From: raymond dan SEPULUH SEN, SEPULUH RIBU JIWA (Tiongkok, 1885 - 1935)
Dr. Charles Maddry semalam baru tiba di kota Pingdu, Tiongkok Utara. Ia dan kawan-kawannya dari Amerika Serikat itu sangat capai. Pada tahun 1835 itu, belum ada kapal terbang jet yang dalam waktu beberapa jam saja dapat membawa seseorang dari benua Amerika ke benua Tiongkok. Pelayaran melintasi Lautan Pasifik dengan naik kapal api itu, cukup memakan waktu dan cukup meletihkan bagi para penumpangnya. Lagi pula, cuaca pada bulan Juni tahun 1935 itu cuku panas. Dr. Maddry adalah direktur internasional yang mengawasi pelayanan ratusan utusan Injil Baptis di seluruh dunia. Ia dengan kawan-kawannya dari Amerika Serikat telah datang untuk menengok perkembangan gereja-gereja di Tiongkok Utara. Pada pagi hari yang panas di bulan Juni itu, Dr. Maddry bangun agak kesiangan, lalu duduk dan sarapan dengan kawan-kawannya. Tuan rumahnya, salah seorang utusan Injil setempat, ternyata bangun lebih pagi dan sudah keluar rumah. Tiba-tiba tuan rumah itu pulang dan mengumumkan: "Pendeta Lie sudah datang dan sedang menunggu Saudara sekalian!" Rasa capai yang dialami Dr. Maddry itu seolah-olah hilang. Sudah lama ia ingin bertemu dengan Pendeta Lie. Bukankah para utusan Injil yang bercuti dinas ke Amerika berkali-kali bercerita tentang pendeta yang sudah tua itu? Bukankah setiap surat dan laporan yang datang dari Tiongkok Utara itu selalu menyebutkan pelayanannya yang setia? "Terima kasih atas berita itu!" kata Dr. Maddry. Lalu ia dan teman-temannya cepat-cepat menyelesaikan sarapan mereka, agar mereka dapat ikut pergi ke tempat Pendeta Lie sedang menunggu mereka. Beberapa waktu kemudian Dr. Maddry berhadapan muka dengan hamba Tuhan yang sudah lama di dengarnya itu. Dr. Maddry sendiri lebih tinggi tubuhnya daripada kebanyakan orang Barat. Namun orang Timur yang sedang berdiri tegak di depannya itu tinggi juga; lagi pula, pembawaannya penuh wibawa. Jubahnya yang panjang dan jenggotnya yang putih itu menambah luhur penampilannya. Kedua bapak yang tinggi itu berjabatan tangan. Salah seorang utusan Injil menemani mereka sebagai penerjemah, karena Dr. Maddry tidak dapat berbicara bahasa Mandarin, dan Pendeta Lie tidak dapat berbicara bahasa Inggris. Secara basa-basi, selama mereka berdua saling berkenalan, Dr. Maddry mendengar bahwa Pendeta Lie sudah berumur 75 tahun. Namun ia masih kuat: Buktinya, tadi pagi ia telah bangun jam empat, lalu sebelum sarapan, ia berjalan kaki sejauh dua belas kilometer agar dapat bertemu dengan saudara-saudara seiman yang datang dari jauh. Sepanjang hari kedua bapak yang tinggi itu berkeliling bersama-sama; mereka menengok beberapa gereja, sekolah, dan rumah sakit Kristen di kota Pingdu. Lalu Pendeta Lie mengajak Dr. Maddry untuk meninggalkan dulu tempat ramai dan beristirahat sejenak. Kedua bapak yang tinggi itu bersama-sama memasuki sebuah taman yang indah. Mereka berdiri di pinggir sebuah kuburan. "Ini kuburan pendeta Amerika yang dulu sangat membina watak saya," Pendeta Lie bercerita kepada sang tamu melalui pengalih bahasa itu. "Apakah dia yang mula-mula membimbing Bapak sampai percaya kepada Tuhan Yesus?" tanya Dr. Maddry. "O, bukan! saya sudah menjadi orang Kristen waktu masih muda, waktu dulu di kampung," jawab Pendeta Lie. "Di manakah kampung halaman Bapak?" "Di Sah Ling, dekat kota Tengzhou." "Tentu Dr. Maddry tahu mengenai Tengzhou. Kota itu dulu menjadi pusat pelayanan Nona Lottie Moon, utusan Injil Baptis almarhumah yang paling terkenal itu. Bukankah persembahan khusus untuk penginjilan sedunia yang dukumpulkan setiap Hari Natal di Amerika Serikat itu diberi