From: "Hadi Kristadi" <[EMAIL PROTECTED]>

An Inspiring Story: Dia Membelaku

 
*Tuhan Yesus Menjadi Pengantara dan Pembela Valvita

Persiapan Berangkat Ke Sorga*
Tiga bulan setelah operasi caesar, saya memasuki Kansas University Medical 
Center karena saya mendapatkan infeksi serius di kandungan saya. Tepat sebelum 
saya meninggalkan Rumah Sakit itu, saya mulai berpikir bahwa saya akan 
meninggal, meskipun tidak ada ketakutan karena hal itu.

Ketika saya memandangi saudara-saudara saya, suatu perasaan yang aneh melanda 
saya, sepertinya saya akan melihat mereka untuk terakhir kalinya.
Sementara di RS, para dokter mencoba antibiotik selama beberapa hari untuk 
melihat apakah mereka dapat menghindarkan pembedahan besar, namun ternyata 
mereka tidak berhasil. Peranakan saya akhirnya diangkat dan semuanya nampak 
beres.

Setelah saya menjalani masa pemulihan di RS selama tiga hari, saya mulai
merasa sangat aneh. Sesuatu ada yang salah sekali, sehingga saya memanggil
seorang perawat. Para dokter menemukan bahwa saya menderita radang
paru-paru, penggumpalan darah, pendarahan dalam tubuh, dan gagal ginjal.

*Berjuang untuk Hidup*
Para dokter membawa saya ke ruang rontgent, dan selama saya diperiksa saya
kadang-kadang kehilangan kesadaran. Pada suatu saat saya mendengar dokter
itu memerintahkan perawat dengan suara keras untuk memeriksa tekanan darah
saya. Saya mendengar jawaban perawat, "Nol. Nihil." Saya menyadari bahwa
mereka sedang berjuang mempertahankan nyawa saya. Melewati semua trauma
fisik ini, saya berkata kepada Tuhan, "Mengapa saya? Mengapa sekarang?" Saya
tidak ingin mati. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa?" Saya tidak pernah 
berpikir untuk menanyakan hal seperti itu sebelumnya, namun saya menemukan diri 
saya mempertanya kan situasi saya, khususnya sejak sesuatu yang ajaib terjadi 
selama saya ada di RS. Anda tahu, kami hampir saja mengangkat seorang anak 
lelaki yang baru saja dilahirkan. Bayi itu dan saya ada di RS yang sama.
Perjuangan batin saya untuk hidup itu menguras seluruh tenaga saya. Saya 
mencoba untuk bertahan hidup bagi orang-orang yang saya kasihi : anak perempuan 
saya dan suami saya, Walter. Gambar-gambar melintas tentang suami saya yang 
akan datang ke RS dan menemukan saya telah meninggal. Saya berdoa banyak, 
memohon pertolongan Tuhan.

Akhirnya saya menyadari apa yang saya sedang lakukan – mencoba mempertahankan 
kendali atas hidup saya. Namun seandainya saya ini anak Tuhan dan seandainya 
sudah waktunya bagi saya untuk meninggalkan dunia ini, saya harus menyerahkan 
diri saya. Saya meminta kepada Tuhan untuk mengampuni saya karena saya suka 
mengeluh, dan saya mendapatkan damai sejahtera.

Kemudian saya merasa sangat sadar akan nafas saya. Nafas ini menjadi makin
lambat dan semakin lambat – semakin panjang antara tarikan yang satu dengan
yang berikutnya. Dan setiap tarikan nafas menjadi semakin dalam dan dalam.
Saya tidak pernah bernafas sedemikian dalam selama hidup saya. Saya mulai 
menghitung "satu, dua" dan tarikan nafas ketiga merupakan tarikan yang paling 
dalam, seolah-olah tarikan nafas itu datang dari kaki ke atas.
Kemudian seolah-olah saya bersatu dengan tarikan nafas ketiga itu. Meskipun itu 
adalah tarikan nafas, saya masih mengetahui bahwa saya adalah pribadi yang utuh.

*Ditemui Tuhan Yesus*
Saya merasa demikian damai dan bebas. Saya mulai bergerak ke atas. Saya
menyadari tubuh saya ada di bawah saya, dan samar-samar saya mengingat
segala upaya yang dilakukan oleh para tim medis untuk menghidupkan kembali
tubuh saya. Perhatian utama saya adalah bahwa saya ada di atas ruangan itu.
Saya tidak di dalam ruangan itu namun ada di langit pertama. Saya katakan
langit pertama karena saya melihat ada tiga langit yang saya lewati.

