From: rm_maryo "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." (Yer 26:11-16.24; Mat 14:1-12)
"Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjara kannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus."(Mat 14:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Yesus semakin populer dan dikasihi oleh banyak orang/rakyat, maka secara sosio-politis hal ini kiranya menjadi ancaman bagi penguasa yang gila akan kedudukan/jabatan, pangkat, kehormatan maupun harta benda seperti Herodes. Ketika Herodes mendengar perihal Yesus ia berkata kepada pegawai-pergawainya :"Inilah Yohanes Pembaptis;ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalamNya". Herodes telah membunuh Yohanes Pembaptis karena `jaga gengsi', tidak sedia dirinya dipermalukan di muka umum, meskipun dirinya salah bicara. Maka sebenarnya ia senang dengan Yohanes Pembaptis, namun karena kurang hati-hati dalam berbicara atau berjanji, ia terpaksa menghabisi yang disenangi. Pengalaman Herodes ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi para orangtua, petinggi atau atasan dan pemimpin: hendaknya dengan bijak dan hati-hati dalam menyampaikan janji-janji, tidak hanya mengikuti selera pribadi sesaat. Para orangtua hendaknya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak jelas dan tak mungkin dapat dilaksanakan pada anak-anaknya, sebagaimana dikatakan oleh Herodes kepada anak perempuan Herodias "Apapun yang kau minta kepadaku akan kuberikan kepadamu", demikian pula para pemimpin, atasan atau petinggi masyarakat, bangsa dan Negara. Kepada para tokoh politik, yang kiranya sudah mulai berkampanye untuk pemilu 2009, hendaknya juga tidak berjanji yang muluk-muluk kepada rakyat, demikian pula para calon kepala daerah. Ingatlah dan sadarilah bahwa rakyat pada saat ini sudah luntur kepercayaannya pada para elite politik, yang begitu pandai berbicara namun tak pernah menghayati apa yang dibicarakan atau dikatakan. . "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Tuhan kita." (Yer 26:16), demikian kata para pemuka dan seluruh rakyat tentang Yeremia, setelah mereka mendengarkan kesaksian Yeremia "ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Para pemuka rakyat yang baik dan rakyat pada umumnya lebih jujur, terbuka hati, jiwa dan akal budinya daripada para penguasa atau pemimpin. "Vox populi, vox Dei"= "Suara rakyat, suara Tuhan", demikian kata pepatah bahasa Latin. Maka baiklah jika kita mengaku diri sebagai orang beriman, marilah kita dengarkan dengan rendah hati `suara rakyat', dambaan, kerinduan dan harapan rakyat. "Gereja mendengarkan", demikian seruan Sidang Umat Katolik tahun 2000, suatu ajakan agar para pemimpin Gereja mendengarkan dambaan, kerinduan dan harapan umat Tuhan. Menjadi pemimpin yang baik pada masa kini berarti menghayati kepemimpinan partisipatif, mendengarkan dan menanggapi dambaan, kerinduan dan harapan yang dipimpin. Maka juga menghayati atau memfungsikan kepemimpinan dengan semangat melayani, sebagaimana juga dihayati oleh Yesus, yang datang untuk melayani bukan dilayani. Untuk itu pemimpin hendaknya sering `turba', turun ke bawah untuk mendengarkan, menyapa mereka yang dipimpin. Jauhkan semangat atau mental dictator, yang gila akan kuasa, jabatan, pangkat, kedudukan atau kehormatan duniawi. "Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Tuhan, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Tuhan dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Tuhan, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan" (Mzm 69:30-31.33-34) Jakarta, 2 Agustus 2008 ================================================ From: rm_maryo PANTI ASUHAN `MEKAR LESTARI' (Partisipasi