From: Ronny Simatupang 

Perwira Penjajah yang Beriman dan Hambanya (Lukas 7:1-10)  
oleh: Ronny 
 
“Then Jesus went with them. And when He was already not far from the house, the 
centurion sent friends to Him, saying to Him, "Lord, do not trouble Yourself, 
for I am not worthy that You should enter under my roof. Therefore I did not 
even think myself worthy to come to You. But say the word, and my servant will 
be healed. (Luke 7:6,7 - NKJV) 
 
”Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari 
rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan 
kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima 
Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk 
datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan 
sembuh”. (Lukas 7:6,7 - TB)  
 
Bayangkan seorang General Manager di suatu perusahaan yang cukup besar, 
dicintai oleh bawahannya dan memiliki kolega-kolega sesama General Manager di 
perusahaan besar lain. Ia memiliki seorang pembantu rumah tangga yang suatu 
hari sedang sakit sangat keras dan bahkan hampir mati. Namun ia tidak 
memberhentikan pembantunya tersebut dan mengirim pulang ke kampung halaman 
untuk kemudian mencari pembantu rumah tangga lain sebagai gantinya, melainkan 
ia meminta bawahannya untuk mencari seorang dokter yang sangat terkenal, dengan 
jadwal padat dan sangat mahal tarifnya untuk mengobati pembantunya tersebut! Ia 
bahkan meminta kolega-koleganya untuk mencarikan, kalau perlu ia sendiri yang 
mencari dan meminta pertolongan dokter! Analogi ini mungkin kurang bisa 
menggambarkan perwira yang mengasihi hambanya seperti yang Injil Lukas 
ceritakan di pasal 7 ayat 1 sampai dengan 10. Namun paling tidak memberikan 
gambaran peristiwa tersebut di masa kini. 
 
Dokter Lukas meletakkan kisah tentang perwira di Kapernaum setelah khotbah 
Yesus mengenai dua macam orang. Orang macam pertama adalah yang mendengar dan 
melakukan perkataan Tuhan Yesus, ibarat membangun rumah dengan menggali 
dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu, dasar yang kokoh, sehingga 
ketika air bah dan banjir melanda, rumah itu tidak dapat digoyahkan. Macam 
kedua adalah orang yang mendengar tetapi tidak melakukan perkataan Tuhan, bagai 
orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melanda, 
rumahnya segera rubuh dan hebat kerusakannya (Lukas 6:46-49). Mengapa Lukas 
kemudian melanjutkan mengenai seorang perwira yang hambanya disembuhkan oleh 
Yesus? 
 
Perwira (Centurion) di dalam Alkitab Perjanjian Baru, sering digambarkan 
sebagai seorang yang memiliki good character (lihat Pasal 7:4 dan Pasal 23:47). 
Perwira di Kapernaum yang memiliki hamba yang sakit keras, kemungkinan besar 
adalah kepala tangsi tentara Romawi atau kepala pasukan tentara sewaan Herodes 
Antipas. Apakah kepala pasukan itu berasal dari orang Romawi atau dari golongan 
penduduk lainnya (misalnya dari Siria atau Asia Kecil), tidak dapat ditentukan. 
Yang pasti bukan seorang Yahudi dan bukan seorang ”proselit” (orang bukan 
Yahudi yang telah masuk agama Yahudi). Ia adalah wakil dari penjajah Yahudi 
pada masa itu. Namun yang istimewa, orang-orang Yahudi mencintainya. Terlihat 
ketika ia meminta tua-tua Yahudi untuk datang kepada Yesus untuk menyembuhkan 
hambanya. Tua-tua Yahudi datang kepada Yesus dan berkata:”...Ia layak Engkau 
tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan 
rumah ibadat kami” (Lukas 7:4,5).  Pada saat itu, di mana Yahudi dijajah oleh 
Romawi, seorang Centurion mengasihi bangsa jajahannya dan mau menanggung 
pembangunan rumah ibadat adalah sesuatu yang di luar kebiasaan. Ia juga 
menghargai hambanya yang sakit keras dan tinggal menunggu kematian (ready to 
die – NKJV). 
 