Di langit pertama saya bertemu dengan Seseorang. Atau lebih tepatnya saya
ditemui Dia. Saya mengenalnya sebagai Tuhan Yesus Kristus, dan Ia menuntun
saya melewati tiga langit itu. Pada saat saya memikirkan tentang kehadiran
fisik Tuhan Yesus, bentuk fisiknya hampir lenyap, karena sosok utama tentang
diri-Nya adalah kasih sepenuh-penuhnya. Ketika saya mengingatnya lagi, Ia
memiliki rambut coklat tua bergelombang dan kulit wajah berwarna zaitun.
Saya memandang mata-Nya. Mata itu demikian tajam namun penuh belas kasih,
sebening dan sebiru air jernih. Anda hampir bisa melihat bayangan diri anda
di mata-Nya seperti cermin saja. Ketika Ia memandang anda, Ia memandang
tajam terhadap anda dan ke dalam anda. Dengan segera anda akan menyadari
bahwa Ia mengetahui segala hal yang perlu Ia ketahui tentang anda.

Nampaknya ada cahaya sorgawi yang menyebabkan rambut-Nya berwarna merah dan
mata-Nya kebiru-biruan, hampir transparan, dan kulit-Nya berwarna keemasan
yang terang. Tak ada cara yang tepat untuk menggambarkan warna-warni
penampilan-Nya. Di sini warna-warnanya berasal dari dunia lain. Itulah 
kemuliaan Bapa, cahaya kemilau keemasan memancar melalui Dia. Dalam tubuh 
kebangkitan-Nya, warna penampilan-Nya berbeda sekali dengan yang ada di bumi 
ini.

*Di Hadapan Yang Mahatinggi*
Saya akan menceritakan kepada anda apa yang terjadi di langit ketiga. Langit
pertama itu berwarna biru muda, namun terang, begitu berbeda dari segala
sesuatu yang pernah saya lihat yang dapat saya terangkan dengan jelas.
Langit itu terbuka, terbelah dua di tengahnya, seperti layar yang menggulung
ke samping dari tengah. Hal ini terjadi sekejap seperti menjentikkan jari-jari 
saya saja. Kami pergi melewati dua langit lagi, yang juga membuka dari bagian 
tengahnya.

Dalam beberapa detik saya menemukan diri saya ada di hadapan Yang
Mahatinggi. Yang Mahatinggi adalah istilah yang saya pakai karena saya
mengenali kehadiran Elohim Bapa. Pada saat saya memandang-Nya, saya tidak
dapat sungguh-sungguh melihat-Nya, namun ada kemuliaan yang sangat luar
biasa, suatu hadirat yang sangat luar biasa. Anda dapat merasakan hal itu
dimana-mana di sorga ketiga ini, dan saya menyadari bahwa Ia ada di tahta.
Ketika saya mencoba melihat seperti apa tahta itu, saya mendapati bahwa
tahta itu tak terlihat. Saya tahu bahwa tahta itu ada di sana; saya tidak dapat 
melihatnya! Tahta itu demikian besar sehingga sampai ke bumi; bumi adalah 
bagian dari tahta itu.

Terpesona dengan semua itu, saya merasa sangat begitu kecil seperti seekor
semut, begitu tak berarti. Dengan gemetar saya jatuh tersungkur. Sementara
saya tergeletak di sana dengan muka ke lantai, Ia berbicara kepada saya.
Pembicaraan ini bukan seperti pembicaraan mental antara Kristus dengan saya,
karena suara Bapa itu seperti deru air bah yang besar. Saya tergeletak di
sana dalam waktu yang lama, dengan Elohim Bapa berbicara kepada roh saya.
Perkataan-perkataan yang Ia katakan kepada saya tak dapat saya ingat, namun
perkataan-perkataan itu tentang saya dan kehidupan saya.