dalam `Gerakan Sayang Kehidupan'/'Pro Life Movement') "Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan" "Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan"(Rm 14:8), demikian kesaksian atau peringatan Paulus kepada umat di Roma. Apa yang dikatakan Paulus ini hemat saya juga harus menjadi keyakinan dan penghayatan bagi siapapun yang menyadari dan menghayati diri sebagai orang beriman. Kiranya tidak ada orang atau manusia di dunia ini menghendaki keberadaan dirinya, karena masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan kerjasama dengan orangtua/ bapak-ibu kita yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Persetubuhan atau hubungan seks antar suami-isteri, orangtua kita, laki-laki dan perempuan merupakan perwujudan atau konkretisasi hidup saling mengasihi dan ada kemungkinan berbuah kasih, yaitu anak manusia, antara lain kita semua. Janin atau embriyo yang tumbuh dan berkembang dalam rahim seorang perempuan atau ibu adalah `buah kasih', maka juga sering disebut `yang terkasih'. Bapak-ibu/orangtua kita, suami-isteri menghayati atau melaksankan perintah Tuhan: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej 1:28) Masing-masing dari kita adalah `yang terkasih' dan dapat hidup, tumbuh dan berkembang seperti apa adanya saat ini hanya karena dan oleh kasih. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Tuhan; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Tuhan dan mengenal Tuhan. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Tuhan kepada kita. Tuhan adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia."(1Yoh 4:7.16). Hidup saling mengasihi berarti `lahir dari Tuhan dan mengenal Tuhan', Tuhan Pencipta, yang terus menerus berkarya menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan pada semua ciptaanNya, antara lain manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Setiap manusia adalah `gambar dan citra Tuhan', percaya pada dan mengasihi sesama manusia berarti mengasihi Tuhan, beriman kuat, teguh dan mendalam. Rasanya dalam diri anak kecil/bayi yang baru saja dilahirkan, yang masih suci, kita akan lebih mudah melihat dan mengimani bahwa manusia adalah `gambar atau citra Tuhan'. Dengan kata lain mengasihi Tuhan antara lain mengasihi bayi yang tumbuh berkembang dalam rahim perempuan/ibu dan yang dilahirkan dalam derita yang dijiwai oleh kasih. Tidak mengasihi bayi atau anak yang baru saja dilahirkan atau sedang tumbuh berkembang dalam rahim berarti tidak mengasihi Tuhan, mengingkari diri dan hidup berasal dari Tuhan dan sebagai anugerah Tuhan. Itulah yang terjadi atau dihayati oleh mereka yang melakukan aborsi maupun yang berpartisipasi untuk melakukan aborsi. "Pada kenyataannya yang terdalam, cintakasih pada hakekatnya ialah anugerah. Cintakasih suami-isteri, sementara mengantar mereka kepada `pengertian' timbal-balik yang menjadikan mereka `satu daging', tidak berakhir pada pasangan sendiri, sebab menjadikan mereka mampu menyambut kurnia yang seagung mungkin: anugerah, yang menjadikan mereka rekan-rekan kerja Tuhan, untuk menyalurkan kehidupan kepada manusia baru. Begitulah pasangan, sementara saling menyerahkan diri, bukan hanya memberikan diri sendiri, melainkan juga kenyataan anak-anak, yang merupakan cerminan hidup cintakasih mereka, suatu tanda tetap persatuan suami-isteri, dan suatu sintese hidup dan tak terceraikan kenyataan mereka sebagai ayah dan ibu" (Paus Yohanes Paulus II: Familiaris Consortio, Anjuran Apostolik, 22 November 1981 no 14) Aborsi atau pengguguran kandungan berarti melawan Tuhan dan mengingkari kasih. Jumlah aborsi di Indonesia sungguh mencekam dan memprihatinkan: 2,5 juta per tahun, berarti kurang lebih 7(tujuh) per hari (lihat kutipan dibawah ini). Jumlah ini katanya dua kaliu lipat dari jumlah aborsi yang terjadi di Amerika Serikat, dan kiranya juga melebihi jumlah korban perang maupun kecelakaan-kecelakaan serta bencana alam yang terjadi. Maka tidak mengherankan bahwa kemerosotan moral terjadi hampir di semua bidang, dalam berbagai jenjang usia, aneka jabatan, fungsi dan kedudukan. 