Perwira penjajah sangat mengasihi hambanya, hingga ia merasa tidak cukup 
meminta tua-tua Yahudi untuk datang kepada Yesus, ia juga minta 
sahabat-sahabatnya untuk menemui Yesus dan menyatakan deklarasi iman yang 
dikonfirmasi oleh Yesus Kristus sendiri yang membuat orang-orang Yahudi masa 
itu merasa malu! ”Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu 
menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: ”Tuan, janganlah 
bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu 
aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan 
saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang 
bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah 
seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, 
maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia 
mengerjakannya." (Lukas 7: 6b-8). Tidak dapat dipastikan apakah perwira 
tersebut pernah menyaksikan Yesus melakukan mujizat atau hanya mendengar, namun 
jelas bahwa ia percaya sebelum Yesus melakukan mujizat. Secara eksplisit, 
perwira tersebut menyatakan ketidaklayakan dirinya menerima Yesus dalam 
rumahnya dan lebih lagi, ia menyatakan dirinya tidak layak untuk datang kepada 
Yesus. Perwira ini menyadari walau ia seorang perwira dengan 100 bawahan, yang 
berkuasa karena dari golongan penjajah Romawi, namun ia menyadari 
ketidaklayakan diriNya, sehingga hanya melalui iman, bukan pengalaman atau 
mujizat-mujizat, ia datang kepada Yesus Kristus. 
 
Apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk kita? 
 
1.     Kita harus mendengar dan menjadi pelaku firman 
Lukas dengan cerdas menempatkan kisah perwira dan hambanya setelah khotbah 
Yesus tentang dua orang yang membangun rumah, untuk menjadikan hamba dan 
perwira sebagai contoh orang yang membangun rumahnya di atas dasar yang kukuh, 
yaitu orang yang tidak hanya mendengar, tetapi melakukan firman Tuhan. Hamba 
perwira telah diurapi dan menjadi alat di tangan sehingga memiliki hikmat dan 
prestasi yang melebihi hamba-hamba lainnya. Ia juga memberitakan tentang Yesus 
kepada perwira sehingga benih iman ditabur pada perwira tersebut dengan kuasa 
Roh Kudus; Perwira tersebut tidak hanya menjadi pendengar firman yang telah 
disampaikan hambanya, namun menjadi pelaku firman. Ia menyadari walau ia adalah 
kepala 100 pasukan dari kaum penjajah yang berkuasa, namun ia merasa tidak 
layak menerima Yesus di rumahnya, bahkan untuk menemuiNya. Ia melakukan firman 
dengan mempercayakan dirinya dan hambanya sepenuhnya bersandar kepada firman 
yang keluar dari mulut Tuhan Yesus, walau mungkin ia belum pernah mengalami 
mujizat. ”Therefore I did not even think myself worthy to come to You. But say 
the word, and my servant will be healed” (Luke 7:7 – NKJV). “But say the word” 
menjadi deklarasi iman perwira tersebut kepada firman Tuhan Yesus. Menjadi 
pendengar firman saja tidak cukup. Kita juga harus menjadi pelaku firman. 
 
