From: rm_maryo 

"Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." (Yer 
26:11-16.24; Mat 14:1-12)

"Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja 
wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; 
ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu 
bekerja di dalam-Nya." Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, 
membelenggunya dan memenjara kannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, 
isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak 
halal engkau mengambil Herodias!" Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut 
akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang 
tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan 
menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan
memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 
Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku 
di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."
 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya 
diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes 
di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu 
diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah 
murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu 
pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus."(Mat 14:1-12), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
. Yesus semakin populer dan dikasihi oleh banyak orang/rakyat, maka secara 
sosio-politis hal ini kiranya menjadi ancaman bagi penguasa yang gila akan 
kedudukan/jabatan, pangkat, kehormatan maupun harta benda seperti Herodes. 
Ketika Herodes mendengar perihal Yesus ia berkata kepada pegawai-pergawainya 
:"Inilah Yohanes Pembaptis;ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah 
sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalamNya". 
Herodes telah membunuh Yohanes Pembaptis karena `jaga gengsi', tidak sedia 
dirinya dipermalukan di muka umum, meskipun dirinya salah bicara. Maka 
sebenarnya ia senang dengan Yohanes Pembaptis, namun karena kurang hati-hati 
dalam berbicara atau berjanji, ia terpaksa menghabisi yang disenangi. 
Pengalaman Herodes ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi para 
orangtua, petinggi atau atasan dan pemimpin: hendaknya dengan bijak dan 
hati-hati dalam menyampaikan janji-janji, tidak hanya mengikuti selera pribadi 
sesaat. Para orangtua hendaknya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak jelas dan 
tak mungkin dapat dilaksanakan pada anak-anaknya, sebagaimana dikatakan oleh 
Herodes kepada anak perempuan Herodias "Apapun yang kau minta kepadaku akan 
kuberikan kepadamu", demikian pula para pemimpin, atasan atau petinggi 
masyarakat, bangsa dan Negara. Kepada para tokoh politik, yang kiranya sudah 
mulai berkampanye untuk pemilu 2009, hendaknya juga tidak berjanji yang 
muluk-muluk kepada rakyat, demikian pula para calon kepala daerah.
Ingatlah dan sadarilah bahwa rakyat pada saat ini sudah luntur kepercayaannya 
pada para elite politik, yang begitu pandai berbicara namun tak pernah 
menghayati apa yang dibicarakan atau dikatakan. 
. "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada 
kita demi nama TUHAN, Tuhan kita." (Yer 26:16), demikian kata para pemuka dan 
seluruh rakyat tentang Yeremia, setelah mereka mendengarkan kesaksian Yeremia 
"ketahuilah sungguh-sungguh,
bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak 
bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar 
mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Para 
pemuka rakyat yang baik dan rakyat pada umumnya lebih jujur, terbuka hati, jiwa 
dan akal budinya daripada para
penguasa atau pemimpin. "Vox populi, vox Dei"= "Suara rakyat, suara Tuhan", 
demikian kata pepatah bahasa Latin. Maka baiklah jika kita mengaku diri sebagai 
orang beriman, marilah kita dengarkan dengan rendah hati `suara rakyat', 
dambaan, kerinduan dan harapan rakyat.
"Gereja mendengarkan", demikian seruan Sidang Umat Katolik tahun 2000, suatu 
ajakan agar para pemimpin Gereja mendengarkan dambaan, kerinduan dan harapan 
umat Tuhan. Menjadi pemimpin yang baik pada masa kini berarti menghayati 
kepemimpinan partisipatif, mendengarkan dan menanggapi dambaan, kerinduan dan 
harapan yang dipimpin. Maka juga
menghayati atau memfungsikan kepemimpinan dengan semangat melayani, sebagaimana 
juga dihayati oleh Yesus, yang datang untuk melayani bukan dilayani. Untuk itu 
pemimpin hendaknya sering `turba', turun ke bawah untuk mendengarkan, menyapa 
mereka yang dipimpin. Jauhkan semangat atau mental dictator, yang gila akan 
kuasa, jabatan, pangkat,
kedudukan atau kehormatan duniawi.

"Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Tuhan, kiranya 
melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Tuhan dengan nyanyian, mengagungkan 
Dia dengan nyanyian syukur Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan 
bersukacitalah; kamu yang mencari
Tuhan, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang 
miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan" (Mzm 
69:30-31.33-34) 

Jakarta, 2 Agustus 2008
================================================
From: rm_maryo 

PANTI ASUHAN `MEKAR LESTARI'
(Partisipasi dalam `Gerakan Sayang Kehidupan'/'Pro Life Movement')

"Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan"

"Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan"(Rm 14:8), demikian kesaksian 
atau peringatan Paulus kepada umat di Roma. Apa yang dikatakan Paulus ini hemat 
saya juga harus menjadi keyakinan dan penghayatan bagi siapapun yang menyadari 
dan menghayati diri sebagai
orang beriman. Kiranya tidak ada orang atau manusia di dunia ini menghendaki 
keberadaan dirinya, karena masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan 
kerjasama dengan orangtua/ bapak-ibu kita yang saling mengasihi dengan segenap 
hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Persetubuhan atau 
hubungan seks antar suami-isteri, orangtua kita, laki-laki dan perempuan 
merupakan perwujudan atau konkretisasi hidup saling mengasihi dan ada 
kemungkinan berbuah kasih, yaitu anak manusia, antara lain kita semua. Janin 
atau embriyo yang tumbuh dan berkembang dalam rahim seorang perempuan atau ibu 
adalah
`buah kasih', maka juga sering disebut `yang terkasih'.
Bapak-ibu/orangtua kita, suami-isteri menghayati atau melaksankan perintah 
Tuhan: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah 
itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas 
segala binatang yang merayap di
bumi."(Kej 1:28) 
Masing-masing dari kita adalah `yang terkasih' dan dapat hidup, tumbuh dan 
berkembang seperti apa adanya saat ini hanya karena dan oleh kasih. 
"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu 
berasal dari Tuhan; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Tuhan dan 
mengenal Tuhan. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Tuhan kepada 
kita. Tuhan adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap 
berada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia."(1Yoh 4:7.16). Hidup saling 
mengasihi berarti `lahir dari Tuhan dan mengenal Tuhan', Tuhan Pencipta, yang 
terus menerus berkarya menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan pada semua 
ciptaanNya, antara lain manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau 
citraNya.

Setiap manusia adalah `gambar dan citra Tuhan', percaya pada dan mengasihi 
sesama manusia berarti mengasihi Tuhan, beriman kuat, teguh dan mendalam. 
Rasanya dalam diri anak kecil/bayi yang baru saja dilahirkan, yang masih suci, 
kita akan lebih mudah melihat dan
mengimani bahwa manusia adalah `gambar atau citra Tuhan'. Dengan kata lain 
mengasihi Tuhan antara lain mengasihi bayi yang tumbuh berkembang dalam rahim 
perempuan/ibu dan yang dilahirkan dalam derita yang dijiwai oleh kasih. Tidak 
mengasihi bayi atau anak yang baru saja dilahirkan atau sedang tumbuh 
berkembang dalam rahim berarti tidak mengasihi Tuhan, mengingkari diri dan 
hidup berasal dari Tuhan dan sebagai anugerah Tuhan. Itulah yang terjadi atau 
dihayati oleh mereka yang melakukan aborsi maupun yang berpartisipasi untuk 
melakukan aborsi. 

"Pada kenyataannya yang terdalam, cintakasih pada hakekatnya ialah anugerah. 
Cintakasih suami-isteri, sementara mengantar mereka kepada `pengertian' 
timbal-balik yang menjadikan mereka `satu daging', tidak berakhir pada pasangan 
sendiri, sebab menjadikan mereka mampu menyambut kurnia yang seagung mungkin: 
anugerah, yang menjadikan mereka rekan-rekan kerja Tuhan, untuk menyalurkan 
kehidupan kepada manusia baru. Begitulah pasangan, sementara saling menyerahkan 
diri, bukan hanya memberikan diri sendiri, melainkan juga kenyataan anak-anak, 
yang merupakan cerminan hidup cintakasih mereka, suatu tanda tetap persatuan 
suami-isteri, dan suatu sintese hidup dan tak terceraikan kenyataan mereka 
sebagai ayah dan ibu" (Paus Yohanes Paulus II: Familiaris Consortio, Anjuran 
Apostolik, 22 November 1981 no 14) 

Aborsi atau pengguguran kandungan berarti melawan Tuhan dan mengingkari kasih.

Jumlah aborsi di Indonesia sungguh mencekam dan memprihatinkan: 2,5 juta per 
tahun, berarti kurang lebih 7(tujuh) per hari (lihat kutipan dibawah ini). 
Jumlah ini katanya dua kaliu lipat dari jumlah aborsi yang terjadi di Amerika 
Serikat, dan kiranya juga melebihi jumlah
korban perang maupun kecelakaan-kecelakaan serta bencana alam yang terjadi. 
Maka tidak mengherankan bahwa kemerosotan moral terjadi hampir di semua bidang, 
dalam berbagai jenjang usia, aneka jabatan, fungsi dan kedudukan. 