2,5 juta aborsi haram dilakukan setiap tahun di Indonesia Monday, 25 February, 2008, 01:53 AM Doha Time "JAKARTA: Setidaknya 2,5 juta aborsi haram dilakukan setiap tahun di Indonesia, meskipun praktek aborsi dianggap melanggar hukum di negara yang mayoritas Muslim ini, demikian laporan pemerintah kemaren. Angka ini tidak termasuk aborsi tanpa bantuan medis, demikian yang dikutip wartawan Uddin dari seorang profesor di Universitas YARSI di Jakarta, untuk kantor berita Antara. Uddin menyatakan bahwa riset yang dilakukan di fasilitas2 medis menunjukkan bahwa praktek aborsi haram perlu diamati secara serius oleh pihak Pemerintah dan masyarakat. Riset yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa 20 sampai 60% aborsi di Indonesia merupakan aborsi yang sengaja dilakukan dan 50% kasus terjadi di daerah kota, demikian tambahnya.Di daerah kota, 70% kasus aborsi dilakukan diam2 oleh tenaga medis, sedang kan di daerah luar kota, 84% kasus dilakukan dukun beranak, kata Uddin. Kebanyakan para wanita yang melakukan aborsi berusia sekitar 20-29 tahun, katanya. Alasan aborsi antara lain adalah hamil gara2 diperkosa, deteksi cacat genetik pada janin bayi, dan keadaan sosial ekonomi". (dari: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/) Jika orang tega membunuh atau menyingkirkan janin atau bayi yang suci dan sangat lemah tersebut, maka saya yakin bahwa yang bersangkutan setiap kali menghadapi kesulitan atau tantangan dan hambatan alias apa yang tidak sesuai dengan keinginan atau selera pribadi, yang bersangkutan dengan mudah marah-marah, membenci dan memusuhi, bahkan meng-habisi. Yang bersangkutan lebih dijiwai atau dihidupi oleh roh jahat/setan daripada roh baik/Roh Kudus, yang membuahkan tindakan atau perilaku antara lain:"percabulan, kecemaran, hawa nafsu,: penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya"(Gal 5:19-21) Gerakan Sayang Kehidupan/'Pro Life movement' = partisipasi dalam Penyelenggaraan Ilahi, Tuhan yang mengasihi. Hidup sebagai anugerah atau kado dari Tuhan harus kita syukuri dan kasihi. Dengan kata lain kita harus hidup dijiwai oleh roh baik/Roh Kudus yang membuahkan perilaku atau keutamaan -keutamaan "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23) . Karena masing-masing dari kita adalah yang terkasih atau kasih, yang diciptakan, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh keutamaan-keutamaan tersebut, maka setiap kali terjadi perjumpaan antar manusia berarti perjumpaan kasih, sehingga otomatis saling mengasihi, apalagi manusia yang masih suci murni seperi bayi yang baru saja dilahirkan atau masih tumbuh berkembang dalam rahim ibu/perempuan. Yayasan Rumpun Lestari yang menaungi atau menjadi pelindung `Panti Asuhan Mekar Lestari' merupakan bagian kecil dari Gerakan Sayang Kehidupan. Sesuai dengan `nama' yang dikenakannya, yaitu `lestari' yang antara lain berarti abadi, maka Yayasan dan Panti Asuhan memiliki visi-misi untuk menjadi `rumpun atau rumah hidup (abadi) yang terus mekar atau tumbuh berkembang. Secara phisik kiranya yayasan dan panti asuhan lahir dari kerinduan dan harapan untuk mengabadikan dan menumbuh-kembangkan hidup sebagai anugerah Tuhan, mulai apa adanya dan saat ini telah memiliki gedung dan sarana-prasarana layak berkat atau karena kasih dari mereka yang tergerak untuk berpartisipasi mengabadikan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan. "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."