From: Ronny Simatupang Perwira Penjajah yang Beriman dan Hambanya (Lukas 7:1-10) oleh: Ronny “Then Jesus went with them. And when He was already not far from the house, the centurion sent friends to Him, saying to Him, "Lord, do not trouble Yourself, for I am not worthy that You should enter under my roof. Therefore I did not even think myself worthy to come to You. But say the word, and my servant will be healed. (Luke 7:6,7 - NKJV) ”Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”. (Lukas 7:6,7 - TB) Bayangkan seorang General Manager di suatu perusahaan yang cukup besar, dicintai oleh bawahannya dan memiliki kolega-kolega sesama General Manager di perusahaan besar lain. Ia memiliki seorang pembantu rumah tangga yang suatu hari sedang sakit sangat keras dan bahkan hampir mati. Namun ia tidak memberhentikan pembantunya tersebut dan mengirim pulang ke kampung halaman untuk kemudian mencari pembantu rumah tangga lain sebagai gantinya, melainkan ia meminta bawahannya untuk mencari seorang dokter yang sangat terkenal, dengan jadwal padat dan sangat mahal tarifnya untuk mengobati pembantunya tersebut! Ia bahkan meminta kolega-koleganya untuk mencarikan, kalau perlu ia sendiri yang mencari dan meminta pertolongan dokter! Analogi ini mungkin kurang bisa menggambarkan perwira yang mengasihi hambanya seperti yang Injil Lukas ceritakan di pasal 7 ayat 1 sampai dengan 10. Namun paling tidak memberikan gambaran peristiwa tersebut di masa kini. Dokter Lukas meletakkan kisah tentang perwira di Kapernaum setelah khotbah Yesus mengenai dua macam orang. Orang macam pertama adalah yang mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus, ibarat membangun rumah dengan menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu, dasar yang kokoh, sehingga ketika air bah dan banjir melanda, rumah itu tidak dapat digoyahkan. Macam kedua adalah orang yang mendengar tetapi tidak melakukan perkataan Tuhan, bagai orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melanda, rumahnya segera rubuh dan hebat kerusakannya (Lukas 6:46-49). Mengapa Lukas kemudian melanjutkan mengenai seorang perwira yang hambanya disembuhkan oleh Yesus? Perwira (Centurion) di dalam Alkitab Perjanjian Baru, sering digambarkan sebagai seorang yang memiliki good character (lihat Pasal 7:4 dan Pasal 23:47). Perwira di Kapernaum yang memiliki hamba yang sakit keras, kemungkinan besar adalah kepala tangsi tentara Romawi atau kepala pasukan tentara sewaan Herodes Antipas. Apakah kepala pasukan itu berasal dari orang Romawi atau dari golongan penduduk lainnya (misalnya dari Siria atau Asia Kecil), tidak dapat ditentukan. Yang pasti bukan seorang Yahudi dan bukan seorang ”proselit” (orang bukan Yahudi yang telah masuk agama Yahudi). Ia adalah wakil dari penjajah Yahudi pada masa itu. Namun yang istimewa, orang-orang Yahudi mencintainya. Terlihat ketika ia meminta tua-tua Yahudi untuk datang kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Tua-tua Yahudi datang kepada Yesus dan berkata:”...Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami” (Lukas 7:4,5). Pada saat itu, di mana Yahudi dijajah oleh Romawi, seorang Centurion mengasihi bangsa jajahannya dan mau menanggung pembangunan rumah ibadat adalah sesuatu yang di luar kebiasaan. Ia juga menghargai hambanya yang sakit keras dan tinggal menunggu kematian (ready to die – NKJV). Perwira penjajah sangat mengasihi hambanya, hingga ia merasa tidak cukup meminta tua-tua Yahudi untuk datang kepada Yesus, ia juga minta sahabat-sahabatnya untuk menemui Yesus dan menyatakan deklarasi iman yang dikonfirmasi oleh Yesus Kristus sendiri yang membuat