2.     Iman datang dari mendengar (membaca) firman Tuhan 
Hal kedua yang dapat kita pelajari adalah iman timbul dari mendengar firman 
Tuhan, bukan mujizat. Bangsa Israel selama 40 tahun melihat dan mengalami 
mujizat-mujizat Elohim di padang gurun sebelum memasuki tanah Kanaan, namun 
banyak yang Tuhan harus binasakan karena pemberontakan akibat ketidak percayaan 
mereka. Petrus bergaul akrab dengan Tuhan Yesus dan melihat begitu banyak 
kejadian supranatural termasuk mujizat, namun pada malam Yesus disalibkan, ia 
telah menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali. Di manakah orang-orang yang telah 
Tuhan Yesus sembuhkan selama masa hidupNya? Di manakah orang-orang yang 
mengelu-elukan Yesus sebagai raja, ketika Yesus memasuki kota dengan seekor 
keledai? Semua melarikan diri ketika Yesus disalib, bahkan mungkin ada di 
antara orang-orang yang berteriak: ”Salibkan Dia!”. Iman datang dari mendengar 
(membaca) firman Tuhan. Augustinus, bapa Gereja yang menginspirasi 
teolog-teolog besar, mengalami pertobatan setelah membaca Roma 13:13-14. 
Setelah bertobat, ia menghasilkan karya-karya theologi yang sulit dicari 
tandingannya sampai saat ini. Martin Luther yang mencetuskan reformasi Kristen, 
menganalogikan bahwa pintu gerbang surga telah dibuka dan ia masuk ke dalamnya 
setelah menemukan makna dari ”orang benar hidup oleh iman” (Roma 1:17b) melalui 
pembacaan dan permenungan yang mendalam akan firman Tuhan. Charlotte Moon (1840 
– 1912), terjamah oleh firman Tuhan yang dikhotbahkan pada kebaktian minggu 
pagi, dan ia memutuskan untuk menjadi seorang misionaris di Cina dengan 
bergabung dengan saudaranya, Edmonia, pada 1873 di Tengchow, sebelah utara 
propinsi Shantung. Ia dengan giat memberitakan Injil sampai kematiannya akibat 
kelaparan hebat dalam perjalanan di malam Natal pada 1912. Firman Elohim yang 
diberitakan melalui khotbah atau melalui pembacaan dan permenungan yang 
mendalam adalah dasar untuk membangun iman yang sejati. Sebagaimana Paulus 
menulis kepada jemaat Roma:”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran 
oleh firman Kristus” (Roma 10:17). 
 
3.     Menjadi hamba yang setia dengan kesaksian hidup 
Iman perwira timbul karena Tuhan memakai hamba perwira tersebut untuk menjadi 
alatNya. Alkitab tidak mencatat secara jelas, siapa hamba tersebut. Hanya 
dicatat bahwa hamba tersebut sangat dihargai oleh perwira tersebut. Apa yang 
menyebabkan hamba tersebut sangat dihargai, hingga perwira mau susah payah 
mencari pertolongan bahkan merendahkan diri? Dapat disimpulkan bahwa hamba 
tersebut adalah hamba yang diurapi Tuhan sebagaimana Yusuf (Kejadian 39:4 dan 
21) serta Daniel (Daniel 6:4), mendapatkan kasih sayang dari majikannya. Hamba 
itu mungkin telah bekerja sesuai dengan anjuran Paulus untuk bekerja dengan 
etos kerja Kristen yaitu: ”...segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan 
atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap 
syukur oleh Dia kepada Elohim, Bapa kita. (Kolose 3:17) serta ayat 22 - 24:”Hai 
hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya 
di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati 
karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan 
segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa 
dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. 
Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”. 
 
4.     Menjadi hamba yang setia dengan memberitakan firman   
Hamba tersebut menjadi pelaku firman dengan memberitakan Injil. Ada kemungkin, 
perwira tersebut mendengar berita Injil karena hamba tersebut tidak saja 
memberikan kesaksian lewat hidupnya, iapun secara verbal menceritakan tentang 
Yesus kepada perwira tersebut. Kesaksian hidup dan berita Injil yang 
dinyatakan, dengan kuasa Roh Kudus membuat iman perwira menunggu saat-saat 
untuk diteguhkan melalui perjumpaannya dengan Yesus Kristus. Kita tidak tahu 
dengan pasti apakah orang yang kita beritakan firman mau menerima dan percaya. 
Tetapi Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kesetiaan kita, karena Tuhan yang 
bekerja secara misterius. Seperti hamba perwira yang sangat sedikit dicatat 
oleh Alkitab, namun ia telah menyiapkan iman perwira untuk menjadi iman yang 
membuat ”kagum” Yesus dan menjadi tanda-tanda awal bahwa keselamatan dalam 
Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi bangsa-bangsa lain. 
 