nama menurut nama Nona Lottie Moon?" Dr. Maddry bertanya lagi, apakah Pendeta Lie pernah mengenal Nona Moon. Waktu pertanyaannya diterjemahkan, ia sempat mendengar nama penginjil wanita yang termasyhur itu dalam bentuk bahasa Tionghoa: Mu Lah Die. "Memang dulu saya kenal Mu Lah Die," jawab Pendeta Lie dengan semangat. "Tetapi juga bukan dia, yang memenangkan jiwa saya bagi Tuhan Yesus . . . atau boleh dikatakan, bukan dia yang secara langsung berbuat demikian." "Hmmm, kedengarannya sangat menarik, Pendeta," sahut Dr. Maddry. "Coba ceritakan!" Maka pendeta Tionghoa yang sudah tua itu menyampaikan sebuah cerita yang sungguh mempesonakan temannya dari Amerika . . . . Menjelang akhir abad ke-19, desa Sah Ling memang kecil, namun makmur. Jumlah penduduknya, kurang lebih seratus jiwa. Dan setiap penduduk itu bernama Lie! Sesungguhnya mereka semua masih ada hubungan keluarga satu sama lain. Salah seorang penduduk lama di Sah Ling itu biasanya dijuluki: "Si Kakek Lie." Ia memang termasuk yang tertua di desa itu. Pada tahun-tahun 1880-an itu, penduduk desa Sah Ling mulai mendengar tentang seorang wanita aneh yang sewaktu-waktu keluar dari kota Tengzhou dan berkeliling di daerah pedesaan. Dia itu seorang Barat, tetapi ia suka berpakaian seperti seorang wanita Tionghoa hanya saja, kakinya terlalu besar. Rupanya kaki wanita Amerika itu tidak pernah diikat agar tetap kecil, seperti kaki wanita Tionghoa pada abad yang lalu. Nama wanita asing itu, Mu Lah Die. Sambil berkeliling dari desa ke desa , Mu Lah Die suka bercerita. Ceritanya itu amat bagus! Ia bercerita bahwa Yang Maha Agung sungguh mengasihi setiap orang, dan ingin menyelamatkan umat manusia dari dosanya. Mula-mla wanita asing itu hanya berkumpul dengan kaum wanita dan anak-anak saja, karena menurut adat ia tidak layak bergaul dengan kaum pria. Tetapi ternyata kaum pria tidak mau ketinggalan! Mereka suka datang dan berdiri di pinggir kelompok wanita yang sedang asyik mendengarkan cerita Mu Lah Die. Kelompok yang mengelilingi tamu aneh itu makin lama makin besar, sampai membanjiri halaman rumah penginapan. Maka tempat pertemuan itu dipindahkan ke pengirikan, yakni lantai datar tempat para petani biasa mengirik. Setiap kali Mu Lah Die muncul di desa, baik pria maupun wanita berbondong-bondong datang di tempat yang lebih luas itu. Mu Lah Die tidak sampai ke Sah Ling, karena desa itu amat kecil. Namun Si Kakek Lie termasuk di antara kaum pria yang tertarik akan ceritanya. Ia bukan hanya ikut mendengarkan cerita Mu Lah Die di desa yang dekat dengan Sah Ling; ia pun ikut mengantar Mu Lah Die pulang ke rumahnya di kota Tengzhou, agar ia dapat mendengar lebih banyak lagi tentang Yang Maha Agung yang mengasihi manusia. "Ini, Bapak, cerita saya semuanya dimuat di sini," kata Mu Lah Die pada suatu hari, seraya mengulurkan sebuah Buku kecil kepadanya. Si Kakek Lie malu mengakui bahwa ia buta huruf. Ia bungkuk sebagai tanda hormat dan mengucapkan terima kasih atas hadiahnya itu. Lalu ia pulang ke kampungnya. Di desa Sah Ling, Si Kakek Lie segera mencari seorang saudara sepupunya yang masih muda. Saudara sepupunya itu sedang belajar kesusasteraan Tionghoa, agar kelak ia dapat lebih maju mungkin menjadi seorang pegawai pemerintah Kekaisaran Tiongkok. Tentu saja ia dapat membaca Buku kecil yang diserahkan kepadanya oleh si Kakek Lie. "Pasti sangat penting, karena wanita asing yang aneh itu memberikannya kepada saya," kata si Kakek Lie. "Bagaimana kalau kamu membacakan Buku kecil ini kepada seisi desa Nak?" Pemuda yang berpendidikan klasik itu tidak keberatan. Ia senang, malah, karena ada kesempatan untuk memamerkan