orang-orang Yahudi masa itu merasa malu! ”Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: ”Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." (Lukas 7: 6b-8). Tidak dapat dipastikan apakah perwira tersebut pernah menyaksikan Yesus melakukan mujizat atau hanya mendengar, namun jelas bahwa ia percaya sebelum Yesus melakukan mujizat. Secara eksplisit, perwira tersebut menyatakan ketidaklayakan dirinya menerima Yesus dalam rumahnya dan lebih lagi, ia menyatakan dirinya tidak layak untuk datang kepada Yesus. Perwira ini menyadari walau ia seorang perwira dengan 100 bawahan, yang berkuasa karena dari golongan penjajah Romawi, namun ia menyadari ketidaklayakan diriNya, sehingga hanya melalui iman, bukan pengalaman atau mujizat-mujizat, ia datang kepada Yesus Kristus. Apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk kita? 1. Kita harus mendengar dan menjadi pelaku firman Lukas dengan cerdas menempatkan kisah perwira dan hambanya setelah khotbah Yesus tentang dua orang yang membangun rumah, untuk menjadikan hamba dan perwira sebagai contoh orang yang membangun rumahnya di atas dasar yang kukuh, yaitu orang yang tidak hanya mendengar, tetapi melakukan firman Tuhan. Hamba perwira telah diurapi dan menjadi alat di tangan sehingga memiliki hikmat dan prestasi yang melebihi hamba-hamba lainnya. Ia juga memberitakan tentang Yesus kepada perwira sehingga benih iman ditabur pada perwira tersebut dengan kuasa Roh Kudus; Perwira tersebut tidak hanya menjadi pendengar firman yang telah disampaikan hambanya, namun menjadi pelaku firman. Ia menyadari walau ia adalah kepala 100 pasukan dari kaum penjajah yang berkuasa, namun ia merasa tidak layak menerima Yesus di rumahnya, bahkan untuk menemuiNya. Ia melakukan firman dengan mempercayakan dirinya dan hambanya sepenuhnya bersandar kepada firman yang keluar dari mulut Tuhan Yesus, walau mungkin ia belum pernah mengalami mujizat. ”Therefore I did not even think myself worthy to come to You. But say the word, and my servant will be healed” (Luke 7:7 – NKJV). “But say the word” menjadi deklarasi iman perwira tersebut kepada firman Tuhan Yesus. Menjadi pendengar firman saja tidak cukup. Kita juga harus menjadi pelaku firman. 2. Iman datang dari mendengar (membaca) firman Tuhan Hal kedua yang dapat kita pelajari adalah iman timbul dari mendengar firman Tuhan, bukan mujizat. Bangsa Israel selama 40 tahun melihat dan mengalami mujizat-mujizat Elohim di padang gurun sebelum memasuki tanah Kanaan, namun banyak yang Tuhan harus binasakan karena pemberontakan akibat ketidak percayaan mereka. Petrus bergaul akrab dengan Tuhan Yesus dan melihat begitu banyak kejadian supranatural termasuk mujizat, namun pada malam Yesus disalibkan, ia telah menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Di manakah orang-orang yang telah Tuhan Yesus sembuhkan selama masa hidupNya? Di manakah orang-orang yang mengelu-elukan Yesus sebagai raja, ketika Yesus memasuki kota dengan seekor keledai? Semua melarikan diri ketika Yesus disalib, bahkan mungkin ada di antara orang-orang yang berteriak: ”Salibkan Dia!”