Dapatkan Anda menjawab pertanyaan mengenai siapa yang mengajar Martin Luther 
theologinya dan memberi ilham kepadanya untuk menerjemahkan Perjanjian Baru? 
Siapa mengunjungi Dwight L Moody di sebuah toko sepatu dan bicara kepadanya 
tentang Kristus? Kehendak Elohim mungkin menetapkan kita menjadi alat yang 
tidak terlalu dikenal, seperti hamba perwira, namun memberi dampak kepada 
seorang yang akan dipakai Elohim secara luar biasa. Mungkin Anda menjadi 
Melanchton daripada Luther, dan seorang Kimball daripada seorang Dwight L 
Moody. Namun sebagaimana pengaruh Melanchton kepada Luther dan Kimball kepada 
Moody, keduanya dipakai Elohim sesuai rencanaNya. 
 
5.     Menjadi hamba yang rela dalam segala situasi 
Elohim terus memakai hamba perwira itu sebagai alatnya dengan mengijinkannya 
untuk sakit keras, bahkan nyaris mati. Penyakit, kesulitan, dukacita merupakan 
salah satu alat di tangan Elohim untuk menjadi saat-saat membangun atau 
meneguhkan iman. Justru karena hamba tersebut sakit keras, maka perwira 
penjajah itu mencari Yesus, bahkan merendahkan diri dan mendeklarasikan imannya 
yang dipakai Yesus sebagai contoh untuk mengkontraskan dengan ketidak percayaan 
orang Yahudi. Alkitab mencatat hanya dua kali Yesus kagum atau heran (amazed - 
NIV SRSB) yaitu terhadap ketidakpercayaan dari orang sekampung Yesus di 
Nazareth (”And He was amazed at their lack of faith - Mark 6:6 - NIV SRSB) dan 
kepada iman perwira penjajah di Kapernaum. Soli Deo Gloria. 
 
Catatan: 
NKJV                      = Alkitab New King James Version 
TB                           = Alkitab Terjemahan Baru, 1974 
NIV SRSB              = New International Version Spirit of The Reformation 
Study Bible 
====================================================
From: ninin 

Tentang dinosaurus

Berikut ini adalah yang saya ketahui dan gumulkan tentang dinosaurus (dan juga 
topik-topik yang berhubungan dengan integrasi iman-ilmu lainnya) beberapa waktu 
terakhir ini (maaf kalo panjang yaa..).
Hal yang pertama perlu kita lakukan selalu adalah membedakan antara fakta dan 
interpretasinya. Bicara tentang dunia sains, saya percaya bahwa sains yang 
benar tidak akan bertentangan dengan Alkitab karena sains adalah juga ciptaan 
yang bersumber dari Elohim. Akan tetapi, manusia berdosa sebagai pelaku sains 
dapat memakai sains sebagai alat untuk menolak Tuhan, dan hal inilah yang dalam 
dunia modern terakhir ini semakin nampak. Interpretasi terhadap fakta-fakta 
sains selalu akan bergantung kepada worldview dari seseorang. Banyak 
interpretasi sains sendiri yang ternyata sangat tidak valid jika diuji oleh 
metodologi dan cara berpikir ilmiah juga logika, misalnya hal-hal yang 
berhubungan dengan teori makro-evolusi, materialisme, dan naturalisme. Jadi, 
tidak perlu keburu bingung membandingkannya dengan Alkitab (kalau saya pakai 
bahasa gaul, yach ga level gitu loh dibandingkan dengan Alkitab).