2,5 juta aborsi haram dilakukan setiap tahun di Indonesia 
Monday, 25 February, 2008, 01:53 AM Doha Time 

"JAKARTA: Setidaknya 2,5 juta aborsi haram dilakukan setiap tahun di Indonesia, 
meskipun praktek aborsi dianggap melanggar hukum di negara yang mayoritas 
Muslim ini, demikian laporan pemerintah kemaren. Angka ini tidak termasuk 
aborsi tanpa bantuan medis, demikian yang dikutip wartawan Uddin dari seorang 
profesor di Universitas YARSI di Jakarta, untuk kantor berita Antara. Uddin 
menyatakan bahwa riset yang dilakukan di fasilitas2 medis menunjukkan bahwa 
praktek aborsi haram perlu diamati secara serius oleh pihak Pemerintah dan 
masyarakat.
Riset yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa 20 sampai 60% aborsi di 
Indonesia merupakan aborsi yang sengaja dilakukan dan 50% kasus terjadi di 
daerah kota, demikian tambahnya.Di daerah kota, 70% kasus aborsi dilakukan 
diam2 oleh tenaga medis, sedang kan di daerah luar kota, 84% kasus dilakukan 
dukun beranak, kata Uddin. Kebanyakan para wanita yang melakukan aborsi berusia 
sekitar 20-29 tahun, katanya.
Alasan aborsi antara lain adalah hamil gara2 diperkosa, deteksi cacat genetik 
pada janin bayi, dan keadaan sosial ekonomi". (dari: 
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/)

Jika orang tega membunuh atau menyingkirkan janin atau bayi yang suci dan 
sangat lemah tersebut, maka saya yakin bahwa yang bersangkutan setiap kali 
menghadapi kesulitan atau tantangan dan hambatan alias apa yang tidak sesuai 
dengan keinginan atau selera pribadi, yang bersangkutan dengan mudah 
marah-marah, membenci dan memusuhi, bahkan
meng-habisi. Yang bersangkutan lebih dijiwai atau dihidupi oleh roh jahat/setan 
daripada roh baik/Roh Kudus, yang membuahkan tindakan atau perilaku antara 
lain:"percabulan, kecemaran, hawa nafsu,: penyembahan berhala, sihir, 
perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, 
percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya"(Gal 
5:19-21) 

Gerakan Sayang Kehidupan/'Pro Life movement' = partisipasi dalam 
Penyelenggaraan Ilahi, Tuhan yang mengasihi. 

Hidup sebagai anugerah atau kado dari Tuhan harus kita syukuri dan kasihi. 
Dengan kata lain kita harus hidup dijiwai oleh roh baik/Roh Kudus yang 
membuahkan perilaku atau keutamaan -keutamaan "kasih, sukacita, damai 
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, 
penguasaan diri" (Gal 5:22-23) . Karena masing-masing dari kita adalah yang 
terkasih atau kasih, yang diciptakan, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan 
dalam dan oleh keutamaan-keutamaan tersebut, maka setiap kali terjadi 
perjumpaan antar manusia berarti perjumpaan kasih, sehingga otomatis saling 
mengasihi, apalagi manusia yang masih suci murni seperi bayi yang baru saja 
dilahirkan atau masih tumbuh berkembang dalam rahim ibu/perempuan. 

Yayasan Rumpun Lestari yang menaungi atau menjadi pelindung `Panti Asuhan Mekar 
Lestari' merupakan bagian kecil dari Gerakan Sayang Kehidupan. Sesuai dengan 
`nama' yang dikenakannya, yaitu `lestari' yang antara lain berarti abadi, maka 
Yayasan dan Panti Asuhan memiliki visi-misi untuk menjadi `rumpun atau rumah 
hidup (abadi) yang terus mekar atau tumbuh berkembang. Secara phisik kiranya 
yayasan dan panti asuhan lahir dari kerinduan dan harapan untuk mengabadikan 
dan menumbuh-kembangkan hidup sebagai anugerah Tuhan, mulai apa adanya dan saat 
ini telah memiliki gedung dan sarana-prasarana layak berkat atau karena kasih 
dari mereka yang tergerak untuk berpartisipasi mengabadikan hidup yang 
dianugerahkan oleh Tuhan. 

"Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai 
pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."(Fil 1:6).
Seruan Paulus kepada umat di Filipi ini kiranya layak dikenakan dan dihayati 
oleh para pengurus, pengelola maupun pemerhati Gerakan Sayang Kehidupan, antara 
lain Yayasan Rumpun Lestari dan Panti Asuhan Mekar Lestari. Percayalah bahwa 
Tuhan yang telah memulai karya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini akan 
membekali atau menganugerahi apa dibutuhkan oleh anak-anak atau bayi yang 
diserahkan kepada kita, yayasan atau panti asuhan. Percayalah bahwa di dunia 
ini, di kota metropolitan Jakarta ini lebih banyak orang baik daripada orang 
jahat, lebih banyak orang yang dijiwai oleh Roh Kudus daripada setan. 

Sapaan atau seruan Paulus kepada umat di Filipi tersebut kiranya juga dikenakan 
bagi siapapun yang mengakui diri sebagai orang beriman.
Sadari dan hayati bahwa aneka macam apa yang baik dalam diri kita maupun kita 
miliki dan kuasai merupakan karya atau anugerah Tuhan.
Perkembangan dan pertumbuhan pribadi kita merupakan karya Tuhan, dan Ia akan 
terus menerus berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini sampai kita 
mati atau dipanggil Tuhan. Anugerah Tuhan bagi kita, entah hidup, kekayaan, 
ketrampilan, kecerdasan, ketampanan atau kecantikan, pangkat, kedudukan atau 
jabatan dst.,dianugerahkan kepada
kita agar kita semakin manusia dan mempersembahkan diri kepada Yang Ilahi. 
"Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan Tuhan kita, 
dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi 
diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan" 
(St.Ignatius Loyola, LR no 23)

Marilah pujian, hormat dan pengabdian atau pelayanan kita kepada Tuhan kita 
wujudkan atau konkretkan dalam pujian, hormat dan pengabdian atau pelayanan 
pada sesama manusia, lebih-lebih pada anak-anak.
"Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan 
barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang 
terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."(Luk 9:48). Marilah 
kita sambut anak-anak, antara lain anak atau bayi yang dititipkan, diasuh dan 
dilayani oleh Panti Asuhan Mekar Lestari, yang kecil ini. Karena anak-anak atau 
bayi , `yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar', maka 
selayaknya kita sambut anak-anak dan bayi-bayi sebagaimana kita menyambut orang 
penting, terkenal atau terbesar dalam hidup bersama di masyarakat, bangsa atau 
Negara. Kita kasihi mereka dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal 
budi, segenap tubuh/harta benda/uang alias dengan kasih sepenuhnya. Hidup 
mengasihi harus berani `boros waktu dan tenaga/harta benda/uang' bagi yang 
dikasihi. Boroskan waktu dan tenaga atau harta benda/uang bagi anak-anak, dan 
jangan lupa pada anak-anak yang kurang kasih sayang ataupun perhatian seperti 
mereka yang miskin dan berkekurangan atau yang tinggal dan dititipkan untuk 
sementara di panti asuhan, antara lain `Panti Asuhan Mekar Lestari' . 

Jakarta, 31 Juli 2008
Ign.Sumarya SJ /Pembina dan Moderator Yayasan Rumpun Lestari (catatan di atas 
disampaikan dalam rangka acara "Charity Day", Sabtu, 2 Juli 2008

Catatan:
Data bayi dan anak yang berada dan pernah diasuh di Panti Asuhan Mekar lestari:
- 80 anak telah berhasil kembali ke orangtua/keluarganya
- 80 anak saat ini masih dalam asuhan Panti Asuhan dengan rincian:
1) 40 anak berusia 3 hari s/d 1 tahun 
2) 20 anak berusia 2 s/d 3 tahun
3) 20 anak berusia 4 s/d 5 tahun
( 10 anak yatim piatu, 20 anak masih dikunjungi oleh ibu kandungnya, 50 anak 
masih belum terlacak keluarganya)

Alamat Panti Asuhan Mekarlestari:
Commercial III Blok B1 no 1-1A
Bumi Serpong Damai, Tangerang 15330
Tilp 021 5315 3088 , Fax 021 5315 3089

Partiipasi kasih anda dapat disalurkan melalui: 
Biaya operasional: Yayasan Rumpun Lestari
BCA Cab Kebayoran Lama, Acc 248 300 5008
Biaya pendidikan: Yayasan Rumpun Lestari 
BCA Cab Kebayoran Lama, Acc 248 301 5003 
====================================================
From: rm_maryo 