. Iman datang dari mendengar (membaca) firman Tuhan. Augustinus, bapa Gereja yang menginspirasi teolog-teolog besar, mengalami pertobatan setelah membaca Roma 13:13-14. Setelah bertobat, ia menghasilkan karya-karya theologi yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini. Martin Luther yang mencetuskan reformasi Kristen, menganalogikan bahwa pintu gerbang surga telah dibuka dan ia masuk ke dalamnya setelah menemukan makna dari ”orang benar hidup oleh iman” (Roma 1:17b) melalui pembacaan dan permenungan yang mendalam akan firman Tuhan. Charlotte Moon (1840 – 1912), terjamah oleh firman Tuhan yang dikhotbahkan pada kebaktian minggu pagi, dan ia memutuskan untuk menjadi seorang misionaris di Cina dengan bergabung dengan saudaranya, Edmonia, pada 1873 di Tengchow, sebelah utara propinsi Shantung. Ia dengan giat memberitakan Injil sampai kematiannya akibat kelaparan hebat dalam perjalanan di malam Natal pada 1912. Firman Elohim yang diberitakan melalui khotbah atau melalui pembacaan dan permenungan yang mendalam adalah dasar untuk membangun iman yang sejati. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Roma:”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). 3. Menjadi hamba yang setia dengan kesaksian hidup Iman perwira timbul karena Tuhan memakai hamba perwira tersebut untuk menjadi alatNya. Alkitab tidak mencatat secara jelas, siapa hamba tersebut. Hanya dicatat bahwa hamba tersebut sangat dihargai oleh perwira tersebut. Apa yang menyebabkan hamba tersebut sangat dihargai, hingga perwira mau susah payah mencari pertolongan bahkan merendahkan diri? Dapat disimpulkan bahwa hamba tersebut adalah hamba yang diurapi Tuhan sebagaimana Yusuf (Kejadian 39:4 dan 21) serta Daniel (Daniel 6:4), mendapatkan kasih sayang dari majikannya. Hamba itu mungkin telah bekerja sesuai dengan anjuran Paulus untuk bekerja dengan etos kerja Kristen yaitu: ”...segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Elohim, Bapa kita. (Kolose 3:17) serta ayat 22 - 24:”Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”. 4. Menjadi hamba yang setia dengan memberitakan firman Hamba tersebut menjadi pelaku firman dengan memberitakan Injil. Ada kemungkin, perwira tersebut mendengar berita Injil karena hamba tersebut tidak saja memberikan kesaksian lewat hidupnya, iapun secara verbal menceritakan tentang Yesus kepada perwira tersebut. Kesaksian hidup dan berita Injil yang dinyatakan, dengan kuasa Roh Kudus membuat iman perwira menunggu saat-saat untuk diteguhkan melalui perjumpaannya dengan Yesus Kristus. Kita tidak tahu dengan pasti apakah orang yang kita beritakan firman mau menerima dan percaya. Tetapi Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kesetiaan kita, karena Tuhan yang bekerja secara misterius. Seperti hamba perwira yang sangat sedikit dicatat oleh Alkitab, namun ia telah menyiapkan iman perwira untuk menjadi iman yang membuat ”kagum” Yesus dan menjadi tanda-tanda awal bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi bangsa-bangsa lain. Dapatkan Anda menjawab pertanyaan mengenai siapa yang mengajar Martin Luther theologinya dan memberi ilham kepadanya untuk menerjemahkan Perjanjian Baru? Siapa mengunjungi Dwight L Moody di sebuah toko sepatu dan bicara kepadanya tentang Kristus? Kehendak Elohim mungkin menetapkan kita menjadi alat yang tidak terlalu dikenal, seperti hamba perwira, namun memberi dampak kepada seorang yang akan dipakai Elohim secara luar biasa. Mungkin Anda menjadi Melanchton daripada Luther, dan seorang Kimball daripada seorang Dwight L Moody. Namun sebagaimana pengaruh Melanchton kepada Luther dan Kimball kepada Moody, keduanya dipakai Elohim sesuai rencanaNya. 5. Menjadi hamba yang rela dalam segala situasi Elohim terus memakai hamba perwira itu sebagai alatnya dengan mengijinkannya untuk sakit keras, bahkan nyaris mati. Penyakit, kesulitan, dukacita merupakan salah satu alat di tangan Elohim untuk menjadi saat-saat membangun atau meneguhkan iman. Justru karena hamba tersebut sakit keras, maka perwira penjajah itu mencari Yesus, bahkan merendahkan diri dan mendeklarasikan imannya yang dipakai Yesus sebagai contoh untuk mengkontraskan dengan ketidak percayaan orang Yahudi. Alkitab mencatat hanya dua kali Yesus kagum atau heran (amazed - NIV SRSB) yaitu terhadap ketidakpercayaan dari orang sekampung Yesus di Nazareth (”And He was amazed at their lack of faith - Mark 6:6 - NIV SRSB) dan kepada iman perwira penjajah di Kapernaum. Soli Deo Gloria. Catatan: NKJV = Alkitab New King James Version TB = Alkitab Terjemahan Baru, 1974 NIV SRSB = New International Version Spirit of The Reformation Study Bible ==================================================== From: ninin
Tentang dinosaurus Berikut ini adalah yang saya ketahui dan gumulkan tentang dinosaurus (dan juga topik-topik yang berhubungan dengan integrasi iman-ilmu lainnya) beberapa waktu terakhir ini (maaf kalo panjang yaa..). Hal yang pertama perlu kita lakukan selalu adalah membedakan antara fakta dan interpretasinya. Bicara tentang dunia sains, saya percaya bahwa sains yang benar tidak akan bertentangan dengan Alkitab karena sains adalah juga ciptaan yang bersumber dari Elohim. Akan tetapi, manusia berdosa sebagai pelaku sains dapat memakai sains sebagai alat untuk menolak Tuhan, dan hal inilah yang dalam dunia modern terakhir ini semakin nampak. Interpretasi terhadap fakta-fakta sains selalu akan bergantung kepada worldview dari seseorang. Banyak interpretasi sains sendiri yang ternyata sangat tidak valid jika diuji oleh metodologi dan cara berpikir ilmiah juga logika, misalnya hal-hal yang berhubungan dengan teori makro-evolusi, materialisme, dan naturalisme. Jadi, tidak perlu keburu bingung membandingkannya dengan Alkitab (kalau saya pakai bahasa gaul, yach ga level gitu loh dibandingkan dengan Alkitab). Berkenaan dengan dinosaurus, berikut saya mencoba mengemukakan fakta-faktanya dan membahas interpretasinya (mungkin lebih banyak menyentuh dunia sains-nya karena saya berkecimpung di situ). Fakta 1: istilah dinosaurus baru dipakai sekitar abad-18/19 ketika banyak ditemukan fosil reptil yang besar. Dinosaurus sendiri berarti terrible lizards, jadi dinosaurus hanyalah ‘nama’ untuk menyebutkan suatu jenis organisme tertentu pada suatu waktu tetapi masih dipakai hingga sekarang. Fakta 2: memang terdapat fosil-fosil binatang dari jenis reptil yang sudah tidak ada lagi di dunia saat ini. Ini bukanlah rekayasa sains atau mitos. Terdapat ratusan ribu fosil ‘dinosaurus’ yang sudah ditemukan di seluruh dunia, dari berbagai ukuran, dari yang sebesar ayam sampai seukuran paus biru atau bahkan lebih besar. Fakta 3: penemuan fosil organisme-organisme yang telah punah bukan hanya dari jenis dinosaurus saja, tetapi juga dari jenis organisme lain yaitu tumbuhan, hewan, dan lainnya, yang masih dapat diamati dengan mata telanjang (karena golongan bakteri terlalu kecil untuk dilihat). Fakta 4: ini yang tidak pernah diungkap oleh dunia sains ‘sekuler’, yaitu adanya fosil jejak kaki dinosaurus bersama-sama jejak kaki manusia dan gambar-gambar peninggalan kebudayaan kuno (lihat lampiran gambar). Fakta 5: juga ditemukan banyak fosil organisme yang masih ada sampai sekarang, dan bentuknya tidaklah berubah secara esensial (umumnya ukuran organisme yang memfosil lebih besar). Itulah sebabnya orang dapat mengidentifikasikannya dengan yang masih ada sekarang ini. Fakta 6: penentuan umur fosil ditentukan dengan metode index fossil. Jadi, pada setiap lapisan tanah pada kolom geologi terdapat fosil-fosil khusus yang ‘ditentukan’ menjadi ciri dari lapisan yang bersangkutan (fosil indeks). Semakin di bawah posisi beradanya fosil indeks tersebut, semakin tua lapisan tanah yang dimaksud. Di sini kita tidak lagi membahas fakta tapi interpretasi karena umur lapisan tanah