Berkenaan dengan dinosaurus, berikut saya mencoba mengemukakan fakta-faktanya 
dan membahas interpretasinya (mungkin lebih banyak menyentuh dunia sains-nya 
karena saya berkecimpung di situ).
Fakta 1: istilah dinosaurus baru dipakai sekitar abad-18/19 ketika banyak 
ditemukan fosil reptil yang besar. Dinosaurus sendiri berarti terrible lizards, 
jadi dinosaurus hanyalah ‘nama’ untuk menyebutkan suatu jenis organisme 
tertentu pada suatu waktu tetapi masih dipakai hingga sekarang.

Fakta 2: memang terdapat fosil-fosil binatang dari jenis reptil yang sudah 
tidak ada lagi di dunia saat ini. Ini bukanlah rekayasa sains atau mitos. 
Terdapat ratusan ribu fosil ‘dinosaurus’ yang sudah ditemukan di seluruh dunia, 
dari berbagai ukuran, dari yang sebesar ayam sampai seukuran paus biru atau 
bahkan lebih besar.

Fakta 3: penemuan fosil organisme-organisme yang telah punah bukan hanya dari 
jenis dinosaurus saja, tetapi juga dari jenis organisme lain yaitu tumbuhan, 
hewan, dan lainnya, yang masih dapat diamati dengan mata telanjang (karena 
golongan bakteri terlalu kecil untuk dilihat).

Fakta 4: ini yang tidak pernah diungkap oleh dunia sains ‘sekuler’, yaitu 
adanya fosil jejak kaki dinosaurus bersama-sama jejak kaki manusia dan 
gambar-gambar peninggalan kebudayaan kuno (lihat lampiran gambar).

Fakta 5: juga ditemukan banyak fosil organisme yang masih ada sampai sekarang, 
dan bentuknya tidaklah berubah secara esensial (umumnya ukuran organisme yang 
memfosil lebih besar). Itulah sebabnya orang dapat mengidentifikasikannya 
dengan yang masih ada sekarang ini.

Fakta 6: penentuan umur fosil ditentukan dengan metode index fossil. Jadi, pada 
setiap lapisan tanah pada kolom geologi terdapat fosil-fosil khusus yang 
‘ditentukan’ menjadi ciri dari lapisan yang bersangkutan (fosil indeks). 
Semakin di bawah posisi beradanya fosil indeks tersebut, semakin tua lapisan 
tanah yang dimaksud. Di sini kita tidak lagi membahas fakta tapi interpretasi 
karena umur lapisan tanah tersebut ditentukan dari proses evolusi (yang adalah 
asumsi) fosil indeks tersebut!!! Fosil spesimen yang ditemukan akan dicocokkan 
dengan fosil indeksnya, lalu umurnya ditentukan dari lapisan tanah tempat fosil 
indeks yang sesuai berada. Kita bisa lihat dengan jelas bahwa di sini tidak 
dilakukan metodologi ilmiah apa pun untuk menentukan umur suatu fosil. Umur 
fosil T-rex yang dikatakan sekian juta tahun yang kita dengar selama ini 
dibangun berdasarkan asumsi makro-evolusionistik!

Penganut uniformitarianisme, evolusionis, naturalis, dan sejenisnya yang pada 
dasarnya adalah ateistik, percaya bahwa materi itu kekal dan kehidupan 
berkembang darinya sehingga tidak perlu ada Pencipta. Orang-orang ini 
menempatkan sains dan rasio sebagai sesuatu yang ultimat. Proses terjadinya 
fosil sendiri sangat bergantung pada faham yang dipercayai. Fosil menurut 
mereka, terjadi secara perlahan-lahan pada organisme yang telah mati dalam 
kurun waktu yang sangat lama, yaitu pembatuan perlahan-lahan oleh sedimentasi 
(logikanya bagaimana mungkin fosil-fosil yang ada itu tetap utuh kalo 
terjadinya perlahan selama jutaan tahun?)