Sementara saya tergeletak di sana saya menghidupi kembali setiap keberadaan 
saya, setiap perasaan dan pikiran saya. Saya melihat mengapa saya ada 
sebagaimana ada; saya mengalami kembali bagaimana caranya saya berhubungan 
dengan orang-orang dan mereka dengan saya. Saya melihat hal-hal yang seharusnya 
saya dapat berbuat lebih baik. Saya merasakan perasaan-perasaan malu akan 
sesuatu, namun saya juga menyadari ada hal-hal baik yang saya lakukan dan 
merasa nyaman atas hal itu. Selagi kita melihat pemandangan-pemandangan yang 
berbeda-beda, saya akan menjawab, "Ya, saya tahu bahwa saya seharusnya 
melakukan dengan lebih baik lagi atau dengan cara yang lebih baik." Saya 
membayangkan apakah ada orang yang merasa layak berada di hadirat-Nya. Saya 
tidak merasa tertuduh, namun saya merasa tidak layak. Agak sukar untuk 
menjelaskannya. Semuanya terus berlangsung, untuk berapa lama saya tidak tahu, 
saya terus memuji Tuhan.

Setelah berakhir tinjauan atas kehidupan saya, saya merasa sungguh-sungguh
tak layak berada di sana di hadapan Terang yang Luar Biasa; tak layak 
dibandingkan dengan semua keberadaan yang agung di tempat ini. Semuanya nampak 
demikian indah, dan siapakah saya? Saya mengatakan hal ini kepada Bapa. 
Kemudian tangan Tuhan Yesus menyentuh saya, dan saya dapat berdiri di atas kaki 
saya lagi karena saya sebelumnya tidak mempunyai tenaga. Dengan menggandeng 
tangan saya, Ia menuntun saya ke samping arena. Ia memandang mata saya, ke 
dalam jiwa saya, dan saya tahu Ia mengenal dan mengerti segala yang saya 
rasakan. Ketika Tuhan Yesus memandang saya, hal itu dilakukannya dengan kasih 
yang lebih besar dari pada yang dapat saya pikir orang akan mengetahuinya. Ia 
tersenyum, dengan pandangan yang membuat saya mengerti bahwa segala sesuatunya 
akan baik-baik saja.

*Jembatan*
Dengan pandangan yang meyakinkan saya, Tuhan Yesus menuntun saya ke satu
sisi. Ia melangkah pergi dari saya dan sendirian Ia menuju Terang. Kapan
terang Kristus itu hilang dan terang Bapa itu mulai tampak, saya tidak tahu.
Mereka berdua saling memberi terang dan terang mereka sama! Saya tidak akan
pernah melupakan hal ini seumur hidup saya. Ketika Kristus melangkah pergi
dari saya, Ia berbalik ke samping dan mengulurkan tangan-Nya seperti
jembatan. Satu tangan terulur kepada saya dan satu kepada Bapa. Tangan-Nya
terulur seolah-olah membentuk sebuah salib dan jembatan untuk menghubungkan
saya dengan Bapa. Hal ini seperti menggambarkan apa yang tertulis di
Alkitab: *"Karena Elohim itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara
antara Elohim dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah
menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada
waktu yang ditentukan."* (1 Timotius 2:5-6) Elohim di satu sisi, dan semua 
orang di sisi yang lain. Tuhan Yesus sendiri ada di antara manusia dan Bapa-Nya 
untuk membawa umat-Nya. Kristus membuat hal ini mungkin dengan menyerahkan 
nyawa-Nya bagi semua orang. Segala hal yang saya tahu dari Alkitab melintas di 
pikiran saya.

Kemudian saya mendengar Bapa dan Anak berbicara tentang perkara saya. Tuhan
Yesus berkata, "Darah-Ku itu cukup. Perempuan ini adalah milik-Ku!" Ketika
Ia mengatakan hal ini, semua keraguan saya tentang ketidak-layakan saya
lenyap. Saya melompat-lompat, bersorak sorak dan bersukacita. Saya tidak
pernah merasa sedemikian berbahagia seumur hidup saya! Jenis kasih yang saya
rasakan itu melampaui apa yang dapat saya ceritakan. Saya terus menerus
berkata, "Oh, Elohimku. Oh, Elohimku. Dia adalah Pengantara saya. Dia adalah
Pembela saya." Tepat seperti apa yang saya baca di dalam Alkitab.

Tuhan Yesus datang kembali ke tempat dimana saya berada dan memandang saya
dengan kasih yang memberi penghiburan. Kami bersukacita bersama. Ia
melanjutkan dengan mengajar saya dan banyak berbicara kepada saya, tetapi
saya tidak dapat mengingat perinciannya. Sekarang dengan begitu bebas dan
begitu dicintai, saya tidak pernah ingin meninggalkan diri-Nya. Saya
mengatakan demikian kepada-Nya, namun pandangan di mata-Nya menyuruh saya
untuk kembali ke bumi. Saya bertanya, "Apakah saya sungguh-sungguh harus
kembali ke bumi?" Ia memandang saya dengan kelembutan dan berkata, "Ya,
karena banyak pekerjaan-Ku yang harus kau lakukan di sana."