kepandainnya. maka ia mulai membacakan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Mandarin kepada seluruh penduduk desa Sah Ling . . . . Mata Pendeta Lie berbinar-binar pada saat ia mengakhiri ceritanya: "Sayalah pemuda yang berpendidikan itu! Dan oleh karena membacakan Kitab Perjanjian Baru itulah, saya sendiri menjadi seorang pengikut Tuhan Yesus." Dr. Maddry ikut terharu. Di gedung penerbitan Kristen, ia pernah melihat sebuah Kitab Perjanjian Baru bahasa Mandarin berukuran kecil, sama seperti yang diceritakan oleh saudara seimannya yang sudah tua itu. Perjanjian Baru edisi kecil seperti itu, harganya kurang lebih sepuluh sen uang Amerika. "Pendeta Lie," tanya Dr. Maddry dengan lemah lembut, "Bapak sudah berpuluh-puluh tahun menjadi seorang pengabar Injil. Selama setengah abad ini, kira-kira berapa orangkah yang telah menjadi orang Kristen melalui kesaksian Bapak?" Pendeta Lie menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah botak itu. "Wah, kurang tahu saya, Pak," ia mengakui dengan terus terang "Saya belum pernah menghitung. "Tetapi inilah yang saya ketahui: Saya sempat membaptiskan lima ribu orang Kristen baru." Dr. Maddry merasa lebih terharu lagi. Di samping membaptiskan lima ribu orang, pasti Pendeta Lie juga mempengaruhi lebih banyak orang lagi, sehingga mereka pun menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Lima puluh tahun yang silam, di Amerika ada seorang Kristen yang memasukkan sepuluh sen saja ke dalam tempat persembahan untuk pengabaran Injil, kata Dr. Maddry dalam hati. Sepuluh sen itu kemudian dipakai untuk biaya mencetak sebuah Kitab Perjanjian Baru berukuran kecil, yang dihadiahkan oleh seorang pengabar Injil wanita. Dan dari persembahan yang hanya sepuluh sen itulah, mungkin sebanyak sepuluh ribu jiwa sudah masuk Kerajaan Surga! ==================================================== From: Pdm Bobby Memahami dan Mengalami Kesembuhan Ilahi Dasar Alkitabiah Studi tentang kesembuhan ilahi berasal dari suatu keyakinan ganda. Yaitu: 1. Perintah Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat tidak dapat dipisahkan dari perintah untuk memberitakan Injil (Markus 16:15-18). 2. Bahwa iman untuk melaksanakan perintah-perintah Kristus membutuhkan dasar yang teguh diatas Firman Elohim. Iman bagi kesembuhan ini terutama perlu dimiliki oleh orang-orang yang melakukan pelayanan kesembuhan. Meskipun demikian, sebelum kita dapat menggunakan iman, kita perlu mengetahui apa yang Alkitab ajarkan. Kita tidak dapat melakukannya berdasarkan prasangka kita saja karena iman membutuhkan bukti. Sedangkan satu-satunya bukti yang Elohim berikan untuk menciptakan iman adalah Firman-Nya. Untuk itulah kita harus memahaminya. Firman menimbulkan iman (Roma 10:17). Dalam menggunakan Firman Elohim sebagai dasar iman, kita harus menyimpan dua kebenaran yang sangat penting dalam pikiran kita. Pertama, Elohim tidak pernah berubah (Maleakhi 3:6; Ibrani 13:8). Kedua, karena Elohim tidak pernah berubah, maka Firman-Nya tidak pernah berubah (Mazmur 89:35; 119:89). A. Asal penyakit Pada umumnya penyebab penyakit pada manusia dapat dikelompokkan ke dalam beberapa sebab utama, yaitu: 1. Gangguan/serangan roh jahat Penyakit jasmani maupun kejiwaan dapat berasal dari roh jahat. Seperti, wanita yang menjadi bungkuk punggungnya karena dirasuk roh, anak penderita epilepsi, orang bisu yang dapat berkata-kata kembali setelah satu roh diusir keluar (Ayub 2:7; Lukas 13:11-16; Matius 9:32-33, 17:14-18; Kis 10:38). Kerasukan setan melukiskan gangguan atau tekanan roh-roh jahat atas manusia (Matius 8:16; 15:22; Markus 1:32, 5:1-15). Praktek perdukunan, teluh, santet dan sebagainya termasuk yang menyebabkan penyakit bahkan kematian pada manusia. Memang penyakit tidak selalu secara langsung berkaitan dengan aktivitas roh-roh jahat, namun penting diperhatikan bahwa kesembuhan dari penyakit seringkali secara konsisten terjadi bersamaan dengan pengusiran setan dalam pelayanan Tuhan Yesus dan dalam kehidupan gereja mula-mula (Markus 1:32-34; Lukas 4:40-41, 13:32; Kis 5:16, 8:7). 