"Mereka semuanya makan sampai kenyang"
(Yer 28:1-17; Mat 14:13-21)

"Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak 
mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak 
mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota 
mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, 
maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan 
mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan 
berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak 
itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." 
Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus 
memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima 
roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." 
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima 
roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu 
memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu 
murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya 
makan sampai kenyang. Kemudian orang
mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan 
anak-anak" (Mat 14:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Maria 
Vianney, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai 
berikut:
. Yahanes Maria Vianney dikenal sebagai yang kurang cerdas otaknya (kalau tidak 
boleh dikatakan bodoh), tetapi cerdas hati dan jiwanya.
Ia adalah seorang pastor desa , yang termashyur pelayanannya dalam hal 
pengakuan dosa. Selama kurang lebih selama 40 tahun ia tngggal di paroki 
terpencil di Perancis, dengan peluh belas kasih dan tanpa kenal lelah melayani 
umat, khususnya dalam pengakuan dosa. Ia dapat duduk di kamar pengakuan lebih 
dari 12 jam sehari untuk menerima umat yang ingin mengaku dosa. Rasanya Yohanes 
Maria Vianney sungguh meneladan Yesus, yang hatiNya tergerak oleh belas 
kasihan, dan secara khusus menyalurkan belas kasih Tuhan kepada mereka yang 
berdosa. Maka baiklah kita mawas diri antara lain dengan cermin Yohanes Maria 
Vianney, berbelas kasih atau menyalurkan belas kasih Tuhan kepada 
saudara-saudari kita yang berdosa atau menyalahi dan menyakiti kita, 
sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami :"Ampunilah kesalahan kami, 
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami".
Biarlah mereka yang haus atau lapar akan belas kasih Tuhan menjadi kenyang akan 
belas kasih Tuhan dan kemudian juga menyalurkannya kepada saudara-saudarinya. 
Tentu saja belas kasih Tuhan ini pertama-tama atau terutama kita teruskan 
kepada mereka yang dekat dengan kita, yang hidup dan bekerja bersama kita 
setiap hari, entah dalam keluarga,
masyarakat maupun tempat kerja/kantor. Ingat dan hayati juga bahwa 
masing-masing dari kita adalah orang yang lemah, rapuh dan berdosa, maka 
meneruskan belas kasih Tuhan berarti kita saling berbelas kasih 
. "Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah 
membuat bangsa ini percaya kepada dusta. Sebab itu beginilah firman TUHAN: 
Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau 
akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN."(Yer 28:15-16) , 
demikian kata nabi Yeremia kepada nabi Hananya. Nabi adalah pembawa kebenaran, 
maka pada umumnya apa yang dikatakan oleh seorang nabi senantiasa dipercaya 
oleh orang lain atau siapapun yang menerima pemberitaannya. Namun ketika nabi 
berdusta yang berarti mendustai atau mengelabui Roh Kudus, berdosa terhadap Roh 
Kudus ia tidak dapat diampuni. Senada dengan peran nabi antara lain guru, 
orangtua, pemimpin dst.., yang pada umumnya apa yang mereka ajarkan atau 
katakan senantiasa diterima dan ditaati oleh para pendengar mereka. Maka 
hendaknya bijak dan benar serta tidak berdusta dalam berkata-kata atau apa yang 
diajarkan.
Dalam hal berdusta memang dosa mereka yang sangat menentukan atau berpengaruh 
pada orang lain lebih besar dosanya daripada yang mendengarkan atau rakyat 
biasa. Dusta atau perilaku jahat lainnya seperti bohong, menipu, manipulasi 
dst.. yang dilakukan para pemimpin, petinggi atau pejabat jelas harus dihukum 
berat daripada yang dilakukan oleh rakyat. Mereka yang menjadi nabi, pemimpin, 
orangtua atau guru hendaknya juga tidak takut menegor rekan-rekannya yang 
berdusta atau berbohong; membiarkan rekan-rekannya terus berbobong bearti 
menyetujui dan dengan demikian berpartisipasi dalam dusta, kebohongan atau 
kejahatan juga. Saling mengingatkan dan meneguhkan antar kita dimanapun dan 
kapanpun sangat dibutuhkan, agar kita tidak segera mati. 

"Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu
Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku 
berharap kepada hukum-hukum-Mu Biarlah berbalik kepadaku orang-orang yang takut 
kepada-Mu, orang-orang yang tahu peringatan-peringatan-Mu"  (Mzm 119: 29.43.79)

Jakarta, 4 Agustus 2008

Kirim email ke