Selasa, 05 Agustus 2008 - 09:44 WIB
Jangan Menjadi Negara Yang Lamban Mengatasi Masalah Hak Asasi Manusia.
DPP PDS DESAK SOLUSI SEGERA ATASI KEMELUT KAMPUS "SETIA"
Jakarta, 5/8 (ANTARA) - Wakil Ketua Umum DPP Partai Damai Sejahtera, Denny
Tewu, di Jakarta, Selasa, mendesak Pemerintah mengambil langkah solutif agar
segera bisa mengatasi kemelut kampus "Setia", karena sekitar 2.000 mahasiswanya
terlantar di beberapa tempat dengan tidak ada kejelasan nasib.
"Kita jangan terbiasa menjadi Negara yang lamban mengatasi masalah hak-hak
hidup orang atau warganya sendiri. Apalagi kini telah ada ancaman meminta suaka
politik ke Negara lain. Ini kan memalukan dan bisa-bisa kita dianggap tak
bertanggungjawab atas kehidupan warganya," tandasnya.
Ia mengatakan itu, menanggapi pernyataan Staf Humas Kampus Sekolah Tinggi
Theologia Arastamar (Setia), Hendrik Tambunan yang menyatakan, kini 1000 warga
kampusnya siap menjadi kloter pertama mencari suaka politik ke Amerika atau
Eropa maupun Australia, jika mereka tak diizinkan lagi hidup serta bersekolah
di negerinya sendiri.
"Ini pernyataan resmi kami atasnama warga Kampus "Setia". Jika tidak ada solusi
bagi upaya kami turut serta berkehidupan termasuk menikmati pendidikan di
negeri sendiri, karena kami tidak boleh bersekolah di Jakarta Timur, itu
berarti Negara tidak lagi melindungi segenap bangsa Indonesia," tandas Juru
Bicara Kampus "Setia" itu kepada ANTARA secara terpisah.
Ia mengatakan itu, setelah pihaknya mempelajari dengan seksama seolah terjadi
'pembiaran' atas kasus Kampus "Setia" dengan warga Kampung Pulo, Pinang Ranti,
Kecamatan Makassar, Jakarta Timur.
"Kami punya kampus sendiri, punya sekolah dan tempat tinggal, tetapi kami
dilarang pergi ke sana dengan alasan yang tidak jelas, dan Pemerintah beserta
aparat keamanan tidak bisa memberikan solusinya, lalu kami mau ke mana?
Bukankah suaka politik ke negara yang lebih beradab ada jalan keluarnya yang
terbaik," katanya lagi.
Hendrik Tambunan bersama sekitar 1000 warga Kampus "Setia", sebagian besar
terdiri dari kalangan pria, termasuk dosen dan mahasiswa serta petugas
administrasi, kini ditampung di lokasi transito transmigran atau tenaga kerja
di Kali Malang, Jakarta Timur.
Sementara yang lain terbagi di beberapa lokasi lainnya, juga di rumah-rumah
keluarga atau kerabat serta masyarakat lainnya, sejak mereka dievakuasi dari
kampusnya di Kampung Pulo tersebut.
"Seolah kami ini warga kelas berapa begitu, dan karenanya tidak berhak hidup,
menikmati pendidikan dan masa depan di negeri sendiri. Lihat saja keadaannya,
kami sudah sekitar seminggu terlunta-lunta ketiadaan tempat berteduh, padahal
kami sesungguhnya punya kampus dan pemukiman, tetapi kami dilarang tinggal di
sana," katanya dalam nada tinggi.
Karena itu, dia dkk mengingatkan Pemerintah dan aparat keamanan, agar tegas
dalam bertindak serta tidak pilih kasih.
"Kalau seandainya situasinya terus saja menggantung dan tidak ada sikap tegas
Pemerintah bersama aparat keamanan di Indonesia, berarti ini pertanda suatu
keadaan yang berbahaya bagi kehidupan sesama bangsa. Kami sudah mulai melakukan
lobi dan kontak-kontak resmi untuk mencari suaka politik," ujarnya.