2. Dosa atau melanggar Firman Elohim/tidak taat. Dalam awal penciptaan Adam dan Hawa adalah makhluk yang abadi. Bukan karena mereka tidak dapat mati, melainkan karena mereka tidak perlu mati. Tubuh manusia diperintah oleh pikirannya. Pikiran manusia diperintah oleh rohnya. Kemudian roh manusia itu diperintah dan taat kepada Elohim. Dalam keadaan itu, manusia merupakan makhluk yang sempurna dimana seluruh kekuatannya, jasmaninya, jiwanya dan rohaninya memiliki keseimbangan yang sempurna, sehingga tiada lubang dimana dosa atau penyakit dapat masuk. Namun keberdosaan manusia membuatnya terpisah dari Elohim dan dihukum dengan kesakitan dan kematian (Mazmur 107:17). Menjadi tua, kondisi fisik yang menurun adalah akibat dosa. Ketidak taatan kepada Elohim, pelanggaran akan firman Elohim juga menyebabkan sakit penyakit pada manusia (Keluaran 15:26; 23:25). Bangsa Israel menjadi contoh nyata bagaimana sakit penyakit menyerang mereka tatkala mereka hidup tidak taat kepada Elohim dan cenderung memberontak kepada-Nya. Berkaitan dengan itu, perlu disikapi juga secara hati-hati bahwa dalam pelayanan kesembuhan ilahi terkadang ada hamba Tuhan yang berdoa bagi orang sakit, mempunyai pandangan yang menghakimi secara sepihak bahwa sakit tersebut disebabkan oleh dosa. Padahal belum tentu demikian. 3. Virus/bakteri/kuman/jamur dll Makhluk-makhluk bersel satu, baik jenis hewani maupun tumbuhan merupakan salah satu yang sering menyebabkan sakit penyakit bagi manusia. Sebab mereka menyerang sel-sel tubuh, organ-organ tubuh, menyebabkannya menjadi lemah sehingga membuat seseorang menjadi sakit atau menderita penyakit. Pada zaman ini timbul berbagai macam jenis virus baru yang bersifat ganas dan menular dengan cepat sehingga menimbulkan epidemi. Beberapa jenis diantaranya belum ditemukan obat penyembuhnya. Virus-virus tersebut diantaranya adalah virus HIV, virus Ebola, virus flu burung dan sebagainya. 4. Kejiwaan Kejiwaan adalah sisi manusia yang bersifat emosional. Di dalamnya mencakup perasaan, hati, pikiran dan segala yang berhubungan rasa dan batiniah manusia. Perasaan yang terluka tidak dapat diketahui dengan cara yang sama seperti mencari luka-luka atau memar di tubuh, meskipun kedua-duanya sama-sama nyata. Akibat dari luka-luka emosional yang dapat muncul dalam sikap dan tingkah laku seseorang adalah: * Fobia Perasaan takut pada sesuatu hal atau keadaan tertentu. * Luka batin, depresi dan sejenisnya Orang yang mengalami hal ini biasanya akan merasa hidupnya tidak tentram dan dihantui perasaan-perasaan tidak berdaya. Penyebab utamanya biasanya disebabkan kematian/kehilangan orang yang dicintai, pernikahan yang hancur, kegagalan dalam pekerjaan/usaha/dagang, kecelakaan, rasa tertolak maupun perselisihan dengan sesamanya. Pada kebanyakan kasus, hal itu dapat memicu penyakit pada fisiknya. Kesembuhan bagi jiwa merupakan prasyarat utama untuk kesembuhan penyakit jasmaniah. 5. Melanggar hukum alam Tuhan menciptakan kehidupan dengan hukum alam yang berfungsi sebagai pengaturnya. Apabila hukum alam dilanggar maka akan dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Contoh, manusia butuh istirahat tidur rata-rata 8 jam sehari, apabila dilanggar dengan mengurangi jam tidur, suka begadang, biasanya orang tersebut akan pusing-pusing atau bisa berkembang menjadi penyakit lain seperti masuk angin dan sebagainya. 