tersebut ditentukan dari proses evolusi (yang adalah asumsi) fosil indeks tersebut!!! Fosil spesimen yang ditemukan akan dicocokkan dengan fosil indeksnya, lalu umurnya ditentukan dari lapisan tanah tempat fosil indeks yang sesuai berada. Kita bisa lihat dengan jelas bahwa di sini tidak dilakukan metodologi ilmiah apa pun untuk menentukan umur suatu fosil. Umur fosil T-rex yang dikatakan sekian juta tahun yang kita dengar selama ini dibangun berdasarkan asumsi makro-evolusionistik! Penganut uniformitarianisme, evolusionis, naturalis, dan sejenisnya yang pada dasarnya adalah ateistik, percaya bahwa materi itu kekal dan kehidupan berkembang darinya sehingga tidak perlu ada Pencipta. Orang-orang ini menempatkan sains dan rasio sebagai sesuatu yang ultimat. Proses terjadinya fosil sendiri sangat bergantung pada faham yang dipercayai. Fosil menurut mereka, terjadi secara perlahan-lahan pada organisme yang telah mati dalam kurun waktu yang sangat lama, yaitu pembatuan perlahan-lahan oleh sedimentasi (logikanya bagaimana mungkin fosil-fosil yang ada itu tetap utuh kalo terjadinya perlahan selama jutaan tahun?) Interpretasi tentang dinosaurus yang hidup jutaan tahun yang lalu dan akhirnya punah (baik oleh kondisi alam atau bencana, seperti meteor) sepenuhnya berasal dari asumsi evolusionistik. Dinosaurus yang adalah reptil berkembang dari ikan atau amfibi kemudian menjadi golongan burung. Konsep ini terus didengungkan, terlebih lagi dengan munculnya film Jurassic Park. Konsep inilah juga yang menginterpretasikan bahwa manusia tidak mungkin hidup sejaman dengan dinosaurus karena ketidakmungkinan urutan evolusi! Hal inilah yang seringkali membingungkan orang Kristen. Alkitab tidak pernah menyebut tentang dinosaurus. Dari fosil-fosilnya, sepertinya juga sangat tidak mungkin membayangkan manusia hidup berdampingan dengan dinosaurus. Jadi supaya tidak mengkompromikan Alkitab, kita lalu simpulkan kalo dinosaurus itu tidak ada… padahal fosilnya sendiri merupakan salah satu fakta sains. Kita membutakan diri atau menolak fakta karena dibingungkan oleh interpretasi sains yang memang bertujuan untuk menolak bahwa alam diciptakan oleh Tuhan. Tidakkah ada interpretasi yang lain yang dapat kita buat dari fakta-fakta itu? Tentu ada. Biblical worldview sebagai kacamata yang dipakai untuk melihat fakta-fakta tersebut akan menolong kita memahami bahwa kebenaran dalam sains pun adalah kebenaran Tuhan juga. Pertama-tama, kita jangan terkungkung oleh istilah dinosaurus, sebab seperti di awal saya ungkapkan, itu hanyalah istilah. Tapi itulah istilah yang disepakati ilmuwan di dunia sekarang untuk menyebut binatang reptil yang telah punah. So? Haruskah memaksa bahwa istilah itu ada di dalam Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada sekitar abad 16? Apakah Alkitab menyebutkan semua nama organisme seperti kita menyebutkannya sekarang? Lalu, ada banyak tafsiran berkenaan dengan binatang behemoth dan lewiathan di Ayub dan Mazmur, tapi ini bukanlah poin pembahasan saya saat ini tapi bahwa fakta 1 jelas tidak bertentangan dengan Alkitab. Fosil dino adalah fakta seperti juga fosil organisme lainnya (termasuk manusia). Fosil-fosil dino dan organisme lainnya yang telah punah hanyalah menunjukkan bahwa dulu di bumi pernah ada makhluk-makhluk itu tetapi oleh sesuatu hal tidak mampu bertahan hidup dan meneruskan jenisnya, juga ada makhluk lainnya yang terus bertahan hidup hingga sekarang (termasuk manusia). Inilah yang dapat disimpulkan dari Fakta 2,3 dan 5, yang juga tidak bertentangan dengan Alkitab. Lebih jauh, semua fakta itu dapat diinterpretasikan secara rapi dalam kerangka