Bebeberapa perwakilan Negara asing di Indonesia pun, menurutnya, sudah
memberikan peluang untuk itu.
"Kita semua lihat saja nanti sampai di mana ujung persoalan ini. Kami terus
akan berusaha semaksimal mungkin mengedepankan cara-cara dialog persuasif
berlandaskan kasih dan norma-norma Pancasila," tandasnya lagi.
Yang jelas, lanjut Hendrik Tambunan, dari sekitar 2000 warga kampusnya, sudah
siap 1000 di antaranya sebagai kloter pertama pencari suaka politik, tanpa
menyebut negara-negara mana saja targetnya.
Perlu Solusi Secepatnya
Atas masalah ini, Denny Tewu dan jajaran DPP Partai Damai Sejahtera (PDS) nomer
25 di PEMILU 2009 telah berulang kali memediasi atau menghubungi pihak
berkompeten, tetapi belum ada kejelasan langkah mengatasinya.
"Ini jangan dibiarkan begitu. Perlu solusi secepatnya. Kita jangan terbiasa
mengambangkan masalah yang sensitif seperti ini, lalu kemudian cari gampang
dalam menanganinya, atau membiarkan kepada rakyat-rakyat secara horisontal
menyelesaikannya yang terkadang diwarnai konflik," katanya mengingatkan.
Sebelumnya, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa,
Imam Anshori Saleh, mengingatkan, agar para tokoh masyarakat seyogianya
berperan ikut membantu mendinginkan pertikaian personal kampus "Setia" kontra
warga di Kampung Pulo itu.
"Mari kita semua cari solusi bersama. Kita ini semua bersaudara dan hidup dalam
alam Indonesia yang diciptakan Tuhan bagi semua, tanpa ada yang merasa harus
lebih berkuasa," kata Denny Tewu.
Ditanya tentang upaya para warga Kampus "Setia" yang bakal mencari suaka
politik ke sejumlah Negara asing, ia mengatakan, usahakan janganlah digiring
masalahnya ke sana.
"Kita ini kan bangsa yang beradab, sudah punya pengalaman panjang hidup
berbangsa dalam kepelbagaian. Saya pikir, solusinya akan bisa ditemukan. Sekali
lagi, mari kita bantu carikan solusinya, termasuk juga dari rekan-rekan pers,"
kata Denny Tewu yang bersama beberapa fungsionaris PDS baru saja
mendistribusikan lagi bantuan makanan serta obat-obatan ke lokasi penampungan
sementara warga Kampus "Setia" itu.
Sementara itu, Imam Anshori Saleh mengingatkan Pemerintah dan para tokoh
masyarakat, agar lebih mengedepankan spirit kebersamaan dalam mengatasi masalah
ini.
"Semua pihak harus kembali ke semangat kebhinekaan. Tidak perlu ada lagi klaim
mayoritas di mana pun," tandasnya melalui ANTARA menyikapi pernyataan Walikota
Jakarta Timur, Murdani, yang menyatakan: "Warga Minoritas Harus Menyadari
Keberadaannya".
Imam Anshori Saleh dan sejumlah anggota Dewan juga menyesalkan adanya
pihak-pihak yang mencoba memanas-manaskan situasi. "Mohon para tokoh
masyarakat, terutama dari kedua kelompok yang bertikai, hendaknya bantu
dinginkan warga kelompok masing-masing," katanya.
Ingat, tandasnya, di negara yang berdasarkan Pancasila, tidak perlu ada
diskriminasi. "Semua WNI harus merasa aman dan terayomi di seluruh wilayah
NKRI, tidak ada yang harus merasa lebih berhak atas satu wilayah," tandas Imam
Anshori Saleh.
Jangan Ada Pembiaran
Sementara itu, rekannya dari Fraksi PDI Perjuangan di Komisi III DPR RI, Gayus
Lumbuun, juga mengingatkan, kasus kekerasan terhadap institusi berserta isi
Kampus "Setia" harus dapat segera diatasi Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta
dan jajaran aparat keamanannya.