6. Dalam keadaan tidak layak menerima Perjamuan Kudus Ada juga penyakit yang disebabkan keadaan orang tersebut yang menerima sakramen Perjamuan Kudus dalam keadaan yang tidak layak, sehingga menimbulkan hukuman, dalam arti menderita sakit penyakit (I Korintus 11:27-30). 7. Untuk kemuliaan Tuhan Ada penyakit yang tidak dilatarbelakangi oleh sebab-sebab seperti tersebut diatas, melainkan bertujuan supaya nama Tuhan dipermuliakan (Yohanes 9:1-3). Dalam percakapan mengenai orang buta itu, murid-murid-Nya menanyakan apakah orang buta ini yang berdosa atau orang tuanya sehingga ia lahir buta? Tuhan Yesus dengan lugas menjawab bahwa hal itu terjadi supaya pekerjaan Tuhan dinyatakan padanya. B. Pelayanan Kesembuhan Ilahi dibangun dari Firman Elohim Pelayanan kesembuhan ilahi didasarkan atas kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan sampai selamanya (Ibrani 13:8). Implikasi dari firman Tuhan itu jelas menyatakan bahwa kasih, kuasa dan karya-Nya bagi manusia tidak pernah berubah. Dia yang dahulu berjalan di atas muka bumi, menyembuhkan orang-orang sakit, adalah Elohim yang juga menyembuhkan manusia yang sakit dan memerlukan kasih-Nya di zaman ini dan masa yang akan datang. Kepercayaan ini menjadi dasar dari teologi dan pelayanan kesembuhan ilahi yang dipelopori oleh aliran pentakosta dan karismatik dewasa ini. Segaris dengan statement of faith dalam Ibrani 13:8 tersebut, ada aspek-aspek yang menjadi dasar bagi pelayanan kesembuhan ilahi, yaitu: @ Tuhan Yesus memberi janji bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan melakukan juga hal-hal yang Dia lakukan, bahkan yang lebih besar daripada itu (Yohanes 14:12). Janji Tuhan inilah yang menjadi pegangan setiap pelayan Tuhan, berkaitan dengan pekabaran Injil dan relevansinya dengan kesembuhan ilahi maupun demonstrasi kuasa Elohim lainnya. @ Janji bahwa orang percaya diberi kuasa Elohim (Markus 16:15-18; Kisah Para Rasul 1:8; Yohanes 1:12) menjadi alasan lain bahwa orang percaya mendapat mandat dari Elohim untuk menyaksikan kasih dan Injil-Nya kepada dunia yang terhilang ini. @ Pelayanan kesembuhan ilahi didasarkan atas fakta bahwa Yesus bukan hanya telah menebus dosa manusia, tetapi juga memberi janji kesembuhan (Yesaya 53:3-5; I Petrus 2:24). Elohim sanggup menyembuhkan sampai saat ini seperti Dia melakukannya dalam Perjanjian Baru. Mengapa Elohim memberikan kesembuhan ilahi: - Karena Dia penuh belas kasih kepada manusia Pelayanan kesembuhan Yesus disertai dengan motivasi rasa belas kasih-Nya kepada manusia. Belas kasihan-Nya yang menjadi pendorong dalam menyembuhkan orang sakit (Matius 14:13-14) - Untuk memuliakan diri-Nya Kerap di dalam Alkitab dinyatakan bahwa kesembuhan diberikan agar nama Tuhan dipermuliakan (Yohanes 11:4). Hal yang sama terlihat dalam pernyataan Tuhan Yesus kepada Marta berkaitan dengan mujizat kebangkitan yang dilakukan-Nya terhadap Lazarus (Yohanes 11:40). Alasan ini juga terlihat tatkala Petrus menyembuhkan orang lumpuh di Bait Elohim (Kisah Para Rasul 3:1-13). - Elohim menyembuhkan sebagai respon atas iman manusia Seorang wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun disembuhkan karena ia beriman "Asal kujamah saja jubah-Nya aku akan sembuh" (Matius 9:20-22). Seorang perempuan Kanaan anaknya disembuhkan karena ia beriman (Matius 15:21-28). Orang lumpuh disembuhkan Paulus karena ia menunjukkan iman percaya juga (Kisah Para Rasul 14:8-10). - Elohim menyembuhkan karena Ia sendiri memberi