Interpretasi tentang dinosaurus yang hidup jutaan tahun yang lalu dan akhirnya 
punah (baik oleh kondisi alam atau bencana, seperti meteor) sepenuhnya berasal 
dari asumsi evolusionistik. Dinosaurus yang adalah reptil berkembang dari ikan 
atau amfibi kemudian menjadi golongan burung. Konsep ini terus didengungkan, 
terlebih lagi dengan munculnya film Jurassic Park. Konsep inilah juga yang 
menginterpretasikan bahwa manusia tidak mungkin hidup sejaman dengan dinosaurus 
karena ketidakmungkinan urutan evolusi! Hal inilah yang seringkali 
membingungkan orang Kristen. Alkitab tidak pernah menyebut tentang dinosaurus. 
Dari fosil-fosilnya, sepertinya juga sangat tidak mungkin membayangkan manusia 
hidup berdampingan dengan dinosaurus. Jadi supaya tidak mengkompromikan 
Alkitab, kita lalu simpulkan kalo dinosaurus itu tidak ada… padahal fosilnya 
sendiri merupakan salah satu fakta sains. Kita membutakan diri atau menolak 
fakta karena dibingungkan oleh interpretasi sains yang memang bertujuan untuk 
menolak bahwa alam diciptakan oleh Tuhan. Tidakkah ada interpretasi yang lain 
yang dapat kita buat dari fakta-fakta itu? Tentu ada. Biblical worldview 
sebagai kacamata yang dipakai untuk melihat fakta-fakta tersebut akan menolong 
kita memahami bahwa kebenaran dalam sains pun adalah kebenaran Tuhan juga.

Pertama-tama, kita jangan terkungkung oleh istilah dinosaurus, sebab seperti di 
awal saya ungkapkan, itu hanyalah istilah. Tapi itulah istilah yang disepakati 
ilmuwan di dunia sekarang untuk menyebut binatang reptil yang telah punah. So? 
Haruskah memaksa bahwa istilah itu ada di dalam Alkitab yang diterjemahkan 
dalam bahasa Inggris pada sekitar abad 16? Apakah Alkitab menyebutkan semua 
nama organisme seperti kita menyebutkannya sekarang?
Lalu, ada banyak tafsiran berkenaan dengan binatang behemoth dan lewiathan di 
Ayub dan Mazmur, tapi ini bukanlah poin pembahasan saya saat ini tapi bahwa 
fakta 1 jelas tidak bertentangan dengan Alkitab.
Fosil dino adalah fakta seperti juga fosil organisme lainnya (termasuk 
manusia). Fosil-fosil dino dan organisme lainnya yang telah punah hanyalah 
menunjukkan bahwa dulu di bumi pernah ada makhluk-makhluk itu tetapi oleh 
sesuatu hal tidak mampu bertahan hidup dan meneruskan jenisnya, juga ada 
makhluk lainnya yang terus bertahan hidup hingga sekarang (termasuk manusia). 
Inilah yang dapat disimpulkan dari Fakta 2,3 dan 5, yang juga tidak 
bertentangan dengan Alkitab. Lebih jauh, semua fakta itu dapat 
diinterpretasikan secara rapi dalam kerangka Alkitab yaitu kejadian air bah 
jaman Nuh. Organisme utuh dapat memfosil tanpa membusuk jika proses 
pembatuannya berlangsung relatif cepat (dimungkinkan oleh sedimentasi 
besar-besaran saat air bah). Terdapat penelitian dalam bidang ini, juga 
contoh-contoh binatang atau tumbuhan yang memfosil sewaktu masih hidup dan 
bergerak, dan kuburan fosil berisi ribuan timbunan organisme (jelaslah bukan 
proses perlahan-lahan dalam jutaan tahun). 