"Pemda harus bisa memberikan jaminan keamanan, ketertiban dengan tidak
melakukan pembiaran terhadap kelompok minoritas agama, apalagi dengan mengumbar
'statement' (oleh Walikota Jakarta Timur) yang bersifat provokatif," tegasnya.
Gayus Lumbuun yang juga Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR RI lanjut
mengingatkan, agar semua komponen masyarakat, terlebih para pemimpin formal
maupun informal, jangan lagi berperilaku di luar prinsip persamaan hak di
negara hukum ini.
Sebagaimana diberitakan berbagai media Jakarta, sebanyak 1.300 mahasiswa
"Setia" telah dievakuasi, seolah telah terjadi konflik horisontal besar-besaran
di ibukota Negara Republik Indonesia ini, awal pekan lalu.
Proses evakuasi yang dilakukan aparat keamanan ini, mengundang protes banyak
pihak, terutama kalangan DPR RI, karena mestinya persoalannya harus
diselesaikan di tempat.
Persoalannya sendiri berawal dari bentrok antara beberapa anggota masyarakat
dengan warga kampus, akhir Juli 2008 lalu.
ANTARA mendapat informasi dari lapangan, para mahasiswa "Setia" dievakuasi ke
tiga tempat berbeda. Ketika itu, para mahasiswa dievaluasi ke PDS Cempaka
Putih, UKI Cawang, Gereja Bethel Indonesia di Jalan S Parman.
Para mahasiswa yang telah bertahan di dalam kampus sejak memanasnya konflik
dengan warga Kampung Pulo, diungsikan dengan menggunakan truk-truk dari Polres
Jakarta Timur, juga kendaraan angkut milik Satuan Brimob.
Kemudian, beberapa hari sesudah itu, lebih separuhnya menginap sementara di
kompleks DPR / MPR RI, Senayan. Lalu, sejak awal Agustus lalu, diangkut lagi ke
beberapa lokasi, antara lain di pemukiman transito warga transmigran serta
tenaga kerja Indonesia di Kali Malang.
Walaupun sudah dievakuasi berulang-ulang ke sejumlah tempat, semua warga Kampus
"Setia" maupun beberapa kalangan masyarakat setempat berharap, para mahasiswa
masih bisa melanjutkan kegiatan pendidikannya di Kampung Pulo.
Sementara itu, guna meredam konflik yang terjadi antara pihaknya dengan Kampus
"Setia", warga Kampung Pulo beberapa kali mengadakan rapat.
Dalam pantauan ANTARA beberapa hari lalu, rapat warga tersebut diumumkan dari
pengeras suara Mesjid "Baiturrahim". Dan sejak awal kegiatan rapat itu diikuti
oleh para pengurus RT 01 hingga 08 dan tokoh masyarakat Kampung Pulo, Pinang
Ranti, Makassar, Jakarta Timur.
"Rapat ini tentang mediasi, bagaimana sikap warga," ujar Wakil Ketua RT 02/04
Sugianto saat dikonfirmasi para wartawan mengenai rapat terkait.
Dari lokasi kejadian diinformasikan, meski sebagian besar mahasiswa "Setia"
telah dievakuasi, namun masih ada sejumlah mahasiswa yang mengontrak maupun kos
di rumah warga.
Para mahasiswa itu pun diimbau melalui pengeras suara masjid di Kampung Pulo,
Pinang Ranti, Jakarta Timur, agar ikut dievakuasi.
"Diberitahukan kepada para mahasiswa mahasiswa yang mengontrak, untuk pindah di
kampus. Mohon Pak RT dan Pak RW mengawal mahasiswa ke kampus. Warga dimohon
untuk tidak menghalangi jalan ke kampus," bunyi pengumuman itu.
Artinya, tidak hanya mahasiswa di kampus tetapi yang mengontrak atau kos itu
juga akan dievakuasi.
Jangan Mau Terpancing
Wakil Ketua Umum DPP Partai Damai Sejahtera (PDS), Denny Tewu, kepada ANTARA
lebih lanjut menyatakan, pihaknya merasa prihatin dengan situasi dan kondisi
seperti itu.