janji kesembuhan Alkitab menulis bahwa Elohim sendiri menjanjikan memberikan kesembuhan kepada orang yang percaya dan datang kepada-Nya. Kuasa kesembuhan itu diberikan kepada gereja-Nya. Bila ada orang yang sakit, Alkitab mencatat dalam surat Yakobus agar orang itu didoakan, diolesi dengan minyak urapan, dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit tersebut (Yakobus 5:14-15). METODE PELAYANAN KESEMBUHAN ILAHI Alkitab mengajarkan ada berbagai metode dalam pelayanan kesembuhan ilahi. Metode itu hanyalah cara yang dipakai untuk menyatakan kesembuhan. Metode itu sendiri bukanlah penyembuh, karena kesembuhan berasal dari Elohim saja. Metode lebih bersifat sarana yang dipakai Tuhan untuk memberikan kuasa kesembuhan. Dari alkitab tercatat metode yang dipakai adalah: * Perkataan. Baik melalui doa kesembuhan, memerintahkan kesembuhan, menghardik penyakit dsb. (Lukas 4:39; Kisah Para Rasul 14:9-10; Yakobus 5:15) * Penumpangan tangan (Markus 8:22-25) * Minyak urapan (Yakobus 5:14) * Penggunaan unsur-unsur alam, seperti sapu tangan, tanah liat, air liur, bahkan bayangan tubuh dapat dipakai Elohim untuk menyembuhkan penyakit (Markus 7:31-35; 8:22-26; Kisah Para Rasul 5:15-16). Selain kuasa yang secara umum diberikan kepada setiap orang percaya, berkaitan dengan pelayanan kesembuhan ilahi, Elohim juga memberikan karunia Roh, yaitu karunia kesembuhan (I Korintus 12:9). Biasanya orang-orang yang mendapat karunia ini akan lebih efektif melayani doa-doa kesembuhan dan mendapat hasil yang baik. Akan tetapi kenyataan adanya karunia kesembuhan itu tidak menutup kemungkinan orang percaya lainnya tidak dapat dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang yang sakit, sebab kesembuhan berasal dari Dia (Elohim) saja. Peter Wagner, seorang pakar pertumbuhan gereja mengatakan bahwa karunia penyembuhan adalah kemampuan isimewa yang diberikan Elohim kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara diri-Nya dengan manusia. Melalui mereka Elohim berkenan menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan, terlepas dari penggunaan cara-cara alami. Satu hal yang perlu diperhatikan, kapan dan bagaimana karunia itu diberikan Elohim atas seseorang, maupun cara bekerjanya dalam menyembuhkan, sepenuhnya tergantung pada kehendak Elohim saja. Contoh dari sejarah yang membuktikan efektivitas Pekabaran Injil yang disertai kesembuhan ilahi: - Dalam waktu 6 minggu, telah dibaptis 1500 orang, didirikan 7 gereja baru setelah Roberto Aguirre dari Gereja Foursquare mengadakan KKR Penginjilan & Kesembuhan ilahi di Guayaquil, Ekuador (Pertumbuhan Gereja & Peranan Roh Kudus, Peter Wagner, Gandum Mas, hlm 106). Tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan memberikan hidup kekal di surga kepada mereka. Dalam pemberitaan Injil-Nya, selain berkotbah dan mengajar, Yesus selalu menyembuhkan orang-orang sakit, mengadakan mujizat dan tanda-tanda heran. Semua perkara itu dilakukan-Nya untuk "memberikan bukti" bahwa Ia adalah Tuhan dan bahwa pemberitaan-Nya dapat dipercayai. Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Tuhan Yesus memerintahkan gereja untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil-Nya. Perintah itu disampaikan dengan janji bahwa Ia menyertai gereja-Nya. Penyertaan Tuhan itu berarti bahwa para pemberita Injil-Nya akan disertai dengan kuasa dari surga. Kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, membuat mujizat, mengalahkan kuasa iblis yang membelenggu manusia dan sebagainya (Matius 28:18-20; Markus 16:15-18). Bobby, M.Th Tulisan Alkitabiah ilmiah lainnya dapat rekan-rekan baca di blog saya www.rotihidup.co.cc.

