh emosi dan keadaan lingkungan kita. Dalam keadaan tenang dan 
tidak masalah, mungkin lebih mudah untuk mendisiplin hidup kita. Tetapi waktu
 ada pergumulan, ada masalah, waktu hubungan kita dengan orang lain tidak 
menyenangkan, maka kekuatan dan keinginan untuk memiliki disiplin sirna. Banyak 
orang Kristen pada waktu mengalami konflik dengan orang mengatakan, “you tahu 
dari dulu saya orangnya begini, jangan coba-coba ganggu saya…” Saya rasa itu 
tidak boleh keluar dari mulut kita karena itu memperlihatkan suatu kondisi iman 
yang statis. Kita tidak boleh terus seperti yang dulu. Kita tidak boleh 
mengatakan ‘saya orangnya memang begini’ karena kalau kita memiliki kerinduan 
untuk mau lebih menyerupai Kristus, kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk 
menolong kita, bukan hanya keinginan dan kekuatan dari kita sendiri. Disiplin 
kita begitu lemah dan terbatas. Paulus mengarahkan hatinya untuk melihat kuasa 
kebangkitan Tuhan yang bisa menolongnya. Kita bukan hanya melihat Paulus 
sebagai orang suci yang tidak pernah punya konflik dalam hidupnya. Paulus orang 
yang keras, ada orang yang pernah terluka oleh
 tegurannya. Tetapi dia diproses oleh Tuhan sehingga akhirnya boleh menjadi 
orang yang humble dan bisa dikasihi dan dihormati oleh orang-orang itu. 
Rekan-rekan kerjanya yang pernah berkonflik dengan dia di belakang hari 
menyatakan Paulus adalah orang yang besar. Petrus pernah ditegur di hadapan 
orang-orang karena suatu waktu ketika dia sedang makan dengan orang-orang 
Kristen Yunani, dia tiba-tiba mengundurkan diri dan menjauh saat orang-orang 
Kristen Yahudi datang di depannya (Gal. 2:11-14). Tetapi di belakang hari 
Petrus menyatakan bahwa Paulus adalah orang yang dapat dipercaya dan memiliki 
hikmat dari Allah (2Pet..3:15-16). Demikian juga Paulus pernah berkonflik 
dengan Barnabas dan Markus begitu keras sampai mereka berpisah dalam pelayanan. 
Tetapi di belakang hari Markus bukan saja menjadi penolong penting bagi Paulus 
bahkan dia juga mendampingi Paulus sampai akhir di dalam penjara (2Tim. 4:11). 
Demikian kita melihat di dalam proses pembentukan sifatnya, di dalam
 pergumulan dan kelemahannya, Paulus boleh mendapatkan pembentukan dari Tuhan. 
   
  Ketiga, persekutuan di dalam penderitaan Kristus. Apa yang dimaksud dengan 
persekutuan di dalam penderitaan Kristus? Kalau kita melihat hidup Yesus selama 
di dunia dan penderitaan yang Ia alami, kita mungkin menjadi malu melihat 
masalah kita sendiri. Kalau kita hanya melihat kepada kesulitan diri sendiri 
kita hanya akan menjadi self pity, merasa diri paling banyak punya masalah dan 
kesulitan yang tidak habis-habis. Tetapi Paulus mengarahkan kita untuk melihat 
apa yang Kristus alami. Penderitaan yang Dia alami jauh melampaui siapapun 
juga. Dia Allah yang tidak berdosa tetapi mengalami penderitaan begitu dalam 
dan dahsyat. Surat Ibrani mengatakan pergumulanmu melawan dosa belum sampai 
membuat kamu mencucurkan darah (Ibr.12:4). Tetapi saat kita memandang kepada 
Kristus kita akan sampai kepada satu kematangan untuk melihat bahwa apa yang 
kita alami pada waktunya mungkin berat untuk kita jalani tetapi di dalam segala 
proses kita melihat Kristus yang sudah mengalahkan
 penderitaan yang lebih berat itu adalah Kristus yang mau mengerti segala 
pergumulan, masalah dan penderitaan kita. Sehingga ini menjadi kekuatan bagi 
kita untuk menjalani hidup kita. Tiap kita punya respons yang berbeda dalam 
menghadapi masalah dan penderitaan. Ada orang yang kelihatannya begitu fragile 
dan rentan tetapi pada waktu dia menghadapi penderitaan, kekuatan dari Tuhan 
begitu nyata membawanya melewati semua itu. Kita mungkin merasa kalau kita yang 
mengalami, mungkin kita tidak akan sekuat dia, tetapi kekuatan dari Tuhan 
melampaui perhitungan kita. Persekutuan di dalam penderitaan Kristus inilah 
yang memimpin banyak orang Kristen melewati pergumulan dan penderitaan yang 
begitu besar sampai akhirnya melewatinya. Kalau kita membaca kisah dan 
pengalaman orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di negara-negara 
komunis, orang-orang yang melewati kesulitan yang tidak habis-habisnya di dalam 
sakit dan penderitaan, pada waktu mereka melewatinya itu semua menjadi
 pengalaman bahwa Tuhan begitu nyata dan begitu indah menguatkan 
langkah-langkah mereka. Di dalam hidup manusia, di dalam berespons terhadap 
masalah yang ia hadapi begitu melihat penderitaan Kristus menjadi kekuatan bagi 
mereka bahwa Tuhan bukan saja turut merasakan penderitaan itu tetapi Dia juga 
menguatkan orang percaya di tengah penderitaan mereka. 
   
  Biarlah fokus dari spiritual resolution kita bukan hanya sekedar mencapai 
hal-hal ekstrinsik saja tetapi kita ingin lebih tahu akan Kristus, kita ingin 
mengalami iman yang nyata dengan Dia, walaupun itu harus dilalui dengan 
kesulitan tetapi nilainya jauh lebih besar dibanding dengan kelancaran yang 
kita alami tanpa Tuhan. Paulus mengatakan itu sebab aku melupakan apa yang di 
belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. Berapa banyak 
hidup kita dilumpuhkan dengan masa lalu kita, penyesalan kita, kegagalan yang 
membuat kita akhirnya membuat kita tidak berani untuk melangkah ke depan. 
Hal-hal yang membuat kita terus merasa guilty, hal-hal yang membuat kita tidak 
bisa lagi melihat di depan ada kesempatan untuk bisa memperbaharui hidup kita. 
Apa yang sudah kita raih di masa lalu juga bisa melumpuhkan kita untuk 
menghasilkan yang lebih baik lagi di masa depan. Biar kita boleh melepaskan apa 
yang di belakang kita dan mengarahkan diri kepada hal-hal di depan.
 Kita melihat hal-hal praktis di hadapan kita. Begitu banyak 
kesempatan-kesempatan di masa lalu terbuang begitu saja, biarlah tahun ini kita 
memiliki komitmen untuk resolusi dan memperoleh pembaharuan yang nyata, 
sehingga hidup kita lebih indah di hadapan Tuhan.
   
   
  Sumber: 
  Ringkasan khotbah tanggal 2 Januari 2005 (www.griisydney.org)


"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him" 
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)




       
---------------------------------
  Nama baru untuk Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke