Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl 
22 Juni 2008
   
  RAHASIA HIDUP BERKEMENANGAN-2
   
  oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
  (gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari 
Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)
   
   
   
  Nats: 2Kor. 4:1-2,7-12; 2Kor. 1:8
   
   
  Dalam 2Kor. 4:16 Paulus mengulang sekali lagi kalimat yang sama yang dia 
pakai di pasal 1:4 “Kami tidak tawar hati,” We never lose heart. We have a good 
courage. Itulah hidup dari Paulus, satu hidup yang berkemenangan. Mengamati 
anak kecil berespons kepada penderitaan yang dia alami, dan mengamati anak 
kecil berespons kepada sukacita yang dia alami sangat unik sekali. Seorang anak 
waktu jari tangannya luka sampai keluar darah, dia akan menangis luar biasa. 
Tetapi setelah diberi band-aid, langsung tangisnya berhenti dan dia melanjutkan 
bermain lagi. Tetapi kalau kemudian ada orang bertanya, “Adduh… kenapa jarinya, 
sakit ya?” Dia akan teringat lalu menangis keras-keras lagi.
  Anak kecil berespons kepada penderitaannya dengan exaggerate, 
membesar-besarkan daripada yang sebenarnya. Tetapi hal yang sama juga terjadi 
kepada anak kecil waktu dia berespons kepada hal yang menyenangkan. Waktu dia 
mendapat hadiah dia akan berespons dengan sangat senang, padahal mungkin hadiah 
itu murah harganya.
   
  Tetapi pengalaman mengajarkan kita, begitu kita dewasa, kita sedikit kurang 
jujur di dalam bereaksi terhadap sesuatu. Kadang menghadapi kesulitan 
penderitaan, kita berespons secara exaggerate, sebaliknya waktu mendapat 
‘kangtao’ yang banyak, kita diam-diam saja, tidak mau mengakuinya dengan 
terbuka.
   
  Di dalam dunia medis, ada satu sebutan “hypochondria” untuk satu kondisi, ada 
orang yang sebenarnya tidak ada penyakit di dalam tubuhnya, tetapi dia selalu 
merasa sakit dan lemah. Setiap kali ke dokter, dokter tidak menemukan kelainan 
apa-apa padanya. Inilah penyakit yang selalu menciptakan perasaan melampaui 
realitanya. Tetapi di dalam realita hidup kita juga bisa mengalami kesulitan 
dan problema secara spiritual dan kita bisa terjebak jatuh kepada hypochondria 
yang sama. Perasaan yang muncul melebihi dari keadaan yang sebenarnya. Ini 
adalah gejala yang menarik sekali.
   
  Minggu lalu saya berkhotbah mengenai apa yang menyebabkan Paulus mengalami 
satu hidup yang berkemenangan. Saya mengangkat satu bagian yang sangat menarik 
di mana Paulus mengatakan dia ditindas tetapi tidak terjepit, dianiaya tetapi 
tidak ditinggalkan, dihempas tetapi tidak binasa. Knock downed but not knock 
out.
   
  Salah satu prinsip penting yang membuat Paulus mengalami hidup berkemenangan 
sebab dia tahu pasti ada jalan keluar bagi segala hal yang orang rasa tidak ada 
pengharapan. Tetapi saya kembali merenungkan pernyataannya di pasal 4:8 ini 
bagaimana dia dengan peka dan teliti memisahkan mana problemanya yang real dan 
mana yang perasaan yang bisa melebihi realita yang sebenarnya. Ini menjadi 
salah satu kunci kemenangan di dalam hidup rasul Paulus. Berani belajar dengan 
peka menjadi orang Kristen yang memiliki hidup berkemenangan dengan mendapatkan 
kunci ini. Tidak berarti Paulus hidupnya lancar dan terus-menerus mengalami 
kemenangan. Tetapi dia tahu perbedaannya, mana kesulitan dan tantangan yang 
real terjadi dan mana perasaan yang mungkin bisa muncul di baliknya. Itu yang 
sering terjadi, pada waktu kita ditindas oleh tantangan kesulitan kita bisa 
merasa tidak punya jalan keluar. Kita mengalami habis harta dan kita merasa 
hidup ini selesai dan tidak punya pengharapan lagi. Maka
 saya selalu mengatakan Tuhan memberi pencobaan yang tidak akan melampaui 
kekuatan kita tetapi mungkin melebihi perasaan kita. Perasaan yang selalu 
melebih-lebihkan sesuatu. Kita tidak akan pernah bisa bertumbuh kalau kita 
akhirnya lebih banyak menjadikan perasaan itu sebagai hal yang paling utama dan 
lebih dominan di dalam hidup kita. Banyak orang Kristen bisa ditimpa spiritual 
hypochondria seperti itu. Maka kunci pertama hidup Paulus yang berkemenangan 
ada di dalam kata ini: “but not.” Kita boleh gagal ‘but not’ kehilangan 
pengharapan. Kita boleh sakit ‘but not’ mengalami putus asa.
   
