From: rm_maryo Mg Biasa XXI: Yes 22-19-23; Rm 11:33-36; Mat 16:13-20 "Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
Ketika ada uskup mengundurkan diri atau dipanggil Tuhan./wafat, pada umumnya tidak langsung diganti dengan uskup baru dan untuk sementara `takhta uskup' diemban oleh seorang administrator yang dipilih oleh para anggota konsult keuskupan. Demikian halnya ketika ada seorang paus dipanggil Tuhan atau wafat. Pada masa kekosongan `takhta' ini pada umumnya umat Tuhan juga bertanya-tanya bagaikan sedang berjudi: siapa yang akan menggantikan dan menduduki takhta tersebut. Ada yang mencoba mereka-reka atau menganalisa kiranya pastor X atau pastor Y yang akan menggantikan, terpilih sebagai uskup baru menggantikan yang telah mengundurkan diri atau dipanggil Tuhan. Sejumlah nama/pastor yang dinilai `episcopabilis' biasanya sudah tercatat atau berada di tangan Bapa Suci atas masukan Duta Besar Vatikan di Negara yang bersangkutan, yang juga diperoleh dari para uskup atau orang-orang tertentu. Pilihan ditentukan oleh Bapa Suci, dan yang teripilih adalah yang kurang lebih memenuhi criteria atau kecakapan sebagai mana tertulis di dalam Hukum Gereja atau Kanonik, yaitu: " (1) unggul dalam iman yang teguh, moral yang baik, kesalehan, perhatian pada jiwa-jiwa, kebijaksaan, kerarifan dan keutamaan-keutamaan manusia, serta memiliki sifat-sifat lain yang cocok untuk melaksanakan jabatan tersebut, (2) mempunyai nama baik, (3) sekurang-kurangnya berusia tiga puluh lima tahun, (4) sekurang-kurangnya sudah lima tahun tahbisan imam, (5) mempunyai gelar doktor atau sekurang-kurangnya lisensiat dalam Kitab Suci, teologi atau hukum kanonik yang diperoleh pada lembaga pendidikan tinggi yang disahkan Takhta Apastolik, atau sekurang-kurangnya ahli sungguh-sungguh dalam disiplin-disiplin itu" (KHK kan 378 $ 1). Yang terpilih diharapkan mendekati kriteria tersebut dan dalam perjalanan penghayatan panggilannya terus mengusahakan dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan untuk memperdalamnya, karena ia memiliki tugas berat dan menentukan sebagaimana disabdakan oleh Yesus: "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat 16:19) "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Paus dan para uskup memiliki `kuasa mengajar' bagi umat atau domba-domba yang menjadi tanggung-jawabnya untuk digembalakan, dituntun menuju ke `padang rumput yang hijau', sehingga umat atau domba-domba dapat makan sampai kenyang, sehat wal'afiat, damai sejahtera lahir dan batin. Kita, para domba atau umat Tuhan kiranya memiliki tugas kewajiban antara lain: 1) Berdoa bagi para gembala kita. Para gembala butuh doa-doa kita agar dapat menggembalakan domba-dombanya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Sebenarnya ,jika kita sedang merayakan atau berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi, kita senantiasa mendoakan para gembala yaitu dalam Doa Syukur Agung. Namun kiranya doa-doa pribadi kita sangat diharapkan. Seiring dengan mendoakan kita juga dipanggil untuk mempersembahkan masukan-masukan atau informasi-informasi yang perlu dalam penggembalaan, entah masalah pastoral atau IPOLEKSOSHANKAM (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Pertahanan dan Keamanan). Secara rutin, setiap tahun paroki diharapkan mempersembahkan laporan pastoral di parokinya 2) Mentaati dan melaksanakan nasihat atau saran dan ajarannya. Nasihat, saran atau ajaran para gembala dapat disampaikan secara pribadi, dalam kotbah atau surat-surat pastoral seperti Prapaskah atau Advent, juga disampaikan oleh para pembantunya, komisi-komisi pastoral di tingkat keuskupan atau kepausan. Maka baiklah sebagai umat Tuhan atau domba kita dengarkan, baca, renungkan dan hayati atau laksanakan aneka nasihat, saran dan ajaran para gembala tersebut. 3) Secara khusus perkenankan dengan rendah hati saya ingatkan dan ajak para pewarta Kabar Gembira, entah para katekis/guru agama, pastor, bruder atau suster yang bertugas untuk mengarjar agama atau menyampaikan kotbah-kotbah di dalam ibadat. Marilah kita hayati atau laksanakan ajakan ini: "(1)Hendaknya para bentara sabda Tuhan terutama menyajikan kepada umat beriman kristiani apa yang harus mereka imani dan lakukan demi kemuliaan Tuhan dan demi keselamatan manusia. (2) Hendaknya mereka juga menyampaikan kepada kaum beriman ajaran yang diajukan oleh Magisterium Gereja tentang martabat dan kebebasan pribadi manusia, tentang kesatuan dan kemantapan keluarga serta tugas-tugasnya, tentang kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat dan pula tentang hal-hal keduniaan yang harus diatur menurut tatanan yang ditetapkan oleh Tuhan" (KHK kan 768). "Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya"(Rm 11:36) Dunia seisinya adalah ciptaan Tuhan, hidup, tumbuh dan berkembang hanya karena dan oleh Tuhan serta harus kembali kepada Tuhan. Maka baiklah kita manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan, yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah sementara itu hidup/jiwa yang berasal dari Tuhan harus kembali kepada Tuhan, hidup mulia di sorga, menghayati sapaan atau kesaksian Paulus kepada umat di Roma di atas. "Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan" (St.Ignatius Loyola, LR no 23). Yang mendesak dan up to date untuk kita renungkan dan hayati pada masa kini adalah `bahwa semua ciptaan lain di permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan, yaitu keselamatan jiwa', mengingat mental atau semangat materialistis yang masih marak dalam kehidupan bersama di sana-sini. Aneka macam bentuk harta benda atau uang adalah masalah atau perkara, yang harus kita hadapi