"Tapi kami mengimbau semua pihak, agar jangan mau terpancing dengan situasi
yang bisa lebih memperburuk keadaan, karena perjuangan PDS adalah berjuang
secara damai dan kasih," katanya.
Untuk itu, lanjutnya, jawaban bagi mereka yang disebut sebagai kaum minoritas,
agar lebih tekun mengabdikan diri kepada bangsa ini.
"Ini adalah bangsa anugerah Tuhan bagi semua, baik itu mayoritas maupun
minoritas. Mari kita semua bersatu, memiliki kekuasaan dan kedaulatan bersama
melalui jalur politik, dengan spirit demokrasi, agar tidak ada lagi yang
ditindas terus dengan alasan apa pun," tegas Denny Tewu.
Sedangkan Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Damai Sejahtera, Jeffrey
Massie, menilai, terkait kasus kekerasan terhadap "Setia" tersebut, pertama,
aparat harus profesional dalam menjalan tugas.
"Mereka harus mendengar semua versi atau pihak atas apa yang terjadi atau
melatarbelakangi konflik itu. Jangan karena ada pihak yang merasa mayoritas di
lingkungan tersebut, lalu aparat otomatis membiarkan penindakan hukum oleh
warga secara semena-mena. Ini negara hukum, bukan negara dengan hukum rimba.
Bagaimana nanti citra bangsa ini di mata forum internasinal. Masih bisakah kita
disebut bangsa beradab, jika kasus-kasus seperti ini dibiarkan," katanya
mengingatkan.
Hal kedua, lanjutnya, atas 'statement' Walikota Jakarta Timur, pihaknya
memprotes.
"Saya protes keras kalau yang bersangkutan bicara seperti itu. Negara ini
didirikan atas semangat kebhinekaan dan tanpa mengenal dikotomi
mayoritas-minoritas. Kita yang disebut minoritas ini bukan pendatang atau
imigran. Kita juga sama-sama keturunan 'founding' bangsa ini," tandasnya.
Karena itu, ia mengingatkan para pemimpin formal dan pejabat pemerintah, agar
jangan suka memecah belah, apalagi merasa lebih memiliki bangsa ini secara umum
atau Jakarta khususnya.
"Kita sama-sama warga negara, dan tanpa kaum yang disebut 'minoritas' negara
ini tidak terbentuk," tegas Jeffrey Massie lagi.
***3***
Sumber : Antara (www.partaidamaisejahtera.com)
------------------------------------------------------------
Betul sekali pendapat yang ditulis di atas itu, pada waktu Indonesia
diproklamirkan sebagai negara yang berdaulat, pada saat itu sudah banyak etnis,
banyak agama yang ikut bersatu padu memerdekakan Indonesia dari penjajahan.
Kalau salah satu dari masyarakat itu merasa berkuasa, hal itu tidak benar,
lihatlah di diri kita sendiri, kita memiliki mata, telinga, hidung, mulut,
kaki, tangan dan tubuh, semuanya itu harus bersatu padu, baru bisa dinyatakan
sebagai tubuh yang sempurna, kalau kakinya saja merasa amat kuat dan ingin
menang menangan sendiri, tentu kaki tanpa tubuh akan mati dengan sendirinya,
begitu tangan tanpa tubuh juga akan mampus, anggota tubuh kita baru bisa hidup
kalau kita mau bersatupadu dan bertugas pada kemampuan masing masing.
ALLAH KITA TETAP AMAT BERJAYA, begitulah ringkasan dari ALKITAB yang perlu kita
ketahui bersama.
Ingat SEMBOYAN ini, Kitab Keluaran 18:21, Keluaran 23:8, Ulangan 16:19, Ulangan
27:25, Mazmur 100: 1 - 5 dan 1 Korintus 1:10, Amsal 3:5
------------------------------------
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
If you have any comment or suggestion about this mailing list,
to : [EMAIL PROTECTED]
Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung
dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan
email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi
yang ada.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/