  James Montgomery Boice, seorang hamba Tuhan yang meninggal pada tahun 2000, 
setahun sebelumnya didiagnosa menderita kanker liver dan hidupnya hanya tersisa 
3 bulan lagi. Tetapi justru di dalam masa-masa yang singkat itu dia menjalani 
satu pelayanan yang menjadi berkat bagi orang. Dia minta kepada Tuhan di 
masa-masa yang sulit biarlah dia mengalami hidup yang berkelimpahan, bukan saja 
dia melayani lebih giat, menulis buku lebih banyak, dan di masa yang sangat 
singkat itu dia menulis begitu banyak puisi yang sekarang dipersiapkan menjadi 
lagu-lagu yang indah oleh gerejanya. Ini yang Paulus katakan kepada kita, kita 
tidak akan bisa mencapai situasi seperti itu kalau perasaan kita lebih dominan 
menguasai hidup kita. Boleh dianiaya ‘but not’ putus asa, boleh sakit ‘but not’ 
kehilangan pengharapan, boleh habis akal ‘but not’ frustrasi. Ambil sikap ini, 
menghadapi sesuatu yang sulit, taruh dengan jelas pikiran ini, this is a real 
problem and let not my feeling yang
 menguasai aku sehingga tidak melihat ada hal yang indah di situ.
   
  Yang kedua, bukan soal feeling saja, dalam bagian ini kita bisa melihat 
Paulus bicara mengenai hal lain. Di ayat 15 Paulus menyatakan satu kalimat yang 
makin saya baca dan renungkan, makin saya menemukan satu keindahan yang 
kadang-kadang kita sebagai orang Kristen dan bahkan hamba Tuhanpun tidak 
melihatnya. Bukan saja pada waktu menghadapi kesulitan tantangan itu kita 
menaruh sikap proporsional dan benar, tetapi keluar satu terobosan yang paling 
penting. Berapa banyak orang pada waktu menghadapi penderitaan kesulitan atau 
disakiti, justru ingin membuat situasi semakin destruktif supaya dia merasa 
lebih enak? Jujur kita mengatakan hal ini sering terjadi bahkan di antara orang 
Kristen dan hamba-hamba Tuhan. Paulus mengingatkan hal yang sebaliknya. Pada 
waktu gagal dia tidak menaruh feeling menguasai dirinya sehingga penderitaannya 
semakin terasa berat. Bahkan doa Paulus, penderitaan yang menimpa hidupnya itu 
demi untuk supaya orang Kristen mendapat berkat. Hidup kemenangan
 Paulus ditandai dengan kunci ini yaitu pikiran dia selalu melihat melalui 
kesulitan yang terjadi kepadanya sudah bisa mendatangkan manfaat dan perubahan 
drastik dalam hidup orang lain, itu sudah menjadi keindahan baginya walaupun 
mungkin dia sendiri tidak mendapat jalan keluar yang dia harapkan. Ini tidak 
gampang.
   