dan fungsikan secara bijak demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita: 1) Aneka macam bentuk harta benda atau uang kita peroleh atau terima sebagai anugerah Tuhan melalui orang-orang yang berbaik hati kepada kita, bukan semata-mata hasil karya atau jerih payah dan keringat kita. Harta benda atau uang adalah `jalan ke sorga atau jalan ke neraka' dan kiranya kita orang beriman menghendaki dan mendambakan menjadi `jalan ke sorga'. Tanda bahwa kita mendambakan hal itu antara lain semakin kaya akan harta benda atau uang berarti semakin suci, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia, semakin pandai dan cerdas berarti semakin rendah hati. 2) Sikap mental yang baik dalam menguasai dan memfungsikan harta benda atau uang kiranya sebagaimana kita doakan dalam doa Bapa Kami :"Berilah kami rezeji hari ini secukupnya", yang berarti hidup sederhana dan tidak berpesta pora, berfoya-foya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa hidup sederhana; bagi yang kaya hendaknya ingat akan saudara-saudarinya yang miskin dan berkekurangan. Kutipan doa Bapa Kami di atas kiranya juga memanggil kita untuk menghayati motto hidup beriman: "solidaritas dan keberpihakan pada atau bersama yang miskin dan berkekurangan'. "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para Tuhan aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku." (Mzm 138:1-3) Jakarta, 24 Agustus 2008 ============================================== From: rm_maryo "Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu" (1Kor 1:1-9; Mat 24:42-51) "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Disanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."(Mat 24:42-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agustinus, uskup dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: . "Mengusahakan atau mendidik anak menjadi baik atau cerdas beriman kiranya lebih sulit daripada mengusahakan atau mendidik anak agar pandai atau cerdas otak". St.Agustinus kiranya dapat menjadi bukti usaha atau pendidikan untuk menjadikan anak dari ibunya, Monika, di masa kecil atau remaja Agustinus boleh dikatakan sebagai anak atau pemuda yang kurangajar, tak bermoral, dst.. namun berkat atau karena pendampingan atau pendidikan yang baik dari Monika, ibunya, ia bertobat dan kemudian tumbuh berkembang menjadi seorang uskup dan pujangga Gereja, dimana ajaran dan tulisan-tulisannya sangat berguna bagi hidup beriman, khususnya, bagi kita para murid Yesus Kristus. "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya", demikian sabda Yesus, yang kiranya dapat dikenakan pada pribadi Agustinus maupun ibunya, Monika. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Apa yang menjadi tugas pekerjaan atau perutusan kita masing-masing? Jabatan? Kedudukan? Fungsi? Marilah kita kerjakan atau hayati dengan setia, disiplin, jujur, tekun, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Secara khusus saya mengingatkan dan mengajak para orangtua, guru/pendidik, pengelola pendidikan/sekolah, pemimpin atau pejabat tinggi: hendaknya pertama-tama dan terutama diusahakan agar anak-anak/peserta didik, anggota atau rakyat menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang berbudi pekerti luhur. Dunia dan bangsa kita membutuhkan orang-orang baik dan berbudi pekerti luhur untuk mempersembahkan diri demi kesejahteraan umum atau bersama., seperti St.Agustinus. . "Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus"(1Kor 1:5-7), demikian peringatan atau sapaan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita atau kita kuasai dan miliki saat ini adalah anugerah atau kasih karunia Tuhan, yang kita terima melalui kebaikan orangtua, sesama dan saudara-saudari kita, maka selayaknya kita senantiasa hidup dan bertindak sebagai `saksi-saksi Kristus', meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus serta menghayati atau melaksanakan sabda-sabdaNya sampai mati, dipanggil Tuhan. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dijiwai oleh `iman, harapan dan cintakasih', tiga keutamaan utama yang dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Mengakui dan menghayati diri sebagai orang beriman berarti hidup bergairah, dinamis, kreatif dalam saling mengasihi, dan dengan demikian hidup pribadi kita sendiri maupun bersama sungguh menarik, menawan dan memikat bagi siapapun yang melihat atau menyaksika nnya. Marilah kita usahakan bersama agar kita semua menjadi `kaya dalam segala perkataan dan segala pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus ', kaya akan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagia kan, bukan hanya kaya akan harta benda, uang, pangkat, kedudukan atau penghargaan ilmiah. "Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan"(Mzm 145:2-5) Jakarta, 28 Agustus 2008 ====================================================== From: John Stephen Lee [EMAIL PROTECTED] Perbandingan Suatu cerita yang indah: Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?" Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air." Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?"Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM. "Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari YHWH di dalam hidup kita." Jika kamu merasa email ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu. Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Tuhan, hati akan tenang. Sepenggal kata mutiara: "Teman yang baik adalah seseorang yang dapat berkata BENAR kepada kita, dan bukan orang yang selalu MEMBENAR-BENARKAN perkataan kita, tanpa memberi NASIHAT dan KOREKSI" Nah teman, jadilah BERKAT bagi yang lain, dan TEMAN YANG SEJATI