Alkitab yaitu kejadian air bah jaman Nuh. Organisme utuh dapat memfosil tanpa membusuk jika proses pembatuannya berlangsung relatif cepat (dimungkinkan oleh sedimentasi besar-besaran saat air bah). Terdapat penelitian dalam bidang ini, juga contoh-contoh binatang atau tumbuhan yang memfosil sewaktu masih hidup dan bergerak, dan kuburan fosil berisi ribuan timbunan organisme (jelaslah bukan proses perlahan-lahan dalam jutaan tahun). Mungkin, ada jenis dinosaurus yang masuk dalam bahtera Nuh juga (karena sekarang kita juga masih punya komodo dan reptil lainnya, iguana itu dinosaurus setuju ga?). Istilah jenis di sini lebih luas daripada istilah spesies yang dipakai biologi modern. Sehingga menurut saya, Tuhan menjamin keberlangsungan jenis hewan seperti jenis pada waktu diciptakan Nya, yaitu jenis dengan kemungkinan variabilitas yang besar (seperti kemungkinan bahwa macan, singa, dan macan tutul adalah satu jenis dalam Alkitab). Tetapi, seperti hewan-hewan lainnya yang keluar dari bahtera, kondisi alam sesudah banjir sangatlah berbeda dengan sebelumnya sehingga sangatlah mungkin banyak dari varian hewan itu tidak bertahan (punah). Jadi ada 2 macam kepunahan yaitu pada saat air bah dan sesudahnya. Kepunahan tidaklah bertentangan dengan Alkitab. Bukankah peristiwa banjir Nuh sendiri adalah karena Tuhan yang menghukum manusia dan dunia yang jahat? Tapi justru kita melihat adanya pemeliharaan dan anugerah Tuhan melalui Nuh, juga ketika kita melihat keragaman isi dunia kita sekarang ini. Jadi, jika kita mengerti bahwa dinosaurus hanyalah satu jenis hewan dari banyak yang diciptakan Tuhan juga, tidaklah sukar untuk menerima atau mengherankan kalau sejak dari awal pun mereka hidup bersama-sama dengan manusia, dan bahkan dinamai juga oleh Adam. Sekali lagi, konsep T-Rex sebagai pemakan daging yang buas dan menakutkan adalah konsep yang didapatkan dari asumsi sains yang evolusionistik. Film Jurassic Park menggambarkan dinosaurus hidup dalam warna-warna aslinya dan pola hidupnya dan perilakunya. Sains dapat mengasumsikan hal-hal tersebut tetapi sangat terbatas, apalagi datanya diambil dari catatan fosil saja. Jadi, sekali lagi ingatlah bahwa sebagian besar konsep dinosaurus yang kita dengar dari media itu adalah asumsi ilmuwan. Bukan tidak mungkin bahwa T-Rex adalah pemakan tumbuhan seperti panda sekarang, mengingat juga bahwa semua hewan pada mulanya adalah herbivora. Kalaupun, T-Rex memang adalah binatang buas, apakah aneh untuk melihatnya tinggal di dunia dengan manusia? Bukankah itu seperti melihat manusia bersafari dengan singa di Afrika, atau beruang di Amerika, atau buaya di Australia? Fakta 5 adalah hal yang mungkin tidak pernah Anda temui di film dokumenter ‘sekuler’ karena memang fakta ini akan melawan konsep yang ingin dikembangkan oleh pelaku sains ateistik. Fakta 6 juga merupakan sesuatu yang tidak akan dibahas atau bahkan diakui oleh ‘mereka’. Dinosaurus memang erat kaitannya dengan topik evolusi karena dinosaurus pada khususnya dan fosil secara umum adalah salah satu ikon evolusi. Pada prinsipnya, dalam dunia sains sekarang ini, teori evolusi adalah suatu fakta yang tidak patut diragukan kebenarannya. Anda bukanlah ilmuwan sejati kalau mempertanyakan asumsi-asumsi teori evolusi. Apapun fakta yang ada akan diinterpretasikan (atau bahkan dimanipulasi) berdasar kepentingan pembuktian teori evolusi. Oke, selesai sudah yang saya ingin bagikan. Terima kasih buat yang tahan membaca sampai akhir. Masih banyak keterbatasan pastinya, tapi mungkin referensi berikut dapat membantu. www.answersingenesis.org www.icr.org www.creationministry.org Syalom, Ninin