  Tetapi jiwa itu hanya bisa ada di dalam jiwa seorang mama. Kadang-kadang 
melihat anak sudah remaja bersikap kurang ajar, hati seorang mama begitu 
terluka. Tetapi seorang mama akan selalu mengatakan kalimat ini, “Tidak perlu 
bayar apa-apa untuk membalas budi mama, asal engkau bisa jadi dan berhasil, itu 
sudah menjadi kebahagiaan yang cukup bagiku.” Itu hati seorang mama. Dan itu 
yang Paulus katakan di sini. Kalaupun sampai kematian datang kepadanya, tidak 
apa-apa. Karena dia bisa melihat hidup itu terjadi di dalam hidup orang, itu 
sudah memuaskan hatinya. Itu hidup berkemenangan yang tidak mudah, sebab 
seringkali kita jujur menginginkan segala jerih payah dan usaha kita itu 
dibarengi dengan respek dan penghargaan yang sama diberikan orang kepada kita. 
Tetapi kadang-kadang kita harus mengakui jikalau ekspektasi seperti itu yang 
kita harapkan di dalam hidup kita, gampang sekali kita akan kecewa dan down. 
Maka mari kita belajar mengambil sisi yang lebih indah yang Paulus
 katakan di sini, “tidak apa aku rugi, kalau melalui ini ada orang-orang 
bertumbuh di dalamnya itu adalah harta rohani yang tidak bisa diganti dengan 
apapun.” Saudara berjerih payah, memberikan waktu, tenaga, dan pelayanan, waktu 
melihat ada orang yang berubah dan bertumbuh, itu sudah memuaskan kita. Saudara 
memberi waktu menemani teman yang sedang berada di dalam kesulitan dan akhirnya 
dia bertumbuh dan berubah menjadi orang Kristen yang baik, itu sudah jauh lebih 
indah daripada hal lain walaupun mungkin dia tidak pernah memberikan ucapan 
terima kasih yang sepatutnya kepadamu. Paulus mengatakan di ayat 15, dia 
mengucap syukur karena dia melihat banyak orang yang menjadi percaya Tuhan, itu 
sudah membuat hatinya lega dan bersyukur walaupun karena pelayanan ini dia 
mengalami penderitaan yang real, karena pelayanan ini orang-orang sudah 
memfitnah dan menuduh dia, itu tidak pernah membuatnya tawar hati. Faktor dari 
dalam, feeling bisa lebih dominant menguasai, tetapi dia
 tidak menjadi tawar hati. Tekanan dari luar bisa menyebabkan dia kecewa, 
tetapi dia tidak menjadi tawar hati. Dua kali keluar kata itu dari Paulus. Yang 
ketiga, hal yang lebih tidak gampang lagi, di ayat 13, ini menjadi kunci 
kemenangan Paulus, “…aku percaya, sebab itu aku berkata-kata.” I believe that’s 
why I speak. Di pasal 5:7 “hidup ini adalah hidup karena percaya, bukan karena 
melihat.” Bagaimana menjadikan iman, pengharapan yang tidak kelihatan itu 
menjadi kunci kekuatan yang menopang hidup kita. Bukankah pengalaman dan hasil 
selalu menjadi bukti bagi orang untuk membuat dia lebih maju? Tetapi Paulus 
mengatakan bukan karena melihat, bukan karena membuktikan, tetapi karena dia 
memiliki iman, itu sebab dia berkata-kata. Dia berani menerima dan menjalani 
pelayanan ini karena dia percaya, because of believe.
   
  Believe memang bukan hal yang gampang dimengerti dan banyak orang di luar 
Kekristenan juga mengatakan soal believe sebagai satu kekuatan yang ada di 
dalam hati kita.
   
  Saya rasa konsep believe ini yang mau diangkat oleh film “Kungfu Panda” 
menjadi salah satu kualitas hidup yang penting. Papa dari si Panda, penjual 
bakmi yang laris dan terkenal punya bumbu rahasia,mengatakan, ”I want to tell 
you my secret ingredient, there is no secret.” Artinya orang berpikir bakminya 
enak karena ada bumbu rahasia, padahal tidak ada rahasia apa-apa. Maka inti 
dari film ini, if you believe in yourself, everything is possible. Seekor panda 
yang awkward bisa menjadi pesilat kungfu yang jago. Itu sebab orang yang punya 
jimat memiliki believe seperti ini. Dia pikir jimatnya yang membuat dia jadi 
hebat. Berarti believe menjadi satu ingredient yang penting di dalam hidup ini. 
Ada orang mampu, ada orang sanggup, ada orang berkualitas, tetapi mengapa dia 
tidak berhasil dan kemampuannya tidak mendatangkan suatu manfaat yang besar di 
dalam hidupnya? Intinya sekali lagi karena dia tidak punya believe terhadap 
dirinya bahwa dia bisa dan mampu. Itu sebab dia
 tidak berhasil. Tetapi tidak mudah juga membedakan ‘believe in yourself’ ini 
dengan ‘unrealistic expectation.’
   