Ketika saya kembali ke tubuh saya di ICU, hal itu terjadi secepat saya pergi
meninggalkan tubuh saya. Nampaknya saya pergi dan kembali dengan kecepatan
cahaya. Kristus membawa saya kembali. Saya memandang wajah-Nya yang indah
untuk terakhir kalinya, suatu wajah yang seharusnya saya dapat pandangi
selama-lamanya. Hal berikutnya yang saya tahu, saya sedang memandangi wajah
seorang wanita yang datang ke ICU dan mengaku sebagai adik perempuan saya.
Saya tidak menyadari saya ada di mana. Ketika saya melihat wajah adik saya,
saya terkejut karena Tuhan Yesus telah hilang dengan cepat. Mencari wajah
Tuhan Yesus namun menemukan wajah adik perempuan saya, membuat saya kecewa.
Adik perempuan saya memberi tahu saya di kemudian hari bahwa ada pandangan
di wajah saya yang ia tidak pernah jumpai sebelumnya. Ia sangat bingung dan
sedikit sakit hati oleh karena tanggapan saya terhadap kehadirannya. Setelah
saya menjelaskan hal yang sebenarnya di kemudian hari, adik saya akhirnya
mengerti bahwa saya sebenarnya senang bertemu dengannya.

*Hidup yang Berubah*
Setelah saya mengalami pemulihan, saya mengambil pelajaran seni tentang
lukisan dengan minyak. Saya terus menerus berusaha menangkap warna-warni
Tuhan Yesus di atas kain kanvas. Itulah semua yang dapat saya lukiskan. Saya
melukis Diri-Nya dengan semua warna, semua gaya, namun tak mungkin menangkap
warna-warni itu. Para murid lain menggoda saya dengan mengatakan bahwa saya
adalah "gadis-Nya Tuhan Yesus".

Namun obsesi saya untuk melukis Tuhan Yesus hanyalah perubahan kecil
dibandingkan dengan bidang kehidupan saya yang lain. Mungkin perubahan yang
paling besar adalah cara pandang saya. Sebelum pengalaman hampir mati saya,
saya biasanya selalu ribut dan rewel terhadap Walter tentang ha-hal yang
remeh. Saya dulunya menuntut banyak hal bagi kepentingan diri saya saja.
Ketika saya kembali dari perjalanan ke sorga itu, saya memiliki penghargaan
yang makin besar terhadap hubungan antar sesama. Orang-orang lain itu demikian 
penting. Kebanyakan apa yang kita anggap penting itu sebenarnya tidaklah 
penting.

Pada tahun 1986 saya merasa Tuhan berkata kepada saya, "Gembalakanlah
domba-domba-Ku." Hal ini terjadi pada saat Walter dan saya mulai menampung
para tunawisma. Kami dipanggil untuk pekerjaan itu selama beberapa tahun.
Saya kira ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk menggembalakan
domba-domba-Nya. Penggembalaan anak-anak adalah cara lainnya, dan sekarang
ini saya adalah seorang orangtua asuh. Kami menampung lima anak-anak di
rumah kami. Setelah mengalami pengalaman hampir mati yang fantastis, saya
pikir saya harus melakukan sesuatu proyek yang besar dan luar biasa bagi
Elohim. Ia telah menunjukkan kepada saya bahwa kehidupan ini bukanlah tentang
melakukan hal-hal besar, namun melakukan apapun yang saya lakukan bagi-Nya.
Selama saya di sorga, Elohim tidak memberikan saya perintah khusus, namun yang 
paling saya rasakan dengan kuat adalah bahwa tujuan hidup saya adalah 
mengasihi. (Naskah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk 
http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon agar keterangan ini jangan dihapus 
ketika anda membagikannya kepada orang-orang lain)

PS: Terima kasih, bu Suharti Ali, atas naskah asli dalam bahasa Inggeris yang 
dikirimkan kepada saya bersama naskah-naskah lain yang belum sempat saya 
terjemahkan. God bless you!
--------------------------------------------------------------------------------------------
Selalu ada Inspirational Stories di http://pentas-kesaksian.blogspot.com 
===================================================
From: Tofan 

GIFT
(Ringkasan Renungan dalam Upacara Wisuda STT Amanat Agung dan Emiritasi Pdt. 
Paulus Daun, tanggal 30 Agustus 2008)