(Fil 1:6). Seruan Paulus kepada umat di Filipi ini kiranya layak dikenakan dan dihayati oleh para pengurus, pengelola maupun pemerhati Gerakan Sayang Kehidupan, antara lain Yayasan Rumpun Lestari dan Panti Asuhan Mekar Lestari. Percayalah bahwa Tuhan yang telah memulai karya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini akan membekali atau menganugerahi apa dibutuhkan oleh anak-anak atau bayi yang diserahkan kepada kita, yayasan atau panti asuhan. Percayalah bahwa di dunia ini, di kota metropolitan Jakarta ini lebih banyak orang baik daripada orang jahat, lebih banyak orang yang dijiwai oleh Roh Kudus daripada setan. Sapaan atau seruan Paulus kepada umat di Filipi tersebut kiranya juga dikenakan bagi siapapun yang mengakui diri sebagai orang beriman. Sadari dan hayati bahwa aneka macam apa yang baik dalam diri kita maupun kita miliki dan kuasai merupakan karya atau anugerah Tuhan. Perkembangan dan pertumbuhan pribadi kita merupakan karya Tuhan, dan Ia akan terus menerus berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini sampai kita mati atau dipanggil Tuhan. Anugerah Tuhan bagi kita, entah hidup, kekayaan, ketrampilan, kecerdasan, ketampanan atau kecantikan, pangkat, kedudukan atau jabatan dst.,dianugerahkan kepada kita agar kita semakin manusia dan mempersembahkan diri kepada Yang Ilahi. "Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan" (St.Ignatius Loyola, LR no 23) Marilah pujian, hormat dan pengabdian atau pelayanan kita kepada Tuhan kita wujudkan atau konkretkan dalam pujian, hormat dan pengabdian atau pelayanan pada sesama manusia, lebih-lebih pada anak-anak. "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."(Luk 9:48). Marilah kita sambut anak-anak, antara lain anak atau bayi yang dititipkan, diasuh dan dilayani oleh Panti Asuhan Mekar Lestari, yang kecil ini. Karena anak-anak atau bayi , `yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar', maka selayaknya kita sambut anak-anak dan bayi-bayi sebagaimana kita menyambut orang penting, terkenal atau terbesar dalam hidup bersama di masyarakat, bangsa atau Negara. Kita kasihi mereka dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap tubuh/harta benda/uang alias dengan kasih sepenuhnya. Hidup mengasihi harus berani `boros waktu dan tenaga/harta benda/uang' bagi yang dikasihi. Boroskan waktu dan tenaga atau harta benda/uang bagi anak-anak, dan jangan lupa pada anak-anak yang kurang kasih sayang ataupun perhatian seperti mereka yang miskin dan berkekurangan atau yang tinggal dan dititipkan untuk sementara di panti asuhan, antara lain `Panti Asuhan Mekar Lestari' . Jakarta, 31 Juli 2008 Ign.Sumarya SJ /Pembina dan Moderator Yayasan Rumpun Lestari (catatan di atas disampaikan dalam rangka acara "Charity Day", Sabtu, 2 Juli 2008 Catatan: Data bayi dan anak yang berada dan pernah diasuh di Panti Asuhan Mekar lestari: - 80 anak telah berhasil kembali ke orangtua/keluarganya - 80 anak saat ini masih dalam asuhan Panti Asuhan dengan rincian: 1) 40 anak berusia 3 hari s/d 1 tahun 2) 20 anak berusia 2 s/d 3 tahun 3) 20 anak berusia 4 s/d 5 tahun ( 10 anak yatim piatu, 20 anak masih dikunjungi oleh ibu kandungnya, 50 anak masih belum terlacak keluarganya) Alamat Panti Asuhan Mekarlestari: Commercial III Blok B1 no 1-1A Bumi Serpong Damai, Tangerang 15330 Tilp 021 5315 3088 , Fax 021 5315 3089 Partiipasi kasih anda dapat disalurkan melalui: Biaya operasional: Yayasan Rumpun Lestari BCA Cab Kebayoran Lama, Acc 248 300 5008 Biaya