  Paulus mengatakan, perjalanan hidup saya ke depan adalah bukan karena saya 
telah melihat bukti, tetapi karena aku percaya. Tidak ada yang bisa menggeser 
determinasi itu dariku, keinginanku untuk mengerjakan sesuatu walaupun penuh 
dengan tantangan dan kesulitan, because I believe, di depan pasti lebih baik 
daripada sebelumnya. Ini point yang penting, saya memang tidak melihat apa yang 
di depan, saya belum tahu apa hasil di depan, tetapi sebagai orang Kristen saya 
percaya berdasarkan apa yang telah terjadi di belakang. Itu yang Paulus katakan 
di ayat 14, karena aku tahu Yesus Kristus sudah bangkit, maka kuasa kebangkitan 
ada di dalam diriku. Walaupun aku tidak melihat, aku percaya. Itu yang membuat 
Paulus hidup berkemenangan yaitu hidup “in between.” Maksudnya apa? Maksudnya 
ialah bisakah sukacita janji surgawi, hal yang amat indah yang nanti Tuhan akan 
berikan di sana menjadi drive yang luar biasa di dalam hidup kita sekarang di 
dunia ini?
   
  Millard Erickson mengatakan, kesalahan sebagian orang Kristen bicara mengenai 
akhir zaman ialah “Eskatamania” yaitu orang yang maniak akhir zaman. Baru ada 
sedikit gejolak di Timur Tengah, langsung keluar isu Yesus mau datang. Harga 
bensin naik lagi, Yesus mau datang. Itu yang terjadi dengan jemaat Tesalonika. 
Segala-gala langsung dikaitkan dengan kedatangan Yesus. Sampai ada orang yang 
berhenti dari pekerjaannya dan setiap hari ketuk-ketuk rumah orang mengingatkan 
Yesus mau datang. Akhirnya Paulus dengan keras menegur mereka, yang tidak kerja 
jangan makan! Tetapi yang disebut dengan “in between” di ayat 16-18, “Sebab itu 
kami tidak tawar hati meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot namun 
manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke sehari. Sebab penderitaan ringan 
yang sekarang ini mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, 
jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang 
kelihatan melainkan yang tidak
 kelihatan…” Hidup “in between” dengan perspektif yang benar membuat hidup kita 
menjadi hidup berkemenangan. Tubuh fisik kita pada waktu tertentu akan berhenti 
bertumbuh dan akan terus turun. Itu realita yang tidak mungkin bisa kita tolak. 
Tetapi mari kita memiliki hidup yang terus bertumbuh, karena ada satu bagian 
dari hidup kita yang tidak akan berhenti tumbuh yaitu spiritualitas jiwa kita.
   
  Dietrich Bonhoeffer, seorang hamba Tuhan yang ditangkap oleh Nazi dan 
ditembak mati pada usia muda, di dalam penjara mengatakan, “Saya mengalami 
depresi dan perasaan yang kecewa luar biasa. Tidak ada hal yang bisa saya 
kerjakan. Sampai saya menyadari pengharapan di dalam Kristus, itu yang membuat 
saya kembali dengan perspektif yang sama sekali baru.” Let me grow old, but let 
me lovely growing old. Satu kalimat yang bagus sekali. Let me grow old, but let 
me abundantly growing old. Let me grow old, but let me thankfully growing old. 
Growing in my soul. Kalau hidup Kekristenan kita semakin ditekan oleh kesulitan 
semakin membuat kita ciut dan tidak mendatangkan berkat bagi orang, itu berarti 
ada yang salah di dalam hidup kita. Saya berpikir dalam dan lama sekali akan 
bagian ini, saya menemukan kaitannya dengan perspektif ke atas.
   
  Selalu hidup dengan spirit “but not”, jangan membuat feeling menguasai hati 
melampaui realita yang sebenarnya. Yang kedua, kita bisa memiliki hidup yang 
berkemenangan dengan keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik, berbuat baik 
kepada orang, melayani dengan baik meskipun tidak mendapat respons yang saya 
harapkan itu tidak menajdi persoalan. Biarlah kesulitan saya, penderitaan saya 
menjadi berkat dan hidup untuk orang lain.
   
  Yang ketiga, perspektif surgawi mempengaruhi hidupnya sekarang. Karena nanti 
sampai di sana tidak ada satu orang Kristen yang bisa berbangga di hadapan 
Tuhan bahwa dia lebih menderita daripada yang lain. Karena Paulus mengatakan 
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang, penderitaanku yang sekarang 
tidak ada apa-apanya. Saudara boleh menjadi tua, boleh makin lemah tubuh, 
tetapi jangan kehilangan kemudaan di dalam spiritual dan rohani kita di hadapan 
Tuhan. Itulah hidup yang berkemenangan.
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/06/22/rahasia-hidup-berkemenangan-2/


"God is most glorified in us when we are most satisfied in Him" 
(Rev. John Stephen Piper, D.Theol.)




       
---------------------------------
  Nama baru untuk Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

Kirim email ke