"Setiap
pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, 
diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahanm atau bayangan 
karena pertukaran" (Yakobus 1:17)

Dalam upacara wisuda dan emiritasi ini, kita berbicara tentang"Gift" 
(pemberian).
Ada pemberian dukungan, ada pemberian dana, ada pemberian ilmu dan komitmen, 
ada pemberian diri agar dibentuk, ada pemberian perhatian...maka kita bisa 
mengadakan acara hari ini. Alkitab banyak bicara soal pemberian. Bahkan 
keselamatan merupakan pemberian Elohim kepada kita, yaitu Anak-Nya yang tunggal.

Sejalan dengan itu, dunia pemikiran masa kini pun sedang terpukau tema 'gift' 
(pemberian). Ketertarikan dunia akan tema ini dipacu oleh pemikiran Marcel 
Mauss, seorang ahli cultural anthropology. Bagi Mauss, suatu masyarakat 
dibangun bukan berdasarkan solidaritas sosial melainkan berdasarkan pola 
gift-giving. Gift-giving itu terjadi dalam bentuk timbal-balik (exchange and 
reciprocity). 
Timbal-balik merupakan dorongan kuat dalam kehidupan manusia baik dalam 
membangun status maupun dalam bersosial. Pola ini membentuk persahabatan 
sekaligus memberikan tempat yang baru bagi si penerima. Si penerima selanjutnya 
akan berada di bawah status si pemberi.

Jelas dan jujur. Itulah kesan kita akan pemikiran Mauss. Bukankah masyarakat 
kita dibangun atas dasar economic-exchange?
Ada pemberian, ada si penerima, kemudian ada perasaan berhutang ataupun 
perasaan lebih tinggi. Apa yang kita harapkan dengan pemberian kita?
Apakah itu yang terjadi saat ini dalam pelayanan kita? Pemberian menjadikan si 
pemberi lebih tinggi dari si penerima. Pemberian menjadikan si penerima 
berhutang kepada si pemberi.

Read more ...
~ Pdt. Joshua Lie 
=====================================================
From: Lisa Surjadi 

Panduan Pengasuhan Bagi Para Ibu
sumber : www.jawaban.com

Proses pembelajaran terhadap berbagai fenomena hubungan antara orang tua dan 
anak telah melahirkan banyak konsep, metode, prinsip yang dianggap tepat untuk 
diterapkan oleh para orang tua terhadap anaknya. 
Salah satunya adalah apa yang dituangkan oleh Huggies (merek diapers dari PT 
Kimberly-Clark) dalam suatu rumusan yang diberi nama "Motherhood Today". 
"Motherhood Today" memberikan pengetahuan yang berharga mengenai perubahan cara 
pandang pengasuhan anak oleh ibu-ibu Asia Tenggara. 
 
Walaupun ada perbedaan negara dan budaya, namun ternyata tetap ada persamaan 
yang kuat antara ibu-ibu di berbagai negara tersebut mengenai bagaimana cara 
mereka membesarkan bayi-bayi mereka melalui berbagai pendekatan yang bertujuan 
untuk membekali anak-anak mereka dengan ketrampilan hidup dan pengetahuan yang 
akan mereka butuhkan dalam meraih cita-citanya.
 
"Masa kanak-kanak adalah masa untuk bermain. Masa kanak-kanak adalah masa untuk 
berkreasi menciptakan sesuatu. Anak-anak adalah penemu-penemu terbaik. Mereka 
menciptakan cara-cara baru dan inovatif dalam berteman, menyelesaikan masalah 
dan menangani situasi-situasi yang sulit. Mereka juga melihat segalanya dengan 
sudut pandang yang baru dan menyegarkan. Masa anak-anak adalah masa untuk 
perayaan! Orang tua perlu mempertimbangkan anak dengan memberinya kesempatan 
untuk merayakan perkembangannya. Bahkan di saat ia berkembang secara fisik, 
intelektual, emosional, sosial dan bahasa, orang tua tetap perlu memberinya 
waktu untuk menjadi anak-anak karena masa kanak-kanak tidak akan bisa 
terulang". (Patricia Koh, Early Childhood Expert, Pat's Shoolhouse)
 
Inti dari Motherhood Today adalah orang tua menginginkan anaknya untuk dapat 
bersosialisasi dan menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakat. Orang tua 
berusaha mengembangkan karakter anak secara menyeluruh agar mereka sukses di 
masa depan. Kebahagiaan masa kecil menentukan apa yang selanjutnya akan 
dilakukan oleh anak. Semua orang tua rela melakukan apa saja untuk mendapatkan 
yang terbaik bagi si buah hati, bahkan dengan segenap hati. 
 