pendidikan: Yayasan Rumpun Lestari BCA Cab Kebayoran Lama, Acc 248 301 5003 ==================================================== From: rm_maryo "Mereka semuanya makan sampai kenyang" (Yer 28:1-17; Mat 14:13-21) "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak" (Mat 14:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Maria Vianney, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . Yahanes Maria Vianney dikenal sebagai yang kurang cerdas otaknya (kalau tidak boleh dikatakan bodoh), tetapi cerdas hati dan jiwanya. Ia adalah seorang pastor desa , yang termashyur pelayanannya dalam hal pengakuan dosa. Selama kurang lebih selama 40 tahun ia tngggal di paroki terpencil di Perancis, dengan peluh belas kasih dan tanpa kenal lelah melayani umat, khususnya dalam pengakuan dosa. Ia dapat duduk di kamar pengakuan lebih dari 12 jam sehari untuk menerima umat yang ingin mengaku dosa. Rasanya Yohanes Maria Vianney sungguh meneladan Yesus, yang hatiNya tergerak oleh belas kasihan, dan secara khusus menyalurkan belas kasih Tuhan kepada mereka yang berdosa. Maka baiklah kita mawas diri antara lain dengan cermin Yohanes Maria Vianney, berbelas kasih atau menyalurkan belas kasih Tuhan kepada saudara-saudari kita yang berdosa atau menyalahi dan menyakiti kita, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami :"Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami". Biarlah mereka yang haus atau lapar akan belas kasih Tuhan menjadi kenyang akan belas kasih Tuhan dan kemudian juga menyalurkannya kepada saudara-saudarinya. Tentu saja belas kasih Tuhan ini pertama-tama atau terutama kita teruskan kepada mereka yang dekat dengan kita, yang hidup dan bekerja bersama kita setiap hari, entah dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja/kantor. Ingat dan hayati juga bahwa masing-masing dari kita adalah orang yang lemah, rapuh dan berdosa, maka meneruskan belas kasih Tuhan berarti kita saling berbelas kasih . "Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta. Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN."(Yer 28:15-16) , demikian kata nabi Yeremia kepada nabi Hananya. Nabi adalah pembawa kebenaran, maka pada umumnya apa yang dikatakan oleh seorang nabi senantiasa dipercaya oleh orang lain atau siapapun yang menerima pemberitaannya. Namun ketika nabi berdusta yang berarti mendustai atau mengelabui Roh Kudus, berdosa terhadap Roh Kudus ia tidak dapat diampuni. Senada dengan peran nabi antara lain guru, orangtua, pemimpin dst.., yang pada umumnya apa yang mereka ajarkan atau katakan senantiasa diterima dan ditaati oleh para pendengar mereka. Maka hendaknya bijak dan benar serta tidak berdusta dalam berkata-kata atau apa yang diajarkan. Dalam hal berdusta memang dosa mereka yang sangat menentukan atau berpengaruh pada orang lain lebih besar dosanya daripada yang mendengarkan atau rakyat biasa. Dusta atau perilaku jahat lainnya seperti bohong, menipu, manipulasi dst.. yang dilakukan para pemimpin, petinggi atau pejabat jelas harus dihukum berat daripada yang dilakukan oleh rakyat. Mereka yang menjadi nabi, pemimpin, orangtua atau guru hendaknya juga tidak takut menegor rekan-rekannya yang berdusta atau berbohong; membiarkan rekan-rekannya terus berbobong bearti menyetujui dan dengan demikian berpartisipasi dalam dusta, kebohongan atau kejahatan juga. Saling mengingatkan dan meneguhkan antar kita dimanapun dan kapanpun sangat dibutuhkan, agar kita tidak segera mati. "Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu Biarlah berbalik kepadaku orang-orang yang takut kepada-Mu, orang-orang yang tahu peringatan-peringatan-Mu" (Mzm 119: 29.43.79) Jakarta, 4 Agustus 2008