Mungkin, ada jenis dinosaurus yang masuk dalam bahtera Nuh juga (karena 
sekarang kita juga masih punya komodo dan reptil lainnya, iguana itu dinosaurus 
setuju ga?). Istilah jenis di sini lebih luas daripada istilah spesies yang 
dipakai biologi modern. Sehingga menurut saya, Tuhan menjamin keberlangsungan 
jenis hewan seperti jenis pada waktu diciptakan Nya, yaitu jenis dengan 
kemungkinan variabilitas yang besar (seperti kemungkinan bahwa macan, singa, 
dan macan tutul adalah satu jenis dalam Alkitab). Tetapi, seperti hewan-hewan 
lainnya yang keluar dari bahtera, kondisi alam sesudah banjir sangatlah berbeda 
dengan sebelumnya sehingga sangatlah mungkin banyak dari varian hewan itu tidak 
bertahan (punah). Jadi ada 2 macam kepunahan yaitu pada saat air bah dan 
sesudahnya. Kepunahan tidaklah bertentangan dengan Alkitab. Bukankah peristiwa 
banjir Nuh sendiri adalah karena Tuhan yang menghukum manusia dan dunia yang 
jahat? Tapi justru kita melihat adanya pemeliharaan dan anugerah Tuhan melalui 
Nuh, juga ketika kita melihat keragaman isi dunia kita sekarang ini.

Jadi, jika kita mengerti bahwa dinosaurus hanyalah satu jenis hewan dari banyak 
yang diciptakan Tuhan juga, tidaklah sukar untuk menerima atau mengherankan 
kalau sejak dari awal pun mereka hidup bersama-sama dengan manusia, dan bahkan 
dinamai juga oleh Adam. Sekali lagi, konsep T-Rex sebagai pemakan daging yang 
buas dan menakutkan adalah konsep yang didapatkan dari asumsi sains yang 
evolusionistik. Film Jurassic Park menggambarkan dinosaurus hidup dalam 
warna-warna aslinya dan pola hidupnya dan perilakunya. Sains dapat 
mengasumsikan hal-hal tersebut tetapi sangat terbatas, apalagi datanya diambil 
dari catatan fosil saja. Jadi, sekali lagi ingatlah bahwa sebagian besar konsep 
dinosaurus yang kita dengar dari media itu adalah asumsi ilmuwan.
Bukan tidak mungkin bahwa T-Rex adalah pemakan tumbuhan seperti panda sekarang, 
mengingat juga bahwa semua hewan pada mulanya adalah herbivora. Kalaupun, T-Rex 
memang adalah binatang buas, apakah aneh untuk melihatnya tinggal di dunia 
dengan manusia? Bukankah itu seperti melihat manusia bersafari dengan singa di 
Afrika, atau beruang di Amerika, atau buaya di Australia? Fakta 5 adalah hal 
yang mungkin tidak pernah Anda temui di film dokumenter ‘sekuler’ karena memang 
fakta ini akan melawan konsep yang ingin dikembangkan oleh pelaku sains 
ateistik.

Fakta 6 juga merupakan sesuatu yang tidak akan dibahas atau bahkan diakui oleh 
‘mereka’. Dinosaurus memang erat kaitannya dengan topik evolusi karena 
dinosaurus pada khususnya dan fosil secara umum adalah salah satu ikon evolusi. 
Pada prinsipnya, dalam dunia sains sekarang ini, teori evolusi adalah suatu 
fakta yang tidak patut diragukan kebenarannya.  Anda bukanlah ilmuwan sejati 
kalau mempertanyakan asumsi-asumsi teori evolusi. Apapun fakta yang ada akan 
diinterpretasikan (atau bahkan dimanipulasi) berdasar kepentingan pembuktian 
teori evolusi.

Oke, selesai sudah yang saya  ingin bagikan. Terima kasih buat yang tahan 
membaca sampai akhir.  Masih banyak keterbatasan pastinya, tapi mungkin 
referensi berikut dapat membantu.
www.answersingenesis.org
www.icr.org
www.creationministry.org

Syalom,
Ninin

Kirim email ke