From: Mundhi Sabda Hardiningtyas 

Ketika Tuhan Berkata Tidak

Editorial 
Mobokrasi, Demokrasi dan Toleransi - - Victor Silaen
Megawati, Gus Dur, dan Megagolput
Rasionalitas dan Moralitas
Demi Generasi Berikut
Negara Kalah 

Konsultasi Kesehatan 
Ingin Langsing, Lalu Malas Makan, Itu Bahaya! -- Bersama dr. Stephanie Pangau, 
MPH 
Paman Terkena Kanker Nasofaring!
Mulut Bau, Istri pun Ogah Dicium
Tetanus Bisa Mengakibatkan Kematian
Lama, Penyembuhan Penyakit TBC 

Opini
Edition 89/VI/August 2008
Ketika Tuhan Berkata "Tidak" ---
 Mundhi Sabda Hardiningtyas

Minggu lalu saya menolak undangan untuk berdoa semalam suntuk di rumah ketua 
persekutuan kami. Doa puasa itu dimaksudkan untuk meminta kesembuhan bagi 
ibunda ketua persekutuan yang sedang koma di rumah sakit. Sebenarnya sang 
ibunda sudah 14 tahun menderita kanker payudara. Walaupun dokter menyarankan 
payudara sebelah kanannya itu diangkat, tetapi ibunda yang mantan model era 
delapan puluhan itu tidak rela kehilangan bagian tubuhnya yang indah itu. 
Sejak 1994 wanita itu memilih pengobatan alternatif secara tradisional maupun 
cara supranatural dengan pertolongan dukun. Entah bagaimana proses 
penyembuhannya, sejak awal 2008 wanita itu harus mondar-mandir ke rumah sakit 
lagi. Menurut kabar yang beredar, benjolan di kedua payudara wanita itu pecah 
dan mengeluarkan nanah. Ketika membesuk di rumah sakit, saya mencium bau anyir 
yang menyengat, yang menandakan ada luka membusuk di tubuh wanita itu.

Tiga bulan lalu ketika membesuk wanita tua itu di rumahnya, saya mendapatkan 
pemandangan mengerikan. Kemoterapi yang telah dilakukan berulang kali, membuat 
wanita itu kehilangan seluruh rambutnya dan seluruh permukaan kulitnya hangus 
terbakar. Matanya yang cekung dan pipinya yang kempot membuat wanita itu mirip 
zombi. Kuku-kuku tangan dan kakinya yang terlepas seolah menebar aura kematian. 
Saya sempat bertanya kepada wanita itu, "Apakah Bunda memimpikan sesuatu?" 
Dengan lirih dia menjawab, "Saya cuma ingin kembali ke rumah Bapa dengan 
cantik!" Saya pun berbisik, "Bunda, Tuhan tahu dan sanggup memberikan yang 
terbaik. Percayalah!"

Awal bulan dokter menyatakan bahwa sel kanker yang mematikan itu telah menjalar 
ke kedua kaki wanita itu. Sayangnya amputasi tidak bisa dilakukan karena dia 
juga diketahui menderita diabetes. Seminggu lalu, dia terpaksa masuk ICCU 
karena tidak sadarkan diri. Menurut dokter, sel kanker telah menggerogoti 
paru-parunya. 

Semua anggota keluarga sangat berduka. Segenap kerabat dan sahabat dikerahkan 
untuk berdoa. Walaupun jarang bergabung dengan persekutuan yang diadakan di 
rumah sang ketua, saya tetap berdoa kiranya Tuhan memberikan yang terbaik. 
Kalau Tuhan memandang baik, wanita itu sembuh, saya yakin Tuhan akan 
menyembuhkannya. Namun jika Tuhan memandang baik wanita itu segera kembali ke 
rumah Bapa, saya memohon belas kasihan Tuhan supaya wanita itu dipanggil dengan 
cara yang tidak menyakitkan. 

Walaupun ketua persekutuan mengajak berdoa puasa semalam suntuk, tapi saya 
hanya berdoa seperlunya dan sengaja meninggalkan persekutuan itu dengan dua 
alasan. Yang pertama, saya merasa tidak bisa bersehati, berdoa memaksa Tuhan 
untuk menyembuhkan dan mengganti paru-paru baru wanita itu, seperti yang 
diminta ketua persekutuan. Saya merasa teman-teman persekutuan menggunakan doa 
semalam suntuk untuk menyogok Tuhan supaya mau menyamakan kehendak-Nya dengan 
keinginan kita. 

Dengan berapi-api ketua persekutuan itu berdoa, "Tuhan, saya yakin Engkau akan 
menyembuhkan Bunda! Saya yakin Engkau akan memberikan paru-paru baru karena 
Engkau tidak pernah memberikan ular kepada yang minta ikan". Setiap mendengar 
doa itu, saya menghampiri anak-anak bunda yang lain. Dengan lembut saya 
berusaha mengoreksi doa itu, dengan berkata, "Yakinlah bahwa Tuhan tahu dan 
sanggup memberikan yang terbaik, bahkan sebelum kita memintanya. Tuhan memang 
tidak pernah mem-berikan ular kepada yang minta ikan, tapi DIA juga tidak akan 
memberikan ular kepada yang minta ular". 

Alasan kedua, saya merasa ada hal lain yang perlu dilakukan selain berdoa, 
yaitu menyiapkan hati semua anggota keluarga. Saya merasa keluarga harus 
percaya bahwa ada kebangkitan dan kehidupan baru setelah kematian, supaya 
mereka rela melepas bundanya kembali ke rumah Bapa. Saya merasa mereka harus 
diyakinkan bahwa kematian adalah kebangkitan yang tertunda.

Beberapa hari lalu, wanita itu kembali ke rumah Bapa. Tuhan memang tidak 
mengabulkan doa teman-teman persekutuan saya yang meminta kesembuhan dan 
paru-paru baru. Tapi itu bukan berarti Tuhan tidak sanggup memberikan "ikan" 
kepada yang memintanya. Hanya saja, kita harus meneliti ulang, apakah yang kita 
minta itu benar-benar ikan atau ular? Walaupun doa kita sertai tangisan darah 
sekalipun, kalau yang kita minta ternyata "ular", maka Tuhan tidak akan 
mengabulkannya. Tuhan berkata "TIDAK" kalau permintaan kita dipandang-Nya tidak 
baik.?

Kirim email ke