Lima Prinsip Yang Dapat Menjadi Panduan Bagi Ibu  
Sediakan ruang untuk bereksplorasi. Ibu-ibu saat ini memberikan kebebasan yang 
begitu besar kepada anak-anak mereka dengan berbagai cara. Anak-anak bebas 
untuk bereksplorasi secara fisik baik di dalam rumah maupun di dunia luar. 
Tantangan fisik dan mental serta penemuan baik sendiri maupun dengan orang tua 
atau pengasuh dilihat sebagai suatu hal yang vital dalam perkembangan secara 
keseluruhan.
Tegaskan bahwa mereka selalu diikutsertakan dalam segala hal yang Anda lakukan. 
Ketika Anda memasak, bahkan ketika mereka membuat meja berantakan, Anda hanya 
akan mengarahkannya untuk merapikannya kembali sehingga ketika mereka tumbuh 
dewasa, mereka akan belajar mengenai tanggung jawab. Alam akan mengajari mereka 
banyak hal-hal yang baik. Membuka dunia baru kepada mereka.
 
Berikan kebebasan untuk memilih. Bermain sangat penting karena masa kanak-kanak 
harus jauh dari tekanan. Mereka harus mendapatkan saat-saat bahagia. Bermain 
menstimulasi otak mereka. Biarkan mereka bermain dan mereka akan dapat belajar 
tentang sesuatu.
Bermain adalah inti dari masa kanak-kanak. Sehingga hal ini dipandang sebagai 
cara yang paling baik untuk pengembangan total dari segalanya mulai dari 
keterampilan motorik sampai bersosialisasi, logika kreativitas dan imajinasi. 
Bermain adalah cara seorang anak untuk menjelajahi dunia.
 
Hadiahkan dengan ruang untuk berpikir. Anak-anak bebas bereksplorasi secara 
mental dengan memberi tantangan kepada orang tua, menjadi mandiri dan 
mengekspresikan emosi, ide-ide dan pikiran; mengembangkan imajinasi dan 
penghargaan diri.
Katakan bahwa Anda ingin mereka pergi jauh dari Anda agar mereka belajar 
bagaimana mengurus diri sendiri - jika mereka terus berada di dekat Anda, 
mereka tidak akan dapat mandiri. Penting bagi mereka untuk menjadi kreatif, 
tidak menahan diri dan berani bermimpi. Dengan mengerti bayi Anda, Anda dapat 
membantu mereka untuk mengembangkan bakatnya.
 
Berikan padanya kesempatan untuk mencoba. Anak-anak ditawarkan kesempatan oleh 
dunia untuk mencoba, mengunjungi tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, 
mencoba berbagai aktivitas terbaru dan belajar dari kesalahan mereka sendiri. 
Pengalaman akan membuat mereka lebih lengkap, lebih dapat menyesuaikan diri dan 
fleksibel.
Jika mereka dapat bereksplorasi sendiri, tentunya mereka akan mengingatnya 
dengan baik, khususnya terhadap kesalahan yang dibuat sendiri. Hal ini akan 
mengajarkan mereka sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti. Mereka dapat 
melakukan apa saja yang mereka mau. Tanpa ada batasan.
 
Anugrahkan padanya waktu untuk bermain. Dalam dukungan keluarga yang aman dan 
penuh kasih sayang, anak-anak didorong untuk membuat pilihan mereka sendiri 
untuk mengetahui jati diri mereka dan diijinkan untuk mengembangkan bakat 
uniknya.
Merupakan suatu kenyataan bahwa anak Anda unik. Bahwa kita sebaiknya tidak 
membebankan harapan kita yang terlalu tinggi kepada anak. Jangan mendikte anak 
Anda, karena harapan dan mimpi tidak dapat dicapai dengan paksaan. Seorang bayi 
dapat menjadi apa saja. Tidak ada yang tidak mungkin. Ada banyak sekali pilihan 
untuk bayi Anda. Anak Anda dapat menjadi perdana menteri suatu hari nanti. Anda 
tidak akan pernah tahu.
 
Mazmur 127:3-5, Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada 
TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan 
pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah 
membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, 
apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

Kirim email ke